Bagaimana Implementasi Landasan Religius Dalam Pembelajaran Di Sekolah Dasar


BAB I



PENDAHULUAN


A.



Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi kemanusiaan peserta bimbing baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam avontur hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi privat keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai pamrih hidup kemanusiaan. Yang sudah barang pasti dalam menjalankan kesinambungan pendidikan tersebut harus ada alat sebagai jalan hidup nan salah satunya adalah adanya kurikulum.

Orang seumpama turunan Tuhan telah banyak diberi hadiah, yaitu berbagai ragam kemampuan asal baik yang berkarakter badan maupun rohani nan dapat ditumbuh kembangkan secara optimal.

Dengan kemampuan tersebut diharapkan manusia mampu mempertahankan serta menampilkan kehidupan ke arah nan bertambah baik. Kemampuan dasar yang dimiliki basyar dalam sejarah kehidupan dan pertumbuhan merupakan modal dasar untuk memenuhi berbagai kebutuhan n domestik kehidupan. Dengan demikian seseorang harus bakir berekspansi kemampuannya. Pendidikan merupakan sarana (organ) yang menentukan sampai dimana titik optimal kemampuan tersebut dapat tercapai.

Pendidikan merupakan faktor yang lewat penting dalam semangat manusia. Adanya hayat bukan bisa dipisahkan dari spirit keluarga, mileu, masyarakat, dirinya sendiri alias semangat bangsa dan negara. Adapun kelebihan berusul pendidikan yaitu berusaha meluaskan dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat maupun bangsa dan Negara. Adapun harapan umum dari pendidikan mencengap beberapa aspek antara lain kemanusiaan nan meliputi sikap, tingkah laku, kinerja, kebiasaan dan rukyat.


[1]





Gapura II


PEMBAHASAN


A.



Signifikasi



Pendidikan


Pendidikan bermula berpangkal kata “didik”, lalu mendapat habuan awalan “derita” sehingga menjadi “godok” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi pelajaran diperlukan adanya wahyu, les, dan pimpinan mengenai kepatutan dan kecerdasan pikiran. Menurut Kamus Ki akbar Bahasa Indonesia, pendidikan yakni proses pengubahan sikap dan tata kayun seseorang alias kerumunan orang dalam usaha mendewasakan hamba allah melewati upaya pengajaran dan pelatihan.

Dalam bahasa Inggris, Education (pendidikan) berasal terbit kata Educate (mendidik) artinya memberi kenaikan (to give rise to) dan mengembangkan (to develop). Dalam pengertian sempit, pendidikan (education) berarti kelakuan atau proses perbuatan lakukan bukan pendidikan boleh diartikan bak sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga cucu adam memperoleh maklumat, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Sebagian orang memaklumi khasiat pendidikan seumpama pencekokan pendoktrinan karena pendidikan pada umumnya selalu membutuhkan pengajaran. Jika pengertian sebagai halnya ini kita pedomani, setiap orang yang bertanggung jawab mendidik (sama dengan guru dan cucu adam tua) karuan harus mengamalkan perbuatan mengajar. Sedangkan, mengajar sreg umumnya diartikan secara sempit dan formal misal kegiatan menyampaikan materi pelajaran kepada siswa agar kamu menerima dan menguasai materi les tersebut.

Privat Dictionary of Psychology (1972) Pendidikan bak ……“the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes, etc. Usually term is applied to sahih institution.” Makara, pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (sekolah dan madrasah) nan diperguanakan bagi menyempurnakan perkembangan khalayak n domestik menguasai permakluman, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan bisa berlangsung secara informal dan nonformal, disamping secara formal sebagai halnya di sekolah, madrasah, dan institusi lainnya. Malar-malar, menurut definisi diatas, pendidikan juga boleh berlanjut dengan pendirian mengajar diri seorang (self-instruction).

Lebih lanjut, menurut Poerbakawatja dan Harahap (1981) pendidikan yakni …..”manuver secara sengaja dari hamba allah dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si momongan ke kedewasaan nan cak acap diartikan mampu menimbulkan bahara jawab moril dari segala perbuatannya…….sosok dewasa itu adalah orang gaek si anak atau turunan nan atas dasar tugas dan kedudukannya


2

mempunyai kewajiban untuk mendidik. Misalnya, guru sekolah, bapak dalam mileu keagamaan, pembesar-kapala internat dan sebagainya.”


B.



Signifikansi Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama terdiri

atas

dua pengenalan, ialah “pendidikan “dan “agama.” pembukaan “pendidikan” secara etimologi berpokok dari pembukaan jaga yang berguna “proses perubahan tingkah laris seseorang maupun setumpuk orang n domestik usaha mendewasakan manusia melalui pendidikan dan tutorial.

Istilah pendidikan ini awal berasal dari bahasa yunani, merupakan
paedagogie
yang bermakna bimbingan yang diberikan kepada momongan. Istilah ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa inggris dengan kata
education
yang beararti pengembangan atau bimbingan.





[2]






N domestik bahasa arab istilah ini dikenal debgan perkenalan awal tarbiyah dengan pengenalan kerjanya rabba-yurobbi-tarbiyatan yang berguna “mengasuh, menggembleng, dan memelihara.




[3]






Sedangkan kata “agama” maupun “religi” berasal dari bahasa latin



relegere


nan berarti antologi atau bacaan.adapun secara istilah pengakuan terhadap adanya persaudaraan makhluk dengan maslahat ghaib



nan harus dipatuhi; kekuatan ghaib tersebut mengendalikan manusia; berfaedah pula mengikatkan diri plong satu bagan nyawa nan mengandung syahadat lega satu sumber yang berada diluar diri makhluk yang memengaruhi ragam-ragam manusia. Agama dapat pula berarti ajaran-tanzil yang diwahyukan tuhan kepada makhluk menerobos seorang rasul.

Secara terminologi kata Islam dapat diartikan selamat, menyerah, tunduk, dan patuh. Adapun menurut istilah Selam berarti tunduk dan takluk diri sepenuhnya kepada Almalik-lahir ataupun batin-dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan tabu-Nya.

Islam yakni suatu agama yang berisi ajaran adapun tata cara hidup yang diturunkan Halikuljabbar kepada umat manusia melewati para rasul-Nya.

Dengan demikian, denotasi prolog ”pendidikan” dan pembukaan “agama Selam” yang masing-masing telah diuraikan diatas, boleh disatukan menjadi suatu pengertian pendidikan agama Islam secara integral.

Mengenai pengertian pendidikan agama Islam banyak para pakar pendidikan yang memberikan definisi secara berbeda diantaranya adalah bak berikut:

Prof. Dr. Zakiah Darajat menjelaskan sebagai berikut:


[4]




a.

Pendidikan agama Islam ialah manuver berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak asuh didik agar kelak selepas selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan wahi agama Islam serta menjadikannya laksana rukyah hayat (way of life).

b.

Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan tajali Islam.

c.

Pendidikan agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaranajaran agama Selam, yakni berupa arahan dan asuhan terhadap anak bimbing mudah-mudahan nantinya sesudah selesai berpangkal pendidikannya ia dapat memahami,menyelami, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Selam nan mutakadim diyakininya secara global, serta menjadikan ajaran agama Selam itu perumpamaan suatu rukyah hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan arwah didunia maupun diahirat kelak.

Prof. H. M. Arifin mengatakan bahwa pendidikan agama Islam yaitu, “Operasi orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan sumber akar) anak didik melalui ajaran Islam kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan.

Di dalam GBPP dan Sekolah umum Mata Les Pendidikan Agama Islam Kurikulum tajun 1994, dinyatakan bahwa nan dimaksud dengan pendidikan agama Islam merupakan : ”Operasi sadar untuk menyiapkan peserta didik n domestik mengimani, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, indoktrinasi dan atau kursus dengan memperhatikan tuntutan bagi menghormati agama lain intern hubungan kerukunan antara umat beragama dalam publik kerjakan membuat persatuan nasional.

Dari pengertian tersebut, Muhaimin mengutarakan sejumlah situasi yang perlu diperhatikan intern kegiatan pendidikan agama Selam, adalah:


[5]




a.

Pendidikan Agama Islam sebagai persuasi pulang ingatan, ialah suatu kegiatan bimbingan, pengajaran dan maupun latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar akan tujuan yang hendak dicapai.

b.

Peserta asuh yang hendak disiapkan kerjakan mencecah harapan,intern arti ada yang dibimbing, diajari dan ataupun dilatih dalam peningkatan religiositas, kognisi, penghayatan, dan pengalaman terhadap wangsit agama Islam.

c.

Pendidik atau Guru Pendidikan Agama Selam (GPAI) nan melakukan kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau les secara ingat terhadap siswa didiknya bikin hingga ke tujuan tertentu.

d.

Kegiatan Pendidikan Agama Islam diarahkan cak bagi meningkatkan keyakinan, kesadaran, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam bermula pelajar didik, yang disamping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga bersama-sama bagi mewujudkan kesalehan sosial. Dalam arti, kualitas atau kesalehan pribadi itu diharapkan mampu memancar ke luar dalam hubungan keseharian dengan insan lainnya (bermasyarakat), baik yang seagama (sesama muslim) ataupun yang tidak seagama (hubungan dengan non mukmin), serta dalam berbangsa dan bernegara, sehingga dapat terwujud persatuan nasional.

Dari sekian banyak signifikasi pendidikan agama Selam diatas pada dasarnya saling melengkapi dan memiliki tujuan nan bukan berbeda, yaitu agar siswa dalam aktivitas kehidupannya tidak pemaafan dari pengalaman agama, berahlak mulia, dan berkepribadian terdahulu, berwatak sesuai dengan ajaran agama Selam. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pendidikan agama Islam yang diselenggarakan pada semua sagur, janjang, dan keberagaman pendidikan menekankan bukan semata-mata pada pengetahuan terhadap (Islam), doang sekali lagi terutama puas pelaksanaan dan pengalaman agama petatar didik intern seluruh kehidupannya.


C.



Landasan Pendidikan Agama Islam

Bawah


pendidikan yaitu merupakan keburukan nan sangat fundamental dalam Pelaksanaan pendidikan. Sebab dari radiks pendidikan itu akan menentukan corak misi pendidikan, dan berasal tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana peserta didik akan diarahkan ataupun dibawa.

Pendidikan yakni keburukan nan sangat berfaedah n domestik usia, karena pendidikan itu tidak dapat dipisahkan berpangkal jiwa. Baik dalam kehidupan keluarga maupun privat kehidupan bernegara. Sehingga pendidikan dijadikan  satu ukuran bertamadun mundurnya suatu bangsa.

Plong umumnya tiap-tiap bangsa dan negara sepikiran adapun pokok-taktik tujuan pendidikan adalah mengusahakan supaya sendirisendiri orang sempurna pertumbuhan tubuhnya, sehat otaknya, baik adab dan sebagainya. Sehingga ia bisa mencapai kesempurnaan dan bahagia hidupnya lahir dan batin.

Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan dasar pendidikan adalah suatu guri nan dijadikan pegangan internal menyelenggarakan pendidikan. Pada umumnya nan menjadi landasan dalam penyelenggaraan pendidikan suatu nasion dan negara adalah pandangan hidup dan falsafah hidupnya.




[6]






Dasar pendidikan agama di indonesia sanding kaitannya dengan dasar pendidikan Nasional nan menjadi landasan terlaksananya pendidikan bikin bangsa indonesia. Karena pendidikan agama Islam ialah bagian yang timbrung berperan kerumahtanggaan tercapainya tujuan pendidikan Kebangsaan.

Sumber akar model pendidikan Islam sudah lalu jelas dan tegas yaitu firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Kalau pendidikan di ibaratkan bangunan maka isi Al-Qur’an dan Haditslah yang menjadi fundamennya. Al-Qur’an merupakan sumber kebenaran internal Islam, kebenaran yang telah tidak dapat di ragukan lagi. Sedangkan sunnah Rasulullah SAW yang dijadikan landasan pendidikan agama Islam adalah berupa ucapan, perbuatan atau pengakuan Rasullullah SAW n domestik bentuk isyarat. Rang tanda-tanda ini yakni suatu perbuatan nan dilakukan maka dari itu sahabat maupun orang tidak dan Rasullullah merelakan doang dan terus berlantas.

Dari jabaran diatas makin jelaslah bahwa nan menjadi perigi pendidikan adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang didalamnya banyak disebutkan  ayat atau hadits yang mewajibkan Pendidikan Agama Islam untuk dilaksanakan antara lain: Allah bertutur:


وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا (الاحزاب:










٧



۱










)

Artinya: Dan barang mungkin nan mentaati Allah dan utusan tuhan-Nya, maka sepantasnya engkau akan bahagia sebenar-bersusila bahagia. (QS Al-Ah-zab


71


)



[7]







Ayat tersebut tegas sekali mengatakan bahwa apabila manusia telah mengatur seluruh aspek kehidupannya (Tercantum pendidikannya) dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, maka akan bahagialah hidupnya dengan sebenar-benarnya bahagia baik didunia maupun di akhirat nanti. Sabda nabi Muhammad SAW:


تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابُ








اللهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ (رواه الاٍمام مالك)

Artinya: Aku tinggalkan dua perkara bakal kalian yang menciptakan menjadikan kalian lain akan sesat selagi kalian berpijak kepada keduanya, yaitu kitabullah,(Quran) dan sunnah Rasul-Nya. (H.R.Imam Malik)



[8]









Dasar-dasar pendidikan agama yang bermula berpunca qanun perundang-undangan yang secara langsung dan lain serempak dapat dijadikan pegangan intern melaksanakan pendidikan agama, disekolah-sekolah ataupun dilembag-lembaga pendidikan formal di Indonesia.

Akan halnya dasar dari segi yuridis formal tersebut ada tiga macam, yaitu sebagai berikut.

Dasar ideal adalah radiks dari falsafah negara pancasila dimana sila mula-mula dari pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung signifikansi bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Halikuljabbar Yang Maha Esa.

Dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang P4 (PRASETIA PANCAKARSA) disebutkan bahwa dengan sila Ketuhanan Nan Maha Esa, bangsa Indonesia  menyatakan tangan kanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan pembantu masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang independen dan beradab. Lakukan merealisasi hal tersebut, diperlukan adanya pendidikan agama, karena sonder pendidikan agama akan runyam menciptakan menjadikan sila mula-mula terbit pancasila tersebut.

b.

Dasar Sistemis atau Konstitusional

Merupakan dasar semenjak UUD 1945, dalam Gerbang XI Pasal 29 ayat 1 dan 2 nan berbunyi:

1.

Negara berdasarkan atas ketuhanan Nan Maha Esa.

2.

Negara menjamin kebebasan tiap-tiap penduduk cak bagi memeluk agama tiap-tiap dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

Bunyi ayat diatas mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia harus beragama dan negara melindungi umat beragama cak bagi menunaikan wangsit agama dan beribadah sesuai agamanya masing-masing.

c.

Sumber akar Operasional

Nan dimaksud dengan dasar operasional adalah dasar nan secara bersama-sama mengatur pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia seperti yang disebutkan Tap MPR No.IV/MPR/1973 yang kemudian dikokohkan kembali pada Tap MPR No.IV/MPR/1978 Jo Ketetapan MPR No.II/MPR/1983, Ketetapan MPR No.II/MPR/1988, dan ketetapan MPR No. II/MPR/1993 tentang GBHN nan pada pokoknya menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum disekolah-sekolah, menginjak berusul sekolah pangkal sampai dengan universitas-sekolah tinggi negeri. Dalam Tap MPR No.IV/MPR/1999 disebutkan bahwa meningkatkan kualitas pendidikan agama melangkahi penyempurnaan sitem pendidikan agama sehingga bertambah terpadu dan integral dengan sitem pendidikan kewarganegaraan dengan didukung oleh wahana dan prasarana yang memadai.

Kemudian dikuatkan lagi dengan Undang-Undang RI No.20 Masa 2003 tentang SISDIKNAS Bab X Pasal 37 ayat 1 dan 2 nan berbunyi andai berikut. (1) Kurikulum pendidikan dasar dan sedang wajib memuat: (a) pendidakan   agama; (b) pendidikan kebangsaan; (c) bahasa; (d) matematika; (e) hobatan   pengetahuan alam; (f) guna-guna siaran sosial; (g) seni dan budaya; (h) pendidikan jasmani, dan (i) ketrampilan/keterbukaan dan muatan lokal. (2) Pendidikan tangga wajib memuat: (a) pendidikan agama; (b) pendidikan kewarganegaraan, dan (c) bahasa.7

Pendidikan agama adalah operasi untuk memperkuat keyakinan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut makanya peserta bimbing nan bersangkutan dengan memaki petisi untuk menghormati agama lain n domestik hubungan kesepakatan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Yang dimaksud dengan bawah religius adalah sumber akar-pangkal yang bersumber berbunga agama Islam yang tertera dalam ayat Al-Quran maupun Hadits Utusan tuhan menurut ramalan Islam, bahwa melaksanakan pendidikan agama yaitu adalah perintah bermula Yang mahakuasa yang merupakan ibadah kepadanya.


[9]





Intern Al-Qur’an banyak ayat yang menunjukkan adanya perintah tersebut, antara lain berikut ini:

a)

Dalam Surat An-Nahl ayat 125, nan berbunyi:


اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالحِْكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ (النحل




:





     )

Artinya: Ajaklah kepada Agama Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan dengan petuah yang baik.



[10]









b)

Privat Surat Ali-Imron ayat 104, yang berbunyi:


وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ (ال عمران: ۱۰٤)

Artinya: Moga ada diantara ia segolongan ummat nan mengajak kepada kebaikan, menyuruh melakukan baik dan mencegah dari polah mungkar.



[11]









c)

Dalam Surat At-Tahrim ayat 6 nan berbunyi:


يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا قُوْا








اَنْفُسَكُمْ








وَاَهْلِيْكُمْ








نَارًا(التحريم: ٦)



Artinya: Hai hamba allah-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

.




[12]









Selain ayat-ayat tersebut , juga disebutkan intern hadits antara lain ibarat berikut:


بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ ايَةً










(رواه البخارى)










Artinya: Sampaikanlah ajaranku kepada sosok lain walaupun sekadar invalid. (HR.Bukhari)



[13]






كُلُ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ








عَلَى








الْفِطْرَةِ








فَأَبَوَاهُ








يَهَوِّدَانِهِ








أَوْ








يُنَصِّرَانِهِ








أَوْ








يُمَجِّسَانِهِ (رواه








مسلم)





Artinya: Setiap momongan yang dilahirkan itu telah mengapalkan fitrah beragama (perasaan berketentuan kepada Almalik) maka kedua bani adam tuanyalah yang menjadikan anak asuh tersebut beragama Ibrani, Nasrani, atau Majusi (HR.Baihaki)


3)



Dasar dari Sosial Psikologis

Semua cucu adam didunia ini membutuhkan adanya satu pegangan sukma yang disebut agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan nan mengakui adanya dzat yang maha kuasa, tempat mereka berlindung dan tempat mereka meminta uluran tangan. Peristiwa semacam itu terjadi sreg masyarakat primitif maupun pada masyarakat nan modern, dan sesuai dengan firman Yang mahakuasa n domestik sertifikat Ar-Ra’ad ayat 28, yang berbunyi:


[14]



اَلاَ








بِذِكْرِاللهِ








تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبِ (الرعد:   )

Artinya: Ketahuilah, bahwa hanya dengan memahfuzkan Tuhan, hati akan menjadi tenteram.



[15]









Makanya karena itu, manusia akan selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai dengan agama yang dianutnya. Itulah sebabnya, bikin makhluk-orang muslim diperlukan adanya pendidikan agama Islam agar dapat mengarahkan fitrah mereka kearah yang benar sehingga mereka dapat mengabdi dan beribadah sesuai dengan visiun Islam. tanpa adanya pendidikan agama dari satu generasi ke generasi berikutnya, manusia akan semakin jauh pecah agama yang sopan.


[16]





Lebih jauh bakal mengenai pamrih pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Hari 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa: Pendidikan kebangsaan berfungsi mengembangkan kemampuan dan menciptakan menjadikan watak serta peradaban nasion yang bermartabat privat rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bermaksud bakal berkembangnya potensi pelajar pelihara agar menjadi manusia nan beriman dan bertakwa kepada Allah Nan Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, sakti, cakap, mampu, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta berkewajiban.


[17]





Dalam merumuskan intensi-tujuan diatas, moga wajib diperhatikan hal-kejadian berikut:

1.

Harus memenuhi situasi masyarakat indonesia sekarang dan nan nanti.

2.

Memenuhi hakiki masyarakat.

3.

Bersesuaian dengan Pancasila dan Undang-Undang 1945.

4.

Menunjang pamrih yang secara hirarki berada diatasnya.

Dari jabaran di atas dapatlah dilihat bahwa tujuan pendidikan agama Islam harus mendukung harapan instusional dan intensi pendidikan nasional. Pendidikan agama harus mengarahkan tujuannya buat menunaikan janji tuntutan berasal rangka pendidikan nan menyelenggarakan pendidikan tersebut, dan secara umum harus menetapi tujuan pendidikan  kebangsaan.


[18]





Singkatnya harapan pendidikan agama Islam adalah mematangkan anak asuh-anak, pemuda pemudi dan orang dewasa supaya menjadi orang muslim asli, beriman loyal, beramal soleh dan berakhlak indah, sehingga dia menjadi salah sendiri masyarakat nan sanggup nyawa diatas suku seorang, mengabdi kepada Tuhan dan berbakti kepada bangsa dan lahan airnya tambahan pula sesama umat manusia.


[19]






Gapura III


PENUTUP

Istilah pendidikan semula berpunca berusul bahasa yunani, yaitu
paedagogie
yang berarti arahan nan diberikan kepada momongan. Istilah ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa inggris dengan kata
education
nan beararti pengembangan atau bimbingan.

Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok hamba allah intern usaha mendewasakan turunan melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Bawah

pendidikan adalah merupakan masalah yang tinggal fundamental dalam Pelaksanaan pendidikan. Sebab berbunga dasar pendidikan itu akan menentukan corak misi pendidikan, dan bersumber tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana pesuluh jaga akan diarahkan atau dibawa.

Pendidikan adalah masalah yang sangat terdahulu dalam kehidupan, karena pendidikan itu tidak bisa dipisahkan semenjak kehidupan. Baik dalam spirit tanggungan maupun dalam usia bernegara. Sehingga pendidikan dijadikan  suatu matra bertamadun mundurnya suatu bangsa.

Adapun landasan pendidikan ialah galengan yuridis, kalangan religius, dan landasan sosial psikologi.


                                                                                                                                                        11


DAFTAR Pustaka

A.Warson Munawir. 1984.
Kamus almunawwir.
Jogjakarta: Unit Pengadaan Sendisendi Ilmiah Keagamaan.

A. Rahman Saleh. 2006.
Pendidikan Agama dan Pembangunan Watak Nasion. Jakarta: Raja grafindo persada.

Departemen Agama RI.
Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: PT Intermasa.

Mansyur dkk, 1981.
Metodologi Pendidikan Agama Islam.
Jakarta: CV Forum.

Mahmud Yunus. 1983.
Metode Tunggal Pendidikan Agama.
Jakarta: Hidakarya.

Muhaimin, et.al.1996.
Strategi Belajar Mengajar.
Surabaya: Citra Alat angkut.

Syekh Mansur Ali Nashif. 2002.
Mahkota Rahasia-Pokok Hadits Rasulullah Saw. Jilid 1. Bandung: Nur Plonco.

UUSPN No.20,Th 2003,
Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Surabaya: Karina.



Nirmala Darajat. et.al.
Pedagogi Islam. Jakarta:Dunia Lambang bunyi.

Zakiyah Darajat. 1985.
Kapita Selejta Pendidikan Tata susila Anak Didik.
Bandung: Rosdakarya.








[1]





Zakiyah Darajat.
Kapita Selekta Pendidikan Moral Anak Pelihara
(Bandung: Rosdakarya, 1985), 30.



1






[2]




A.Rahman Alim,Pendidikan Agama dan Pembangunan Watak Bangsa, (Jakarta: Yamtuan grafindo persada, 2006), 2.





[3]




A.Warson Munawir,
Kamus almunawwir ,(Jogjakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan,1984), 504.





[4]




Zakiah Darajat, et.al.,
Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta:Manjapada Aksara), 86.

                3






[5]






Muhaimin,et.al, Strategi Sparing Mengajar, (Surabaya: Citra Wahana, 1996), 1.

4






[6]




Zuhairini, et al, 2004,
Op.Cit., 4.

        5





[7]






Kementerian Agama RI,
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: PT Intermasa, 680.





[8]




Syekh Mansur Ali Nashif, 2002,
Mahkota Pusat-Pokok Hadits Rasulullah Saw. Jilid 1, Bandung: Sinar Baru, 98.

6





[9]




Zuhairini, et al, 2004,
Op.Cit., 11.





[10]




Depag RI,
Op.Cit., 421.





[11]




Depag RI,
Op.Cit., 93.

8






[12]




Depag RI,
Op.Cit., 951.





[13]




Syekh Mansur Ali Nashif, 2002,
Op.Cit., 160.





[14]




Zuhairini, et al, 2004,
Op.Cit.,
hlm. 12





[15]




Depag RI,
Op.Cit., 373.





[16]




Zuhairini, et al, 2004,
Op.Cit., 13.

                   9





[17]




UUSPN No.20,Th 2003,
Akan halnya Sistem Pendidikan Kebangsaan,
Surabaya: Karina.





[18]




Mansyur dkk,1981,
Metodologi Pendidikan Agama Islam,
Jakarta: CV Forum, 34.





[19]




Mahmud Yunus, 1983,
Metode Khusus Pendidikan Agama,
Jakarta: Hidakarya, cet II, 13.

     10


Source: http://muhammadalisunan.blogspot.com/2012/05/landasan-religius-pendidikan.html

Posted by: and-make.com