Tuliskan Karakteristik Dasar Pembelajaran Kolaboratif

A.

LATAR Belakang MUNCULNYA MODEL Kerja sama

Pembelajaran kolaboratif boleh meluangkan probabilitas bagi menuju plong kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi kerjakan pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan kolaborasi aktif para pesuluh dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menggunung momentum pendidikan lumrah dan informal dari dua khasiat yang bertemu, ialah:

  1. Realisasi praktek, bahwa umur di luar kelas bawah memerlukan aktivitas kolaboratif kerumahtanggaan kehidupan di dunia nyata;
  2. Mengoptimalkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pendedahan penting.

Ide penataran kolaboratif bersumber dari perpsektif filosofis terhadap konsep sparing. Bakal dapat belajar, seseorang harus memiliki oponen. Sreg tahun 1916,
John Dewey, menggambar sebuah buku
“Democracy and Education”
yang isinya bahwa kelas merupakan sempurna masyarakat dan berfungsi umpama laboratorium kerjakan belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran Dewey yang utama akan halnya pendidikan (Jacob
et al., 1996), merupakan:

  1. Murid moga aktif,
    learning by doing
  2. Belajar hendaknya didasari tembung intrinsik
  3. Deklarasi merupakan berkembang, bukan bersifat tetap
  4. Kegiatan belajar mudah-mudahan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa
  5. Pendidikan harus mencengam kegiatan belajar dengan prinsip saling memafhumi dan saling menghormati suatu ekuivalen bukan, artinya prosedur demokratis habis utama.
  6. Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan mayapada nyata dan bertujuan mengembangkan manjapada tersebut.


Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi akan halnya pelajar proses belajar sebagai berikut (Smith & MacGregor, 1992):

1.

Berlatih itu aktif dan konstruktif

Untuk mempelajari target pelajaran, pelajar harus terlibat secara aktif dengan target itu. Pelajar mesti mengintegrasikan sasaran baru ini dengan takrif yang telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang baru yang tersapu dengan sasaran pelajaran.

2.

Belajar itu bergantung konteks

Kegiatan penerimaan menentangkan murid pada tugas maupun problem menantang nan tercalit dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.

3.

Siswa itu beraneka permukaan pantat

Para siswa n kepunyaan perbedaan dalam banyak hal, seperti mana latarbelakang, kecenderungan berlatih, pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan masin lidah dalam kegiatan kerjasama, dan justru diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama privat proses belajar.

4.

Belajar itu bersifat sosial

Proses belajar adalah proses interaksi sosial nan di dalamnya siswa membangun makna yang masin lidah bersama.


Menurut Piaget dan Vigotsky, Garis haluan pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu:

1.

Teori Psikologis

Teori ini berkaitan dengan terjadinya persilihan konsep antar anggota gerombolan pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kerumunan akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.

2.

Teori Konstruktivisme Sosial

Pada teori ini tertentang adanya interaksi sosial antar anggota yang akan membantu jalan  individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semu anggota semua keramaian.

3.

Teori Motivasi

Teori ini teraplikasi kerumahtanggaan struktur pembelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif lakukan siswa untuk sparing, meninggi kepahlawanan anggota untuk memberi pendapat dan menciptakan peristiwa saling memerlukan sreg seluruh anggota dalam kelompok.

Piaget
dengan konsepnya
“active learning”
berpendapat bahwa para siswa sparing bertambah baik sekiranya mereka berpikir secara kerumunan, menurut  pikiran mereka maka oleh sebab itu mengklarifikasi sebuah jalan hidup lebih baik mengemukakan di depan gentur.
Piaget
lagi berpendapat bila suatu kerumunan aktif klompok tersebut akan menyertakan nan lain buat berpikir bersama, sehingga kerumahtanggaan belajar lebih menarik (Smith, B.L. and Mac Gregor, 2004).

B.

Maksud MODEL Partisipasi

Dalam penerapan pembelajaran kolaborasi, terwalak pergeseran peran si sparing (MacGregor, 2005):

  1. Dari pendengar, pengamat dan dabir menjadi pemecah masalah nan aktif, pemberi masukan dan gemar urun pendapat.
  2. Dari anju kelas bawah dengan tujuan yang rendah atau medium menjadi ke awalan kelas dengan harapan yang pangkat.
  3. Dari kehadiran pribadi maupun individual dengan sedikit resiko atau persoalan menjadi kehadiran publik dengan banyak resiko dan persoalan.
  4. Berasal pilihan pribadi menjadi pilihan yang sesuai dengan harapan komunitasnya.
  5. Bersumber kejuaraan antar teman sejawat menjadi kerja sama antar antitesis sejawat.
  6. Dari tanggung jawab dan belajar mandiri, menjadi muatan jawab kelompok dan belajar saling ketagihan.
  7. Dahulu melihat guru dan pustaka bak sumur terdepan yang memiliki otoritas dan sumber pemberitaan sekarang hawa dan teks bukanlah satu-satunya sumur belajar. Banyak perigi belajar lainnya yang dapat digali dari komunitas kelompoknya.

Gokhale
mendefinisikan bahwa
“collaborative learning”
mengacu pada metode pengajaran di mana siswa privat satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah sreg harapan bersama. Konotasi kooperasi koteng yaitu:

  1. Keohane
    berpendapat bahwa kolaborasi adalah berkarya bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam begian satu team, dan di dalamnya bercampur didalam satu kerubungan menuju keberhasilan bersama.
  2. Patel
    berpendapat bahwa kooperasi adalah suatu proses tukar ketergantungan fungsional dalam mencoba untuk keterampilan penyelarasan,
    to coordinate skills, tools, and rewards.

Berpangkal signifikansi kooperasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut, boleh disimpulkan bahwa pengertian belajar kooperasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan keberagaman yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu intensi. N domestik kelompok ini para siswa saling kontributif antara suatu dengan yang lain. Bintang sartan situasi belajar kolaboratif ada zarah ketergantungan yang positif untuk menyentuh kejayaan.

Membiasakan kolaboratif menghendaki adanya modifikasi pamrih pendedahan pecah yang semula sekedar penyampaian pengetahuan menjadi konstruksi pengetahuan maka dari itu cucu adam melalui belajar kelompok. Intern belajar kolaboratif, bukan ada perbedaan tugas untuk masing-masing bani adam, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesikan secara bersama tanpa membedakan percakapan membiasakan peserta.

Berpokok uraian diatas, kita bisa memafhumi kejadian yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yakni bagaimana
cara kiranya siswa dalam aktivitas sparing kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan perlintasan pemberitahuan
.

Selain itu, bisa disimpulkan bahwa intensi dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :

  1. Mengoptimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
  2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada peserta, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
  3. Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa kerumahtanggaan kaitannya dengan sasaran pelajaran dan proses membiasakan.
  4. Membagi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses berlatih.
  5. Mengembangkan berpikir reaktif dan ketrampilan penceraian masalah.
  6. Memurukkan eksplorasi target pelajaran yang melibatkan beraneka ragam ki perspektif pandang.
  7. Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses membiasakan.
  8. Menumbuhkan hubungan yang ubah kontributif dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara petatar dan guru.
  9. Membangun semangat belajar sepanjang hayat.

C.

LANGKAH-Ancang Penataran KOLABORATIF

Berikut ini langkah-persiapan pembelajaran kolaboratif.

  1. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan membiasakan dan membagi tugas sendiri-sendiri.
  2. Semua petatar dalam kelompok mengaji, berdiskusi, dan menulis..
  3. Gerombolan kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau keburukan dalam LKS maupun masalah yang ditemukan seorang.
  4. Setelah gerombolan kolaboratif mengamini hasil pemecahan masalah, saban pelajar batik informasi seorang-sendiri secara lengkap.
  5. Guru menunjuk salah satu gerombolan secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua gerombolan dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, pesuluh sreg gerombolan lain mencaci, mencermati, membandingkan hasil penyajian tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih cacat 20-30 menit.
  6. Per siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap proklamasi yang akan dikumpulan.
  7. Pengumuman masing-masing murid terhadap tugas-tugas yang sudah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
  8. Butir-butir siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

D.

Neko-neko PEMBELAJARAN KOLABORATIF

Suka-suka banyak spesies penerimaan kolaboratif yang pergaulan dikembangkan maka dari itu para pakar ataupun praktisi pendidikan, teristimewa makanya para juru
Student Team Learning
pada
John Hopkins University. Cuma hanya sekitar dasa varietas yang mendapatkan pikiran secara luas, yaitu:


  1. Learning Together

Dalam metode ini kelompok-kelompok sepadan beranggotakan siswa-petatar yang bermacam ragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan maka dari itu hawa. Satu kelompok hanya mengamini dan mengamalkan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.


  1. Teams-Games-Tournament (TGT)

Sehabis membiasakan bersama kelompoknya sendiri, para anggota satu kerumunan akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan tiap-tiap. Penilaian didasarkan plong jumlah nilai yang diperoleh kelompok.


  1. Group Investigation (GI)

Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan satu penelitian beserta perencanaan pemecahan penyakit yang dihadapi. Gerombolan menentukan apa semata-mata yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan puas proses dan hasil kerja kelompok.


  1. Academic-Constructive Controversy (AC)

Setiap anggota keramaian dituntut kemampuannya bakal berada n domestik situasi konflik intelektual nan dikembangkan berdasarkan hasil sparing masing-masing, baik bersama anggota keropok maupun dengan anggota kelompok enggak. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan ekspansi kualitas pemecahan ki aib, pemikiran kritis, pertimbangan, relasi antarpribadi, kebugaran psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan lega kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.


  1. Jigsaw Proscedure (JP)

Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berlainan-cedera tentang satu sosi bahasan. Agar setiap anggota boleh memahami keseluruhan pokok bahasan, pemeriksaan ulang diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan plong biasanya skor konfirmasi kerumunan.


  1. Student Team Achievement Divisions (STAD)

Para peserta dalam suatu kelas bawah dibagi menjadi beberapa keramaian kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya ialah keberhasilan seorang akan berwibawa terhadap kemenangan kelompok dan demikian pula keberhasilan kerubungan akan berkarisma terhadap keberhasilan hamba allah petatar. Penilaian didasarkan sreg pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.


  1. Complex Instruction (CI)

Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek nan berkiblat plong reka cipta, khususnya dalam satah sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan kohesi semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam penelaahan yang bertabiat
bilingual
(memperalat dua bahasa) dan di antara para siswa yang lampau heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.


  1. Team Accelerated Instruction (TAI)

Lembaga pengajian pengkajian ini merupakan kombinasi antara pengajian pengkajian kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara sedikit demi, setiap anggota kelompok diberi pertanyaan-tanya yang harus mereka bikin seorang terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian berbarengan intern kerumunan. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan bermoral, setiap siswa mengamalkan tanya-soal tahap berikutnya. Sahaja jika koteng siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap mula-mula dengan benar, ia harus menguasai soal tak sreg tahap yang sebanding. Setiap tingkatan pertanyaan disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar eksklusif maupun kelompok.


  1. Cooperative Learning Stuctures (CLS)

Internal pembelajaran ini setiap kerubungan dibentuk dengan anggota dua murid (berpasangan). Seorang peserta bermain sebagai
tutor
dan yang bukan menjadi
tutee.
Tutor
mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh
tutee. Bila jawaban
tutee
sopan, ia memperoleh poin alias ponten nan sudah lalu ditetapkan terlebih tinggal. Dalam ujar-ujar tahun yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua murid yang saling berpasangan itu berganti peran.


  1. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Model penataran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, hipotetis penataran ini menekankan pendedahan membaca, menulis dan tata bahasa. Kerumahtanggaan penelaahan ini, para siswa saling menilai kemampuan mendaras, menggambar dan penyelenggaraan bahasa, baik secara teragendakan alias lisan di kerumahtanggaan kelompoknya.


Kecekatan yang dibutuhkan oleh peserta nan berpartisipasi kerumahtanggaan arketipe penerimaan kolaboratif yaitu:

  1. Pembentukan kerubungan
  2. Bekerja dalam satu kelompok
  3. Separasi problem kelompok
  4. Manajemen perbedaan keramaian


Menurut Reid (2004) dalam menggembangkan
collaborative learning
ada lima tahapan yang harus dilakukan, merupakan:

1.


Engagement

Pada tahap ini, pengajar mengamalkan penilaian terhadap kemampuan, minat, darah dan kepintaran yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Lalu, murid dikelompokkan yang di dalamnya terdapat siswa terpandai, petatar sedang, dan siswa yang kurang prestasinya.

2.


Exploration

Setelah dilakukan pengelompokkan, terlampau penatar mulai memberi tugas, misalnya dengan memberi permasalahan sepatutnya dipecahkan oleh keramaian tersebut. Dengan masalah yang diperoleh, semua anggota kerubungan harus berusaha untuk menyumbangkan kemampuan konkret ilmu, pendapat ataupun gagasannya.

3.


Transformation

Semenjak perbedaan kemampuan yang dimiliki makanya tiap-tiap petatar, lalu setiap anggota tukar bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok. Dengan sedemikian itu, murid nan semula mempunyai prestasi minus, lama kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya karena adanya proses transformasi dari murid yang memiliki prestasi panjang kepada pelajar yang prestasinya invalid.

4.


Presentation

Setelah selesai berbuat diskusi dan memformulasikan amanat, silam setiap gerombolan mempresentasikan hasil diskusinya. Plong saat keseleo satu kelompok melakukan pengajuan, maka kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.

5.


Reflection

Sehabis selesai mengerjakan presentasi, sangat terjadi proses Tanya-jawab antar kelompok. Kerumunan nan mengamalkan pengajuan akan menerima cak bertanya, tanggapan ataupun sanggahan dari kelompok lain. Dengan pertanyaan yang diajukan maka dari itu keramaian lain, anggota kerubungan harus bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.


Brandt (2004) menekankan adanya lima molekul dasar nan dibutuhkan mudah-mudahan kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :

1.


Possitive interdependence
(saling kecanduan positif)

Adalah siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses berlatih bersama dan mereka peduli sreg belajar siswa yang tidak. Kerumahtanggaan pengajian pengkajian ini setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terbetot dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menyelesaikan bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya lagi menguasainya. Mereka merasa tak akan sukses bila siswa tak lagi tidak sukses.

2.


Verbal, face to face interaction
(interaksi sambil antarsiswa)

Yaitu hasil belajar nan terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan berwujud. Siswa harus saling berhadapan dan saling mendukung dalam pencapaian tujuan membiasakan. Pesuluh juga harus menguraikan, berargumen, elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari masa ini bagi mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.

3.


Individual accountability
(pertanggungjawaban individu)

Yaitu setiap kerumunan harus realis bahwa mereka harus belajar. Seharusnya dalam suatu kelompok siswa dapat menderma, mendukung dan membantu satu sama tak, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kerubungan berkewajiban bakal mempelajari sendi bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kerumunan.

4.


Social skills
(keterampilan sandar-menyandar)

Adalah kecekatan sosial pelajar sangat utama kerumahtanggaan pembelajaran. Siswa dituntut n kepunyaan kegesitan bermitra, sehingga dalam kerumunan tercipta interaksi yang dinamis untuk tukar belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Murid harus membiasakan dan diajar kepemimpian, komunikasi, ajudan, membangun dan ketangkasan dalam memecahkan konflik.

5.


Group processing
(fungsi proses kelompok)

Yakni kelompok harus mampu memonten maslahat segala yang mereka kerjakan secara bersama dan bagaimana mereka boleh melakukan secara kian baik. Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara mengklarifikasi tindakan mana yang dapat menyumbang berlatih dan mana yang tidak serta takhlik keputusan-keputusan tindakan yang bisa dilanjutkan atau yang terbiasa diubah.


Tiga pola pengelompokkan, yaitu:

1.


The two-person group (tutoring)

Adalah satu orang ditugasi mengajar yang enggak. Kaprikornus, siswa bisa berperan seumpama pengajar yang disebut
tutor, padahal siswa nan lain disebut
tutee.

2.


The small group (interactive recitation; discussion)

Adalah cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, mewujudkan kesimpulan atau menyusun plural alternative pemecahan masalah.

3.


Small or large group (recitation)

Yaitu suatu metode mengajar dan instruktur memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan maka itu penyuluh bisa dilaksanakan di apartemen, sekolah, taman bacaan, laboratorium, atau di medan lain.


Karakteristik internal belajar kolaboratif yakni :

  1. Pesuluh belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses berlatih, perampungan tugas kerumunan mengharuskan semua anggota bekerja bersama.
  2. Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota gerombolan.
  3. Sendirisendiri siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang sudah disepakati.
  4. Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
  5. Peran guru sebagai mediator.
  6. Adanya
    sharing
    embaran dan interaksi antara guru dan peserta, maupun siswa dan murid.
  7. pengelompokkan secara bermacam rupa.

E.
Manfaat DAN Kehabisan

1.
Kelebihan

a. Siswa belajar bermusyawarah

b. Siswa belajar menghargai pendapat individu lain

c. Bisa berekspansi cara berpikir responsif dan makul

d. Dapat memupuk rasa kerja sama

e. Adanya persaingan nan sehat

2.
Kelemahan

a. Padapat serta cak bertanya murid dapat menyimpang dari pokok persoalan.

b. Membutuhkan waktu cukup banyak.

c. Adanya kebiasaan-sifat pribadi yang kepingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa minder dan pelalah tergantung pada orang lain.

d. Kebulatan atau kesimpulan alamat kadang sukar dicapai.

F.

P
ENUTUP

Dari jabaran di atas, bisa disimpulkan bahwa
collaborative learning
merupakan salah suatu ketatanegaraan pembelejaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil berlatih. Kerumahtanggaan ketatanegaraan tersebut makin memfokuskan bagaimana memaksimalkan kerja sama dan keaktifan privat pembelajaran serta bagaimana petatar dapat mengkonstruksi seorang ilmu pesiaran untuk menjadi miliknya. Dalam strategi ini, peran master cenderung menjadi penyedia, motivator, dan membimbing menemukan alternatif pemencahan bila terjadi peserta mengalami kesulitan membiasakan.

Daftar pustaka

Hastuti, Sri. 1996.
Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Babak Proyek Pengajian pengkajian Temperatur Slip Setara D-III.

Parwoto. 2007.
Strategi Pembelajaran Anak asuh Berkebutuhan Khusus. Jakarta : Departemen Pendidikan Kewarganegaraan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.

http://ruhcitra.wordpress.com/2008/08/09/penelaahan-kolaboratif/

http://pengajian pengkajian-kerja sama.web.id/pk.php

http://garduguru.blogspot.com/2008/12/metode-kolaboratif-untuk-penataran.html

Source: https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/collaborative-learning/

Posted by: and-make.com