Percakapan Bahasa Jawa Dan Artinya

Epistemologi
(berasal bahasa
Yunani
ἐπιστήμη epistēmē; artinya “pengetahuan”, dan λόγος, logos, artinya “ilmu”) adalah cagak dari metafisika yang berkaitan dengan hakikat maupun teori pemberitaan. Dalam meres filsafat, epistemologi meliputi pembahasan tentang asal mula, sumber, ruang spektrum, ponten validitas, dan kebenaran berusul permakluman. Epistemologi mempelajari akan halnya hakikat berasal pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas religiositas.[1]
Epistemologi menjadi banyak diperbincangkan dalam berbagai rataan, epistemologi dipusatkan menjadi empat bidang yakni 1) Analisis filsafat yang tercalit hakikat dari laporan dan bagaimana situasi ini punya keterkaitan dengan konsepsi seperti kebenaran, religiositas, dan justifikasi, 2) Berbagai masalah skeptisisme, 3) Sumur-sumber dan ulas lingkup manifesto dan justifikasi atas keagamaan, dan 4) Kriteria bagi maklumat dan justifikasi.[2]

Epistemologi membincangkan pertanyaan-soal seperti, “Apa yang mewujudkan legalitas yang terjustifikasi dapat dijustifikasi?”,[3]
“Apa artinya apabila mengatakan bahwa seseorang memahami sesuatu?”,[4]
dan soal yang mendasar, “Bagaimana kita senggang bahwa kita tahu?”.[2]
[5]

Istilah ‘Epistemologi’ diperkenalkan di bidang filosofis oleh filsuf Skotlandia James Frederick Ferrier pada tahun 1854.[6]
Doang, menurut Brett Warren, Sultan James VI dari Skotlandia sebelumnya telah mempergunakan konsep filosofis ini dan menggunakannya ibarat insanan, dengan istilah
Epistemon, sreg tahun 1591.[7]

Epistemon

[sunting
|
sunting sumber]

Internal suatu perdebatan filosofis, Emir James VI berbunga Skotlandia menggambar karakter
Epistemon
bagaikan personifikasi terbit sebuah konsep filosofis bakal menanggapi suatu debat dengan argumen apakah persepsi-kecabuhan yang dikembangkan oleh agama kuno kecabuhan yang dilakukan oleh para penyihir semestinya dihukum di tengah keberadaan umum Kristen. Argumen King James menampilkan bahwa melalui budi Epistemon, yang menyandarkan argumennya pada ide-ide teologis tersapu penalaran dan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat, sementara itu lawannya
Philomathes
mengambil sikap filosofis sreg aspek hukum di dalam awam, semata-mata berusaha bagi memperoleh informasi yang makin besar berusul Epistemon, istilah Yunani kerjakan
cendekiawan. Pendekatan filosofis ini melambangkan Philomath nan mencari pemberitaan yang lebih samudra melangkahi
epistemologi
dengan menunggangi dogma. Dialog ini digunakan makanya Raja James untuk mendidik mahajana tentang bermacam ragam konsep, termasuk konsep sejarah dan etimologi berpokok subjek nan diperdebatkan.

Epistemologi

[sunting
|
sunting sumber]

Secara etimologis, kata ini berpunca dari bahasa Yunani klasik
epistēmē
yang bermanfaat pemberitaan (knowledge) dan
logos
yang berarti penjelasan maupun ilmu. Jadi epistemologi merupakan “the theory of knowledge[8]
atau teori publikasi. Penggunaan secara istilah, epistemologi adalah cabang filsafat ilmu yang mengkaji dan membahas mengenai hakikat ilmu atau ilmu adapun pengetahuan (pengetahuan ilmiah).[9]
Istilah secara terminologis, pembukaan epistemologi kerumahtanggaan bahasa Inggris: “epistemology” yang merupakan bagian metafisika nan bersambung dengan pengumuman.[10]
Epistemologi dalam kamus Webster New International Dictionary daring,
epistemology
didefinisikan sebagai studi atau teori adapun adat dan dasar proklamasi terutama dengan mengacu plong tenggat dan validitasnya.[11]
Padahal, secara istilah terminologis bahasa Indonesia, kata epistemologi dalam Kamus Ki akbar Bahasa Indonesia (KBBI) daring didefinisikan sebagai silang ilmu filsafat mengenai asal dan batas deklarasi.[12]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa epistemologi merupakan bagian atau cabang filsafat yang memperlajari dan membicarakan mengenai terjadinya embaran, sumber takrif, asal mula pengetahuan, batasan, aturan, metode, dan kesahihan pemberitaan.[13]

Secara lurus, internal ungkapan Prancis “doctrine de la Science” maupun doktrin sains, yang kemunculannya istilah katanya diikuti dalam bahasa Jerman: “Wissenschaftslehre” yang artinya “pengajaran sains”. Sreg waktu Jena (1794-1799), Istilah inilah yang digunakan makanya dedengkot teoretikus yang bernama Johann Fichte dan Bernard Bolzano buat berbagai rupa proyeknya. Fichte menunggangi istilah “Wissenschaftslehre” sebagai suatu tindakan objektif privat memposisikan diri, menargetkan, dan primordial sebagai suatu kondisi dari semua maklumat dan pengalaman. Penggunaan istilah pada praktik subjektif yang secara eksklusif menjadi langkah mulanya berpunca setiap teori sains.[14]
Gagasan Bolzano (1837) membincangkan “Wissenschaftslehre” dengan persamaan gagasan oleh Fichte, yang dalam keadaan itu mengunggulkan sains sebagai sesuatu yang menganjuri dan bertambah unggul dari filsafat. Itu sangat berbeda, bagaimanapun, dalam kejadian itu menyejukkan gagasan tentang pemosisian diri saya yang membantu kecondongan kuantitas ke jihat ‘aritmetisasi’ bidang sains itu sendiri.[15]
Kemudian introduksi “epistemologi ” purwa bisa jadi muncul puas tahun 1847, dalam ulasan di New York’s
Eclectic Magazine. Ini purwa kali digunakan seumpama parafrase berbunga kata
Wissenschaftslehre
seperti nan muncul intern novel filosofis oleh penulis Jerman Jean Paul.

James Frederick Ferrier merupakan koteng filsuf Skotlandia. Ferrier membahas epistemologi pertama kali dalam distribusi filosofis Anglophone di Skotlandia lega masa 1854,[6]
penerapan dilakukan bak studi dalam
Institutes of Metaphysics
yakni penerapan
epistemologi
perumpamaan model ‘ontologi’, beliau menargetkan bahwa epistemologi merupakan cabang filsafat yang bertujuan bikin menemukan makna dari mualamat, dan menyebutnya ‘sediakala yang sesungguhnya’ dari metafisika.

Takrif

[sunting
|
sunting sumber]

N domestik matematika, diketahui
bahwa
2 + 2 = 4, sahaja ada pula mandu untuk mengetahui
bagaimana
menambahkan dua angka, dan mengerti
orang
(misalnya, diri sendiri),
tempat
(misalnya, satu kampung),
benda
(misalnya mobil), alias
aktivitas
(misalnya, penambahan). Beberapa filsuf berpikir ada perbedaan penting antara “tahu bahwa” (tahu konsep), “mengetahui bagaimana” (memahami aksi), dan “keeratan-dengan-pengetahuan” (adv pernah dengan relasi), dengan epistemologi nan terutama berkaitan dengan yang purwa ini.[16]

Walaupun perbedaan ini tidak eksplisit dalam bahasa inggris, perbedaan-perbedaan ini didefinisikan secara eksplisit n domestik bahasa tak (Catatan: beberapa bahasa yang berhubungan dengan bahasa Inggris berbuntut mempertahankan kata ini, misalnya intern bahasa Skotlandia: “wit” dan “ken”). Di Prancis, Portugis, Spanyol, Jerman, dan Belanda, istilah
buat tahu (orang)
masing-masing diterjemahkan dengan menunggangi
connaître,
conhecer,
conocer
dan
kennen, sedangkan
untuk mengetahui (cara melakukan sesuatu)
diterjemahkan dengan menunggangi
savoir,
saber, dan
weten. Yunani Modern memiliki alas kata kerja
γνωρίζω
(gnorízo) dan
ξέρω
(kséro). Italia punya kata kerja
conoscere
dan
sapere
dan kata benda cak bagi
pengetahuan
yang
conoscenza
dan
sapienza.
Jerman memiliki pembukaan kerja
wissen
dan
kennen.
Wissen
menyiratkan mengetahui sebuah fakta,
kennen
menyiratkan mengetahui privat arti mengenal dan memiliki publikasi kerja; cak semau juga substantif yang berasal dari
kennen,
merupakan
Erkennen,
nan telah dikatakan menyiratkan deklarasi dalam rencana persaksian alias syahadat. Kata itu sendiri signifikan proses: anda harus meninggalkan pecah satu negara ke negara bukan, pecah satu kejadian yang “tidak-erkennen” untuk sebuah negara yang benar
erkennen.
Verba ini tampaknya menjadi yang paling tepat dalam hal menggambarkan “episteme” dalam keseleo satu dari bahasa-bahasa Eropa modern, maka dalam istilah Jerman keadaan ini disebut sebagai “Erkenntnistheorie”. Teori interpretasi dan makna linguistik ini tegar kontroversial sebatas saat ini.

Dalam makalahnya
On Denoting
dan kemudian buku
Problems of Philosophy
Bertrand Russell menekankan perbedaan antara “pengetahuan dengan keterangan” dan “pengetahuan oleh kekariban”. Gilbert Ryle juga dikreditkan dengan menekankan perbedaan antara mencerna bagaimana dan mengerti bahwa intern
The Concept of Mind.

N domestik
Personal Knowledge,
Michael Polanyi berpendapat mengenai relevansi epistemologis pengetahuan dan bagaimana keterangan itu; dengan menunggangi kamil mulai sejak keseimbangan yang terkebat dalam menunggang sepeda, ia menunjukkan bahwa pengetahuan teoretis semenjak fisika yang terlibat dalam menjaga keadaan keseimbangan lain bisa menjadi penukar kerjakan siaran praktis tentang bagaimana berkendara, dan bahwasanya adalah terdepan untuk memahami bagaimana kedua hal ini terjadi dan bekerja. Abstrak ini pada dasarnya sepikiran dengan pendapat Ryle, yang menyatakan bahwa frustasi untuk mengamini perbedaan antara ilmu dan kabar mengarah pada suatu regresi tak terhingga.

Sejarah

[sunting
|
sunting sumber]

Epistemologi merupakan suatu simpang terdepan filsafat yang khusus mengkaji tentang teori hobatan pengetahuan.[17]
Dari segi ki kenangan, pembahasan filsafat merupakan induk utama ilmu pengetahuan. Atas dasar kiat filsafat inilah lahir cagak aji-aji lain, seperti matematika, ilmu mantik atau akal sehat, kedokteran, dan lain-lain. Epistemologi asal kata dari “epistēmē” kerumahtanggaan bahasa Yunani yang bermakna pengetahuan. Aliran ini secara garis lautan dibagi menjadi dua aliran pokok yaitu idealisme dan realism. Pertama, idealisme atau dikenal sebagai rasionalism adalah sirkulasi yang merujuk sreg peranan berusul akal, ide, kategori, dan gambar laksana sumur ilmu permakluman. Kedua, realisme atau dikenal empirism yakni aliran yang merujuk peranan indera baik itu penglihat, pendengar, peraba, pencium, dan indra perasa sebagai sumber sekaligus alat mendapatkan mantra pengetahuan. Para tokoh pemikiran aliran-aliran ini, cak semau kalanya saling mempertahankan keyakinan pemikirnya dan kadang suntuk tunggal dalam mengungkap kebenaran.[18]

Awal mula

[sunting
|
sunting sendang]

Sokrates

[sunting
|
sunting mata air]

Abad Yunani kuno didominasi maka itu tiga pencetus pemikiran yakni Sokrates, Plato dan Aristoteles memperalat metode maieutika dialektis kritis induktif. Metode Socrates atau disebut pula metode dialektika (maieutika tekhne) maupun metode kebidanan[19]
berasal dari Socrates (470-399 SM) yang adalah seorang ahli pikir Yunani pada abad ke-5 SM dan kemudian ditampilkan n domestik dialog nan ditulis oleh muridnya Plato.[20]
Socrates mencapai ketenaran karena melibatkan insan bukan n domestik percakapan yang tujuannya adalah untuk mendefinisikan ide-ide secara luas (universal) sebagai halnya dedikasi, keindahan, keadilan, kewiraan, dan pertemanan dengan mempertanyakan ambiguitas dan kekalutan.[21]
Suatu hal boleh diberi konotasi dengan melakukan pengamatan terhadap tingkah laku yang berkaitan.[22]

Kaprikornus, ia membentangkan pengumuman yang berwatak awam misal pengetahuan yang bermoral, dan pengetahuan nan spesial sebagai pemberitahuan yang kebenarannya relatif.

Dataran tinggi

[sunting
|
sunting sumber]

Kedatangan Plato (428-347 SM) mengumumkan metode Sokrates tersebut sehingga menjadi teori ide, adalah teori
Dinge an sich
versi Plato. Plato mengemukan bahwa laporan suci yang dikenal dengan sebutan
episteme
merupakan pengetahuan itu tunggal, tetap, tidak berubah-saling.[23]
Ia mengkaji epistemologi dengan berupaya mencerna apa yang harus diketahui, dan bagaimana pengetahuan (tidak sama dengan namun opini yang bersusila) itu baik bagi yang memaklumi.[24]
Maka, menurut Aristoteles warta itu adalah hasil dari satu pengamatan, banyak dan berubah-ubah.[25]

Aristoteles

[sunting
|
sunting sumur]

Semacam itu berikutnya datang Aristoteles (382-322 SM), ia mengembangkan dari Dataran tinggi menjadi teori tentang ilmu. Menurut Aristoteles pengetahuan adalah hasil pecah satu kegiatan pengamatan manusia yang dilakukan dengan mengkritik laporan dan mengeluarkan unsur universal dari khusus. Hal ini menjadi abstraksi di mana turunan menjauhi bidang inderawi dan melewati taraf dugaan sampai akhirnya memperoleh sebuah episteme sebenarnya alias sejatinya.[26]
Kemudian barulah logika epistemologi boleh dikatakan terwujud berkat karyanya yang di tutur
To Organom, memuat teori metode silogisme deduktif. Lima pemaparan sensibel Aristoteles dalam manual disebut
Organom
mencakup Kategori, Tentang Interpretasi, Amatan Sebelumnya, Analisis Posterior (Kajian Bayes), Topik, dan Mengenai Sanggahan Canggih.[27]
Kemudian muncullah dekadensi logika. Perkembangan logika selalu beriringan dengan perkembangan mantra keterangan yang telah membentuk kegiatan berpikir mania nan harus diperhatikan puas setiap langkahnya.

Perspektif modern

[sunting
|
sunting sumber]

Epistemologi Barat

[sunting
|
sunting sumur]

René Descartes, yang dianggap sebagai pembangun filsafat Barat beradab,[28]
menelanjangi pandangannya bahwa organisme ialah mesin yang dibangun di atas bagian-bagian farik yang masih mempunyai kerangka teoretis nan dominan. Tunggul segenap fisik, termasuk organisme arwah, adalah mesin untuk Descartes, dan pada prinsipnya bisa dipahami sepenuhnya dengan menganalisis bagian-bagian terkecilnya.Pandangan mekanistik tercalit dengan ekonomi kontemporer dicirikan maka itu metode fragmentasi dan reduksionis, yang merupakan simbol berpunca sebagian besar ilmu sosial. Sistem arwah terdiri dari manusia dan mata air rahasia alamnya yang terus berinteraksi satu setinggi lain, nan sebagian osean ialah organisme roh. Pandangan mayapada mekanis yang terfragmentasi menyangkal sistem kehidupan yang lengkap dan menekankan pentingnya gaya hidup nan seimbang dengan lingkungan ekologi dan sosial.[29]

Epistemologi Timur

[sunting
|
sunting sumber]

Rukyat aji-aji siaran di dunia Timur bertambah memperhatikan kemesraan ekologi dan sosial, kemesraan dan kesatuan antara manusia dengan lingkungan luar. Insan sebagai anak adam jiwa adalah insan sebagai salah satu bagian kecil bumi (mikrokosmos) yang berada di dunia semesta yang sngat luas (makrokosmos).[30]
Rukyat dunia Timur meluluk manjapada pecah perspektif hubungan dan integrasi. Organisme adalah sistem nan menata diri sendiri, yang berarti bahwa struktur dan tatanan fungsionalnya tidak ditentukan oleh lingkungan, tetapi ditentukan maka itu sistem itu sendiri. Misalnya, sistem menetapkan tren skalanya berdasarkan prinsip pemeriksaan internal yang tidak terpengaruh oleh lingkungan. Rukyat sistem jiwa sebagai jaringan membawa perspektif baru yang disebut hierarki alami.[29]

Perkembangan dan kemajuan mantra pemberitaan yang telah dicapai telah melahirkan bilang disiplin guna-guna tidak telah muncul bermula filosofi induk, yang terdiri berpangkal tiga komponen penting, yaitu Ontologi (Teori hakikat), Epistemologi (Teori Ilmiah) dan Aksiologi (Teori nilai).[31]

Rotasi epistemologi

[sunting
|
sunting perigi]

Rasionalisme

[sunting
|
sunting sumber]

Rasionalisme ialah aliran yang mementingkan akal bulus perasaan sebagai sumur maklumat.[32]
Rasionalisme adalah sirkuit filsafat guna-guna yang menyatakan bahwa kebenaran dapat diperoleh hanya melangkaui hasil pembuktian, akal sehat dan analisis terhadap fakta.[33]
Segala apa mata air pengetahuan intern rasionalisme dari dari cara berpikir atau harus berwatak logis.[32]
Pengembangan pola nanang mantiki dalam pembelajaran didapat melalui proses pembelajaran dengan metode pembelajaran yang menggunakan tahapan ilmiah yaitu mencamkan, mengumpulkan data, menentukan asumsi, menganalisis data, meruntun kesimpulan, mengkomunikasikan situasi yang telah didapatkan.

Penggerak pemikir perputaran ini merupakan Rene Descartes (1596-1650), seorang tokoh filsuf filsafat beradab. N domestik ungkapnya nan terkenal ialah
Cogito Ergo Sum
“Saya berpikir, maka saya ada”. Kejadian ini mendapatkan kritikan dari beberapa penggagas pemikir dan dianggap eksponen (berulang-ulang).[34]
Kemudian beliau kobar pemikiran di filsafat Barat dengan mengataan bahwa kebenaran itu adalah tindakan akal geladak. Karena dengan rasio, seseorang dapat menjejak legalitas, nan berarti tidak dapat mempercayai peristiwa-peristiwa diluar rasion hamba allah. Buat mencapai kebenaran, maka diperlukan tiga ide buah tangan (innate ideas) meliputi Ide pemikiran, Ide Allah sebagai wujud paradigma, dan Ide keluasan.[28]
3 kategori ide bawaan tersebutlah yang menjadi aksioma pengetahuan dalam makulat rasionalisme yang kebenaran sudah lalu tidak diragukan pun.[35]

Empirisme

[sunting
|
sunting sumur]

Empirisme adalah perputaran yang berpendirian bahwa publikasi manusia diperoleh melalui sebuah asam garam[36]
atau pengamatan indra. Hidung diperoleh dari bendera empiris dan terkonsentrasi dalam diri manusia menjadi satu pengalaman. Tentang dedengkot persebaran empiris antara tidak:

John Locke (1632-1704) menjadikan dasar sirkuit empirisme bagaikan satu proses berpikir.[37]
Pada tahun 1669, dalam bukunya berjudul
Essay Concerming Human Understanding
dengan premis utama, dinyatakan bahwa semua pengetahuan diperoleh melalui asam garam. Pemikiran Locke berlawanan dengan ide oleh-oleh (innate ideas) misal perigi proklamasi yang dikemukakan Descrates sehingga ia menolak adanya ide bawaan tersebut.[38]
Pengalaman menurut penglihatan Locke dibagi menjadi dua, antara lain: pengalaman bersumber luar berwujud sensasi (sensation) dan pengalaman dalam berupa batin maupun refleksi (reflexion). Melalui proses asosiasi dari kedua pengalaman itu akan membentuk ide yang bertambah kompleks.

David Hume (1711-1776), seorang tokoh teoretikus bawah Inggris[39]
yang meneruskan tradisi empirisme. Hume berpendapat bahwa ide nan primitif adalah salinan (copy) dari kegaduhan-sensasi sederhana atau ide-ide terlambat alias kesan-kesan yang kompleks. Pemikiran empiris yang dikemukakannya berperangai ekstrem. Anda mengartikan substansi laporan sebagai tautologi dari pengalaman sehingga keseluruhan pengetahuan yaitu total pengalaman. Rukyat David Hume cenderung skeptisisme karena engkau hanya menerima hasil pengetahuan oleh alat pencium secara luas. Ia mengangggap pengalaman sebagai sebuah khayalan dan anggapan amung.[40]
Aliran ini kemudian berkembang dan mempunyai dominasi yang sangat segara terhadap perkembangan ilmu publikasi terutama puas abad ke-19 dan abad ke-20.

Positivisme

[sunting
|
sunting mata air]

Pemrakarsa aliran ini di antaranya August Comte, yang n kepunyaan pandangan memori perkembangan pemikiran umat cucu adam dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap, yaitu: 1) Tahap Teologis, adalah manusia masih berkeyakinan mualamat alias perkenalan awal yang mutlak. Cucu adam plong tahap ini masih dikuasai oleh takhayul-takhayul sehingga subjek dengan objek enggak dibedakan. 2) Tahap Metafisis, yakni pemikiran orang berusaha memaklumi dan memikirkan pemberitahuan, saja belum mampu membuktikan dengan fakta. 3) Tahap Positif, yang ditandai dengan pemikiran anak adam untuk menemukan hukum-syariat dan saling ikatan lewat fakta. Oleh karena itu, pada tahap ini pengetahuan manusia dapat berkembang dan dibuktikan lalu fakta. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang n domestik memahami marcapada dengan berlandaskan sains. Kawin tingkatan ini dapat terus dikembangkan sehingga saban sains yang baru akan terampai pada tahap sebelumnya. Penganut paham positivisme memercayai bahwa hanya ada terbatas perbedaan (takdirnya terserah) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena mahajana dan kehidupan sosial bepergian berlandaskan sifat-sifat, demikian juga alam.[41]

Skeptisisme

[sunting
|
sunting sendang]

Skeptisisme ialah alirah yang menekankan dogma sebagai pengetahuan tidak hal nan pasti, sebuah metode penilaian nan ditangguhkan, keraguan yang terstruktur, atau karakteristik dari kritik skeptis.[42]
Sedangkan privat filsafat, skeptisisme dapat merujuk plong metode investigasi yang menekankan pemeriksaan paham, kehati-hatian, dan akurasi ilmuwan. Skeptisisme dimulai dengan klaim bahwa seseorang tak memafhumi proposisi yang biasanya ia pikir mutakadim ketahui.[43]
Menyatakan bahwa indra merupakan berwatak merakut atau menyesatkan. Namun, pada zaman bertamadun berkembang menjadi skeptisisme medotis (sistematis) yang mensyaratkan adanya bukti sebelum suatu pengalaman diakui bermartabat. Tokoh skeptisisme adalah Rene Descartes (1596-1650).

Pragmatisme

[sunting
|
sunting sumber]

Pragmatisme adalah persebaran yang menegaskan bahwa pemikiran khalayak menurut pada suatu tindakan.[44]
Dengan kata bukan kebenaran pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat dan sebagai ki alat kerjakan suatu kelakuan. Kebenaran butir-butir harusnya dilakukan dengan suatu ulah terencana. Sering kali, Makhluk nan mempunyai aturan pragmatis, suatu perbuatan nan nan dilakukan akan diharapkan langsung tercapai tanpa berpikir dengan sonder proses hari tertentu, sehingga hasil berpokok kebenarannya kadang salah ataupun meleset.[45]
Adapun tokoh pemikir yang memperkenal pragmatisme antara tidak:

Charles Sanders Peirce (1839-1914), dikenal sebagai “penemu” alias biang keladi revolusi pragmatisme terbit berpangkal Amerika.[46]
Peirce kembali merupakan koteng juru akal sehat yang mengenalkan kembali semiologi sebagai bagian terbit linguistik.[47]
Pierce menyatakan bahwa yang terpenting inti bersumber pragmatisme adalah pernyataan apapun memilik manfaat (makna ), pernyataan itu harus punya galang praktis, terencana.[48]
Kesahihan embaran yang digambarkan suatu hal yang peroleh mengenai akibat nan dapat saksikan dan diamati.

John Dewey (1859-1952), dikenal sebagai pemrakarsa yang berpengaruh besar dalam pemikiran pragmatisme berbudaya.[49]
Pemikiran pragmatisme yang dikembangkan oleh Dewey dikenal pun sebagai eksperientalisme. Penamaan ini berasal mulai sejak pemikirannya nan menyatakan bahwa pertumbuhan cucu adam merupakan tujuan dari pendidikan. Ia menyebutnya sebagai pertumbuhan karena menganggap segala sesuatu di dunia ini punya rasam selalu berubah.[50]
Pemikiran pragmatisme John Dewey menjadi salah satu pemikiran yang mempengaruhi dimulainya pendidikan massal.[51]

Willian James (1824-1910), dikenal andai bapak aliran pragmatisme. James membentangkan bahwa pragmatisme merupakan suatu upaya privat mempersatukan antara ilmu pengetahuan dengan makulat sehingga makin ilmiah dan berguna lakukan usia praktis. Kemudian, kamu mengembangkan dan menerapkan ke kehidupan yang kegunaannya menopang kehidupan. Kesahihan puas metode yang diterap menggunakan barometer validitas yang mengimak mandu keseharian manusia.[52]
Penekanan pragmatisme berkaitan perhatiannya terhadap agama menjadi kontribusi terbesar bakal James adalah perhatiannya puas agama. James mengemukakan bahwa suatu kebenaran dievaluasi didasarkan tindakan atau perilaku manusia sehingga seseorang memiliki keniscayaan agama dan dibenarkan apabila pembedannya berwujud privat nasib orang tidak.[53]

Kemanfaatan epistemologi

[sunting
|
sunting sumber]

Manfaat mempelajari epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradapan. Kejadian ini disebabkan dengan epistemologi membantu dalam membangun masyarakat baik modern maupun tradisonal tanpa mengesampingkan peranan kunci dari epistemologi agar mencegah terjadi kemacetan tamadun, kreasi baru, dan temuan orisinal.[54]
Tiga alasan nan menjadi pertimbangan privat mempelajari epistemologi membentangi strategis, kebudayaan, dan pendidikan. Pertama, pertimbangan strategis terhadap epistemologi ialah seyogiannya dapat mengerti pentingnya guna-guna pengetahuan lakukan manusia baik berpunca segi manfaat dan perolehan aji-aji. Kedua, pertimbangan tamadun terhadap epistemologi adalah seyogiannya dapat memafhumi dan mengungkapkan makna yang terkandung pada ekspresi budaya, baik itu makna budaya yang riil gubahan, verbal ataupun simbol. Ketiga, pertimbangan pendidikan terhadap epistemologi berkepribadian usaha pulang ingatan lega pandangan secara trik, di mana pendidikan dicirikan dengan proses start dari penetapan visi misi, kurikulum, capaian tuntunan yang kepingin raih, penentuan alat penglihatan pelajaran yang akan dikaji, hingga evaluasi hasil penataran. Berusul proses inilah akan menuntun, mempertajam, dan kontributif dalam mengerti aji-aji wara-wara secara terstuktur.[55]

Pendekatan ilmiah

[sunting
|
sunting sumber]

Secara operasional dan eksplisit, konsep epistemologi dikaji dalam penerapan metode ilmiah. Metode ilmiah secara metodologis mencakup tindak pikiran, lengkap, teknis, dan tahapan sebagai dasar pengembangan maklumat nan mutakadim suka-suka sebelumnya alias akuisisi pengetahuan yang baru.[56]
Adapun prosedur bakal perolehan dan pengembangan tersebut, metode ilmiah, yaitu: a) Penyusunan hasil pengetahuan mencakup kerangka pikiran logis dengan argumen konsisten, b) Deduksi berasal bentuk pemikiran diuraikan berpijak postulat, c) Pernyataan berpokok presumsi diverifikasi, dulu diuji kebenarannya secara faktual.[57]

Pustaka

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^


    Priatna, Tedi (2020).
    Filsafat Hobatan Bikin Pendidikan
    (PDF). Bandung, Jawa Barat: Trussmedia Grafika. hlm. 16. ISBN 978-602-6266-00-2.




  2. ^


    a




    b




    Abdurrahman, Misno (2020).
    Falsafah Ekonomi Syariah. Yogyakarta: Bidang Referensi Madani. hlm. 42. ISBN 978-623-6786-26-0.





  3. ^


    Steup, Matthias (8 September 2017). Zalta, Edward N., ed.
    The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University.





  4. ^


    Carl J. Wenning. “Scientific epistemology: How scientists know what they know”
    (PDF).





  5. ^


    “The Epistemology of Ethics”. 1 September 2011.



  6. ^


    a




    b




    “James Frederick Ferrier: Scottish philosopher”.
    britannica.com. Encyclopædia Britannica Daring. Diakses tanggal
    2021-12-30
    .





  7. ^


    King James; Warren, Brett.
    The Annotated Daemonologie. A Critical Edition. In Modern English. 2016. hlm. x-xi. ISBN 1-5329-6891-4.





  8. ^


    Rohman, Arif; Rukiyati; Purwastuti, Andriani (2014).
    Epistemologi dan Logika: Filsafat bakal Pengembangan Pendidikan
    (PDF). Sleman, Yogakarta: Aswaja Pressindo. hlm. 13. ISBN 978-602-18653-6-1.





  9. ^


    Suaedi (2019).
    Pengantar Filsafat Ilmu
    (PDF). Bogor: IPB Press. hlm. 46. ISBN 978-979-493-888-1.





  10. ^


    “epistemology”.
    oxfordlearnersdictionaries.com
    (dalam bahasa Inggris). Oxford English Dictionary Daring. Diakses copot
    2021-12-29
    .





  11. ^


    “epistemology”.
    merriam-webster.com. Webster New International Dictionary Daring. Diakses tanggal
    2021-12-29
    .





  12. ^


    “epistemologi”.
    kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diakses tanggal
    2021-12-29
    .





  13. ^


    Muliadi (2020). Busro, ed.
    Filsafat Umum
    (PDF). Bandung: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Argo Djati Bandung. hlm. 17. ISBN 978-623-7166-42-9.





  14. ^


    James, David; Zoller, Gunter (2016). “Fichte’s Later Presentations of the Wissenschaftslehre”.
    The Cambridge Companion
    (kerumahtanggaan bahasa Inggris).
    10
    (5): 139—167. doi:10.1017/9781139027557.007. 63610360.





  15. ^


    Hailperin, Theodore (1996).
    Sentential Probability Logic: Origins, Development, Current Gengsi, and Technical Applications. Betlehem: Lehigh University Press. hlm. 84–85. ISBN 9780934223454.





  16. ^

    John Bengson (Editor), Marc A. Moffett (Editor): Essays on Knowledge, Mind, and Action. New York: Oxford University Press. 2011

  17. ^


    Hanurawan, Fattah (2016). “Metafisika ILMU Kerumahtanggaan BIDANG PENDIDIKAN”.
    fppsi.um.ac.id. FPPSI-UM. Diakses tanggal
    2021-12-30
    .





  18. ^


    Al-Jauharie, Imam Khanafie (2020).
    Tema-Tema Pokok Makulat Islam
    (edisi ke-2). Pekalongan, Jawa Tengah: Broadview Press. hlm. 100. ISBN 978-602-60961-1-1.





  19. ^


    Ibrahim, Duski (2017).
    FIlsafat Ilmu: Berpokok Penumpang Asing untuk Para Pengunjung
    (PDF). Palembang: NoerFikri. hlm. 51. ISBN 978-602-6318-97-8.





  20. ^


    Waris (2014). Rofiq, Ahmad Choirul, ed.
    Pengantar Filsafat
    (PDF). Ponorogo: STAIN Po Press. hlm. 10.





  21. ^


    Ann S. Maigue, Mary Grace (2020). “The Socratic Method As An Approach In Teaching Social Studies: A Literature Review”
    (PDF).
    Global Scientific Journals.
    8
    (12): 770–775. ISSN 2320-9186.





  22. ^


    Nawawi, Nurnaningsih (2017). Sabri, Muhammad, ed.
    Otak Ahli pikir dan Era Keemasan Filsafat Edisi Revisi
    (PDF). Makassar: Pusaka Almaida. hlm. 5. ISBN 978-602-6253-53-8.





  23. ^


    Sudiantara, Yosephus (2020).
    Filsafat Ilmu: Fragmen Mula-mula, Inti Metafisika Ilmu Pengetahuan
    (PDF). Semarang: Perkumpulan Katolik Soegijapranata. hlm. 25. ISBN 978-623-7635-46-8.





  24. ^


    “Epistemology”.
    plato.stanford.edu. Stanford Encyclopedia of Philosophy. 2005. Diakses tanggal
    2021-12-30
    .





  25. ^


    Al-Jauharie, Pendeta Khanafie (2020).
    Tema-Tema Pokok Filsafat Islam
    (edisi ke-2). Pekalongan, Jawa Perdua: Broadview Press. hlm. 101. ISBN 978-602-60961-1-1.





  26. ^


    Sudiantara, Yosephus (2020).
    Filsafat Guna-guna: Bagian Purwa, Inti Filsafat Aji-aji Proklamasi
    (PDF). Semarang: Perhimpunan Katolik Soegijapranata. hlm. 26. ISBN 978-623-7635-46-8.





  27. ^


    “Aristotle: Logic”.
    iep.utm.edu
    . Diakses tanggal
    2021-12-30
    .




  28. ^


    a




    b




    Fikri, Mursyid (2018). “Rasionalisme Descartes dan Implikasinya Terhadap Pemikiran Renovasi Islam Muhammad Abduh”
    (PDF).
    Kronik Tarbawi.
    3
    (2): 128–144. doi:10.26618/jtw.v3i02.1598. ISSN 2527-4082.




  29. ^


    a




    b




    Trisnaningsih, Sri (2011). “Epistemologi Modern Dalam Tradisi Barat Dan Timur”
    (PDF).
    UPN JATIM: 1–5. ISSN 0853-9553.





  30. ^


    Amirullah (2015). “Krisis Ekologi: Problematika Sains Modern”
    (PDF).
    Lentera: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi.
    18
    (1): 1–21. doi:10.21093/lj.v17i1.425.





  31. ^

    Kesalahan pengutipan: Tag
    <ref>
    tidak sahih; tidak ditemukan teks untuk ref bernama
    :1
  32. ^


    a




    b




    Wahana, Paulus (2016).
    FIlsafat Ilmu Pengetahuan
    (PDF). Yogyakarta: Bacaan Diamond. hlm. 31. ISBN 978-979-1953-917.





  33. ^


    Kristiawan, Muhammad (2016).
    Makulat Pendidikan: The Choice Is Yours. Sleman: Penerbit Valia Pustaka Jogjakarta. hlm. 241. ISBN 978-602-71540-8-7.





  34. ^


    Burhanuddin, Nunu (2019).
    Filsafat Ilmu. Jakarta Timur: Kencana. hlm. 42. ISBN 978-602-422-298-7.





  35. ^


    Atabik, Ahmad (2014). “TEORI KEBENARAN PERSPEKTIF FILSAFAT Ilmu: Sebuah Susuk Untuk Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama”
    (PDF).
    Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Penajaman Keagamaan. Kudus, Jawa Tengah: Perserikatan Agama Islam Kewedanan Kudus.
    2
    (1): 253–271. doi:10.21043/fikrah.v2i2.565. ISSN 2476-9649.





  36. ^


    Wardhana, Made (2016).
    Makulat Kedokteran
    (PDF). Vaikuntha International Publication. hlm. 23. ISBN 978-602-73078-5-8.





  37. ^


    Wardhana, Made (2016).
    Filsafat Medis
    (PDF). Vaikuntha International Publication. hlm. 48. ISBN 978-602-73078-5-8.





  38. ^


    Sesady, Muliati (2019). Wahid, Abdul, ed.
    Pengantar Filsafat
    (PDF). Bantul: TrustMedia Publishing. hlm. 122. Diarsipkan dari versi jati
    (PDF)
    sungkap 2021-12-24. Diakses tanggal
    2021-12-30
    .





  39. ^


    Wasitaatmadja, F. F., Hamdayama, J., dan Herdiwanto, H. (2018).
    Spiritualisme Pancasila
    (PDF). Jakarta Timur: Prenadamedia Group. hlm. 106. ISBN 978-602-422-267-3.





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]



  40. ^


    Widodo, Sembodo Ardi (2015).
    Pendidikan kerumahtanggaan Perspektif Distribusi-Peredaran Makulat
    (PDF). Bantul: Idea Press. hlm. 96. ISBN 978-602-0850-25-2.





  41. ^


    Nugroho, Irham (2016). “Positivisme Auguste Comte: Analisa Epistemologis Dan Kredit Etisnya Terhadap Sains”
    (PDF).
    Cakrawala. Magelang, Jawa Perdua: Universitas Muhammadiyah Magelang.
    xi
    (2): 173. doi:10.31603/cakrawala.v11i2.192.





  42. ^


    “Definition of SKEPTICISM”.
    www.merriam-webster.com
    (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2021-12-12
    .





  43. ^


    “Skepticism”.
    plato.stanford.edu. 2001. Diakses terlepas
    2021-12-17
    .





  44. ^


    Wilardjo, Setia Budhi (2009). “Arus-aliran dalam Filsafat Ilmu Berkait dengan Ekonomi”.
    Value Added: Majalah Ekonomi dan Niaga.
    6
    (1): 1–21.





  45. ^


    “Pragmatisme Mahasiswa”.
    bunghatta.ac.id. Institut Bung Hatta. 2008. Diakses tanggal
    2021-12-30
    .





  46. ^


    Hamidah (2017). Rosyidi, Abdul Wahab, ed.
    Filsafat Pembelajaran Bahasa: Perspektif Strukturalisme dan Pragmatisme
    (PDF). Bantul: Naila Bacaan. hlm. vii. ISBN 978-602-1290-43-9.





  47. ^


    Asriningsari, A., dan Umaya, Falak. M. (2010).
    Semiotika: Teori dan Permohonan pada Karya Sastra
    (PDF). Semarang: UPGRIS Press. hlm. 27. ISBN 978-602-804-712-8.





  48. ^


    Atkin, Albert. “Charles Sanders Peirce: Pragmatism”.
    iep.utm.edu
    (dalam bahasa Inggris). Internet Encyclopedia of Philosophy Daring. Diakses tanggal
    2021-12-30
    .





  49. ^


    Widodo, Sembodo Ardi (2015).
    Pendidikan dalam Perspektif Aliran-Rotasi Filsafat
    (PDF). Bantul: Idea Press. hlm. 1. ISBN 978-602-0850-25-2.





  50. ^


    Kristiawan, Muhammad (2016). Hendri, L., dan Juharmen, ed.
    Makulat Pendidikan: The Choice Is Yours
    (PDF). Yogyakarta: Penerbit Valia Bacaan Jogjakarta. hlm. 100. ISBN 978-602-71540-8-7.





  51. ^


    Fauziah, P., dkk. (2019).
    Homeschooling: Kajian Teoritis dan Praktis. Yogyakarta: UNY Press. hlm. 29. ISBN 978-602-498-048-1.





  52. ^


    Hasbullah (2020). “Pemikiran Kritis John Dewey Tentang Pendidikan”.
    Jurist-Diction.
    10
    (1): 1–21. doi:10.18592/jt%20ipai.v10i1.3770.





  53. ^


    “Pragmatism (William James)”.
    encyclopedia.com
    . Diakses tanggal
    2021-12-30
    .





  54. ^


    Qomar, Muljamil (2005).
    Epistemologi pendidikan Islam berpokok metode rasional hingga metode kritik. Ciracas, Jakarta: Erlangga. hlm. 34. ISBN 9789797810740.





  55. ^


    Waston (2019).
    Makulat Ilmu dan Ilmu mantik. Surakarta, Jawa Tengah: Muhammadiyah University Press. hlm. 27. ISBN 978-602-361-236-9.





  56. ^


    Saifullah (2013). “REFLEKSI EPISTIMOLOGI Privat METODOLOGI Investigasi (Suatu Kontemplasi atas Jalan hidup Pengkhususan)”
    (PDF).
    De Jure: Jurnal Hukum dan Syar’iah. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.
    5
    (2): 179–180. doi:10.18860/j-fsh.v5i2.3009.





  57. ^


    Habibah, Sulhatul (2017). “Implikasi Metafisika Ilmu terhadap Perkembangan Ilmu Pemberitahuan dan Teknologi”
    (PDF).
    DAR EL-ILMI : Jurnal Penggalian Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora. Jawa Timur: Universitas Islam Darul Ulum Lamongan.
    4
    (1): 173–174. ISSN 2550-0953.






Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi

Posted by: and-make.com