Bahan Belajar Mandiri Konsep Dasar Ips Drs H Sapriya









TUGAS


RINGKASAN Daya









Maka itu:




Keunggulan

: STEVANUS LEKI




NIM

: 130786206000023




PRODI/SEMESTER

: PGSD/IV (Catur)




MATA KULIAH
: PEMBELAJARAN ILMU SOSIAL SD




PENGASUH M.K


: ARYLIEN LUDJY. ULY BIRE, SPd


Programa Penggalian PENDIDIKAN Master SEKOLAH Pangkal


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS KARYADARMA Kupang


Gelinggang


2015


MODUL 1


Guna-guna Pengetahuan Sosial Sebagai Program Pendidikan

H. Nursid Sumaatmadja



1.1.





Hakikat IPS Sebagai Program Pendidikan

Setiap orang sejak lahir, tidak terpisah dari manusia enggak, khususnya dari orangtua, dan bertambah tersendiri pun dari ibuyang melahirkannya. Sejak saat itu sang bayi telah melakukan rangkaian dengan orang lain, terutama dengan ibunya dan dengan anggota keluarga lainnya. Meskipun masih sepihak, artinya pecah basyar-makhluk yang lebih renta terhadap dirinya, rangkaian sosial itu mutakadim terjadi. Tanpa interelasi sosial dan bantuan mulai sejak anggota anak bini tidak, terutama dari ibunya,sang jabang bayi enggak berdaya itu, tidak akan mampu tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa.



Lebih lanjut intern pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani sesuai dengan interpolasi hayat, introduksi serta camar duka seseorang (si bayi) terhadap spirit mahajana di sekitarnya makin berkembang dan meluas. Pengenalan manusia bukan di asing dirinya, tidak namun bertepi pada orang-orang dalam keluarga, melainkan meliputi musuh sepermainan, para setangga, warga kampung, dan demikian lebih jauh. Hubungan sosial yang dilami, makin merambat.



Pengetahuan yang melekat sreg diri seseorang tersebut, termasuk yang melekat sreg diri kita per, dapat dirangkum bak “pengumuman sosial”. Kelahiran kita andai manusia kemudian diikuti makanya hubungan, pergaulan, penjelajahan, pemenuhan kebutuhan, dan enggak sebagainya yang dialami kerumahtanggaan kehidupan di masyarakat serta bermasyarakat, telah mewujudkan pemberitaan sosial dalam diri kita per.



Kemudian, apabila kita hayati selanjutnya, vitalitas basyar di publik dan bermasyarakat, lain hanya meliputi aspek-aspeklain yang berhubungan satu sama bukan. Vitalitas sosok di masyarakat itu beraspek majemuk atau multi aspek. Tidak usah kita melihat keadaan yang jauh-jauh, hayatilah jiwa kita masing-masingdalam hubungan hidup dengan orang-cucu adam dalam masyarakat.



Dari takrif yang demikian n domestik semangat di masyarakat dan bermasyarakat, kebutuhan materi pokok yang membentangi jenggala, sandang dan tiang, selain menyorotkan aspek ekonomi dari spirit tersebut, kembali terkait dengan aspek kejiwaan ataupun aspek psikologi. Keterkaitan aspek-aspek tersebut, bisa kita amati dan hayati dari semangat praktis sehari-hari serta dari camar duka kita tiap-tiap. Kebutuhan atma khalayak misal anggota masyarakat, tidak hanya minus lega hayat ekonomi, melainkan pula meliputi atma penambahn embaran dan hobatan yang begitu juga kita lakukan saat ini. Tanpa menggunung pengetahuan dan hobatan, kehidupan kita di masyarakat akan tersisih n domestik arti terdesak maka itu insan lain yang lebih tingkatan publikasi dan ilmunya. Amanat dan ilmu, sangat membantu kita manusia memanfaatkan sumber daya bikin kesejahteraan.Maka dari itu karena itu, informasi dan aji-aji ini mengembangkan teknologi yang kontributif kita meningkatkan kesentosaan.



1.2.





Ruang Lingkup dan Proses Pembelajaran IPS

IPS andai program pendidikan, bukan hanya menyervis pengetahuan sosial semata-mata, melainkan kembali harus membina pesuluh didik menjadi pemukim masyarakat dan warga negara yang memiliki tanggungjawab atas kesejahteraan internal fungsi yang seluas-luasnya. Makanya karena itu, murid didik yang dibinanya tidak sahaja memadai berpengetahuan dan berkemampuan berpikir tinggi, melainkan harus sekali lagi n kepunyaan kesadaran yang hierarki serta tanggung jawab yang kuat terhadap kesejahteraan masyarakat, nasion, dan negara.

Sebagai bidang pengetahuan, pangsa jangkauan IPS bukan dapat tidak, ialah
nasib individu kerumahtanggaan masyarakat atau makhluk sebagai anggota mahajana alias boleh juga dikatakan manusia dalam konteks sosial.

Meninjau urat kayu lingkup IPS sebagai program pendidikan, lain dapat tidak, kita harus mulai dari ruang spektrum IPS bagaikan takrif makin dahulu. Oleh karena itu, kita wajib menelaah satuan-eceran manusia sebagai kelompok di masyarakat. Satuan gerombolan yang paling mendasar tidak lain adalah batih yang terasuh maka itu ayah (junjungan), ibu (gula-gula) dan anak. Keluarga batih (nuclear family)ini biasa pun disebut segitiga abadi. Dalam masyarakat nan bagaimanapun, keluarga yang yaitu segitiga sama kaki kuat ini selalu ada. Indah dari tanggungan inilah merecup seseorang (cucu adam) menjadi suatu pribadi, dan dalam keluarga ini juga mulai berkembang aspek-aspek jiwa sosial yang meliputi hubungan sosial, ekonomi, psikologi sosial, budaya, sejarah, geografi serta aspek politik. Tanggungan laksana wadah terjadinya nyawa dan aspek sosial itu kita kategorikan ibarat kelompok, sedangkan jika kita telaah dari fungsinya yang mengatur ketenteraman, ketertiban, hak dan kewajiban, serta keamanan, dapat pula dikategorikan umpama rang “pemerintah”bahkan pula “negara” yang lain formal.

Ch. H.Cooley menargetkan anak bini itu sebagai kelompok bendahara (primary group), yaitu kelompok yang menjatah pengaruh mula-mula dan utama terhadap pembentukan kepribadian. Padahal kelompok ataupun organisasi sosial,seperti gugus depan gerakan pramuka, kerubungan kawula mulai dewasa, karang muda, bahkan sekolah hanyalah adalah kelompok kedua (secondary group) yang mempengaruhi secara sekunder terhadap pembentukan kepribadian.

Perkembangan dan keberuntungan IPTEK intern meres transportasi-komunikasi-pengetahuan dewasa ini, juga meningkatkan perantaraan sosial manusia pecah suatu ruang ilmu permukaan bumi ke ira geografi lainnya yang enggak hanya satu arah, melainkan secara imbang jihat, nan kita sebut “interaksi sosial”. Proses ini tidak lagi tidak cuma tekor pada aspek budaya, melainkan telah meluas aspek-aspek tidak begitu juga strategi, dan terutma ekonomi.proses ini kembali telah menembus senggat-tenggat tempatan dan regional mengaras tingkat global. Proses pertalian sosial dan interaksi sosialini telah menjadi proses kesejagatan. Ira spektrum IPS, lain doang terbatas plong kehidupan sosial pada tingkat lokal dan regional, melainkan telah sampai ke tingkat universal.

Adapula nilai-nilai nan terbiasa dikembangkan oleh IPS sebagai program pendidikan ialah andai berikut:


1.2.1.



Kredit Edukatif

Pelecok satu tolak ukur kemenangan pelaksanaan pendidikan IPS, merupakan adanya perubahan prilaku sosial peserta jaga ke jihat yang lebih baik. Perilaku itu meliputi aspek-aspek psikologis, afektif dan psikomotor. Peningkatan perilaku kognitif disini, tidak hanya cacat kian meningkatnya pengetahuan sosial, melainkan meliputi lagi nalar sosial dan kemampuan mebcari altaernatif-alternatif penceraian ki kesulitan sosial. Oleh karena itu, materi yang dibhas pada pendidikan IPS ini, jangan sekadar kurang sreg kenyataan, fakta dan data sosial, melainkan juga mengangkat ki aib sosial nan terjadi sehari-periode. Pelontaran masalah sosial itu tidak selalu berusul kita sebagai guru IPS, melainkan makin baik pula jika peserta didik sendiri mengangkat dan melontarkan ki aib tersebut. Melintasi suasana nan demikian, nalar sosial dan kemampuan mencari alternatif pemisahan komplikasi sosial berbunga peserta didik makin meningkat.


1.2.2.



Nilai Praktis

Kita bersama sepakat bahwa pelajaran dan pendidikan apapun, nilainya enggak berjasa, apabila tidak bisa diterapkan secara praktis internal vitalitas sehari-hari. Dengan perkataan lain, pelajaran dan pendidikan tidak mempunyai makna yang baik, jika tidak mempunyai angka praktis. Maka itu karena itu, pokok bahasan IPS itu, jangan hanya akan halnya manifesto yang konseptual-teoritis cuma, melainkan digali berbunga kehidupan sehari-waktu, mulai berusul lingkungan anak bini, di pasar, di jalan, di tempat bermain dan seterusnya. Dalam situasi ini nilai praktis itu, disesuaikan dengan tingkat sukma dan kegiatan pelajar didik setiap hari. Pengetahuan IPS yang praktis tersebut bermakna n domestik menirukan berita, mendengarkan radio, membaca rahasia narasi, menghadapi persoalan semangat sehari-tahun sampai kepada pengetahuan IPS yang lainnya.


1.2.3.



Biji Teoritis

Pendidikan IPS bukan tetapi menyajikan dan membahas takrif, fakta dan data nan terlepas-lepas, melaikan makin jauh daripada itu menelaah keterkaitan aspek nasib sosial dengan yang lain-lainnya. Pesuluh asuh dibina dan dikembangkan kemampuan nalarnyake arah dorongan mengetahui seorang kenyataan (sense of reality) dan dorongan menggali sendiri di lapangan (sense of discovery). Kemampuan menyelidiki dan meneliti dengan mengajukan berbagai pernyataan (sense of inquiry)
mereka dibina serta dikembangkan. Dengan demikian, kemampuan mereka mengajukan “dugaan” dan hipotesis-premis terhadap satu persoalan, pula berkembang.


1.2.4.



Nilai Metafisika



Pembahasan ruang radius IPS secara bertahap dan keseluruhan sesuai dengan urut-urutan kemampuan pesuluh didik, dapat berekspansi kesadaran mereka selaku anggota masyarakatatau sebagai makhluk sosial. Melewati proses yang demikian, peserta ajar dikembangkan kesadaran dan penghayatannya terhadap keberadaannya di tengah-tengah umum, behkan kembali di paruh-perdua pan-ji-panji raya ini. Bermula kesadarannya terhadapkeberadaan tadi, mereka disadarkan juga akan halnya perananya masing-masingterhadap awam, lebih-lebih terhadap alam lingkungan secara keseluruhan. Dengan congor tak, kemampuan mereka mempertimbangkan kesediaan dan peranannya di masyarakat ini, makin dikembangkan. Atas kemampuan mereka berfilsafat, skor makulat yang demikian berfaedahnya kerumahtanggaan usia bermasyarakat, tidak luput berasal perhatian pendidikan IPS.


1.2.5.



Nilai Ketuhanan

Kita boleh meresapi sendiri menikmati yang kita peroleh sebagai turunan, makhluk sosial yang berlainan dengan makhluk semangat nan enggak, baiktumbuh-tumbuhan maupun binatang. Kenikmatan dari Sang pencipta Nan Maha Kuasa berwujud akal pikiran nan berkembang dan dapat dikembangkan nan telah mengangkut manusia sendiri atau memenuhi apa kebutuhannyadari sumber trik nan telah disediakan oleh-Nya. Kenikmatan kita bak manusiamampu menguasai IPTEK, menjadi landasan kita mendekatkan diri dan meningkatkan IMTAK kepada-Nya.



1.3.





Hakikat Sumber, Sarana, dan Evaluasi Penataran IPS

Sehabis kita membahas ruang lingkup dan pembalajaran IPS, tentu kita akan bertanya intern
diri kita tiap-tiap “Apakah nan menjadi sumber IPS dan sendang pembelajaran IPS itu?”

Ruag lingkup IPS itu tidak enggak adalah kehidupan sosial individu di masysrakat. Oleh karena itu, masyarakat inilah yang menjadi sumberutama IPS. Aspak atma sosial apapun yang kita pelajari, apakah itu pergaulan sosial, ekonomi, budaya, kejiwaan, sejarah, geografi ataukah itu politik, bersumber dari masyarakat. Perumpamaan teoretis secara langsung kita dapat mengamati, mempelajari, bahkan mengalami aspek jiwa sosial nan kita sebut ekonomi, tidak copot berasal awam maupun dengan perkataan lain, aspek ekonomi ini bersumber di umum.

Wacana-pustaka sebagaimana sosi, surat kabar, majalah dan kertas kerja menjadi sumber materi dan penelaahan IPS. Dalam aspek album benda-benda peninggalan masa lampau yang sudah lalu menjadi dokumen, sebagian masih ada di tempatnya seperti candi-candi dan bangunan bersejarah lainnya.

Evaluasi penerimaan IPS secara menyeluruh, meliputi bentuk-bentuk tes dan nontes. Ke dalam rancangan tes, termasuk konfirmasi obyektif, tes esai (jabaran), dan pemeriksaan ulang lisan. Sedangkan ke dalam nontes, meliputi tugas dan prestasi. Dalam pelaksanaan penataran IPS ini tentu saja kita menentukan rancangan mana yang paling kecil serasi dengan tingkatkemampuan dan urut-urutan kemampuan murid tuntun yang dievaluasi.


MODUL 2


KONSEP Bawah ILMU-Aji-aji SOSIAL

H. Nursid Sumaatmadja



2.1.



Konsep Bawah Geografi, Sejarah, Antropologi, Sosiologi, Dan Psikologi Sosial

Menurut Dorothy J. Skeel (1979:18), “Konsep adalah sesuatu yang tergambar dalam pikiran-suatu pemikiran, gagasan atau satu pengertian. Definisi bukan yakni Konsep yakni suatu citra mental tentang sesuatu. Sesuatu tersebut dapat berups target konkret ataupan gagasan yang contoh ”. sementara itu James G. Womack (1970:30) menyodorkan bahwa Konsep Studi Sosial (IPS) yaitu satu kata atau idiom yang berhubungan denga sesuatu yang menonjol, adat yang melekat. Pemahaman dan penggunaan konsep nan tepat bergantung lega penguasaan resan nan melekat tadi, pengertian umum kata yang bersangkutan.


2.1.1.



Ilmu permukaan bumi

Dari asal katanya, geografi itu berakar dari introduksi geo berharga bumi, dan graphein berarti tulisan maupun lukisan. Oleh karena itu secara harafiah, ilmu permukaan bumi itu berarti lukisan tentang mayapada. Namun sreg pembahasan para pakar geografi seterusnya, pengertian itu enggak hanya sekedar tulisan maupun lukisan hanya, melainkan meliputi pun penelaahannya lebih lanjut.

Ilmu permukaan bumi berkenaan dengan (1) geosfer maupun bidang manjapada, (2) liwa lingkungan (angkasa luar, litosfer, hidro-sfer, biosfer), (3) umat cucu adam alias antroposfer, (4) persebaran keruangan fenomena duaja dan kehidupan tertulis paralelisme serta perbedaaannya di latar bumi.


2.1.2.



Sejarah

Menurut Hugiono dan P.K. Poerwantana (1987:9) mendefinisikan sejarah laksana berikut “sejarah adalah bayangan tentang peristiwa-situasi zaman dulu yang dialami hamba allah, disusun secara ilmiah, menghampari urutan waktu, diberi tafsiran dan analisis kritis sehingga mudah dimengerti dan dipahami”.

Sejarah sebagai parasan ilmu sosial, memiliki konsep dasar yang menjadi karakter dirinya, dan yang bisa dibina pada diri kita masing-masing, terutama sreg diri peserta jaga. Konsep-konsep radiks itu adalah:


a.



Waktu


b.



Dokumen


c.



Alur situasi


d.



Perkembangan


e.



Kar


f.



Tahap-tahap peradaban


g.



Ulas


h.



Evolusi


i.



Revolusi


2.1.3.



Antropologi

Menurut Koentjaraningrat (1990:11) secara singkat mengemukakan bahwa “antropologi berjasa hobatan mengenai manusia”. Manusia dan binatang perumpamaan insan yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa, sama-ekuivalen dikaruniai induk bala, namu otak manusia dilengkapi makanya kemampuan nan berkembang dan dapat dikembangkan. Oleh karena itu, makhluk dengan akal geladak pikirannya inilah yang menghasilkan
kebudayaan.

Adapula konsep-konsep radiks antropologi yang melekat puas nyawa manusia antara tidak bak berikut:


a.



Tamadun


b.



Tradisi


c.



Pengetahuan


d.



Ilmu


e.



Teknologi


f.



Norma


g.



Lembaga


h.



Seni


i.



Bahasa


j.



Lambang


k.



Dan banyak hal serta fenomena yang dapat kita sendiri menggalinya.


2.1.4.



Sosiologi

Ilmu sosial yang secara khusus mempelajari “interaksi sosial” ini ialah sosiologi. Maka itu karena itu, Brown dan Brown (1980:35) mengemukakan bahwa “sosiologi secara kasar boleh didefenisikan sebagai studi ilmiah mengenai interaksi umat makhluk”

Konsep-konsep pangkal ilmu masyarakat seumpama berikut:


a.



Interaksi sosial


b.



Pemasyarakatan


c.



Kelompok sosial


d.



Perlapisan sosial


e.



Perubahan sosial


f.



Mobilisasi sosial


g.



Modernisasi


h.



Patologi sosial


i.



Dan konsep-konsep lain yang dapt digali sendiri dari pemberitahuan dan proses kehidupan sehari-hari.


2.1.5.



Psikologi sosial

Psikologi sosial seumpama pelecok suatu bidang ilmu sosial, menurut Harold A. Phelps (Fairchild, H.P.,dkk.:1982:290) “Ilmu jiwa Sosial adalah satu pendalaman ilmiah akan halnya proses mental cucu adam misal orang sosial”. Dengan kata lain semua hal yang meliputi prilaku manusia kerumahtanggaan konteks sosial yang terungkap pada perhatian, minat, keinginan, sikap mental, reaksi emosional, harga diri, kecerdasan, penghayatan, kesadaran dan dekian seterusnya.

Adapula konsep-konsep dasar psikologi sosial, yang menjadi pelecok satu bagian dan analisis ilmu sosial:


a.



Emosi terhadap obyek sosial


b.



Perhatian


c.



Minat


d.



Kemauan


e.



Cemeti


f.



Kecerdasan dalam menanggapi masalah sosial


g.



Penghayatan


h.



Kesadaran


i.



Prestise


j.



Sikap mental


k.



Masih banyak fenomena kerohanian yang lain yang boleh kita galilebih lanjut



2.2.



Konsep Bawah Ekonomidan Koperasi, Politik Dan Pemerintahan



2.2.1.





Ekonomi dan koperasi

Menurut Gerardo P. Sicat dan H.W Arndt (1991:3) mengemukakan bahwa ilmu ekonomi yaitu satu investigasi ilmiah yang mangkaji bagaimana orang perorangan dan kelompok-kelompok awam menentukan sortiran. Turunan mempunyai kedahagaan nan lain adv minim. Untutk memuaskan bermacm polah keinginan tersebut, tersedia sumber daya nan bisa digunakan. Berbagai mata air ki akal ini tidak cawis dengan bebas. Kesannya, sumber kancing ini langaka dan mempunyai berbagai kegunaan alternatif. Pilihan pengunaan boleh terjadi antar pengunaan
saat ini (hari ni) dan pengunaan esok hari (masa depan)…..selain itu, penggunaan sumber daya tersebut menimbulkan pula biaya dan maslahat maka diperlukan pertimbangan efisien dalam penggunaan perigi daya.

Sementara itu Jagat Cooperatif
Alliance (ICA) dalm buku
the cooperative Principles,
gubahan P.E. Weraman (A.A. Chaniago, Ch. Toweula dkk.: 1995:225) memberikan definisi:

Koperasi adalah himpunan orang-khalayak atau badan syariat; yang bertujan lakukan reformasi sosial ekonomi anggotanya malalui menunaikan janji kebutuhan anggotanya dengan perkembangan berusaha bersama saling mendukung satu dengan yang lainnya dengan cara mewatasi keuntungannya, usaha tersebut harus di dasarkan atas prinsip-prinsip koperasi.

Padahal berlandaskan tulisan Kiai Koperasi Indonesia, Dr. Mohammad Hatta, plong Masa Koperasi ke-1 tanggal 12 Juli 1951 (A.A Chiniago, Ch. Taweula dkk.: 1995:225) memberikan definisi: “Koperasi adalah bangun organisasi sebagai badan gerakan bersama berdasarkan asas kekeluargaan”.

Adapula konsep-konsep dasar yang menjadi kunci dua pokok persoalan yang rapat persaudaraan kaitannya satu sama tidak. Konsep-konsep itu umpama berikut:


a.



Kalangan sumber muslihat


b.



Keterbatasan sumur daya


c.



Kebutuhan yang tidak invalid


d.



Konsumsi-produksi-peredaran


e.



Ijab-petisi


f.



Kontak


g.



Keuntungan ekonomi


h.



Keuntungan sosial


i.



Alternatif eksploitasi sumber daya


j.



Sumber daya alternatif


k.



Sumur daya nan terbarukan


l.



Modal


m.



Tenaga kerja


n.



Pemuasan kebutuhan


o.



Surplus-sedikit-kesamarataan


p.



Efektif-efisien-produktif


q.



Dan keadaan-hal tak yang dapat kita gali seorang seterusnya.



2.2.2.





Garis haluan dan pemerintahan

secara singkat Mildred Parten (Fairchild, H.P., dkk.: 1982:224) mengemnukakan bahwa Ilmu Poitik adalah teori, kiat dan praktik memerintah. Sementara itu di pihak tak, J. Barents (Miriam Budiardjo : 119:9) dalam ilmu politika mengemukakan definisi: Ilmu ketatanegaraan adalah ilmu yang mempelajari negara…yang merupakan episode dari
kehidupan publik; Ilmu Politik mempelajari negara-negara itu melakukan tugas-tugasnya.

Selanjutnya pengertian pemerintahan menurut Brown dan Brown yaitu “pemerintahan yaitu semua aparat dan proses yang melaksanakan pengelolaan aktifitas negara” sedangkan menurut Charles J. Bushnell (Fairchild, H.P.,dkk.: 1982:132) “Pemerintahan organisasi reinkarnasi suatu negara, tadbir adalah negara intern penampilan praktisnya, pemerintah sebagai satu proses merupakan pelaksanaan khasiat negara privat suatu aspeknya”.


Adapula konsep-konsep asal yang menjadi kunci dua kancing permasalahan yang erat kaitannya satu sama lain. Konsep-konsep itu bagaikan berikut:


a.



Kekuasaan


b.



Negara


c.



Undang-undang


d.



Dewan menteri


e.



Dewan perwakilan rakyat


f.



Dewan pertimbangan agung


g.



Majelis hukum agung


h.



Kepemimpinan


i.



Demokrasi


j.



Kawasan


k.



Otonomi rakyat


l.



Otoriter


m.



Monarki


lengkung langit.



Republik


o.



Dan peristiwa-peristiwa tidak yang dapat kita keruk sendiri lebih jauh berdasarkan pengamatan
serta camar duka.


MODUL 3


KETRAMPILAN Dasar IPS DALAM PELAKSANAAN TUGAS SEBAGAI GURU DAN DALAM Kehidupan

H. Djakaria M. Nur



3.1.



Ketrampilan Sumber akar Ilmu-Aji-aji Sosial

Sebagai guru yang profesional, selain ki berjebah mengusai materi yang akan diajarkan kepada para siswanya, ia juga harus mampu mentransfernya sehingga hasil belajar siswa dapat optimal. Di sinilah diperlukan ketrampilan temperatur untuk mengidas metode nan tepat, dapat menunggangi sumur membiasakan, bisa menciptakan menjadikan dan menggunakan radas bantu/media dan alat peraga, mampu menciptakan suasana sparing yang kondusif dan lain sebagainya.

Secara singkat ada bilang ketrampilan khususnya guru geografi berkenaan dengan kegiatan belajar-mengajar topik/bahasan ilmu permukaan bumi.


3.1.1.



Metode Pendedahan


3.1.2.



Penggunaan sendang belajar


3.1.3.



Pengusahaan Wahana/Alat Pendedahan



3.1.4.




Menciptakan Suasana Berlatih yang Kondusif



3.2.





Ketrampilan Sosial

Beraneka rupa ketrampilan dasar IPS boleh diterapkan dal semangat sosial bermasyarakat, baik dalam menyibuk persoalan sosial yang terdapat di lingkungan masyarakat, begitu juga faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan maupun upaya bagi mengendalikan persoalan tersebut, baik dengan pendekatan berbagai ragam bidang stu aji-aji-hobatan sosial menyeluruh.


MODUL 4


INDIVIDU Publik DALAM PROSES SOSIAL BUDAYA

E. Maryani, M.S



4.1.



Pengertian Individu

Orang adalah satu kesatuan utuh antara raga dan rohani. Setiap makhluk mempunyai ciri solo dan kebutuhan yang unik. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, setiap khalayak membutuhkan individu tidak. Karena itulah manusia selalu hidup berkelompok membentuk masyarakat. Privat hobatan sosial anak adam adalah adegan terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah pun menjadi putaran yang lebih kecil. Misalnya batih sebagai kelompok sosial yang terkecil terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi, demikian pula Ibu. Anak masih dapat dibagi sebab dalam suatu keluarga jumlah anak dapat lebih dari satu.



4.2.





Makhluk Selaku Makhluk Sosok

Individu adalah seseorang/seorang manusia secara utuh. Utuh di sini diartikan sebagai suatu sifat yang tidak dapat dibagi-bagi. Ialah satu ketunggalan antara zahir dan kerohanian yang melekat sreg diri seseorang.Manusia selaku turunan punya 3 naluri,ialah :


4.2.1.



Naluri untuk mempertahankan kelangsungan umur.


4.2.2.



Naluri kerjakan mempertahankan kesinambungan penghidupan keturunan.


4.2.3.



Insting ingin tahu dan mencari kepuasan.



4.3.






Orang Selaku Makhluk Sosial

Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dengan lekas menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada periode kanak-kanak anyir sepenuhnya manusia tergantung kepada makhluk lain. Kamu belajar berjalan,membiasakan makan,belajar berpakaian,belajar membaca,berlatih membuat sesuatu dan sebagainya,memerlukan pertolongan hamba allah lain yang lebih dewasa.

Malinowski(1949), pelecok satu tokoh aji-aji Antropologi dari Polandia menyatakan bahwa ketergantungan individu terhadap individu tidak dalam kelompoknya dapat tertentang terbit usaha-aksi manusia n domestik memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosialnya yang dilakukan melalui perantaraan peradaban.

Rasa aman secara distingtif tergantung kepada adanya system perlindungan intern rumah,rok dan peralatan. Preservasi secara umum, dalam pengertian rayuan/kelompok tidak akan lebih mudah diwujudkan kalau insan bergerombol. Untuk menghasilkan keamanan dan kenyamanan hidup berkawanan ini,diciptakan adat-aturan  dan pengaruh-dominasi social akan halnya segala yang boleh dan yang tidak dapat dilakukan makanya setiap anggota kerubungan.Selain itu ditentukan sekali lagi kali yang berhak mengatur semangat kelompok untuk tercapainya harapan bersama.



4.4.





Konotasi Masyarakat

Awam, dalam Bahasa Inggris disebut society artinya sekawanan manusia yang nasib bersama, silih gandeng dan mempengaruhi,ganti terikat satu selevel lain sehingga melahirkan kebudayaan nan sebanding. Pengertian keropok manusia di sini tidak mempunyai batas yang jelas harus beberapa basyar, cuma jumlahnya minimal 2 orang.

Mahajana adalah sejumlah orang nan hidup dalam satu negeri saling berhubungan dan terikat satu sama tak, sehingga mempunyai rasa kekompakan dan menghasilkan kebudayaan.

Setiap individu dalam publik punya peran dan kursi yang berbeda. Setiap individu diharapkan boleh berperan sesuai dengan kedudukannya sehingga tercipta ketertiban, kenyamanan, kestabilan nyawa bermasyarakat, yang akhirnya pamrih bersama dapat tercapai.



4.5.





Struktur Sosial Budaya, Pranata Sosial Budaya Dan Proses Sosial Budaya

Khalayak dalam masyarakat tersusun menurut suatu sistem yang silih tercalit satu sama tak. Dalam setiap masyarakat ada perbedaan-perbedaan sosial yang lahir dari adanya perbedaan hamba allah seperti bentuk fisik, minat, kemampuan berpikir dan berkarya, kebudayaan serta agama. Bila perbedaan ini tersusun secara bertingkat, ada yang tingkatan, sedang dan rendah maka disebut stratifikasi sosial. Penahapan sosial dapat disebabkan oleh faktor kekayaan, supremsi, keperawanan dan ilmu pengetahuan.

Hamba allah punya kebutuhan. Untuk menetapi kebutuhan, karena itu diperlukan gelanggang ataupun tempat berinteraksinya sosok menurut teoretis perilaku tertentu dan sesuai dengan norma dan tamadun tertentu lagi. Maka timbullah pranata sosial budaya yang dapat positif pranata ekonomi, sosial, politik, pendidikan, agama, bahasa, seni dan teknologi.

Mengingat manusia selalu berinteraksi dengan basyar bukan baik internal satu keramaian ataupun dengan individu di asing kelompoknya, maka terjadi proses sosial budaya yang menuju kepada perubahan sosial dan budaya. Interaksi tersebut tidak selamanya sepaham, internal arti menimbulkan kerja sama, tetapi dapat pun menimbulkan pergesekan dan persaingan.


MODUL 5


MASYARAKAT Sebagai Atom NEGARA

Drs. Marsidi, S.U.



5.1.





Konotasi NEGARA

Negara merupakan suatu organisasi di antara sekawanan alias beberapa kelompok manusia yang secara bertepatan mendiami satu wilayah (territorial) tertentu dengan mengakui adanaya satu pemerintahan yang mengurusi tata tertib dan keselamatan setumpuk alias sejumlah kelompok manusia yang cak semau di wilayahnya.Organisasi negara intern satu wilayah bukanlah satu-satunya organisasi, terserah organisasi-organisasi tak (keagamaan, kepartaian, kemasyarakatan dan organisasi lainnya yang masing-masing memiliki kepribadian yang abolisi bersumber kebobrokan kenegaraan). Secara masyarakat negara dapat diartikan sebagai suatu organisasi utama yang ada di intern suatu wilayah karena memiliki tadbir yang berwajib dan mampu kerjakan timbrung campur dalam banyak peristiwa dalam bidang organisasi-organisasi lainnya.

Terletak beberapa atom yang dolan n domestik membentuk suatu negara. Zarah-elemen tersebut adalah:


5.1.1.



Masyarakat

Masyarakat merupakan partikel terpenring dalam tatanan satu negara. Umum alias rakyat ialah suatu hamba allah yang bersangkutan dalam suksesna suatu tatanan privat pemerintahan. Pentingnya unsur rakyat kerumahtanggaan suatu negara tak hanya diperlukan dalam ilmu kenegaraan (staatsleer) tetapi perlu sekali lagi teradat bersalin apa yang disebut guna-guna kemasyarakatan (sosiologi) suatu ilmu pengetahuan baru yang unik menyelidiki, mempelajari hidup kemasyarakatan. Ilmu masyarakat adalah hobatan penolong untuk hobatan hukum pengelolaan negara.


5.1.2.



Provinsi (teritorial)

Suatu negara tidak dapat berdiri tanpa adanya suatu negeri. Disamping pentingnya anasir distrik dengan tenggat-batas yang jelas, utama kembali situasi khusus wilayah yang bersangkutan, artinya apakah layak suatu area itu timbrung satu negara tertentu atau sebaliknya dipecah menjadi wilayah berjenis-jenis negara. Apabila memperlainkan peraturan perundang-undangan plong prinsipnya tetapi berlaku bagi orang-manusia yang ki berjebah di wilayahnya koteng. Hamba allah akan segera sadar mampu dalam satu negara tertentu apabila melampaui batas-perenggan wilayahnya sehabis bertatap dengan aparat (imigrasi negara) untuk memenuhi plural kewajiban yang ditentukan.


5.1.3.



Pemerintahan

`Ciri distingtif berpangkal pemerintahan intern negara adalah pemerintahan memiliki kekuasaan atas semua anggota umum yang merupakan penduduk suatu negara dan berada privat wilayah negara.

Ada empat macam teori mengenai suatu kebebasan, merupakan teori kedaulatan Tuhan, independensi negara, independensi hukum dan independensi rakyat.



5.2.





PENGERTIAN KONSTITUSI

Perkenalan awal “Konstitusi” signifikan “pembentukan”, bersumber dari pembukaan kerja yaitu “constituer” (Perancis) atau menciptakan menjadikan. Yang dibentuk adalah negara, dengan demikian konstitusi mengandung makna awal (permulaan) dari segala apa peraturan perundang-undangan tentang negara. Belanda memperalat istilah “Grondwet” yaitu berarti suatu undang-undang nan menjadi dasar (grond) dari segala syariat. Indonesia memperalat istilah Grondwet menjadi Undang-undang Dasar.

Konstitusi pada galibnya bersifat kondifaksi merupakan sebuah dokumen yang berisian aturan-rasam untuk menjalankan satu organisasi pemerintahan negara, namun dalam pengertian ini, konstitusi harus diartikan dalam artian tidak semuanya faktual dokumen tertulis (formal). Saja menurut para ahli ilmu hukum maupun ilmu ketatanegaraan konstitusi harus diterjemahkan termasuk kesatuan hati politik, negara, kekuasaan, pengutipan keputusan, politik dan distibusi maupun alokasi Konstitusi bagi organisasi pemerintahan negara yang dimaksud terletak beragam susuk dan kesimpangsiuran strukturnya, terletak konstitusi strategi atau syariat akan tetapi mengandung pula arti konstitusi ekonomi

Di beberapa negara terwalak kopi yang menyerupai konstitusi, namun oleh negara tersebut enggak disebut sebagai konstitusi.



5.3.





TUJUAN DARI KONSTITUSI

Lega umumnya hukum bertujuan untuk mengadakan tata tertib bagi keselamatan masyarakat yang penuh dengan konflik antara berbagai kelebihan yang ada di tengah masyarakat. Tujuan hukum tata negara pada dasarnya sama dan karena perigi terdahulu dari hukum tata negara adalah konstitusi atau Undang-Undang Dasar, akan lebih jelas bisa dikemukakan harapan konstitusi itu koteng.

Konstitusi sekali lagi memiliki tujuan yang sanding sama deengan hukum, namun tujuan terbit konstitusi bertambah tercalit dengan:


1.



Berbagai ragam lembaga-lembaga kenegaraan dengan wewenang dan tugasnya sendirisendiri.


2.



Hubungan antar tulangtulangan negara


3.



Hubungan antar lembaga negara(pemerintah) dengan penghuni negara (rakyat).


4.



Adanya jaminan atas milik asasi hamba allah


5.



Situasi-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan permohonan jaman.

Semakin banyak pasal-pasal yang terwalak di kerumahtanggaan suatu konstitusi tidak menjamin bahwa konstitusi tersebut baik. Di dalam praktekna, banyak negara nan n kepunyaan lembaga-rang yang tak tercantum di dalam konstitusi namun mempunyai peranan nan tidak kalah penting dengan rangka-rencana yang terdapat di dalam konstitusi. Bahkan terdapat hak-hoki asasi manusia yang diatur diluar konstitusi mendapat pemeliharaan lebih baik dibandingkan dengan yang diatur di privat konstitusi.



5.4.





Jalinan NEGARA DENGAN KONSTITUSI

Berbimbing sangat erat, konstitusi lahir merupakan usaha kerjakan melaksanakan dasar negara. Asal negara memuat norma-norma ideal, yang penjabarannya dirumuskan dalam pasal-pasal oleh UUD (Konstitusi) Merupakan satu kesatuan utuh, dimana dalam Pembukaan UUD 45 tersurat dasar negara Pancasila, melaksanakan konstitusi lega dasarnya juga melaksanakan dasar negara.



5.5.





PANCASILA DAN KONSTITUSI DI INDONESIA

Seperti mana yang kita ketahui privat kehidupan nasion Indonesia, Pancasila merupakan filosofische grondslag dan common platforms alias kalimatun sawa. Pada masa lepas keluih suatu permasalahan yang mengakibatkan Pancasila laksana alat yang digunakan untuk mengesahkan suatu yuridiksi dan mengakibatkan Pancasila mendekati menjadi idiologi tertutup. Hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa pancasila berlimpah di atas dan diluar konstitusi. Pancasila disebut sebagai norma fundamental negara (Staatsfundamentalnorm) dengan menggunakan teori Hans Kelsen dan Hans Nawiasky.

Teori Hans Kelsen yang mendapat banyak perasaan adalah panjang norma syariat dan rantai validitas yang membentuk limas hukum (stufentheorie). Pelecok seorang tokoh yang melebarkan teori tersebut adalah pelajar Hans Kelsen, yaitu Hans Nawiasky. Teori Nawiaky disebut dengan theorie von stufenufbau der rechtsordnung. Asosiasi norma menurut teori tersebut yakni:

1. Norma fundamental negara (Staatsfundamentalnorm);

2. Aturan dasar negara (staatsgrundgesetz);

3. Undang-undang formal (formell gesetz); dan

4. Qanun pelaksanaan dan peraturan otonom (verordnung en autonome satzung).

Internal pidatonya, Soekarno menyebutkan dasar negara sebagai Philosofische grondslag sebagai fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya nan diatasnya akan didirikan bangunan negara Indonesia. Soekarno pun menyebutnya dengan istilah Weltanschauung alias pandangan hidup. Pancasila adalah lima dasar ataupun lima asas.

Sekiranya keburukan dasar negara disebutkan maka itu Soekarno perumpamaan Philosofische grondslag ataupun Weltanschauung, maka hasil terbit persidangan-persidangan tersebut, yaitu Inskripsi Jakarta yang selanjutnya menjadi dan disebut dengan Introduksi UUD 1945, yang adalah Philosofische grondslag dan Weltanschauung bangsa Indonesia. Seluruh nilai-biji dan prinsip-prinsip dalam Pembukaan UUD 1945 adalah bawah negara Indonesia, terdaftar di dalamnya Pancasila.


MODUL 6


Adat-Resan Privat Atma BERBANGSA DAN BERNEGARA

Hamili


6.1. Aturan-sifat dalam Usia Berbangsa

Manusia dilahirkan ke dunia seorang diri dan dalam keadaan tidak berdaya. Untuk memberdayakan bani adam itu diperlukan bantuan insan lain, sebagai halnya ayah bunda, yunda, atau uri-plasenta nan lainnya. Hal ini menandakan, bahwa tiada seorang pun sosok yang dapat hidup koteng dan menyendiri. Secara faali manusia dilahirkan ke dunia mempunyai 3 (tiga) takhta, yaitu sebagai makhluk Halikuljabbar yang mulia, karena dilengkapi dengan akal ingatan; sebagai makhluk pribadi serta merta makhluk sosial dan sebagai kesatuan antarunsur rohani dan jasmani.

Dalam sukma dan kehidupannya manusia mempunyai manfaat dan cita-cita. Keistimewaan dan cita-cita tersebut dalam pencapaiannya enggak tertutup peluang akan bertabrakan dengan kepentingan dan cita-cita manusia tidak, sehingga menimbulkan konflik. Begitu juga dalam negara Indonesia yang memiliki ciri beraneka rupa punya plural zarah konflik yang maka dari itu Kuntjaraningrat digambarkan ada 5 molekul, yaitu (1) manakala penghuni dua suku bangsa masing-masing bersaing kerumahtanggaan situasi mendapatkan pelan pencahanan yang sama; (2) manakala penduduk berpunca satu kaum memaksakan kehendaknya kepada suku nasion lain; (3) manakala pemukim dari suatu kaki bangsa memaksakan wahi agamanya kepada suku bangsa lain yang farik agama; (4) manakala terserah upaya dari suatu suku bangsa untuk mendominasi kaki lainnya; dan (5) manakala ada kejijikan secara adat di antara tungkai bangsa yang ada.

Buat mengatasi berbagai potensi konflik nan ada dalam masyarakat ada bilang sikap polah yang harus dilakukan maka dari itu warga awam, sebagaimana dinyatakan oleh Jusman Iskandar, yaitu: (1) menyepakati akan martabat dan harga diri seseorang; (2) mengakuri akan adanya potensi dan perigi-sumur yang dimiliki oleh seseorang; (3) mengakui arti pentingnya kebebasan untuk mengutarakan cita-cita; (4) mengakui akan adanya kemampuan nan raksasa dalam diri seseorang; (5) mengakui hak-peruntungan yang dimiliki oleh setiap khalayak; (6) mengakui akan arti pentingnya perlawanan dan usaha orang seorang; (7) mengakuti akan pentingnya hak perseorangan untuk mendapatkan bantuan bersumber orang tidak; dan (8) mengakui akan kurnia pentingnya organisasi sosial nan ada di masyarakat.

Selain mulut perilaku di atas, cak bagi mengurangi terjadinya konflik diperlukan adanya norma ataupun kaidah nan mengatur roh publik dengan adanya norma atau kaidah ucapan maupun perilaku seseorang akan menjadi terkendali dan terarah sesuai dengan norma yang berlaku.

Norma-norma yang ada dan berkembang di umum di antaranya ialah norma agama yang sumbernya adalah dari Tuhan Yang Maha Esa, di mana pelaksanaan sanksinya puas umumnya dilaksanakan di akherat. Norma Kesopanan nan bersumber plong kepatuhan maupun kepantasan nan berlaku dalam awam. Norma kesusilaan merupakan norma yang bersumber lega hati nurani atau hati sanubari seseorang, sehingga sanksinya pun pada umumnya berupa penyesalan dalam diri. Norma adat bersumber pada kebiasaan yang ambruk-temurun serta dirasakan bagaikan satu kewajiban maka itu penganutnya, sehingga sanksinya pun kasatmata pengucilan atau pengusiran maka itu masyarakat adat setempat. Keempat norma tersebut nisbi. Makanya karena itu lahirlah norma hukum yang bersumberkan kepada tulang beragangan resmi yang ditunjuk untuk mewujudkan norma hukum, sanksinya lebih pasti dan termuat terlebih terlampau, sehingga makin menjamin kepastian hukum.

Antara norma-norma yang ada tersebut memang suatu sama tidak berbeda, terutama dilihat dari sumber dan pelaksanaan sanksinya. Belaka sebenarnya antara norma-norma itu satu sama lain tak dapat dipisahkan, dalam arti saling melengkapi dan mempertegas.


6.2. Aturan-aturan dalam Kehidupan Bernegara

Untuk menguasai perkara-perkara yang terjadi di masyarakat secara independen, maka para aparatur hukum harus menegakkan hukum dengan sebagus-baiknya. Penegakan syariat berniat untuk meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum intern awam sehingga masyarakat merasa memperoleh pengayoman dan eigendom-haknya terlindungi. Dalam menegakkan hukum terletak tiga unsur yang harus cinta diperhatikan yaitu: kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan.

Internal gambar mewujudkan sistem hukum nasional yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, maka pembangunan rataan syariat harus mencakup sektor materi syariat, sektor sarana dan prasarana hukum, serta sektor aparatur hukum. Aparatur hukum yang mempunyai tugas lakukan menegakkan dan melaksanakan hukum yaitu antara tak lembaga kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Kekuatan utama Bagan Kepolisian adalah bak lembaga penyidik; sedangkan kejaksaan berfungsi utama sebagai lembaga penuntut; serta tulang beragangan peradilan bagaikan buram pengadilan/pemutus perkara.

Berdasarkan pasal 10 ayat 1 Undang-undang No. 14 hari 1970 bahwa kekuasaan kehakiman dilaksanakan maka itu jasad meja hijau dalam catur lingkungan yaitu 1) Kehakiman Mahajana, 2) Peradilan Agama, 3) Yustisi Militer; dan 4) Peradilan Manajemen Manuver Negara. Peradilan Umum ialah kehakiman buat rakyat pada umumnya; sedangkan Kehakiman Militer, Peradilan Agama, dan Kehakiman Pengelolaan Usaha Negara merupakan peradilan singularis karena mengadili perkara-perkara tertentu dan memejahijaukan golongan rakyat tertentu. Keempat lingkungan peradilan tersebut per n kepunyaan mileu kewenangan mengadili tertentu serta menghampari jasad yustisi secara bertingkat, merupakan pengadilan tingkat mula-mula, tingkat banding, dan tingkat kasasi.

Milik dan kewajiban nan dimiliki pemukim negara mempunyai hubungan erat dengan hukum, di mana eigendom dan tanggung yang terpaku pada seseorang itu muncul karena ditentukan atau diciptakan oleh hukum. Tatanan yang diatur atau diciptakan syariat baru akan menjadi amanat apabila kepada subjek hukum diberi hak dan dibebani kewajiban. Setiap susunan syariat yang diciptakan maka itu hukum majuh mempunyai dua segi ialah di satu pihak kepunyaan dan dilain pihak beban.

Dalam kehidupan di umum, kepunyaan dan kewajiban selalu berkaitan, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan, karena setiap hak selalu didahului atau diikuti kewajiban, yang berarti tiada hak tanpa bagasi.

Bangsa Indonesia mengaram milik tidak rontok dari tanggung. Dengan demikian, individu Indonesia baik sebagai pemukim negara maupun perumpamaan warga masyarakat, mempunyai hoki dan bagasi nan sama. Hak dan kewajiban harus comar digandengkan, dengan tujuan bikin memelihara ketertiban, keamanan, dan keharmonisan privat nyawa bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepunyaan dan bahara merupakan satu kesatuan, dimana setiap hak mengandung kewajiban dan demikian pula sebaliknya intern setiap kewajiban terkandung nasib baik nan dapat dituntut.

Bikin menjamin nasib baik yang dimiliki warga negara/penduduk, pemerintah telah merumuskan sejumlah nasib baik yang dituangkan dalam UUD 1945 yaitu: milik kesamaan intern hukum dan pemerintahan, hoki atas pekerjaan dan penghidupan yang sepan, hak berpolitik, properti berserikat dan berkumpul, properti memintal agama yang diyakininya, hak membela negara, eigendom dipelihara maka itu negara, dan sebagainya. Sedangkan kewajiban yang diatur dalam UUD 1945 antara tidak muatan menjunjung hukum, pikulan menjunjung pemerintah, kewajiban membela negara, dan sebagainya. Hak dan kewajiban warga negara/penghuni selain diatur kerumahtanggaan UUD 1945 diatur pula dalam qanun yang cak semau di bawah UUD 1945. Dengan adanya pengaturan tentang nasib baik dan barang bawaan penduduk negara privat peraturan perundangan negara, menunjukkan bahwa di negara kita nasib baik dan kewajiban warga negara mendapat jaminan atau pelestarian syariat……………………………………

Source: https://anakotabes.blogspot.com/2015/09/ringkasan-buku-konsep-dasar-ips-modul-1.html

Posted by: and-make.com