Day 1 – 28 Juli 2022

Materi 1 makanya Ahmad Yusuf, M.Kom. selaku Sekretaris LPM dimoderatori oleh
Dr.phil. Kamal Yusuf, M.Hum. selaku Wakil Dekan latar Akademik dan Kelembagaan

N domestik pemaparannya Sampul Yusuf memunculkan mengenai alur penyusunan bahan tuntun nan harus tiba terbit Struktur Kurikulum. Bahan Ajar disusun berdasarkan Patokan Kompetensi Keluaran nan dituangkan intern CPL yang kemudian diturunkan menjadi CPMK. Berbunga CPMK ini akan dituangkan dalam bahan bimbing baik berbentuk video kursus, buku ajar, modul, PPT, atau handout. Perumusah alamat ajar juga harus mengecap keluasan dan kedalaman netra kuliah karena kedalaman dan keluasan menentukan bobot SKS, dan boot SKS ini harus tercermin dalam kedalaman dan keluasan bahan analisis intern mangsa bimbing.

Internal sesi tanya jawab ada 2 penanya yaitu Dr. Mirwan Akhmad Taufiq, M.A. selaku Majikan Jurusan Adab dan Humaniora berbarengan Pejabat Gugus Lagam Mutu (GKM) Fakultas Adab dan Humaniora dan Prof. Dr. Juwairiyah Dahlan, M.A.

Dr. Mirwan menanyakan bagaimana cara menyukat kedalaman dan keluasan selain dengan melihat tingkat kognitif dan jumlah bahan kajian dan apakah kegiatan praktikum yang dilakukan di luar prodi bisa dihitung timbrung salah satu BKP MBKM. Paket Yusuf mengklarifikasi bahwa sejauh ini tidak cak semau acara yang makin efektif untuk menentukan kedalaman dan keluasan selain melihat puas tingkat psikologis yang mau dicapai di setiap MK serta total bahan kajiannya. Jikalau tingkat kognitifnya tinggi misal C4 dan objek kajiannya banyak, maka faali memerlukan bobot SKS yang besar. Sebaliknya bila tingkat kognitif nan ingin dicapai rendah dan bahan analisis sedikit, maka bobot SKS katai. Tersapu tipe Rencana Kegiatan Penelaahan (BKP) mahasiswa yang melakukan praktikum di luar prodi, hal itu tak bisa dianggap sebagai magang karena itu sekadar sebagai salah satu susuk kegaiata pembelajaran selain tutorial dan seminar. Bikin kegiatan praktikum tersebut, bulan-bulanan jaga bisa dititipkan di Tulangtulangan praktikum.

Prof. Juwairiyah menanyakan mengenai proteksi alamat bimbing nan sudah dibuat dosen. Dalam jawabannya paket Yusuf memaparkan bahwa pusparagam mangsa ajar menjadi tugas GKM dan Jurusan bikin memvalidasi dan menjaga. Kemasan Ali Mustofa laksana Bos LPM pun menambahkan bahwa secara institusional tugas menjaga bahan ajar yakni tugas Pokok Pembelajaran dalam hal ini akan diwadahi makanya LPM dan GKM di Jurusan.

Materi ke-2 makanya Dr. Pujiharto, M.Hum. dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dimoderatori maka dari itu Siti Rumilah, S.Pd., M.Pd.

Dalam paparannya pak Puji menyampaikan bahwa pada era Persebaran Industri 4.0 dosen dituntut untuk tidak cuma mengembangan sasaran jaga lazim, akan doang harus sudah melirik dunia digital. Untuk merespon kesulitan dosen khususnya rumpun humaniora terkait digitalisasi korban ajar, maka sebaiknya dosen berkolaborasi dengan dosen lintas rumpun ilmu, khususnya SAINTEK bakal bermitra dalam pengembangan bulan-bulanan ajar digital. Dalam suplemen pemaparannya, MBKM yaitu tentang komplikasi-based learning, project-based learning, dan kolaborasi. Sehingga tepat apabila dosen mulai bermitra dengan dosen lintas rumpun ilmu dan DUDI dalam pengembangan bulan-bulanan ajar sehingga kegiatan BKP dapat terselenggara secara maksimal.

Kerumahtanggaan sesi kedua, terdapat 4 penanya.

Penanya pertama yakni Dr. Mohammad Khodafi, M.Si. selaku Konsul Dekan bidang kemahasiswaan, alumni, dan Kerjasama menanya adapun tantangan pengembangan alamat ajar di era digital. N domestik responnya pak Puji mengafirmasi bahwa memang tantangan khususnya dosen rumpun humaniora yakni kurangnya kompetensi penguasaan teknologi siaran terutama dosen senior. Sehingga terdahulu bagi dosen lakukan kerjasama dengan dosen muda dan lintas aji-aji.

Penanya kedua adalah Lailatul Huda, M.Hum. anda menanya akan halnya bagaimana menjadikan hasil maupun laporan penelitian bak sasaran ajar atau modul. Dalam responnya pak Puji memaparkan bahwa dalam piutang akreditasi dosen lalu disarankan untuk memperalat hasil pengkhususan bagaikan riuk suatu rujukan privat pengajian pengkajian. Disamping itu, Kemendikbud melalui LITAPMAS nya kembali mendorong pnerbitan buku ajar dari hasil penyelidikan. Dosen juga bisa membuat video-video terkait hasil penelitiannya untuk dijadikan perumpamaan bahan ajar audiovisual.

Penanya ketiga adalah Fathin Masyhud, Lc., M.H.I. Kemasan Fathin menanya mengenai bagaimana prinsip mencagar karya dosen di tengah era digital nan sangat besar-besaran akan pencurian hak cipta. Dalam jawabannya, cangkang Puji memberikan saran supaya pokok sekali lagi didaftarkan menjadi buku elektronik sehingga segala buram pelanggaran hoki cipta boleh dilaporkan dan ditindak secara hukum.