Orang Jenius Yang Dianggap Bodoh


Di
Avengers: Infinity War
(2018) ada momen ketika kepanikan melanda kota New York. Sejauh bilang detik, kameranya
shaky,
bergerak tanpa patah mengajuk Tony Stark (Robert Downey Jr.) dari belakang.
Black Panther: Wakanda Forever
dibuka dengan situasi serupa, tapi yang diikuti kameranya adalah Shuri (Letitia Wright). Jika kegelisahan warga New York dipicu invasi alien, maka Shuri dan warga Wakanda tak dihantui sesuatu yang makin menusuk dan emosional. Ratu Lengkung langit’Challa (Chadwick Boseman) telah tiada.


Menonton kemudian membahas
Wakanda Forever
tidak-tidak terlepas semenjak tragedi marcapada aktual. Fiksi dan realita berlawan. Kita kehilangan salah suatu aktor terbaik, Wakanda kekeringan atasan sekaligus pelindung mereka. Sekuen pembuka tadi langsung menusuk perasaan momen kamera menyorot wajah Wright. Apakah kita semenjana melihat Shuri yang menyalahkan diri karena sebagai “si jenius” gagal mengebumikan sang kakak, atau Letitia Wright yang menangisi kepergian rekannya?


Suatu yang pasti, Ryan Coogler tidak sumber akar memanfaatkan tragedi. Bukan aji mumpung, bukan pemakaian. Sebagaimana momen kesunyian mengiringi nama Marvel Studios yang menampilkan tampang Chadwick Boseman,
Black Panther:Wakanda Forever
adalah proses permenungan yang mengalun lebih lirih dibanding barang MCU biasanya.


Wakanda masih sebuah negeri adikuasa. Keberuntungan teknologinya konsisten memukau, misalnya gapura tembus pandang yang dibuka dengan cara menggampar lopak air bak kendang. Tapi Wakanda pun
tengah berharta di noktah terapuhnya. Tahta diisi oleh sang ratu, Ramonda (Angela Bassett), namun tiada lagi yang mengenakan seragam Black Panther. Kita senggang kelak Shuri bagi meneruskan peran T’Challa, doang anda terlazim melewati bineka pergolakan makin lampau, salah satunya gesekan antara modernisasi dengan tradisi.


Persoalan pagar adat tersebut sayangnya belum benar-benar diperdalam makanya naskah buatan Coogler dan Joe Robert Cole. Walau memberi senggolan spesial bikin departemen berseni (kostum, permukaan, musik) di ranah penceritaan, elemen kulturalnya masih berada di satah. Selain gesekan generasi tadi, cak semau sekali lagi kecemasan momen Wakanda menyadari vibranium juga eksis di lokasi lain. Fakta itu kodrati mengubah catatan sejarah nan diyakini secara jatuh temurun. Permasalahan ini sahaja diutarakan di satu titik tanpa pernah dikunjungi juga.


Talokan, sebuah negeri radiks laut nan dipimpin Namor (Tenoch Huerta), adalah lokasi yang dimaksud. Namor beriktikad, ambisi manusia darat bakal mengamankan vibranium berpotensi mendatangkan bencana bagi rakyatnya. Sebelum naskah terburuk terjadi, dia berniat melajukan serangan, yang turut menjerat Wakanda ke kerumahtanggaan pusat konflik.


Kelihatannya pertama kita bertemu penduduk Talokan merupakan sewaktu mereka mengepung kapal Amerika. Coogler mengemas peristiwa tersebut perumpamaan adegan film horor. Sunyi, mencengkeram, membuktikan kematangan sang sutradara.
Ketimbang pendekatan asal eksplosif, Coogler mengedepankan sensitivitas. Jika satu situasi memang menghendaki tempo hierarki (kejar-kejaran di tengah Cambridge, klimaks) maka beliau munculkan itu, dibekali kapasitas menodongkan operasi nan meningkat dibanding film pertama. Jika tidak, maka anda memilah-milah opsi bukan. Semua tergantung kebutuhan.


Itulah kok Coogler bagak menahan pedal gas dan menampilkan suguhan
slow burn,
sekurang-kurangnya untuk ukuran MCU.
Wakanda Forever
bukan akan halnya perdurhakaan berskala mondial demi menyelamatkan mayapada. Secara luas, ini kisah dua bangsa yang berjuang mempertahankan kemandirian. Sementara itu di tenang kian personal, filmnya menyoroti ruang sanding karakternya.


Kehilangan Boseman jelas meninggalkan lubang. Menandingi karisma sang aktor selaku raja sekaligus pahlawan adalah tugas sulit (seandainya lain mustahil). Coogler mengingat-ingat itu, sehingga alih-alih mengganti Boseman, bersenjatakan taklimat berorientasi rasa, ia ciptakan kisahan kolektif, di mana tiap manusia dimanusiakan serta memberi arti.


Tak ada
franchise
MCU bukan yang barisan karakternya sematang
Black Panther.
Shuri seiring waktu membuktikan kepantasannya, Okoye (Danai Gurira) bukan semata-mata prajurit bertombak, M’Formal (Winston Duke) kian dari sampai majikan suku bermodalkan urat, Nakia (Lupita Nyong’ozon) yang menggudangkan duka dengan caranya sendiri, Riri Williams (Dominique Thorne) nampak siap mengemban hari depan MCU, sampai Ramonda yang diberi nyawa oleh manifestasi
award-worthy
Angela Bassett. Semuanya beraduk, baik seumpama aktor atau rakyat Wakanda yang mengisi ketiadaan sang raja.

Semacam itu film usai, saya mengenal betul, tambahan pula membenakan mereka, menciptakan menjadikan durasi 161 menit patut dijustifikasi.


Di awal tulisan saya menyapa persamaan bagian pembuka
Wakanda Forever
dengan keseleo satu detikInfinity War.
Kedua film pun berbagi suasana serupa kala mengakhiri kisahan.
Infinity War
diisi keheningan yang mengaplus ketidakberdayaan, kekalahan, harapan yang hilang.
Wakanda Forever
juga mengikutsertakan kehilangan, namun ketimbang lenyapnya harapan, keheningan miliknya memancarkan meditasi. Bahwa nan sudah tiada bagi burung laut dikenang, di saat cahaya masa depan siap menjelang.



Source: https://movfreak.blogspot.com/

Posted by: and-make.com