Belajar Adalah Berdasarkan Al Quran Hadist

BELAJAR

N domestik PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS

Pendahuluan

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting karena tanpa melalui pendidikan, proses transformasi dan aktualisasi warta sulit lakukan diwujudkan. Demikian lagi dengan sains misal rajah pengetahuan ilmiah dalam pencapaiannya harus melalui proses pendidikan yang ilmiah pun.  Oleh karena itu Islam memfokuskan akan pentingnya belajar baik melewati aktivitas membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu nan terjadi di alam raya ini.

Sparing merupakan suatu aktifitas di mana terdapat sebuah proses berbunga tak tahu menjadi tahu, bukan memaklumi menjadi memafhumi, enggak boleh menjadi bisa cak bagi hingga ke hasil nan optimal. Jadi belajar merupakan perubahan yang relatif permanen kerumahtanggaan perilaku ataupun potensi perilaku sebagai hasil berasal pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Belajar adalah akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap sudah membiasakan sesuatu sekiranya engkau dapat menunjukkan perlintasan perilakunya. Menurut teori ini n domestik belajar yang terdepan yaitu input yang berupa stimulus dan output nan berupa respon. Maka itu karena itu belajar dapat disimpulkan sebagai suatu propaganda sadar yang dilakukan oleh hamba allah dalam perubahan tingkah lakunya baik melewati latihan dan camar duka yang mencantol aspek kognitif, afektif dan psikomotor bakal memperoleh tujuan tertentu.

Islam memandang orang seumpama mahluk yang dilahirkan dalam kaadaan fitrah maupun steril, Allah memberi potensi yang berperilaku fisis dan rohaniah yang didalamnya terdapat bakat kerjakan belajar dan mengembangkan ilmu makrifat dan teknologi untuk kemaslahatan mansia itu koteng.

Al-Qur’an merupakan Firman Allah SWT. nan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pedoman untuk makhluk dalam menata kehidupannya, agar memperoleh kebahagiaan lahir dan bathin, bumi dan akhirat. Konsep-konsep yang dibawa Al-Qur’an gegares relevan dengan problema yang dihadapi insan, karena ia turun cak bagi berdialog dengan setiap umat yang ditemuinya, sederum menawarkan pemecahan terhadap problema nan dihadapinya, pada saat dan dimanapun mereka berada.

Malakah ini akan menganalisis konsep belajar dalam perspektif al-Qur’an dan Perkataan nabi Nabi saw, mencakup radiks hukum dan karakterintiknya.

Keniscayaan  Belajar

            Pandangan al-Qur’an terhadap aktivitas pembelajaran, antara tak dapat dilihat dalam kandungan ayat 31-33 al-Baqarah:

وعلم ءادم الأسماء كلها ثم عرضهم على الملائكة فقال أنبئوني بأسماء هؤلاء إن كنتم صادقين(31)قالوا سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم(32)قال ياآدم أنبئهم بأسمائهم فلما أنبأهم بأسمائهم قال ألم أقل لكم إني أعلم غيب السموات والأرض وأعلم ما تبدون وما كنتم تكتمون(33)البقرة

Dan Engkau mengajarkan kepada Lelaki nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat sangat berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku label benda-benda itu jika dia memang turunan-orang yang bermartabat!”

Mereka menjawab: “Maha Salih Ia, tidak suka-suka nan kami ketahui selain bermula barang apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; senyatanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui kembali Maha Bijaksana.

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka merek-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka logo-merek benda itu, Allah berfirman: “Bukankah telah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui muslihat langit dan bumi dan mengarifi apa nan dia lahirkan dan segala apa yang dia sembunyikan?”

            Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugrahi Allah potensi lakukan mengetahui nama-etiket ataupun khasiat dan karakteristik benda-benda, misalnya kekuatan jago merah, kilangangin kincir dan sebagainya. Dan ia kembali dianugrahi kerjakan berbahasa. Itulah sebabnya maka pengajaran bagi anak-anak bukanlah dimulai melalui pencekokan pendoktrinan “verba”, tetapi terlebih silam mengenal nama-label . Ini ayah, Ibu, anak asuh, pena, kancing danlain sebagainya.[1]

            Senada  dengan penjelasan di atas, Prof. H. Ramayulis,  menyatakan  bahwa Halikuljabbar telah mengajarkan berbagai konsep dan konotasi serta memasyarakatkan kepada nabi Adam AS sejumlah stempel-nama benda umbul-umbul (tertulis lingkungan) perumpamaan pelecok satu sumber pengetahuan, yang dapat diungkapkan melalui bahasa. Dengan demikian maka Nabi Lanang berarti telah diajarkan menangkap konsep dan memaparkannya kepada pihak lain. Dus, Utusan tuhan Adam AS pada ketika itu telah tanggulang  symbol sebagai saran berfikir (tertera menganalisis), dan dengan simbul itu sira bisda berkomunikasi menerina tranformasi pengetahuan, ilmu, internalisasi nilai dan kontan berbuat telaah ilmiah.[2]

            Kaprikornus proses pembelajaran Utusan tuhan Maskulin (manusia puas saat awal kehadirannya) sudah sampai pada tahap praekplorasi fenomena bendera, dengan takrif mengenali sifat, karakteristik dan perilaku bendera. Peristiwa ini boleh kita perhatikan pernyataan ayat 31 al-Maidah:

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (31)المائدة

Kemudian Allah menyuruh seekor kalam gagak menggali-gali di mayapada bikin memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia mudah-mudahan menguburkan layon saudaranya. Berkata Qabil: “Duhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu melakukan sebagaimana burung gaok ini, lalu aku bisa menguburkan mayit saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara insan-orang yang menyesal.

            Sebagian mufassir mengklarifikasi bahwa setelah “Qobil”[3] menuding segala apa yang dilakukan makanya burung gagak dan mendapatkan kursus darinya, dia bersuara:” Aduhai celaka segara, mengapa aku tidak berada berbuat begitu juga burung gagak itu, lalu menguburkan batang saudaraku (untuk membentangi bau busuk yang ditimbulkannya)?. Karena itu sira menjadi orang yang menyesal akibat kebodohannya, kecuali sesudah belajar berpunca peristiwa gagak.[4] Peristiwa ini menjadi indikasi bahwa telah terjadi proses pembelajaran melalui fenomena bendera, dengan pengetahuan mengenali sifat, karakteristik dan perilaku standard

            Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa berlatih dan pendedahan yakni aktivitas yang melekat secara inhern internal diri anak adam. Perumpamaan hamba Halikuljabbar yang ditugasi laksana khalifah di bumi, manusi tidak bisa tidak pasti terbabit secara alamiah dengan penataran. Makara ayat tersebut terkait erat dengan ayat sebelumnya, ialah bahwa Halikuljabbar telah menyanggang basyar sebagai khalifahNya di muka bumi. Atas alasan inilah maka anak adam dianugrahi potensi untuk belajar dan mengajar perumpamaan putaran tidak terpisah dengan tugas yang diembannya. Maka dari itu karena itu Islam sebagai agama mementingkan bahwa membiasakan merupakan kewajiban buat setiap muslim, sama dengan ditegaskan Rasulullah saw.

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ ».ابن ماجه

            Berangkat berusul penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa manusia yang tidak terdorong kerjakan berlatih(mendapatkan kebnaran), pada dasarnya yaitu menidakkan watak alamiyahnya, karena sparing itu hakikatnya yaitu kebutuhan asasi manusia. Galakan ini ada kerumahtanggaan diri turunan untuk menemukan beragam hakikat begitu juga adanya.  Artinya manusia kepingin mendapatkan publikasi tentang bendera dan wujud benda-benda dalam kaadaan selayaknya.  Teori ini diperkuat dengan salah satu do’a Nabi saw.,

Ya Allah perlihatkan kepadaku apa sesuatu sebagaimana nan sesungguhnya suka-suka”.

[5]

Tendensi individu terhadap makulat yaitu bagian dari kecenderungan mencerna berbagai hakikat. Maka dari itu sebab itu galakan mencari kebenaran ini cerbak lagi disebut perumpamaan kognisi filosofis. Dorongan ini unjuk karena dalam diri manusia terdapat fitrah, dan karena itu pula manusia dapat menyepakati rangkaian pengetahuan terbit luar. Dalam bahasa Arab menalar disebut dengan
al-idrak
. Artinya adalah
naik tangga
dan
sampai.. Berdasar pengertian ini para failosof menyebut orang nan berburu sesuatu dan menemukannya  dengan istilah
Innahu qad adrakahu.
Sosok pandai psikologi menyebut dorongan ini dengan istilah “dorongan cak hendak tahu”.[6]

Pendapat para juru, menyatakan bahwa galakan ingin luang mulai muncul pada diri anak sejak mereka berusia antara dua tahun sepotong, atau tiga tahun. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya tanya yang diajukan oleh sang anak asuh. Jikalau ayah bunda lain pandai menyikapi, maka urut-urutan kemampuan ini dapat terhambat, dan akan merusak pertumbuhan kecerdasan anak bersangkutan.[7]

Makanya karena itu cak agar dapat mengembangkan diri secara optimal maka secara kontinu makhluk senantiasa sparing bagi mendapatkan validitas demi kesenangan dan cita-citanya. Inilah riuk satu alasannya mengapa Halikuljabbar menyatakan bahwa antara orang yang berilmu dengan yang tak berilmu tak boleh disamakan. sebab hanya orang nan berilmulah yang dapat menjumut kursus, sehingga kamu dapat menjumut fungsi dari peoses arwah ini. Tugas kekhalifahan akan mecapai sukses kalau didukung dengan ilmu.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ” (الزمر/ 9)

            Sukses mengemban maklumat tersebut demap wujud dengan perasaan bahagia. Maka kerumahtanggaan konteks ini, Rasulullah menegaskan kerumahtanggaan riuk satu haditsnya bahwa siapa belaka nan terus berproses dalam sparing mencari pengumuman dan hobatan, maka Allah akan menunjukkan kemudahan sampai ke “suwargaloka”. Statemen Rasulullah ini sekarang menjadi semboyan bahwa guna-guna dan tehnologi menawarkan kenyamanan umur.

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِى الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ ».ابن ماجه

Karakteristik belajar

اقرأ باسم ربك الذي خلق(1)خلق الإنسان من علق(2)اقرأ وربك الأكرم(3)الذي علم بالقلم(4)علم الإنسان ما لم يعلم(5) العلق

Bacalah dengan (menyebut) jenama Tuhanmu Nan menciptakan, Anda telah menciptakan manusia dari seketul darah.  Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan burung. Dia mengajarkan kepada manusia segala yang enggak diketahuinya.

Iqra’
terambil berusul akar introduksi yang berarti menghimpun. Dari makna ini lahir berjenis-jenis makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tulis maupun tidak tertulis. Ayat ini tidak menguraikan obyek nan harus dibaca. Ini berarti al-Qur’an menghendaki umat yang beriman kepadanya supaya membaca seluruh fenomena alam ini, selama pembacaan tersebut dilakukan “bismi Rabbik”, dalam kepentingan berharga cak bagi kemanusiaan. Obyek pembacaan bisa berupa pan-ji-panji sepenuh, pertanda zaman, ki kenangan maupun diri sendiri.[8]

            Ayat ini kembali mengisyaratkan bahwa untuk mendapatkan kecakapan membaca dan wawasan yang baru, maka proses pembacaan harus dilakukan secara repetitif-ulang. Kontiunitas pembacaan haruslah tetap dalam kerangka bismi Rabbik (Demikian pesan dari pernyataan Iqra’ wa Rabbuka al-Akram). Selanjutnya diperoleh isyarat pula bahwa cara memperoleh hasil belajar/ guna-guna dapat ditempuh melalui dua model. Mandu pertama pembelajaran dengan alat (pen) nan sudah diketahui manusia tak sebelumnya, dan cara kedua dengan pembelajaran tampa alat dan tampa gerakan manusia. Lamun berbeda, namun ke dua pendirian itu sama-sama pecah dati Allah.

            Dalam konteks proses pembacaan dengan gudi “bismi Rabbik ini”, maka dok iman hendaknya dijadikan perumpamaan tumpuan terdepan. Dengan semacam itu maka motivasi membiasakan akan besar perut diniatkan karena mejalankan perintah Allah (ikhlas) dan ilmu yang diperopleh senantiasa diorientasikan kepada kemaslahatan mansia. Guna-guna dan teknologi memberi banyak maslahat dan menawarkan kenyamanan vitalitas, sementara itu iman menerimakan arah dan makna hidup. Perapaduan keduanya akan mengantar manusia menempati predikat menang, sebab hidupnya mendapat ridla Halikuljabbar dan senantiasa menjatah manfaat pada orang lain. Sebagaimana diisyaratkan ayat 11 al-Mujadalah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

            Selanjutnya sebagai konsekuensi konsekuen berusul paradigma “1qra’ bismi Rabbik” tersebut, maka intern proses pembelajaran , manusia harus melibatkan seluruh patensi yang dimiliki, potensi akal fikiran, perasaan/intuisi dan hati sekaligus. Sebab menurut al-Qur’an, seorang nan n kepunyaan ilmu haruslah mempunyai resan  dan ciri
khasyat, takut dan kagum kepad Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam manuskrip al-Fathir 28:

إنما يخشى الله من عباده العلماء إن الله عزيز غفور(28)الفاطر

Oleh karena itu maka penelaahan yang dilakukan makanya Rasulullah bukan hanya sekedar mencerdaskan akal fikiran manusia, saja sekaligus mengerjakan proses tazkiyah, sama dengan ditegaskan ayat 2 al-Jum’at:

هو الذي بعث في الأميين رسولا منهم يتلو عليهم ءاياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين(2)

Dia-lah nan mengutus kepada kaum nan buta huruf seorang Nabi di antara mereka, yang mendiktekan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya sungguh-sungguh kerumahtanggaan kesesatan yang nyata,

            Muhahammad Abduh mencerna bahwa misi Rasul Muhammad saw adalah

  1. membacakan ayat kauniyah yang menunjukkan kekuasaan Almalik, kebijaksanaan dan keesaanNya;
  2. menjernihkan kehidupan dari keagamaan yang sesat, kekotoran etik dan tak-lain yang meraja lela sreg jaman jahiliyah;
  3. mengajar tulis menggambar dengan pena, mengecualikan meraka dari keterbelakangan lakukan meraih peradaban yang unggul;
  4. mengajarkan rahasia permasalahan agama, pengetahuan hokum, kemaslahatan dan kaidah pengamalannya.[9]

            Makanya karena itu menurut al-Qur’an, semboyan aji-aji hanya bakal aji-aji, atau belajar sekadar untuk pengembangan mantra, bukan dikenal setara sekali. Ilmu pengetahuan/ belajar privat perspektif al-alquran tidak bebas skor, tetapi harus punya nilai
ilahiyah
(transenden); dikembangkan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah dan diorientasikan lakukan kemaslahatan dan kemanfaatan kerjakan manusiawi. Itulah sebabnya maka kaum muslimin dilarang oleh Rasulullah saw untuk berfikir dan mengamalkan hal-keadaan yang tidak berguna, dan sebaliknya didorong untuk mendapatkan guna-guna yang berguna. Sebagaimana dalah hadist Nabi saw.

أخبرنا يزيد بن سنان قال حدثنا عبد الرحمن بن مهدي قال أنبأنا سفيان عن أبي سنان عن عبد الله بن أبي الهذيل عن عبد الله بن عمروأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يتعوذ من أربع من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع ودعاء لا يسمع ونفس لا تشبع- النسائي في السنن الكبرى

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَعَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَزِدْنِى عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ » ابن ماجه

            Selanjutnya dari hadits dan ayat ayat di atas dapat dipahami pula bahwa bagian terdahulu berpangkal proses belajar yakni kemampuan individu bagi memproduksi hasil belajarnya menjadi hal-hal yang bermanfaat. Peristiwa ini bisa dikaitkan dengan kemampuan Nabi Adam AS menyubutkan nama-label kepada Malaikat. Demikian pun kemampuan Qabil untuk memakamkan jenazah saudaranya yang telah dibunuh. Kaprikornus belajar harus membuahkan perlintasan kea rah yang lebih baik. Dengan demikian maka proses belajar menjadi wahana lakukan memiliki kemampuan memilih.

Simpulan

            Dari pembahasan tersebut di atas, sparing dalam perspektif al-Qur’an dan Hadits Nabi saw, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Sparing merupakan bagian dari kebutuhan alami manusia
  2. Belajar merpakan proses cenderung pergantian tingkah laku kearah yang makin baik, baik melintasi pembacaan, pengamatan, penelitian, tafakur dan pengalaman langsung
  3. Al-Qur’an memerintahkan kaum berkepastian untuk belajar secara berkelanjutan, meski mereka dapat berkembang hingga ke kesempurnaan sebagai hamba Allah dan khalifahNya
  4. Korban pembacaan/ pembelajaran mencakup seluruh fenomena sejagat, manusia, sejarah, isyarat zaman dll
  5. Sparing adalah jalan mengaras sukses dan kebahagiaan
  6. Karakteristik maupun ciri khas belajar dalam persektif al-Qura’an dan Hadist Rasul ialah:
  1. Sparing episode dari ibadah kepada Allah, karena itu harus dilakukan dengan jati dan sungguh-alangkah
  2. Diorientasikan untuk mencapai manfaat dan kemaslahatan
  3. Limbung iman senantiasa menjadi paradigma utama, karena itu ia harus mengawal pengembangan sain dan teknologi
  4. Mendorong pembelajar untuk menjadi manusia yang merembas dan kagum kepada Allah
  5. Melibatkan potensi akal, rasa hati/lever dan prerasaan serta seluruh panca indra, sehingga terjadi proses tilayah dan tazkiyah

Sampurnan, 5 Maret 2011

– Quraish Shihab, Prof, Dr,
Tafsi al-Mishbah , Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Pisangan Ciputat: Loleng Hati, 2010)

–  H. Ramayulis, Prof. Dr. Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta: Kontol Luhur, 2002)

– Murtadla Muthahhari,
Individu dan Jagat rat
(terj.) , ( Jakarta  : Loleng,  2002 ),

– M. Quraish Sjhihab,
Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudlu’I Atas Pelbagai Permasalahan Umakaki langit (Bandung: Tula, 1998) h. 433


[1] Lihat Quraish Shihab, Prof, Dr,
Tafsi al-Mishbah , Wanti-wanti, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Pisangan Ciputat: Lentera Hati, 2010) Vol. I h, 176-177

[2] H. Ramayulis, Prof. Dr. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Titit Mulia, 2002) hal 21

[3] Qobil putra Nabi Lelaki AS, yang sudah lalu menzabah saudaranya sendiri bernama “Habil”.

[4] Lihat Quraish Shihab, Prof. Dr. Tarsir al-Mishbah…. Vol. peristiwa. 97 dan 98

[5] Terletak suatu do’a nan senantiasa dibaca kaum muslimin supaya senantiasa privat keabsahan     اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه

[6] Murtadla Muthahhari,
Basyar dan Umbul-umbul Seberinda
(terj.) , ( Jakarta  : Tanglung,  2002 ), situasi. 47, 51

[7]
Ibid, hal. 53

[8] M. Quraish Sjhihab,
Wawasan Al-Qur’an, Kata keterangan Maudlu’I Atas Pelbagai Permasalahan Umat (Bandung: Mizan, 1998) h. 433

[9] Quraish Shihab, Prof. Dr.
Tafsir al-Misbah…..Vol. 14, h. 46

Source: https://nurfitriyanielfima.wordpress.com/2013/10/07/belajar-dalam-perspektif-al-quran-dan-hadis/

Posted by: and-make.com