Cara Membatasi Pertemanan Di Fb

Di sekitar kita, masih banyak yang cangap merayakan maulid Nabi. Sebenarnya, bagaimana hukum maulid Utusan tuhan? Simak penjelasan sumir akan halnya hukum maulid Rasul berikut ini.

Syaikh Muhammad kacang Shalih Al-‘Utsaimin
rahimahullah

menjawab:

Pertama, malam kelahiran Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bukan diketahui secara tentu kapan. Bahkan sebagian ulama masa saat ini menyimpulkan hasil pengkhususan mereka bahwa sebenarnya lilin batik kelahiran anda adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Makanya sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tak cak semau dasarnya mulai sejak arah latar pantat historis.

Kedua, bersumber jihat tinjauan hukum maka merayakannya pun enggak ada dasarnya. Karena apabila keadaan itu memang termasuk bagian syariat Tuhan maka tentunya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
melakukannya atau kamu sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya ataupun menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Tuhan ta’ala berbicara yang artinya,
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Alquran dan Kami lah yang menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti, maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Yang mahakuasa. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-kaidah seperti itu.

Apabila Allah ta’ala telah menetapkan urut-urutan bikin menuju kepada-Nya melalui perkembangan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
maka bagaimana bisa jadi kita diperbolehkan dalam status kita perumpamaan hamba yang halal-biasa cuma kemudian kita berani menggariskan satu perkembangan koteng menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah?

Hal ini terjadwal tindakan brutal dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita kosen takhlik syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang tidak bagian darinya. Seperti pun tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari ini Aku sudah sempurnakan bikin kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.”
(QS. Al-Maa’idah: 3)

Makanya sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini tersurat dari keutuhan agama maka pastilah kamu cak semau dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul
‘alaihish shalatu wa salam. Dan sekiranya dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala merenjeng lidah yang artinya,
“Pada hari ini Aku sudah lalu sempurnakan bikin kalian agama kalian.”
Barang mana tahu yang mengklaim acara maulid ini termaktub kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang luhur ini.

Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul
‘alaihis shalatu was salam
cuma bermaksud mengagungkan Nabi
‘alaihis shalaatu was salaam. Mereka kepingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar bertunas perasaan majuh kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
melampaui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua tercantum perkara ibadah.

Kecintaan kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
yaitu ibadah. Sampai-sampai tidaklah acuan keimanan seseorang sampai dia menjadikan Utusan tuhan
shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai turunan yang lebih dicintainya ketimbang dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan malah seluruh umat insan. Demikian pula pemuliaan Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tersurat perkara ibadah. Semacam itu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
juga teragendakan fragmen terbit agama karena di dalamnya terkandung gaya kepada syariatnya.

Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam susuk mendekatkan diri kepada Allah serta bakal mengagungkan Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
yakni suatu rangka ibadah. Dan apabila hal itu tercatat perkara ibadah maka sememangnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan wahyu bau kencur yang lain ada sumbernya dari agama Yang mahakuasa. Oleh sebab itu, syariat memestakan maulid Nabi merupakan
bid’ah dan diharamkan.

Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan lain dilegalkan oleh syariat, tak juga maka dari itu indera maupun akal sehat. Mereka berlagu-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah nan di dalamnya terdapat ungkapan yang sesak-lebihan (ghuluw) terhadap Utusan tuhan
‘alaihish sholaatu was salaam
sampai-sampai mereka mengangkat sira lebih agung ketimbang Yang mahakuasa –wal ‘iyaadzu billaah-.

Dan kami sekali lagi pernah mendengar kebodohan sebagian manusia yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila sang pembaca kisah Nabi telah sampai ke kata-kata “mutakadim lahir Al-Mushthafa” maka mereka juga langsung menggermang dan mereka mengatakan bahwa sepantasnya ruh Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
hadir detik itu maka kita agak kelam demi mengagungkan ruh engkau.

Ini adalah tindakan yang goblok. Dan juga bukanlah tertulis manajemen krama yang baik merembah saat menjawat individu karena beliau tidak senang suka-suka orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun ialah insan-orang nan minimal dalam cintanya kepada Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
serta kabilah yang lebih hebat dalam mengagungkan kamu daripada kita. Mereka itu tidaklah mengalir perlahan-lahan tatkala menyandang beliau karena mereka tahu beliau membenci keadaan itu sementara sira privat keadaan bermoral-ter-hormat semangat. Lantas bagaimanakah sekali lagi dengan sesuatu yang semata-mata sekedar takhayul demikian ini?

Bid’ah ini -merupakan bid’ah Maulid-
baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun terdepan. Selain itu di dalamnya muncul heterogen kemungkaran ini nan merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu pula terjadi campur baur laki-laki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari
Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).


Baca juga: Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi

***

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Penerjemah: Abu Mushlih Hipodrom Wahyudi

Artikel mukmin.or.id

🔍 Apakah Di Surga Kita Bisa Bertemu Tanggungan, Momongan Yatim Internal Al Quran, Hadits Tentang Silaturahim, Makhluk Sakti Menurut Islam

Source: https://muslim.or.id/563-apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html

Posted by: and-make.com