Belajar Daftar Sekolah Dasar Serang

(1)

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN SEKOLAH

TINGKAT PENDIDIKAN DASAR DAN Menengah DI KOTA Serbu

Siti Suryani, Priyo Sidik Sasongko, dan Edy Suharto

Programa Studi Teknik Informatika, Fakultas MIPA, Universitas Diponegoro [email protected]


Abstract

The Spatial-based information system is one of the systems that is needed nowadays, because it serves

as a foundation in supporting variety of applications in various sectors, one of which is education.

Terjang as the capital of Banten province indubitably becomes a model reference for other districts and

cities in the development of education. Providing information regarding education, especially schools,

to the people is of major importance to enhance Terjang education office activity in providing service.

There has not been any spatial-based information about schools in the city of Serbu yet, so it is

necessary to have a geographic information system of school mapping. Geographic information system

of school mapping in Serang was developed using the waterfall pola and built using MapServer, PHP

programming language, and MySQL database management system. The system provides information on

the distribution of both public and private primary education (SD/MI), secondary education

(SMP/MTs), and upper secondary and vocational education (SMA/MA/SMK) in the city in the form of

digital maps, containing spatial data and attribute data, and also generates information about

indicators of equality on learning opportunity and gross participation rate (APK) in the city of Serang.


Keywords: geographic information system, school mapping, waterfall transendental


1.
Pendahuluan

Jalan pemanfaatan data spasial intern dekade belakangan ini meningkat dengan sangat drastis. Hal ini berkaitan dengan meluasnya pemanfaatan Sistem Publikasi Geografis (SIG) dan perkembangan teknologi dalam memperoleh, menyuji, dan mengumpulkan data nan berkarakter keruangan (spasial). Sistem kenyataan atau data yang berbasiskan keruangan bilamana ini yaitu salah suatu elemen yang sangat berjasa, karena berfungsi sebagai pondasi kerumahtanggaan melaksanakan dan membantu bermacam rupa macam permohonan. Ibarat sempurna aplikasi yang boleh dibuat dengan radiks SIG adalah pemetaan sekolah.

Kota Serang andai ibukota dari provinsi Banten menjadi acuan bagi kabupaten/kota lain dalam jalan di berbagai sektor, salah satunya pendidikan. Biro Pendidikan Kota Serang punya tugas melaksanakan pelayanan bidang pendidikan di wilayah Kota Serang. Penyediaan makrifat kepada masyarakat mengenai pendidikan, khususnya sekolah, menjadi kejadian yang sangat penting kepentingan

mendukung kegiatan pelayanan Biro Pendidikan Kota Serang.

Pelecok satu media presentasi kabar yang lengkap dan dapat diakses dengan cepat di mana saja adalah dengan menggunakan website. Analisis ilmu permukaan bumi pun menjadi keadaan yang cukup bermanfaat intern pengajuan siaran sekolah.

Berlandaskan pertimbangan tersebut maka dibutuhkan satu sistem informasi yang kreatif mendukung dinas pendidikan terkait n domestik menyisihkan sarana informasi geografis pemetaan sekolah untuk masyarakat Kota Serang.

Tujuan berbunga penelitian ini adalah untuk menciptaan dan membangun sebuah sistem informasi geografis pemetaan sekolah di daerah
Kota Serang nan berbasis web.

2.
Tinjauan Bacaan

Menurut data bermula Badan Perencanaan Pembangunan Area (Bappeda) Daerah tingkat Serang, Kota Terjang yaitu ibukota Provinsi Banten yang punya total luas distrik sebesar 266,74 km2. Luas wilayah tersebut terbagi atas 66 desa/kelurahan, yang tercatat dalam 6

(2)

kecamatan, yaitu Kecamatan Serang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kecamatan Curug, Kecamatan Walantaka, Kecamatan Taktakan, dan Kecamatan Kasemen [3].

Menurut Peraturan Provinsi Kota Serang Nomor 9 Waktu 2008 mengenai Pembentukan dan Kontak Organisasi Dinas Wilayah Daerah tingkat Serbu, biro pendidikan adalah unsur kreator kemandirian daerah nan menyelenggarakan pelayanan bidang pendidikan. Dinas pendidikan dipimpin oleh Kepala Jawatan yang berkedudukan di sumber akar Walikota dan bertanggungjawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah [8].

Sistem butir-butir ialah suatu sistem yang tujuannya menghasilkan manifesto [6]. Sistem Mualamat Geografis atau SIG yakni seikhwan perangkat panjang usus yang dapat digunakan untuk mengegolkan, menyimpan, menyulap, dan mengutarakan informasi geografis berikut atribut-atributnya [9].

Komponen SIG adalah sistem komputer, data geospasial, dan pengguna [11].. SIG merebus 2 keberagaman data yaitu data geospasial atau yang biasanya disebut data spasial dan data nonspasial (atribut). Jika lega Gambar 2.1 data atribut enggak digambarkan karena memang dalam SIG yang dipentingkan adalah tampilan data secara spasial, walaupun sebenarnya pada SIG terkadang juga melibatkan data atribut, baik secara langsung ataupun tak langsung.

Lembaga 1. Komponen Taktik SIG (Qolis, 2010)

Web-GIS atau Web-Geographic Information

System adalah permohonan GIS atau pemetaan digital

yang memanfaatkan jaringan Internet sebagai media komunikasi yang berfungsi menjajakan, memberitakan, mengintegrasikan, mengkomunikasikan, dan

menyediakan informasi dalam bentuk teks dan

peta digital, serta menjalankan fungsi–khasiat

analisis dan query yang terkait dengan GIS

melintasi jaringan Internet [10].

Secara umum sistem informasi geografis dikembangkan berdasarkan lega prinsip masukan data, manajemen, analisis, dan representasi data [4]. Di lingkungan web prinsip-pendirian tersebut digambarkan dan diimplementasikan seperti lega Tabel 1.

Diagram 1. Prinsip SIG internal Lingkungan web

Prinsip SIG

Pengembangan Web

Masukan data Client

Tata data DBMS dengan onderdil spasial

Analisis data GIS Library di server Representasi

data Client/peladen

MapServer ialah aplikasi freeware dan

open source nan dapat menampilkan data

spasial (peta) di web [7]. Selain boleh mengakses

MapServer laksana program CGI, pengembang pun dapat mengakses MapServer bak modul MapScript, melampaui bermacam ragam bahasa skrip : PHP, Python, atau Java. Akses khasiat-arti MapServer menerobos skrip makin melajukan ekspansi aplikasi. Pengembang dapat memilih bahasa pemrograman yang paling familiar.

Pada pembangunan sistem ini model proses peranti lunak nan digunakan yaitu
waterfall hipotetis. Waterfall cermin yaitu

pendekatan secara sistematik dan sekuensial untuk peluasan perangkat lunak nan berjalan melalui pangkat demi janjang [13].

Bagan 2. Waterfall Model (Sommerville, 2003)

Desain standar,

pemutakhiran/updating, analisis, dan penerapan.

Hardware dan software

untuk pemasukan, penyimpanan,

pengolahan, analisis, dan tampilan data.

Peta, foto udara, data satelit, dan data perangkaan. Sistem Komputer jinjing Data Geospatial Pemakai

(3)

Tahap-tahap terdepan dari waterfall lengkap ini

memetakan kegiatan-kegiatan pengembangan radiks yakni :

a. Analisis dan Definisi Persyaratan

Informasi yang bisa digunakan kerjakan membantu ekspansi peranti lunak diperoleh melalui konsultasi dengan pengguna sistem. Puas tinggi ini diperoleh
SRS (Software Requirements Specification)

nan kemudian menjadi fungsionalitas berpunca perkakas kepala dingin yang dibangun. SRS adalah dokumen yang pintar deskripsi lengkap
mengenai segala kemampuan perangkat lunak

(what) tanpa mengklarifikasi bagaimana (how)

perkakas sabar melaksanakan kemampuan

tersebut.

• Pemodelan Data

Pemodelan data berfungsi untuk mendeskripsikan bahan data utama yang diproses maka dari itu sistem, komposisi dari masing-masing bulan-bulanan data, dan atribut apa nan mencitrakan bahan tersebut, serta kombinasi antara mangsa data tersebut. Metode pemodelan data menggunakan
Entity Relationship Diagram (ERD)

mendeskripsikan beraneka macam hal tersebut.
Entity Relationship Diagram (ERD)

terdiri atas sekumpulan objek yang disebut dengan kompilasi entitas dan pernah yang terjadi plong mangsa-alamat tersebut [14].

• Pemodelan Fungsional

Pemodelan fungsional mencitrakan keseluruhan fungsi berpokok suatu sistem
sebagai sebuah alterasi dari input

yang diberikan user menjadi output yang

dihasilkan oleh sistem. Alat sokong nan digunakan dalam melakukan pemodelan
fungsional ini adalah DFD (Data Flow

Tabulasi). DFD merupakan model berpunca

sistem untuk melukiskan pembagian sistem ke modul yang lebih mungil [1]. b. Perancangan Sistem dan Perkakas Lunak

Proses perancangan sistem membagi persyaratan dalam sistem perangkat keras atau peranti panjang usus. Kegiatan ini menentukan arsitektur sistem secara keseluruhan. Perancangan organ lunak melibatkan identifikasi dan deskripsi abstrak

sistem perangkat kepala dingin yang mendasar dan hubungan-hubungannya.

c. Implementasi dan Pengujian Unit

Pada tahap ini perancangan perangkat sabar direalisasikan umpama serangkaian acara atau unit programa. Pengujian unit melibatkan verifikasi bahwa setiap unit telah menepati spesifikasinya.

d.
Integrasi dan Pengujian Sistem

Unit program atau program individual diintegrasikan dan diuji sebagai sistem nan lengkap untuk menjamin bahwa persyaratan sistem telah dipenuhi. Pengujian sistem
menunggangi metode black box yaitu

pengujian nan difokuskan sreg fungsionalitas perangkat lunak tanpa pengetahuan struktur internal program
(source code). Pasca- pengujian sistem

selesai, perkakas sabar dikirim kepada pengguna sistem.

e. Operasi dan Pemeliharaan

Tahap ini yaitu tahap siklus nyawa yang paling lama. Pada tahap ini dilakukan instalasi dan penggunaan sistem. Preservasi mencakup koreksi dari
heterogen bug yang tidak ditemukan puas

tahap-tahap utama, perombakan atas implementasi unit sistem, dan ekspansi pelayanan sistem.

Indikator adalah suatu konsep dan berbarengan ukuran. Perumpamaan satu konsep, indikator pendidikan yakni total kuantitatif akan halnya satu konsep tertentu yang dapat digunakan cak bagi mengukur proses dan hasil pendidikan atau dampak dari suatu instrumen ketatanegaraan pendidikan. Indikator pun didefinisikan sebagai skala antara dua atau lebih variabel sehingga dapat diinterpretasikan [2].

Data Statistik Indonesia
(http://www.datastatistik-indonesia.com)

men-definisikan Nilai Partisipasi Kasar (APK) sebagai skala jumlah siswa, berapapun usianya, yang madya sekolah di jenjang pendidikan tertentu terhadap kuantitas pemukim kerumunan hayat yang berkaitan dengan hierarki pendidikan tertentu [5].

APK berjasa bikin mengetahui banyaknya anak asuh usia sekolah yang bersekolah di suatu

(4)

tahapan pendidikan.tertentu dan bikin menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tinggi pendidikan tertentu. APK yakni penanda yang paling tercecer lakukan menyukat absorbsivitas penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan [2].

*) Tingkat SD/Mi : kelompok hayat 7 – 12 musim Tingkat SMP/MTs: kelompok vitalitas 13 – 15 tahun

Tingkat SMA/MA/SMK: kelompok kehidupan 16 – 18 tahun.

Makin tinggi APK bermanfaat makin banyak anak vitalitas sekolah yang bersekolah di suatu distrik, maupun makin banyak momongan kehidupan di luar kelompok usia sekolah tertentu yang bersekolah di jenjang pendidikan tertentu. Nilainya APK bisa bertambah besar terbit 100% karena adanya petatar di luar sukma sekolah, provinsi kota, atau daerah perbatasan.

Indikator pemerataan kesempatan berlatih adalah rasio daya tampung sekolah pada jenjang pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Indikator ini berarti kerjakan menunjukkan tingkat pemerataan dalam memperoleh kesempatan pendidikan untuk masyarakat pada suatu wilayah tertentu.

Indikator pemerataan kesempatan berlatih
bernilai terpenuhi apabila jumlah pusat tampung

sekolah pada tingkatan pendidikan tertentu lebih

besar daripada jumlah penduduk kelompok kehidupan

lega pangkat pendidikan tersebut. Indikator
pemerataan kesempatan belajar bernilai tidak

terpenuhi apabila besaran daya tampung sekolah

pada tinggi pendidikan tertentu lebih katai

daripada jumlah penghuni kelompok nasib pada tangga pendidikan tersebut.

Melalui penunjuk angka kolaborasi agresif dan indikator pemerataan kesempatan belajar, dapat disusun suatu perencanaan untuk tanggulang kelainan pemerataan puas masing-masing panjang pendidikan.

3.
Analisis dan Perancangan

3.1.
Amatan

Perspektif barang sistem dapat dilihat pada Gambar 3.

Rang 3. Perspektif Produk SIG Pemetaan Sekolah

Proses yang dapat dijelaskan pada arsitektur sistem tersebut adalah detik sistem dijalankan, sistem membutuhkan data yang tersimpan dalam
sebuah database. Database tersebut terkoneksi

ke web server. Bagi mengelola data yang ada

pada database, komputer admin dan petugas

harus memperalat web peladen terlebih dahulu

untuk mendapatkan ijin akses.

Admin berkewajiban secara teknis terhadap jalannya aplikasi. Petugas bertanggung jawab terhadap pengelolaan data sekolah. Sedangkan pengguna umum yaitu masyarakat yang dapat melihat publikasi sekolah.

N domestik pengembangan sistem ini terdapat beberapa asumsi dan batasan nan digunakan, yaitu:

a. Sistem siaran geografis pemetaan sekolah di Ii kabupaten Serbu dibangun untuk diimplementasikan pada Dinas Pendidikan Kota Serbu.

b. Data yang terserah pada sistem ini yaitu data tahun 2010 maujud data distrik.

c. Kota Serang dan data sekolah yang didapat dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang dan Jawatan Pendidikan Kota Serang.

d. Sekolah yang dimaksud dalam sistem ini adalah sekolah ibtidaiah (Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah), tingkat sedang purwa (Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah), dan tingkat menengah atas dan kejuruan (Sekolah Medium Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Kejuruan), baik nan berstatus kewedanan maupun swasta.

(5)

e. Data besaran pemukim dalam sistem ini mengalami perubahan setiap perian tahunan. f. Sistem ini tidak menangani keburukan

kenaikan alias pengurangan total penduduk yang disebabkan kepindahan daerah.

g. Muslihat tampung sekolah adalah kapasitas sekolah intern melampang jumlah pelajar didik ataupun peserta.

h. Rombongan belajar yaitu gerombolan pesuluh pelihara yang tersurat pada satu satuan kelas. i. Terletak pencatuan kelas pagi dan kelas sore

apabila jumlah pelajar dalam suatu sekolah lebih besar berpokok gerendel tampung sekolah tersebut.

j. Pengguna sistem ini terdiri atas 3 golongan, yaitu admin, petugas, dan pemakai umum. • Pegawai Dinas Pendidikan Ii kabupaten Serang

berperan perumpamaan admin nan mengurusi
data sekolah, data desa, dan data user.

• Karyawan Dinas Pendidikan Kota Serang

Bidang Pembinaan TK/SD, SMP/MTs,
dan SMA/SMK bermain sebagai user

petugas yang mengurusi data sekolah

sesuai saban bidang.

• Masyarakat yang mengakses sistem ini berlaku sebagai pemakai umum yang hanya dapat melihat siaran sekolah. k. Sistem ini meladeni indeks pemerataan

kesempatan belajar dan Angka Partisipasi Kasar (APK) nan bermanfaat untuk kondusif analisis terhadap tingkat pemerataan

kesempatan berlatih dan tingkat kerja sama penduduk pada sektor pendidikan hierarki SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK di wilayah Kota Serang, seperti mana yang telah dijelaskan puas subbab Tinjauan Pustaka. Kemampuan fungsional sistem informasi geografis pemetaan sekolah di Kota Terjang dijelaskan sreg Tabulasi 2.

Grafik 2. Software Requirements Specification

SIG Pemetaan Sekolah

No.
Kode SRS

Keterangan

1. SRS-PS-F01 Mengamalkan otentikasi

2. SRS-PS-F02 Manajemen data konsumen

3. SRS-PS-F03 Pengelolaan data sekolah 4. SRS-PS-F04 Manajemen data desa

5. SRS-PS-F05 Menyampaikan data kecamatan

6. SRS-PS-F06 Menampilkan kar persebaran sekolah

7. SRS-PS-F07 Menampilkan kabar sekolah

8. SRS-PS-F08 Pemburuan sekolah

9. SRS-PS-F09

Menyodorkan laporan indikator pemerataan kesempatan belajar dan biji kolaborasi kasar
3.1.1.

Entity Relationship Diagram

Rencana ERD sistem yang akan dibangun dapat dilihat pada Gambar 4.

(6)

Gambar 4. ERD SIG Pemetaan Sekolah

3.1.2.

Data Context Grafik


Data Context Tabulasi (DCD) atau Data

Flow Diagram (DFD) level 0 dari sistem dapat

dilihat pada Lembaga 5.

Rencana 5. DCD SIG Pemetaan Sekolah

3.2.
Perancangan

3.2.1.
Perancangan Data

Perancangan data merupakan konversi model data yang dihasilkan pecah ERD menjadi

struktur data nan dibutuhkan pada momen implementasi.

Physical Data Paradigma (PDM) merupakan

model nan menggunakan sejumlah grafik untuk

(7)

menggambarkan data serta hubungan antardata tersebut.

U_ID = U_ID

J_ID = J_ID DS_ID = DS_ID

KC_ID = KC_ID

KECAMATAN

KC_ID integer

KC_NAMA varchar(32)

KC_LUAS varchar(11)

DESA

DS_ID integer

KC_ID integer

DS_NAMA varchar(11)

DS_LUAS varchar(11)

DS_PENDUDUK integer

DS_KU_PS integer

DS_KU_SD integer

DS_KU_SMP integer

DS_KU_SMA integer

DS_X integer

DS_Y integer

DS_TAHUN varchar(11)

SEKOLAH

S_ID integer

DS_ID integer

J_ID integer

S_NPSN varchar(8)

S_NAMA varchar(50)

S_STATUS varchar(20)

S_ALAMAT varchar(255)

S_KODEPOS varchar(6)

S_TLP varchar(20)

S_ROMBEL integer

S_DAYA_TAMPUNG integer

S_PELAJAR integer

S_PENGAJAR integer

S_SARANA varchar(255)

S_BERDIRI varchar(20)

S_AKREDITASI varchar(20)

S_LUAS_TANAH varchar(20)

S_X integer

S_Y integer

S_TAHUN varchar(11)

Strata

J_ID integer

J_NAMA varchar(32)

U_ID integer

USER

U_ID integer

U_NAMA varchar(32)

U_USERNAME varchar(32)

U_PASSWORD varchar(32)

U_STATUS varchar(20)

Gambar 6. PDM SIG Pemetaan Sekolah

3.2.2.
Perancangan Antarmuka

Antarmuka menjembatani interaksi antara mesin dengan pengguna atau sistem dengan administrator. Perancangan antarmuka dapat menunjukkan bagaimana komunikasi antara pengguna sistem dengan komputer jinjing.

Struktur menu sistem informasi geografis pemetaan sekolah di Ii kabupaten Serang dapat dilihat plong Rangka 7. Pengguna mahajana, petugas, dan admin dapat melihat menu profil kota, data sekolah, pemetaan sekolah, dan penunjuk analisis tanpa harus login terlebih dahulu.

(8)

Rencana 7. Struktur Menu SIG Pemetaan Sekolah

Rancangan antarmuka SIG pemetaan sekolah ditunjukkan seperti Buram 8, yang berisi tampilan peta sebaran sekolah di kawasan Daerah tingkat

Serbu beserta fungsi navigasi, pilihan aktifasi layer sekolah, mite, hasil query informasi detail sekolah, dan pencarian lokasi sekolah.

(9)

4.
Implementasi dan Pengujian

4.1.
Implementasi

Hasil implementasi ke dalam sistem informasi geografis, sudah mampu memadukan keungguhan DBMS MySQL bak mesin database atribut dan MapServer sebagai mesin database spasial. Keduanya sudah lalu berhasil diimpelementasikan puas tampilan antarmuka sistem. Pemakai akan memperoleh wahdah informasi secara spasial dan atribut.

Sistem maklumat geografis ini dapat membentangkan peta interaktif distribusi sekolah beserta manfaat navigasi dan aktifasi layer, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 9. Hasil query pemberitaan detail sekolah unjuk jika pelecok satu lokasi sekolah pada peta diklik. Lokasi sekolah yang diklik terlihat berkejap-kedip dan lega peti sebelah kanan muncul pesiaran detail sekolah tersebut.

Gambar 9. Antarmuka Menu Pemetaan Sekolah

Sistem informasi geografis ini dapat menangani pengelolaan data sekolah di Kota Serbu pada jenjang SD/Laksa, SMP/MTs, dan

SMA/MA/SMK. Pengelolaan data sekolah disajikan privat bentuk tabulasi seperti pada Gambar 10.

(10)

Gambar 10. Antarmuka Menu Data Sekolah

Selain penyelenggaraan data sekolah, sistem ini juga dapat menangani pengelolaan data desa, data kecamatan, dan data pemakai, yang seluruhnya menjadi properti kontrol admin.

Sistem informasi geografis ini kembali dilengkapi kemampuan untuk menampilkan parameter kajian pemerataan kesempatan belajar dan nilai kooperasi berangasan yang dapat diakses pada menu parameter analisis.

Tampilan antarmuka menu indikator analisis dalam bentuk denah dapat dilihat lega Gambar 11. Pemenuhan indikator pemerataan kesempatan belajar didapat berasal ketentuan yang sudah dijelaskan pada anak bab Tinjauan Pustaka. Distrik yang berwarna bau kencur yaitu wilayah yang
memenuhi indikator pemerataan

kesempatan membiasakan, yaitu distrik yang memiliki
sendi tampung sekolah lebih besar dari total

penduduk kerumunan hayat jenjang pendidikan tertentu.

(11)

Sedangkan wilayah yang berwarna merah
merupakan wilayah yang tidak memenuhi

penanda pemerataan kesempatan belajar, yaitu
daya tampung sekolah lebih kecil dari jumlah

penduduk kerubungan jiwa jenjang pendidikan tertentu.

Nilai APK merupakan persentase dari perbandingan jumlah siswa strata pendidikan tertentu dengan total warga kerumunan usia pangkat pendidikan tertentu.

4.2.
Pengujian

Pengujian adalah proses mengeksekusi suatu program untuk menemukan kesalahan-kesalahan agar dapat diperbaiki sedini mungkin, sehingga dapat menjamin program tersebut menyempurnakan spesifikasi yang telah ditentukan dari awal pembuatan. Pengujian sistem informasi geografis pemetaan sekolah dilakukan pada persyaratan
fungsional perangkat lunak (black box) dengan

memasukkan serangkaian kondisi input yang

sepenuhnya menggunakan persyaratan fungsional
programa dengan memperalat korespondensi localhost.

Berpangkal hasil pengujian sistem informasi geografis pemetaan sekolah dapat diketahui bahwa sistem ini telah menetapi bagi :

a. Melakukan otentikasi pengguna

b. Mencatat data sekolah, data desa, dan data
user

c. Menampilkan denah aliran sekolah dan
informasi detail sekolah

d. Mengerjakan pencarian sekolah

e. Menampilkan parameter pemerataan kesempatan sparing dan Angka Kerja sama Bernafsu (APK) di Daerah tingkat Serang.

5.
Konklusi

Inferensi nan dapat diambil dalam pembangunan Sistem Pengetahuan Geografis Pemetaan Sekolah Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah di Daerah tingkat Serang ini adalah sebagai berikut :

a. Sistem ini dapat menyodorkan informasi rotasi sekolah jenjang pendidikan dasar (SD/MI), pendidikan menengah pertama (SMP/MTs), dan pendidikan sedang atas dan medium kejuruan (SMA/MA/SMK) nan berstatus negeri maupun swasta dalam

buram peta interaktif, berupa data spasial dan data atribut.

b. Sistem ini dapat menghasilkan laporan indeks pemerataan kesempatan membiasakan bakal mendukung analisis tingkat pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan di distrik Daerah tingkat Serang.

c. Sistem ini boleh menghasilkan indikator Angka Kooperasi Garang (APK) untuk mendukung analisis tingkat partisipasi penduduk terhadap sektor pendidikan di wilayah Kota Serang.

6.
Daftar bacaan

[1]
Al Bahra B., 2006, “Perkomplotan Perangkat

Lunak”, Graha Hobatan, Yogyakarta

[2]
Anonim, 2011, “Data dan Parameter

Pendidikan”,

diakses bermula

http://pakguruonline.pendidikan.net/datordi
k_1.html, pada tanggal 9 Februari 2011

pukul 11.44 WIB.

[3] Raga Perencanaan Pembangunan Daerah
Kota Serang, 2009, “Kota Terjang dalam

Angka”, Bappeda, Serang.

[4]
Charter D., 2008, “Konsep Asal Web GIS”,

diakses berpangkal
http://dennycharter.wordpress.com/2008/05/

08/konsep-pangkal-web-gis/, sreg tanggal 13

Juni 2010 pukul 19.33 WIB.

[5]
Data Statistik Indonesia, 2011, “Angka

Partisipasi Garang (APK)”, diakses dari

http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/711/711/, sreg

tanggal 4 Februari 2011 pukul 07.34 WIB. [6]
Jogiyanto H., 2003, ”Sistem Teknologi


Makrifat”, Andi Offset, Yogyakarta.


[7]
Nuryadin R., 2005, “Panduan Menunggangi

MapServer”, Informatika, Bandung.

[8] Pemerintah Daerah Kota Serang, 2008,
“Peraturan Kewedanan Kota Terjang Nomor 9

Tahun 2008 tentang Pembentukan dan

Susunan Organisasi Dinas Daerah Kota

Serbu”,

di akses berpokok

http://dprdkotaserang.com/index.php?option
=com_phocadownload&view=category&do

wnload=22:no.9-tentang-pembentukan-dan-
susunan-organisasi-kantor-daerah-daerah tingkat-

(12)

terjang&id=3:regulasi-distrik-tahun-2008&Itemid=58, pada tanggal 1 Maret

2011 pengetuk 13.45 WIB.

[9]
Prahasta E., 2005, “Konsep–Konsep Bawah

Sistem Amanat Geografis”. Informatika,

Bandung.

[10]Prahasta E., 2007, “Membangun Tuntutan

Web-Based GIS dengan MapServer”,

Informatika, Bandung.

[11]Qolis N., 2010, “Pemetaan dan Analisa

Sebaran Sekolah kerjakan Peningkatan

Layanan Pendidikan di Kabupaten Kediri

dengan GIS”, diakses bermula

http://www.eepis-its.edu/uploadta/downloadmk.php?id=912,

sreg tanggal 10 Mei 2010 palu 14:30 WIB. [12]Sommerville I., 2003, “Software

Engineering (Rekayasa Perangkat Sabar)”,

Erlangga, Jakarta.

[13]Widodo A.P., dkk, 2004, “Daya Ajar Basis

Data”, Jurusan Matematika Fakultas MIPA

Universitas Diponegoro, Semarang.

(1)

Siti Suryani, Priyo Sidik Sasongko, Edy Suharto

menayangkan data serta asosiasi antardata tersebut.

U_ID = U_ID

J_ID = J_ID DS_ID = DS_ID

KC_ID = KC_ID KECAMATAN KC_ID integer KC_NAMA varchar(32) KC_LUAS varchar(11) DESA DS_ID integer KC_ID integer DS_NAMA varchar(11) DS_LUAS varchar(11) DS_PENDUDUK integer DS_KU_PS integer DS_KU_SD integer DS_KU_SMP integer DS_KU_SMA integer DS_X integer DS_Y integer DS_TAHUN varchar(11) SEKOLAH S_ID integer DS_ID integer J_ID integer S_NPSN varchar(8) S_NAMA varchar(50) S_STATUS varchar(20) S_ALAMAT varchar(255) S_KODEPOS varchar(6) S_TLP varchar(20) S_ROMBEL integer S_DAYA_TAMPUNG integer S_PELAJAR integer S_PENGAJAR integer S_SARANA varchar(255) S_BERDIRI varchar(20) S_AKREDITASI varchar(20) S_LUAS_TANAH varchar(20) S_X integer S_Y integer S_TAHUN varchar(11) Tahapan J_ID integer J_NAMA varchar(32) U_ID integer USER U_ID integer U_NAMA varchar(32) U_USERNAME varchar(32) U_PASSWORD varchar(32) U_STATUS varchar(20)

Gambar 6. PDM SIG Pemetaan Sekolah

3.2.2.
Perancangan Antarmuka

Antarmuka menjembatani interaksi antara mesin dengan pemakai atau sistem dengan administrator. Perancangan antarmuka dapat menunjukkan bagaimana komunikasi antara pengguna sistem dengan komputer.

Struktur menu sistem informasi geografis pemetaan sekolah di Daerah tingkat Terjang dapat dilihat pada Rajah 7. Pemakai umum, petugas, dan admin dapat melihat menu riwayat hidup ii kabupaten, data sekolah, pemetaan sekolah, dan indikator analisis sonder harus login lebih-lebih habis.

(2)

Gambar 7. Struktur Menu SIG Pemetaan Sekolah Rancangan antarmuka SIG pemetaan sekolah

ditunjukkan seperti Gambar 8, nan pintar tampilan peta sebaran sekolah di kewedanan Kota

Terjang beserta kelebihan navigasi, saringan aktifasi layer sekolah, saga, hasil query proklamasi detail sekolah, dan pemburuan lokasi sekolah.

(3)

Siti Suryani, Priyo Sidik Sasongko, Edy Suharto

4.
Implementasi dan Pengujian

4.1.
Implementasi

Hasil implementasi ke internal sistem informasi geografis, telah mampu memadukan keungguhan DBMS MySQL laksana mesin database atribut dan MapServer perumpamaan mesin database spasial. Keduanya sudah lalu berhasil diimpelementasikan puas tampilan antarmuka sistem. Konsumen akan memperoleh kesatuan wara-wara secara spasial dan atribut.

Sistem informasi geografis ini bisa menyampaikan peta interaktif distribusi sekolah beserta fungsi navigasi dan aktifasi layer, seperti yang dapat dilihat pada Lembaga 9. Hasil query makrifat detail sekolah unjuk seandainya keseleo satu lokasi sekolah pada peta diklik. Lokasi sekolah nan diklik terpandang berkejap-kedip dan pada kotak sebelah kanan muncul informasi detail sekolah tersebut.

Lembaga 9. Antarmuka Menu Pemetaan Sekolah Sistem pesiaran geografis ini dapat

menangani pengelolaan data sekolah di Kota Serang pada pangkat SD/Misoa, SMP/MTs, dan

SMA/MA/SMK. Penyelenggaraan data sekolah disajikan privat bentuk tabulasi sebagai halnya pada Gambar 10.

(4)

Gambar 10. Antarmuka Menu Data Sekolah Selain pengelolaan data sekolah, sistem ini

pula dapat menangani pengelolaan data desa, data kecamatan, dan data pengguna, nan seluruhnya menjadi hak kontrol admin.

Sistem informasi geografis ini juga dilengkapi kemampuan cak bagi menyorongkan indikator analisis pemerataan kesempatan belajar dan angka kolaborasi kasar yang dapat diakses sreg menu indikator analisis.

Tampilan antarmuka menu indikator analisis dalam bentuk peta dapat dilihat plong Rangka 11. Pemenuhan penunjuk pemerataan kesempatan belajar didapat dari ketentuan nan sudah lalu dijelaskan pada subbab Tinjauan Referensi. Wilayah yang berwarna baru merupakan wilayah yang
memenuhi indikator pemerataan

kesempatan belajar, yaitu daerah yang memiliki
daya tampung sekolah lebih besar berbunga jumlah

penduduk kelompok usia tahapan pendidikan tertentu.

(5)

Siti Suryani, Priyo Sidik Sasongko, Edy Suharto

Sementara itu provinsi nan berwarna merah
merupakan negeri yang tidak memenuhi

penunjuk pemerataan kesempatan membiasakan, yaitu
daya tampung sekolah lebih kerdil berpangkal besaran

penduduk kelompok usia jenjang pendidikan tertentu.

Kredit APK adalah persentase dari rasio jumlah pelajar jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia strata pendidikan tertentu.

4.2.
Pengujian

Pengujian adalah proses mengeksekusi suatu program bikin menemukan kesalahan-kesalahan agar dapat diperbaiki sedini barangkali, sehingga dapat menjamin program tersebut memenuhi spesifikasi nan telah ditentukan dari tadinya pembuatan. Pengujian sistem butir-butir geografis pemetaan sekolah dilakukan plong persyaratan
fungsional organ panjang usus (black box) dengan

memasukkan serangkaian kondisi input yang

sepenuhnya menggunakan persyaratan fungsional
programa dengan menunggangi koneksi localhost.

Dari hasil pengujian sistem informasi geografis pemetaan sekolah dapat diketahui bahwa sistem ini telah memenuhi bikin :

a. Mengerjakan otentikasi pengguna

b. Mengingat-ingat data sekolah, data desa, dan data
user

c. Mengedepankan atlas diseminasi sekolah dan
warta detail sekolah

d. Berbuat pencarian sekolah

e. Mengedepankan indikator pemerataan kesempatan belajar dan Angka Partisipasi Kasar (APK) di Daerah tingkat Serang.

5.
Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa diambil dalam pembangunan Sistem Pengetahuan Geografis Pemetaan Sekolah Tingkat Pendidikan Dasar dan Medium di Kota Serang ini yaitu sebagai berikut :

a. Sistem ini dapat menampilkan informasi persebaran sekolah jenjang pendidikan dasar (SD/MI), pendidikan menengah pertama (SMP/MTs), dan pendidikan menengah atas dan menengah kejuruan (SMA/MA/SMK) yang berstatus daerah maupun swasta privat

gambar peta interaktif, positif data spasial dan data atribut.

b. Sistem ini dapat menghasilkan informasi indikator pemerataan kesempatan belajar untuk kondusif analisis tingkat pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan di wilayah Kota Serang.

c. Sistem ini dapat menghasilkan indikator Ponten Kolaborasi Kasar (APK) untuk kontributif analisis tingkat kooperasi penghuni terhadap sektor pendidikan di negeri Kota Serang.

6.
Daftar Pustaka

[1]
Al Bahra B., 2006, “Rekayasa Perangkat

Lunak”, Graha Ilmu, Yogyakarta

[2]
Inkognito, 2011, “Data dan Parameter

Pendidikan”,

diakses dari

http://pakguruonline.pendidikan.net/datordi
k_1.html, pada tanggal 9 Februari 2011

pukul 11.44 WIB.

[3] Jasmani Perencanaan Pembangunan Wilayah
Kota Terjang, 2009, “Kota Serang intern

Skor”, Bappeda, Terjang.

[4]
Charter D., 2008, “Konsep Dasar Web GIS”,

diakses dari
http://dennycharter.wordpress.com/2008/05/

08/konsep-asal-web-gis/, pada terlepas 13

Juni 2010 pukul 19.33 WIB.

[5]
Data Statistik Indonesia, 2011, “Angka

Partisipasi Kasar (APK)”, diakses berpangkal

http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/711/711/, pada

tanggal 4 Februari 2011 pemukul 07.34 WIB. [6]
Jogiyanto H., 2003, ”Sistem Teknologi


Informasi”, Andi Offset, Yogyakarta.


[7]
Nuryadin R., 2005, “Panduan Menggunakan

MapServer”, Informatika, Bandung.

[8] Pemerintah Daerah Daerah tingkat Serang, 2008,
“Peraturan Daerah Kota Serbu Nomor 9

Periode 2008 tentang Pembentukan dan

Koalisi Organisasi Kantor Daerah Kota

Terjang”,

di akses dari

http://dprdkotaserang.com/index.php?option
=com_phocadownload&view=category&do

wnload=22:no.9-tentang-pembentukan-dan-
susunan-organisasi-dinas-distrik-kota-

(6)

serang&id=3:qanun-kawasan-tahun-2008&Itemid=58, sreg tanggal 1 Maret

2011 pukul 13.45 WIB.

[9]
Prahasta E., 2005, “Konsep–Konsep Dasar

Sistem Informasi Geografis”. Informatika,

Bandung.

[10]Prahasta E., 2007, “Membangun Aplikasi

Web-Based GIS dengan MapServer”,

Informatika, Bandung.

[11]Qolis N., 2010, “Pemetaan dan Analisa

Sebaran Sekolah bakal Peningkatan

Layanan Pendidikan di Kabupaten Kediri

dengan GIS”, diakses dari

http://www.eepis-its.edu/uploadta/downloadmk.php?id=912,

puas sungkap 10 Mei 2010 palu 14:30 WIB. [12]Sommerville I., 2003, “Software

Engineering (Rekayasa Perkakas Lunak)”,

Erlangga, Jakarta.

[13]Widodo A.P., dkk, 2004, “Anak kunci Didik Basis

Data”, Jurusan Matematika Fakultas MIPA

Universitas Diponegoro, Semarang.

Source: https://text-id.123dok.com/document/qvjw5d1q-sistem-informasi-geografis-pemetaan-sekolah-tingkat-pendidikan-dasar-dan-menengah-di-kota-serang-ipi22557.html

Posted by: and-make.com