Ratu Elizabeth Keturunan Nabi Muhammad

Paduka Elizabeth II (Foto: Instagram/@queenelizabeth)


Maret 2017 suntuk,


The Observer


batik sebuah berita yang menamai bahwa Ratu Elizabeth II masih merupakan keturunan Nabi Muhammad. Berita tersebut ditulis oleh The Observer dengan mengacu sreg komentar direktur sebuah universitas penerbit buku mengenai genealogi dasar Inggris, Burke Peerage.


Burke Peerage mengklaim bahwa Ratu Elizabeth II ialah anak cucu ke-43 dari Nabi Muhammad. Klaim tersebut termuat kerumahtanggaan surat nan ditulis maka dari itu Direktur Penerbitan Burke Peerage, Harold B. Brooks-Baker, kepada Bendahara Nayaka Inggris Margareth Thatcher pada 1986.


Dalam surat tersebut, Brooks-Baker meminta agar Thatcher memberikan konservasi keamanan yang kian baik kepada tanggungan imperium dari intimidasi teroris muslim.


“Kita tidak bisa hanya mengandalkan fakta bahwa batih kerajaan merupakan keturunan Muhammad dan berharap terhindar dari serangan besar kalang mukmin,” tulis Brooks-Baker n domestik surat tersebut.


Brooks-Baker kemudian mengklarifikasi bahwa Emir Elizabeth II dan keluarga kerajaan memperoleh garis nasab Nabi Muhamad menerobos khalifah-khalifah Andalusia. Khalifah yang dimaksud adalah baka Arab yang perpautan menguasai Spanyol sreg tahun 756-929.


Menurutnya, pendiri Dinasti Abbadid, Abu Al-Qasim Muhammad Ibnu Abbad, adalah orang yang menaruh darah nabi kepada anggota tanggungan kerajaan Inggris. Melangkahi skema pernikahan antar bangsawan, darah Al Qasim telah mengalir menjejak Raja Inggris Edward IV plong abad ke-15.


Berbunga situ, muncullah klaim nan mengatakan sekiranya Sri paduka Elizabeth II merupakan pertalian keluarga Muhammad.

Ratu Elizabeth (Foto: REUTERS/David Rose)


Sebelum mempercayai klaim Burke Peerage secara taklid buta, kita perlu menguji kebenaran atas informasi nan mereka sampaikan.


Bakal menguji hal tersebut, kita setidaknya bisa memverifikasi melangkahi tiga cara: 1) memeriksa kredibilitas Burke Peerage, 2) menguji kredibilitas direktur mereka Harold B. Brooks-Baker –orang yang bertanggung jawab atas klaim itu, dan karuan doang 3) menyelidiki garis keturunan Abu Al-Qasim Muhammad bin Abbad.



Reliabilitas Burke Peerage



Burke Peerage merupakan penerbit kancing yang mencatat genealogi daftar baka bangsawan Imperium Inggris dan Irlandia sejak 1826. Penerbit buku pencatat baka ini dibuat oleh seorang genealogis bernama John Burke.


Sejak tahun 1839, Burke Peerage dipimpin oleh putra John Burke, Sir Bernard Burke. Di bawah kepemimpinannya, penerbit ini secara berkala mulai menerbitkan seri genealogi keluarga kerajaan Inggris hampir sreg setiap tahun sejak 1839 hingga 1940.


Namun, begitu juga yang dicatat oleh Encyclopaedia Britannica, di bawah kepemimpinan Sir Bernard Burke juga, perusahaannya berangkat kekeringan kredibilitas sebagai penerbit di bidang genealogi kebangsawanan.


Di era itu, Sir Bernard Burke secara fatal, sudah mewariskan sejumlah data substansial yang cacat dan keliru ke para suksesornya. Data yang dimaksud meliputi: anekdot abad pertengahan yang ditampilkan perumpamaan fakta dan berbagai catatan editorial yang meragukan.


Menurut majalah Baronage, di kalangan ahli sejarah, peruasan terbitan Burke Peerage n kepunyaan ketenaran sebatas koleksi takhayul yang bertahan selama bertahun-tahun.


Sejak ketika itu, cucu John Burke, Sir Henry Burke terus mencoba membangun kembali kredibilitas institusi tersebut. Kampanye ini berlangsung sampai edisi terakhir mereka, edisi nomor 105 yang mulai sejak di 1970.


Selepas menerbitkan edisi terakhirnya, Burke Peerage menyatakan bubar dan menjual nama serta hak cipta Burke Peerage ke beberapa perusahaan. Belaka tetap saja, upaya Henry dan pemegang hak paten seterusnya cak bagi memperbaiki keterjaminan institusi mereka itu masih jauh dari introduksi rampung.


Sejak 1984, Burke Peerage berada di bawah kepemimpinan Harold B. Brooks-Baker. Alih-alih membaik, nama Burke Peerage justru semakin tenggelam.


Contohnya yakni di hari 1996, detik Burke Peerage mengeluarkan pernyataan jika Bill Clinton akan lebih berkesempatan memenangi pemilu presiden Amerika Serikat dibanding Senator Bob Dole, karena Clinton n kepunyaan bakat bangsawan dari baka bangsawan Perancis, Robert I.


Tembusan kabar mahasiswa University of Harvard, The Crimson menguji klaim tersebut dan menyatakan kalau Bill Clinton sekufu sekali tidak memiliki pembawaan bangsawan.


Mereka juga mengkritik ilmu mantik Harold Brooks-Baker, yang menganggap bahwa faktor kebangsawanan menentukan keberuntungan seseorang bakal unggul pemilu. Menurut mereka, Bill Clinton yang tidak memiliki darah bangsawan, puas kenyataanya berdampak cundang George Bush yang memang ialah keturunan bangsawan.


Melihat riwayat tersebut, alih-alih memperbaiki namanya sebagai sumber riwayat keturunan bangsawan yang valid, Burke Peerage terlebih berulangulang terbukti salah dan semakin menahbiskan dirinya bak firma yang tidak kredibel.

Kamus Burke Peerage (Foto: Wikipedia Commons)



Kemasyhuran Harold Brooks-Baker


Harold B. Brooks-Baker, insan yang mengklaim sekiranya keluarga kerajaan Inggris mempunyai garis anak cucu terbit Nabi Muhammad, ialah koteng pemberita yang majuh mengeluarkan komentar-komentar kontroversial. Sayangnya, komentar nan dibuatnya lebih lagi seringkali pelecok.


Begitulah paragraf pembuka yang ditulis buku harian The Telegraph dalam obituari Harold B. Brooks-Baker saat ia meninggal di periode 2005.


Makanya Telegraph, Brooks-Baker dikenang sebagai pembual. Ia mengatakan kalau Tuanku Elizabeth adalah keturunan Nabi Muhammad satu-satunya-mata untuk takhlik sang emir merasa aman berusul ketakutannya terhadap besar kalang orang islam.


Belum lagi, Brooks-Baker juga pernah mendorong agar Kaisar Elizabeth II bikin menerimakan jabatannya bagaikan pemimpin Gereja Anglikan Inggris. Ia juga pertautan bersuara bahwa Inggris punya peluang 50 persen untuk berubah menjadi republik.


Tak heran, Telegraph mengatakan bahwa komentar Brooks-Baker tentang batih kerajaan dibuat tanpa pengaruh dan pengetahuan nan sepan.


Selain Telegraph, The Guardian pun mempunyai julukan solo untuk Brooks-Baker: super snob alias orang nan suntuk snobis tahu.


N domestik obituari nan ditulis bakal mengenangnya, The Guardian memandang Brooks-Baker sebagai pembual nan tidak tahu malu. Ia cak acap mengomentari urusan tentang keluarga kerajaan tanpa berpikir dua kali, sampai mengerasi sekretaris raja mengeluarkan pernyataan pers cak bagi meluruskan desas-desus dari komentar Brooks-Baker.


Salah suatu komentar kontroversialnya terjadi merespon persaksian Perempuan Diana. Momen itu, rumor beredar bahwa Diana akan menerima 15 juta poundstreling pasca bubar bermula Pangeran Charles. Adv pernah segala apa yang Brooks-Baker katakan saat itu?


“Jackie Onassis (Janda Presiden Kennedy) akan tertawa melihat uang itu. Kamu akan menghabiskan tip itu sebelum sarapan,” ujarnya mengejek jumlah uang yang akan diterima putri Diana bersumber Kerajaan Inggris



Garis Anak cucu Abu Al-Qasim Muhammad kedelai Abbad


Apabila kredibilitas Burke Peerage dan mendiang Brooks-Baker masih abnormal meragukan, maka marilah kita melakukan verifikasi langsung terhadap isi ucapan si Brooks-Baker itu.


Sebelumnya, Brooks-Baker mengatakan bahwa Ratu Elizabeth II adalah nasab langsung Nabi Muhammad melalui garis baka pendiri Dinasti Abbadid, Abu Al-Qasim Muhammad bin Abbad.


Menurut Brooks-Baker inilah alur yang melambari klaim bahwa Kaisar Elizabeth yaitu keturunan dari Rasul Muhammad;


Elizabeth II, Queen of the UK –


upik bermula


George VI, King of the UK –


putra dari


George V, King of the UK –


putra berpunca


Edward VII, King of the UK –


putra dari


Victoria, Queen of the UK –


gadis dari


Edward, Duke of Kent and Strathearn –


putra berasal


George III, King of Great Britain –


putra dari


Frederick, Prince of Wales –


putra berpangkal


George II, King of Great Britain –


putra dari


George I, King of Great Britain –


putra dari


Sophia, Electress of Hanover –


dara bermula


Elizabeth of Bohemia –


putri semenjak


James I/VI, King of England, Ireland & Scotland –


putra dari


Mary, Queen of Scots –


amoi dari


James V, King of Scots –


putra dari


Margaret Tudor –


cewek dari


Elizabeth of York –


putri berbunga


Edward IV, King of England –


putra dari


Richard Plantagenet, Duke of York –


putra dari


Richard of Conisburgh, Earl of Cambridge –


putra mulai sejak


Isabella Perez of Castille –


putri dari


Maria Juana de Padilla –


putri dari


Maria Fernandez de Henestrosa –


dara dari


Aldonza Ramirez de Cifontes –


putri mulai sejak


Aldonza Gonsalez Giron –


putri dari


Sancha Rodriguez de Lara –


putri berasal


Rodrigo Rodriguez de Lara –


putra dari




Sancha Alfonsez,


Infanta of Castile –


kuntum berpangkal




Zaida


(aka Isabella) –


putri dari


Al-Mu’tamid bin Abbad, King of Seville –


putra terbit


Abbad II al-Mu’tadid, King of Seville –


putra pecah


Abu al-Qasim Muhammad kacang Abbad, King of Seville –


putra bersumber


Ismail bin Qarais –


putra dari


Qarais bin Abbad –


putra dari


Abbad kedelai Amr –


putra dari


Amr bin Aslan –


putra bersumber


Aslan kacang Amr –


putra dari


Amr bin Itlaf –


putra terbit


Itlaf bin Na’im –


putra berpunca


Na’im bin al-Lakhmi –


putra dari


Na’im al-Lakhmi –


putra pecah


Zahra bint Husayn –


gadis dari


Husayn bin Hasan –


putra dari


Hasan bin Ali

Ratu Elizabeth II (Foto: Tolga Akmen/AFP)


Galur di atas kasmaran meyakinkan –dan apabila mengacu pada galur tersebut, benar belaka kalau Sinuhun Elizabeth II adalah nasab Rasul Muhammad.


Namun apabila diperhatikan lebih irit, n domestik silsilah tersebut tertulis nama Zaida, nan disebut putri dari penguasa Sevilla, Al-Mu’tamid bin Abbad.


Berdasarkan buku yang ditulis oleh seorang pandai Timur Tengah, Simon Barton, berjudul Conquerors, Brides, and Concubines; Interfaith Relations and Social Power in Medieval Iberia (2015), terungkap bahwa Zaida atau Isabella ternyata bukanlah anak kandung dari Al-Mu’tamid bin Abbad, melainkan menantunya.


Zaida sendiri adalah cem-ceman dari anak Al-Mu’tamid, Abu Nasr al-Fath al-Ma’mūn, yang tewas dalam serangan bangsa Berber di tahun 1091. Barton sendiri menganggap Zaida bukanlah merek tahir, melainkan etiket samaran. Menurutnya, setakat saat ini belum diketahui dengan jelas asal usul dari Zaida.


Sejarawan Timur Tengah lainnya, Bernard F. Reilly, dalam bukunya The Kingdom of Leon-Castilla under King Alfonso VI, 1065-11-09, mengungkap bahwa Raja Spanyol; Alfonso VI n kepunyaan dua cucu adam ayutayutan dan selir yang sama-proporsional bernama Isabel. Zaida, nan melarikan diri setelah suaminya terbunuh, adalah pelecok satu Isabel ini.


Beralaskan penelitian yang sama, dua Isabel tersebut mempunyai peran nan berbeda. Isabel pertama adalah aji, dan Isabel kedua –alias Zaida– hanya menjadi sendiri cak gundik.


Lewat Zaida inilah Sinuhun Alfonso VI mendapatkan anak asuh laki-laki satu-satunya, ialah Sancho Alfonsez. Sancho Alfonsez sendiri tewas kerumahtanggaan usia 15 perian setelah dibunuh oleh warga mukminat lokal di wilayah Ucles pada tahun 1108, di paruh upayanya culik diri dari bidasan bangsa Moor.


Fakta itu tentu saja menengkar klaim silsilah yang ditulis Brooks-Baker, yang menyatakan bahwa anak asuh Zaida dan Kaisar Alfonso VI adalah Sancha Alfonsez.


Pada kenyataanya, Sancha Alfonsez yaitu seorang anak upik nan tidak dilahirkan oleh Zaida, melainkan Ratu Isabel pada masa 1104. Sedangkan, Sancho Alfonsez adalah anak asuh dari Zaida, yang dilahirkan 11 tahun sebelumnya, tepatnya di 1093.


Dengan demikian, klaim yang mengatakan bahwa Paduka tuan Elizabeth II ialah zuriat Utusan tuhan Muhammad secara genealogis jelas habis meragukan.

Source: https://kumparan.com/kumparannews/menguji-klaim-ratu-elizabeth-ii-sebagai-keturunan-nabi-muhammad

Posted by: and-make.com