Bahan Ajar Dan Alat Evaluasi Sekolah Dasar


EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA


DI Inferior Janjang SD



A.




Pengertian Evaluasi, Pengukuran, dan Pengecekan

 (Bloom, 1981) mendefinisikan evaluasi seumpama suatu kegiatan

pengumpulan bukti ‘evidence’ secara sistematik bikin melihat apakah

murid sudah mengalami pergantian perilaku serta bagaimana atau berapa b
esarnya perubahan itu. Pertukaran perilaku itu dihubungkan dengan tu
juan pengajaran yang mencantol ranah kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.

Gronlund

memandang

evaluasi

sebagai

suatu

proses

sistematik

nan mencaplok kegiatan mengumpulkan, menganalisis, serta menafsir
kan informasi lakukan menentukan keberhasilan pelajar privat upaya

pencapaian hasil belajarnya.

Dalam kegiatan membiasakan mengajar di kelas, evaluasi lebih ditekankan

fungsinya untuk memantau perubahan tingkah kayun nan terjadi dan


kemajuan yang dicapai siswa. Dengan mengamalkan evaluasi guru dapat

menjawab masalah seperti: sebatas di mana kemampuan peserta

menggunakan konsep, apakah seorang siswa telah hingga ke

tujuan, adakah kesulitan yang dihadapi siswa internal membereskan tanya fisika, dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan serupa itu hanya




dijawab dengan melakukan evaluasi.

Nan dimaksud dengan penguku
ran di sini ialah proses cak bagi mendapatkan pemerian kuantitatif’ me
ngenai tinggi rendahnya pencapaian seseorang dalam suatu tingkah kayun

tertentu. Dengan demikian hasil pengukuran selalu berbentuk angka

seperti plong pernyataan, “Amara bisa menjawab dengan benar C di antara 50 pertanyaan nan diberikan”, untuk mendapatkan kredit terseb
ut digunakan gawai ukur. Perangkat ukur suka-suka nan berwatak verbal

dan terserah yang non-ver
bal.

Alat ukur nan banyak digunakan di kerumahtanggaan bidang pendidikan adalah tes.

Tes yakni seperangkat tanya atau tugas nan telah direncanakan untuk memeroleh pemberitahuan tentarg apa nan hendak diketahui yang mempunyai jawaban nan dianggap benar. Sehubungan dengan pelaksanaan tes, cak semau empat kejadian yang harus diperhatikan yaitu kerahasiaan hasil tes, keamanan tes, interpretasi hasil tes, dan penggunaan tes.



B.




Tujuan Pengukuran, Evaluasi, dan Pengecekan Pengajaran Bahasa

Tujuan testimoni, pengukuran, dan evaluasi suka-suka empat nan paling sentral, yaitu motivasi, membiasakan tuntas, sebagai indikator efektivitas penelaahan, dan umpan balik. Jalan pengecekan bahasa dewasa ini nan harus diterapkan yaitu kompetensi kebahasaan, kompetensi reseptif, kompetensi produktif, dan kompetensi kesastraan

Seperti mana tujuan evaluasi pendidikan/pengajaran lega galibnya, eva
luasi pencekokan pendoktrinan bahasa diselenggarakan terutama bikin meningkatkan

mutu pendidikan/pengajaran bahasa. Lakukan mencapai tujuan itu eva
luasi boleh dilakukan baik terhadap acara pengajaran bahasa mau
pun kesudahannya,

mencakup dimensi konteks, proses sparing mengajar, dan hasilnya. Karena itu, sreg bagian ini akan dibahas dahulu hal-hal nan menyangsang evaluasi terhadap hasil belajar bahasa.



C.




Mandu Umum



Evaluasi

Harus

diingat

bahwa dalam

pendidikan/pengajaran

evalu
asi

itu

hanyalah

sekedar mandu

untuk

mencapai

tujuan,

bukan




merup
akan

intensi.

Evaluasi

saja

dilakukan

internal

hubungan

dan

merup
akan bagian suatu program, unit, alias kegiatan pencekokan pendoktrinan.

la merup
akan cara lakukan memeroleh, menganalisis, serta menafsirkan

informasi tentang perubahan perilaku yang terjadi sreg peserta.

Tujuannya

adalah buat meningkatkan maupun menyunting pengajaran.

Gronlund mengemukakan 5 prinsip umum evaluasi

sebagai berik
ut: (1) dalam proses evaluasi yang apalagi silam harus dilakukan ia
lah menentukan apa yang akan dievaluasi, (2) teknik evaluasi d
ipilih sesuai dengan intensi yang ingin dicapai, (3) evaluasi secara derita
yeluruh ‘comprehensive’ memerlukan bermacam-macam

teknik evalu
asi, (4) harus disadari moralistis bahwa setiap teknik evaluasi

memiliki ke
kuatan dan kelemahannya tiap-tiap, (5) evaluasi hanyalah sekeda
r alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri

(Gronlund,

1985: 18



20).



D.




Penilaian Proses dan Penilaian Hasil

      Latif (1997) menampilkan beberapa perbedaan antara Penilaian proses (assessment) dengan penilaian hasil atau tes normal (product). Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:



1.




Dari segi waktu

Penilaian hasil (validasi baku) dilaksanakan sreg intiha priode tertentu sebagai halnya caturwulan alias semester, sementara itu Penilaian proses dilaksanakan di sepanjang proses Penataran atau seiring dengan pelaksanaan kegiatan sparing-mengajar, mulai dari tadinya, tengah, dan penghabisan Pembelajaran.



2.




Dari segi tujuan

Penilaian hasil berujud bikin menentukan hasil belajar yang dicapai siswa plong akhir priode tertentu, misalnya pada akhir semester/caturwulan, tengah semester, akhir Penataran.  Penilaian hasil tersebut digunakan maka dari itu guru kerjakan mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai setiap siswa berdasarkan tujuan yang dirumuskan kerumahtanggaan tulangtulangan Pembelajaran. Menengah Penilaian proses bertujuan untuk mengetahui: 1) apakah hasil belajar nan dicapai siswa sesuai dengan proses yang tepat, 2) kesulitan membiasakan segala apa nan dihadap murid privat mencapai pamrih khusus Pembelajaran secara tepat, 3) teoretis bimbingan belajar segala apa yang dapat diberikan kepada pelajar sehingga kesulitan berlatih yang dialaminya bisa terlewati secara tuntas. Hasil Penilaian proses dipergunakan guru bak pangkal penentuan tindakan dalam melembarkan kegiatan sparing-mengajar yang dapat meningkatkan kemampuan siswa secara maksimal, sebagai dasar bakal membimbing pesuluh yang mengalami kesulitan membiasakan dalam menapa tujuan khusus Pembelajaran nan telah dirumuskan privat bagan Pengajian pengkajian secara optimal.



E.




Alat Evaluasi

Radas evaluasi yang digunakan di privat pengajaran Bahasa pada dasarnya sama dengan yang digunakan di kerumahtanggaan pencekokan pendoktrinan lainnya, kendatipun suka-suka sejumlah yang memang khusus digunakan dalam indoktrinasi Bahasa cuma.

Alat ini dapat dikelompokkan seumpama alat ukur validasi dan nontes



1.




Tes

Alat ini digunakan bakal mengeti kemampuan-kemampuan berbahasa. Perlu dipahami bahwa evaluasi kiranya disesuaikan dengan indikator ataupun maksud nan ingin dicapai pada proses sparing-mengajar Bahasa Indonesia.



a.




Tes Menyimak

Kemampuan menyimak berkepribadian responsif. Siswa mengerti pesan yang dikomunikasikan secara lisan.Kemampuan ini plong dasarnya makin berperilaku kognitif, menganalisis suatu pesan yang disampaikan secara lisan, menyimpulkan sejumlah wanti-wanti yang dikomunikasikan melalui sejarah atau cerita yang disampaikan oleh guru. Aspek yang dinilai (indikator Penilaian) adalah: ketelitian. pilihan kata, nikah kalimat, sikap.


Contoh:

Alat penglihatan Pelajaran            : Bahasa Indonesia

Kelas/S
e
m
e
st
e
r            : V/1 SD

Aspek                         : Mendengarkan

Kompetensi Dasar       : Mendengarkan Permakluman

Indikator                     :


1.


Menuliskan pokok-pokok pengumuman yang didengar;


2.


Menjelaskan ciri-ciri bahasa mualamat yang didengar;


3.


Menuliskan isi pengumuman nan didengar dalam bentuk kalimat.

Materi Pokok              : Teks Pengumuman

Waktu                         : 2 X 35 menit


Skenario Pembelajaran:


·


Hawa mcngajukan pertanyaan kepada siswa tentang pokok-pusat pengumuman dan isi pengumuman yang didengar.


·


Siswai lain diberi kesempatan untuk mengomentari jawaban-jawaban temannva.


·


Siswa diberi kesempatan untuk bertanya.


·


Secara kerubungan, siswa membentuk dugaan akan halnya siasat-kunci pengumuman dan ciri-ciri bahasa kabar ke n domestik diagram.


·


Siswa berdebat antarkelompok untuk berburu kebenaran akan halnya pokok-rahasia dan ciri-ciri bahasa embaran.


·


Siswa sparing menuliskan embaran secara individu dalam gambar kalimat.


Evaluasi


Penilaian proses:


pengamatan aktivitas pesuluh dalam kelompok dan sepanjang proses pembelajaran dengan menggunakan tabel observasi aktivitas:



A.



Bekerja setara n domestik kelompok;



B.



Memberikan sumbang saran/ide privat kelompok;



C.



Memufakati saran dan suara minor untuk perombakan; dan



D.



Cepat melaksanakan/menyelesaikan tugas

Misalnya

No

Jenama siswa

Aktivitas pesuluh

A

B

C

D

ya

enggak

ya

tidak

ya

tidak

ya

tak

 Adapun bentuk evaluasi menyimak di kelas tinggi SD menurut kurikulum 2004 Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:


(a)


Menyuruh siswa mencatat isi petunjuk alias ataupun membuat sketsa wahi sesuai dengan yang didengar.


(b)


Menyuruh siswa menjelaskan juga isi petunjuk.


(c)


Menyuruh siswa mengajukan cak bertanya berkaitan dengan cerita yang didengar.


(d)


Menyuruh peserta mencadangkan pula isi cerita.


(e)


Menyuruh murid mengemukakan cerita nan isinya mirip.

(f)  
Menyuruh siswa mengklarifikasi isi puisi lama yang didengar.


(g)


Menyuruh peserta menyimpulkan ciri-ciri pantun.



b.




Pembuktian Bertutur

Mengevaluasi kemampuan berbicara seseorang yakni kegiatan yang obsesi, nan tidak hanya sekadar mencangam persoalan ucapan/lafal dan intonasi hanya, melainkan kemampuan menggunakan kata, kalimat, dan bacaan yang serampak mencengap kemampuan kognitif dan psikomotorik. Aspek yang dinilai adalah: ketepatan isi, lafal, intonasi, sortiran pembukaan/kalimat, struktur tatakata dan tatakalimat. Sedangkan aspek nonkebahasan termaasuk: kenyaringan suara, kecepatan, mimik, keberanianrelevan dengan judul, penguasaan topik, penalaran, sikap mengomong, santun berucap (penampilan/sikap/ekspresi).



Adapun model rancangan evaluasi berbicara adalah:

(1) 
Pelajar diminta membualkan kegemarannya.

(2) 
Siswa diminta memberi tanggapan, pendapat, dan saran disertai alasan yang logis tehadap kebobrokan-masalah aktual nan terjadi di selingkung.

(3) 
Pelajar diminta memufakati telepon sesuai dengan etika atau santun bertelepon.

(4) 
Siswa diminta menamakan tokoh-tokoh kerumahtanggaan takhayul.

(5) 
Siswa diminta mengobrolkan isi khayalan secara rinci dengan bahasa yang runtut.


(6)


Peserta diminta memerankan tokoh/bermain peran dalam dialog/percakapan sesuai fiil penggagas.

      Aspek yang dinilai:


(a)


bahasa(lafal, intonasi, sortiran introduksi, koalisi kalimat)


(b)


ekspresi tampang dan anggota tubuh


(c)


dialog (tepat, lampias, komunikatif


(d)


pengejawantahan (santun, penuh perhatian, luwes, berani) dsb.



c.




Testimoni Membaca

Indoktrinasi mendaras sekarang ditekankan pada pemahaman bacaan sebagai keterampilan komunikasi. Tingkat kemampuan membaca menurut taksonomi Barret ada panca tahapan yakni:
tingkat literal
(mengingat kembali),
tingkat penataan kembali
(menganalisis, mensintesis, manata ide-ide dan pengumuman),
tingkat inferensial
(kemampuan menggunakan ide-ide),
tingkat evaluatif
(kemampuan memastikan dan membiji kualitas ide dalam bacaan), dan
tingkat apresiatif
(menerapkan kepekaan emosional dan estetika yang dimiliki siswa)


Contah Penilaian Hasil Pembelajaran Bahasa Indonesia

Mata Pelajaran                 : Bahasa dan Sastra Indonesia

T e m a                              : Aneka Kegemaran

Unit                                   : I

Papan bawah/Semester                  : IV/I

Perjumpaan             : I

Alokasi Waktu                  : 2 x 35 menit

Kompetensi dasar : mengaji cepat

Indikator                           :


o


Dapat menentukan gagasan pokok secara cepat


o


Boleh membualkan kembali isi bacaan secara lengkap

Setelah melakukan kegiatan pendedahan sesuai dengan naskah/kegiatan belajar-mengajar yang direncanakan, guru melakukan penilaian, misalnya dengan mandu beraikut:

Penilaian Hasil:


1.


Sebutkan gagasan pokok wacana bacaan tersebut!


2.


Ceritakan kembali isi teks bacaan dengan kalimat sendiri!


Format Penilaian bakal Menemukan Gagasan Kunci Secara Cepat (pertanyaan no 1)

Nama

Kecepatan

Ketepatan (10- 100)

1.     
Tasrun

2.     
Asia

3.     
Amir

       Adapun cermin lain bentuk evaluasi membaca adalah:


(1)


Siswa diminta mengidentifikasi pembukaan sulit dalam bacaan.

(2)
Peserta diminta menguraikan isi teks dengan runtut.

(3)
Murid diminta membaca teks butir-butir dengan lafal dan   intonasi yang tepat.

(4)
Siswa diminta membacakan kuplet-stanza pantun dengan intonasi yang sesuai.


(5)


Siswa diminta menemukan secara cepat dan tepat informasi yang diperlukan.


(6)


Petatar menjawab cak bertanya tentang isi pustaka.


(7)


Siswa menyarikan pustaka

      Aspek yang dinilai:

      – dari segi penggunaan bahasa (saringan kata dan  susunan

       kalimat)

      – pemaparan isi (tepat, runtut, utuh, ringkas)

      – penulisan (ketelitian ejaan, kerapian catatan


(8)


Siswa diminta membualkan kembali isi bacaan



d.




Pemeriksaan ulang Menggambar

Kemampuan ini mencakup kemampuan-kemampuan nan lebih solo di antaranya menyangkut pendayagunaan ejaan, struktur kalimat, perbendaharaan kata, serta penyusunan paragrap.

      Aspek yang dinilai adalah:


·


ketepatan, ekspansi topik (logis, relevan, dan jelas).


·


pengorganisasian isi (runtut, utuh, dan koheren),


·


struktur, pilihan kata (diksi)


·


penerapan ejaan dan kerapian.

      Tentang contoh evaluasi menulis yakni:


(1)


Siswa diminta mengurutkan tulangtulangan seri secara mantiki.


(2)


Siswa diminta menuliskan cerita yang padu dan utuh berlandaskan bagan seri.

(3) 
Siswa diminta menulis butiran-granula kancing gubahan.


(4)


Siswa diminta melebarkan butir-butir kancing catatan menjadi tulisan yang padu.


(5)


Petatar diminta mencatat hal-peristiwa terdahulu yang dialami selama periode, dsb.



2.




Teknik Nontes

Dalam pencekokan pendoktrinan bahasa, kerjakan mengevaluasi bineka aspek

ke
mampuan berbahasa terutama yang mengandung unsur afektif, psikomotor

atau berkepribadian obsesi digunakan berbagai teknik nontes. Kaki langit
ermasuk portofolio, paisan observasi, angket,

dan sebagainya.

Adapun macam tagihan nontes di antaranya substansial tugas-tugas yang dilakukan di luar jam pembelajaran boleh berupa tugas rumah (PR) dan tugas-tugas lain sebagai halnya menciptakan menjadikan, batik, melaporkan, menganalisis sesuatu nan membutuhkan perian yang relatif lama, baik secara individual atau kerubungan. Di samping itu, keberagaman piutang bisa juga berupa portofolio, ialah suatu kinerja yang diperoleh peserta pada snatu kurun tertentu.



a.




Perlengkapan untuk Portofolio

P
ortafolio merupakan salah satu bagan penilaian. Portofolio yakni kompilasi pekerjaan pesuluh. Penilaian portofolio pada dasarnya ialah penilaian terhadap karya­-karya pesuluh dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, semua tugas penulisan yang diselesaikan petatar privat jangka periode tertentu, misalnya satu semester dikumpu
l
ketel, kemudian dilakakan penilaian.

Sebagaimana ditunjukkan dalam tugas-tugas menulis dan tes esai dalam penilaian hasil membiasakan Bahasa Indonesia, siswa diharapkan cak bagi berunjuk kerja secara aktif produktif tinggal bahasa tulis. Kemampuan menulis tersebut merupakan keseleo suatu kriteria kompetensi yang harus dimi!iki oleh siswa. N domestik meres pujian sastra pun pelajar banyak dituntut untuk mampu berunjuk kerja lewat bahasa tulis, yang merupakan salah satu kemampuan yang lagi harus dimiliki siswa.

Semua itu menunjukkan bahwa dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu semester pelajar telah menghasilkan beberapa karya tulis, baik yang dimaksudkan bakal mengukur kemampuan menulis maupun kemampuan sanjungan sastra. Tulisan peserta tersebut, misalnya mulai dari batik heterogen jenis kalimat, membuat paragraf, membuat cerita, menciptakan menjadikan surat, membuat karangan dengan topik tertentu, menceritakan kembali tuturan langsung lewat berbagai media dalam bentuk tulisan, takhlik sinopsis cerita, hingga dengan menulis karya sastra seperti syair maupun cerpen tersisa. Hasil karya siswa inilah yang dijadikan bahan penilaian portofolio.

Seandainya kumpulan karya sastra tersebut banyak, karya yang akan dinilai secara portofolio tidak harus seluruhnya, tetapi dapat dibatasi pada karya tertentu yang terpi!ih karena privat penilaian portofolio siswa akan diminta secara bersama untuk membahas dan menilai hasil karyanya, mereka sendiri dapat menentukan tulisan mana yang diambil andai sampel. Lewat portofolio dapat sekali lagi dinilai kronologi kemampuan siswa dalam menulis.

Ada beberapa keadaan yang teristiadat diperhatikan dalam melakukan penilaian portofolio, ialah: (1) karya nan dikumpulkaan benar-benar merupakan karya siswa yang bersangkutan, (2) karya pelajar yang dijadikan abstrak pckerjaan nan akan dinilai haruslah mencerminkan perkembangan kemampuan dan mewakili, (3) kriteria yang dipakai untuk menilai portopolio haruslah sudah ditetapkan sebelumnya,            (4) peserta diminta memonten secara kontinu hasil portofolionya,     (5) perlu dilakukan pertemuan dengan siswa yang dinilai. Selain itu, penilaian portofolio punya karakteristik tertentu nan berbeda dengan pembenaran bentuk netral sehingga penggunaannya kembali harus sesuai dengan pamrih atau kernampuan dasar dan khazanah yang akan diukur.


Contoh kisi-kisi penilaian bagi portofolio


No


Karya yang dihasilkan


Tanggal diperoleh/dibuat


Penampakan/skor

1

Lomba baca puisi tingkat kabupaten

2 Desember

2015

Jago 1/skor 8

2

Karya tulis buat majalah dinding

1 Januari 20
16

7

3

Cerita singkat

10 Januari 20
16

7



b.




Observasi (pengamatan)

Evaluasi yang dilakukan dengan teknik pengamatan atau observasi yaitu evaluasi dengan cara mengadakan pengamatan terhadap sesuatu keadaan secara langsung; teliti, dan sistematis. Kegiatan pengamatan ini disertai dengan kegiatan inventarisasi terhadap sesuatu yang diamati. Oleh karena itu, diperlukan format pengamatan.

Berdasarkan rencana kerja pihak pengamat, observasi dapat dibedakan menjadi dua macam, adalah observasi bersistem dan tak bersistem. Kerumahtanggaan pengamatan bersistem, kegiatan pengamatan telah diatur, dibatasi dengan kerangka kerja tertentu yang telah disusun secara bersistem. Hipotetis pengamatan berstruktur adalah evaluasi terhadap keterampilan berpidato, berdeklamasi, bercerita, wawanrembuk.

Aspek yang dinilai adalah:
lafal, struktur kalimat, pilihan kata, kepantasan, dan penampilan.

Pengamatan tak berstruktur, sebaliknya tidak mewatasi pengamatan dengan rangka kerja yang telah dipersiapkan, melainkan hanya dibatasi maka itu harapan pengamatan yang dilakukan. Sebagai ideal pengamatan yang dilakukan terhadap tingkah larap siswa n domestik kegiatan belajar-mengajar sehari-hari

Instrumen nontes hasil sparing bahasa Indonesia harus mencakup performansi dan sikap atau afeksi petatar terhadap bahasa dan Sastra lndonesia, lnstrumen penilaian terhadap hasil belajar bahasa berupa pengamatan terhadap performansi berbahasa yang dimaksudkan untuk mengukur ketangkasan berbudi murid secara berbarengan. Siswa diminta agar berharta mengamalkan aktivitas berpendidikan sebagaimana halnya internal roh yang konkret dalam situasi yang sengaja diciptakan atau disimulasikan. Beberapa keadaan yang perlu di!akukan dalam penyiapan tugas ini antara tak sebagai berikut.


1)


Pilih tugas tertentu nan menuntut siswa menampilkan kemampuan berba­hasanya secara sambil, misalnya tugas berpidato dan bercerita,


2)


Siapkan target yang mendukung pelaksanaan tugas, misalnya rekaman ban radio, televisi, wacana teragendakan yang sesuai dengan kondisi peserta.


3)


Tuliskan rambu-rambu atau aspek-aspek nan akan diamati dan dinilai misalnya: dalam bentuk pedoman dan tentukan bobot tiap aspek.

Suku cadang afektif ikut menentukan kejayaan membiasakan berbudi siswa. Murid yang memiliki tingkat afektif tinggi mempunyai kemungkinan untuk berhasil jauh lebih baik ketimbang yang tidak memilikinya. Komponen afektif antara lain aktual sikap, minat, motivasi, dan kesungguhan sparing. Intern rangkaian kegiatan pembelajaran komponen afektif teristiadat diungkap. Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui tingkat afektif siswa terhadap petatar nan berafeksi kurang, dan diberi motivasd agar meningkat:

Kerjakan memeroleh data afektif pesuluh, perlu disusun instrumen nontes nan khusus dirancang. cak bagi tujuan itu, misalnya lembar observasi. Observasi yakni suatu kegiatan nan dilakukan guru untuk mendapatkan publikasi akan halnya siswa dengan mandu mengamati tingkah larap dan kemampuannya selama kegiatan observasi berlangsung. Observasi dapat ditujukan kepada siswa secara perseorangan ataupun keramaian. N domestik kegiatan observasi terbiasa dipersiapkan format pengamatan. Di privat format pengamatan di antaranya berisi: (1) perilaku-perilaku atau kemampuan nan akan dinilai, dan (2) tenggang daya pengamatan.

Jika peranti yang dimaksud sudah suka-suka, bisa dipergunakan, namun dapat pula instrumen itu dikembangkan seorang dengan pendirian menyerahkan sejumlah pertanyaan nan disertai bilang jawaban. Hampir sekufu dengan penggunaan survei. Jawaban dibuat dalam bentuk proporsi (perbandingan Likert), misalnya 5-1, nan menunjukkan sikap positif, nilai 5 lakukan yang menunjukkan sikap
sangaf senang, senang (4),
independen (3),
kurang gemar (2),
dan
tak suka (1).

Pelaksanaan kegiatan observasi memerlukan waktu yang relatif lebih lama dibanding kegiatan tes. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan pengamatan secara berkali-kali, terutama nan berstruktur dengan menciptakan hal khusus, seyogiannya terbatas efisien.

Pelaksanaan pengamatan yang terkondisi sebaiknya sekali cuma, kecuali yang tak berstruktur nan bisa dilakukan setiap perian kerumahtanggaan kegiatan membiasakan rnengajar. Bagaimanapun kegiatan pengamatan suntuk diperlukan karena dapat rnemberikan keterangan yang tak dapat diperoleh rnelalui kegiatan testimoni. Makanya karena itu, para guru moga pula memanfaatkan pengumpulan embaran penilaian menerobos kegiatan pengamatan, atau teknik nontes puas rata-rata.



(6)




Penilaian menerobos wawancara

Interviu merupakan suatu  cara yang dipergunakan bikin mendapatkan informasi dari siswa dengan melakukan soal jawab. Dalam kaitannya dengan evaluasi kebahasaan dan kesastraan misalnya saja dimaksudkan kerjakan mendapatkan data tentang hal murid di luar sekolah, kontributif menyangkal hasil belajar kebahasaan peserta; seperti bahasa yang dipergunakan di rumah, anak kunci yang dibaca akan halnya apa hanya, dan sebagainya

Teknik interviu ini diperlukan guru buat maksud membuka atau berburu bertambah lanjut tentang hal-situasi yang dirasa guru sedikit jelas informasinya. Teknik wawancara ini dapat pula digunakan perumpamaan alat lakukan menelusuri kesukaran yang dialami siswa tanpa terserah maksud bikin memonten.

Sebeium menentukan teknik dan alat penilaian, penulis pertanyaan terlazim menetapkan terlebih dahulu tujuan penilaian dan kompetensi bawah yang hendak diukur.

Source: https://spada.fip.unm.ac.id/mod/book/view.php?id=13442

Posted by: and-make.com