Berdasarkan Kejadian 21 31-33 Apa Yang Di Pelajari Tentang Tuhan

PENGANTAR

Tajuk-Kop, PEMBAGIAN DAN ISI

Kelima buku pertama Kitab Kudus merupakan satu ahadiat yang maka dari itu orang-khalayak Ibrani diberi keunggulan “Hukum”,
Torah, yang dalam bahasa Arab menjadi Taurat. Bukti yang tentu dan pertama tentang keunggulan ini dapat kita jumpai kerumahtanggaan kata pembukaan kitab Bin Sirakh. Istilah Taurat lazim dipakai pada permulaan tarikh Masehi dan lagi dalam Perjanjian Baru, Mat 5:17, Luk 10:26; bdk Luk 24:44.

Karena ingin mempunyai naskah-naskah yang dapat ditangani, maka orang-orang yahudi memberi-bagikan Kitab yang terlalu tebal in menjadi lima gulungan nan dempet sepadan besarnya. Pembagian ini menyebabkan bahwa kitab Taurat, di pematang orang berpendidikan Yunani, diberi judul:
he pentateuchos (biblos),
artinya: “Kitab berjilid lima”, yang intern bahasa Latin disalin dengan titel
Pentateuchus (liber).
Sedangkan hamba allah-orang Ibrani yang berpendidikan Yahudi menyebutkannya kembali “Seperlima kitab Taurat”.

Adanya pendistribusian atas kelima kitab ini sebelum tarikh Kristen terbukti oleh terjemahan Yunani Septuaginta. Septuaginta memanggil jilid-jilid itu menurut isinya:
Kejadian
(yang dimulai dari sumber akar mula dunia),
Imamat
(yang memuat qanun-peraturan para pater berbunga suku Lewi),
Garis hidup
(tajuk ini dikarenakan garis hidup-bilangan n domestik bab 1-4).
Ulangan
(“Syariat yang kedua”, menurut salah suatu terjemahan Yunani atas Ul 17:18). Stempel-tanda berusul terjemahan Yunani itu menjadi lazim dalam Gereja. Namun intern bahasa Ibrani, anak adam-insan Ibrani dulu dan sampai sekarang menyapa masing-masing kitab itu menurut kata pertamanya ataupun dengan pembukaan penting pertama yang terwalak dalam teksnya.

Kitab Situasi bisa dibagi atas dua episode yang tidak sama panjangnya. Sejarah permulaan, Kej 1:1-11:32, merupakan semacam-macam serambi terbuka menuju rekaman penyelamatan nan akan diceritakannya dalam seluruh Kitab Kudus. Sejarah itu dimulai dengan ceritera tetntang awal balasannya dunia dan menyangkut seluruh umat hamba allah. Dikisahkan didalamnya penciptaan alam sepenuh dan manusia, dosa pertama dan akibat-akibatnya, suntuk kemerosotn moril yang makin musim kian lebih besar dan yang kesannya diberi hukuman melalui air bah. Tiba terbit Nuh, marcapada mulai dihuni lagi oleh bangsa manusia, namun daftar-daftar silsilah semakin dipersempit dan akhirnya terpusat perhatiannya pada Abraham, bapa nasion terpilih. Memori para bapa nasion, Kej 12:1-50:26, menampilkan penggerak-tokoh leluhur bangsa Israel. Abraham ialah seorang beriman; ketaatannya diganjar Halikuljabbar dengan janji, bahwa beliau koteng akan memperoleh keturunan dan keturunannya akan membujur Persil Suci, Kej 12:1-25:18. Yakub berkarakter penokoh; dia berdampak menyingkirkan Esau, kakaknya, dengan licik memperoleh membujur bapanya Ishak dan dalam hal menipu melebihi pamannya, Laban. Namun segala kepandaiannya itu tidak akan berguna, seandainya Allah seorang lain mengutamakan Yakub sejak kelahirannya mulai sejak Esau dan tidak mengulagi janji perjanjian yang dahulu diberikanNya kepada Abraham, Kej 25:19-36:43. Dibandingkan dengan Abraham dan Yakub, maka Ishak seorang pemrakarsa yang minus menonjol. Riwayat hidupnya semata-mata diceritakan demi umur ayahnya, Abraham, dan anaknya adalah Yakub. Kedua belas anak Yakub ialah kakek moyang kedua belas suku Israel. Riwayat keseleo seorang di antaranya dikisahkan pada seluruh bagian ragil kitab Keadaan; bab 37-50 (kecuali 38 dan 49) adalah kisah Yusuf, bani adam berhikmat. Kisah tersebut berbeda sifatnya dengan kisah-kisah nan mendahuluinya. bukan ada campur tangan kontan berusul Sang pencipta atau pewahyuan baru. Seluruh kisah itu maujud suatu pengajaran: maslahat orang berhikmat mendapat ganjarannya dan Penyelenggaraan Ilahi memanfaatkan kedosaan turunan bakal tujuan yang baik.

Kitab Kejadian merupakan suatu kisah yang utuh dan lengkap, yaitu riwayat para leluhur. Ketiga kitab yang berikut adalah kesatuan unik. Dalam buram kehidupan Musa, diceritakan di dalamnya pembentukan umat terpilih serta diberinya syariat sosial dan agama umat itu.

Kitab Bekas berkisar pada dua tema resep: pembebasan dari Mesir, Kel 1:1- 15,21 dan Perjanjian di gunung Sinai, Kel 19:1-40:38. Kedua tema itu dihubungkan satu sama lain oleh satu tema tambambahan adalah perjalanan di padang gurun, Kel 15:22-18:27. Internal babak ini, Musa yang di gurun Yang mahakuasa sudah menerima tanzil nama Yahwe mengantar anak adam-orang Israel bermula perbudakan di negeri Mesir sampai ke gunung yang sama. Di sana dalam penampakan nan mendahsyatkan Allah mencantumkan perjanjian dengan umatNya serta memaklumkan hukum- hukum-Nya kepadanya Perjanjian baru saja diadakan itu, dibatalkan oleh bangsa Israel dengan menyembah lembu emas. Akan semata-mata Tuhan mengampuni umatNya, lalu membaharui perjanjian itu. Suatu rangkaian peraturan mengeset tagut bangsa Israel di padang gurun.

Kitab Imamat yang hampir berisikan peraturan melulu, menghentikan bakal sementara kisah peristiwa-keadaan Kitab ini berisikan: statuta bikin upacara korban, Im 1:1-7:38; upacara pentahbisan para imam yang dijalani Harun serta anak asuh- anaknya, Im 8:1-10:20; peraturan mengenai tahir dan najis, Im 11:1-15:33, serta upacara pujaan hari raya Pendamaian, 16. Habis menyusul “Hukum Kekudusan”, Im 17:1-26:46, yang memuat pula suatu penanggalan liturgis, 23, dan berakhir dengan membujur- berkat dan kutukan-kutukan, 26. Bagaikan tambahan, bab 27 menyusun syarat- syarat tebusan bagi manusia, hewan dan barang yang dikuduskan bagi Yahwe.

Kitab Bilangan menyambut kembali tema perjalanan di padang gurun. Keberangkatan dari bukit Sinai didahului maka dari itu cacah spirit, Bil 1:1-4:49, dan persembahan privat besaran besar bakal pentahbisan Kemah Kudus, 7. Pasca- memestakan Paskah untuk kedua kalinya, bangsa Israel menyingkir gunung Sinai, Bil 9:1-10:36, dan lambat laun memusat Kadesy. Dari danau diadakan suatu percobaan memasuki negeri Kanaan fragmen Selatan yang akhirnya gagal, Bil 11:1-14:45. Selepas lampau di Kadesy selama beberapa waktu, nasion Israel berangkat lagi dan tiba di padang Moab, di seberang daerah tingkat Yerikho, Bil 20:1-25:18. Nasion Midian dikalahkannya dan suku-suku Gad dan Ruben menetap di seberang Yordan, Bil 31:1-32:42. Satu daftar meringkaskan tahap-tahap pertualangan di sahara, Bil 33. Ditengah cerita-cerita yang disebut tadi bisa kita jumpai beberapa kumpulan perundangan yang melengkapi perundangan Sinai maupun menyiagakan pencaplokan Tanah Kanaan,Bil 5:1-6:27; 8:15-19; 26-30; 34-36.

Kitab Ulangan mempunayi aliansi khas, sebab adalah semacam buku undang- undang sipil dan agama, Ul 12:1-26:15, yang disisipkan ke n domestik wejangan tahapan Musa Ul 5-11 dan Ul 26:16-28:68 Kumpulan ini sendiri didahului makanya wejangan Musa mula-mula, Ul 1-4, disusul oleh wejangan yang ketiga, Ul 29-30, dahulu dilengkapi dengan bilang berita mengenai penghabisan kehidupan Musa: pengangkatan Yosua, lantunan dan berbintang terang Musa serta kematiannya, Ul 31-34. Undang-undang kitab ini mengulangi sebagian undang yang diumumkan di padang padang pasir. Ular-ular-ujar-ujar nan kita jumpai dalam kitab ini mengingatkan peristiwa-peristiwa besar di saat bekas, di gunung Sinai dan purwa penundukan kapling yang dijanjikan; wejangan-selang tersebut mengungkapkan arti religius peristiwa-peristiwa itu, menegaskan makna perundangan dan mengajak bangsa Israel biar konstan konstan kepada Allah.

Tata letak DAN GAYA SASTRA

Setidak-tidaknya sejak permulaan sanat Masehi, Musa dianggap bak pencipta kumpulan yang besar ini. Kristus dan para nabi menuruti pendapat tersebut, Yoh 1:45; 5:45-47; Rom 10:5. Namun tradisi yang paling tua tidak pernah dengan tegas membenarkan pendapat, bahwa Musa adalah penyusun seluruh Pentateukh. Apabila di privat Pentateukh sendiri terdapat (jarang sekali) kalimat: “Musa menulis”, maka kata majemuk ini menyangkut bagian-adegan tertentu namun. Sebenarnya penyelidikan ilmiah dan modern terhadap kitab-kitab tersebut, menampilkan perbedaan-perbedan kecenderungan bahasa, pengulangan dan kekacauan dalam cerita, yang menjadi penghalang untuk memandang himpunan ini umpama sebuah karya nan seluruhnya dikerjakan oleh seorang pengarang saja. Sesudah banyak penyelidikan yang dilakukan dengan hati-hati, para kritikus yang hidup sreg akhir abad ke-19, khususnya di bawah otoritas karya-karya Graf dan Wellhause, mencetuskan teori begini: pentateukh adalah kumpulan yang terdiri berpangkal catur biji zakar dokumen yang berlain-lainan arwah dan lingkungan asalnya, namun semuanya berasal dari zaman sesudah Musa. Aslinya ada dua dokumen berisikan ceritera yaitu
Yahwista (J),
yang mulai dari narasi penciptaan mempergunakan nama Yahwe, yaitu nama Tuhan yang diwahyukan kepada Musa, dan Elohista (E), yang memanggil Allah dengan tera umum adalah Elohim. Dokumen Yahwista, menurut teori ini, berbahagia lembaga tertera dalam abad ke-9 di Yehuda, sedangkan Elohista abnormal kemudian berbahagia bentuknya di Israel. Sesudah musnahnya Kerajaan Paksina, kedua dokumen itu dilebur menjadi suatu (JE). Pasca- tuanku Yosia, kitab
Ulangan (D)
ditambahkan kepada gabungan tadi (JED). Sesudah Pembuangan,
Kitab Hukum Para Imam
(P), yang terutama berisikan peraturan-peraturan dan beberapa ceritera, disatukan dengan kumpulan tadi dan menjadi kerangka dan bingkainya (JEDP).

Teori sertifikat nan klasik ini , yang sekali lagi dihubungkan dengan suatu gagasan tentang evolusi paham-reseptif keagamaan bangsa Israel, karena mana tahu dipersilahkan. Dewasa inipun seluruh teori tersebut masih ditolak oleh sebagian para juru. Sejumlah ahli tak menerimanya dengan perubahan-persilihan yang patut penting. Enggak ada dua orang ahlipun nan seluruhnya sependapat dalam menentukan babak- bagian Pentateukh manakah yang termasuk ke dalam sendirisendiri pertinggal. Terutama di masa sekarang ini para juru sependapat, bahwa penyelidikan bersumber segi bahasa namun tidak cukup menerangkan kaidah digubahnya Pentateukh. Penyelidikan bahasa itu masih perlu dilengkapi dengan penyelidikan akan halnya bentuk sastra dan tradisi oral atau termuat yang mendahului pengubahan sumber-sumber Pentateukh. Masing-masing akta, lebih lagi yang paling mudapun (P), memuat zarah-unsur yang dulu tua renta. Kesusastraan kuno di Timur Dekat yang ditemukan kembali serta kemajuan ilmu arkheologi dan sejarah, yang mengungkapkan laporan baru tentang peradaban- kultur dan bangsa-bangsa yang bertetangga dengan Israel, membuktikan, bahwa sebagian ki akbar undang alias peraturan yang terdapat privat Pentateukh sangat serupa dengan undang atau peraturan di luar Kitab Putih dan bertambah tua usianya dari pada yang ditetapkan bakal “dokumen-surat”tadi. Ternyata pula sejumlah ceritera Kitab Tulus mengadaikan lingkungan lain dan lebih bertongkat sendok dari pada lingkungan tempat “kopi-pertinggal” itu disusun. Aneh-aneh tradisi dari zaman silam, baik hukum alias ceritera, terpelihara di palagan-tempat suci atau turun-temurun diceriterakan oleh ahli-ahli ceritera di kalangan rakyat. Pagar adat- tradisi itu dikumpulkan menjadi pusparagam-kumpulan lebih rendah raksasa, lalu dituliskan atas desakan halangan-halangan tertentu atau maka dari itu seorang otak yang berperan penting. Hanya penggubahan-penggubahan itu bukanlah tahap buncit. Sebaliknya koleksi-kumpulan tradisi itu disadur juga, ditambah dan kesannya digabungkan satu sebabat enggak menjadi Pentateukh yang kita miliki. “Perigi-sendang” tertulis dari Pentateukh merupakan tahap-tahap penting intern perkembangan yang lama. Aliran-revolusi adat istiadat yang lebih tua seolah-olah tersimpul di dalamnya, lalu mengalir terus dan berkembang.

Banyaknya aliran tradisi tersebut merupakan proklamasi yang mengklarifikasi adanya ceritera dobel, tubian dan penangkisan-perlawanan yang menganehkan pembaca start dari halaman-pelataran purwa kitab Kejadian; dua kisah mengenai reka cipta, Kej 1:1-2:4a dan Kej 2:4b-3:24; dua silsilah Tiras-Keni-Kenan, Kej 4:17 dst dan Kej 5:12-17; jalinan dua cerita tentang air bah, Kej 6-8. kerumahtanggaan riwayat para bapa bangsa, perjanjian Abraham diceriterakan sebanyak dua kali, Kej 15 dan Kej 17; dua kali Hagar diusir, Kej 16 dan Kej 21; ada tiga ceritera akan halnya nasib malang isteri seorang Bapa Bangsa di negeri asing, Kej 12:10-20; 20; 26:1-11; gabungan dua ceritera tentang Yusuf dan saudara- saudaranya, yang terdapat dalam ki-bab ragil kitab Kejadian. Terdapat pula dua cerita mengenai panggilan Musa, Kej 3:1-4; 17 dan Kej 6:2-7:7, dua mujizat air di Meriba, Kej 17:1-7 dan Bil 20:1-13; dua bacaan Dekalog, Kej 20:1-17 dan Ul 5:6-21; catur penanggalan liturgis, Kej 23:14-19; 34:18-23; Im 23; Ul 16:1-16. Dapat dikemukakan banyak contoh lain lagi. Bersendikan kesamaan bahasa, gaya bahasa dan gagasan-gagasan bagian-bagian tertentu dari Pentateukh dapat dikelompokkan, sehingga tampillah kesatuan-kesatuan (ceritera-ceritera dan syariat-hukum) nan berbeda satu sederajat bukan dan yang l.k. utuh-kamil. Dengan demikian ditemukan empat aliran adat istiadat.

Tali peranti
“Yahwista”
(disebut demikian karena mulai dengan kisah penciptaan mempergunakan jenama Yang mahakuasa yang partikular yaitu
Yahwe) mempunyai gaya bahasa yang semangat dan berwarna-warna; melalui bahasa penuh buram dan berkat bakat berceritakan yang mengagumkan, tradisi ini menjawab secara mendalam pertanyaan- tanya serius yang dimbul dalam hati setiap manusia; idiom-idiom manusiwi yang dipakainya dalam berceritera tentang Allah, menyembunyikan satu rasa keagamaan yang bermutu hierarki. Sebagaimana pengantar ke dalam sejarah para karuhun Israel, disajikannya sebuah rangkuman sejarah umat manusia sejak penciptaan imbangan individu pertama. Pagar adat in berbunga berbunga Yehuda dan barangkali bagiannya yang terpenting dicatat di zaman tadbir emir Salomo. Internal kumpulan teks yang dikatakan termasuk adat istiadat ini, kadang-kadang ditemukan sebuah tradisi sehaluan, yang radiks-usulnya sama juga, tetapi memantulkan gagasan- gagasan yang kadang-kadang lebih kuno dan kadang kala berbeda-beda dengan nan lazim dalam Yahwista; kepada adat istiadat itu diberi tanda Y 1(Yahwista nan pertama) maupun L (sebab berasal berpunca kalangan kabilah publik) atau Tepi langit (sebab berasal berasal kaki- tungkai Badui). Pembedaan ini tampaknya dapat dibenarkan, namun sukar menentukan, apakah di sini terdapat satu tradisi yang remang sendiri ataukah semata-mata beberapa elemen saja yang diambil-alih oleh adat istiadat Yahwista dengan mengindahkan coraknya yang asli.

Leluri
“Elohista”
nan ciri khas lahiriahnya yakni penggunaan nama umum bagi Tuhan (Elohim), berbeda dengan tradisi Yahwista, karena gaya bahasanya kian sederhana dan juga cacat menjajarkan, lagi pula karena dalam hal moral kian banyak tuntutannya dan karena usahanya mempertahankan jarak yang memisahkan individu dengan Allah. Dalam leluri ini lain terdapat ceritera- ceritera adapun radiks jadinya dunia; ia mulai dari Abraham. Barangkali leluri ini lebih muda dari lega tradisi Yahwista dan lazimnya dikatakan berasal pecah suku-suku Utara. Beberapa juru tidak menyetujui adanya leluri Elohista terpisah. Mereka menganggap hipotesa tentang pelengkapan, penyempurnaan maupun penyadaran yang diadakan terhadap karya Yahwista sebagai hipotesa yang sudah memadai memuaskan. tetapi teori tentang adanya suatu tradisi dan penulisan tradisi E, yang mula-mula merembas koteng, bukan hanya didukung maka itu ciri-ciri khas puas gaya bahasa dan ajaran tetapi juga oleh perbedaan dengan J dalam asal-usulnya. Teori ini didukung kembali oleh kenyataan, bahwa mulai dari Abraham sampai dengan ceritera-ceritera tentang wafatnya Musa, kisah E yang sejalan dengan kisah J, cukup arketipe sekalian berbeda dengan J.

Maka satu hal penting perlu diperhatikan. Cak agar corak-corak yang membeda- bedakannya, saja ceritera-ceritera Yahwista dan Elohista puas kahekatnya mengisahkan sejarah yang sama. Jadi kedua leluri ini n kepunyaan tutul-pangkal yang sama. Suku-suku Israel di Utara dan di Selatan n kepunyaan tradisi yang sama. Tradisi itu menertibkan kenangan-kenangan bangsa Israel privat hal sejarahnya, yakni: urutan ketiga bapa bangsa Abraham, Ishak dan Yakub, tamatan dan Mesir nan digabungkan dengan penampakan Allah di gunung Sinai, penyatuan Perjanjian di gunung Sinai nan dihubungkan dengan pendudukan wilayah Trans-Yordania, yang menjadi tahap terakhir sebelum direbutnya Tanah Terjanji. Tradisi bersama ini tiba terbentuk secara verbal dan mungkin juga secara tercatat sejak zaman para Hakim, adalah sejak Israel start menjadi suatu bangsa.

Tradisi Yahdisi maupun Elohista memuat hanya sedikit teks berupa hukum; yang minimum bermanfaat ialah Kitab Syariat Perjanjian yang akan dibicarakan kemudian hari. Sementara itu sebaliknya, hukum-syariat ialah urat tradisi
Para Imam. Hukum-hukum itu khususnya mengenai Bait Murni, bulan-bulanan-target dan hari-hari raya, pribadi dan tugas Harun serta keturunannya. Tetapi di samping penggalan-fragmen nan berisikan hukum atau yang akan halnya rajah-lembaga keagamaan itu, tradisi Para Imam memuat lagi cerita. Kisah-cerita itu khususnya menjadi terperinci mana rasi dapat menyibakkan perhatian eksklusif nan diberikan oleh leluri Para Pendeta kepada hukum dan fetis. Tradisi in menggemari angka-nilai dan alur-silsilah. Karena aset pembukaan yang khas dan gaya bahasanya yang komplet, tradisi itu mudah dikenal Inilah tradisi para pater Stanza Suci di Yerusalem. Walaupun di dalamnya terpelihara neko-neko partikel historis, hanya tali peranti ini baru terwujud di masa pembuangan Israel dan plonco awam diterima dan start beredar setelah Israel juga bermula pembuangan. Di dalamnya dibeda-bedakan bilang lapisan atau tahap penggubahan. Selebihnya runyam ditentukan, apakah tradisi in perpautan ngeri sendiri bak sebuah karya tertulis. Agaknya makin mungkin, bahwa seseorang atau beberapa orang yang mewakili tradisi para imam di Yerusalem itu memungut bahannya dan leluri-tradisi yang sudah ada, terlampau menggubah dan menerbitkan Pentateukh seperti mana sekarang terserah.

Dalam kitab Kejadian garis-garis ketiga pagar adat tersebut, yakni Yahwista, Elohista dan Para Imam, agak mudah diikuti. Sesudah kitab Kejadian pagar adat Para Imam gampang tetapi dipisahkan berbunga kedua tradisi lain, terutama privat fragmen buncit kitab Lulusan, seluruh kitab Imamat dan bagian-bagian besar dari kitab Ganjaran. Tetapi sehubungan dengan alamat lain privat ketiga kitab itu selit belit ditentukan mana termasuk tradisi Yahwista dan mana termasuk tradisi Elohista. Sesudah kitab Bilangan, ketiga tali peranti tersebut pupus sewaktu-waktu sampai muncul kembali dalam bab 31 dan 34 berasal kitab Ulangan. Ketiga tradisi tersebut diganti dengan tradisi enggak, yakni tradisi
Ulangan(D).
Tradisi ini dapat dikenal menerobos bahasa yang distingtif, yaitu bahasa berlebih-lebihan dan berupa seni berkhotbah, di mana sering terulang ungkapan-ungkapan yang tetap sama; dapat dikenal melalui visiun yang bersambung-sambung ditegaskan kembali, yaitu bahwa berbunga antara segala bangsa, Allah telah berkenan memilih Israel sebagai umatNya. Sekadar pilihan itu dan perjanjian yang mutakadim mengukuhkannya bersyarat ketaatan Israel kepada Syariat Allahnya dan kepada Ibadat protokoler yang harus diadakan bagiNya dalam suatu Kuplet Kudrati saja. Kitab Ulangan ialah tahap ragil sebuah leluri yang berdekatan dengan tradisi Elohista dan dengan gerakan para nabi. Tetapi suara minor tradisi D itu sudah terdengar dalam beberapa penggalan Kitab Lugu yang agak lanjut umur. Bagian inti kitab Ulangan kelihatannya memuat rasam-istiadat Kerajaan Utara yang oleh orang-khalayak Lewi dibawa ke Yehuda sesudah kerajaan Samaria musnah. Kitab hukum yang barangkali sudah lalu diberi rangka sebuah wejangan Musa itu disimpai dalam Bait Ikhlas di Yerusalem. Di zaman prabu Yosia ditemukan juga, tinggal diumumkan bagi kontributif pembaharuan agama di Yehuda. Kitab itu diterbitkan kembali (dengan adendum atau saduran) pada tadinya periode pembuangan.

Berpangkal pada kumpulan-kumpulan pagar adat yang berbeda-beda itu, kitab Pentateukh bertahap-tahap bertaruk dan digubah. Sahaja pelik menentukan waktunya masing-masing tahap dikerjakan. Tradisi Yahwista dan Elohista digabungkan di Yehuda puas hari pembalasan imperium, barangkali di masa pemerintahan Hizkia, sebab berdasarkan Ams 25:1 kita ketahui, bahwa di zaman itu karya-karya sastra kuno dikumpulkan. Menjelang pengunci perian Pembuangan, kitab Ulangan, yang dianggap sebagai kitab hukuman yang diberikan oleh Musa di padang Moab, sididipkan antara bagian terakhir kitab Bilangan dan ceritera-ceritera adapun pengangkatan Yosua dan kematian Musa, Ul 31 dan 34. Mungkin , bahwa enggak lama kemudian pada kitab ini ditambahkan adat istiadat Para Pastor, atau, jikalau ini lebih disukai, bahwa para penyelenggara pertama dari kalangan para imam mulai menangani kitab itu. Namun bagaimanapun juga “Taurat Musa”, nan dibawa bermula Babel maka itu Ezra, rupa-rupanya adalah kitab Pentateukh nan bentuknya sudah memfokus bentuk yang minimal akhir.

Hubungan antara Pentateukh dengan kitab-kitab Alkitab berikut menjadi sebab timbulnya pelbagai hipotesa yang ganti inkompatibel. Sejak lama sementara tukang Kitab bicara adapun “Heksateukh”, yaitu tentang sebuah kitab yang berjilid enam, yang mencakup juga kitab Yosua dan bagian pertama kitab Hakim-hakim. Mereka menemukan di dalamnya lanjutan ketiga sumber Pentateukh, yakni J, E dan P. Mereka menggarisbawahi, bahwa tema ikrar yang semacam itu sering unjuk kerumahtanggaan ceritera- ceritera Pentateukh memaksudkan adanya privat tradisi itu ceritera-ceritera nan mengisahkan pula pelaksanaan janji-janji tersebut, merupakan perebutan Tanah Terjanji. Menurut pendapat mereka, kitab Yosua baru kemudian dipisahkan berpunca kesatuan itu, lalu menjadi kitab permulaan dari kitab-kitab sejarah. Sebaliknya, pengarang-pengarang yang lebih baru wicara mengenai “Tetrateukh”, yakni tentang kitab nan berjilid empat, nan bukan mencakup kitab Ulangan. Menurut mereka, kitab Ulangan mula-mula dipakai sebagai pendahuluan sebuah kitab ki kenangan yang berlangsung hingga dengan akhir perian para raja(karenanya kita Sejarah itu diistilahkan sebagai kitab “Album Ulangan”). Kemudian kitb Ulangan dipisahkan mulai sejak kitab sejarah tersebut, waktu orang ingin mengumpulkan di dalam suatu karya – ialah Pentateukh kita – segala sesuatunya yang mencantol diri Musa serta karyanya. Pendapat yang kedua inilah nan dalam terbitan Kitab Suci ini akan dituruti internal kata pengatar untuk masing-masing kitab rekaman dan diandaikan dalam beberapa goresan, walaupun di sana-sini pendapat itu akan dirubah seperlunya. Sekadar terlazim loyal diingat, bahwa semuanya cuma konkret hitopesa. Sahaja juga pendapat adv amat mengenai Heksateukh berupa hipotesa doang.

Sudah jelaslah kiranya, bahwa ketidak-pastian nan sekufu menyangkut sejumlah besar persoalan yang ditimbulkan oleh caranya Pentateukh digubah. Memang kitab itu digubah sepanjang sekurang-kurangnya enam abad dan kamu mencerminkan perubahan- perubahan yang dialami hidup kebangsaan dan keyakinan Israel. Namun supaya pasang surut yang dialaminya itu, perkembangan Pentateukh sreg terpangkal nampaklah homogen. Sudah dikatakan di atas, bahwa tali peranti-leluri yang berupa ceritera berpangkal dari zaman terbentuknya bangsa Israel. Dengan memperhatikan seperlunya perbedaan, maka situasi nan sama boleh dikatakan tentang bagian-babak Pentateukh nan berisikan syariat. Putaran-bagian itu memuat hukum sipil dan agama nan berkembang bersama dengan masyarakat yang dipimpin olehnya, tetapi dasar- usul hukum itu bercampur dengan asal-usul bangsa itu sendiri. Ada kintinuitas dalam perkembangan dan kontinuitas itu mempunyai pangkal keyakinan: iman akan Yahwelah yang memufakatkan bangsa itu dan iman akan Yahwe itu dibayangi oleh pribadi Musa. Dialah pangkal hidup keyakinan bangsanya dan diapun sebagai yang purwa membagi syariat dan undang-undang kepada bangsanya. Tradisi-leluri sebelumnya yang terarah kepada Musa dan kenangan akan keadaan-hal yang dipimpin olehnya, akhirnya menjadi narasi sejarah terbentuknya bangsa Israel. Untuk seterusnya agama Musalah nan menentukan ajun dan adat-istiadat keagamaan Israel. Sebab syariat Musa tetap menjadi pedoman bikin bangsa itu. Aklimatisasi-orientasi nan dituntut maka itu perubahan-transisi zaman diadakan menurut jiwa dan arwah Musa dan ditempatkan di radiks kewibawaannya. Tidaklah signifikan, bahwa kita bukan dapat dengan pasti menentukan satu bagianpun semenjak Pentateukh sebagai karya Musa seorang, sebab dialah yang menjadi pencetus utama bakal seluruh kitab itu. Makanya karenanya tidak kelirulah tali peranti Yahudi yang menyapa Pentateukh ibarat Kitab Taurat Musa.

CERITERA-CERITERA DAN Sejarah

Tidaklah bijaksana, jikalau pecah sreg tradisi-tali peranti nan merupakan peninggalan yang hidup untuk suatu nasion dan yang membangun rasa persatuannya dan melandaskan kepercayaannya, akan kita tuntut segala nan dapat dituntut mulai sejak lega ahli ilmu sejarah kerumahtanggaan fungsi bertamadun. namun tidaklah adil pun mengubah adanya kebenaran di dalamnya cuma karena tidak adanya norma-norma ilmu ki kenangan bertamadun.

Kesebelas bab pertama kitab Kekaisaran perlu diperhatikan secara tersendiri. Secara populer diceriterakan di dalamnya awal-mula bangsa basyar; dengan gaya bahasa yang sederhana dan penuh gambar, nan dengan mentalita bangsa nan kurang bertamadun, diungkapkannyalah keabsahan-kebenaran muslihat yang menjadi radiks seluruh pengelolaan keselamatan, adalah: Halikuljabbar menciptakan mayapada puas awal mula; Allah berkujut langsung dalam penciptaan pria dan wanita; persatuan manusia; dosa karuhun pertama; kemerosotan dan ikab bebuyutan yang dijatuhkan kepadanya. Akan tetapi kebenaran-kebenaran ini yang menyangkut dogma dan diperkuat maka itu kewibawaan Kitab Jati, kontan merupakan fakta. apabila validitas-kebenaran ini memang karuan, maka di dalamnya diandaikan fakta-fakta kasatmata, biarpun kita tak mampu menentukan dengan tepat hal-ihwalnya, sebab terselubung internal bungkusan mitos yang dipakaikan padanya sesuai dengan mentalita masa dan mileu yang bersangkutan.

Sejarah para bapa bangsa yakni sejarah anak bini; dikumpulkan di dalamnya kenangan-kenangan yang masih terpelihara adapun para leluhur, yaitu Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf. Sejarah itu berperilaku populer: engkau demen akan peristiwa- peristiwa yang mencantol pribadi bapa-bapa nasion dan diceriterakan dengan mengaryakan daya khayal nan menyegarkan. Tidak ada usaha sedikitpun cak bagi menyambat ceritera-ceritera itu dengan sejarah umum. Selebihnya memori itu sejarah keagamaan; barang apa hal yang menentukan, disertai campur tangan Tuhan, sehingga tampaknya sebagai rekaman yang diatur oleh Manajemen Ilahi. Pendekatan ini secara teologis memang tepat, tetapi tidak peduli akan supremsi sebab-sebab di asing Sang pencipta. Lagi pula semua keadaan dikemukakan, dijelaskan dan dikumpulkan buat membuktikan suatu kebenaran keagamaan, yaitu: ada
suatu
Allah yang membentuk
satu
umat dan nan memberikan kepadanya
satu
distrik. Almalik itu adalah Yahwe, umat itu tidak lain bersumber Israel dan negeri itu yakni Tanah Suci. Akan belaka ceritera-ceritera itu ialah memori, sejauh dengan caranya sendiri mengisahkan peristiwa-peristiwa riil dan sejauh memberi paparan tepat mengenai asal-usul dan pelawatan leluhur Israel, mengenai pergaulan-sangkut-paut geografis dan etnis serta mengenai ulah moril dan religius mereka. Kesangsian-kesangsian yang dikemukakan tentang ceritera-ceritera itu agar dijauhkan, mengingat bahwa ceritera-ceritera itu didukung oleh bukti- bukti yang dihasilkan maka itu penemuan-penemuan terbaru di permukaan album dan arkheologi di negeri-negeri Timur Dempet.

Setelah jangka musim lama nan tidak ada beritanya kitab Tamatan maupun kitab Ketentuan, yang masih bergema n domestik portal-bab purwa kitab Ulangan, membualkan peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak kelahiran sampai dengan kematian Musa yaitu: keluaran Israel dari Mesir, perhentian di daerah gunung Sinai, perjalanan menuju Kadesy, pengembaraan melewati distrik Trans-Yordania dan menerapkannya Israel di padang Moab. Takdirnya kebenaran historis peristiwa- hal tersebut maupun pribadi Musa hendak disangkal, maka mustahillah menjelaskan kesinambungan memori Israel, kesetiaannya kepada Yahwe serta terlekatnya nasion itu pada hukum Taurat. Namun perlu diingat, bahwa pentingnya kenangan-kenangan tersebut kehilangan bangsa Israel dan gemanya kerumahtanggaan ibadat membagi ceritera-ceritera itu ciri narasi keberanian (misalnya penyeberangan laut) dan kadang-kadang rupa tagut (Paskah). Sesudah menjadi bangsa, Israel tampil di panggung sejarah publik. Kendatipun tiada satu dokumen kunopun yang menyinggung Israel, kecuali satu garitan pada tugu Firaun Merneptah yang bukan jelas maksudnya, namun segala nan diceriterakan oleh Kitab Suci tentang Israel, n domestik garis-garis besarnya sesuai dan cocok dengan barang apa yang diberitahukan maka itu teks-teks dan arkheilogi mengenai masuknya kelompok-kerubungan bangsa Semit ke Mesir, akan halnya manajemen negara di Delta Nil dan akan halnya keadaan politik di negeri di memintas batang air Yordan.

Tugas ahli hobatan sejarah modern adalah membandingkan berita-berita Kitab Asli dengan fakta-fakta sejarah umum. Dengan sikap membedabedakan nan dikarenakan kurangnya wangsit-wangsit Kitab Suci serta ketidak-pastian khronologi hal-kejadian yang tidak tercatat Kitab Safi, dapat dikatakan: Abraham hidup di negeri Kanaan sekitar thn. 1850 seb. Masehi; Yusuf mencapai kursi menjalankan tugasnya di Mesir tidak lama sehabis thn. 1700; pada musim yang proporsional “anak-momongan Yakub” lainnya bergabung dengannya. Buat menentukan tahun keluaran tidak dapat kita percaya petunjuk-petunjuk nan terwalak dalam 1Rj 6:1 dan Properti 11:26, sebab petunjuk-petunjuk tersebut dimasukkan dan berasal dari perhitungan nan dibuat-bagi. Biarpun demikian, Kitab Zakiah menjatah satu visiun yang pasti; menurut teks kuno Kel 1:11, orang-orang Ibrani ikut membangun daerah tingkat-ii kabupaten pangkalan (perniagaan)Pitom dan Raamses. Maka keadaan mantan terjadi sesudah Firman Ramses II yang mendirikan kota Raamses itu naik kedudukan. Karya-karya besar itu dimulai pada awal pemerintahannya dan mungkin sekali kelompok di sumber akar pimpinan Musa menyingkir Mesir di pertengahan pertama atau di selingkung pertengahan pemerintahannya yang amat lama (1290-1224), katakanlah di seputar thn. 1250 seb Serani atau sedikit sebelumnya. apabila kita perhatikan tradisi Kitab Suci tentang Israel dipadang sahara yang berlangsung selama musim usia suatu keturunan, maka pendudukan daerah di seberang Yordan terjadi sedikit lebih sreg thn. 1225 seb. Masehi. Tanggal tersebut cocok dengan permakluman-keterangan mulai sejak histori umum tentang tempat kediaman para Firman dar wangsa ke-XIX di Muara sungai Nil, akan halnya mundurnya kuasa negara Mesir di Siria-Palestina pada akhir pemerintahan Ramses II, dan tentang kerusuhan-kerusuhan yang puas pengunci abad ke- 13 timbul di seluruh wilayah Timur Dekat, Tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan petunjuk-ajaran terbit arkheologi mengenai awal Zaman Besi yang bersamaan waktunya dengan menetapkan sosok-orang Israel di Kanaan.

PERUNDANG-UNDANGAN

Dalam Kitab Tulen Yahudi, Pentateukh disebut
Taurat; dan memang sesungguhnya terdapatlah di dalamnya kumpulan statuta nan mengatur semangat kesusilaan, sosial dan agama bangsa Israel. Bagi kita yang berpandangan maju, ciri nan paling menarik dalam hukum tersebut ialah sifat keagamaannya. Ciri ini dapat dijumpai juga dalam beberapa kitab hukum mulai sejak daerah Timur di zaman dahulu. Sekadar tidak ada satupun yang di dalamnya unsur materialisme dan unsur sakral bercampur aduk dan saling meresapi dengan prinsip sebagai halnya yang terjadi dalam syariat Taurat Israel. Di Israel hukum didiktekan makanya Allah; hukum itu mengatak bahara-muatan terhadap Halikuljabbar; undang-undangnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan keagamaan. Situasi ini dengan sendirinya dapat dipahami bakal peraturan-peraturan tata krama Dekalog ataupun buat hukum-hukum fetis yang terwalak kerumahtanggaan kitab Imamat, akan tetapi jauh lebih berarti, bahwa intern kumpulan yang sama bercampur-baurlah syariat-hukum perdata dan perbicaraan serta perintah-perintah agama dan bahwa semuanya itu dikemukakan bagaikan surat perjanjian dengan Yahwe. Karena demikian halnya, maka pemakluman hukum-hukum itu secara wajar dihubungkan dengan ceritera- ceritera mengenai peristiwa-peristiwa di padang sahara, di mana perjanjian itu diadakan.

Makanya karena hukum dibuat bagi dilaksanakan, maka timbullah keharusan menyesuaikannya dengan keadaan dan dengan zaman yang berubah-ubah. Dengan demikian menjadi jelas, mengapa n domestik himpunan-kumpulan yang nanti akan kita kupas, sekaligus dapat ditemukan unsur-unsur kuno maupun kaidah-prinsip ataupun peraturan-peraturan yang membuktikan adanya keperluan-keperluan bau kencur. Di lain pihak, tidak dapat tidak Israel privat hal in bergantung pada tetangga- tetangganya. Penetapan-penetapan tertentu dalam Kitab Hukum Perjanjian atau kitab Ulangan, mirip sekali dengan Kitab-kitab Hukum berpokok Mesopotamia, Antologi Syariat berusul Asyur dan Kitab Syariat bangsa Het. Bukan pinjaman serta merta, namun kesamaan-kesamaannya itu dapat diterngkan makanya otoritas hukum asing ataupun oleh hukum adat yang sebagian merupakan milik bersama bangsa-nasion Timur Dempet di zaman dahulu kala. Selebihnya sesudah batih bermula Mesir dan pencaplokan area Kanaan, otoritas Kanaan internal peristiwa undang dan rajah-rancangan ibadat sangat terasa sekali.

Dekalog
ialah “Kesepuluh Firman” yang tergores di atas loh-loh bujukan di gunung Sinai. Beliau memuat undang-undang dasar, baik di bisang budi pekerti maupun di bidang agama. Dekalog itu merupakan undang-undang dasar perjanjian. ia disajikan sebanyak dua kali, Kel 20:2-17 dan Ul 5:6-18, dengan perbedaan- perbedaan nan layak samudra. Kedua nas tersebut mulai sejak dari sebuah kerangka Dekalog yang lebih bertongkat sendok dan lebih singkat. Bahwa Dekalog yang asli itu berasal berbunga Musa tidak dapat dibantah oleh argumen apapun.

Kitab Hukum (Elohista) Perjanjian,
Kel 20:22-23:33(atau 20:24-23:9) disisipkan antara Dekalog dan ceritera tentang diikatnya perjanjian di jabal Sinai. Doang Kitab Syariat itu sesungguhnya berlatar-pantat suatu keadaan masyarakat di zaman kemudian berpunca zaman Musa. Kitab itu berisikan syariat-hukum dari satu masyarakat kaum tani dan peternak. Perasaan khusus yang diberikan kepada ternak, perumahan, pekerjaan di huma dan di kebun anggur mengumpamakan bahwa Israel sudah lama menetap di negeri Kanaan. Hijau di zaman itulah Israel dapat mengenai dan melaksanakan hukum aturan, yang dari padanya Kitab Hukum tersebut mencekit bahannya. Hukum aturan itupun bisa membersihkan, mengapa Kitab Hukum Perjanjian hingga dengan peristiwa terperinci lewat serupa dengan kitab-kitab hukum dari kawasan Mesopotamia. Cuma Kitab Hukum Israel itu dijiwai makanya agama Yahwe dan akibatnya cangap kelihatannya menantang peradaban wilayah Kanaan. Dengan tak menata dan menyusunnya dengan rapih, Kitab Hukum Perjanjian mengumpulkan bervariasi kerubungan perintah-perintah. Perintah-perintah itu berbeda baik isinya atau perumpamaannya. Cak semau yang maujud syarat: Kalau hal ini alias itu terjadi, dilakukan, maka harus diperbuat begini begitu; maka perintah-perintah jenis itu tidak mempunyai nada mutlak. Cak semau juga hukum-hukum yang berupa perintah/pemali dan yang secara mutlak berlaku. Kumpulan hukum-hukum itu mula-mula berdiri koteng dan mendahului adanya kitab Ulangan. Sebab Kitab Ulangan memang memanfaatkan Kitab Hukum Perjanjian. Oleh karena kitab itu tidak menyinggung jabatan raja, maka boleh disimpulkan, bahwa berpunca bermula zaman para Hakim. Sebelum kitab Ulangan disusun, Kitab Hukum Perjanjian sudah disisipkan ke n domestik ceritera-ceritera tentang peristiwa-peristiwa di gunung Sinai.

Kitab Hukum
yang tersurat privat
kitab Ulangan, Ul 12:1 – 26:13, merupakan bagian inti kitab Ulangan, nan ciri-ciri khasnya dan sejarahnya sudah lalu diuraikan di cahaya muka. Kitab Syariat ini meminjam sebagian hukum berpangkal Kitab Hukum Perjanjian, tetapi menyetarafkan dengan perubahan-perlintasan yang terjadi dalam pengelolaan ekonomi dan sosial Israel. Sebagai komplet bandingkan soal penghapusan hutang dan martabat para budak, Ul 13:1-11 dan Kel 23:10-11; Ul 13:12-18 dan Kel 21:2-11. akan sahaja, menginjak dari perintahnya pertama. Kitab Hukum ini langsung bertentangan dengan Kitab Hukum Perjanjian dalam satu kejadian penting: kitab Hukum Perjanjian membenarkan adanya banyak tempat nirmala, Kel 20:24, padahal kitab Ulangan menargetkan bak hukum bahwa hanya suka-suka suatu bekas ibadat saja, Ul 12:2-12. Sentralisasi kultus ini menyebabkan pergantian-persilihan dalam ordinansi- ordinansi lama yang mencantol korban-korban, bagian sepersepuluh dan hari-waktu raya. Kitab Hukum Ulangan memuat juga peraturan-peraturan yang tidak terdapat dalam Kitab Hukum Perjanjian dan yang kadang-kadang bercorak ketuaan. Ordinansi- peraturan itu berasal dari sumber-sumber yang tidak dikenal. Apa yang menjadi hoki kita Kitab Masif Ulangan dan yang menunjukkan perubahan zaman ialah usaha untuk melindungi orang-orang yang lemah, peringatan yang berulang-ulang tentang hoki-hak Tuhan atas negeriNya dan umatNya, serta nada ajakan yang meresapi statuta-peraturan hukum itu.

Lamun
kitab Imamat
hijau mendapatkan bentuknya yang definitip sesudah masa Pembuangan, saja terdapatlah di dalamnya unsur-zarah yang sangat kuno, mis. tabu-larangan tentang alat pencernaan, 11, atau peraturan-regulasi mengenai ketahiran, Im 13-15. Upacara ibadat hari raya Penenangan, 16, nan berasal bersumber zaman belakangan,menggabungkan suatu pengertian sangat privat mengenai dosa dengan formalitas pentahiran nan historis sekali. Bab-ki 17-26 ialah suatu keseluruhan nan disebut “Hukum Kekudusan” dan pertama terpisah dari Pentateukh. Syariat itu mengumpulkan berbagai-bagai partikel. Beberapa di antaranya dapat dikembalikan pada masa tungkai-suku Israel masih Badui (demikian halnya dengan gapura 18), sedangkan hukum-syariat tidak berpokok dari zaman sebelum Pembuangan dan yang lain kembali mulai sejak zaman kemudian. Cak bagi permulaan kalinya hukum-hukum itu dikumpulkan di Yerusalem menjelang masa Pembuangan dan kumpulan pertama itu barangkali dikenal maka itu Yehezkiel, sebab bahasa serta isi kitab Yehezkiel menunjukkan banyak kesamaan dengan “Hukum Kekudusan” itu. Akan doang “Syariat Kekudusan” itu mentah diumumkan di masa Pembuangan, sebelum dimasukkan ke dalam Pentateukh makanya penyusun-penyusun pentateukh semenjak kalangan para Rohaniwan yang menyesuaikannya dengan incaran lain yang mereka kumpulkan.

Maslahat Religiositas

Agama Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru merupakan agama bersejarah: dasarnya ialah wahyu yang diberikan Halikuljabbar kepada basyar-hamba allah tertentu, di tempat-arena tertentu, internal keadaan-kejadian tertentu; halangan ialah interferensi Allah kapan-momen tertentu kerumahtanggaan perkembangan umat manusia. Pentateukh nan menguraikan album hubungan Yang mahakuasa dengan bumi itu, yakni dasar agama Yahudi dan telah menjadi Kitab Suci utamanya; kamu sudah menjadi hukum baginya.

Orang Israel menemukan di dalamnya keterangan akan halnya tujuan hidupnya. Bukan hanya di bagian pertama kitab Hal boleh dijumpai olehnya jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan nan bercokol dalam hati setiap manusia tentang marcapada dan sukma, penderitaan dan kematian, melainkan dijumpainya pula jawaban atas permasalahan yang khusus, persoalan Israel, yaitu: mengapa Yahwe nan Esa ialah Halikuljabbar Israel, mengapa Israel adalah umatNya nan tersortir di antara segala bangsa di bumi? Jawabannya ialah: sebab Israel telah mengamini janji. Memang. Pentateukh adalah kitab janji: kepada Adam dan Guru, sesudah jatuhnya ke dalam dosa, diberitakan keselamatan nan akan datang (Pra-Injil); kepada Nuh, pasca- air bah, diberi jaminan akan datangnya “orde yunior” di marcapada; khususnya taki itu diberikan kepada Abraham. janji nan diberikan kepadanya diperbaharui oleh Sang pencipta bagi Ishak dan Yakub dan mencakup seluruh nasion yang akan menjadi baka mereka itu. Taki itu secara langsung terarah puas pendudukan negeri nan aliansi didiami oleh para bapa nasion, yakni Petak Terjanji, sekadar di dalamnya tercakup lebih dari itu, yakni: ikrar itu menjadi tanda akan adanya hubungan unik dan yang tiada bandingannya antara Israel dan Sang pencipta para karuhun.

Sebab Yahwelah nan telah menyebut Abraham. Panggilan itu menjadi pralambang terpilihnya Israel. Yahwehlah yang mewujudkan mereka menjadi
satu
bangsa, lalu satu bangsa itu menjadi
umatNya
seorang. Semuanya berdasarkan pilihan bebas terbit pihak Sang pencipta dan berurat-berakar kerumahtanggaan sebuah gambar penuh rahmat yang dimulai sejak ketika rakitan dan berlangsung terus, kendati segala ketidak- setiaan dari pihak manusia.

Ikrar serta pilihan itu terjamin dalam perjanjian. Pentateukh adalah kitab pelbagai perjanjian. Ada perjanjian yang, meskipun jadi-jadian, sudah lalu diadakah oleh Almalik dengan Maskulin; lalu perjanjian itu menjadi kentara n domestik perjanjian dengan Nuh, kerumahtanggaan perjanjian dengan Abraham dan akhirnya privat perjanjian yang diikat dengan seluruh bangsa dengan kontak Musa. Perjanjian itu bukannya sebuah kontrak antara pihak-pihak yang sama dengannya, sebab Halikuljabbar tidak membutuhkannya dan justru Dialah yang memprakarsainya. Meskipun demikian Tuhan telah melibatkan diri di dalamnya, anda menambatkan diri dengan cara tertentu melalui taki-janji yang diberikanNya. Akan sekadar terbit pihak umatNya dituntut olehNya kesetiaan; penolakan dari pihak Israel, dosanya, dapat memusnahkan ikatan yang sudah terjalin oleh rajin-belas kasih Tuhan.

Allah koteng menggariskan syarat-syarat kesetiaan itu. Ia memberi syariat Taurat kepada umat yang dipilihNya. Syariat itu memberi petunjuk-ajaran tentang tugas tanggung umat menata tingkah-lakunya sesuai dengan niat Allah dan dengan mempertahankan perjanjian menyiapkan pemenuhan janji-janji Sang pencipta.

Tema-tema: Janji, Pilihan, Perjanjian dan Hukum Taurat, merupakan benang mas yang bersilang-silang di selama kitab-kitab Pentateukh dan dapat dijumpai kerumahtanggaan seluruh Perjanjian Lama. Sebab Pentateukh bukannya sebuah karya yang selesai/terlayang: engkau memunculkan janji cuma ia tidak bicara mengenai pelaksanaannya; karena kisahnya memangkal sebelum masuknya bangsa Israel ke Petak Suci. Pentateukh haruslah silam terbuka bagaikan sebuah harapan dan gertakan: intensi akan janji yang nada-nadanya terlaksana dengan penundukan Kanaan, Yos 23, dulu tersangkut oleh dosa-dosa umat terpilih, akhirnya disadari kembali oleh suku bangsa pindahan di Babel; bentakan yang terjadwal n domestik syariat yang selalu mengimpitkan dan di Israel selalu menjadi saksi menjajari mereka, Ul 31:26.

Kejadian demikian akan berlangsung setakat kedatangan Kristus yang menjadi tongkat batasnya; kepadaNyalah secara taksa-samar melekat sejarah keselamatan itu, sira memberi kepadanya arti nan sebenarnya. paulus mengekspos dan menguraikan rahasianya, terutama dalam Gal 3:15-29. Kristus mengadakan Perjanjian Baru yang telah dilambangkan intern perjanjian-perjanjian dulu kala dan Dia mengikut- sertakan di dalamnya orang-orang Serani yang berkat imannya menjadi pewaris- pewaris Abraham. Adapun Syariat Perjanjian Lama diberi untuk menjaga janji-janji; peranannya dapat dibandingkan dengan seorang pendidik yang mengatak kepada Kristus, pemenuhan janji-janji tersebut.

Turunan Kristen tidak lagi tunduk kepada supremsi pendidikan itu; dia sudah dibebaskan dari kewajiban menjalankan Hukum Taurat, namun engkau tetap perlu menjalankan wahyu kepatutan dan agama Hukum Taurat. Makanya sebab Kristus lain datang cak bagi menghapus melainkan bikin menepati, Mat 5:17, maka Perjanjian Hijau tidak bertentangan dengan Perjanjian Lama; ia yaitu kelanjutannya saja. Dalam peristiwa-peristiwa berjasa di masa para bapa bangsa dan Musa, dalam perayaan hari-hari raya dan dalam upacara-ritual di padang gurun (pengorbanan Ishak, penyeberangan Laut Merah, Paskah, dst). Dom memang menemukan realita- realita Syariat Bau kencur (mangsa Kristus, baptisan, Paskah Masehi). Akan tetapi ini tidak cukup. Iman masehi menuntut sikap lever yang sederajat yang dituntut dari puas orang-orang Israel oleh ceritera-ceritera dan statuta-peraturan Pentateukh. Malahan lebih dari itu: dalam perjalanannya kepada Tuhan, setiap manusia mengalami tahap-tahap yang sekufu, yaitu: pemuasan, percobaan, pembersihan, yang dialami pula oleh umat tersaring. Setiap manusiapun dapat menemukan petunjuk- petunjuk yang berjasa baginya di dalam pelajaran-pelajaran nan sudah lalu diberikan kepada umat terpilih.

Basyar Kristen yang ingin membaca Pentateukh, sebaiknya mencacat urutan nan berikut: kitab Kejadian, yang sesudah memperbalahkan kurnia Allah Pencipta dengan ketidak-setiaan manusia nan berdosa, ogok kerumahtanggaan diri para bapa bangsa ganjaran nan dilimpahkan kepada mereka, yang percaya; kitab Mantan adalah semacam gambaran penebusan dalam garis-garis besar; kitab Bilangan memgisahkan tahun percobaan, di mana Halikuljabbar mendidik dan membetulkan tingkah-laku anak asuh-anakNya dan dengan demikian disiapkanNya sebuah himpunan para terseleksi. Kitab Imamat akan lebih bermanfaat, kalau dibaca bersamaan dengan ki- bab terakhir kitab Yehezkiel atau sesudah kitab-kitab Ezra dan Nehemia; korban tunggal Kristus memang sudah membuat peribadatan di Bait Suci Perjanjian Lama menjadi usang dan tidaj berarti lagi, namun tuntutan-tuntutannya mengenai kebersihan dan kesucian intern pengabdian kepada Allah ialah indoktrinasi nan teguh berlaku. Bacaan kitab Ulangan sebaiknya diadakan bersamaan dengan kitab Yeremia, utusan tuhan yang paling dekat padanya, baik karena dia hidup di musim nan sama, alias karena kitab Ulangan diresapi vitalitas yang ekuivalen.

Source: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Kejadian+21%3A33

Posted by: and-make.com