Lirik Lagu Romantis Buat Pacar

Gay
yaitu sebuah istilah yang rata-rata digunakan bikin merujuk makhluk homoseksual. Istilah ini awalnya digunakan cak bagi membuka perasaan “adil atau tak terhibur”, “bahagia”, alias “cerah dan menyolok”. Kata ini mulai digunakan untuk memanggil homoseksualitas—mana tahu—semenjak pengunci abad ke-19 M, sekadar menjadi bertambah umum sreg abad ke-20.[1]
Dalam bahasa Inggris modern,
gay
digunakan andai kata sifat dan pengenalan benda, merujuk plong hamba allah—terutama pria gay—dan aktivitasnya, serta budaya yang diasosiasikan dengan homoseksualitas. Di Indonesia, dikenal istilah
kabilah belok
umpama istilah peyorasi bikin merujuk pada kekerabatan gay.[2]
[3]

Plong akhir abad ke-20, istilah
gay
mutakadim direkomendasikan oleh kelompok-kelompok besar LGBT dan paduan gaya penulisan bakal menggambarkan orang-orang yang terjerumus dengan sosok tidak yang berkelamin setara dengannya.[4]
[5]
Plong periode yang dekat bersamaan, pengusahaan menurut istilah barunya dan penggunaannya secara peyorasi menjadi umum pada sejumlah bagian manjapada. Di Anglosfer, signifikansi ini digunakan kaum remaja untuk menjuluki “sampah” atau “bodoh” (misalnya puas kalimat: “Peristiwa tersebut sangat
gay.“). Dalam konteks ini, pengenalan
gay
enggak memiliki arti
homoseksual
sehingga bisa digunakan untuk merujuk benda takgerak alias konsepsi lengkap yang tak disukai. Kerumahtanggaan konteks nan sama, prolog
gay
juga digunakan bakal merujuk kelemahan ataupun ketakjantanan. Namun, ketika digunakan dalam konteks ini, apakah istilah
gay
masih punya konotasi terhadap homoseksualitas, masih diperdebatkan dan dikritik dengan agresif.[6]
[7]

Sejarah

[sunting
|
sunting sendang]

Rangkuman

[sunting
|
sunting sumber]

Gambar animasi dari majalah Punch tahun 1857 yang mengilustrasikan pendayagunaan
gay
bak bahasa gaul eufemisme untuk perempuan lecah.[8]
Seorang wanita berkata kepada wanita bukan (yang terlihat murung), “Sudah berapa lama dirimu menjadi gay?” Sebuah poster di dinding adalah porster La Traviata, sebuah opera mengenai sendiri pelacur.

Kata
gay
sampai di Inggris lega abad ke-12 M dari bahasa Prancis kuno,
gai, yang dipastikan berasal dari perigi Jerman.[1]
Hampir sepanjang keberadaannya dalam bahasa Inggris, perkenalan awal
gay
diartikan sebagai “gembira”, “nonblok ataupun enggak terikat”, dan “seri dan menyolok”. Pembukaan
gay
sangat umum digunakan menurut pengertian di atas n domestik beragam percakapan dan literatur. Misalnya, masa optimisme lega masa 1980-an masih cak acap dijuluki sebagai
Gay Nineties. Kepala karangan balet Prancis tahun 1938,
Gaîté Parisienne
(Parisian Gaiety
alias “Keriangan Penduduk Paris”), yang menjadi sinema Warner Keronsang. tahun 1941 dengan judul
The Gay Parisian,[9]
juga mengilustrasikan konotasi tersebut. Barulah pada abad ke-20, kata tersebut berangkat digunakan secara spesifik cak bagi pengertian
homoseksual, meskipun sebelumnya sudah memiliki konotasi seksual.[1]

Nomina acuan,
gaiety, secara umum masih bebas berpunca konotasi seksual, dan dulunya perhubungan digunakan kerjakan nama-label berbagai tempat hiburan; misalnya W.B. Yeats mendengar Oscar Wilde berceramah di Gaiety Theatre di Dublin.[10]

Seksualisasi

[sunting
|
sunting sumber]

Prolog ini mungkin baru diasosiasikan dengan amoralitas sejak abad ke-14 M, lebih jauh memiliki perpautan nan pasti sreg abad ke-17.[1]
Pada pengunci abad ke-17, kata ini memiliki arti spesifik “kecanduan akan kesenangan dan pemborosan”,[11]
yang adalah perluasan dari makna utamanya adalah “independen/ tidak terkekang” yang menyiratkan “tidak dibatasi cais moral”. Seorang
wanita gay
merupakan pelacur, seorang
lelaki gay
adalah playboy, sebuah
apartemen gay
adalah rumah bordil.[1]

Pemanfaatan
gay
n domestik pengertian “homoseksual” awalnya bersumber berasal ekstensi konotasi seksual dari pengertian “independen/ enggak terbelenggu dan tidak dibatasi”, nan mengimplikasikan kedatangan untuk mengabaikan kebiasaan seksual yang legal atau terhormat. Penggunaan ini n kepunyaan dokumentasi paling awal pada tahun 1920-an, dan terdapat bukti penggunaannya sebelum abad ke-20 M,[1]
walaupun sepantasnya pada perian itu, pembukaan
gay
lebih masyarakat digunakan bikin kehidupan sonder kekangan secara heteroseksual, seperti mana tersirat pada sebuah frasa yang dahulu sempat umum digunakan: “gay Lothario“,[12]
atau sreg judul buku dan film
The Gay Falcon

(1941), yang mengobrolkan seorang detektif playboy nan mempunyai julukan
Gay
di sediakala namanya. Demikian juga dengan lagu auditorium irama tahun 1880an karya Gilbert dan MacDermott:

“Charlie Dilke Upset the Milk” – “Master Dilke upset the milk/When taking it home to Chelsea;/ The papers say that Charlie’s gay/Rather a wilful wag!”

Lagu itu mengisahkan perilaku heteroseksual Tuan Charles Dilke yang bukan senonoh.[13]
Hingga pertengahan abad ke-20, seorang bujang yang berusia pertengahan akan dideskripsikan sebagai
gay, mengindikasikan bahwa ia tidak “punya ikatan (terhadap kebalikan)” sehingga bebas, tanpa ada implikasi terhadap homoseksualitas. Penggunaan ini juga bisa diterapkan plong wanita. Strip komik Inggris berjudul
Jane, yang mula-mula barangkali dipublikasikan plong tahun 1930-an, menayangkan petualangan
Jane Gay. Jauh sebelum mengimplikasikan homoseksualitas, kata
gay
merujuk plong kecondongan hidup merdeka Jane yang memiliki banyak pacar adam. Selain itu, julukan
gay
di belakang nama Jane berfungsi buat membuat nama budi tersebut mirip dengan merek Lady Jane Grey).

Putaran
Miss Furr & Miss Skeene
(1922) karya Gertrude Stein peluang yakni mualamat pertama nan masih dapat ditelusuri dari pendayagunaan kata gay yang merujuk pada sebuah hubungan homoseksual. Linda Wagner-Martin (dalam
Favored Strangers: Gertrude Stein and her Family
(1995)) mengomentari karya tersebut sebagai “menunjukkan pengulangan terselubung dari kata gay, digunakan dengan tujuan seksual untuk pertama kalinya dalam album kebahasaan”, dan Edmund Wilson (1951, dikutip maka itu James Mellow dalam
Charmed Circle
(1974)) menyetujuinya.[14]
Contohnya:

Mereka adalah …gay, mereka mempelajari invalid kejadian yaitu hal-situasi cak bagi menjadi gay, … mereka sopan-sopan gay.

Gertrude Stein, 1922

Bringing Up Baby
(1938) yakni film pertama yang menggunakan kata
gay
secara terang-terangan bagi merujuk homoseksualitas. Pada adegan saat semua pakaian koteng karakter pria yang diperankan oleh Cary Grant dikirim ke tukang basuh, ia terpaksa memakai jubah dengan paesan bulu milik wanita. Detik khuluk lain menanyakan perihal jubah yang ia pakai, ia menjawab, “Karena mendadak saja aku seketika menjadi
gay!” Oleh karena bioskop itu ialah gambar hidup bertema masyarakat yang ditayangkan pada masa prolog “gay” masih tidak absah digunakan cak bagi merujuk homoseksualitas maka dari itu mayoritas pemirsa film, kalimat tersebut pula boleh diinterpretasikan sebagai “aku baru tetapi memutuskan unuk melakukan sesuatu yang bukan karuan”.[15]

Perkenalan awal ini terus digunakan dengan faedah dominan “bebas/ tidak terpenjara”, sebagaimana termuat lega judul film
The Gay Divorcee
(1934), sebuah film musikal adapun sebuah antagonis heteroseksual.

Peralihan menjadi
homoseksual


[sunting
|
sunting perigi]

Pada pertengahan abad ke-20 M, kata
gay
mutakadim digunakan bagi merujuk mode nyawa hedonistik dan tidak terpenjara,[11]
sementara
straight
yang menjadi antonimnya (sebelumnya diartikan dengan signifikansi “keseriusan, kehormatan, dan kekonvensionalan”) pula punya konotasi spesifik untuk heteroseksualitas.[16]
Pada kasus
gay, konotasi-konotasi tidak seperti “ketidakkaruan” dan “menyolok/ menarik ingatan” dalam situasi pendirian berpakaian (“pakaian gay”) diasosiasikan dengan camp dan kewanita-wanitaan.

Asosiasi tersebut dipastikan secara lambat-laun masuk mempersempit ruang arti istilah
gay
setakat ke pengertiannya nan dominan saat ini, yang lega tadinya hanyalah merupakan pengertian sambilan.
Gay
adalah istilah yang makin disukai karena istilah-istilah lainnya, seperti queer, terasa menghina.[17]
Homoseksual
dianggap misal istilah klinis,[18]
[19]
[20]
semenjak adaptasi seksual yang sekarang disebut “homoseksualitas” pada hari itu didiagnosa sebagai sebuah masalah mental dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM).

Pada medio abad ke-20 di Inggris, homoseksual puas pria dianggap ilegal hingga dikeluarkannya Sexual Offences Act 1967, yaitu bahwa mengidentifikasi seseorang sebagai homoseksual secara longo akan dianggap misal tindakan yang tinggal lain sopan dan akan didakwa misal aktivitas kriminal nan mendalam. Semata-mata, internal ketentuan tersebut, tidak ada pernyataan yang menggambarkan aspek manapun dari homoseksualitas nan dianggap sesuai privat kemasyarakatan yang modern. Sebagai konsekuensinya, sejumlah eufemisme digunakan untuk menjuluki makhluk nan diduga homoseksual. Misalnya adalah gadis “sporty” dan pemuda “artistik”,[21]
dengan menjatah tekanan khusus pada alas kata sifat yang sebenarnya enggak memiliki penggait apa-apa dengan pamrih penggunaannya.

Periode enam-puluhan (1960an) ialah periode-tahun nan membubuhi cap peralihan arti dominan dari kata gay, yang semula merupakan “nonblok/ tidak terbelenggu” menjadi “homoseksual” yang hingga kini digunakan.

Privat film drama-humor Inggris berjudul
Light Up The Sky!
(1960) yang disutradarai oleh Lewis Gilbert, komidi gambar komedi mengenai sebuah skuat dalam Pasukan Inggris, terletak satu babak yang berlangsung dalam sebuah tenda yang bongkar-bangkir, saat kepribadian nan dimainkan maka itu Benny Hill mengusulkan tos setelah makan lilin lebah. Ia memulai, “Aku ingin mengusulkan …” ([[bahasa Inggris|Inggris= “mengusulkan” (propose) juga memiliki pengertian “melamar”) sambil menunjuk seorang teman yang bersantap malam bersamanya, dimainkan oleh Sidney Tafler, yang langsung menyela dengan bertanya “Untuk siapa?”, karena dia mengira sedang dilamar. Dalang yang diperankan Benny Hill menjawab, “Enggak padamu, kamu bukan typeku”, kemudian ia mencemooh, “Oh, aku tidak adv pernah, kamu agaknya mengendap-endap gay.”

Tahun 1963, pengertian baru cak bagi kata “gay” telah dikenal cukup luas sehingga digunakan oleh Albert Ellis (psikolog) dalam bukunya
The Intelligent Woman’s Guide to Man-Hunting. Demikian pun Hubert Selby, Jr. dalam novelnya (1964) yang berjudul
Last Exit to Brooklyn, menulis bahwa seorang karakter “bangga menjadi sendiri homoseksual dengan merasa lebih superior secara akademikus dan estetis dibandingkan mereka (terutama wanita) yang bukan gay…”[22]
Hanya, pemanfaatan alas kata gay menurut pengertian lama masih kerap digunakan privat peradaban populer, termasuk tema lagu serial TV kartun
The Flintstones
(1960-1966), para pirsawan diyakinkan bahwa mereka akan “memperoleh gay masa historis”. Juga puas lagu milik Herman’s Hermits (1966) nan berjudul “No Milk Today”, yang masuk ke dalam 10 lagu terpopuler di Ingggris dan Top 40 di Amerika Kongsi, mempunyai lirik “No milk today, it was not always so /
The company was gay, we’d turn night into day.”[23]

Puas Juni 1967, judul berita untuk ulasan album the Beatles yang berjudul
Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band
pada koran jurnal Inggris
The Times
menamakan, “The Beatles membangkitkan harapan akan keberuntungan irama pop dengan LP bau kencur mereka yang
bebas
(gay)”.[24]
Pada tahun yang sama, The Kinks menyuji lagu “David Watts”.[25]
Lagu tersebut “secara eksplisit” mengisahkan kesirikan seorang pelajar sekolah, tetapi juga punya lelucon siluman. Seperti mana nan ditulis oleh Jon Savage pada “The Kinks: The Official Biography”, tajuk lagu tersebut senyatanya adalah label seorang pengayom homoseksual nan mereka temui, nan tertarik pada seorang remaja putra, merupakan adik penulis lagu Ray Davies; dan kalimat “he is so gay and fancy free” menekankan ambiguitas faedah kata
gay
sreg masa tersebut, lamun konotasi yang baru hanya diperuntukkan mereka yang memahami.[26]
Pada akhir 1970an, episode mula-mula
The Mary Tyler Moore Show
secara lugas menganjurkan Phyllis, tetangga dasar hierarki Mary Richards nan straight, secara dingin mengecam Mary nan berumur 30 tetapi masih “young and gay” (lit. “muda dan bebas”).

Dapat dipastikan bahwa konotasi homoseksual dari kata “gay” merupakan rajah perkembangan signifikasi tradisionalnya, sebagaimana yang diuraikan di atas. Namun, terdapat klaim bahwa
gay
merupakan abreviasi berpokok “Good As You” (lit. “Baik Sebagaimana Dirimu”), tetapi enggak cak semau bukti nan kontributif: kejadian ini merupakan sebuah backronym etimologi rakyat.[27]

Homoseksualitas

[sunting
|
sunting sendang]


Habituasi, identitas, dan resan seksual

[sunting
|
sunting sumber]

American Psychological Association mendefinisikan
aklimatisasi seksual
perumpamaan “satu pola taat mengenai kohesi emosional, romantika, dan/alias genital lega adam, wanita, atau keduanya”, “sepanjang suatu kontinuum (pertautan keekaan), dari ketertarikan khusus buat jenis kelamin yang berlainan hingga ketertarikan khusus buat jenis kelamin yang sebabat”.[28]
Orientasi genital juga dapat “didiskusikan dalam kaitannya dengan ketiga kategori: heteroseksual (n kepunyaan ketertarikan romantis, romantika, alias seksual terhadap manusia dengan jenis kelamin berbeda), gay/lebian (mempunyai kohesi emosional, romantika, ataupun genital terhadap orang dengan jenis kelamin selaras), dan biseksual (memiliki ketertarikan emosional, romantika, alias seksual terhadap pria dan wanita bertepatan)”.[28]

Menurut Tasbih, Schrimshaw, Hunter, Braun (2006), “perkembangan identitas genital sendiri lesbian, gay, alias bisexual (LGB) ialah sebuah proses nan mania dan acap kali rumit. Tidak seperti anggota kelompok minoritas lainnya (seperti etnis dan ras minoritas), kebanyakan hamba allah LGB enggak dibesarkan dalam sebuah komunitas nan sama dengannya, nan darimana ia seyogiannya dapat membiasakan mengenai identitas mereka, serta yang dapat mempersempit dan mendukung identitas mereka. Malahan, para sosok LGB galibnya dibesarkan dalam komunitas yang tidak peduli atau lebih lagi secara terbuka beraksi bergairah terhadap homoseksualitas”.[29]

Koordinator milik-properti gay terbit Britania yang bernama Peter Tatchell telah berargumen bahwa istilah
gay
merupakan sebuah ekspresi kultural biasa yang mencerminkan status homoseksualitas privat masyarakatnya, dan menyatakan bahwa “Queer, gay, homoseksual … dalam penglihatan jangka panjang, itu semua hanyalah identitas sementara. Suatu hari, kami tidak akan membutuhkan istilah-istilah itu lagi”.[30]

Jika seseorang mengamalkan aktivitas seksual dengan padanan berjenis kelamin seimbang tetapi lain mengidentifikasikan dirinya perumpamaan gay, istilah semacam ‘nan terkatup, ‘discreet’, ataupun ‘bi-curious’ bisa dia gunakan. Sebaliknya, seseorang dapat mengenali sebagai gay tanpa melakukan pernah seksual dengan pasangan berjenis kelamin sama. Prospek lain ialah mengenali laksana gay secara sosial saat menjadi selibat maupun saat menanti camar duka homoseksual pertama. Lebih lanjut, seorang biseksual juga bisa mengenali diri sebagai “gay”, tetapi orang-orang menganggap
gay
dan
hermaprodit
perumpamaan istilah nan selevel-sederajat khusus. Terdapat juga orang yang terikat sreg tipe kelamin yang sekufu tetapi tidak mengamalkan aktivitas seksual sesama diversifikasi maupun mengidentifikasi sebagai gay; mereka dapat disebut bak
aseksual, meskipun
aseksual
secara publik berarti “enggak memiliki afinitas” atau “silau secara heteroseksual hanya tak menjalani aktivitas seksual”.

Terminologi

[sunting
|
sunting sumber]

Beberapa orang menolak istilah
homoseksual
andai jenama identitas karena terdengar terlalu klinis;[19]
[20]
[31]
mereka beriman istilah tersebut bersisa berfokus sreg tindakan secara jasmani dibandingkan romantika maupun ketertarikan, atau berlebih mengingatkan pada tahun momen homoseksualitas dianggap sebagai kebobrokan mental. Sebaliknya, bilang orang memurukkan istilah
gay
sebagai label identitas karena mereka menganggap konotasi nan melekat pada pengenalan tersebut tidak menyenangkan maupun disebabkan pengertian negatif slang yang digunakan di seluruh dunia.

Pemandu kecenderungan, begitu juga organisasi Associated Press, memilih kerjakan menggunakan kata
gay
daripada
homosexual:

Gay: Digunakan bakal menayangkan pria dan wanita yang tertarik sreg diversifikasi kelamin yang sekufu, meskipun
lesbian
menjadi istilah yang lebih umum digunakan untuk menyebut wanita. Kian disukai cak bagi digunakan daripada istilah
homoseksual
kecuali intern konteks klinis atau mengacu pada aktivitas seksual.[32]

Komunitas Gay dan kekerabatan LGBT

[sunting
|
sunting perigi]

Kekerabatan gay di Argentina

Pada pertengahan tahun 1980-an di Amerika Maskapai, terdapat suatu usaha penuh semangat yang dilakukan maka dari itu satu komunitas -nan selanjutnya dikenal bak komunitas gay- untuk menambahkan istilah
lesbian
lega keunggulan semua organisasi gay yang meladeni homoseksual maskulin atau wanita, dan lakukan memperalat terminologi gay dan lesbian, atau lesbian/gay momen merujuk komunitas tersebut. Balasannya, organisasi-organisasi begitu juga
the National Gay Task Force
berubah keunggulan menjadi National Gay and Lesbian Task Force. Bagi para lesbian feminis nan berapi-jago merah, huruf “L” sangat terdepan kerjakan ditampilkan sebelum huruf “G”, sebab jika terjadi sebaliknya, kejadian tersebut dianggap akan menjadi tanda baca baru mengenai dominasi lanang atas wanita,[33]
meskipun beberapa wanita homoseksual yang lainnya lebih memilih bagi memperalat istilah
wanita gay. Pada waktu 1990-an, muncul kesadaran lain untuk mencantumkan kembali terminologi biseksual, transgender, interseks, dan nan lainnya, yang mencerminkan perdebatan antar komunitas: apakah kaum-kaum minoritas seksual lainnya itu sekali lagi menjadi penggalan berbunga manuver hak-peruntungan asasi manusia yang setimbang. Biasanya organisasi-organisasi berita memakai variasi istilah yang digunakan, yang tercermin plong isi berita yang mereka keluarkan.

Pendayagunaan seumpama kata sifat

[sunting
|
sunting sumber]

Sebuah kedai minum gay di Seattle, Amerika Serikat.

Istilah
gay
dapat pun digunakan perumpamaan sebuah kata sifat untuk menjelaskan heterogen kejadian yang berbimbing dengan pria homoseksual, atau hal-hal nan merupakan bagian dari budaya. Misalnya, istilah “bar gay” menjelaskan sebuah bar nan utamanya menghidangkan pemakai laki-laki homoseksual ataupun merupakan adegan mulai sejak tamadun pria homoseksual.

Takdirnya istilah
gay
digunakan bikin mengklarifikasi satu korban, seperti sebuah benda atau busana, objek tersebut biasanya bersifat flamboyan, acap kali bernuansa pesta atau tajam. Arti yang ini selayaknya memelopori relasi istilah gay dengan homoseksualitas, hanya timbrung memperoleh denotasi berbeda sesudah terjadi perubahan makna utamanya.

Penggunaan umpama kata benda

[sunting
|
sunting sumber]

Label “gay” sebenarnya murni digunakan sebagai pembukaan kebiasaan (“ia ialah sendiri maskulin gay” atau “beliau gay”). Kata ini kesannya juga digunakan sebagai sebuah kata benda dengan khasiat “laki-laki homoseksual” semenjak tahun 1970an, seperti n domestik kalimat “para gay menentang ketatanegaraan tersebut”. Pendayagunaan ini publik digunakan, misalnya dalam kasus “LGBT” (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), serta kerumahtanggaan nama organisasi, seperti
Parents, Families and Friends of Lesbians and Gays
(PFLAG) dan
Children Of Lesbians And Gays Everywhere
(COLAGE). Kata ini juga digunakan untuk membagi surat berharga jenaka maka dari itu karakter Dafydd Thomas dalam
Little Britain.

Pemanfaatan peyoratif secara awam

[sunting
|
sunting sumber]

Momen digunakan kerjakan mengejek (misalnya “hal itu sangat gay”), kata
gay
menjadi peyoratif. Meskipun juga n kepunyaan pengertian lain, pembukaan ini “digunakan secara luas” oleh kabilah taruna untuk harapan menghina.[6]
[34]
Pengusahaan peyoratif ini dimulai sejak akhirusanah 1970an. Dimulai pecah awal 1980an dan terutama di akhir 1990an, pendayagunaan alas kata
gay
sebagai ejekan menjadi lumrah di antara kaum muda.[6]

Menunggangi pengenalan
gay
untuk usikan dianggap perumpamaan homofobia. Tahun 2006, manifesto BBC yang diisi maka dari itu Board of Governors (label organisasi) mengomongkan mengenai penggunaan pembukaan
gay
internal konteks ini. Acara yang dibawakan oleh Chris Moyles tersebut berjudul show Radio 1. Ia memberi lengkap kalimat, “Aku tidak ingin yang itu, itu jelek (gay)”, kemudian memasrahkan selang, “lever-hati dalam penggunaannya” dengan alasan:

“Alas kata ‘gay’, selain digunakan kerjakan arti ‘homoseksual’ atau ‘tidak terikat’, kini sering kali digunakan dengan pengertian “cacat” alias “sampah”. Ini ialah penggunaan umum dikalangan anak asuh taruna waktu ini… Kata ‘gay’ … tidak perlu bersifat mengecap… atau homofobik … Walaupun demikian, Governors bercakap bahwa walaupun Moyles hanya mengikuti kronologi terbaru bahasa Inggris. … Para komite … “familiar mendengarkan pembukaan tersebut dalam konteks ini. Governors beriman bahwa saat berfirman bahwa suatu lagu bersifat ‘gay’, DJ bermaksud bahwa lagu tersebut seperti ‘sampah’ daripada ‘homoseksual’. Panelis mengakui bahwa penggunaan ini… internal intensi menghina … boleh dianggap sebagai serangan oleh sebagian pendengar, dan memburas untuk berhati-hati detik menggunakannya.

BBC Board of Governors,
[34]

Siaran BBC tersebut memperoleh kritik keras pecah Menteri Anak-anak, Kevin Brennan, yang merespon “pemanfaatan umum bahasa homofobik oleh para DJ radio kebanyakan”:

“hal ini bertambah cerbak dilihat bagaikan usikan tidak berbahaya daripada penghinaan yang menyerang. … Enggak mempedulikan masalah ini berjasa berkolusi dengannya. Mengatupkan buat segel-panggilan sahih, melihat jalan keluar lain karena ini adalah saringan yang mudah, adalah tak dapat ditoleransi.”

Tony Grew,
[35]

Sesaat setelah insiden Moyles, sebuah kampanye menimbangi homofobia berlangsung di Britania dengan jargon “homofobia adalah gay”. Jargon tersebut berlaku pada dua signifikansi prolog “gay” dalam kebudayaan remaja.[36]

Paralel dalam bahasa tak

[sunting
|
sunting perigi]

  • Konsep “identitas gay” dan penggunaan istilah
    gay
    kemungkinan digunakan secara berlainan atau tidak memiliki pengertian yang sama pada budaya selain budaya Barat, sebab alat angkut bagi seksualitas pada budaya selain di Barat mungkin berbeda dari nan lazim terjadi di Barat.[37]
  • Ekuivalen bahasa Jerman untuk
    gay,
    schwul, yang secara etimologi berasal berpunca kata
    schwuel
    (panas, lembap), sekali lagi memperoleh kemustajaban peyoratif dikalangan anak muda.[38]

Tatap pula

[sunting
|
sunting mata air]

  • Agama dan erotisme
  • Daftar orang gay, lesbian, atau hermaprodit
  • Heteroseksisme
  • Human Rights Campaign
  • Identitas keberagaman kelamin
  • Kelainan identitas jenis kelamin
  • National Gay and Lesbian Task Force
  • Penentangan nasib baik-properti LGBT
  • Penganiayaan gay
  • Penyimpangan (ilmu masyarakat)
  • Erotisme dan identitas keberagaman kelamin berdasarkan budaya
  • Sensualitas pria
  • Patois anti-LGBT
  • Kepala putik
  • Tema LGBT dalam mitologi
  • Teori pelabelan
  • Ucapan kebencian

Wacana

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    Harper, Douglas (2001–2013). “Gay”.
    Online Etymology dictionary.





  2. ^

    https://news.momen.com/berita/2787638/kamus-kaum-belok-ada-top-bottom-versatile-dan-g-radar

  3. ^

    https://news.ketika.com/berita/d-2787538/gang-pattaya-lokalisasi-para-generasi-belok

  4. ^


    “GLAAD Kendaraan Reference Guide – Offensive Terms To Avoid”. 2012-04-21.




  5. ^


    “APA Style Guide: Avoiding Heterosexual Bias in Language”.



  6. ^


    a




    b




    c




    Winterman, Denise (March 18, 2008). “How ‘gay’ became children’s insult of choice”. BBC News. Diakses rontok
    May 29,
    2013
    .





  7. ^


    “Anti-gay abuse seen to pervade U.S. schools”. Diarsipkan mulai sejak varian asli tanggal 2007-03-01. Diakses terlepas
    2021-01-26
    .





  8. ^


    The Great Social Evil. Diakses tanggal
    September 5,
    2012
    .




    Majalah
    Punch, Volume 33, 1857, halaman 390. Kartun editorial yang tegak sendiri, tidak ada artikel yang menjelaskan.

  9. ^

    The Gay Parisian (1941) – IMDb

  10. ^


    “Publications”. Oscar Wilde Society. 1 November 2008. Diarsipkan bersumber versi kudus copot 2009-08-04. Diakses tanggal
    4 August
    2009
    .




  11. ^


    a




    b




    “gay”.
    Oxford English Dictionary.





  12. ^


    Brewer, E. Cobham (1898). “Dictionary of Phrase and Fable”.




  13. ^

    John Major (2012)
    My Old Man, halaman 87 dan catatan

  14. ^

    Martha E. Stone, Sept–Oct, 2002. “Who were Miss Furr and Miss Skeene?”,
    The Gay & Lesbian Review Worldwide.

  15. ^


    “Bringing Up Baby”.




  16. ^


    Harper, Douglas (2001–2013). “Straight”.
    Online Etymology dictionary.





  17. ^


    “A queer use of an inoffensive little word; Philip Howard”.
    The Times. June 7, 1976. hlm. 12.





  18. ^


    “Media Reference Guide – Offensive Terms To Avoid”. GLAAD. Diakses sungkap
    2012-05-24
    .




  19. ^


    a




    b




    “Gay Adjectives vs. Lesbian Nouns”. The New Gay. 16 September 2008. Diakses tanggal
    4 August
    2009
    .




  20. ^


    a




    b




    James Martin (November 4, 2000). “The Church and the Homosexual Priest”. America The National Catholic Weekly Magazine. Diakses rontok
    4 August
    2009
    .





  21. ^

    Cocks, H. A. “‘Sporty’ Girls and ‘Artistic’ Boys: Friendship, Illicit Sex, and the British ‘Companionship’ Advertisement, 1913–1928”,
    Journal of the History of Sexuality
    – Volume 11, Number 3, July 2002, pp. 457–482.

  22. ^

    Selby, Jr., Hubert “Last Exit To Brooklyn” NY: Grove Press, 1988 p. 23 copyright 1964

  23. ^


    “The Lyrics Library – Herman’s Hermits – No Milk Today”.




  24. ^


    “The Beatles revive hopes of progress in pop music with their gay new LP”.
    The Times. London. 2 June 2007. Diakses tanggal
    3 May
    2010
    .





  25. ^


    “Kinks Song List”. Kindakinks.net. Diakses terlepas
    2012-05-24
    .





  26. ^

    Savage, Jon “The Kinks: The Official Biography” London: Faber and Faber, 1984 pp. 94–96

  27. ^


    “Menyeluruh Oneness Encyclopedia: Gay”.




    [tepercaya?]

  28. ^


    a




    b




    “What causes a person to have a particular sexual orientation?”. APA. Diakses rontok
    2012-05-24
    .





  29. ^

    Rosario, M., Schrimshaw, E., Hunter, J., & Braun, L. (2006, February). Sexual identity development among lesbian, gay, and bisexual youths: Consistency and change oper time. Journal of Sex Research, 43(1), 46–58. Retrieved April 4, 2009, from PsycINFO database.

  30. ^


    Tatchell, Peter (27 November 2006). “Just a phase”. London: Guardian Unlimited. Diakses tanggal
    3 May
    2010
    .





  31. ^


    “AIDS and Gay Catholic Priests: Implications of the Kansas City Star Report”
    (PDF). Diarsipkan dari versi tahir
    (PDF)
    tanggal 2011-05-28. Diakses tanggal
    2022-08-14
    .





  32. ^


    “GLAAD Ki alat Reference Guide”
    (PDF).





  33. ^


    Lesbian Ethics, pp. 13–21.
  34. ^


    a




    b




    Sherwin, Adam (6 June 2006). “Gay means rubbish, says BBC”. London: Times newspaper online. Diakses rontok
    3 May
    2010
    .





  35. ^


    “BBC’s attitude to homophobic language ‘damages children“. Pink News. Diakses tanggal
    4 March
    2009
    .





  36. ^


    “Young Liberal Democrats launch ‘homophobia is gay’ campaign,
    Pink News, 2006″.





  37. ^

    Masculinity for boys: A guide for peer educators; Published by UNESCO, New Delhi, Page: 102, Page: 62

  38. ^

    Robert Sedlaczek, Roberta Baron:
    leet & leiwand. Das Lexikon der Jugendsprache, Echomedia, 2006, ISBN 3-901761-49-7

Referensi lebih lanjut

[sunting
|
sunting sumber]

  • Leap, William (1995).
    Beyond the Lavender Lexicon: Authenticity, Imagination, and Appropriation in Lesbian and Gay Language. Taylor & Francis. hlm. 360. ISBN 2-88449-181-3.



Pranala asing

[sunting
|
sunting perigi]

  • Gay di Curlie (dari DMOZ)

Templat:Slang seksual



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Gay

Posted by: and-make.com