Belajar Bahasa Berdasarkan Pendekatan Behaviorisme Konstruktivisme Kognitivisme

1. Teori sparing.

Sebelum merancang pembelajaran, seorang guru harus tanggulang bilang teori atau filsafat tentang belajar, teragendakan beberapa pendekatan n domestik pengajian pengkajian. Teori berlatih tersebutsebagian sudah dikenal privat pelaksanaan Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulum 2004. Sebagian sampai-sampai telah dikenal dalam mata khotbah tentang pendidikan dan pencekokan pendoktrinan. Penguasaan teori itu dimaksudkan agar guru berkecukupan memercayakan secara ilmiah perilaku mengajarnya di depan kelas.

a. Behaviorisme.

Teori ini di dalam linguistik diikuti antara lain oleh L.Bloomfield dan B.F.Skinner. Dalam keadaan berlatih, termasuk belajar bahasa, teori ini lebih mementingkan faktor eksternal ketimbang faktor n domestik dari individu, sehingga terikat siswa sahaja pasif saja menunggu stimulus mulai sejak luar (guru). Belajar apa sahaja dan oleh siapa saja (turunan atau binatang) sebabat saja, ialah melewati mekanisme stimulus – respons. Temperatur mengasihkan stimulus, murid merespons, seperti tampak plong latihan tubian (drill) privat cak bimbingan bahasa Inggris. Pelajaran nan menggarisbawahi kaidah tatabahasa, struktur bahasa (fonem, morfem, introduksi, frasa, kalimat) dan rang-tulangtulangan kebahasaan yaitu penerapan behaviorisme, karena behaviorisme bertambah mementingkan lembaga dan struktur bahasa ketimbang makna dan maksud.

b. Gestalt.

Berbeda dengan behaviorisme yang bersifat fragmentaris (mementingkan episode demi bagian, cacat demi sedikit), teori sparing ini menyibuk pentingnya berlatih secara keseluruhan. Jika Anda mempelajari sebuah kunci, bacalah dari awal sampai pengunci dulu, mentah kemudian bab demi bab. Intern linguistik dan pengajaran bahasa, sirkuit ini mengawasi bahasa sebagai keseluruhan utuh, melihat bahasa secara holistik, bukan bagian demi adegan. Belajar bahasa tak dilakukan setapak demi selangkah,dari abjad, silam morfem dan kata, frasa, klausa sampai dengan kalimat dan wacana. Bahasa adalah sesuatu nan n kepunyaan staruktur dan sistem, dalam maslahat bahasa terdiri atas babak-bagian yang saling berpengaruhdan saling bergantung.

c. Kognitivisme.

Kerumahtanggaan belajar, kognitivisme mengakui pentingnya faktor sosok privat belajar minus meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar merupakan interaksi antara khalayak dan lingkungan, dan hal itu terjadi per-sisten sejauh hayatnya. Kognisi ialah suatu organ dalam tulang kita yang adalah “kiat” penggerak berbagai kegiatan kita: mengidentifikasi lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai penyakit, mencari informasi baru, menarik simpulan dan sebagainya. Pakar kognitivisme yang besar pengaruhnya ialah Jean Piaget, nan perikatan mengemukakan pendapatnya adapun perkembangan kognitif anak yang terdiri atas beberapa tahap. Internal hal masukan bahasa ibu (B1) Piaget mengatakan bahwa (i) anak itu di samping berkaca-niru lagi aktif dan kreatif dalam mengendalikan bahasa ibunya; (ii) kemampuan untuk mengatasi bahasa itu didasari oleh adanya pemahaman; (iii) kognisi itu memiliki struktur dan fungsi. Fungsi itu bersifat genetif, dibawa sejak lahir, sedangkan struktur kognisi bisa berubah sesuai dengan kemampuan dan upaya individu.

Di samping itu, teori ini pula mengenal konsep bahwa belajar merupakan hasil interaksi yang kontinu antara individu dan lingkungan melalui proses asimilasi dan kemudahan. (Lihat strategi pembelajaran!).

d. Konstruktivisme.

Teori Piaget di atas melahirkan teori konstruktivisme dalam berlatih. Piaget mengatakan bahwa struktur kognisi itu boleh berubah sesuai dengan kemampuan dan upaya individu sendiri. Menurut konstruktivisme, pebelajar (learner, sosok yang sedang belajar) akan membangun pengetahuannya koteng berdasarkan apa nan sudah diketahuinya. Karena itu belajar mengenai dan mempelajari sesuatu itu tidak dapat diwakilkan dan tidak boleh “diborongkan” kepada orang lain. Siswa seorang harus proaktif mengejar dan menemukan wara-wara itu, dan mengalami koteng proses belajar dengan mencari dan menemukan itu. Di sini diperlukan pemahaman suhu adapun “apa yang sudah diketahui pebelajar”, atau segala yang disebut pengetahuan tadinya (prior knowledge), sehingga guru bisa tepat menyajikan target pengajaran yang layak: Jangan memasrahkan korban yang telah diketahui siswa, jangan menerimakan incaran yang terlalu jauh bisa dijangkau maka itu pelajar. Patut diingat bahwa sebelum belajar bahasa Indonesia pelajar sudah memiliki bahasa ibu (bahasa daerah) bak “proklamasi awal” mereka. Warta, pengalaman, dan keterampilannya dalam bahasa daerahnya itu harus dimanfaatkan oleh suhu bagi belajar berpendidikan Indonesia dengan lebih baik.

e. CBSA.

Sememangnya CBSA telah kita kenal sejak 1981 nan menyertai Kurikulum 1984 pula. CBSA itu satu pendekatan yang lahir untuk mengamankan keadaan kelas yang siswanya serba pasif. Adalah rukyah yang keseleo sekiranya dikatakan CBSA itu mengaktifkan murid dan “mewujudkan guru tutup mulut” (tidak aktif). Juga salah jika CBSA itu mesti berbantahan secara kelompok, mesti menjangkitkan bangku dan geta. Yang terdepan sebenarnya yaitu CBSA itu memaui agar cak semau keterlibatan mental-psikologis puas peserta sepanjang proses sparing-mengajar. Sekadar doang keterlibatan mental-psikologis itu kadang-kadang harus diwujudkan dalam perilaku fisik, misalnya bertanya, memberikan jawaban dan tanggapan, memberikan pendapat, dsb. Dalam hal les bahasa Indonesia, CBSA itu harus mewujud intern kegiatan siswa bagi banyak bertutur dan menulis, modalnya harus aktif-produktif ketimbang pasif-reaktif. Privat hal-hal tertentu CBSA itu mengharuskan peserta banyak terbabit privat proses belajar-mengajar, petatar mengalami belajarnya koteng, mendalami materi, dsb. Privat pembelajaran bahasa Indonesia CBSA amat bisa sehaluan dengan pendekatan komunikatif.

f. Kesigapan Proses.

Sebenarnya keterampila proses itu serupa dan senafas dengan CBSA karena kehidupan berpokok kedua pendekatan itu selaras yaitu bagaimana moga pesuluh itu terlibat aktif privat proses belajar-mengajar di dalam inferior. Kelincahan proses ini lahir antara enggak karena hawa cak acap hanya mencerca hasil belajar dan kurang memperhatikan proses bikin mencapai hasil itu. Dengan pengenalan lain, temperatur (dan murid) menghalalkan segala prinsip agar memperoleh hasil nan “baik” minus melihat mandu (teknik, metode, pendekatan, teori) memperoleh hasil itu. Kesudahannya, temperatur berlaku terbatas jujur, misalnya dengan membuat cak bertanya-soal yang sangat-saangat mudah, merelakan siswa menyontek, dan sebagainya; murid kembali berlaku tidak valid, ialah sengaja menyiapkan sontekan, khalayak, dan sebagainya. Sebenarnya, sejak kurikulum 1975 kita sudah mengenal TIK (Tujuan Instruksional Khusus) yang rumusannya mencantumkan mandu-cara buat mencapai hasil belajar yang boleh diamati dan diukur. Dalam rumusan nan kira-sangkil sama, KBK pun merumuskan “kompetensi” dengan deskriptor-deskriptor tertentu. Dalam bahasa Indonesia pendekatan ini boleh secara langsung digunakan untuk memonten perilaku berbhasa sehari-hari di dalam kelas secara terus-menerus.

g. Belajar secara Sosial.

Istilah Inggrisnya ialah social learning, dan sekarang dikenal dengan istilah belajar secara sanggang royong. Pendekatan ini menekankan pentingnya sparing bersama, secara berkelompok ataupun berdekatan, mengingat di dalam semangat bermasyarakat pun orang

selalu bermitra untuk melakukan sesuatu. Dalam kursus bahasa Indonesia pendekatan ini boleh diterapkan misalnya dalam menyusun karya tulis (membuat proklamasi, membuat sinopsis, meringkas teks, dan sebagainya), berdebat, berdialog, mendengarkan, dan sebagainya.

h. CTL.

Seiring dengan diperkenalkannya KBK, muncul gagasan mengenai CTL, singkatan bermula Contextual Teaching and Learning, atau mengajar dan membiasakan secara kontekstual. Pendekatan ini sepantasnya diilhami oleh makulat konstruktivisme. Sebenarnya siswa itu dapat didorong bagi aktif melakukan tindak belajar jika apa nan dipelajari itu sesuai dengan konteks. Konteks ini tidak hanya diartikan mileu sparing. Konteks itu bisa nyata konteks siswa (usia, kondisi sosial-ekonomi, potensi intelektual, keadaan emosi, dsb), konteks isi (materi kursus), konteks tujuan (maksud belajarnya, kompetensi yang hendak dicapai), konteks sosial-budaya, konteks lingkungan, dsb. Ada beberapa zarah dalam CTL yang harus diterapkan di intern proses membiasakan-mengajar, antara lain, pertanyaan, inkuiri, invensi, pengalaman. Dalam tutorial bahasa dan sastera Indonesia guru seyogiannya menghakimi kondisi kebahasaan murid: apakah siswa Ia berasal semenjak pedesaan atau perkotaan, bersumber keluarga ekonomi lemah atau keluarga mampu, cak semau di SMP maupun SMA. Guru semoga juga mengkritik raksasa-kecilnya pengaturan bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia n domestik pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari. Hal ini cangap mengusutkan master karena guru dan siswa mempunyai rataan belakang kebahsaan yang selevel sehingga kedua pihak bisa mengerjakan “kesalahan” yang selevel dalam berbahasa Indonesia. Master nan berlatar belakang bahasa Bali tentu berat mengenali kesalahan dalam berbahasa Indonesia nan dilakukan siswa-muridnya nan juga berkatar pinggul bahasa Bali, karena temperatur tidak menyadari kesalahannya sendiri. Minat siswa privat sastra dan kesastraan juga bisa mengelepai kepada latar belakang di atas.

i. Pendekatan Komunikatif.

Ini yakni pendekatan khas dalam belajar bertata cara. Intinya pendekatan ini memaksudkan agar (i) siswa diberi kedaulatan berbicara tanpa beban (wajib berbahasa Indonesia yang baik dan benar); (ii) siswa ki berjebah mengomunikasikan gagasannya kepada khalayak lain dan mampu menangkap dana memahami gagasan hamba allah tidak; (iii) siswa makin banyak berlatih berbahasa (empat keterampilan berbahasa) ketimbang belajar bahasa (teori, mandu tatabahasa, struktur bahasa,dsb); (iv) hawa tidak terlazim banyak menyalahkan ujaran siswa, apalagi menginterupsi detik siswa semenjana berbicara, karena keadaan itu dapat mematikan pecut pesuluh untuk berbicara. Bahasa harus kita pandang secara holistik (mendunia), bukan serpih-rempak (bagian demi bagian). Pendekatan komunikatif hakikatnya kembali sehaluan dengan mandu-pendirian dalam pragmatik.

j. Pendekatan Tematik-Integratif.

Senyatanya pendekatan ini sudah kita kenal pada kurikulum 1984. Intinya, tiap tuntunan harus berpijak pada tema ataupun subtema tertentu. Dan tiap sasaran pelajaran tidaklah seram sendiri melainkan dipadukan (diintegrasikan) dengan bulan-bulanan pelajaran yang lain. Intern belajar beradat Indonesia, bahan tutorial dapat dipadukan secara internal, misalnya kelincahan berbicara dengan tema pariwisata dengan kesigapan menulis, dengan aspek kebahasaan seperti kalimat dan frasa. Boleh pula secara eksternal dipadukan dengan sastra. Tambahan pula bahasa Indonesia dapat dipadukan dengan indra penglihatan tutorial yang tidak. Misalnya, lakukan pelajaran kalimat heterogen, guru boleh memadukan kalimat beragam dengan kelincahan membaca, dan bacaan itu diambil dari buku teks Ki kenangan, Ekonomi, Biologi, IPA, IPS, dsb. Artinya, siswa bisa ditugasi lakukan mencari dan menemukan pola-contoh kalimat berbagai di intern muslihat-buku teks itu.

2 Penerapan Teori Belajar.

Dalam situasi penerapan teori belajar, temperatur semoga menuduh dulu kompetensi dasar yang hendak dicapai maka itu petatar, indikator, deskriptor, dan bulan-bulanan ajarnya. Misalnya, jika bikin kompetensi K, indikator I, dan deskriptor D, serta target ajar fakta dan kosep frasa, guru akan menggunakan pendekatan tematik-integratif, bagaimana wujudnya kerumahtanggaan Gambar Penataran?

Lakukan menjawab pertanyaan ini suhu sepatutnya menentukan dulu temanya, misalnya lalu-lintas. Sekiranya kompetensi yang hendak dicapai adalah kegesitan membaca kesadaran, maka ditentukan pustaka bertema silam-lintas yang dipastikan mengandung sekian banyak frasa. Sekiranya Anda mengajar di SMP, bacaan seperti itu dapat dicari dalam buku teks IPS mengenai transportasi. Di situ Anda sudah melakukan integrasi antardisiplin atau antarmata pelajaran. Di dalam wacana itu siswa diperkenalkan dengan fakta tentang frasa dan tak frasa. Lalu guru melakukan sumbang saran untuk mencecah pemahaman tentang konsep frasa. Petatar kemudian boleh diajak mengalami belajar dengan cara berburu dan menemukan frasa-frasa enggak dalam novel atau cerpen. Lagi-lagi ini adalah pendekatan integratif. Siswa kesudahannya diminta membentuk laporan singkat secara teragendakan. Artinya, Kamu telah melakukan integrasi n domestik: aspek kebahasaan (yakni konsep frasa), keterampilan membaca, dan kecekatan menggambar.

Source: https://jarimatika-kukusan.blogspot.com/2011/07/teori-teori-belajar-behaviorisme.html

Posted by: and-make.com