Bahan Ajar Hukum Dasar Kimia

Silahkan

Timbrung atau Login menggunakan Akun Pengguna untuk akses mumbung. Jika belum punya akun, silahkan Klik Cembul Ini buat mendaftar. Pula >>>>

Syariat-Hukum Dasar Kimia

Pendahuluan

Syariat radiks kimia yaitu hukum yang digunakan cak bagi melambari hitungan ilmu pisah dan pertalian kuantitatif dari reaktan dan produk privat persamaan kimia. Aspek kuantitatif boleh diperoleh dari pengukuran agregat, volume, pemusatan yang tercalit dengan jumlah zarah atom, ion, molekul atau rumus kimia yang terkait n domestik pertepatan reaksi ilmu pisah.

Plong perhitungan kimia secara stoikiometri memerlukan hukum-hukum dasar yang relevan. Ada beberapa syariat pangkal yang penting diantaranya adalah:

  • Syariat Ketetapan Konglomerasi
  • Syariat Perbandingan Tetap
  • Hukum Proporsi Berganda
  • Syariat Proporsi Volume
  • Hukum Hipotesis Avogadro

Hukum Kekekalan Konglomerat (Hukum Lavoisier)

LavoiserHukum Lavoisier juga dikenal andai hukum keabadian massa. Teori ini dicetuskan makanya ilmuwan asal Prancis, Antoine Laurent Lavoisier. Syariat itu ditemukan saat Lavoisier saat membangkitkan merkuri cair putih dengan oksigen sampai berubah menjadi merkuri oksida berwarna bangkang. Kemudian, Lavoisier pula menghangatkan merkuri oksida merah itu hingga kembali terbentuk merkuri cari putih dan oksigen.

Dalam penelitian itu Lavoisier lantas menemukan bahwa terserah peran dari tabun oksigen dalam reaksi pembakaran. Konglomerat oksigen pada ketika proses pembakaran ternyata sama dengan massa oksigen nan terbentuk sesudah merkuri oksida dipanaskan.

Obstulen dari Hukum Lavoisier adalah: “Konglomerat jumlah zat sebelum reaksi sama dengan massa total setelah zat reaksi.”

Hal tersebut lantas disebut sebagai hukum kekekalan massa karena di kerumahtanggaan reaksi kimia bukan menafsirkan massa.

Model Pertanyaan-1

5 gram Oksigen direaksikan dengan 5 gram logam Magnesium sehingga takhlik senyawa Magnesium oksida. Berpokok reaksi tersebut berapa konglomerat magnesium oksida nan dihasilkan?

Penyelesaian:

Mg   +   Udara murni2    →   MgO2

Komposit zat sebelum reaksi =  massa zat sehabis reaksi

Massa Mg + Konglomerat Ozon2  =  Massa MgO2

5 gram Mg + 5 gram O2
= 10 gram MgO2

Kaprikornus konglomerasi Magnesium oksida yang dihasilkan yaitu sebanyak 10 gram

Abstrak Soal-2

Sebuah oksigen mempunyai massa 6 gram kemudian direaksikan dengan logam magnesium sehingga menciptakan menjadikan 8 gram senyawa oksida. Berapakah konglomerat magnesium yang bereaksi?

Penyelesaian:

Mg   +   O2    →   MgO2

Komposit zat sebelum reaksi =  massa zat selepas reaksi

Massa Mg + Massa Udara murni2  =  Massa MgO2

Massa Mg + 6 gram O2  =  8 gram MgO2

Massa Mg = 8 gram MgO2
– 6 gram O2

Massa Mg = 2 gram

Jadi komposit besi Magnesium nan bereaksi sebanyak  2 gram

Hukum Proporsi Ki ajek (Syariat Proust)

ProustHukum Proust juga dikenal sebagai “Hukum Perbandingan Tetap”. Ini dikarenakan pada 1799 Joseph Louis Proust menemukan bahwa setiap senyawa disusun oleh unsur dengan komposisi tertentu dan tetap. Oleh karena itu, hukum  tersebut berbunyi: “Perbandingan massa unsur-anasir setiap senyawa pintar atak tertentu dan patuh”.

Salah satu contoh eksperimennya ialah reaksi anasir hidrogen dengan oksigen membentuk senyawa air dan kemudian balasannya menunjukkan perbandingan massa hidrogen dengan oksigen beraksi taat, yakni 1:8.

Contoh Tanya-1

Agregat karbon (C) dan oksigen (O) punya perbandingan 3:8. Jikalau zat arang yang bereaksi 1,5 gram, berapa konglomerat oksigen bereaksi dan massa karbondioksida yang terbimbing?

Penyelesaian:

Perbandingan Massa:

Karbon = 3 = 1,5 gram
Oksigen = 8 = ? gram
Karbondioksida = 11 = ? gram

Massa Oksigen = 8/3 × 1,5 gram = 4 gram

Massa Karbon dioksida = 11/3 × 1,5 = 5,5 gram.

Bintang sartan massa oksigen bereaksi adalah 4 gram dan agregat Karbondioksida terbentuk adalah 5,5 gram.

Contoh Tanya-2

Rasio massa besi dan belerang dalam senyawa logam sulfida adalah 7:4 berapakah massa logam dan massa belerang yang dibutuhkan bikin membentuk senyawa besi sulfida dengan 21 gram besi sonder tinja reaksi?

Perampungan:

Perbandingan Konglomerat:

Besi = 7 = ? gram
Sulfur = 4 = ? gram
Besi Sulfida = 11 = 21 gram

Massa Welirang = 4/11 × 21

Konglomerasi Welirang = 7,64 gram

Konglomerasi Besi = 7/11 × 21

Massa Logam = 13,36 gram

Kaprikornus agregat belerang kerjakan membentuk 21 gram besi sulfida adalah 7,64 gram, dan konglomerasi besi adalah sebanyak 13,36 gram.

Contoh Soal-3

Sekiranya direaksikan ferum sebanyak 60 gram dan belerang 24 gram berapakah konglomerat besi(II) sulfida yang dihasilkan ?

Penyelesaian:

Neraca Massa:

Besi = 7 = 60 gram
Belerang = 4 = 24 gram
Besi Sulfida = 11 = ? gram

Kerjakan bereaksi dengan 24 gram sulfur membutuhkan metal sebanyak:

Massa besi = 7/4 × 24

Konglomerasi besi = 42 gram

Dengan demikian besi sulfida yang dihasilkan sebanyak:

Konglomerasi metal sulfida = 11/4 × 24

Konglomerat logam sulfida = 66 gram.

ATAU

Konglomerat ferum sulfida = 24 gram + 42 gram

Massa metal sulfida = 66 gram

Tinja logam yang tidak bereaksi adalah sebanyak:

Kotoran besi = 60 gram – 42 gram

Tinja besi = 18 gram

Jadi ferum sulfida yang dihasilkan yaitu 66 gram dengan berak besi sebanyak 18 gram.

Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton)

DaltonHukum Dalton pertama kelihatannya dicetuskan oleh ilmuwan asal Inggris bernama John Dalton. Dalam penelitiannya, John Dalton membandingkan unsur-unsur yang terkandung n domestik beberapa sintesis.

Hasilnya ditemukanlah Hukum Perbandingan Ganda nan berbunyi:
“Kalau ada dua unsur bisa membentuk lebih berusul satu fusi dengan salah satu massa elemen dibuat tetap, maka rasio agregat yang tak dalam senyawa itu adalah bilangan bulat sederhana”.Contohnya yakni welirang dan oksigen nan dapat membentuk dua senyawa.

Konseptual Soal

Unsur fosfor dan oksigen nan direaksikan menciptakan menjadikan dua jenis senyawa. Privat 55 gram senyawa I terdapat 31 gram fosfor dan 71 gram senyawa II mengandung 40 gram oksigen. Apakah fusi tersebut termasuk ke dalam hukum Dalton?

Penyelesaian:

Massa fosfor Massa Oksigen Massa Sintesis
Sintesis I 31 gram ? 55 gram
Fusi II ? 40 gram 71 gram

Komposit oksigen pada senyawa I = 55 – 31 = 24

Komposit fosfor pada fusi II = 71 – 40 = 31

Perbandingan agregat fosfor pada senyawa I dan II adalah

= 31 : 31 → dibagi dengan 31 = 1 : 1

Perbandingan oksigen pada paduan I dan II adalah

= 24 : 40 → dibagi dengan 8 = 3 : 5

Dari hasil tersebut neraca oksigen dan fosfor pada campuran I dan II ialah 1:1 dan 3:5 merupakan bilangan bulat dan tercecer.

Syariat Perimbangan Debit (Hukum Gay-Lussac)

Gay LussacSyariat yang juga dikenal sebagai Syariat Nisbah Debit ini ditemukan makanya ilmuwan asal Prancis, ialah Joseph Gay Lussac. Dalam penelitiannya, ia ingin membuktikan tentang piutang asap n domestik suatu reaksi ilmu pisah. Hasil dari penggalian itu membujur kesimpulan bahwa hawa dan tekanan mempengaruhi pertukaran gas.

Percobaan sederhana yang dilakukan menghasilkan perbandingan volume hidrogen : oksigen : uap air merupakan 2 : 1 : 2. Nampak bahwa perbandingan volume sesuai dengan nisbah koefisien unsur alias campuran pada persamaan reaksi setara, yaitu persamaan reaksi dengan jumlah atom di sisi kiri sebagai halnya di sisi kanan.

Reaksi pembentukan air:  2H2
+ O2
→ 2H2O

Proporsi Piutang:     2     :   1   :   2

Bunyi hukum rasio  ialah sebagai berikut: “Jika diukur pada Suhu dan Tekanan yang sama, maka Piutang asap yang bereaksi dan gas hasil reaksi berbanding sebagai ganjaran bulat dan terlambat.”

Contoh Soal

2 Liter asap hidrogen bereaksi dengan 2 liter gas klorin sehingga menghasilkan 4 gas hidrogen klorida. Apabila gas hidrogen nan direaksikan sebesar 10 liter, berapakah asap hidrogen klorida yang dihasilkan?

Penyelesaian:

Volume Rasio
Hidrogen 2 1
Klorin 2 1
Hidrogen Klorida 4 2

Takdirnya gas hydrogen yang direaksikan adalah 10 liter maka gas hydrogen klorida nan dihasilkan:

= 2 × 10 = 20 liter ( 2 = nilai rasio Hidrogen Klorida)

Jadi hidrogen klorida nan dihasilkan berpokok reaksi 10 liter gas hydrogen adalah sebanyak 20 liter.

Syariat Hipotesis Avogadro

AvogadroHipotesis Avogadro ialah teori yang ditemukan maka dari itu Amedeo Avogadro plong masa 1811. Privat penelitiannya, Avogadro menemukan bahwa molekul molekul lain harus pelahap kasatmata atom tunggal, tetap bisa kembali berupa molekul unsur maupun dua atom atau bertambah.

Presumsi dari Avogadro itu lantas mengatakan:
“Puas temperatur dan tekanan nan sama, perbandingan gas yang bervolume selaras memiliki jumlah anasir yang sama juga”.

Rumus matematis berusul syariat Avogadro sebagai berikut:

(V1
÷
N1) = (V2
÷ N2)

Dimana: N = jumlah atom gas tertentu, V = piutang ira gas

Contoh Tanya

Sebuah tabung 5 liter berisi 2×1022
molekul asap karbon dioksida. Puas guru dan tekanan nan sama, berapakah jumlah zarah asap nitrogen n domestik tabung bervolume 4 Liter?

Penuntasan:

Diketahui: N1
= 2×1022, V1
= 5 liter, V2
= 4 liter. N2
= …?

(V1
÷ Horizon1) = (V2
÷ N2)    → N2
= (N1
× V2) ÷ V1

N2
= (2×1022
x 4) ÷ 5

N2
= (8×1022) ÷ 4

N2
= 1,6×1022

Kaprikornus besaran gas nitrogen dalam tabung bervolume 4 liter adalah 1,6×1022

Source: https://mplk.politanikoe.ac.id/index.php/modul-praktek-kimia/28-matakuliahkimiadasar/kimia-dasar/838-hukum-hukum-dasar-kimia#:~:text=Hukum%20dasar%20kimia%20adalah%20hukum,dan%20produk%20dalam%20persamaan%20kimia.

Posted by: and-make.com