Kumpulan Puisi Ringkas Sentimental tentang
Bosor makan dalam Diam

Pada kesempatan kal ini, Admin Senipedia akan membagikan bilang kumpulan puisi cangap dalam sengap , tema ini saya angkat ke artikel ini karena memang bersendikan beberapa hal, pelecok satunya karena memang banyak dicari orang-orang.

Terutama bagi mereka yang semenjana dilanda asmara, suka terhadap seseorang namun ada rintangan dalam mengungkapkan, siapa karena tidak berani, menunggu hari yang tepat, yang dutaksir sudah memiliki imbangan, alias alasan lainnya. Bagi itu, moga Tembang mencintai kerumahtanggaan diam ini boleh membantu ibarat penghibur.

Kenapa bisa meredam emosi ? Karena pelecok satu faedah mendaras atau mengidungkan puisi ialah sebagai alat untuk memformulasikan isi lever, kegundahan, peristiwa yang dipikirkan dan sebagai penyaluran rasa nan suka-suka pada waktu bersamaan, sehingga seseorang bisa menjadi tenang.

Kumpulan syair pendek tentang cinta intern tutup mulut ini saya harap bisa menjadi media alternatif buat kamu, perumpamaan bahan penenang, korban bacaan serta patut lakukan disebarkan kepada oponen-padanan beliau dan perhubungan banyak.

Cuma sebelum lanjur, ada satu situasi yang harus kamu tahu, bahwa syair akan halnya gegares terpendam di bawah ini yakni Hasil Karya Saya seorang, artinya bukan menjiplak ataupun menyalin semenjak website tak, maupun mengutip puisi karya para pujangga, melainkan bersumber isi induk bala saya sendiri.

Oke tidak perlu berlama-lama lagi. Marilah simak kumpulan syair sentimental di bawah ini dengan tema menganakemaskan n domestik diam . Hendaknya suka ya…

Puisi Cerbak dalam Bungkam : Magrib SEBELUM KELAM

Seperti biasa,
Huft, Senja kali ini masih saja sama, tanpa cedera.
Antara Gitar, secangkir Kopi dan seonggok Raga,
Melepas lelah setelah seharian mengangkangi pesona.

Sore ini menjadi saksi indra penglihatan,
akan sekeping lever yang kian pasrah,
Rasa Ketidakpastian yang ditelan baru,
Menjadi tema pembicaraan yang kian membetah.

Mengapa ada sendiri insan nan harus terpidana,
Hanya karena sebuah cahaya muka sonder tertaruh nyana,
Bagaimana engkau boleh tidak lejar ?

Sedang patos kian menjerah ?

Itulah Aku, sebuah suram,
Yang (masih) tetap mencintaimu dengan bungkam,
Namun aku tidak berkapasitas saat malam kian mencengkam,
Entahlah, padahal hanya senyuman yang membuat sengap.

Sejatinya, harapan kian menggersang,
Mengikis hati minus sebagai diiris lamang,
Dan semakin rasa ini khusyuk,
Semakin aku mencintaimu dalam diam.

=====

Puisi Sedih : BUNGKAM Privat Diam

Disana,
ada seguyur Hujan dan Seuntai Anak uang,
yang menengah Berbincang
akan halnya Pahitnya sebuah Mohon diri
Tentang Sunyinya sebuah Tenang..

Disana, suka-suka sebuah kapal kecil di pelabuhan,
Yang tengah bercengkrama,
Tentang rasa yang tidak tersampaikan,
Adapun sangka yang makin melindap.

Disini, ada sendiri insan,
Yang paruh menadahkan tangan,
Cenderung Sang Pengarang,
Akan pamrih yang tergusur.

Disini, ada seorang laki-suami,
Menangisi ketentuan sembari memaki,
Menginyam rasa minus peduli,
Tentang cinta terpendam di dalam hati.

=====

Puisi Cinta internal Diam : KESETIAAN DIATAS KEKALAHAN

Yang tersisa selepasnya hanyalah,
Tempias Rindu yang bukan kenal Buntu,
Bermukim entah sampai pada saat,
Tiada kenal lelah biar potol parah.

Setelah itu, mereka temukan warta bahwa,
Jingga itu tak pernah bertaki,
bila esok akan ki ajek seperti ini jua.

Gelora rindu alangkah bukan luang-menahu,
seberapa lautan batin terbeban,
setajam apa belati menikam.

hingga sreg karenanya,
Tarikan nafas diujung sore,
yang menggugah tentang realita,
yang semestinya adanya.

Dimana lagi aku akan temukan Durja Riang itu, padahal berpaling semenjak kenyataan bukan main jahat berpenyakitan’raibkan kalbu ?

Semata-mata disini, momen ini, ditempat ini,
Kutitipkan sisa-berak Rindu bersama berlalunya Surya,
ke ufuk hari,

bahwasanya kesenantiasaanku akan penantian,
lain kekeluargaan murung meski langka sepanas gurun,
keluasan pikiran tak pernah padam,
walau Jambiah tikam menerkam.

========

Puisi Menganakemaskan dalam Diam : Harapan Nan TERJUAL

Untuk Senja dan Jingga-nya,
ada secuil Alasan,
yang patut diperbincangkan kembali
berusul pahitnya sebuah Rasa Diam.

Sayangnya,
Ditepi kurun yang amat pengkor,
Leherku sesak berat untuk menuju ke jihat depan.

Berpergilah bersama angin yang menepi,
sebab dengannya,
takkan kau kenal pun segala itu sepi.
Karena disini, aku, dikemudian musim,

sungguh sesal tiada arti bagi hasratku nan mem-belati.
.
Datangi Bahagiamu, maka ku jemput cerih asa-ku,
Biarkan kerap ini luput,
bersama sebuah kepergian,
keputus-asaan hasrat,
dan harapan nan terjual.

======

Puisi Mengagumimu dalam Bungkam : SUNGGUH Cinta

Sadarilah Sedari lalu
bikin Sadar intern Kesadaran,
bahwa,
Dia yaitu Kapal Raksasa,
yang Gagah berani,
menaungi Samudera.

Sedang Engkau hanya Bandar buruk,
Pelabuhan Kecil,
yang Dekil tak terawat.

Sayang,
Sungguh Cangap,
Nyatanya Kamu tak tempat,
untuknya Berlabuh.

======

Syair Terseret dalam Diam : Bak Sahaja

Andai Senja mengarifi,
betapa pahitnya sebuah keheningan,
mungkin saja dia tak kepingin melalui sedetikpun saat,
ketika Fajar menyongsong.
.
dan Jikalau Mentari dapat mendengar,
sayup iba dari zakar yang berpulang ke sarang,
mungkin anda ingin bertahan selincam lagi,
sebelum TUHAN-nya membangunkan pun.

Habis, bagaimana dengan seorang laki-laki,
Nan tetap berpegang teguh,
Pada rasa nan sebenarnya lain memberi teduh ?

Bagaimana dengan seonggok harapan,
Dari seseorang yang malah lupa,
Adapun dunia yang begitu lapang ?

Perumpamaan saya Engkau mengarifi,
Umpama saja Engkau pahami,
Rasa ini sejenis itu penting,
Kucintaimu internal Diam sepanjang waktu.

=======

Tembang Memanjakan seseorang dalam Bungkam : DI SEPERTIGA MALAM

Puisi mencintai dalam diam
Puisi Trenyuh : Cinta nan Terpendam

Wulan perlahan menengah,

Seakan mengajak bertadah,
Menghadap Sang Pemberi Anugrah,
Alangkah, Hati ini Resah.

Sementara Aku disini,
Masih berbaur bersama Mimpi,
Tersingahak, terbangun di keheningan dinihari,
Sekonyongkonyong berpikir, kok Kau tak disini ?

Percikan air basuhi muka dan kepala,
Bentangkan Sajadah tenangkan Umur,
Disana, Aku ceritakan semua yang kupunya,
Beliau, senyuman, dan secebir Asa,
Yang bukan berengkau dan lain tau arah.

Kepada Sang Khalik,
Penguasa Bumi dan Langit,
Kudoakan Dirimu disetiap Detik,
Hingga Air Netra jatuh menitik,
Basahi mulut yang bertambah menukik.

Malam semakin Sirep,
Maksud lebih menyingsing,
Entah itu ada atau malah berpaling,
Dan hancurkan hati hingga berkeping-keping.

=======

Puisi Terharu : CINTA Lain PADAM

Untukmu, Aku cinta kau dalam Tutup mulut,
Aku harapkan kau dari ki perspektif kelam,
Aku do’a centung kau di sepertiga lilin lebah,
Berharap semua tak lagi mendung.

Alangkah, aku mencintaimu dalam diam,
Memandangi parasmu yang nan takhlik tentram,
Detik ini hingga ajal menyalam,
Cinta ini takkan pernah padam.

======

Tembang Ketulusan Cinta : BILA KAU Enggak KEBERATAN

Bila engkau bukan keberatan,

Aku hendak kagumi kamu dalam hening,
Selayaknya Lilin ditengah Jenggala,
Yang dipenuhi intaian sepasang alat penglihatan-mata merah.

Andai kamu tak keberatan,
Aku juga hendak rindui kamu dengan tersisa,
seSederhana Ayam yang mengabaikan Jarum,
terbit Butuh Elang,
nan membuat dia menjadi Mangsa,
Sepanjang hari.

======

Puisi Cinta dalam Sengap : MUAK Intern HARAP

Para Pendamba Kikisan Tebak,
masihkah kau bersemuka Senja yang sama?
Ya, Senja Merona bersama Pucuk Hari di Tepi langit.
Penuh Hasrat,
seraya meratapi yang Meninggalkan minus rajuk.

Kau tiupkan seiring Usapan Angin,
Dibawah jingga-Nya kau Jelma-kan kembali,
ingatan mulia itu.
Berharap semua tak terjadi,

hanya yang didepan mata
tak belangkin’sanggep-morong lagi.

Senyumku payah,
usai menyibak tabir cerita,
Bintang di barat mulai minta diri
seraya kau lepas Amarah,
Enyahlah!!
Kendati Hapus muak ini.

======

Puisi Mengagumi kerumahtanggaan Diam : NYATANYA HANYA KHAYALAN

Satu masa,
akan terserah masanya,
Aku menikmati Senja bersamamu,
di latar Rumput Hijau.

Dimana Angin Sore dengan Kenes,
mengelus Kelopak matamu,
sembari tuturkan asa,
yang lama terpasung.

Ia dan aku ditemani sebuah Gitar,
dan Secangkir Coklat Hangat,
yang tercapit,
di Deriji Telunjukmu.

Yah, sontak terperangah dari lamunan,
Barang apa yang terjadi,
Hanya nyeri, dan tidak lebih,
Aku bergegas ke pengharapan hidup.
Nyatanya kau hanya khayalan.

==========

Baca juga : Puisi Sahabat Jadi Pelalah

Nah, itulah tadi beberapa puisi cinta dalam diam , cocok bakal anda yang ketika ini menahan rasa dan tak berani mengungkapkan. Semoga lekas mempunyai mental ya hehehe.

Disini Admin ingatkan lagi, sejumlah tembang tentang mencintai dalam diam diatas bisa dia copy dan sebarluaskan, sahaja saya adv amat bertekad sebuah “Apresiasi”, adalah dengan menghargai penciptanya yaitu Saya sendiri.

Bila engkau berniat mengutip dan menempatkannya puas alat angkut tidak, jangan lupa sertakan sumber aslinya yaitu berusul Website ini (www.pelajarindo.com) ya, ayo proporsional-sama kita silih menghargai sebuah karya.

Baca pun : Puisi Kenangan dengan Mantan Kekasih

Penutup

Demikianlah, kata sandang bisa jadi ini mengenai beberapa Puisi Pelahap dalam Diam , kedepannya saya akan share pula kompilasi
puisi
dengan tema tidak, konstan pantau web ini bagi mendapatkan sajak romantis lainnya.