Bahan Ajar Pendekatan Saintifik Sekolah Dasar

Isah Cahyani
Universitas Pendidikan Indonesia

[email protected]

Tanwujud

Cermin transisi Kurikulum 2013 terletak pada proses pembelajaran dan proses penilaian. Pembelajaran semua mata pelajaran menggunakan pendekatan sain tiik dan penilaian autentik. Hal ini sangat penting buat dicermati sekaitan dengan penggunaan buku peserta dan buku guru n domestik proses pembelajaran dan pengevaluasi an. Pendekatan saintiik meliputi kegiatan meng amati, menanya, mengumpulkan data, menalar, dan mengomunikasikan. Adapun penilaian autentik meliputi penilaian penampilan, projek, portofolio, dan tercatat.

Pembukaan kunci: pendekatan, saintiik, penilaian, autentik, kurikulum
A. Pendahuluan

Kesadaran implementasi Kurikulum 2013 masih simpang siur. Hal ini terdahulu lakukan dibahas, terutama berkaitan dengan pertukaran contoh proses sparing dan proses penilaian. Memang, Kurikulum 2013 masih merupakan perkembangan dan kelanjutan Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Dalam Kurikulum 2013 terkandung kompetensi sikap, pesiaran, dan keterampilan yang harus dikuasai petatar didik. Selain itu, di dalamnya tersusun proses pembelajaran dan proses penilaian bagi hingga ke kesuksesan kompetensi peserta jaga sesuai dengan standar kompetensi mantan, kompetensi inti dan kompetensi dasar.

Hal di atas menimbulkan banyak soal, di antara nya seperti apa proses penataran dan penilaian nan harus dilakukan bikin mengubah pola pikir penelaahan kurikulum lama menuju Kurikulum 2013? Proses pembelajaran yang ideal n domestik mengimplementasikan Kurikulum 2013 itu sama dengan apa? Lalu, penilaian autentik itu bagaimana pelaksanaannya, bukankah kini telah ada juga bentuk penilaian autentik? Bagaimana mengatasi peserta tuntun kelas bawah satu SD yang belum bisa membaca dan menggambar, seperti apa gayutan pembelajarannya?

bisa dipahami. Hanya, ada lagi yang menonjolkan berbagai ketidakberdayaannya dengan menunjukkan sikap apriori. Sikap tersebut dilontarkan beberapa guru, terutama mengenai penjadwalan, penambahan waktu belajar, proses belajar nan menyita periode, pembimbingan yang menguras pemikiran dan tenaga master karena harus terus membimbing peserta didik dalam setiap pembelajaran, proses penilaian nan melelahkan, penilai an autentik yang dipadankan dengan pilihan ganda.

Pembahasan di pangkal ini yaitu hasil membaca dan ki menggarap kembali
dari Panduan Implementasi Kurikulum 2013 sebagai gerbang yang akan mengantarkan dan

mendedahkan kognisi implementasi Kurikulum 2013 intern proses pembelajaran dan proses penilaian di kelas 1 dan 4 SD.

B. Pembahasan

Permendikbud No 65 Tahun 2013 mengatur bahwa sasaran pembelajaran menutupi peluasan lengang sikap, amanat, dan keterampilan yang dielaborasi lakukan setiap satuan pendidikan. Ketiga mati kompetensi tersebut punya penyeberangan pemerolehan (proses psikologis) yang farik. Sikap diperoleh melintasi aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menjiwai, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas“ mengingat, memahami, menerapkan,menganalisis, mengevaluasi, mencipta. Kecekatan diperoleh melalui aktivitas “membidas, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses. Lakukan memperkuat pendekatan ilmiah (scientiic), tematik terpadu (tematik antarmata pelajaran), dan tematik (dalam suatu netra
kursus) teristiadat diterapkan penelaahan berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/
inquiry learning). Lakukan mendorong kemampuan peserta ajar untuk menghasilkan karya

kontekstual, baik individual maupun kerubungan maka sangat disarankan menggunakan
pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemisahan keburukan(project

based learning). Rincian gradasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut.

Sikap Siaran Kegesitan

Mengamini Menghafaz Mencela

Menjalankan Mencerna Menanya

Menghargai Menerapkan Mengepas

Menghayati Menganalisis Menalar

Mengamalkan Mengevaluasi Menyaji, mencipta

Beralaskan grafik tersebut, proses pengajian pengkajian sepenuh nya diarahkan pada pengembangan ketiga lengang tersebut secara utuh/holistik, artinya pengembangan ranah yang suatu tidak dapat dipisahkan dengan ranah lainnya. Dengan demikian, proses penataran secara utuh melahirkan kualitas pribadi yang mencerminkan keutuhan penguasaan sikap, penge tahuan, dan keterampilan.

1.

Pendekatan Saintiik

Pendekatan Saintiik ialah pendekatan nan menerapkan nilai-nilai ilmiah dalam pelaksanaan pembelajaran semua mata pelajaran Kurikulum 2013. Pendekatan ilmiah (scientiic appoach) dalam pendedahan terdiri atas kegiatan mengamati, menyoal, mencoba, mengolah, menyajikan, memendekkan, dan mencipta (Kemendikbud, 20130). Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini.

1.

Membidas

Metode menuding sangat signifikan untuk pelepasan rasa mau tahu peserta jaga. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tingkatan. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran nan digunakan oleh guru. Kegiatan mengecap dalam pengajian pengkajian dilakukan dengan menempuh langkah-anju seperti berikut ini. a. Menentukan bahan apa yang akan diobservasi.

b. Membuat pedoman observasi sesuai dengan skop objek yang akan diobservasi. c. Menentukan secara jelas data-data segala yang teradat diobservasi, baik primer maupun

sekunder.

d. Menentukan di mana tempat alamat yang akan diobservasi.

e. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan buat mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.

f. Menentukan cara dan berbuat pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video carik, dan gawai-perlengkapan catat lainnya.

Kegiatan observasi internal proses pembelajaran menyertakan petatar asuh secara langsung. Dalam pengait ini, guru harus mencerna rangka keterlibatan peserta didik internal observasi tersebut.

2. Menanya

Pada saat guru bertanya, sreg detik itu pula dia membimbing atau memandu murid didiknya sparing dengan baik. Momen guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, detik itu sekali lagi dia mendorong asuhannya itu lakukan menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Memang, tidak mudah mengondisikan pelajar didik aktif bertanya. Untuk itu, suhu harus tukang-ahli meladeni materi dengan media nan menarik.

3. Menalar

Menalar terjadi momen pembelajaran merujuk puas kemamuan mengelompokkan berbagai rupa ide dan mengasosiasikan beragam hal cak bagi kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Sepanjang mentransfer hal-peristiwa khusus ke penggerak, pengalaman tersimpan intern referensi dengan keadaan lain. Pengalaman-camar duka nan sudah tersimpan di album tokoh berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang mutakadim tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar.

4. Mencoba

Permintaan metode eksperimen atau menyedang dimaksudkan lakukan meluaskan beragam nyenyat harapan belajar, adalah sikap, kegesitan, dan pengetahuan. Aktivitas pendedahan nan faktual untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan

(5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyuguhkan data; (6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7) menciptakan menjadikan laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. (Eksplorasi dan elaborasi).

5. Mengolah

Pada pangkat godok ini siswa ajar sedapat mungkin dikondisikan belajar secara kolaboratif. Plong penelaahan kolaboratif kewenangan guru fungsi temperatur lebih bersifat direktif ataupun manajer sparing, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi, maka kamu mencapai tentang identitas murid didik terutama kalau mereka berbimbing atau berinteraksi dengan nan tak maupun guru. Dalam situasi kolaboratif itu, murid didik berinteraksi dengan empati, salingmenghormati, dan mengakui kekurangan atau kelebihan sendirisendiri. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa tenang dan tenteram, sehingga memungkinkan peserta pelihara menghadapi aneka perubahan dan tuntutan berlatih secara bersama-setimbang. Peserta asuh secara bersama-sama, saling bekerjasama, saling membantu mengerjakan hasil tugas terkait dengan materi yang sedang dipelajari (Kegiatan Elaborasi).

6. Menyuguhkan

Hasil tugas yang sudah dikerjakan bersama-sama secara kolaboratif dapat disajikan intern bentuk embaran tertulis dan dapat dijadikan andai riuk suatu mangsa lakukan portofolio kelompok dan ataupun individu. Yang sebelumnya di konsultasikan malah dulu kepada hawa. Lega tinggi ini kendatipun tugas dikerjakan secara berkelompok, namun sebaiknya hasil pencatatan dilakukan oleh tiap-tiap individu. Sehingga portofolio yang di basukkan ke intern ile alias Map pelajar didik terisi berusul hasil pekerjaannya sendiri secara cucu adam.

7. Menyimpulkan

Peserta asuh menyarikan materi berdasarkan penyajian dan masukkan dari pasangan sekelas serta guru andai pengajar di kelas. Simpulan tersebut disusun laksana hasil kolaborasi dalam sawala kelas.

8. Mengkomunikasikan

Petatar didik boleh mengkomunikasikan hasil pekerjaan yang telah disusun baik secara bersama-sama dalam kerubungan dan atau secara insan berpangkal hasil konklusi yang sudah dibuat bersama. Kegiatan mengkomunikasikan ini dapat diberikan klariikasi maka dari itu hawa seharusnya supaya peserta didik akan memahami secara bermoral apakah jawaban nan telah diselesaikan telah benar atau ada yang harus diperbaiki. Hal ini bisa diarahkan pada kegiatan konirmasi sebagaimana plong Patokan Proses.

2.

Penilaian Autentik

Penilaian autentik dideinisikan seumpama proses evaluasi untuk kinerja,

manifestasi, motivasi, dan sikap-sikap petatar didik pada aktivitas yang relevan kerumahtanggaan pembelajaran. Dengan demikian, penilaian autentik berkaitan erat dengan penilaian barang dan kinerja, tugas, beserta aneka ragam kegiatan pembelajaran, seperti mana meneliti, menggambar, merevisi dan membahas kata sandang, menyerahkan kajian oral terhadap situasi, juga bermitra antarsesama melalui debat.

Penilaian autentik terdiri berpangkal berbagai teknik penilaian. Pertama, pengukuran

sekalian kesigapan pelajar tuntun nan gandeng dengan hasil jangka panjang
pendidikan seperti keberhasilan di bekas kerja. Kedua, penilaian atas tugas-tugas yang

memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. Ketiga, analisis proses nan

digunakan cak bagi menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap, keteampilan, dan pengetahuan yang ada. Beberapa macam penilain autentik disajikan berikut ini.

1. Penilaian Penampilan

Penilaian autentik sebisa kelihatannya melibatkan parsisipasi petatar didik, khususnya intern proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para siswa pelihara menamakan atom-unsur projek/tugas yang akan mereka gunakan bagi menentukan barometer penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat memberikan umpan genyot terhadap penampilan peserta didik baik dalam rang laporan naratif mauun publikasi papan bawah. Cak semau bilang cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis penampilan:

a. Daftar cek (checklist). Digunakan kerjakan memahami muncul atau tidaknya

unsur-unsur tertentu berpunca indikator ataupun subindikator yang harus unjuk dalam sebuah peristiwa maupun tindakan.

b. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara guru

menggambar amanat kisah tentang apa nan dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Berpokok pemberitaan tersebut, guru bisa menentukan seberapa baik peserta didik menunaikan janji patokan nan ditetapkan.

c.
Proporsi penilaian (rating scale). Umumnya digunakan dengan menggunakan skala numerik

berikut predikatnya. Misalnya: 5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = tekor, 1 = terbatas sekali.

d. Memori ataupun ingatan (memory approach). Digunakan maka dari itu guru dengan kaidah menghakimi

siswa didik momen berbuat sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Hawa menggunakan warta berusul memorinya lakukan menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Cara begitu juga tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup dianjurkan.

Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimba
ngan individual. Pertama,

langkah-ancang kinerja harus dilakukan peserta ajar untuk menunjukkan kinerja
yang positif bakal suatu atau sejumlah jenis kompetensi tertentu. Kedua, kecermatan dan

kelengkapan aspek kinerja nan dinilai. Ketiga, kemampuan-kemampuan khas yang

diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Keempat,

fokus terdahulu dari kinerja yang akan dinilai, khususnya indeks esensial yang akan diamati.
Kelima, urutan dari kemampuan maupun keerampilan peserta didik yang akan diamati.

Pengamatan atas performa pesuluh didik teradat dilakukan intern berbagai konteks bakal menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Kerjakan menilai keterampilan berbudi peserta didik, berusul aspek keterampilan bersabda, misalnya, guru boleh mengobservasinya lega konteks nan, seperti mana berceramah, berdiskusi, bercerita, dan wawancara. Dari sini akan diperoleh kesempurnaan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. Buat mengamati kinerja peserta tuntun bisa menggunakan perlengkapan alias instrumen, seperti penilaian sikap, observasi perilaku, pertanyaan langsung, alias tanya pribadi.

Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian manifestasi. Penilaian

diri merupakan suatu teknik penilaian di mana petatar pelihara diminta lakukan memonten

• Penilaian ranah sikap. Misalnya, peserta bimbing diminta mengungkapkan tumpahan perasaannya terhadap satu alamat tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

• Penilaian antap keterampilan. Misalnya, peserta didik diminta bikin memonten kecakapan atau ketangkasan nan sudah lalu dikuasainya oleh dirinya berlandaskan kriteria maupun acuan yang sudah lalu disiapkan.

• Penilaian ranah amanat. Misalnya, petatar didik diminta lakukan menilai pencaplokan pengetahuan dan keterampi lan nanang perumpamaan hasil sparing dari suatu mata tuntunan tertentu berdasarkan atas kriteria maupun acuan yang telah disiapkan.

Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. Pertama, mengintensifkan rasa percaya diri peserta didik. Kedua, petatar pelihara mencatat kekuatan dan kelemahan dirinya. Ketiga, mendorong, membiasakan, dan melatih petatar didik berperilaku jujur. Keempat, menumbuhkan nyawa untuk maju secara personal.

1) Penilaian Projek

Penilaian projek (project assessment) adalah kegiatan penilaian terhadap tugas

yang harus tergarap maka dari itu siswa didik menurut perian/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud maujud penelitian nan dilakukan makanya peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan demikian, penilaian projek bersentuhan dengan aspek kognisi, mengaplikasikan, penelitian, dan tidak-enggak.

Selama mengerjakan sebuah projek pembelajaran, pelajar didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, kesigapan, dan pengetahuannya. Karena itu, plong setiap penilaian projek, setidaknya ada tiga keadaan yang memerlukan perhatian khusus berusul guru.

a. Keterampilan peserta pelihara dalam memilih topik, berburu dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, menjatah makna atas butir-butir yang diperoleh, dan menulis kabar.

b. Kesesuaian atau relevansi materi pendedahan dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan nan dibutuhkan maka dari itu siswa pelihara.

c. Orijinalitas atas kesejatian sebuah projek pembelajaran yang tergarap atau dihasilkan oleh peserta pelihara.

Penilaian projek berfokus lega perencanaan, pengerjaan, dan produk projek. Kerumahtanggaan gancu ini serial kegiatan yang harus dilakukan makanya guru meliputi penyusunan tulang beragangan dan instrumen penilaian, pengurukan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian projek dapat menggunakan instrumen daftar cek, perbandingan penilaian, alias kisahan. Amanat penilaian dapat dituangkan kerumahtanggaan susuk poster atau tertulis.

Produk akhir dari sebuah projek tinggal mungkin memerlukan penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah projek dimaksudkan buat memonten kualitas dan lembaga hasil akhir secara holistik dan analitik. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta jaga menghasilkan produk, sama dengan makanan, pakaian, hasil karya seni (kerangka, lukisan, patung, dan enggak-lain), barang-dagangan terbuat dari kayu, kertas, kulit, ubin, karet, plastik, dan karya ferum. Penilaian secara analitik merujuk plong semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Penilaian

secara holistik merujuk lega penghormatan alias kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan.

2) Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio ialah penilaian atas pusparagam artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai bagaikan hasil kerja dari dunia berupa. Penilaian portofolio bisa menginjak berusul hasil kerja peserta ajar secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan releksi peserta asuh, dan dievaluasi beralaskan beberapa dimensi.

Penilaian portofolio merupakan penilaian bersambung-sambung nan didasarkan puas kumpulan amanat yang menunjukkan perkembangan kemampuan pelajar didik dalam satu tahun tertentu. Butir-butir tersebut dapat berupa karya murid ajar dari proses pengajian pengkajian yang dianggap terbaik, hasil pemeriksaan ulang (bukan biji), atau informasi lain nan releban dengan sikap, keterampilan, dan proklamasi yang dituntut maka dari itu topik maupun mata pelajaran tertentu.Fokus penilaian portofolio ialah antologi karya siswa pelihara secara khalayak atau kerumunan lega satu waktu penelaahan tertentu. Penilaian terutama dilakukan maka dari itu master, biar bisa juga oleh petatar jaga koteng.

Melalui penilaian portofolio temperatur akan memahami perkembangan atau kesuksesan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat gubahan, puisi, manuskrip, komposisi musik, tulangtulangan, foto, lukisan, resensi buku/ literatur, laporan pengkajian, sinopsis, dan lain-bukan. Atas dasar penilaian itu, temperatur dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan penataran.

Penilaian portofolio dilakukan dengan menunggangi langkah-langkah seperti berikut ini.

a. Suhu menjelaskan secara sumir esensi penilaian portofolio.

b. Guru atau temperatur bersama petatar jaga menentukan jenis portofolio yang akan dibuat. c. Petatar jaga, baik sendiri maupun kerubungan, mandiri maupun di bawah bimbingan

guru menyusun portofolio pembelajaran.

d. Suhu menghimpun dan menggudangkan portofolio murid tuntun pada arena yang sesuai, disertai catatan copot pengumpulannya.

e. Guru memonten portofolio siswa didik dengan kriteria tertentu.

f. Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.

g. Guru membagi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.

3) Penilaian Tertulis

Meski konsepsi penilaian autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap validasi tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya, penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. Pemeriksaan ulang terdaftar terdiri berpangkal memintal maupun mensuplai jawaban dan uraian. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. Memilih jawaban terdiri dari seleksian ganda, pilihan bermartabat-salah, ya-tidak, mempertemukan, dan sebab-akibat. Mensuplai jawaban

sebagainya atas materi yang sudah lalu dipelajari. Tes tertulis berbentuk jabaran sebisa mungkin bersifat komprehentif, sehingga berpunya memvisualkan ranah sikap, keterampilan, dan laporan peserta bimbing.

Pada tes tertulis berbentuk esai, petatar didik berkesem patan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan antagonis-temannya, namun tetap terbuka memperoleh nilai nan sebanding. Misalnya, peserta asuh tertentu meluluk fenomena kemelaratan bermula sisi pandang kebiasaan berdakap tangan, rendahnya keterampilan, ataupun kelangkaan sumberdaya alam. Masing-masing sisi pandang ini akan berputra jawaban berbeda, hanya konsisten terbuka memiliki kebenarann yang ekuivalen, asalkan analisisnya benar. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban, adalah
jawaban terbuka (extended-response) atau jawaban terbatas (restricted-response). Hal ini

dulu tersidai pada bobot soal nan diberikan oleh master. Tes semacam ini menjatah kesempatan pada master bakal dapat menimbang hasil belajar siswa didik puas tinggi yang lebih tangga atau obsesi.

C. Deduksi

Dengan pendekatan saintiik yang diawali dengan mencacat, menanya, mencoba, menalar, menyervis, menyim pul centung, dan mengomunikasikan diharapkan mampu mengembang cerek perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, angkat royong, kerjasama, cangap rukun, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap perumpamaan bagian bersumber solusi atas bermacam ragam permasalahan sehari-musim yang akan berhasil dalam spirit berbangsa dan bernegara privat berinteraksi secara efektif dengan mileu sosial dan alam serta kerumahtanggaan menempatkan diri sebagai paparan bangsa dalam kekeluargaan dunia.

Cak bagi mencecah tujuan itu, hal ini searah dengan penilaian autentik yang berusaha memotret penilaian dagangan dan pengejawantahan, tugas, beserta aneka jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, penilaian autentik dilakukan privat proses pengukuran heterogen kegiatan proses dan hasil penelaahan melalui penilaian kinerja, projek, dan portopolio serta verifikasi tertulis.

D. DAFTAR PUSTAKA

Muhana, Gipayana. 2000. Pengembangan Goresan Pesuluh dengan Penilaian Portofolio. Tesis

SPs UPI Bandung.

Kurikulum 2013, Kementerian Pendidikan dan Tamadun musim 2013.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Fisik Standar Kewarganegaraan Pendidikan. 2013.
Kerangka Sumber akar. Jakarta.

Kementerian Pendidikan dan Tamadun, Fisik Standar Kewarganegaraan Pendidikan; (2013):
Tolok Kompetensi dan Kompetensi Dasar Indra penglihatan Pelajaran Bahasa Indonesia lakukan

Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah inferior 1 s.d 6 Jakarta.

Sudarwan. 2013. Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran, Makalah pada Workshop

Kurikulum, Jakarta.

PERAN Pemrakarsa IBU DALAM NOVEL

Source: https://123dok.com/article/pendekatan-saintifik-penilaian-autentik-dalam-implementasi-kurikulum-sekolah.qoo1m4mq

Posted by: and-make.com