Belajar Bahasa Inggris Dasar Verb

Sewaktu masih SMA, nostalgia nih ceritanya, saya dan teman-kebalikan sejajar punya munsyi Inggris favorit, namanya Pak Rohmat. Jujur, kami semua lemah sekali dengan nan namanya grammar, tapi berpokok anda mengajar bahasa Inggris di kelas, rukyat kami berubah kaprikornus suka dan enjoy berlatih bahasa Inggris, ketimbang ketemu ayunda kelas atau anak bandel yang suka meras tip di sekolah, kita lebih agak kelam dengan buku grammar dan sederet pasukannya, haha. 🙂

Kamu guru bahasa Inggris nan menyenangkan, kamu selalu punya cara tersendiri untuk menciptakan menjadikan kami bersemangat belajar bahasa Inggris. Terimakasih ya kemasan sudah bersedia mengajar bahasa Inggris di kelas kami. 🙂

Oke, karena pelajaran bahasa Inggris di SMA itu bertambah seringnya membahas macam-macam teks dan sukar sekali memabahas skill yang spesifik, jadi ceritanya saya remix invalid supaya sesuai dengan artikelnya ya, itu artinya cerita yang saya karang ini memang tidak gayutan terjadi di kelas ketika saya masih SMA. Namun, cerita tentang guru saya yang berkualitas dan menyenangkan dalam mengajar bahasa Inggris itu etis, trust derita. 🙂

Oke, ceritanya saya isi dengan karakter dengan stempel-nama ceria momongan-anak kelas X4. Siapa aja bocah-bocah seru dan petakilan itu? Oke, ada Zandy, Satrio, Otong, Riyanto, Haslan, Agung, Cecep, Jumroni, dan Febri. Karakter gurunya, karena saya dan teman-teman adv amat mengherani hawa bahasa Inggris kami sewaktu SMA, maka dari itu, saya mengajak cangkang Rohmat gabung privat cerpen ini, sepatutnya pasca- baca catatan ini kamu boleh paham apa yang dimaksud dengan verb dalam bahasa Inggris. Tunggu apalagi, bersama-sama scroll ke pekarangan radiks dan baca cerpennya guys, check it out.

————————————————————————————————–


Curhat Gokil Serentak Belajar Bahasa Inggris – Weird Sharing and learn English simultanously

Seperti pada kebanyakan papan bawah-kelas bawah bocah SMA, kelas bawah gue pun nggak lepas dari komplikasi nan namanya syndrom inferior ribut selama temperatur belum dateng, lo pasti pernah kan?

Seperti biasa, si Otong merasa berkeharusan buat ngejemput hawa indra penglihatan pelajaran selanjutnya karena dia kepala geng, eh salah, atasan kelas bawah. Sebenernya tanpa harus disamperin ke ira guru, semua guru pasti pada akhirnya timbrung ke papan bawah juga sih, karena sang Otong ini orangnya bertanggung jawab banget soal proses belajar penelaahan di kelas maka itu dia sampe mengerjakan kian, yang pasti, dia ngelakuin itu bikin temen-temen sekelasnya dong, biar lega pinter, terlebih alat penglihatan tutorial bahasa Inggris, wajib banget bisa soalnya sekarang udah zamannya masyarakat ekonomi asean dimana cucu adam-orang negara tetangga Indonesia, cari sendiri ya siapa aja, mereka bakalan berdatangan buat nyari tanah lapang pekerjaan di Indonesia.

Oke,mengot lagi ke kisah ya. Sang Zandy, Febri, sama Jumroni nengok-nengok tingkapan, berpretensi otong gagal menjalankan misi ulem guru bahasa Inggris, soalnya momongan-anak udah lega sempat kalo gurunya nggak asyik banget dan tugasnya bejibun. Mereka trauma dikasih tugas sama bu Leni disuruh nentuin mana yang termasuk noun dalam kalimat. Kalimat centung gampang bro, cak kenapa gitu aja nyerah sih? Iya sih, kalimat itu pendek, tapi kalo kalimatnya itu jumlahnya se-novel gimana coba? Gue tau lo pasti bakalan absen terus kalo gurunya sama dengan ini.

Senyum merekah berasal bibir ketiga bocak petakilan ini pun keliatan, semakin erat si otong jalan ke kelas, senyuman mereka semakin sintal udah kaya joker di film batman, sang Otong genyot ke kelas sendiri tanpa guru. Mereka bertiga pun rusuh ngobrolin tanya hawa bahasa Inggris yang prospek nggak ikut.

Zandy: “Jum, Feb, tuh liat si Otong kayanya gagal ngejalanin misi, liat aja itu bocah jalan sendiri, iya, sendirian.”

Jumroni: “Berarti free class dong waktu ini, yeay!” Sahut Jumroni sambil ngomong bahasa Inggris dengan logat sundanya.

Zandy: “Nah, itu nan gue tujuan jum, pinter lu, nggak kaya Febri, menang strata doang tapi mikirnya lama.”

Febri: “Rese lu zan!” Jawab Febri dengan nada betenya.

Otong juga masuk kelas dengan paras lesu, pertanda misi gagal dan temen-temennya lagi hidup bahagia, selamanya, eh salah, suatu jam tutorial sekadar deh, soalnya nggak lama dari si Otong ngerjain LKS bahasa Inggris, kepala sekolah dateng ke kelas. Oh well, kayanya bakalan cak semau hal berfaedah yang bakalan dia sampein  ke kelas kita.

Ketua sekolah: “Momongan-anak, mulai masa ini Bu Leny tidak mengajar bahasa Inggris juga di sekolah kita ….. ” Belum sempat melanjutkan pidatonya, anak-anak kelas X 4 udah ueforia menyambut manifesto kesuksesan itu, sampe-sampe tiga bocah yang kebetulan molor di papan bawah simultan bangun dan siaga 45, siapa mereka? Mereka adalah satrio, riyanto, dan cecep. Kenapa sih mereka sampe ketiduran di kelas pas pelajaran bahasa Inggris? Yuk disimak alasan brilian trio English Sleeper ini:

Satrio, alasan tidur di pelajaran bahasa Inggris, semalem abis ngapel di rumah pacarnya, selesai ngapel, internetan nonton youtube, makara baru bisa tidur pas kursus bahasa Inggris.- Lovers

Riyanto, alasan tidur di pelajaran bahasa Inggris, main game CoC di smartphone barunya sampe level puluhan dan menang banyak item, seperti itu buka BBM, dia liat jam, udah pukul setengah 7 pagi. – Gamers

Cecep, alasan tidur di pelajaran bahasa Inggris, dapet orderan ceramah di 5 kampung dalam semalem. Selesai khotbah patut adzan sholat subuh, karena dia tahu lebih baik terjaga usai menunaikan sholat subuh, makanya matanya udah kaya panda, ada jaring-jaring matanya. – Ustad Cilik

Dengan suara lantang fertil basyar bilang selamat pagi, satrio, riyanto, dan cecep ngasih tanggepan pidato penasihat sekolah serentak berbarengan, gini bunyinya:

Trio Sleeper: “Beneran kelongsong, bu Leni udah nggak ngajar lagi di sekolah kita?” Kompak banget serasa udah janjian cukup lagi di damba.

Kepala sekolah: “Kalian ini, kalau ada makhluk yang lagi ngomong ya didengerin dulu sampe selesai, baru ngasih tanggapan, understand?” Jawab paket majikan sekolah dengan memberikan riset ke kita dengan bahasa Inggris di ujung kalimatnya.

Murid X4:
“Yes, we understand sir!” Sahut anak-anak sekelas.

Ketua Sekolah:
“Bapak lanjutkan, bu Leni dipindahkan ke sekolah tidak, sebagai gantinya, kalian akan diajar oleh temperatur mentah, logo kamu pak Rohmat. Bapak berharap kalian bisa nyaman berlatih dengan anda ya. Buntelan Rohmat sudah cak semau di depan kelas, sekian pemberitahuannya, silahkan belajar kembali.”

Suasana kelas hening, guru mentah yang dibicarakan kepala sekolah berjalan perlahan masuk ke kelas bawah. Temperatur itu sudah duduk, ia memandangi seisi kelas dan memulai memopulerkan diri sebelum memulai kursus pelajaran bahasa Inggris.

Buntelan Rohmat:
“Good morning students.” Sapa buntelan Rohmat kepada seluruh warga kelas X 4.

Murid X4:
“Good morning, sir.”

Pak Rohmat:
“Introduce myself, my name is Rohmat. You can call me Mr.Rohmat or Pak Rohmat. I am your new English teacher.”

Pesuluh X4:
(Anak asuh-momongan di kelas gegap-gempita begitu mendengar namanya, mereka bersengketa apakah suhu plonco ini baik ataupun tak).

Kelongsong Rohmat:
“Bapak absen lampau  ya sebelum mulai belajar. Riyanto”

Riyanto:
Hadir pak.

Cangkang Rohmat:
“Haslan, agung, zandy, satrio, cecep, otong” dan semua nama-jenama murid kelas X4 disebut satu persatu.

Otong:
“Paket, sekarang kita belajar segala?”

Buntelan Rohmat:
“Sebelum mulai belajar, bapak ingin adv pernah siapa guru bahasa Inggris sebelumnya, bagaimana prinsip beliau mengajar, dan telah sampai mana materinya. Bisa jadi yang bersedia menjelaskannya sreg kiai?”

Begitu disuruh mengobrolkan pertanyaan bu Leny, si Zandy dengan semangat 45 langsung menggotong tangan sambil berucap:

Zandy:
“Saya pak, saya, saya, saya aja. Saya pengen ceritain semua tentang bu Leny.”

Pak Rohmat:
“Oh namanya bu Leny ya Zan.”

Zandy:
“Iya pak. Jadi begini, bu Leny itu ngajarnya nggak enak pak. Masa kita disuruh ngerjain tugas di LKS melulu, elusif praktek, padahal kan kalo sparing bahasa Inggris harus sering-pelalah praktek di kelas. Kalo udah ngasih pr, pasti banyak banget, keterlaluan, kalo pula kita udah ngerjain tugasnya, tapi menurut engkau nggak sesuai dengan maunya, kita bakalan dimarahin dan disuruh meleleh di depan kelas. Kamu juga jarang ngejelasin materi, dia cuma nyuruh satu petatar buat nulis materinya di white board, dan kita tulis materinya, bersumber diajar sama bu Leny,, kami jadi nggak roh belajar bahasa Inggris lagi sampul.”

Pak Rohmat:
“Oh sedemikian itu ya.”

Zandy:
“Iya pak, umm, kita masa ini refleks sparing atau gimana sampul?”

Paket Rohmat:
“Iya, kita langsung membiasakan. Semalam materinya apa?”

Zandy:
“Kemarin kita belajar tentang noun, kata benda bungkusan.”

Bungkusan Rohmat:
“Oke, berarti hari ini kita belajar tentang verb, pembukaan kerja. Bapak jelasin dulu ya verb itu apa.”

Pesuluh X4:
“Iya pak.”

Pak Rohmat pun menjelaskan materi adapun verb, kira-taksir begini penjelasannya:

“Verb kerumahtanggaan bahasa inggris ikut ke privat kategori part of speech, lebih mudahnya, sang verb ini merupakan asal-pangkal gramatika yang harus dikuasai oleh learner (pembelajar). Simpelnya, sebuah kalimat bukan dapat disebut sebagai kalimat kalau tidak terdapat verba (verb) di dalamnya, perkenalan awal kerja fungsinya menerangkan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau benda, seperti itu penjelasan mudah mengenai apa itu verb.

Andai hipotetis, berikut kalimat-kalimat yang memiliki verb:

– I
write
an article on blog every day ~ Saya
menulis
artikel di blog setiap hari.

– I
read
a book on my spare time ~ Saya
membaca
kiat detik ada waktu luang.

– I
play
football with my friend ~ Saya
bermain
sepak bola dengan teman-tandingan.

Alas kata-kata yang dicetak deras di atas ialah introduksi kerja, itu yang kita ucap seumpama verb internal bahasa Inggris. Bagaimana? Mudah bukan?”

Agung:
“Mudah kok buntelan, saya udah reaktif.”

Pak Rohmat:
“Bagus, gimana dengan yang lainnya? Apakah telah paham?”

Murid X4:
“Sudah kemasan.”

Bungkusan Rohmat:
“Kalau semuanya sudah lalu mengerti, bapak cak hendak mengajak kalian memainkan games, namanya boarding games. Agung, modern ke depan kelas bawah saat ini.”

Agung:
“Iya pak.”

Pak Rohmat:
“Sekarang, bapak minta dua orang lagi untuk turut permainan ini, Zandy dan Febri. Kalian jaras ya, kalian berdua silahkan berdiri di sana.”

Zandy:
“Lah kok saya pak, yang tidak aja pak.”

Febri:
“Iya pak, nan lain aja, kita berdua nggak ngerti pak.”

Zandy:
“Yee, lo kali yang nggak ngerti Feb, lo centung pusung. Haha”

Febri:
“Sialan lo Zan!”

Paket Rohmat:
“Udah-udah jangan berantem, Zandy, Febri, ayo sekarang berdiri dulu, trus jalan ke sudut ruangan, di pinggul sana ya.”

Zandy:
“Oke, udah pak. Terus kita empat mata harus ngapain lagi selongsong?”

Buntelan Rohmat:
“Agung, sekarang kamu boleh share ke temen-temen kelas engkau tentang aktifitas sehari-hari, kalo udah, kiai bakalan terjemahin ke bahasa Inggris. Terus Febri sama Zandy harus menyimak ketika bapak sedang menerjemahkan, begitu kalian berdua sudah menemukan prolog yang kalian anggap umpama verb, langsung lari ke depan kelas dan tulis kata yang kalian anggap sebagai verb, memafhumi?”

Agung:
“Jadi, ceritanya kita disuruh curhat di depan kelas nih selongsong?”

Pak Rohmat::
“Iya, nanti yang kalah harus curhat adapun kegiatannya sehari-hari, nan menang bisa duduk.”

Zandy, Febri, Agung:
“Oh gitu.”

Pak Rohmat:
“Oke, kita mulai aja gamesnya ya, Agung, silahkan dimulai.”

Agung:
“Oke, saya suka membaca artikel di internet saban hari.”

Pak Rohmat:
I like reading an article on the internet every day.”

Zandy dan Febri serempak berlari dengan cepatnya ke depan kelas, meraih spidol marker, dan mennuliskan satu kata di white board.

Zandy:
“Sudah lalu pak, jawaban saya
reading, benar kan pak?”

Febri:
“Saya lagi udah pak, jawaban saya
like, bener nggak bungkusan?”

Zandy:
“Pasti jawaban gue yang bener, secara gitu gue kan bertambah pinter daripada lo. Haha.”

Febri:
“Belum tentu Zan, siapa tahu jawaban gue yang bener.”

Zandy:
“Kita lihat saja boleh jadi yang lebih bener.”

Pak Rohmat:
“Oke, bapak jelasin dulu ya, prolog reading di privat kalimat ini fungsinya bukan seumpama verb, kenapa? Bukan karena ada verb read dan imbuhan -ing lantas kata reading kita sebut sebagai verb, nggak bisa begitu. Reading dalam kalimat itu fungsinya itu perumpamaan present participle atau lebih seringnya disebut gerund, reading baru bisa dikatakan verb seandainya disertai to be (is, am, are), sayangnya dalam kalimat ini lain cak semau to be, jadi kerena reading tak verb, maka jawaban yang benar adalah like, selamat Febri, jawaban kamu benar.”

Febri:
Yes! Jawaban gue bener, kali ini lo nggak boleh ngejek gue Zan. Haha. Mana, katanya lo lebih pinter ketimbang gue, masa jawab gitu aja pelecok sih, haha. 🙂

Zandy:
“Berisik, diem lu feb!”

Paket Rohmat:
“Oke, mudah teko gamesnya? Selain seru, kalian pun membiasakan tentang verb, oke, Zandy, karena jawaban kamu salah, sira gantiin posisi agung. Gantian engkau yang share ke temen-temen.

Zandy:
“Iya paket.”

Febri:
“Rasain, maka itu jangan suka ngerendahin orang lain, kena kan kesannya sekarang, Haha.”

Zandy:
“Iya, iya, maaf deh.”

Pak Rohmat:
“Febri, karena jawaban beliau  bener, dia bisa tunjuk temen ia yang akan gabung di games ini.”

Febri:
“Oke, siap pak. Saya memilah-milah trio sleepers pak.”

Selongsong Rohmat:
“Apa? Trio Segala apa? Sleepers?”

Febri:
“Iya pak, siapa lagi kalo lain satrio, cecep, dan riyanto yang suka tidur di inferior.”

Sontak, pak Rohmat dan tampin-teman sekelas tertawa mendengar penjelasan Febri.

Riyanto:
“Parah lo feb, masa iya gue dicap pakar tidur.”

Satrio:
“Oke, si jangkung yang satu ini mulai rese sepertinya.”

Cecep:
“Udah, udah satrio, Riyanto, sabar, namanya juga febri. Biarin aja, udah kita menggermang di sana, siap-siap lakukan main games.”

Mereka pun sudah siap di tempatnya sendirisendiri dan Zandy pun memulai curhatannya.

Zandy:
“Cecep, Riyanto, dan Satrio suka tidur di kelas.”

Peserta X4:
“Hahahahahaha.” Teman-antiwirawan sekelas tertawa lagi karena membahas tentang ulah tiga bocah juru tidur di kelas.

Pak Rohmat:
Cecep. Riyanto, and Satrio like to sleep in class.”

Mereka bertiga berkejaran, berebut  tempat kosong di white board, tidak ada nan cak hendak mengalah, ketika Riyanto erat selesai menulis kata yang termasuk verb, Satrio menghapusnya, Riyanto kesel, cecep juga selesai menggambar jawabannya lebih lampau karena bukan diganggu oleh satrio. Satrio menyusul di  posisi kedua, dan Riyanto terakhir.

Cecep:
Jawaban saya like to, pak.

Satrio:
Jawaban saya sekali lagi separas seperti cecep, paket.”

Cecep:
“Lo sat, ngapain nyontek jawaban gue?”

Satrio:
“Boleh jadi yang nyontek, orang pilihannya itu sekadar.”

Cecep:
“Oh iya yah, gue bau kencur sadar kalo pilihannya invalid.”

Satrio:
“Maka dari itu jangan dzikir mulu. Haha.”

Cecep:
“Rese lu sat!”

Riyanto:
“Jawaban saya sleep, kemasan.”

Pak Rohmat:
“Oke, kita bahas ya, dalam kalimat ini, introduksi like to enggak verb, kenapa? Karena kata like to privat kalimat itu dalam tata bahasa Inggris masuk ke dalam ketegori infinitive to, sedangkan setelah infinitive to selalu diikuti oleh verb rangka ke-1, jadi, kata kerja dalam kalimat ini merupakan sleep”

Riyanto:
“Hore, jawaban gue bener. Jawaban lo empat mata salah. Udah tidur lagi aja sana.”

Siswa X4:
“Hahahaha.” Kutub-teman kelas lagi tertawa karena mendengar Riyanto menyuruh kedua temannya tidur juga padahal anda sendiri pula tukang tidur di kelas.

Satrio:
“Mana bisa tidur kalo kelas berisik berlimpah gini, malah belajarnya lemak gini, gue nggak ingin ngelewatin saat kelas bahasa Inggris yang jarang ini, ntar aja gue tidurnya sehabis mata pelajaran bahasa Inggris selesai.”

Cecep:
“Di mata pelajaran matematika tujuan lo sat?”

Satrio:
“ya iyalah, emang jam ragil kita ada alat penglihatan latihan lebih-lebih lagi kalo bukan ilmu hitung?”

Cecep:
“Oh iya yah.  Lo bener juga”

 Bel pun berbunyi, itu isyarat indra penglihatan latihan bahasa Inggris telah usai.

Murid X4:
“Yaaaaaaaaaah, mengapa cepet banget sih?” Padanan-kutub sekelas kecewa sedangkan menengah asik-asiknya belajar bahasa Inggris dengan bungkusan Rohmat.

Pak Rohmat:
“Zandy, Satrio, Cecep, dan Riyanto silahkan duduk sekali lagi, semoga pelajaran hari ini dapat meninggi wawasan kalian tentang bahasa Inggris ya, sayang sekali waktunya sudah radu, salam kenal semuanya ya, mulai sekarang, kiai nan akan mengajar indra penglihatan pelajaran bahasa Inggris di kelas bawah kalian, kiai mohon diri undur diri, sekian, terima kasih.”

Murid X4:
“Terima kash mutakadim mengajar di kelas kami pak, ditunggu kehadirannya di alat penglihatan kursus bahasa Inggris paket.” Saya dan teman-lawan kompak mengucapkan kalimat itu, kami suka dengan guru bahasa Inggris kami nan baru.

————————————————————————————————-

Sekian ceritanya, bagaimana menurut kalian, pembaca Daily Blogger Pro? Semoga kalian doyan ya dengan artikelnya, dan boleh bermanfaat tentunya. 🙂

Terimakasih sudah lalu membaca artikelnya sampai selesai, seandainya mau ngobrol adapun artikel ini, silahkan gunakan box komentar di bawah artikel ini. 🙂

Source: https://www.dailybloggerpro.com/2016/03/pernah-denger-kata-verb-sewaktu-guru-ngejelasin-materi-di-kelas-baca-tulisan-ini-kamu-pasti-bisa-paham-apa-yang-dimaksud-verb-dalam-bahasa-inggris.html

Posted by: and-make.com