Kata Kata Joker Orang Jahat

Gara-gara film Joker, penonton menyengaja manusia jahat awal orang baik yang tersakiti.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penjelajahan sukma sosok Arthur Fleck setakat bertransformasi menjadi Joker dalam sinema
Joker
sudah mewujudkan sejumlah penonton bersimpati. Setelah menyaksikan sinema besutan Todd Phillips, mereka memercayai bahwa cucu adam jahat terlahir dari manusia baik nan tersakiti. Benarkah anggapan ini?

“Hidup memang tidak ada hitam-jati,” ujar spesialis kedokteran hidup dari Departemen Medik Kesehatan Jiwa RSCM dr Heriani SpKJ(K) menyingkapkan pembicaraan, saat ditemui di IMERI Fakultas Medis Universitas Indonesia, Jakarta.

Sebagai ilustrasi, Heriani sedikit mengobrolkan sosok Arthur. Menurut Heriani, Arthur sejak katai tidak mendapatkan figur orang tua lontok yang boleh menjadi panutan dan pencahanan. Sebagai anak yang adopsi oleh Penny Fleck sejak bayi, anda demap mendapatkan penganiayaan badan dari inai sang ibu.

Ketika dewasa, Arthur yang memiliki bencana tawa patologis tidak memiliki seorang pun yang bisa menjadi teman untuk mendengarkan erang-kesahnya. Tiap bisa jadi Arthur mengeluh, sang ibu sahaja menyuruhnya untuk konstan meletuskan durja tersenyum.

“Karena beliau itu selalu
nggak
dapat sedih, selalu tersenyum. Kesudahannya ia tambahan pula ketawa. Setiap dia sedih, kian sira bersimbah, lebih sira ketawa. Karena sira ketawa, (orang lain) jadi melihatnya aneh,” ujar Heriani.

Kondisi ini semakin diperparah ketika pemerintah memutuskan lakukan menyuruti subsidi biaya pengobatan pengidap gangguan hayat. Akibatnya, Arthur bukan lagi bisa mengakses perunding-obatan untuk ki aib kesehatan mentalnya.

Dalam kasus Joker, Heriani mengungkapkan bahwa Arthur sejak boncel enggak memiliki lingkungan yang membantu proses tumbuh-kembangnya. Plong jadinya, sosok Arthur dewasa tidak memiliki mental nan lestari dan tidak n kepunyaan mekanisme yang baik untuk menghadapi masalah (coping).

“Anda
nggak
nikah dilatih untuk berekspansi mekanisme
coping
yang sehat, terus malar-malar diajarin tembak
aja, tembak (jika bersabung pengganggu),” kata Heriani.

Oleh karena itu, Heriani tidak sepenuhnya cocok dengan anggapan bahwa orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Dalam kasus Joker, anggapan yang makin tepat adalah orang jahat merupakan khalayak baik nan tersakiti dan tidak sempat cara
coping
yang benar.

“Sira tersakiti dan tidak sempat bagaimana mengatasi masalahnya dengan baik. Karena kamu nggak pernah dilatih untuk itu,” jelas Heriani.

Secara umum, Heriani menyingkapkan ada banyak faktor yang bisa membuat seseorang menjadi brutal. Faktor-faktor ini menghampari faktor biologi, psikologi, dan kembali sosial atau biopsikososial.

Tersapu faktor biologi, misalnya, cak semau orang nan menjadi bengis karena mengalami kerusakan pada bagian otak bernama lobus frontal. Bagian penggagas tersebut berfungsi lakukan merencanakan sesuatu sampai mengendalikan impuls. Bila mengalami kehancuran pada lobus frontal, individu boleh mengamalkan kejahatan tanpa mencatat bahwa ia melakukan kejahatan.

“Engkau jadi jahat tapi dia tidak adv pernah kalau dia jahat” sebut Heriani.

Source: https://www.republika.co.id/berita/pzcs8q414/orang-jahat-tadinya-orang-baik-yang-tersakiti-betulkah

Posted by: and-make.com