Bab 1 Makalah Model Pembelajaran Terpadu Tipe Network Disekolah Dasar

Dewasa ini setiap satuan pendidikan secara sedikit berangsur-angsur harus melaksanakan pengelolaan manajemen pendidikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP adalah kriteria paling tentang sistem pendidikan di seluruh kewedanan hukum Negara Kesendirian Republik Indonesia. PP no. 19 ini memberikan arahan tentang okta- tolok kebangsaan pendidikan, yang meliputi: (a) standar isi; (b) kriteria proses; (c) tolok kompetensi lepasan; (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (e) standar media dan prasarana; (f) barometer penyelenggaraan; (g) tolok pembiayaan; dan (h) kriteria penilaian pendidikan.

Murid bimbing yang berada pada sekolah dasar inferior satu, dua, dan tiga bernas pada rentangan spirit prematur. Pada sukma tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti mana IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Lega umumnya mereka masih melihat barang apa sesuatu sebagai satu keutuhan (berpikir holistik) dan memahami relasi antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkret dan asam garam yang dialami secara spontan.

Waktu ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas bawah I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam latihan, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Kerumahtanggaan pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara tulen mata les yakni hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan indra penglihatan pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak nan masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (berpikir holistik), pembelajaran nan menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan terbatas meluaskan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul persoalan puas kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya poin mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka potol sekolah peserta didik inferior I SD jauh lebih tahapan dibandingkan dengan kelas bawah nan lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas bawah catur 4,64%, kelas bawah lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Lega waktu yang seimbang angka kotong sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh kian tataran jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, inferior lima 3,79%, dan kelas heksa- 1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan takdirnya dilihat berpokok data di sendirisendiri propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit yojana kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini cuma sedikit peserta tuntun papan bawah satu sekolah sumber akar yang mengimak pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% alias 1.583.467 peserta didik usia 4-6 masa yang masuk taman Kanak-kanak, dan kurang berpangkal 5 % murid ajar berada plong pendidikan prasekolah bukan.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian segara murid didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia patut rendah. Tentatif itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa didik nan sudah lalu masuk taman kanak-kanak n kepunyaan kesiapan bersekolah kian baik dibandingkan dengan pesuluh didik nan tidak mengajuk pendidikan taman kanak-kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas tadinya sekolah pangkal dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan murid didik yang sudah lalu menirukan pendidikan pra-sekolah lagi bisa saja mengulang kelas bawah atau bahkan puntung sekolah.

Atas sumber akar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termasuk privat Barometer Nasional Pendidikan, maka pembelajaran terpadu sangat bermakna untuk dilaksanakan di tingkat sekolah sumber akar, semoga pembelajaran di kelas tidak monoton, menyabarkan serta bermakna bagi semangat peserta bimbing.

Gapura II PEMBAHASAN

A. Konotasi Pembelajaran Terpadu

Beberapa pengertian pecah pembelajaran terpadu nan dikemukakan oleh bilang orang ahli pembelajaran terpadu diantaranya :

1) menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga kemungkinan variasi penerimaan terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum), musim terpadu (integrated day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning). Kurikulum terpadu adalah kegiatan mengatur keterpaduan bineka materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk satu keseluruhan yang berfaedah sehingga batas antara berbagai macam bidang studi tidaklah ketat alias boleh dikatakan lain ada. Tahun terpadu berupa perancangan kegiatan murid dari sesuatu kelas lega musim tertentu untuk mempelajari atau mengamalkan berbagai rupa kegiatan sesuai dengan minat mereka. Sementara itu, pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak lega tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu perumpamaan titik pusatnya (center core / center of interest);

2) menurut Prabowo (2000 : 2), pembelajaran terpadu yakni satu proses pembelajaran dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai meres studi. Dan terserah dua signifikasi yang teristiadat dikemukakan untuk menghibur kerancuan dari pengertian pembelajaran terpadu di atas, merupakan konsep pembelajaran terpadu dan IPA terpadu.

Menurut Prabowo (2000:2), pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar nan melibatkan sejumlah bidang penggalian. Pendekatan sparing mengajar sebagai halnya ini diharapkan akan dapat memasrahkan pengalaman nan bermakna kepada momongan didik kita. Arti bermakna disini dikarenakan dalam pembelajaran terpadu diharapkan anak asuh akan memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep bukan yang sudah mereka pahami.

Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan sparing mengajar yang kecam dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik (Developmentally Appropriate Practical). Pendekatan yang berangkat dari teori pembelajaran yang memurukkan drill-system sebagai asal pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak asuh.

Langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran terpadu ialah pemilihan/ ekspansi topik atau tema. Dalam langkah awal ini guru mengajak anak didiknya buat bersama-sama memilih dan mengembangkan topik atau tema tersebut. Dengan demikian anak bimbing terkebat aktif dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan terpadu ini diharapkan akan boleh memperbaiki kualitas pendidikan dasar, terutama untuk mencegah gejala penjejalan kurikulum internal proses pembelajaran di sekolah. Dampak destruktif dari penjejalan kurikulum akan berbuntut buruk terhadap kronologi anak. Hal tersebut tampak dengan dituntutnya anak kerjakan mengamalkan berbagai tugas yang melebihi produktivitas dan kebutuhan mereka. Mereka cacat mendapat kesempatan cak bagi belajar, buat membaca dan sebagainya. Disamping itu mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran alamiah berbarengan, camar duka sensorik dari dunia mereka yang akan membentuk bawah kemampuan penataran abstrak (Prabowo, 2000:3).

B. Pendirian-prinsip Pendedahan Terpadu

Berikut ini dikemukakan pun prinsip-prinsip dalam pembelajaran terpadu yaitu meliputi : 1) prinsip penggalian tema, 2) prinsip pelaksanaan pembelajaran terpadu, 3) prinsip evaluasi dan 4) prinsip reaksi. Prinsip penggalian tema antara lain : a). Tema hendaknya lain sesak luas, namun dengan mudah dapat digunakan memadukan banyak permukaan studi, b). Tema harus bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memasrahkan pelepas bagi siswa kerjakan belajar selanjutnya c). Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak asuh. d). Tema yang dikembangkan harus berkecukupan mewadahi sebagian segara minat anak, e). Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik nan terjadi dalam rentang masa sparing, f) Tema yang dipilih agar mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, serta harapan dari masyarakat, g). Tema nan dipilih agar pula merenungkan kesiapan sendang belajar.

Prinsip pelaksanaan terpadu di antaranya : a) guru hendaknya jangan menjadi “single actor “ yang mendominasi pembicaraan privat proses membiasakan mengajar, b) pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas nan menuntut adanya kerjasarna kelompok, c) guru terbiasa akomodatif terhadap ide-ide yang sesekali selaras sekali tidak terpikirkan privat poses perencanaan.

Prinsip evaluatif adalah : a). memberi kesempatan kepada siswa buat melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya, b) guru perlu mengajak pesuluh lakukan mengevaluasi masukan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disepakati dalam kontrak. Prinsip reaksi, dampak pengiring (nuturan efek) nan berjasa bagi perilaku secara ingat belum tersentuh makanya temperatur dalam kegiatan membiasakan mengajar. Karena itu, temperatur dituntut moga mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-intensi pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap reaksi murid privat semua “event “ nan tidak diarahkan ke aspek nan sempit tetapi ke suatu kesatuan utuh dan signifikan.

Tahun pembelajaran terpadu bisa bermacam-diversifikasi yaitu : a) penerimaan terpadu nan dilaksanakan pada waktu tertentu, merupakan apabila materi yang dijalankan semupakat sekali diajarkan secara terpadu; b) Pembelajaran terpadu bertabiat sementara, minus kepastian waktu dan berperangai situasional, dimana pelaksanaannya tidak mengikuti jadwal yang teratur, pelaksanaan pembalajaran terpadu secara spontan memiliki karakteristik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulum nan isinya masih terkotak-peti beralaskan mata latihan. Kendatipun demikian guru kukuh harus merencanakan keterkaitan konseptual maupun antar kursus, dan model jaring galagasi memungkinkan dilaksanakan dengan penelaahan terpadu secara spontan (tim pengembang PGSD, 1996); c) Ada sekali lagi nan melaksanakan pembelajaran terpadu secara periodik, misalnya setiap akhir pekan, atau akhir empat wulan. Waktu-waktunya mutakadim dirancang secara pasti; d) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu sehari munjung. Sepanjang satu hari bukan cak semau penataran yang lain, nan cak semau murid belajar dengan nan diinginkan. Siswa sibuk dengan urusannya masing-masing.

Penerimaan ini dikenal dengan istilah “integrated day “ atau hari terpadu. Diawali dengan kegiatan pengelolaan kelas yang menutupi pengemasan aspek-aspek kegiatan belajar, perlengkapan-alat, media dan peralatan lainnya yang boleh menunjang terlaksananya pembelajaran terpadu. N domestik tahap perencanaan temperatur menyerahkan pimpinan kepada petatar tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, cara pelaksanaan kegiatan, dan pendirian siswa memperoleh pertolongan guru.

Implikasi dari pembelajaran terpadu, bentuk tahun terpadu, temperatur harus menentukan waktu maupun kuantitas perian cak bagi pelaksanaan kegiatan tersebut dan boleh diisi dengan kegiatan pengajian pengkajian terpadu model net gonggo; (4) Penerimaan terpadu yang terbentuk dari tema sentral.

Implementasinya menuntut dilakukannya pengerahan kegiatan yang telah terstruktur. Pengorganisasian puas awal kegiatan mencakup penentuan tema dengan mempertimbangkan perlengkapan, bahan, dan sumur nan terhidang, jenis kegiatan serta cara temperatur membantu siswa. Kerjakan pelaksanaanya guru bekerjasama dengan master inferior lainnya kerumahtanggaan menciptaan kegiatan belajar mengajar dengan memilih tema sentral transportasi dalam semangat.

C. Ciri-ciri Pembelajaran Terpadu

Hilda Karli dan Margaretha (2002:15) mengemukakan beberapa ciri pembelajaran terpadu, yaitu sebagai berikut:

  • Holistik, suatu peristiwa yang menjadi kunci perhatian internal pembelajaran terpadu dikaji berasal beberapa permukaan studi sekaligus buat memahami satu fenomena dari segala sisi.
  • Berfaedah, keterkaitan antara konsep-konsep tak akan menambah kebermaknaan konsep nan dipelajari dan diharapkan anak berpunya menerapkan pemerolehan belajarnya bagi memecahkan masalah-ki aib riil di dalam kehidupannya.
  • Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melintasi pendekatan diskoveri-inquiri. Peserta didik terlibat secara aktif kerumahtanggaan proses pendedahan yang secara tidak sekaligus dapat memotivasi anak buat belajar.

Sepikiran dengan itu, Skuat Dam PGSD (1977:7) membentangkan bahwa pembelajaran terpadu memiliki ciri-ciri berikut ini.

  1. Berfokus puas anak
  2. Memberikan camar duka sedarun sreg anak asuh
  3. Separasi antara meres studi tidak begitu jelas
  4. Memyajikan konsep berpangkal beraneka macam permukaan pengkajian internal suatu proses pembelajaran.
  5. Bersikap laur
  6. Hasil pembelajaran bisa berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan momongan.

D. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu memiliki guna dibandingkan dengan pendekatan konvensional, yaitu sebagai berikut.

  • Pengalaman dan kegiatan belajar petatar jaga akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak asuh.
  • Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta asuh.
  • Seluruh kegiatan belajar lebih bermanfaat kerjakan murid didik sehingga hasil belajar akan bisa bertahan bertambah lama.
  • Pembelajaran terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dalam-dalam dan sosial siswa jaga.
  • Pengajian pengkajian terpadu menyajikan kegiatan nan bersifat pragmatis dengan permasalahan yang sering ditemui dalam nyawa/lingkungan konkret murid asuh.

Jika pembelajaran terpadu dirancang bersama, dapat meningkatkan kerja setara antar guru bidang amatan terkait, master dengan peserta pelihara, peserta didik dengan peserta didik, pelajar bimbing/master dengan nara perigi; sehingga belajar lebih meredam emosi, membiasakan dalam peristiwa konkret, dan kerumahtanggaan konteks yang makin berarti.

Di samping terserah manfaat di atas, pembelajaran terpadu memiliki kelemahan, terutama dalam pelaksanaannya, yakni pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut temperatur kerjakan melakukan evaluasi proses, dan tidak tetapi evaluasi dampak penelaahan serentak saja. Puskur, Balitbang Diknas (ttg:9) mengenali beberapa kelemahan pembelajaran terpadu antara lain dapat ditinjau dari beberapa aspek, merupakan umpama berikut.

1. Aspek Temperatur

Suhu harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa beriktikad diri yang tinggi dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi mantra mualamat yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak mendaras daya agar penyerobotan bahan jaga lain terfokus lega bidang analisis tertentu saja.

2. Aspek Siswa Didik

Penelaahan terpadu memerlukan korban bacaan alias sumur informasi nan cukup banyak dan beragam, siapa sekali lagi kemudahan internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah ekspansi wawasan. Bila kendaraan ini lain dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan terlambat.

3. Aspek Kurikulum

Kurikulum harus lentur, berorientasi lega pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (tak pada pencapaian bahan penguraian materi). Guru perlu diberi wewenang intern mengembangkan materi, metode, penilaian kejayaan pengajian pengkajian petatar pelihara.

4. Aspek Penilaian

Penelaahan terpadu memerlukan cara penilaian yang mondial (komprehensif), merupakan menetapkan kesuksesan belajar peserta asuh dari beberapa rataan kajian terkait nan dipadukan.

5. Aspek Suasana Pembelajaran

Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan salah satu bidang kajian dan ‘terendam’nya satah kajian enggak. Dengan kata bukan, pada saat mengerjakan sebuah tema, maka guru berkecenderungan mengistimewakan alias mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan kesadaran, selera, dan latar belakang pendidikan suhu itu koteng.

E. Pentingnya Pembelajaran Terpadu Diterapkan Di Tingkat Sekolah Dasar

Piaget mengemukakan bahwa urut-urutan intelektual anak meliputi jenjang: (a) sensori-dedengkot, (b) pra operasional, (c) operasional konkrit, dan (d) operasional jamak. Anak-anak usia dini (2-8 th) berada plong hierarki pra operasional dan operasional konkrit, sehingga kalau kita merujuk plong teori ini, kerumahtanggaan praktik pembelajaran di kelas mudahmudahan guru membidas ciri-ciri perkembangan anak puas tahapan ini. Secara eksklusif pula para ahli psikologi pendidikan anak mengemukakan bahwa perkembangan momongan hidup prematur bersifat holistik; kronologi momongan bersifat terpadu, di mana aspek perkembangan yang satu terkait dempet dan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Perkembangan fisik tidak bisa dipisahkan dari urut-urutan mental, sosial, dan emosional ataupun sebaliknya, dan perkembangan itu akan terpadu dengan camar duka, kehidupan, dan lingkungannya.

Merujuk puas teori-teori belajar, di antaranya teori Piaget, maka n domestik pembelajaran di tangga SD kelas kurang hendaknya kita menggunakan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak (DAP atau Developmentally Appropiate Practice). Pemanfaatan pendekatan DAP ini mengacu pada bilang asas yang harus diperhatikan maka itu guru, yaitu:

  • asas kedekatan, penerimaan dimulai dari yang dekat dan dapat dijangkau maka dari itu anak asuh,
  • asas riil, pembelajaran seyogiannya menapak pada hal-kejadian yang berupa (konkrit) memusat puas konseptual (ideal),
  • asas holistik dan integratif, pembelajaran agar tidak memilah-milah topik pelajaran, master harus memikirkan segala sesuatu nan akan dipelajari anak sebagai suatu wahdah yang utuh dan terpadu,
  • asas kebermaknaan, pembelajaran hendaknya mumbung makna dengan menciptakan banyak proses manipulatif berbarengan bermain.

Sempurna penelaahan terpadu tak hanya cocok untuk siswa pelihara nyawa dini, namun dapat juga digunakan untuk peserta pelihara pada satuan pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, karena lega hakikatnya teladan pembelajaran ini adalah suatu pendekatan pengajian pengkajian yang memungkinkan peserta pelihara baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta mandu secara holistik dan otentik (Depdikbud: 1996:3).

Bilang alasan pembelajaran terpadu cocok digunakan di tingkat SD bak berikut.

Pendidikan di SD harus memperhatikan perkembangan intelektual momongan. Sesuai dengan taraf perkembangannya, anak asuh SD menyibuk dunia sekitarnya secara menyeluruh, mereka belum dapat memisahkan diri-misahkan bahan kajian yang satu dengan yang lain.

Di samping mencerca perkembangan cendekiawan anak, guru juga haru mengurangi dampak dari fenomena ini di antaranya anak tidak mampu mengintai dan memecahkan ki kesulitan mulai sejak berbagai sisi, karena ia teradat berfikir secara fragmentasi, anak dikhawatirkan lain n kepunyaan cakrawala pandang yang luas dan integratif. Cakrawala pandang yang luas diperlukan internal memecahkan permasalahan nan akan mereka hadapi akan datang di masyarakat. Bintang sartan adalah bekal nasib yang sehat dalam memandang manusia secara utuh.

Integrated atau terpadu dapat mengacu pada integrated curricula (kurikulum terpadu) ataupun integrated approach (pendekatan terpadu) atau integrated learning (pengajian pengkajian). Pada pelaksanaannya istilah kurikulum terpadu alias pembelajaran terpadu atau pendekatan terpadu dapat dipertukarkan, seperti dikatakan makanya ahli pendidikan dan hawa besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Perkumpulan Sebelas Maret (UNS) Solo Prof. Dr. Sri Anitah Wiryawan, M.Pd.(Perasaan Rakyat, 11 April 2003) “kurikulum terpadu adalah suatu pendekatan untuk mengorganisasikan kurikulum dengan pendirian menyetip garis batas alat penglihatan pelajaran nan terpisah-sisih, sedangkan pembelajaran terpadu merupakan metode aktivasi penelaahan yang menggunakan bilang bidang alat penglihatan pelajaran yang sesuai. Istilah kurikulum terpadu dengan penataran terpadu privat penggunaannya dapat saling dipertukarkan.

Pendedahan terpadu adalah suatu petisi salah satu startegi pembelajaran berlandaskan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan kerjakan menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan signifikan cak bagi anak (Atkinson, 1989:9 dalam Ahmad). Selanjutnya dijelaskan bahwa internal penelaahan terpadu didasarkan pada pendekatan inquiry, yaitu mengikutsertakan siswa mulai dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brain storming pecah petatar. Dengan pendekatan terpadu siswa didorong untuk kesatria bekerja secara kelompok dan sparing terbit hasil pengalamannya koteng. Collins dan Dixon (1991:6 privat Ahmad) menyatakan tentang penerimaan terpadu sebagai berikut: integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya momongan boleh diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa berlatih proses dan isi (materi) makin dari satu bidang studi pada masa nan sama.

Pendedahan terpadu sangat memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses penelaahan baik tubuh alias emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari, mengebor, dan menemukan konsep serta kaidah keilmuan yang holistik, bermakna, dan otentik sehingga siswa bisa menerapkan perolehan belajar untuk memintasi masalah-kebobrokan yang nyata di intern semangat sehari-periode. Hal ini sesuai dengan program DAP yang dikemukakan Bredekamp (1992:7) dalam Ahmad, pada proses penerimaan hendaknya meluangkan berbagai aktivitas dan bahan-incaran yang kaya serta menawarkan seleksian untuk siswa sehingga murid dapat memilihnya bakal kegiatan gerombolan kecil alias mandiri dan memberikan kesempatan bagi peserta untuk berinisiatif sendiri, melakukan keterampilan atas prakarsa sendiri umpama aktivitas yang dipilihnya. Pendedahan terpadu kembali menekankan integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan keadaan yang otentik. Pelaksanaan pembelajaran terpadu lega dasarnya agar kurikulum itu bermanfaat bagi anak. Peristiwa ini dimaksudkan mudahmudahan bahan ajar bukan digunakan secara terpisah-hindar, hanya yakni suatu kesatuan bahan yang utuh dan pendirian berlatih yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta.

A. Kesimpulan

Penataran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : berpusat sreg anak (student centered), proses penelaahan mengutamakan hidayah pengalaman langsung, serta pemecahan antar bidang eksplorasi tidak terpandang jelas. Disamping itu pembelajaran terpadu menyuguhkan konsep bersumber heterogen bidang studi dalam satu proses pengajian pengkajian. Kecuali mempunyai resan laur, pendedahan terpadu juga menyerahkan hasil yang bisa berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan momongan.

Keseleo satu keterbatasan yang menonjol bersumber penerimaan terpadu ialah pada faktor evaluasi. Pembelajaran terpadu menuntut diadakannya evaluasi enggak doang plong produk, belaka juga pada proses. Evaluasi pendedahan terpadu tidak tetapi mendatangi pada dampak instruksional berpokok proses pendedahan, doang juga pada proses dampak pengarak pecah proses penataran tersebut. Dengan demikian penelaahan terpadu menuntut adanya teknik evaluasi yang banyak ragamnya.

DAFTAR PUSTAKA

  • Indrawati. 2009. Model Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Peluasan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Permakluman Alam (PPPPTK IPA).
  • http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/signifikasi-pembelajaran-terpadu.html
  • http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/20/model-penelaahan-tematik-penelaahan-terpadu-satah-belakang-mengapa-disarankan-untuk-digunakan-di-sd-dan-mi/
  • http://rbaryans.wordpress.com/2007/04/19/mengapa-memilih-penerimaan-terpadu/
  • http://www.p4tkipa.org/data/pembelajaranterpadu.pdf
  • http://xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/prinsip-prinsip-penelaahan-terpadu/
  • Tim Pengembang PGSD. 1996. Pendedahan Terpadu D-II PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
  • http://meilanikasim.wordpress.com/2011/04/20/makalah-pembelajaran-terpadu/
Jika Anda Tertarik buat mengcopy Makalah ini, maka secara steril saya mengijinkannya, tapi saya bertarget sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Referat
Makalah Pembelajaran Terpadu, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Polah Referat. dan Jikalau Anda Ingin Berbagi Makalah Beliau ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :[email protected]

Source: https://www.anekamakalah.com/2012/09/makalah-pembelajaran-terpadu.html

Posted by: and-make.com