Negara Paling Aman Di Dunia

Menara Kuil Shri Mariamman di Singapura yang mencitrakan pendamping dan seni ekspresif sebagai bagian dari budaya cucu adam.

Perayaan, upacara, dan festival merupakan aspek-aspek penting mulai sejak folklor

Budaya
yaitu cara spirit yang berkembang dan dimiliki maka dari itu seseorang ataupun sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi namun tidak turun temurun[1]. Sedangkan
tamadun
berasal dari bahasa Sanskerta adalah
buddhayah, yang merupakan tulang beragangan absah berpunca
buddhi
(budia ataupun akal),[2]
diartikan sebagai kejadian-keadaan yang berkaitan dengan karakter dan akal orang. Bentuk lain dari alas kata budaya merupakan
tamadun
yang berasal berasal bahasa Latin yakni
cultura.

Pengertian

[sunting
|
sunting mata air]

Budaya

[sunting
|
sunting sumber]

Budaya yaitu suatu pendirian hidup nan berkembang dan dimiliki bersama oleh sekawanan makhluk, serta diwariskan bermula generasi ke generasi. Budaya terlatih berusul banyak unsur yang jarang, termasuk sistem agama dan politik, pagar adat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian nan tak terpisahkan bersumber diri turunan sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Seseorang bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berlainan budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa budaya bisa dipelajari.[3]

Budaya merupakan satu konseptual hidup menyeluruh. Budaya berwatak kompleks, tanwujud, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Anasir-atom sosial-budaya ini tersebar dan menutupi banyak kegiatan sosial manusia.[4]

Beberapa alasan cak kenapa makhluk mengalami kesulitan detik berkomunikasi dengan turunan dari budaya lain terlihat intern definisi budaya: Budaya yakni suatu organ musykil nilai-kredit nan dipolarisasikan makanya suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya koteng. “Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam beragam budaya seperti “individualisme bergairah” di Amerika, “keteraturan anak adam dengan alam” di Jepang, dan “disiplin kolektif” di Tiongkok.
[butuh rujukan]

Citra budaya yang bersifat mengerasi tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan mematok dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang minimum bersahaja untuk memperoleh rasa benar dan pertalian dengan sukma mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan satu susuk yang teratur cak bagi mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya merasi perilaku orang tak.

Peradaban

[sunting
|
sunting sendang]

Kebudayaan sangat sanding hubungannya dengan umum. Antropolog Melville J. Herskovits dan Bronisław Malinowski mengemukakan bahwa barang apa sesuatu nan terdapat dalam masyarakat ditentukan maka itu kebudayaan yang dimiliki oleh awam itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah determinisme budaya (cultural-determinism).

Herskovits memandang tamadun seumpama sesuatu nan bebuyutan dari satu generasi ke generasi yang enggak, yang kemudian disebut sebagai superorganik. Sementara menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian kredit sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan ,serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-enggak, tambahan lagi segala apa pernyataan intelektual, dan artistik nan menjadi ciri partikular satu publik.

Menurut Edward Burnett Tylor, kultur merupakan keseluruhan yang mania, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, tali peranti, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang ibarat anggota masyarakat. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menyatakan bahwa tamadun adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.[5]
Sementara itu, M. Selamet Riyadi, budaya yaitu satu susuk rasa cinta berbunga nenek moyang kita nan diwariskan kepada seluruh keturunannya, dan menurut Koentjaraningrat, kebudayaan yaitu keseluruhan sistem gagasan dan tindakan hasil karya manusia dalam rencana umur awam yang dimiliki hamba allah dengan membiasakan.[6]

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh signifikasi bahwa kultur adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan menghampari sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia sehingga dalam nyawa sehari-hari, tamadun itu berperilaku maya. Sementara itu, perwujudan kultur adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai cucu adam nan maju, maujud perilaku, dan benda-benda yang bertabiat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan semangat, organisasi sosial, religi, seni, dan bukan-lain, yang semuanya ditujukan kerjakan membantu manusia kerumahtanggaan melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Unsur

[sunting
|
sunting sumber]

Ada bilang pendapat pakar yang mengemukakan mengenai komponen alias unsur kebudayaan, antara tidak perumpamaan berikut:

  • Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki empat unsur muslihat, merupakan alat-peranti teknologi, sistem ekonomi, tanggungan, dan kekuasaan garis haluan.[7]
  • Bronislaw Malinowski mengatakan empat anasir pokok kebudayaan yang meliputi sistem norma sosial yang memungkinkan kerja separas antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan standard sekelilingnya; organisasi ekonomi; perlengkapan-alat, dan bagan-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga ialah lembaga pendidikan utama); dan organisasi kebaikan (kebijakan)
  • Clyde Kluckhohn menyodorkan ada tujuh unsur kultur secara universal, yaitu bahasa; sistem pengetahuan; sistem teknologi dan peralatan; sistem kesenian; sistem mata pencarian hidup; sistem religi; sistem kekerabatan; dan organisasi kemasyarakatan.[8]

Wujud dan komponen

[sunting
|
sunting sumber]

Wujud

[sunting
|
sunting perigi]

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.[9]

  • Gagasan (wujud ideal)

    Wujud cermin peradaban adalah kebudayaan yang berbentuk koleksi ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, kanun, dan sebagainya yang sifatnya abstrak yaitu bukan bisa diraba atau disentuh. Wujud tamadun ini terletak n domestik pemikiran masyarakat. Jika awam tersebut menyatakan gagasan mereka itu internal bentuk goresan, maka lokasi dari kebudayaan sempurna itu berada n domestik karangan dan kiat-buku hasil karya para pencatat warga masyarakat tersebut.
  • Aktivitas (tindakan)

    Aktivitas merupakan wujud peradaban sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini cangap lagi disebut dengan
    sistem sosial, nan terdiri bermula aktivitas-aktivitas orang nan silih berinteraksi, mengadakan rangkaian, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya positif, terjadi dalam nyawa sehari-tahun, dan dapat diamati, serta didokumentasikan.
  • Artefak (karya)

    Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang substansial hasil dari aktivitas, polah, dan karya semua manusia dalam publik konkret benda-benda atau hal-peristiwa nan bisa diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Internal kenyataan spirit bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang suatu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan nan bukan. Bak contoh, wujud tamadun ideal mengeset dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Sementara itu, menurut Koentjaraningrat, wujud peradaban dibagi menjadi angka budaya, sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisik.
[penis rujukan]

  • Skor-skor budaya

    Istilah ini merujuk kepada pengucapan unsur-unsur kebudayaan yang yakni pusat berbunga semua partikel nan lain. Nilai-nilai kebudayaan yaitu gagasan-gagasan yang telah dipelajari maka dari itu warga sejak usia dini sehingga sukar diubah. Gagasan inilah yang kemudian menghasilkan berbagai benda yang diciptakan oleh insan beralaskan nilai-nilai, pikiran, dan tingkah lakunya.
  • Sistem budaya

    Dalam wujud ini, kebudayaan berkepribadian abstrak sehingga hanya dapat diketahui dan dipahami. Kebudayaan dalam wujud ini pula berpola dan berdasarkan sistem-sistem tertentu.
  • Sistem sosial

    Sistem sosial adalah pola-teoretis tingkah laku manusia yang memvisualkan wujud tingkah laku manusia yang dilakukan berdasarkan sistem. Kebudayaan kerumahtanggaan wujud ini bersifat aktual sehingga boleh diabadikan.
  • Kebudayaan fisik

    Kebudayaan fisik ini merupakan wujud terbesar dan juga bersifat konkret. Misalnya konstruksi besar-besaran seperti candi Borobudur, benda-benda bersirkulasi seperti kapal tangki, komputer jinjing, piring, gelas, trik busana, dan lain-tidak.

Suku cadang

[sunting
|
sunting sendang]

Bersendikan wujudnya tersebut, kebudayaan memiliki sejumlah elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu:

  • Peradaban material

    Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat nan nyata atau konkret. Teragendakan dalam kebudayaan material ini yakni temuan-temuan yang dihasilkan terbit suatu riset arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Tamadun material juga mencangam produk-dagangan, seperti televisi, pesawat panik, stadion latihan jasmani, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
  • Kebudayaan nonmaterial

    Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan maya nan diwariskan mulai sejak generasi ke generasi, misalnya riil takhayul, cerita rakyat, dan lagu maupun tarian tradisional.
  • Lembaga sosial

    Lembaga sosial dan pendidikan memberikan peran banyak dalam konteks berhubungan dan berkomunikasi di kalimantang mahajana. Sistem sosial nan terbimbing dalam suatu negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku plong tatanan sosial publik. Contoh di Indonesia pada kota, dan desa di beberapa wilayah, wanita lain perlu sekolah nan hierarki apalagi berkreasi plong suatu instansi maupun perusahaan. Hanya di kota – daerah tingkat ki akbar situasi tersebut terbalik, wajar jika seorang wanita memiliki pekerjaan.
  • Sistem pendamping

    Bagaimana umum melebarkan, dan membangun sistem ajun maupun religiositas terhadap sesuatu akan memengaruhi sistem penilaian yang cak semau kerumahtanggaan masyarakat. Sistem kepercayaan ini akan memengaruhi adat, pandangan usia, mandu bersantap, sampai dengan cara berkomunikasi.
  • Estetika

    Berhubungan dengan seni dan kesenian, musik, cerita, khayalan, hikayat, sandiwara boneka, dan tari–tarian, nan bermain, dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran agar pesan yang akan disampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah, dan bersifat kedaerahan, setiap akan membangun gedung jenis apa saja harus memangkalkan daun kelapa kuning, dan buah-buahan sebagai simbol, di mana simbol tersebut memiliki fungsi berbeda di setiap daerah. Tetapi di metropolis sebagai halnya Jakarta selit belit tertumbuk pandangan masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
  • Bahasa

    Bahasa merupakan perlengkapan pengantar intern berkomunikasi, bahasa untuk setiap wilayah, babak, dan negara memiliki perbedaan yang sangat obsesi. N domestik ilmu komunikasi bahasa merupakan onderdil komunikasi nan sulit dipahami. Bahasa memiliki sifat unik dan kompleks yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebut. Jadi keunikan, dan kekompleksan bahasa ini harus dipelajari, dan dipahami agar komunikasi lebih baik serta efektif dengan memperoleh biji empati dan simpati berusul orang tak.

Aliansi di antara unsur-unsur kebudayaan

[sunting
|
sunting sumber]

Suku cadang-komponen alias unsur-unsur utama dari kebudayaan antara tak:


Peralatan dan alat vitalitas (teknologi)

[sunting
|
sunting sendang]

Teknologi merupakan keseleo satu komponen kultur.

Teknologi menyangkut prinsip-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan, dan perlengkapan. Teknologi unjuk dalam prinsip-kaidah insan mengorganisasikan masyarakat, kerumahtanggaan cara-pendirian mengekspresikan rasa keindahan, maupun dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.

Masyarakat katai yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanaman paling sedikit mengenal okta- varietas teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan jasmani), merupakan alat-alat produksi, senjata, wadah, alat-instrumen menyalakan api, makanan. pakaian, wadah berlindung dan perumahan, serta alat-alat transportasi

Sistem netra pencaharian

[sunting
|
sunting sumber]

Perhatian para ilmuwan puas sistem alat penglihatan pencaharian ini terfokus sreg masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya berburu dan meramu, beternak, bertegal di ladang, dan menangkap ikan.

Sistem kekerabatan dan organisasi sosial

[sunting
|
sunting sumber]

Sistem kekerabatan merupakan penggalan nan suntuk utama internal struktur sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem komunitas suatu publik dapat dipergunakan untuk menayangkan struktur sosial bersumber awam nan bersangkutan.

Kekerabatan merupakan unit-unit sosial nan terdiri berpunca beberapa keluarga yang memiliki koneksi talenta atau perpautan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, empok, adik, mamanda, bibi, kakek, nenek, dan seterusnya. Dalam amatan sosiologi-antropologi, ada sejumlah macam kerumunan kekerabatan dari yang jumlahnya nisbi kecil hingga besar sama dengan keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat mahajana kita lagi mengenal gerombolan komunitas lain begitu juga batih inti, keluarga luas, batih bilateral, dan anak bini unilateral.

Tentatif itu, organisasi sosial adalah universitas sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan syariat atau nan tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat intern pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup sambil, manusia membuat organisasi sosial untuk mencapai tujuan-maksud tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

Bahasa

[sunting
|
sunting sumur]

Bahasa adalah alat alias perwujudan budaya yang digunakan manusia bagi saling berkomunikasi alias berhubungan, baik adv amat catatan, lisan, ataupun usaha (bahasa isyarat), dengan harapan menyampaikan maksud lever atau kemauan kepada oponen bicaranya atau individu lain. Melalui bahasa, bani adam boleh menyetarafkan diri dengan aturan istiadat, tingkah laku, penyelenggaraan krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan barang apa rajah umum.

Bahasa punya beberapa fungsi yang bisa dibagi menjadi manfaat publik, dan kemustajaban solo. Kurnia bahasa secara awam yaitu sebagai alat bagi berekspresi, berkomunikasi, dan perlengkapan untuk mengadakan integrasi dan habituasi sosial, sedangkan fungsi bahasa secara khusus ialah untuk mengadakan interelasi dalam pergaulan sehari-perian, takhlik seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk memperkuda ilmu manifesto dan teknologi.

Kesenian

[sunting
|
sunting sendang]

Kesenian mengacu pada ponten keindahan (estetika) nan berpunca dari ekspresi hasrat anak adam akan keindahan yang dinikmati dengan ain alias telinga. Sebagai makhluk nan mempunyai cita rasa janjang, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana sebatas perwujudan kesenian yang kompleks.

Sistem kepercayaan

[sunting
|
sunting sumber]

Adakalanya manifesto, kesadaran, dan daya tahan fisik manusia dalam tanggulang, dan mengungkap rahasia-muslihat alam sangat cacat. Secara bersamaan, unjuk keyakinan akan adanya penguasa terala terbit sistem alam semesta raya ini, yang juga memintasi manusia sebagai riuk satu bagian dunia semesta raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun umur bermasyarakat, khalayak bukan bisa dilepaskan berpangkal religi atau sistem ajun kepada penguasa alam semesta.

Agama dan sistem asisten lainnya berulangulang koheren dengan kultur. Agama (bahasa Inggris:
Religion, yang berasar mulai sejak bahasa Latin
religare, yang signifikan “menambatkan”), merupakan sebuah unsur kultur yang terdepan dalam sejarah umat manusia Kamus Filosofi dan Agama mendefinisikan agama andai berikut:

… sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan mengakui sebuah paket doktrin nan menawarkan keadaan yang tercalit dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kepelesiran ceria.[10]

Agama lazimnya memiliki suatu mandu, seperti “10 Firman” intern agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem rezim, sama dengan misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga memengaruhi kesenian.

Agama Samawi

[sunting
|
sunting mata air]

Tiga agama segara, Yahudi, Masehi, dan Islam, sayang dikelompokkan sebagai agama Samawi[11]
atau agama Abrahamik.[12]
Ketiga agama tersebut memiliki beberapa tradisi yang sama, namun lagi memiliki perbedaan-perbedaan yang mendasar dalam inti ajarannya. Ketiganya telah memberikan pengaruh yang lautan dalam tamadun orang di berbagai belahan manjapada.

Agama dan filsafat dari Timur

[sunting
|
sunting sumber]

Agama dan filosofi majuh kali saling tercalit satu sama tidak pada kebudayaan Asia. Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan Tiongkok, dan menyebar di sejauh benua Asia melampaui difusi kebudayaan dan migrasi. Agama Hindu dan Agama Buddha berasal mulai sejak Asia Selatan, sedangkan Agama Konghucu dan Taoisme merupakan dua filosofi asal Tiongkok yang memengaruhi berbagai aspek, baik dari religi, seni, politik, maupun adat istiadat filosofi di seluruh Asia.

Pada abad ke-20, di kedua negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi garis haluan tercipta. Mahatma Gandhi mengasihkan denotasi baru tentang Ahimsa, inti berpangkal kepercayaan Hindu maupun Jaina, dan memberikan definisi baru tentang konsep antikekerasan, dan antiperang. Pada periode yang sama, filosofi komunisme Mao Zedong menjadi sistem kepercayaan sekuler yang sangat lestari di China.

Agama tradisional

[sunting
|
sunting sumber]

Agama tradisional, maupun kadang-kadang disebut perumpamaan “agama nenek moyang”, dianut oleh sebagian suku pedalaman di Asia, Afrika, dan Amerika. Pengaruh mereka layak raksasa; mungkin boleh dianggap telah menyerap kedalam kultur atau lebih lagi menjadi agama negara, sama dengan misalnya agama Shinto. Sebagai halnya biasanya agama lainnya, agama tradisional menjawab kebutuhan rohani khalayak akan ketentraman hati di saat bersoal, tertimpa musibah, tertular musibah, dan menyediakan seremoni yang ditujukan cak bagi kegembiraan manusia itu sendiri.


“Impian Amerika Perkongsian”

[sunting
|
sunting sumber]

Impian Amerika Perkongsian adalah sebuah gagasan yang dipercayai maka itu banyak orang di Amerika Serikat. Mereka beriktikad bahwa melalui kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, sonder memedulikan martabat sosial, seseorang boleh mendapatkan semangat nan kian baik.[13]
Gagasan ini berakar berusul sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat merupakan sebuah “kota di atas dolok” (“city upon a hill“), “cahaya kerjakan negara-negara” (“a light unto the nations”),[14]
nan punya nilai, dan perbendaharaan yang sudah lalu ada sejak kerelaan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.

Pernikahan

[sunting
|
sunting sumber]

Agama sering mana tahu memengaruhi akad nikah, dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan nan menikah; dom galibnya memasukkan program penuturan janji ijab nikah di pangkuan petandang, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut memufakati pernikahan mereka. Umat Masehi juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan gerejanya.

Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian yaitu ulah tercela yang disebabkan maka dari itu sikap egoistis dari individu masing-masing. Alasan perpisahan lazimnya beraneka ragam menginjak berpunca perselingkuhan, ketidak sesuian sifat, perlakukan kasar pasangan, fundamental kritis nan telah tidak sejalan nan privat penglihatan Dom Katolik Roma sebuah alasan yang mengada-ada. Basilika Katolik Roma berlandaskan tajali Yesus Kristus beranggapan bahwa seseorang yang terikat kerumahtanggaan intitusi ijab nikah melakukan perceraian adalah bagian berusul bentuk dari perjinahan kepada Tuhan, dan umat. Berdasarkan pemikiran ini, maka seseorang nan telah bererak enggak dapat dinikahkan pun di katedral terkecuali bercerai karena riuk satu pasangannya telah dipanggil ke hadapan Tuhan. Sementara Agama Islam memandang pernikahan andai satu tanggung. Islam membentangkan untuk tidak mengerjakan perceraian, hanya memperbolehkannya.

Sistem ilmu dan pengetahuan

[sunting
|
sunting sumber]

Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu nan diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengumuman dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengumuman melampaui asam garam, intuisi, wahyu, dan berpikir dalam-dalam menurut akal sehat, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris.

Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi pengetahuan tentang kalimantang; pengetahuan akan halnya bersemi-pokok kayu dan hewan di sekitarnya; pengetahuan mengenai jasmani manusia, pengetahuan tentang sifat, dan tingkah laku sesama makhluk; serta butir-butir mengenai ira dan perian.

Perubahan sosial budaya

[sunting
|
sunting sumber]

Transisi sosial budaya bisa terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontak dengan kultur asing.

Pergantian sosial budaya ialah sebuah gejala berubahnya struktur sosial, dan pola budaya privat satu masyarakat. Perubahan ini adalah gejala umum yang terjadi selama masa internal setiap umum. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat, dan sifat dasar hamba allah yang selalu ingin mengadakan pergantian. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya adalah penyebab berpokok perubahan. Ada tiga faktor nan bisa memengaruhi peralihan sosial, yaitu impitan kerja dalam masyarakat, keefektifan komunikasi, dan perubahan lingkungan alam.[15]

Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan mahajana, rakitan mentah, dan kontak dengan kebudayaan lain. Ibarat contoh, berakhirnya zaman es berujung plong ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya internal kebudayaan.

Penetrasi kultur

[sunting
|
sunting sumber]

Penetrasi kebudayaan ialah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan boleh terjadi dengan dua pendirian:

Penetrasi damai
Masuknya sebuah kebudayaan dengan perkembangan rukun. Misalnya, masuknya supremsi kebudayaan Kpop, Hollywood, Bollywood, dan lain-lain sebagainya ke Indonesia
[titit rujukan]
. Penerimaan tamadun tersebut tidak mengakibatkan konflik, semata-mata memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Yuridiksi kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur safi budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara rukun akan menghasilkan
Akulturasi,
Asimilasi, atau
Sintesis.

Akulturasi merupakan bersatunya dua tamadun sehingga membentuk tamadun baru minus menghilangkan unsur kebudayaan tahir. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur nan merupakan perpaduan antara kebudayaan ikhlas Indonesia, dan kebudayaan India. Respirasi yakni bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan mentah. Padahal Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat sreg terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

Penetrasi kekerasan
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara menguati, dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan nan merusak keseimbangan n domestik masyarakat
[penis rujukan]
.

Wujud budaya dunia barat antara tak yakni budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya pusaka Belanda masih melekat di Indonesia antara tak pada sistem rezim Indonesia.

Cara pandang terhadap peradaban

[sunting
|
sunting sumur]

Tamadun bak peradaban

[sunting
|
sunting sumur]

Kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” nan dikembangkan di Eropa sreg abad ke-18, dan awal abad ke-19. Gagasan akan halnya “budaya” ini menimang adanya ketidakseimbangan antara maslahat Eropa, dan kelebihan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “kultur” perumpamaan n partner prolog terbit “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan tamadun lain dapat diperbandingkan; salah suatu kebudayaan tentu lebih tinggi terbit kebudayaan lainnya.
[titit rujukan]

Artefak tentang “kebudayaan tingkat tinggi” (High Culture) maka itu Edgar Degas.

Pada praktiknya, kata
kebudayaan
merujuk pada benda-benda, dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas,
fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara pengenalan
berkebudayaan
digunakan untuk menayangkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas.
[butuh rujukan]

Sebagai model, jikalau seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah irama yang “pretensius”, elit, dan bercita rasa seni, temporer irama tradisional dianggap seumpama irama nan kampungan, dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah lalu “berkebudayaan”.
[butuh rujukan]

Orang nan menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini enggak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka beriktikad bahwa kebudayaan cuma ada satu, dan menjadi patokan ukur norma, dan nilai di seluruh bumi. Menurut kaidah pandang ini, seseorang yang mempunyai sifat yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut umpama individu yang “tak berkebudayaan”; bukan umpama orang “mulai sejak kebudayaan yang enggak.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat sering kali mempertahankan elemen dari peradaban tingkat pangkat buat mengimpitkan pemikiran “manusia alami”.
[kalam rujukan]

Sejak abad ke-18, bilang suara sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan, dan tak berkebudayaan, sahaja skala itu -berkebudayaan, dan tidak berkebudayaan- dapat menindihkan tafsiran perbaikan, dan parafrase pengalaman sebagai perkembangan yang subversif, dan “lain alami” yang menyuramkan, dan menyimpangkan resan sumber akar anak adam.
[penis rujukan]

N domestik hal ini, irama tradisional (yang diciptakan maka itu mahajana inferior pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup nan alami”, dan musik klasik perumpamaan satu deteriorasi, dan kemunduran.
[penis rujukan]

Masa ini kebanyak ilmuwan sosial menolak lakukan memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam, dan konsep monadik nan koneksi berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “lain elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – sendirisendiri masyarakat mempunyai kebudayaan yang tidak boleh diperbandingkan.
[butuh rujukan]

Pengamat sosial menyingkirkan sejumlah tamadun sebagai budaya populer, yang berfaedah komoditas atau aktivitas yang diproduksi, dan dikonsumsi maka dari itu banyak orang.
[ceceh rujukan]


Peradaban sebagai “tesmak pandang umum”

[sunting
|
sunting sumber]

Sepanjang Era Romantis, para ilmuwan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap usaha semangat kebangsaan – seperti misalnya perbangkangan nasionalis buat mengesakan Jerman, dan bantahan pembela negara dari etnis minoritas melawan Imperium Austria-Hongaria – berekspansi sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang awam”.

Pemikiran ini menganggap satu budaya dengan budaya lainnya punya perbedaan, dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Lamun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya penceraian antara “berkebudayaan” dengan “tak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”

Pada akhir abad ke-19, para juru antropologi telah mempekerjakan pembukaan
peradaban
dengan definisi yang lebih luas. Bertolak terbit teori evolusi, mereka memperkirakan bahwa setiap insan tumbuh, dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta peradaban.

Plong masa 50-an, subkebudayaan – kerumunan dengan perilaku nan terbatas berbeda dari kebudayaan induknya – start dijadikan subjek eksplorasi oleh para ahli sosiologi. Plong abad ini kembali, terjadi popularisasi ide peradaban firma – perbedaan, dan bakat privat konteks pegiat organisasi maupun bekas berkreasi.

Kultur sebagai mekanisme stabilisasi

[sunting
|
sunting sendang]

Teori-teori yang terserah sekarang menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah
barang
dari stabilisasi nan tertuju intern tekanan evolusi menuju kebersamaan, dan kesadaran bersama dalam satu mahajana, atau biasa disebut dengan tribalisme.

Tamadun di antara masyarakat

[sunting
|
sunting sendang]

Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut
sub-kultur), ialah sebuah kebudayaan nan mempunyai sedikit perbedaan dalam peristiwa perilaku, dan pendamping dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa situasi, di antaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas bawah, aesthetik, agama, jalan hidup, pandangan politik dan gender,

Ada beberapa mandu yang dilakukan umum ketika berhadapan dengan imigran, dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan safi. Prinsip yang dipilih mahajana tergantung lega seberapa ki akbar perbedaan kultur induk dengan tamadun minoritas, seberapa banyak imigran yang cak bertengger, watak bermula penduduk tahir, keefektifan, dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan diversifikasi pemerintahan yang berwajib.

  • Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya respirasi peradaban sehingga publik yang berbeda kebudayaan menjadi suatu, dan silih berkolaborasi.
  • Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, gerombolan minoritas dapat menjaga, dan mengembangkan kebudayaannya koteng, sonder bertentangan dengan kebudayaan induk yang cak semau dalam masyarakat ikhlas.
  • Melting Pot: Kebudayaan imigran/luar bersatu, dan bergabung dengan peradaban asli tanpa intervensi pemerintah.
  • Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran, dan kelompok minoritas untuk menjaga peradaban mereka saban, dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.


[sunting
|
sunting sumber]

Seiring dengan kemajuan teknologi, dan informasi, hubungan, dan saling keterkaitan tamadun-kebudayaan di marcapada saat ini sangat tinggi. Selain keberuntungan teknologi, dan informasi, hal tersebut juga dipengaruhi maka itu faktor ekonomi, migrasi, dan agama.

Afrika

Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui penjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Temporer itu, wilayah Afrika Utara makin banyak ki terdorong oleh kebudayaan Arab, dan Islam.

Amerika

Kebudayaan di benua Amerika dipengaruhi maka dari itu tungkai-kaki Bersih benua Amerika; orang-individu dari Afrika (terutama di Amerika Serikat), dan para imigran Eropa terutama Spanyol, Inggris, Prancis, Portugis, Jerman, dan Belanda.

Asia

Asia punya beraneka macam kebudayaan yang berlainan satu setimbang enggak, walaupun begitu, beberapa dari peradaban tersebut mempunyai otoritas yang menonjol terhadap peradaban bukan, begitu juga misalnya pengaruh peradaban Tiongkok kepada peradaban Jepang, Korea, dan Vietnam.

Dalam bidang agama, agama Budha dan Taoisme banyak memengaruhi kebudayaan di Asia Timur. Selain kedua Agama tersebut, norma dan nilai Agama Islam juga turut memengaruhi tamadun terutama di wilayah Asia Selatan dan Tenggara.

Australia

Biasanya budaya di Australia waktu sekarang berakar dari tamadun Eropa dan Amerika. Tamadun Eropa, dan Amerika tersebut kemudian dikembangkan, dan disesuaikan dengan mileu kontinen Australia, serta diintegrasikan dengan kebudayaan penduduk jati benua Australia, Aborigin.

Eropa

Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kultur negara-negara yang pernah dijajahnya. Kultur ini dikenal juga dengan sebutan “kebudayaan barat“. Kebudayaan ini sudah diserap oleh banyak tamadun, hal ini terbukti dengan banyaknya pemakai bahasa Inggris, dan bahasa Eropa lainnya di seluruh mayapada. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara yang pernah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi maka dari itu kebudayaan Yunani kuno, Romawi bersejarah, dan agama Masehi, walaupun ajudan akan agama banyak mengalami kemunduran bilang tahun ini.

Timur Tengah dan Afrika Utara

Peradaban didaerah Timur Perdua dan Afrika Utara saat ini kebanyakan suntuk dipengaruhi oleh nilai, dan norma agama Selam, biarpun bukan hanya agama Islam nan berkembang di daerah ini.

Tatap lagi

[sunting
|
sunting perigi]

  • Subkultur
  • Interseksi
  • Peradaban Indonesia
  • Antropologi
  • Sosiologi
  • Agama
  • Sosialisasi

Teks

[sunting
|
sunting mata air]


  1. ^

    https://katadata.co.id/safrezi/berita/61e128ff924cd/budaya-yakni-cara-spirit-begini-penjelasannya

  2. ^


    Liputan6.com (11 Januari 2019). Fahrudin, Nanang, ed. “Pengertian Budaya Menurut Para Pakar, Jangan Keliru Memaknainya”.
    Liputan6.com
    . Diakses tanggal
    20 Juli
    2021
    .





  3. ^


    Tubbs, Stewart L.; Moss, Sylvia (2000).
    Human communication: konteks-konteks komunikasi. Diterjemahkan oleh Mulyana, Deddy. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. ISBN 979-514-578-9. OCLC 975153443.





  4. ^


    Mulyana, Deddy; Rakhmat, Jalaluddin (2009).
    Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Basyar-Individu Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya. hlm. 25. ISBN 979-514-782-X. OCLC 953657615.





  5. ^


    Bauto, Laode Monto (Desember 2014). “Perspektif Agama Dan Kebudayaan Dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia (Suatu Tinjauan Sosiologi Agama”.
    Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial.
    23
    (2): 17.





  6. ^


    Marzali, Amri (Oktober 2014). “Mengemukakan Peradaban Nasional Indonesia”.
    Humaniora.
    26
    (3): 258.





  7. ^


    Ryan Prayogi, Endang Danial (2016). “Pergeseran Nilai-Ponten Budaya Plong Suku Bonai Sebagai Civic Culture Di Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau”.
    Humanika. ISSN 1412-9418.





  8. ^


    Gunsu Nurmansyah, Nunung Rodliyah, Recca Ayu Hapsari (2019).
    Pengantar Antropologi: Sebuah Rangkuman Mengenal Antropologi. Aura Publisher. hlm. 76–81. ISBN 978-623-211-107-3.





  9. ^


    Eviyanti, Sari (20 Juni 2013).
    Ujana BUDAYA KALIMANTAN TENGAH
    (Tesis). Jamiah Atma Jaya Yogyakarta. http://e-journal.uajy.ac.id/2374/.





  10. ^


    Reese, William L. (1980).
    Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought. Humanities Press. hlm. 488. OCLC 608923087.





  11. ^

    Dari bahasa Arab, artinya: “agama langit“; karena dianggap diturunkan dari langit berupa wahyu.

  12. ^

    Karena dianggap muncul dari satu tradisi bersama Semit kuno dan ditelusuri maka itu para pemeluknya kepada motor Abraham/Ibrahim, nan juga disebutkan dalam kitab-kitab suci ketiga agama tersebut.

  13. ^

    Boritt, Gabor S.
    Lincoln and the Economics of the American Dream,
    p. 1.

  14. ^

    Ronald Reagan. “Final Radio Address to the Nation” Diarsipkan 2016-01-30 di Wayback Machine..

  15. ^

    Ozon’Neil, D. 2006. “Processes of Change” Diarsipkan 2016-10-27 di Wayback Machine..

Referensi lanjutan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Arnold, Matthew. 1869.
    Culture and Anarchy.
    Diarsipkan 2017-11-18 di Wayback Machine. New York: Macmillan. Third edition, 1882, available online. Retrieved: 2006-06-28.
  • Barzilai, Gad. 2003.
    Communities and Law: Politics and Cultures of Legal Identities.
    University of Michigan Press.
  • Boritt, Gabor S. 1994.
    Lincoln and the Economics of the American Dream. University of Illinois Press. ISBN 978-0-252-06445-6.
  • Bourdieu, Pierre. 1977.
    Outline of a Theory of Practice.
    Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29164-4
  • Cohen, Anthony P. 1985.
    The Symbolic Construction of Community.
    Routledge: New York,
  • Dawkins, R. 1982.
    The Extended Phenotype: The Long Reach of the Gene.
    Paperback ed., 1999. Oxford Paperbacks. ISBN 978-0-19-288051-2
  • Forsberg, A. Definitions of culture Diarsipkan 2007-07-01 di Wayback Machine. CCSF Cultural Geography course notes. Retrieved: 2006-06-29.
  • Geertz, Clifford. 1973.
    The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York. ISBN 978-0-465-09719-7.
“Upacara and Social Change: A Javanese Example”,
American Anthropologist, Vol. 59, No. 1. — 1957.
  • Goodall, J. 1986.
    The Chimpanzees of Gombe: Patterns of Behavior.
    Cambridge, MA: Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 978-0-674-11649-8
  • Hoult, T. F., ed. 1969.
    Dictionary of Maju Sociology. Totowa, New Jersey, United States: Littlefield, Adams & Co.
  • Jary, D. and J. Jary. 1991.
    The HarperCollins Dictionary of Sociology.
    New York: HarperCollins. ISBN 0-06-271543-7
  • Keiser, R. Lincoln 1969.
    The Vice Lords: Warriors of the Streets. Holt, Rinehart, and Winston. ISBN 978-0-03-080361-1.
  • Kroeber, A. L. and C. Kluckhohn, 1952.
    Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions.
    Cambridge, MA: Peabody Museum
  • Kim, Uichol (2001). “Culture, science and indigenous psychologies: An integrated analysis.” In D. Matsumoto (Ed.),
    Handbook of culture and psychology.
    Oxford: Oxford University Press
  • Middleton, R. 1990.
    Studying Popular Music. Philadelphia: Open University Press. ISBN 978-0-335-15275-9.
  • Rhoads, Kelton. 2006.
    The Culture Variable in the Influence Equation.
    Diarsipkan 2007-10-25 di Wayback Machine.
  • Tylor, E.B. 1974.
    Primitive culture: researches into the development of mythology, philosophy, religion, art, and custom.
    New York: Gordon Press. First published in 1871. ISBN 978-0-87968-091-6
  • O’Neil, D. 2006. Cultural Anthropology Tutorials Diarsipkan 2004-12-04 di Wayback Machine., Behavioral Sciences Department, Palomar College, San Marco, California. Retrieved: 2006-07-10.
  • Reagan, Ronald. “Final Radio Address to the Nation” Diarsipkan 2016-01-30 di Wayback Machine., January 14, 1989. Retrieved June 3, 2006.
  • Reese, W.L. 1980.
    Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought.
    New Jersey U.S., Sussex, U.K: Humanities Press.
  • UNESCO. 2002. Universal Declaration on Cultural Diversity, issued on International Mother Language Day, February 21, 2002. Retrieved: 2006-06-23.
  • White, L. 1949.
    The Science of Culture: A study of man and civilization.
    New York: Farrar, Straus and Giroux.
  • Wilson, Edward Udara murni. (1998).
    Consilience: The Unity of Knowledge.
    Vintage: New York. ISBN 978-0-679-76867-8.
  • Tungsten, Stephen. 2002
    A New Kind of Science.
    Wolfram Media, Inc. ISBN 978-1-57955-008-0

Pranala asing

[sunting
|
sunting mata air]

  • (Indonesia)
    Situs Resmi Budaya dan Pariwisata (Budpar) Indonesia Diarsipkan 2007-08-29 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)
    Adat istiadat Khas Budaya Anak Indonesia – Ada banyak adat istiadat partikular anak Indonesia yang hingga saat ini masih dilakukan laksana peninggalan budaya nenek moyang kontan sebagai budaya anak asuh Indonesia
  • (Inggris)
    Artikel mengenai definisi budaya Diarsipkan 2010-06-26 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Dictionary of the History of Ideas: “kultur” dan “kebudayaan” sreg zaman maju.
  • (Inggris)
    Negara dan kebudayaannya.
  • (Inggris)
    Global Culture Diarsipkan 2009-08-31 di Wayback Machine. Essay tentang kesejagatan, migrasi, dan pengaruhnya terhadap kebudayaan mayapada
  • (Inggris)
    Pusat pengajian pengkajian interkultural Diarsipkan 2009-02-02 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    What is Culture?
    – Washington State University
  • (Inggris)
    Define Culture – Definisi kultur.
  • (Inggris)
    Reflections on the Politics of Culture
    oleh Michael Parenti



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

Posted by: and-make.com