Bahan Ajar Bab 4 Hukum-huk Dasar Dan Erhitingan Kimia

KOMPAS.com
– Dalam semangat sehari-hari banyak dijumpai transisi-pergantian materi.

Sebagian berusul perubahan bentuk, disertai juga terbentuknya zat baru dan sebagian lainnya pergantian tempat, bentuk atau wujud.

Misalnya pada lilin yang dihidupkan. Lilin yang seram tetap lilin, yang berubah hanya wujudnya.

Lilin yang tutung akan menjadi gas dan sejumlah energi (memberahikan dan cahaya). Lilin yang hangus akan semakin pendek, tetapi tidak hilang doang berubah menjadi zat baru nyata gas.

Dilansir berpokok
The Basic of Chemistry
(2003) karya Richard, terletak empat hukum dasar kimia, bak berikut:

Hukum keabadian komposit (Hukum Lavoisier)

Pernahkah kalian membakar kertas atau kayu? Hasil yang diperoleh berupa sejumlah sisa pembakaran yaitu abu.

Baca lagi: Rumus Kimia dan Tatanama Senyawa

Jika ditimbang abu tersebut maka konglomerasi debu lebih ringan dari massa tiang maupun kertas sebelum dibakar.

Berpunca hal tersebut, didapat gambaran bahwa seolah-olah dalam suatu reaksi kimia, ada perbedaan massa zat, sebelum dan sesudah raksi.

Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794), seorang pandai kimia dari Perancis yang menyelidiki hubungan konglomerat zat sebelum dan setelah reaksi.

Lavoisier menakar zat sebelum bereaksi kemudian menimbang hassil reaksinya.

Ternyata massa zat sebelum dan sehabis bereaksi cangap setinggi.

Namun, perubahan materi umumnya berlangsung privat sistem termengung sehingga bila hasil reaksi ada yang meninggalkan sistem atau sesuatu zat dari lingkungan diikat, maka massa zat sebelum dan sesudah reaksi menjadi tidak sama.

Dari percobaan yang dilakukan Lavoisier terhadap merkuri cair dan oksigem setakat terlatih merkuri oksida nan berwarna biram, diambil kesimpulan bahwa syariat kekekalan massa, adalah:

Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah taat

Hukum neraca setia (Hukum Proust)

Suka-suka berbagai sintesis yang dibentuk maka dari itu dua atom atau lebih, sebagai contoh air (H2O).

Air dibentuk oleh dua atom yaitu zarah hidrogen dan oksigen. Materi memiliki massa, termuat hidrogen dan oksigen.

Juru kimia semenjak Perancis, Joseph Louis Proust mengepas menggabungkan hidrogen dan oksigen lakukan menciptakan menjadikan air.

Baca lagi: Paralelisme Reaksi dan Penyetaraannya

Didapatkan bahwa setiap satu gas hidrogen bereaksi dengan okta- tabun oksigen, menghasilkan sembilan gass air.

Hal ini membuktikan bahwa massa hidrogen dan massa oksigen yang terkandung internal air memiliki perbandingan ki ajek 1:8. Berapapun banyaknya air yang terbentuk.

Pecah percobaan nan dilakukannya, syariat perbandingan tegar, berbunyi:

Perbandingan massa partikel-unsur penyusun satu sintesis sering patuh

Ilustrasi hukum dalton
shutterstock
Ilustrasi hukum dalton

Hukum skala berganda (Hukum Dalton)

Komposisi ilmu pisah ditunjukkan oleh rumus kimianya. Privat senyawam seperti air, ada dua unsru menyatu dan masing-nmasing memberikan sejumlah atom untuk membentuk senyawa.

Terbit dua unsur dapat dibentuk beberapa senyawa dengan perbandingan farik-beda.

Misalnya belerang dengan oksigen dapat membuat senyawa SO2 dan SO3. Bermula unsur hidrogen dan oksigen daoat dibentuk sintesis H2O dan H2O2.

Baca juga: Konotasi Kecondongan, Rumus, dan Macamnya

Dalton menginvestigasi perbandingan unsur tersebut puas setiap senyawa dan mendaoatkan suatu poloa teratur.

Pola tersebut dinyatakan perumpamaan hukum perbandingan berganda, yaitu:

Apabila dua unsur dapat takhlik lebih dari satu paduan, massa keseleo satu unsur tersebut tetap (sama), maka rasio komposit anasir yang enggak dalam sintesis-sintesis tersebut merupakan bilangan bulat dan tertinggal

Hukum perbandingan debit (Gay Lussac)

Pada awalnya para ilmuwan menemukan bahwa gas hidrogen dapat bereaksi dengan gas oksigen membentuk air.

Rasio tagihan gass hidrogen dan oksigen dalam reaksi tersebut konsisten, ialah 2:1.

Kemudian di masa 1808, intelektual Perancis, Joseph Gay Lussac berhasil melakukan percobaan mengenai volume gas yang terlibat bermacam ragam reaksi dengan menggunakan berbagai varietas gas.

Menurutnya, dua volume asap hidrogen bereaksi dengan satu volume tabun oksigen membentuk dua volume uap air.

Baca kembali: Tendensi dan Gerak: Pengertian dan Jenisnya

Pada reaksi pembentukan embun, semoga reaksi sempurna, untuk setiap dua volume gas hidrogen diperlukan suatu volume asap oksigen, menghasilkan dua volume uap air.

Syariat perbandingan piutang boleh ditulis dengan rumus, sebagai berikut:

V1/N1 = V2/N2 dengan P dan T konstan

Keterangan:

P = tekanan asap (atm)
T = hawa (K)
V = volume tabun (L)
N = banyaknya tabun (mol)

Setelah mengerjakan percobaan, Lussac melihat bahwa perbandingan piutang gas yang bereaksi dan hasil reaksi, ternyata berbanding misal bilangan bulat.

Data percobaan tersebut sesuai dengan hukum perbandingan volume nan berbunyi:

Sreg suhu dan impitan yang setimpal skala volume tabun-gass yang bereaksi dan hasil reaksi berbanding seumpama suratan bulat

Dapatkan update
berita saringan
dan
breaking news
setiap waktu berusul Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram lebih-lebih dulu di ponsel.

Source: https://www.kompas.com/skola/read/2020/04/17/150000069/4-hukum-dasar-kimia?page=all

Posted by: and-make.com