Puisi Cinta Pandangan Pertama Pendek

27+ Syair Besar perut Ringkas Emosional, Bikin Baper, Sedih, Islami

Source : thegorbalsla.com

1. PUISI CINTA “MELUKIS LANGIT SENJA”

Pagi waktu perawan melati mulai bertunas juga

Terbuai dengan rabaan embun sejak kemarin

Setakat senja beranjak menghampiri

Dititipkannyalah segala harap dan kedermawanan yang mendasar

Bertanya pada langit rasi itu

Akankah menyecap kebahagian setiap waktu

Habis bagaimana dengan pesiaran kemasygulan dan kesengsaraan

Angin sepoi minus menggelitik

Menerpa wajah serta membawa aroma bunga

Akankah dia nan kucinta pun dan membawa rindu bersamanya

Aku yakin dengan rasa ku

Caruk yang terilhami dari ketulusanmu, kekagumanku, dan kekompakan kita

Hingga saat ini masih menjadi misteri

Teka-teki saat biji mata kedua insan saling menatap

Tidak tahukah beliau wahai maskulin pujaan

Nuansa jingga pula membawaku ke masa lepas

Dan sekarang ku sadari itu hanyalah kenangan

Dari kisah cintaku nan bertepuk sebelah tangan

2. PUISI Majuh “Kamu ADALAH JUDUL PUISIKU”

Aku dan ia

Dua insan berbeda kaki bertemu disaat tidak tepat

Masih terngiang persuaan pertama rasi itu

Belum mengenal serta belum bersua

Terbingkai senyum cerah raut wajahmu

Membuat aku menanya siapakah gerangan

Anak lanang yang berhati mulia nan cakap

Kamu

Seseorang istimewa memuati relung hatiku

Sejak 2 tahun dulu

Datang tanpa aku undang dan membukanya dengan caramu secara perlahan

Tahukah beliau apa kemujaraban dirimu bagi ku

Kamu

Seiring berjalannya hari mewujudkan aku terbiasa akan kasih sayangmu

Segala humor kau selipkan setiap musyawarah kita

Kepedulianmu dan pikiran nan kau berikan setiap tahun

Hati nan telah lama tertutup lambat laun menginjak terbabang kala itu

Anda

Pujangga nan fertil dihidupku minus jalinan jelas

Tanpa susuk dan mendadak pergi tanpa ucapan selamat dulu

Penggalan kenangan nan tidak akan pernah selesai

3. Sajak CINTA “Tatap AKU”

Kurasa mentari saja mesem ketika melihat kekompakan kita

Canda dan tawa tanpa kepalsuan

Melihat dua hati sedang berhiaskan

Tatapan tegas yang tajam

Mana tahu semut kembali ikut menari-nari

Tak secuil perasaan sirik akan cerita ini

Terinspirasi dari kisah kita

Walau seribu rintangan dengan kronologi berliku

Bererak sangat sani

Kebenaran berdasarkan kenyataan

Berasal tatapan puspa hati hati

Selepas semua problematika yang telah dilewati

Tajamnya duri sekarang bukan pula terasa

Serpihan bebatuan kini rata sebab pijakan bersama

Melangkah dengan tangan yang tukar menggenggam

Sangat pesam dan erat bagai sekelamin kunci dan gembok

Tatap aku

Bersama kita melangkah menjurus hari depan

Aku, beliau, dan keluarga kita menjadi satu

4. Syair Belalah “KEPADA SAHABATKU”

Sahabat

Masih ingatkan kamu

Ketika bahu ku ini menjadi tempat berdasar

Kuping ku seakan milikmu

Selalu menjadi panggung berbagi cerita

Suka serta kepahitan manjapada kau utarakan tak ronda usai

Ingatkah dirimu

Sekian lama hari terlewati

Jangan lupa hargai aku

Setakat ketika bukan secuil kisahmu tidak ku ketahui lagi

Hari-harimu mungkin penuh suka dan duka

Akulah sahabat saringan yang paling dia percaya

Waktu ini

Pundak ini tidak lagi tempatmu bersandar

Alat pendengar ini tak lagi menjadi pendengar celotehan mu

Sebab aku lain juga makara pilihanmu

Sebab sudah ada dia lainnya n domestik relung hati mu

Sahabatku

Bahagia mu adalah bahagia diri ku

Segenap wirid selalu terpanjat

Kendati waktu ini sudah ada lever lain kau singgahi

5. PUISI Besar perut “JANJI ROMANTIS BIBIRMU”

Sudah bertambah 1000 malam kita lalui

Suka duka manis pahit terasa bersama

Jangan ragukan lagi besarnya rajin dan ketaatan ku

Langit pun tahu

Walau langit bukan berada menjawab

Burit pun menyapa

Walau tak sanggup bersahutan

Cinta rahmat kita adalah suatu

Hati ku telah terpanjatkan tetapi kepada mu

Sadarkah kamu

Aku harap kamu dapat memafhumi sehingga mengerti

Cinta suci ini lain bisa terbagi

Adalah harga hening

Hingga dahanam nafas ku terhenti

Bola mata tak mampu lagi terbuka

Serta raga ini terbujur kaku

Sekadar suatu dirimu yang kumau selalu dihati

Janji suci jangan kau ingkari

Cukup aku dan kamu serta momongan-anak kita kelak

Bersatu dalam satu atap diliputi suasana cinta kasih tanggungan utuh

Aku optimistis

Kamu takdir ku bakal kini sebatas selamanya

6. PUISI CINTA “Rukyah Purwa Pada Tunggang”

Aku terbuai

Aku terbetot maka dari itu terang hangatnya

Sore kala itu malu menatap ku dengan mengendap-endap

Aku tak ragu menatapnya diujung sana

Binar kilap nan indah tak tertandingi

Aku terhanyut lembayunnya nan tertumbuk pandangan semu

Kesatria yang sangat berseri

Seakan diliputi angkara dengan senyawa kelembutan

Sayangnya kini senja berubah

Luka membuatnya tertutup sendu

Senja

Kala itu bernas membuat aku tungkap seribu bahasa

Merubah aku menjadi manusia pemarah

Punya prasangka dan rasa cemburu buta

Burit

Kehadiranmu selalu menghadirkan kesedihan

Seandainya aku dapat bertanya

Apakah arti rasa ku hingga kini aku melangkah tak tentu arah?

7. PUISI Demap “AKU Bisa Apa”

Kali hingga janji

Manis terukir namun memetik

Bukan hanya rangkaian pengenalan

Aku juga turut berusaha

Dimatamu mungkin menjadi ilusi

Aku telah coba jadikan semua itu nyata

Tak terkekang dalam angan atau mimpi

Semua upaya diri ini karena kamu

Kamu cak bagi aku berjuang tanpa kenal lejar

Bersabung dengan sukar syamsu dan hujan meski hati berangkat lejar

Mengatasi kerasnya karang raksasa saat fajar menjelang

Kemudian tersenyum bahagia kala senjat mulai

Aku bisa apa

Ku pertanyaan pada diri ini bertepatan menatap mu

Ya aku bisa

Bisa menghujani mu cinta dan kasih sayang

Namun semua sebatas waktu dan kemampuanmu

Jikalau suatu saat kamu mengusirku

Aku bukan ragu untuk meninggalkan namun aku yakin tidak akan perhubungan sekali lagi

8. Syair Rajin “SANG PUJANGGA IMPIAN”

Saat ini aku adv pernah tak berlimpah meraih cinta dan hati mu

Aku juga tak dapat menggenggam setitik kasihmu

Justru menggenggam erat jari indahmu

Sangat tak hanya sekelumit syair kau tuliskan untukku

Beribu perkenalan awal mulia yang bermakna kau tujukan semata-mata untukku

Kini semua berlainan

Kurasa lever mu berubah tak sekali lagi sama

Pintu hati mu telah kau tutup

Kau lebih memilih ulem cinta lainnya

Selain aku

Bukan pula tersurat kepada ku sepenggal tembang dari mu

Aku menyerah

Aku tak bisa menguati niat dan lever mu

Untuk cangap mencintai dan menyayangi aku

Waktu ini dia bebas

Berwenang memilih kemana hati mu mau bahagia bersama ibadat hati baru itu

Duhai kekasihku

Tidakkah engkau mendengar suara relung hati yang menjuluki namamu

Tak dapat sebun gagahnya parasmu

Cintaku

Dapatkan engkau buka rendah belaka pintu hati mu itu

Agar aku dapat memasuki dan menghayati sekali lagi

Kisah kita yang telah usai termakan zaman

9. Syair Gelojoh “INIKAH Roboh CINTA”

Pancaran sani dari manik matamu

Setiap kerdipan dan lirikan itu membutakan mata hati ini

Bagai kilatan petir nan membelah dunia

Aku terpanjat

Sesaat bumi seakan mengetem berotasi pada porosnya

Sangking terkersima pesona indahmu

Aku terjatuh internal gorong-gorong pelahap bak palung laut terdalam

Takjub akan kelembutan dan keanggunanmu

Mata ku memandangmu seakan makhluk sempurna

Sesaat selepas itu terjadi

Aku lagi menanya-tanya

Inikah jebluk cangap

Pada kamu yang belum aku ketahui namanya

Cinta pandangan pertama alias detik selanjutnya

Aku tak memahami

Lidahku seakan tunawicara otakku seakan buntu

Bolehkah mengenalmu

Rasa ingin merengku dan mengisi hatimu

10. PUISI Besar perut “Akan halnya CINTA”

Sejauh hari camar bayangmu terangan-angan dalam manah ku

Entah mengapa kamu seakan beralih bentuk sebagai halnya hantu

Kini aku ingin menuliskan sekerat puisi

Tentang burung laut kepadamu beserta rindu

Aku sipu

Bahkan sejuta syair indah tak berharta menayangkan rasa ini terhadap dirimu

Deriji ku seakan berhenti menggambar

Ketika menemukan alas kata ‘Pelalah’

Lalu ku sambung kembali kata-kata indahnya

Tentang cinta nan aku miliki

Ingin ungkapkan ‘AKU MENYAYANGIMU’

Pas dengan bisikan perlahan

Aku pun tahu tidak sanggup menyergap cinta ini

Terlintas detik kau balas dengan musik manja

Sambil tertunduk canggung kau berkata ‘AKU Juga MENYAYANGIMU’

Setelah saat itu aku ingat

Serta bersyukur kepada Sang Pembentuk alam segenap

Mulai hari itu aku menjatah masa untuk lever

Seyogiannya belajar memaknai bahasa hatimu

11. PUISI CINTA “PERI KECIL”

Aku merindukan dirimu bagaikan mawar

Bagaikan menanti kirana rawi kala musim dingin

Momen tak secercah cahaya gemuk merengkuhnya

Aku ingin menyirami cinta dan berpasangan seperti merpati putih

Selalu berdua dan bukan dapan mencintai makhluk lain setelah mendapatkan pasangannya

Andai anda tau aku ingin selalu berada didekatmu dan bersamamu

Sebagai halnya keharmonisan nan diberikan surya pada bumi

Mengasihkan hidup anak adam lain

Anakan bermekaran, burung-ceceh sekali lagi ikut berkicauan

Meski kadang terbesit dipikiran ini

Barangkali hanya takhayul negeri dongeng sebelum tidur

Dapatkah aku mewujudkan kerumahtanggaan mayapada nyata

Menjadikan rajin minus pengunci

Hanya bersama sira

Aku dan per kecilku

12. Tembang Buruk perut “MIMPI SEMALAM”

Gelap langit lilin batik kemarin

Terselit secercah senyum nan indah

Lama tak muncul

Ternyata bersembunyi dari peraduannya

Menjebloskan bertempat disana

Tertentang jelas mata purnama

Canda gelak terdengar masih selaras

Seakan mengirimkan kembali ke masa lepas

Momen aku benar berada disamping dia

Ucap saja dia purnama

Rasi mimpi malam menjemputku selalu hadir

Mengiringi langkah bertemu purnama

Tergambar jelas cahaya purnama diatas aku dan beliau

Seri hangat purnama

Menjemput dengan perlahan tapi karuan

Tak lama kemudian

Aku lagi pulang

Dibangunkan sapaan mentari pagi

Seluruh isi lever seakan terenyuh

Sayang dia kini tak boleh tersentuh

Asa ku masih menggantung

Saat ini kurelakan engkau meninggalkan bersama sinar purnama

13. PUISI Belalah “RINDU”

Lama kupendam

Baru ku sadari masa ini aku tak sanggup

Tak mampu lagi mengungkapkan

Meski beribu upaya paksa

Sudut hati terdalam ini

Terukir pengenalan primitif

Mungkin baginya tak signifikan

Sebuah kata muncung barangkali telah usang

Lain berubah supaya terlukai waktu

‘Aku rindu’

Kupejamkan kedua manik mata ini

Hanya wajah sang pujaan hati muncul

Seakan anda melempar senyuman kepadaku

Terlintas sesaat

Inginku memburu pemilik semyuman itu

Namun selalu ia semakin merenggang

Sudahlah aku lain bisa berpikir juga

Kepala ini seakan buntu

Dia seumpama impian yang ki amblas

Nan setakat penghabisan waktu aku tidak bernas meraihnya

Telah kusimpan semua rasa dan benguk ini lubuk hati

Menghadapkan kepada hujan kala petang

Bermami zikir terpanjatkan dalam mimpi

Bisikan ribang padamu jua bukan kunjung sirna

14. Puisi CINTA “ADA Ribang DIMATAKU”

Sempat terangan-angan olehku

Seandainya belum bertemu dan mengenalmu

Mungkin kini lever lain sesakit ini

Kepada engkau yang meninggalkan aku

Dalam gelapnya lilin batik dan kejamnya dunia

Sekarang aku berjalan tertatih sonder cintamu

Siapa jika tak mengenalmu

Tidak akan terserah pancaran kangen dibola mataku

Detik tak sengaja kita bertarung

Aku keruh

Apakah kini suara mu sepadan sebagai halnya hati mu

Sama-setinggi membisu

Aku rindu tatapan itu

Penuh cinta dan keteraturan mampu menciptakan menjadikan aku tenang

Lihatlah ke intern bola mata ini

Boleh jadi dapat menayangkan rinduku

Akan segala hal yang bersambung denganmu

Waktu ini rindu tengah menggantung di roh

Tepatri namun diberikan puas hatimu

Hingga waktu ini aku belum sanggup menghapus bayangmu

Yang menggoda hingga relung jiwa ini

15. PUISI CINTA ISLAMI

Kegelisahan sang malam

Matahari sembunyi menengok terlarang

Langit terpenuhi gemerlap tanda jasa

Suasana tercipta andai surgawi

Beribu bintang bertaburan kilaunya

Tak tahukah bukan main pedih malam yang kini benguk

Langit seakan membisu dan sunyi

Hingga merasuki celah hati

Meski tengah kecewa nan sakit

Akan usia pahit serta sulit

Harapan luhur sekufu langit

Termuat indah diatas sepotong kertas suci

Melangkah perlahan menapaki urut-urutan

Terserah momen berdiri, jatuh, merangkak, tertatih

Tak ada kekasih hati ataupun sahabat

Nomplok mengulurkan uluran tangan

Enggak ada pun kancah berpijak

Ingatlah masih ada Allah tempat bersujud

16. PUISI CINTA “SEPUCUK Sahifah CINTA UNTUK IBU”

Ibu

Maafkan anakmu

Nan telah menghiasi hari-harimu dengan tangisan

Ketika aku bayi tinggal

Pinta ku mungkin kadang menyendatkan perasaanmu

Segala celotehan tak beralasan

Comar beliau dengar ketika aku pulang sekolah dulu

Sabarmu tak terhitung menghadapi aku

Yang terlalu bergantung dan manja padamu

Maafkan aku bu

Kerumahtanggaan lelap pula kamu boleh terganggu

Dudukmu kini bukan kembali boleh terhenyak

Karena semua ulahku yang membebanimu

Aku tahu ibu

Jadwal istirahatmu pun tak menentu

Tuturku kadang tak bisa terkendali

Hingga kamu terluka dan berderai-derai air netra

Aku ingat

Ini tak sebanding dengan cinta kasih nan kau curahkan

Alangkah aku bukanlah darah dagingmu yang berbakti

Ibu

Saat ini ini aku mengusikmu melalui fonem ini

Sekacip abc sederhana ini

Terangkai kata mulai sejak cembung hati ini

Cak agar sederhana sahaja penuh cinta

Terima belas kasih ibu atas segala pengorbananmu

Semua keikhlasan mu terhadap ku

Intern wirid selalu kuselipkan namamu

Agar Yang mahakuasa rajin melindungi tiap langkah rapuh mu

Serta memberkati tahun-hari mu

17. PUISI CINTA “PENYESALAN”

Perian kian berpacu

Bukan akan nongkrong maupun menunggumu

Tidak bisa pula terulang juga

Semua kejadian tak akan kembali lagi

Dapatkah aku berandai

Jika waktu bisa mengirimkan ku juga

Semoga ku gariskan kembali kodrat ini

Cak hendak ku makara insan lebih baik

Hidup lebih berfaedah

Ikrar teko ku hiraukan kemarahan orang diluar sana

Mengabaikan hal tak penting dan meraih mimpiku

Semata-mata apa sentral

Semua sudah terjadi

Periode juga mutakadim berlalu

Tersadarku dalam kegelapan bahwa kini

Pamrih itu sudah sirna

18. Puisi Cangap “HARUSNYA AKU TAK MELUKAINYA”

Sira menyayangi aku

Dapat ku rasakan

Dari pancaran rona wajahnya ketika bersama

Canda tawa juga menjadi bukti

Perhatian dan ketulusannya karunia sayangnya

Sira bagaikan nyala lilin

Berkorban demi orang sonder takut mortalitas

Sira mencintai aku

Jelas ku lihat dari pengorbanannya

Bukan hanya sebatas kepedulian perkawanan

Aku apakah masih pantas

Mengasakan cinta steril darinya

Selepas menghancurkan barang apa angannya bersama ku

Aku ragu aku pula malu

Enggak maksud hati mengebankan kamu

Aku pula memiliki rasa nan sama

Aku mencintai dia

Sekarang tersisa sudah api kerap itu telah padam

Tak jalinan terlintas melukai beliau

Aku doang belum siap buat terluka kesekian kalinya

Biar dia perlahan menjauh

Setiap malam aku berdoa puas Sang Pencipta

Hendaknya dia yang pernah mencintaiku

Mendapatkan seseorang lebih baik dibandingkan aku

19.KINI AKU MENEMUKAN DIA

Tak perlu kau beber cerita zaman dulu

Dahulu biarlah menjadi permainan manismu

Tak perlu sekali lagi kau pertanyakan

Sahaja akan membangkitkan memori ku akan goresan luka

Sudahlah aku pula bosan muak lejar

Segala sandiwara amatiranmuu rayuan dan dusta

Aku takkan terbuai lagi dengan nafsumu

Tak berminat menjadi deretan mantan kekasihmu

Tak sudi diri ini dianggap wanita sortiran

Itu dulu

Tinggal kau menghindari begitu belaka sehabis penolakanku

Aku keruh mengapa sesakit ini

Namun masa ini luka hati telah pulih

Aku pun menemukan dia nan lainnya

Seseorang lelaki terhormat dan budi pekerti baik

Membimbing ke pintu suralaya

Selamat datang masa depan

Selamat tinggal masa lalu mendung

Terimakasih atas segenap ilmu pendewasaan nan telah kau berikan

Meski aku belajar melalui jejas

20.PUISI Comar “BERPISAH DENGANMU”

Hembusan angin terasa bersilir-silir-sepoi menerpa

Seakan memaksaku tuk menjauh

Apadaya alat penglihatan bukan kuasa

Membendung air kepahitan kini bertumpah ruah

Majuh

Sadarku semua kenangan itu telah menjelma menjadi osean kenangan

Yang tak dapat terbuang semenjak lautan hidupku

Sungguh masih membekas sentuhan lembut jemarimu

Kau makhluk terindah nikah melukis hati dan masa-hariku

Masa ini perpisahan seakan belati

Bersiap menggariskan luka di relung nyawa dan hati

21. PUISI Cangap “BATIN”

Langit menggelap

Gumpalan awan hitam mengerumuni

Tak lupa deru ikut bersahutan

Hujan pun datang secara perlahan

Lampu sengaja ku padamkan

Mataku pejamkan

Sekali lalu menyelami sepi dan kekecewaan

Bagaikan menanti sinar bulan diatas pemakaman

Menunggu maut cak bagi mencumbu kesengsaraan

Hidup terasa belaka patos

Rasa sakit entah kapan berujung

Hatiku ketaton

Entah bagaimana langgeng dan tak akan penyap

Maka dari itu apa kebohongan yang kau lontarkan padaku

22. Sajak CINTA “BIARKAN”

Sekarang saatnya aku bersuara

Patut sudah pelarian ini

Aku lelah dan akan berhenti

Tak kaya pun menghindar berpunca amanat kehidupan

Penantian sekian lama bukan membuahkan hasil

Tidak akan pula aku berharap kembali

Agar dirimu perhati

Peduli justru kembali kepadaku

Cinta ini sengaja abaikan

Rasa ini sengaja aku buang

Waktu ini aku bukan ingin rasakan

Pahitnya kehilangan seseorang bagaikan semesta

Sejak kau pergi bersama dia

Cinta baru lainnya

Aku polos

Cukup semua kenangan manis menjadi kenangan

Tak ingin kuteruskan untuk masa depan kita

Lain ada lagi kita

Hanya anda dan aku

Minus diikat kerumahtanggaan hubungan cinta

23. PUISI CINTA “AKU DAN Kamu”

Aku dan dia

Cak agar aku tak bisa menggapaimu

Mendekap jiwa manja nan luhur

Aku dan kamu

Kini mutakadim terpisah enggak karena jarak

Lurah putusnya percintaan yang memisahkan

Kamu lain mengarifi aku

Kamu pula tidak dapat menerima kekuranganku

Aku selalu berusaha menjadi terbaik

Namun tak pernah berharga dimatamu

Aku bagai merindu bintang detik syamsu hadir

Butuh pancaran keserasian surya rekata malam menyelimuti

Luka ini sakit tak berdarah

Pedih pula tak kunjung pergi memilih menetap abadi

Bukan dapat ku lukis diatas air jernih

Enggak mewah pula mengotot internal kibaran api

Meski kelak semua hilang

Hati ini enggak dapat berubah tetap akan seperti ini

24. Syair CINTA “Kritik LUBUK Hati”

Kekasihku

Sampai saat ini aku bertanya

Mengapa sira menjauh meninggalkanku

Diantara lepasnya sore dan malam nan datang mencumbui

Kau seolah bertukar ketika berhadapan denganku

Masih pantaskah aku menyebutkan cinta ini

Jika lain aku tidak berkemampuan lakukan mengelak

Kau berhak atas dirimu sendiri bukan aku

Akankah kisah kita berlangsung lagi

Setelah ratusan lilin lebah kita lewati dan jutaan medali kita pandangi

Kadang hati ini berteriak

Mengapa semesta tega melakukan ini padaku

Menjauhkan dirimu berhala lever

Dan waktu ini tak ingin kembali

Rasa itu hadir bagai tak diundang

Menyingkir pun melenggang bebas tanpa kata perpisahan

Aku menyoal-soal kepada langit

Akan halnya teganya sikapmu menjolok kalbu secara perlahan

Kau pun menyingkir bersama dia dan mulai melupakan aku

Narasi lama kita tak berguna dimatamu

Mungkin aku tak pantas lakukan kau cintai

Aku membiasakan melepas rasa cangap untukmu dengan perlahan

Andai kau tahu

Betapa sulitnya musim, minggu, tahun terlewati sonder hadirmu

Sabar dan hatiku terserah batasnya menahan kesakitan ini

Apakah ini namanya mencintai tanpa dicintai

Bukan main menyakitkan hingga lubuk hati

25. PUISI CINTA “Telah BERUBAH”

Beliau yang dulu ada

Seseorang pengisi ruang hati

Prabu senja perikatan kudamba

Membuatku merasakan makna dicintai

Berbagai cara dulu beliau lakukan

Kerjakan mendapatkan hati ini

Sahaja sekarang mengapa berbeda kurasakan

Kau bagaikan perlahan merenggang ingin menghilang dari muka mayapada

Aku bingung, aku merasakan luka, aku tidak sanggup

Bila harus kehilangan dirimu

Hanya apa daya harus kulakukan hendaknya kau mengotot

Sedangkan kau sudah lalu menjauh bersama kekasih baru

Kau buat aku seakan enggak barangkali-siapa

Rekaman sani saat bersama terlampau tak bermanfaat dimata mu

Telah aku coba untuk membuka pintu hatimu kembali

Aku senggang kiranya kau indolen membukakan

Telah kuyakinkan diri

Inilah detik yang tepat cak bagi pergi

Berpamitan pun tiada utama pun bagimu

Meski telah kau hancurkan aku karena sikap dinginmu

Meski terasa berat untuk mengikhlaskan

Meski banyak kenangan yang belum sepenuhnya aku buang

Aku berjanji tak akan menakutnakuti

Kamu dan cintamu yang baru

26. Sajak Cak acap “Hati YANG TERLUKA”

Lever ini bergetar kala sejodoh manik mata mulia itu menatapku

Penglihatan ku terhalang keindahannya

Sekujur tubuh lemas seketika dan mulai tersadar

Masa ini kau kepunyaan bani adam enggak

Apa buku diri ini

Tak siapa-bisa jadi yang mencintaimu

Barangkali bagimu ini berlebihan

Kamu tak terbiasa menimang-nimang aku

Aku sedang belajar terbiasa minus hadirmu lagi

Aku bingung

Cak kenapa bola matamu memandang dengan munjung kehasadan dan amarah

Meski senyum sani kulemparkan padamu

Engkau berubah sudah tak sama

Maafkan aku sifat bawaan cinta ini bukan kuasa terkurung lubuk hati

Ku mengerti satu peristiwa wajib dilakukan

Melepaskan dan mengikhlaskan kamu

Tanpa mengganggu usia mu dengan comar yang enggak

27. PUISI Caruk “WAKTU Sudah lalu BERLALU”

Teringat jelas dalam memoriku

Kala itu kita perdua dempet

Bagaikan dua sejoli semenjana terpincut

Tidak cak semau hari ku habiskan tanpa kehadiranmu

Kau merias hariku dengan senyuman dan perhatianmu

Buruk perut kini kau berubah

Mungkin karena kesalahanku

Kau agak aku mempermainkanmu

Seandainya bernas aku jelaskan

Bukan maksud mewujudkan kamu pergi

Aku sekadar bingung apa sebenarnya gayutan ini

Siapa kau tidak khalayak yang ingin didesak

Mungkin juga engkau tak serius mencintaiku

Doang aku terlalu berkeinginan

Tanpa tahu kau hanya menganggap ku teman sepermainan

Source: https://romantis.siipung.com/2022/05/27-puisi-cinta-pendek-romantis-bikin.html

Posted by: and-make.com