Tujuan Pembangunan Jalan Anyer Panarukan

Berpangkal Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia objektif

Urut-urutan Raya Pos
Peta Jalan Raya Pos di masa Hindia Belanda

Peta Jalan Raya Pos di hari Hindia Belanda

Informasi rute
Tingkatan: 1.000 km (621 mi)
Periode waktu: 1809 – sekarang
Sejarah: Jeda kekuasaan Prancis dan Britania di Hindia Belanda
Persimpangan ki akbar
Ujung barat: Anyer, Serang
Ujung timur: Panarukan, Situbondo

Jalan Raya Pos
(bahasa Belanda:

De Groote Postweg
atau
De Grote Postweg

), disebut juga
Kronologi Daendels, adalah sebuah urut-urutan pos sejauh 1.000 kilometer (620 mi) di Jawa nan membentang mulai sejak Anyer di Banten setakat Panarukan di Jawa Timur. Jalan ini kini menjadi bagian terbit Urut-urutan Kewarganegaraan Rute 1 (Cilegon-Jakarta, Cirebon-Panarukan), Jalan Kebangsaan Rute 2 (Jakarta-Bogor), Jalan Nasional Rute 3 (Anyer, Cianjur-Bandung), dan Jalan Nasional Rute 5 (Bandung-Cirebon).

Jalan ini dibangun atas perintah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda nan ke-36, Herman Willem Daendels (m.
1808-1811) bagaikan salah suatu langkahnya privat memodernisasi Jawa terutama dalam bidang benteng dan pemerintahan. Selanjutnya, jalan ini kian banyak dimanfaatkan bak wahana buat mengangkut hasil bumi dan pos komunikasi karena dapat mempersingkat lama pengiriman surat detik itu.

Latar pinggul

[sunting
|
sunting sendang]

Sistem pengiriman wanti-wanti di Hindia Belanda purwa kali diperkenalkan di masa VOC. Saat itu, mutakadim ada korespondensi berpunca Hindia Belanda ke Belanda belaka tujuannya dibatasi pada pejabat-penasihat sahih dan tidak boleh berisi aktivitas VOC di Hindia Belanda untuk menjaga kerahasiaan sumber rempah-rempah dari para pesaingnya. Sarana pengirimannya saat itu bergantung pada kapal perang VOC nan melaut ke bermacam-macam pulau dan belum ada sistem yang terorganisasi.[1]
Kantor pos plonco permulaan kali didirikan pada 26 Agustus 1746 di Batavia makanya Gubernur Jenderal nan ke-26, Gustaaf Willem van Imhoff untuk menjamin keamanan tindasan-surat penduduk terutama cak bagi para musafir yang berdagang di luar Jawa dan orang-orang nan pulang meninggalkan terbit dan ke Belanda. Catur tahun kemudian, biro pos Semarang didirikan dan menggunakan rute menerobos Karawang, Cirebon, dan Pekalongan.[2]
Sementara itu, transportasi daratan sudah ada setidaknya plong sekitar 1750, yaitu jalan yang menyambung Batavia ke Semarang dan seterusnya ke Surabaya. Jalan nan menghubungkan Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta pun sudah ada pada masa itu. Sahaja, hujan tropis yang deras berkali-kali menghancurkan jalannya.[3]

Pada 28 Januari 1807, Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda maka itu Louis Bonaparte, adik Napoleon Bonaparte yang diangkat menjadi raja di Belanda semasa Peperangan Napoleon.[4]
Cemas akan musim depan Jawa, khususnya setelah Isle de France (masa ini Mauritius) diserbu Inggris pada 1807, Louis membagi dua tugas utama dalam susuk instruksi kepada Daendels, yaitu mempertahankan Jawa berbunga bidasan Inggris dan berkemaskemas sistem administrasi pemerintahannya.[5]
Instruksi nan serupa juga diterimanya dari Napoleon Bonaparte detik bertemu di Paris, sesaat sebelum pergi ke Jawa.[6]

Pilihan Daendels cak bagi membangun Urut-urutan Raya Pos mungkin diinspirasi maka itu cursus publicus, sistem jalan pos Kekaisaran Romawi yang menyambung Roma dengan kota-kota yang ditaklukkannya.[7]
[8]
Dengan semacam itu, Daendels berkeinginan untuk menerapkan konsep yang sama dengan menghubungkan Batavia dengan distrik-daerah di Jawa melangkaui Jalan Raya Pos.[9]
Sumber lainnya mengatakan bahwa idenya untuk membangun sebuah jalan raya mungkin dipengaruhi oleh perjalanannya menumpu Jawa. Ketika itu, Inggris tanggulang lautan dan memblokade Prancis buat mengakses besar sehingga menguati Daendels harus melintasi daratan Prancis terlebih dahulu dengan jalan besar yang dibuat maka itu Napoleon.[3]
Upaya membangun jalan ini didasarkan pada keseleo satu instruksi Louis yang mensyariatkan Daendels untuk memperhatikan media (transportasi) nan paling kecil sesuai dirancang, melalui tenang dan tenteram dengan para bupati, nan dapat menyunting umur pribumi Hindia Belanda.[10]

Jalan tersebut dinamai demikian karena Daendels membangun sebanyak 50 maktab pos di antara Batavia dan Surabaya bagi membangatkan komunikasi dengan para pejabatnya.[11]
Komunikasi saat itu dianggap hal yang berharga karena Daendels merasakan sulitnya berkomunikasi dengan mereka yang tersebar di seluruh Jawa dan keluar masuk laut yang bisanya digunakan lakukan menyampaikan arsip diblokade Inggris.[6]

Sreg awalnya, penggunanan jalan ini saja untuk kebutuhan pos dan militer sebatas akhirnya dibuka untuk umum pada tahun 1857. Selain itu, jalan ini juga tidak boleh dilewati maka itu kendaraan milik khalayak Jawa yang harus menggunakan jalur istimewa cikar nan berpunya di sisi jalan. Jalan besar Pos cuma dapat dilewati maka itu andong Belanda yang dilengkapi oleh kusir dan kenek.[12]

Pembangunan

[sunting
|
sunting sumur]

Daendels membangun Jalan raya Pos di atas Jawa. Sebuah ilustrasi anonim
ca.
 1910

Sreg 29 April 1808, seyogiannya lebih mengetahui permasalahan di Jawa bertambah lanjut, Daendels melakukan avontur berpangkal ke Semarang dan ujung timur Jawa. Setibanya di Semarang plong 5 Mei 1808, ia mengeluarkan perintah kerjakan membangun Jalan Raya Pos, dimulai dengan memperbaiki dan menghubungkan berkelah desa yang telah ada sebelumnya. Karena keterbatasan biaya, Daendels hanya meratakan jalan berpangkal Batavia ke Buitenzorg (kini Bogor) dan membangun petak urut-urutan di Preanger. Sisanya, yaitu jalan dari Cirebon sampai Surabaya tergarap oleh para bupati di daerahnya per.[13]

Jalur pertama

[sunting
|
sunting perigi]

Pembangunan Perkembangan Raya Pos purwa dimulai dari Buitenzorg ke Karangsambung (masa ini Kecamatan Tomo di Sumedang) bersendikan perintah Daendels sreg 5 Mei 1808. Jalur ini direncanakan melalui Cisarua, Cianjur, Rajamandala, Bandung, Parakan Muncang, dan Sumedang. Secara teknis, jalur tersebut harus dibuat selebar 2 rijnlandse roeden (~7.5 meter) dan didirikan gawang di setiap 400 rijnlandse roeden (~1.5 kilometer) cak bagi menunjukkan jarak dan men batas distrik.[14]
Pemerintah meluangkan rekaan sebesar 30.000 yen selaka bikin membangun jalur ini, provisional para pekerjanya disediakan makanya Gubernur Pantai Timur Laut Jawa, Nicolaas Engelhard sebanyak 1.100 orang.[15]

Order ini dipimpin oleh Kolonel Zeni Balthazar Friedrich Wilhelm van Lützow dengan bantuan dari Uang lelah Negara dan dua ahli mesin militer. Van Lützow kemudian menerimakan tanggung jawab sebagian pengerjaan, adalah jalur Cisarua-Cianjur dan Parakan Kumbik-Karangsambung, kepada dua insinyurnya. Masing-masing teknikus dibantu oleh dua bintara yang dipilihnya.[16]
[17]
Daendels juga menetapkan jumlah pegiat dan upah yang berbeda kerjakan membangun jalan ini, mengingat kondisi medan nan berat nan dihadapi oleh para pekerja.[14]

Penetapan kuantitas praktisi dan upah untuk Jongkong Pertama[14]
Dari Ke Total pekerja Upah

(ringgit perak)

Cisarua Cianjur 400 orang 10 masing-masing anak adam/bulan
Cianjur Rajamandala 150 orang 4 masing-masing insan/wulan
Rajamandala Bandung 200 orang 6 per orang/wulan
Bandung Parakan Muncang 50 orang 1 sendirisendiri orang/bulan
Parakan Muncang Sumedang 150 bani adam 5 per cucu adam/bulan
Sumedang Karangsambung 150 orang 4 per insan/bulan

Sreg 28 Maret 1809, para pelaku pecah Batavia dan Preanger yang membangun perkembangan antara Cianjur-Sumedang diberi pertolongan berupa 1.5 pon beras saban hari dan 5 pon garam garam setiap wulan setakat jalan selesai dibangun. Sehari setelahnya, para pegiat juga diberi kapak dan peralatan lainnya. Kemudian, para pegiat nan didatangkan berpunca Cirebon dan kawasan
vorstenlanden
yang membangun kronologi di Sumedang akan diberi upah dua ringgit perak setiap bulan ditambah tiga gantang beras, darurat para mandor akan diberi upah tiga ringgit perak setiap wulan. Pertolongan-bantuan ini yakni kebijakan pemerintah atas beratnya medan yang harus ditembus, khususnya dalam pembuatan jembatan di jongkong Cianjur ke Bandung dan pemotongan lereng gunung di kempang Parakan Muncang ke Sumedang.[18]

Jalur selanjutnya

[sunting
|
sunting sendang]

Pada Juli 1808, Daendels berpadan 38 bupati lakukan memerintahkan mereka membetulkan dan menghubungkan urut-urutan-jalan desa. Ia juga menyerahkan pembangunan kronologi Cirebon-Surabaya kepada mereka sebaiknya mereka bisa menarik orang-khalayak umum ke dalam pengerjaan melangkaui pengabdian masyarakat. Di Jawa Tengah, perkembangan raya ini melangkahi Ladang, Pemalang, Comal, Pekalongan, Kendal, Kaliwungu, Semarang, Demak, Kudus, Sari, Rembang, dan Lasem. Darurat di Jawa Timur, perkembangan raya ini melewati Pacitan, Sidayu, Gresik, Surabaya, Porong, Bangil, Pasuruan, Paiton, Besuki, dan kesudahannya Panarukan.[19]

Dengan jalan raya yang sisanya dikerjakan makanya para bupati, Daendels bukan perlu membuat laporan rinci kerjakan urut-urutan-jalan tersebut. Konsekuensinya, lain ada arsip-arsip kolonial yang memuat laporan pembangunan jalannya. Satu-satunya pemberitahuan yang didapat nan melaporkan pembangunannya adalah korespondensi antara Daendels dengan Menteri Perdagangan dan Koloni detik itu, Paulus van der Heim [nl].[20]

N domestik budaya tersohor

[sunting
|
sunting sumber]

Sinema dokumenter
Adimarga Pos – De Grotoe Postweg, disutradarai dan ditulis oleh Bernie IJdis, dirilis pada 1996. Sinema ini menceritakan akan halnya memori dan dampak modern dari Jalan Raya Pos. Pramoedya Ananta Toer, yang pula diceritakan kisah hidupnya semasa Orde Bau kencur, memuati narasi untuk sinema ini.[21]

Dampak

[sunting
|
sunting sumber]

Kehadiran Jalan Raya Pos menandai dimulainya era bertamadun Jawa yang terintegrasi. Seiring berjalannya periode, Jalan Raya Pos menjadi daerah perkotaan yang sambung-merintih dan menggantikan peran kali besar-sungai samudra yang awalnya menjadi kolek utama perekonomian yang menghampar berpunca utara ke selatan, menghubungkan daerah pantai dengan distrik pedalaman, menjadi semenjak barat ke timur melintasi kolek darat sejauh pesisir paksina Pulau Jawa. Kehadiran Urut-urutan Raya Pos juga mengubah konsep kosmologis dan konsep pengelolaan kota tradisional Jawa yang sebelumnya menentang ke sungai atau pegunungan.[12]

Tatap pula

[sunting
|
sunting sumur]

  • Jalur Pantura
  • Perkembangan Raya Pos, Jalan Daendels, ki akal karya Pramoedya Ananta Toer
  • (Inggris)
    Jalan bentar Pos
    di IMDb

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]

Kutipan


  1. ^

    Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi 1980, hlm. 47.

  2. ^

    Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi 1980, hlm. 50.
  3. ^


    a




    b



    Nas & Pratiwo 2002, hlm. 709.

  4. ^

    Skuat Ekspedisi Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 16.

  5. ^

    Hidayat dkk. 2015, hlm. 28.
  6. ^


    a




    b



    Tim Ekspedisi Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 26-27.

  7. ^

    Hidayat dkk. 2015, hlm. 4.

  8. ^

    Tim Bestel Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 5.

  9. ^

    Hartatik 2018, hlm. 34.

  10. ^

    Skuat Ekspedisi Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 17.

  11. ^

    Hidayat dkk. 2015, hlm. 5.
  12. ^


    a




    b



    Peter Carey 2022, hlm. 39-40.

  13. ^

    Skuat Ekspedisi Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 19.
  14. ^


    a




    b




    c



    Skuat Ekspedisi Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 6-7.

  15. ^

    Hidayat dkk. 2015, hlm. 13.

  16. ^

    Cak regu Pengiriman barang Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 22.

  17. ^

    Hidayat dkk. 2015, hlm. 27.

  18. ^

    Tim Ekspedisi Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 23.

  19. ^

    Hidayat dkk. 2015, hlm. 6.

  20. ^

    Tim Ekspedisi Kompas Anjer-Panaroekan 2008, hlm. 25-26.

  21. ^

    Nas & Pratiwo 2002, hlm. 716-717.

Daftar pustaka


  • Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas (200 musim Anjer-Panaroekan, jalan untuk peralihan). Penerbit Buku Kompas. 2008. ISBN 978-979-709-391-4.



  • Hannigan, Tim (2015).
    Brief History of Indonesia: Sultans, Spices, and Tsunamis: The Incredible Story of Southeast Asia’s Largest Nation
    (privat bahasa Inggris). Tuttle Publishing. ISBN 978-1-4629-1716-7.



  • Hartatik, Endah Sri (2018).
    Dua Abad Kronologi Raya Pantura. Sejak Era Imperium Mataram Islam Sebatas Orde Baru. Yogyakarta: Nurmahera. ISBN 978-602-50619-1-2. Diarsipkan dari versi kudus tanggal 22 Februari 2020.



  • Hidayat, Dody (2015).
    The Devil’s Highway Daendels’s Great Post Road
    (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Tempo Publishing. ISBN 978-602-718633-0.



  • Joga, Nirwono; Ismaun, Iwan; Atmawidjaja, Endra Alim; Indrajoga, Dhaneswara Nirwana (2019).
    Trans Jawa: Menganyam Tipe Lansekap. Gramedia Bacaan Penting. ISBN 978-602-06-2120-3.



  • Nas, Peter J. M.; Pratiwo (2002).
    “Java and De Groote Postweg, La Grande Route, the Great Mail Road, Urut-urutan Raya Pos”
    Perlu mendaftar (gratis)

    .
    Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde
    (dalam bahasa Inggris).
    158
    (4). ISSN 0006-2294.




  • Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia, Volume 1-3. Jakarta: Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 1980.



  • Carey, Peter; A. Noor, Farish.
    Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda, 1808-1830. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-656-8.



Bacaan lebih lanjur

[sunting
|
sunting sumber]

  • Chijs, J. A. van der (1895).
    Nederlandsch-Indisch plakaatboek, 1602-1811, vertiende deel 1808-1809
    (dalam bahasa Belanda). Den Haag: Martinus Nijhoff.




    Berisi plakat-plakat (peraturan) nan dipublikasikan oleh pemerintahan Daendels berbunga 1 Juli 1808 sampai 31 Desember 1809.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Raya_Pos

Posted by: and-make.com