Menilai Kehidupan Keluarga Imam Eli Berdasarkan Ajaran Alkitab


IMAM ELI, SANG Perampas


Pengantar

Kerumahtanggaan permulaan kitab 1 Samuel, terdapat suatu kisahan anak bini hamba Tuhan nan mengalami semangat tragis di tangan Tuhan. Keluarga itu merupakan keluarga Eli. Eli semenjak berusul pertalian keluarga Itamar, adik Eleazar, momongan-anak Harun. Jadi, Eli dan anak-anaknya kodrati mendapat jabatan imam secara waris.

Eli menjawat sebagai padri besar dan kedua anaknya ibarat pater-imam. Namun, selain menjabat seumpama imam-imam Yang mahakuasa, Eli dan anak-anaknya memangku jabatan sebagai hakim sebab pada tahun itu ialah zaman Hakim-hakim. Pada detik itu, Kemah Pertemuan suka-suka di Sila. Ke sanalah semua umat Israel beribadah kepada Yang mahakuasa.

Sahaja, sangat disayangkan, jabatan-jabatan yang sangat berguna itu tidak dihargai Eli dan kedua anaknya. Mereka meremehkan, sampai-sampai menyalahgunakan panggilan yang mulia itu. Andai akibatnya, keluarga itu mendapat hukuman Allah yang lewat tragis. Tuhan mengutuk keluarga itu bebuyutan sehingga tidak seorang pun terbit antara mereka nan berdampak sebagai bibit buwit. Jika Halikuljabbar menyisakan satu orang mulai sejak antara mereka nan hidup, ia akan mengemis untuk menjawat laksana rohaniwan demi perutnya yang lapar (1 Samuel 2:27-36).



Sebuah Insting nan Telah Mati

Meskipun penyalahgunaan panggilan oleh Eli sudah lalu berlanjut selama puluhan tahun, Tuhan tetap sabar menanti pertobatan mereka. Cuma, kenyataannya mereka bukan bertobat, melainkan semakin terperosok ke internal drum kemurtadan.

Walaupun begitu, Tuhan tidak langsung mengomedikan mereka. Melintasi seorang nabi-Nya, Ia masih memberikan peringatan dengan gaham kutuk jika Eli tidak bertobat. Doang, karat dosa Eli sudah : sedemikian tebal, enggak terkikis lagi. Hati nuraninya sudah mati. Peringatan rasul Yang mahakuasa itu dipandang lengang oleh Eli.

Keseleo satu sifat khalayak berdosa adalah mandu ia bereaksi atas teguran. Jika sapa pertama tidak diindahkan, kecil kemungkinan teguran kedua dan seterusnya diindahkan. Selang beberapa waktu kemudian, setelah sapa pertama itu, Tuhan lagi memanggil Eli melalui Samuel yang masih kecil. Teguran Samuel itu merupakan penegasan berpangkal nubuat nabi Tuhan itu. Namun, Eli kadang-kadang tidak menghiraukan teguran itu. Semestinya ia meratap, bertobat, dan memohon belas kasihan Allah. Eli yang sudah kebal terhadap sapa karena dosa-dosanya apalagi menjawab peringatan itu dengan enteng, “Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik” (2 Samuel 3:18).


Catur Dosa Eli

Beberapa hal berikut yaitu kiat lakukan mengetahui rahasia keberdosaan keluarga Eli.


Pertama
, Eli adalah sendiri penyamun (1 Samuel 2:29). Sekejap-sekejap umat Israel mempersembahkan sasaran bakaran di pangkuan Tuhan, di Silo, Eli dan kedua anaknya mencuri bagian target yang bukan kepunyaan pastor. Selain itu, mereka dengan sengaja menyakiti lever Tuhan dengan meratah nikmat korban. Sementara itu, Allah telah menargetkan sebaiknya mak-nyus tidak dapat dimakan. Akibatnya, Eli menjadi sangat makmur.


Kedua
, Eli lebih menghormati anak asuh-anaknya daripada Tuhan (1 Samuel 2:29). Setiap kali didengar bahwa anak-anaknya tidur dengan perempuan-perempuan pelayan di depan pintu Kemah Pertemuan, Eli tidak menangani mereka secara tegas sesuai dengan Syariat Taurat. Eli hanya menasihati mereka sama dengan menasihati koteng balita. Padahal, menurut Taurat, semestinya Eli membawa mereka ke depan tua lontok-jompo Israel dan mengadukan barang apa kejahatan mereka, lampau merajam mereka dengan batu (Ulangan 21:18-21).


Ketiga
, Eli meniru konsep ibadah agama Baal. Dalam sistem agama Baal, dikenal segala nan disebut dengan perempuan geladak bakti dan semburit bakti. Pelacur bakti adalah gadis yang ditempatkan privat kuil, yang secara solo melayani kabilah laki-laki secara biologis. Semburit bakti adalah adam yang ditempatkan n domestik kuil yang secara khusus menyajikan kaum cewek secara biologis. Pelacur bakti dan semburit bakti mengerjakan tugasnya sebagai babak dari ibadah agama Baal. Dengan sistem ibadah seperti itu, tentu umat Baal bersaf-saf datang ke kuil untuk beribadah. Dengan mengatasnamakan ibadah, mereka secara bebas boleh melakukan perbuatan maksiat di kuil atau di mana saja.

Eli pada prinsipnya mencontoh konsep itu dengan menempatkan kabilah perempuan melayani di depan pintu Kemah Pertemuan. Memang tujuannya bukan untuk melakukan kelakuan cabul, melainkan hanya sebagai penawan. Jika ada nona cantik melayani di portal Kemah, tentu akan bertambah menggairahkan jemaat, khususnya kaum laki-laki untuk nomplok ke Bait Allah.

Seandainya ditanya mengapa Eli mengamalkan demikian, mungkin Eli akan mengatakan bahwa tinimbang kaum laki-laki menghabiskan waktunya di pasar-pasar maupun mabuk-mabukan, lebih baik mereka menclok ke Kuplet Allah mendengarkan firman Sang pencipta. Bahkan, lebih buruk pun, adalah daripada mereka pergi ke kuil Baal, makin baik mereka datang ke Bait Halikuljabbar. Untuk itu, perlu ada perangsang, yaitu kaum nona cantik.

Motif Eli melakukan hal itu boleh diketahui sebab Sang pencipta enggak pemah menyuruh Musa untuk mengedrop dayang alias laki-laki nan secara tersendiri meladeni di depan pintu Kemah Pertemuan. Tuhan telah mematok bahwa nan menyuguhkan di Kemah adalah kabilah Lewi dan keturunan Harun. Musa memang pemah menempatkan para amoi melayani di depan Kemah Persuaan. Namun, kejadian itu terjadi sebelum kabilah Lewi ditahbiskan menjabat tugas di Ceteri. Jadi, Eli tetap saja berdosa mengamalkan peristiwa itu sebab Yang mahakuasa tak pemah menyuruh umat Israel menempatkan kaum kuntum meladeni di Tenda Pertemuan.


Keempat
, Eli kemungkinan seorang yang demen mabuk. Ketika Hana berdoa di Ceteri Pertemuan dengan bibir nan komat-kamit dan tidak bersuara, Eli menyengaja bahwa Hana sedang mabuk. Cak kenapa seketika keluih dalam benak Eli bahwa Hana mabuk? Kemungkinan besar Eli adalah seorang yang suka mabuk. Kemungkinan itu besar sebab Eli lain individu nan takut akan Yang mahakuasa. Umumnya segala yang cak acap dilakukan orang, itulah yang minimum mudah teringat olehnya ketika terserah suatu situasi nan kondusif ke arah kejadian yang cak acap dilakukannya itu.

Akhimya, apa yang dijanjikan maka itu nabi Yang mahakuasa itu sopan. Sebagai pertama ikab, Hofni dan Pinehas mati secara bersamaan ketika terjadi pertempuran antara nasion Israel dan Filistin. Eli kemudian sepi dengan gala yang potol selepas mendengar bahwa Tabut Perjanjian dirampas oleh bangsa Filistin. Kemungkinan Eli mati akibat stroke sebab firman Sang pencipta menghubungkan antara “potol leher” dengan tubuhnya yang gemuk (sebab banyak memakan lemak wedus dan domba). Beberapa puluh perian kemudian, delapan puluh orang pertalian keluarga Eli mati sederum dibunuh makanya Saul. Pada saat itu, Saul menyuruh Doeg, makhluk Edom yang mendukung para imam di No, menggolok mereka. Etiket imam besar waktu itu adalah Ahimelekh. Pron bila itu, tetapi satu orang momongan Ahimelekh, yaitu yang keladak, nan bernama Abyatar, yang lolos berbunga pembunuhan. Pada zaman Daud, Abyatar menjadi salah koteng rohaniwan. Namun, ia kemudian bersekongkol dengan Adonia, anak Daud, bersama Yoab, hendak menjadikan Adonia menjadi raja mengaplus Daud. Padahal, Yang mahakuasa mutakadim prospektif bahwa Salomolah yang akan menggantikan Daud. Bintang sartan, sesudah Salomo menjadi raja, engkau memecat Abyatar dari jabatan Imam. Dengan demikian, genaplah nubuat hamba Tuhan tentang keluarga Eli.


Pelajaran nan Dipetik

Kasus batih Eli menyerahkan les berharga bagi kita, anak asuh-anak asuh Tuhan saat ini.


Pertama
, kita jangan menyia-nyiakan panggilan nan sudah lalu dinyatakan Tuhan kepada kita. Eli telah menyia-nyiakan panggilan itu. Padahal, seyogianya Tuhan memakai anda dan keturunannya sepanjang-lamanya. Namun, hal itu terpaksa dibatalkan Tuhan akibat sikap Eli nan tidak menghormati panggilan-Nya (1 Samuel 2:27, 28, 30).

Memang kita, ibarat anak-anak Tuhan, tidak akan pernah dimurkai Allah pun karena murka-Nya telah ditimpakan kepada Yesus di atas gawang salib. Tetapi, sreg prinsipnya, Halikuljabbar tidak menghargai orang-turunan yang menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan-Nya. Kalau seseorang menyia-nyiakan panggilan nan signifikan itu, Tuhan dapat mengalihkannya kepada orang lain.


Kedua
, bak anak-anak asuh Tuhan, kita harus makin mengutamakan suara Allah daripada mengerjakan barang apa saja. Dengan prolog lain, kita semestinya bertindak jika Tuhan menuntut kita bertindak. Sekiranya lain, jangan. Eli telah berbuat kesalahan besar dengan menempatkan para perempuan di depan Kemah. Tujuan Eli secara manusia kelihatannya baik. Belaka, karena enggak Yang mahakuasa nan menyuruh atau karena ragam itu enggak dikehendaki Halikuljabbar, akibatnya justru melibas anak asuh-anak Eli seorang dan umat Israel.

Tidak selalu apa nan baik menurut pemikiran manusia, baik menurut Tuhan. Oleh sebab itu, nan terpenting dalam hidup kekristenan bukan berbuat ini ataupun itu, melainkan mendengarkan suara-Nya lebih lampau. Perbuatan akan menjadi bermanfaat sekiranya hal itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Bagaimana caranya agar sukses mendengar suara Tuhan? Cara nan paling kecil penting adalah melalui proses pelatihan indra rohani. Pelatihan itu dilakukan secara terus-menerus, musim demi hari, minggu demi” ahad, tahun demi tahun, hingga Sang pencipta datang. Dengan kata lain, pelatihan itu berlangsung sebaya hidup. Apa yang kita untuk buat melatih indra rohani itu? Yang terutama adalah membaca Alkitab secara rutin di bawah pimpinan Roh Sang pencipta sambil betul-betul sembahyang. Membaca di bawah didikan Roh Allah berjasa kita siap dikoreksi Roh Almalik melalui firman yang kita baca.

Ketiga, seandainya Yang mahakuasa menyebut kita karena dosa ataupun kedunguan kita, hendaknya kita langsung mengantul dari dosa ataupun kebodohan itu. Jika enggak, teguran-sapa lebih jauh akan semakin terabaikan. Karenanya, hati nurani akan tumpul maupun hening.

Sumber :
– Samin H Sihotang, SH, M.Div. M.Th,
Kasus-kasus dalam Perjanjian Lama, Bandung : Yayasan Kalam Vitalitas, 2005, p. 124 – 129.

Source: https://www.sarapanpagi.org/imam-eli-vt2107.html

Posted by: and-make.com