Bagaimana Pembelajaran Bahasa Inggris Di Sekolah Dasar Di Australia


Aksi literasi di Indonesia tidak dapat dipisahkan berpokok rekaman kemerdekaan Republik Indonesia. Semacam itu pentingnya literasi n domestik pandangan para bapak bangsa, sehingga lamun Indonesia baru saja merdeka dan masih menghadapi banyak tantangan, pada 14 Maret 1948 Presiden Sukarno dengan munjung usia meluncurkan programa pemberantasan buta leter (PBH).

Bung Karno menganalogikan programa PBH ini dengan resistansi kebebasan. Beliau mengatakan, “Tidak saja kita menang atas medan perang, tetapi juga dalam memberantas buta aksara kita.” Bung Karno langsung menjadi guru pertama dalam program PBH itu. Khasiat awal literasi adalah kemampuan mendaras dan menulis. Namun arti itu telah berevolusi dan berkembang sesuai dengan keberuntungan zaman dan teknologi. Literasi mencakup berbagai ragam bidang nasib. Menurut The Oxford Dictionary (2018),
“literacy is (1) the ability to read and write, but also (2) competence and knowledge in a specified daerah.”

Itu artinya bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan lagi kompetensi dan embaran dalam bidang tertentu. Maka kita mengenal 6 literasi radiks UNESCO; literasi baca-tulis, numerasi, digital, sains, finansial, dan budaya. Literasi baca tulis yang kita kuasai dalam bahasa pertama kita merupakan dasar terdahulu saat belajar bahasa asing. Itu karena
learning a new language uses the skills you have from learning to read and write in your first language. Anda akan lebih mudah belajar bahasa bahasa asing kalau Anda menuntaskan dengan baik bahasa pertama Sira.

Laksana ideal, seorang nan literate internal bahasa Indonesia ketika belajar bahasa Inggris, misalnya, akan lekas menyadari bahwa bahasa Inggris yakni bahasa yang non fonetis. Sebaliknya seorang penutur zakiah bahasa Inggris, ketika belajar bahasa Indonesia, akan mencatat bahwa tidak ada pergantian alas kata seumpama akibat perbedaan tenses dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia di Australia

Bahasa Indonesia di Australia permulaan diajarkan di tingkat perhimpunan merupakan di Perserikatan Sydney dan Universitas Melbourne pada 1955, dan disusul oleh sejumlah perguruan janjang yang lain ketika program Membujur Studies mulai digalakan di 1960-an dan 1970-an. Universitas-universitas berangkat mengekspos jurusan studi Cina, Jepang, Indonesia dan kemudian menyusul juga bahasa-bahasa Asia nan tak. Sebelum itu, bahasa asing nan terkenal di Australia adalah bahasa-bahasa Eropa seperti Perancis dan Jerman.

Di tengah populernya programa Berbahagia Studies ini saya datang ke Australia pada 1977 saat dipedulikan bakal mengajar bahasa dan sastra Indonesia di Monash University, Melbourne. Di tahun yang sama ini juga sekolah-sekolah menengah menginjak mengajarkan bahasa-bahasa Asia, terdaftar bahasa Indonesia.

Pengajaran bahasa Indonesia berkembang pesat dan mencapai puncaknya di 1990-an. Bahasa Indonesia waktu itu diajarkan di banyak sekolah, dari sekolah dasar sebatas sekolah semenjana. Banyak sekolah di Australia mempunyai
sister schools-nya di Indonesia. Guru-linguis Indonesia mendapat subsidi dari Pemerintah Australia buat meningkatkan kemahiran bahasa Indonesianya di universitas-universitas Indonesia. Beberapa kali di 1990-an saya menyertai rombongan linguis Indonesia berpokok negara bagian Victoria kerumahtanggaan Acara Bahasa dan Budaya Indonesia di UGM Yogyakarta.

Sejak akhir 1990-an situasi mulai berubah. Total peminat bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi start menurun. Hasilnya, ada sekolah terpaksa menutup programa bahasa Indonesianya. Bahkan di 2021, Universitas La Trobe di Melbourne mengerudungi program Indonesian Studies-nya. Banyak faktor yang menyebabkan berkurangnya minat terhadap indoktrinasi bahasa Indonesia, seperti krisis moneter (1998), dermaga Bali (2002), eksekusi dua anggota Bali Nine (2015) dan menurunnya minat terhadap bahasa-bahasa asing pada umumnya. Selain itu juga adanya rival dari bahasa-bahasa asing yang tak.

VSL dan literasi digital

Selama banyak tahun sampai dengan masa pensiun beberapa masa nan lewat, saya mengajar di VSL (Victorian School of Languages) nan berpusat di Melbourne, ibu kota negara adegan Victoria. VSL adalah sebuah sekolah pemerintah/provinsi, saja menerima juga pesuluh dari sekolah swasta karena jam pelajarannya diadakan di luar jam sekolah yang resmi. VSL menawarkan dua gambar penelaahan yakni
face to face
(bertatap) dan
distance education
(jarak jauh).

Pengajaran tatap-muka diadakan pada Sabtu pagi atau pada tunggang/malam hari-hari biasa. Di 2020 terwalak kurang lebih 13 ribu siswa di kelas tatap-paras VSL. Terserah lebih mulai sejak 50 bahasa yang ditawarkan, mulai dari bahasa-bahasa nan mutakadim biasa kita kenal seperti Jerman, Prancis, Cina Mandarin, Jepang, Indonesia, sampai bahasa-bahasa yang rumpil kita dengar, misalnya Amharic (Ethiopia), Dari (Afghanistan), Telugu (South India), Karen (Myanmar) dan banyak lagi. Sebagai negara akseptor imigran, Australia menjamin pelestarian budaya teragendakan bahasa para imigran tersebut begitu juga terlihat pada bervariasi bahasa yang diajarkan di VSL.

Pendidikan jarak jauh menawarkan 6 bahasa Eropa (Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Yunani, Latin) dan 7 bahasa Asia (Cina Mandarin, Jepang, Indonesia, Arab, Vietnam, Hindi, Punjabi) dengan tingkat pelajar bersumber kelas bawah 7 sampai papan bawah 12 alias setingkat SMP dan SMA menurut sistem Indonesia. Beberapa kementerian bahasa memufakati juga petatar kelas 5 dan 6 sekolah dasar. Di 2020 terletak 1.400 pelajar pendidikan jarak jauh.

Kecakapan literasi digital dilatih dan dibiasakan lalu kelas jarak jauh ini karena para pesuluh mengakses bahan pelajaran secara daring. Mereka harus mengunduh (download) tugas les untuk tergarap dan sehabis selesai mengerjakannya harus mengunggahnya (upload) bagi dikirimkan kepada guru. Kemudian guru menyamai pencahanan pelajar yang sudah diperiksa secara daring juga. Tugas-tugas ini diberikan per minggu (weekly workset).

Pelajaran verbal (verbal lesson) dilakukan sekali sepekan atau dua ahad lewat telpon antara murid dan temperatur selama 15 sampai 20 menit. Beberapa kali setahun diadakan seminar sehari penuh di mana semua pelajar hadir untuk beradu serentak dengan guru mereka. Di masa pandemi ini seminar diganti dengan webinar. Sebagai halnya di sekolah umum yang tak, peserta pada akhirnya akan menamatkan kursus dan mengimak ujian penghabisan VCE (Victorian Certificate of Eduacation) semacam ebtanas (saat ini UN) di Indonesia.

Literasi memberikan dasar kepada anak untuk mengembangkan kemampuannya dalam rataan tertentu. Literasi asal baca tulis dalam bahasa pertama merupakan landasan yang berfaedah untuk sparing bahasa asing. Adapun pentingnya literasi, berikut kutipan pengenalan-kata Charlie Carroll, seorang penulis, pemusik dan hawa,
“Literacy can give our children that most important of things: the ability to grow into adults and have the whole world available to them. The child who can speak well, can write well and can read well is the child who can step out into the world with the skills to be successful and happy.”


Source: https://mediaindonesia.com/opini/443121/literasi-dan-pembelajaran-bahasa-asing-di-australia

Posted by: and-make.com