Dasar-dasar Qurani Tentang Ajaran Akhlak Moral Dan Etika

Dasar-DASAR QURANI DAN HADIST TENTANG Tata susila TASAWUF

Sekarang ini, banyak buku-buku nan membahas adapun ilmu sufi dan banyak penduduk yang berminat kerjakan mempelajarinya. Kita lihat negara-negara yang mayoritas beragama Selam, banyak sekali di situ kita temui berbagai kiat yang menerangkan tentang tasawuf.tetapi hanya tingkat ketertarikan seseorang tidak dapat diklaim bak sebuah penerimaan yang menyeluruh terhadap aji-aji kebatinan. Ketertarikan mereka terhadap tasawuf boleh dilihat dari dua kecenderungan, permulaan kecondongan terhadap kebutuhan fitroh, yaitu kita mempelajari akhlaq tasawuf karena keinginan intuisi kita sendiri dan yang kedua kecenderungan lega permasalahan akademis, yaitu kita mempelajarinya karena telah menjadi bagasi kita, bagaikan kita di sekolah mesti mengimak les akhlaq ilmu batin padahal sebenarnya kita tidak ingin mempelajarinya.
Agama Islam memiliki dua dasar dalam melakukan perbuatannya privat sehari-hari, maka pangkal kepatutan tasawuf juga berasal dari dua sumber itu, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Dinyatakan intern hadits nabi

عَنْ اَنَسٍ ابْنِ مَالِكٍ قَالَ النَّبِىُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ.
Artinya:
“Dari Anas kedelai Malik bertutur: Bersabda Nabi SAW: sudah ku tinggalkan atas kamu sekalian dua perkara yang apabila dia berpegang puas keduanya maka tidak akan tersesat yaitu kitab Allah dan sunnah RosulNya”.
Dengan demikian diketahui bahwa dasar-sumber akar alias jalan hidup mukmin yakni al-Qur’an dan al-Hadits yang mana manusia yang melakukan syariat-syariat islam sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits maka orang itu tidak akan merasa rugi.

1. Dasar-radiks Al-Qur’an adapun Akhlak Suluk
Al-Qur’an merupakan sumber akar agama Islam yang di dalamnya termasuk “Akhlak Islam”. Beberapa masalah yang timbul bisa dikerjakan melintasi al-Qur’an, sebagaimana salah suatu fungsi al-Qur’an yaitu andai keputusan ragil apabila dalam al-Hadits tidak diterangkan. Semata-mata tidak semua masalah akhlak bisa dicari dalam Al-Qur’an, contohnya mengenai masalah yang bermunculan plong masa sekarang, maka orang islam menggunakan hasil berpangkal ijtihad para Ulama, saja Ulama juga mengkaitkan jawaban-jawabannya itu dengan merujuk plong radiks-dasar Islam merupakan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Dengan demikian Cerdik pandai menjeput keputusan dengan mandu menyetimbangkan peristiwa maupun kebobrokan-kelainan sekarang dengan masalah-masalah yang ada saat Al-Qur’an diturunkan, maka Al-Qur’an digunakan sebagai asal untuk mencari konklusi atau mencari mana akhlak yang sebaiknya dilakukan. Namun demikian dalam pembentukan akhlak ini, Selam lagi menghargai pendapat akal pikiran yang sehat seia sekata dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Peranan akal perasaan dalam ajaran Selam demikian segara dan dihargai adanya, termasuk peranannya dalam menjabarkan masalah kepatutan. Ajaran akhlak nan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah berperilaku absolute dan mendunia serta mutlak, yakni tidak dapat ditawar-sia-sia pun dan akan berlangsung sepanjang zaman. Sahaja kerumahtanggaan penjabaran ajaran Al-Qur’an yang absolute itu bentuknya berbeda-cedera sesuai dengan keadaan publik maupun sesuai dengan yang diakui umum. Dengan demikian wangsit tata susila dalam Islam bisa dipedulikan maka itu seluruh publik berlandaskan hasil ijtihad akal pikiran. Bak contoh mengerudungi alat vital adalah adalah kepatutan nan bersifat absolute, mutlak dan universal, tetapi bagaimana pendirian dan bentuk menutup aurat itu dapat berbeda-beda. Buat menentukan cara dan bentuk mengerudungi aurat tersebut diperlukan pemikiran akal geladak nan sehat.

Detik Aisyah ditanya makanya sahabat adapun akhlak Rosulullah ia menjawab “Al-Qur’an”. Para sahabat tersohor sebagai penghafal al-Qur’an kemudian menyebarkannya disertai pengamalan atau penjiwaan terhadap isinya. Mereka melakukan dan mengamalkan akhlak Rosulullh yaitu akhlak Al-Qur’an. Kerumahtanggaan kitab al-Luma yang ditulis oleh Abi Nashr As-Siraj Ath-Thusi dikatakan bahwa terbit Al-Qur’an dan As-Sunnah itulah para sufi pertama-tama mendasarkan pendapat mereka tentang moral dan tingkah laku, kerinduan dan pada Illahi, dan kursus-kursus rohaniyah mereka yang di susun demi terealisasinya intensi kehidupan misterius (hal yang berhubungan dengan sesuatu yang ghoib) .
Tasawuf sememangnya yakni adegan dari pembelajaran pusat di bengot teks-referensi Keilahian secara ringkas. Al-Qur’an menjelaskan konsepsi tasawuf dalam rangka dorongan turunan bakal menjelajahi dan menundukkan hatinya. Serta tidak grusa-grusu cak bagi puas lega aktifitas dan seremoni nan bersifat lahiriah . Seperti dinyatakan dalam ayat berikut.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ (الحديد : 16)

“Belumkah datang waktunya bagi sosok-bani adam yang beriman, kerjakan tungkul lever mereka menghafal Sang pencipta dan kapada legalitas yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti manusia-orang yang sebelumnya diturunkan Al-Kitab kepadaNya, kemudian berlalulah masa yang jenjang atas mareka, habis hati mareka menjadi keras. Dan rata-rata diantara mareka adalah hamba allah-individu yang fasik(Q.S. Al-Hadida [57]:16).

Petunjuk islam secara awam mengatur kehidupan yang bertabiat ragawi dan batiniah, ajaran yang berwatak batiniyah belakang hari akan menimbulkan hati mareka menjadi keras. Dengan demikian unsur nasib tasawuf mujur perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran selam adalah As-Sunnah, Al-Qur’an serta praktek kehidupan utusan tuhan dan para sahabatnya, antara lain Al-Qur’an menerangkan tentang kemungkinan sosok boleh saling menyayangi dengan tuhan .

Hal itu difirmankan Tuhan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 54
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ( المائدة : 54)

Artinya: “ Hai orang-khalayak yang beriman, barang mana tahu diantara kamu yang murtad bermula agamanya, maka besok Allah akan mendatangkan suatu kaum nan Allah menyayangi mereka dan merekapun mencintaiNya, nan bersifat litak lembut terhadap basyar yang mukmin, nan berwatak keras pada insan ateis, yang berjihad di jalan Allah, dan nan tidak takut kepada celaan orang nan senang mencela, itulah kasih Almalik, diberikanNya kepada siapa nan dikehendakiNya dan Allah maha luas (pemberianNya) lagi maha mencerna “. (Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 54)
Allah juga memerintahkan manusia sebaiknya senantiasa bertaubat membersihkan diri dan pelahap memohon ampun kepada-Nya sehingga memperoleh cahaya berpokok-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (التحريم : 8)

Artinya: Hai insan-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Halikuljabbar dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Allah kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan menjaringkan kamu ke dalam surge nan mengalir dibawahnya kali besar-sungai, puas hari ketika Allah lain mencemarkan Utusan tuhan dan orang-orang beriman bersama dengan dia, sedangkan kirana mereka menyembur di aribaan dan di sebelah kanan mereka, sambil mengatakan, “ Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami seri kami, senyatanya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. (Q. S. At Tahrim [66] :8).
Orang nan berakhlak berarti kamu berilmu, tapi ilmu itu tergantung orang yang memilikinya, ada yang baik dan suka-suka yang buruk. Berarti tata krama lewat berkaitan dengan ilmu. Apabila memiliki ilmu nan baik, maka kebolehjadian lautan bani adam itu boleh berbuat guna atau berakhlak dengan baik. Dalam al-Qur’an Yang mahakuasa menjelaskan tentang keutamaan orang nan berilmu, riuk satunya internal surat Ali-Imran:18 yang artinya,” Tuhan bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan melainkan Dia (Allah), yang menegakkan keadilan.para malaikat dan turunan-orang berilmu (sekali lagi ikut bersaksi). Tiada yang mahakuasa melainkan Anda, yang maha perkasa lagi maha bijaksana” (QS. Ali-Imran:18).
Jika kita cermati ayat tersebut dengan seksama maka akan kita ketahui bahwa Yang mahakuasa SWT sangat memperhatikan orang-turunan yang berilmu, Allah memulai dangan Diri-Nya, terlampau dengan malaikat setelah itu dengan para ahli ilmu, bukan main betapa tingginya izzah, keutamaan dan virginitas ini.

Serdak Al-Wafa’ Al-Ganimi At-Taftazani mengatakan bahwa semua tahapan

(maqamat) dan keadaan (akhwal) para sufi, yang pada dasarnya ialah tema pokok ajaran tasawuf, berlandaskan Al-Qur’an. Berikut ini lingkaran sebagian muqamat dan akhwal para sufi tersebut.
a. Dalam Al Qur’an menerangkan tentang penggemblengan jiwa, nan digunakan andai lingkaran, yaitu internal surat Al Ankabut [29] ayat 69)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت: 69)

Artinya, “ Dan basyar-turunan nan berjihad bakal (mencari kebaikan hati) Kami tunjukkan kepada mereka jalan-perkembangan Kami Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.(Q. S. Al Kanbut [29]: 69)

Firman-Nya kembali,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

(النازعات:40-41)

“Adapun sosok-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan suhu nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”.

b.Tentang maqam ketaqwaan, Tuhan berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحجرات:13)

“Hai turunan, sepatutnya ada Kami menciptakan kamu berasal seorang laki-laki dan sendiri perempuan dan menjadikan dia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang minimal sani di antara kamu di jihat Allah adalah orang nan paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Tuhan Maha Memahami lagi Maha Mengenal”. (Q. S. Al Hujurat [49]:13)
Allah SWT. juga mengomong,

…….وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ( البقرة : 194)
Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Almalik beserta orang-khalayak yang bertaqwa. (Q.S. Al Baqoroh [2] 194)
c. Akan halnya maqam Zuhud
“Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini cuma sebentar dan akhirat itu lebih baik cak bagi makhluk-sosok yang bertaqwa dan anda tidak akan dianiaya sedikitpun.”
d.Adapun maqam tawakal, menurut para sufi, berlandaskan pada firman-firman Allah SWT. berikut ini.
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (الطلاق : 3)
…Dan siapa saja bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…(Q. S. Ath Thalaq [ 65]:3)

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (الزمر: 39)
Dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman itu bertawakal. (Q. S. Az Zumar [39]: 39)
Tentang maqam terima kasih antara tidak berlandaskan pada firman-firman Allah SWT. berikut ini.
لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ ( إبراهيم : 7 )
…Sememangnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu…(Q.S. Ibrohim [14]:7)

e. Maqam sabar, beralaskan plong firman-firman Allah SWT. berikut ini.

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

(المؤمن :55)
Maka bersabarlah beliau karena sebenarnya janji Allah itu benar, dan mohonlah magfirah bakal dosamu dan bertasbihlah seraya memuja Tuhanmu puas tahun burit dan pagi. (Q.S. Mu’min [40]:55)

….. وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (البقرة : 155 )
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Q.S. Al-Baqarah[2]:155)
f. Maqam rida berlandaskan puas firman Allah SWT. Berikut ini.
رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ ( المائدة : 119)
….Allah rela terhadap mereka, dan merekapun rela terhadapnya…(Q.S. Al-Maidah [5]:119).
g. Akan halnya maqam ma’rifah, antara lain Allah SWT. berfirman,

وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (البقرة : 282)
Dan bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Almalik Maha Mengetahui barang apa sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 282)

فَوَجَدَا عَبْداً مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْماً

(الكهف : 65)
Lalu, mereka bercocok seorang hamba di antara hamba-hamba Kami berikan kepadanya rahmat berasal sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadany aji-aji mulai sejak sisi Kami. (Q.S. Al-Kahfi [18]: 65).

Demikian sebagian ayat Al-Qur’an yang dijadikan landasan kaum sufi dalam melaksanakan praktik-praktik kesufiannya. Akan plus tahapan uraiannya jika semua signifikansi psikis dan adab yang diungkapkan para sufi tentang janjang dan keadaan, dicarikan rujukannya kerumahtanggaan kerumahtanggaan Al-Qur’an.

2. Dasar-dasar Al-Hadits tentang Adab tasawuf

Selain Dapat dilihat bersumber tulangtulangan Al-Qur’an, tasawuf pula bisa dilihat dari kerangka Al-Hadits. Hadits menurut para ulama tukang hadits (muhadditsin) adalah segala ucapan, kelakuan, taqrir (peneguhan/mendiamkan sebagai tanda membolehkan atau persetujuan), dan kebiasaan-aturan nabi nabi Muhammad SAW. Namun ulama usul fiqih mendefinisikan hadits kian sempit kembali yaitu terbatas pada ucapan, perbuatan dan taqrir Utusan tuhan SAW. yang berkaitan tentang hukum .
Bacot berarti mengenai semua bacot Rosulullah SAW. tentang berbagai macam bidang sama dengan aqidah akhlak, pendidikan, muamalah, hukum dan sebagainya. Model akan halnya kepatutan Rosulullah SAW. berfirman: “kerendahan dan perbuatan virulen setimpal sekali lain berusul ramalan agama selam. Sesungguhnya orang yang terbaik keislamannya adalah yang terbaik budi pekertinya” (HR. Tirmidzi). Nabi Muhammad SAW. mengomong bahwa hati terwalak empat macam, ialah: (1) hati yang drastis; (2) hati bersih semenjak kotoran; (3) hati yang di dalamnya terserah sesuatu seperti bola lampu yang menyinari hatinya; (4) hati nan terhijab.

Kerumahtanggaan hadits Rosulullah banyak dijumpai keterangan yang membincangkan tentang semangat kerohanian bani adam. Misal dalam hadits:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Artinya:

“Barang bisa jadi yang mengenal dirinya sendiri, berarti beliau mengenal Tuhannya”.
Dalam hadits pun dijelaskan adapun tasawuf yaitu:

كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَبِي عَرَفُوْنِي
Artinya:
“Aku adalah aset yang gadungan maka aku menjadikan makhluk agar mereka mengenalKu”.
Dalam umur Utusan tuhan Muhammad SAW. terdapat petunjuk yang menggambarkan bahwa ia yakni sebagai seorang sufi. Utusan tuhan Muhammad telah mengasingkan diri di Gua Hirah, menjelang datangnya wahyu beliau pergi cermin hidup kebendaan yang pada waktu itu diagung-agungkan oleh cucu adam arab perdua di dalamnya seperti intern praktek perbelanjaan dengan prinsip menghalalkan segala cara. Ucapan-mulut Utusan tuhan yang berkenaan dengan pembinaan akhlak nan luhur itu diikuti lagi oleh perbuatannya dan kepribadiannya. Kamu dikenal sebagai akhlak shidiq (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan dakwah), fatanah (cerdas).
Para sahabatpun banyak pun nan menganut praktek bertasawuf, nan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW. Serbuk Bakar misalnya pertalian berkata: “Aku mendapatkan kemuliaan internal ketakutan, kefanaan dalam keagungan dan kerendahan hati.” Khalifah Umar Bin Khatab interelasi berkhutbah di hadirat jamaah kaum muslimin dalam hal berpakaian yang sangat tersisa Khalifah Utsman Ibn Affan banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah dan mengaji Al-Qur’an. Baginya Al-Qur’an andai surat berasal puspa hati nan pelalah dibawa dan dibaca kemanapun ia pergi.

Berpokok uraian di atas, jelaslah bahwa benih-benih tasawuf telah diterangkan internal Al-Qur’an dan dicontohkan maka dari itu Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat dalam sukma sehari-hari.

Source: http://surgaditelapakibu.blogspot.com/2011/04/dasar-dasar-qurani-dan-hadist-tentang.html

Posted by: and-make.com