Aspek Yang Diperhatikan Dalam Pembelajaran Agama Katolik Di Sekolah Dasar

Kata strategi (strategy) berasal dari substantif dan perkenalan awal kerja dalam bahasa

Yunani. Sebagai kata benda, strategos, yakni kawin kata “stratos”

(militer) dengan “ago” (memelopori). Seumpama perkenalan awal kerja, stratego berarti

merencanakan (to plan) (Sudjana, 2005: 5). Pembukaan garis haluan pertama kali dipakai

dalam dunia militer. Strategi dalam militer diartikan sebagai seni lakukan menciptaan operasi peperangan yang erat kaitannya dengan kampanye angkatan dalam posisi perang yang dipandang paling menguntungkan internal memperoleh kesuksesan (Hornby privat Ngalimun & Banjarmasin, 2014: 1).

Kerumahtanggaan KBBI (2008), strategi adalah rencana yang cermat adapun kegiatan buat menyentuh sasaran tunggal. Strategi merujuk pada sebuah perencanaan demi mencapai suatu hal. Dengan demikian, istilah strategi itu sendiri adalah sebuah kegiatan yang dirancang sedemikian rupa dengan maksud bakal mencapai suatu intensi.

Seiring berjalannya tahun penggunaan kata strategi menginjak digunakan privat majemuk bidang nyawa. Pelecok suatu bidang nan menggunakan istilah strategi ialah bidang pendidikan (khususnya intern pembelajaran). Pendayagunaan garis haluan

dalam pembelajaran berbeda dengan strategi dalam militer sedemikian itu kembali intensi nan ingin dicapai.

Menurut Erwin Widiasworo (2018: 16) pengajian pengkajian yakni proses interaksi antara peserta pelihara dengan pendidik dan sumber belajar pada sebuah lingkungan berlatih. Abdul Majid (2013: 6) mengatakan pembelajaran penting sebuah upaya pendidik bakal membantu para siswa didik intern mengerjakan kegiatan membiasakan. Padahal Chotimah & Fathurrohman (2018: 40) pendedahan yaitu sambung tangan yang diberikan pendidik agar boleh terjadi proses perolehan hobatan dan pemberitahuan, penguasaan, kemahiran, dan tabiat serta pembentukan sikap dan kepercayaan.

Beralaskan pemahaman di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antara hawa dengan siswa didik dan mata air membiasakan kerumahtanggaan sebuah lingkungan belajar dengan intensi membantu peserta jaga cak bagi memperoleh hobatan pengetahuan, penguasaan, kemahiran dan tabiat serta pembentukan sikap dan ajudan diri. Jadi, garis haluan kerumahtanggaan pembelajaran dimaksudkan di sini yakni untuk mencapai intensi intruksional nan telah ditetapkan yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Sebab, tujuan pembelajaran itu sendiri ialah kemampuan yang akan dicapai oleh peserta tuntun.

Adanya strategi penelaahan membantu peserta tuntun untuk mengaras intensi penataran dengan seefektif mungkin. Winkel (2014: 317) mengatakan intern strategi pembelajaran mencangkup pendayagunaan alat angkut, pengelompokkan peserta didik, dan materi penataran. Sementara itu Chotimah & Fathurrohman (2018: 45) mengekspos bahwa dalam kebijakan penataran berarti

mengembangkan berbagai onderdil berfaedah seperti peserta didik, guru, maksud, materi, metode, alat angkut serta penilaian atau evaluasi penerimaan. Dengan demikian, secara garis besar garis haluan pendedahan menghampari pendekatan, model, materi, media, dan penilaian.

Sedangkan varietas strategi penataran yang bisa digunakan di kelas bawah diantaranya adalah strategi pembelajaran langsung, bukan sinkron, interaktif, pengalaman, individual, kelompok, dan sebagainya. Pendayagunaan diversifikasi garis haluan pembelajaran tergantung berasal tren sparing suhu. Garis haluan pendedahan yang sesuai akan menciptakan proses belajar mengajar secara sistematis, terarah, lancar, dan efektif (Anissatul Mufarrokah, 2009: 2). Untuk itu, pemilihan strategi pembelajaran teristiadat diperhatikan secara seksama sebab tidak semua strategi pembelajaran dapat berdampak terhadap pencapaian tujuan penataran. Jamil Suprihatiningrum (2016: 152), mengatakan hal yang harus diperhatikan dalam kebijakan pembelajaran ialah mempunyai tujuan, perencanaan, tindakan, serangkaian prosedur, materi, dan langkah-langkah yang sesuai.

2. Ekspansi Strategi Pengajian pengkajian Pendidikan Agama Katolik

Penerimaan terjadi dikarenakan adanya tujuan yang cak hendak dicapai nan mengacu pada pemahaman atau pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Ketiga aspek tersebut akan komprehensif bila politik penerimaan dikembangkan dengan baik, tertuju dan terorganisir. Terutama aktivasi isi, penyajian isi, dan pengelolaan isi penerimaan (tersurat seluruh komponen yang ada di dalamanya).

Menurut Muhammad Yaumi (2014: 242), peluasan strategi pengajian pengkajian plong dasarnya mengembangkan tiga komponen yaitu aktivitas

pembelajaran, metode, dan kendaraan pembelajaran. Peluasan strategi pembelajaran bukanlah hal mudah. Ada begitu banyak hal yang teradat dipertimbangkan sebagai barometer untuk memaksimalkan pembelajaran. Abdul Majid (2013: 108) mengatakan pengembangan garis haluan pendedahan terbiasa memuat kriteria berupa kesesuaian strategi pembelajaran dengan harapan atau kompetensi, jenis pengetahuan yang akan disampaikan, sasaran (kemampuan semula, karakteristik peserta didik baik stasus sosial dan kepribadian), biaya, kemampuan strategi penelaahan (kelompok maupun cucu adam dan faedah atau kelemahan) serta hari.

Oleh sebab itu, sebagai analisis dasar kerjakan mengembangkan strategi pembelajaran wajib mengacu pada dua hal pokok. Dua hal pokok itu adalah analisis intensi penerimaan dan analisis keadaan awal peserta tuntun. Melangkahi analisis pamrih dan kejadian tadinya inilah nan menjadi peta cak bagi mengembangkan strategi pembelajaran.

a. Amatan Tujuan Pengajian pengkajian Pendidikan Agama Katolik

Tujuan penerimaan merupakan aspek fundamental yang harus diperhatikan maka dari itu guru. Maslahat dari tujuan itu koteng adalah sesuatu yang ingin dicapai atau diharapkan. Maka, harapan haruslah eksplisit dan tidak khayali. Wina Sanjaya (2006: 62) mengatakan formulasi intensi yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan pengajian pengkajian, andai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa bimbing, membantu dalam mendesain sistem pembelajaran, serta ibarat kekuasaan dalam menentukan batas-perenggan dan kualitas pembelajaran.

PAK di sekolah sebagai salah satu ain pelajaran terdepan bagi peserta jaga pula mempunyai intensi. Akan doang, harapan Kelongsong di sekolah berbeda dengan intensi mata pelajaran lainnya. Di sini bukan merumuskan kembali harapan Selongsong di sekolah melainkan mencoba menganalisis secara garis besarnya yang menjadi kekhasan pembelajaran Buntelan di sekolah itu koteng.

Pada bab III telah dibahas mengenai PAK di sekolah. Di mana Kelongsong di sekolah pada dasarnya adalah mendidik pelajar didik privat iman moga bertahap imannya semakin berkembang. Kendatipun, perkembangan iman peserta tuntun tidak akan ikatan tercapai secara sempurna, pendidikan iman taat terus dilakukan tanpa henti supaya siswa ajar terus mengalami perkembangan hidup berimannya.

Iman adalah anugerah dan anugerah terbit Allah. Iman adalah tanggapan pribadi peserta jaga kepada Sang pencipta.

Capaian tujuan urut-urutan iman petatar bimbing ialah kedewasaan dan kesempurnaan iman secara penuh akan makna kehidupan secara Kristiani menurut Yesus Kristus. Kematangan dan keutuhan iman berarti atma beralaskan pendirian hidup Kristiani seturut dengan tanzil Yesus. Sehingga, segala sesuatu yang dilakukan di marcapada bukan permulaan-tama untuk dirinya melainkan kepada kehendak dan demi kemulian Tritunggal Maha Kudus.

Paket di sekolah bukan sekedar memperoleh kognisi iman dan sikap tapi apalagi buat memperoleh kredit dan menemukan kebenaran (A. Sewaka SJ, 1991: 24). Penelaahan PAK di sekolah tidak melulu mengajarkan arti iman (meskipun itu berfaedah dan bermanfaat) tetapi terlebih mempersiapkan peserta asuh untuk menemukan makna dan mandu hayat nan ditawarkan oleh Allah. Untuk itu,

PAK di sekolah wajib mengupayakan pendidikan yang berjiwa Injili, mengembangkan pribadi pelajar bimbing secara utuh, dan mempersiapkan peserta bimbing lakukan menjadi fermen dan andil privat masyarakat (Paul Suparno, 2017: 48). C.

Kuntoro Adi, SJ (2017: 34) mengatakan:

Tujuan PAK berupaya memperkembangkan harmonis manusia (bodi, kesopansantunan, dan cendekiawan) tersurat pendidikan genital yang berupa dan bijaksana, pengajaran kemustajaban mempunyai informasi dan skill buat kemujaraban bersama, dan ki dorongan untuk meningkatkan skor-nilai moral dengan suara minor lever nan benar dan cak bagi menjalankannya secara pribadi di dasarkan iman kepada Sang pencipta.

Singkatnya, pembelajaran Kemasan di sekolah diselenggarakan cak bagi mendidik peserta asuh menjadi orang paripurna. Menjadi individu paripurna berarti segala pikiran, hati, dan tindakan seturut kehendak Allah. Situasi itu dapat ditinjau dari perubahan hidup (pemahaman atau pengetahuan, sikap dan tindakan bersandar iman) dan perubahan batin privat tindakan setiap hari. Kalau iman tidak diungkapkan internal karya, iman itu mati dan tidak dapat menghasilkan buah bagi kehidupan abadi (PUK, art.122). Seperti mana St. Yakobus mengatakan bahwa “iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah sunyi” (Yak 2:17). Sebab, tindakan riil akan bertambah berbuah berpokok pada sekedar kognisi dan pengenalan-kata, pemikiran ataupun ucapan.

Tujuan Bungkusan sekolah jika dilihat berusul perspektif kecerdasan majemuk, menurut Howard Gardner merupakan eksistensial (sebagaimana telah dibahas pada bab II). Kepintaran eksistensial adalah kapasitas hidup bani adam yang berusul semenjak dalam bagi menyadari keberadaannya di dunia. Wilson (dalam Yaumi & Ibrahim, 2013: 201) mengatakan eksitensial peluang terejewantahkan kerumahtanggaan pribadi seseorang nan berada n domestik suatu keprihatinan dengan mengajukan pertanyaan-soal fundamental adapun keikhlasan maupun kerumitan sebuah kedatangan diri.

Eksistensi merupakan kemampuan kerjakan mempersoalkan atau mempersalahkan makna hidup dalam konteks yang lebih luas, bakir, dan kerumahtanggaan akan keberadaan dirinya saat ini. Eksistensi memerosokkan peserta didik untuk memahami proses-proses dalam konteks nan samudra, luas, dan dalam yang mencangkup aspek-aspek estetika, filosofi, dan agama yang menekankan plong angka-poin kegagahan klasik, kebenaran, dan kurnia (Yaumi & Ibrahim, 2013: 23).

Misalnya, cak kenapa aku ada? Kerjakan apa aku hidup? Segala apa guna dan maksud hidupku?

Mengapa ada mortalitas? dan sebagainya.

Selain kecerdasan eksistensial dalam Gardner, pasangan junjungan-istri yakni Danah Zohar dan Ian Marshall memperkenalkan kecerdasan spiritual. Intelek spiritual dipandang misal puncak kecerdasan IQ dan EQ. Spiritual berpokok terbit
bahasa latin yaitu spiritus nan berarti nafas (Yaumi & Ibrahim, 2013: 22). Spiritual

berarti berhubungan dengan jiwa atau roh. Kecerdasan spiritual yaitu kesadaran n domestik diri kita yang menciptakan menjadikan kita menemukan dan mengembangkan darah-talenta, intuisi, dominasi batin, kemampuan membedakan mana yang benar dan salah serta bijaksana (Monty P. Setiadharma & Fidelis E. Warumu, 2003: 42). Bintang sartan, Kecerdasan spiritual ialah kemampuan seseorang kerumahtanggaan memaknai spirit, memberikan kemerdekaan intern memilih dan menentukan sesuatu menerobos suara hati.

Dengan demikian, tujuan pendedahan PAK sekolah plong praktisnya ialah menjadikan murid didik andai manusia utuh alias paripurna. Petatar didik berkecukupan menemukan dan melebarkan kehidupan yang lebih luas, subur, bermakna dan bernilai.

b. Kajian Keadaan Awal Peserta Didik dalam Pendidikan Agama Katolik

Setiap manusia yang lahir di dunia memiliki kekhasan atau karakteristik internal dirinya (tidak terkecuali bagi pesuluh jaga). Dalam penelaahan kekhasan ataupun karakteristik inilah yang disebut dengan keadaan semula. Winkel (2014: 154) mengatakan peristiwa awal merupakan keseluruhan proklamasi khuluk, sosial, institusional dan situasional yang, privat kaitannya dengan maksud intruksional, boleh berpengaruh (potensial) maupun nyata-nyata berwibawa (aktual) terhadap perturutan proses pembelajaran di kelas bawah. Contohnya kondisi fisik, pesiaran, kecendekiaan, pembawaan, sikap, moral, kredit, latar belakang vitalitas sosial-ekonomi, politik dan sebagainya. Sedangkan kerumahtanggaan proses pembelajaran sebagaimana perbedaan gaya belajar, minat belajar, tembung belajar, vitalitas, kelajuan, keaktifan, daya tangkap, mental atau psikis, dan bukan-lain.

Privat teori kecerdasan majemuk, keadaan awal di sini berupa kecerdasan (inteligensi). Gardner (dalam Paul Suparno, 2004: 17) mengatakan “kecerdasan merupakan kemampuan untuk mengamankan masalah serta menghasilkan produk
kerumahtanggaan setting nan beranekaragam dan kompleks”. Dikutip dalam Hamzah B. Uno

dan Masri Kudrat Umar (2009: 42), Gardner mengatakan kecerdasan ialah kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi intern spirit seseorang, menghasilkan persoalan yunior buat diselesaikan, dan kemampuan menciptakan sesuatu atau memberikan penghargaan n domestik budaya seseorang.

Yaumi & Ibrahim (2013: 11) menelanjangi intelek adalah kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, kapasitas butir-butir dan kemampuan untuk memperolehnya, kapasitas untuk memberikan alasan dan

berpikir abstrak, kemampuan mencerna hubungan, mengevaluasi dan menilai, serta daya produksi bikin menghasilkan pikiran-pikiran berlambak dan original. Jadi kecerdasan sreg dasarnya adalah kemampuan dalam memecahkan persoalan yang obsesi dengan seluruh daya kemampuan dirinya.

Kejadian ini bermanfaat, adanya peristiwa sediakala menkategorisasikan peserta bimbing ke dalam jenis intelek yang sama. Misalnya kecerdasan verbal-linguistik dikategorisasikan menjadi satu, atau kecerdasan matematis-logis alias kepintaran kinestetik-badani, dan sebagainya. Dalam menkategorisasikan pesuluh didik ke internal jenis kecerdasan nan sama, tambahan pula dahulu harus mengetahui jenis kecerdikan peserta ajar. Paul Suparno (2004: 79-86) menuliskan bilang prinsip untuk memaklumi macam kecendekiaan peserta didik, yaitu:

1) Konfirmasi atau Jajak pendapat

Tes dilakukan dengan cara menyerahkan soal latihan atau praktek nan berkaitan dengan jenis kecerdasan. Sedangkan survei dilakukan dengan pendirian membuat pilihan karakteristik berbunga masing-masing kecerdasan, dan murid bimbing dituntut bikin memilih babak mana yang sesuai dengan varietas kecerdikan yang dimiliki. Hasil tes ataupun survei bisa dilihat dari skor nan telah diperoleh oleh peserta jaga.

2) Observasi Kegiatan Peserta Didik

Kegiatan observasi dapat dilakukan di dalam kelas ataupun di luar kelas.

Observasi di internal kelas bermaksud untuk mendeteksi sewaktu kecerdasan peserta bimbing. Misalnya, saat mengamalkan soal atau tugas bertambah memilih kerja kelompok atau sendiri, bertambah demen batik maupun menggambar, visual alias audio, dan

sebagainya. Padahal di luar kelas bawah dengan melihat aktivitas apa namun nan dilakukan maka itu peserta didik. Seperti, apakah dolan olahraga, berkumpul, meronggeng, berkicau, berperan nada dan sebagainya.

3) Analisis Piagam Murid Jaga

Ada sejumlah dokumen yang boleh mengidentifikasi intelek peserta didik. Pertama, manuskrip performa dalam bidang akademik, misalnya hasil kejuaraan lomba ilmu hitung, sastra, seni, sains, dan sebagainya. Kedua, penampakan dalam parasan non akademik, misalnya internal parasan olahraga seperti kejuaraan renang, bulu tangkis, dance, sepakan bola, dan lain-lain. Ketiga, hasil nilai raport setiap mata pelajaran nan diikuti. Skor raport peserta didik bisa dilihat dengan prinsip indra penglihatan tutorial apa yang memiliki kredit tertinggi.

Selain prinsip di atas, dapat juga dilakukan dengan melakukan wawancara maupun dialog langsung. Tujuannya untuk menanyakan secara langsung perihal kecerdasan yang dimiliki. Lewat wawancara kurang lebih memiliki paparan spesifik akan kepintaran yang dimiliki oleh pelajar didik.

Melakukan sebuah analisis kecerdasan peserta jaga bukanlah perkara mudah. Semakin banyak petatar didik semakin beraneka rupa pula jenis kecendekiaan yang ada. Suhu tak akan sanggup seandainya mengajar peserta ajar dengan intelek yang berbagai ragam. Di sisi lain, akan kian mudah jika jumlah peserta didik terbatas alias kelasnya kecil. Buat itu, salah satu jalan alternatif menganalisis kecerdasan murid jaga intern besaran segara (kelas bawah ki akbar) ialah melihat kecerdasan dominan (privilese) yang dimiliki oleh seluruh pesuluh didik.

Teladan: diasumsikan master melakukan amatan keadaan awal siswa didik.

Di n domestik suatu kelas terwalak 20 pesuluh didik. Untuk mengerti jenis kepintaran pesuluh pelihara master melakukan survei kecerdasan. Suka-suka pun bentuk surveinya, ibarat berikut:

Tabulasi 1. Pol Kepintaran

No Kecerdasan

Karakteristik Kecerdasan

1 Verbal-linguistik … Senang belajar bahasa

… Demen menulis dan mendaras peruasan … Memiliki glosari yang baik

2 Matematis-logis … Senang belajar ilmu hitung

… Subur menghitung dengan cepat dan benar … Berpikir secara logika

3 Ulas-okuler … Senang batik atau melukis yang cak semau disekitar … Saya mewah membaca peta, grafik, dan grafik … Saya subur menggetah pelajaran tinggal bentuk 4

Kinestetik-badani

… Berprestasi dalam satu maupun lebih bidang olahraga … Senang dan suka menari dari beraneka ragam propaganda … Merumuskan diri secara dramatik

5

Musikal … Memiliki suara yang sani dan gurih di tangkap suara … Mampu memainkan berbagai alat irama … Berharta membaca dan menghafal tataran nada 6

Interpersonal … Doyan bersosialisasi dengan teman

… Memiliki rasa empati atau peduli terhadap makhluk lain … Banyak terkebat aktif di mana pun berada

7

Intrapersonal … Memiliki keinginan yang awet dan berketentuan diri … Mampu mengeset diri sendiri minus makhluk lain … Senang membiasakan sendiri dari pada bersama teman 8

Naturalistik-lingkungan

… Gemar berpetualang di alam bebas

… Senang membudidayakan fauna dan tumbuh-tumbuhan … Bakir mengenal ciri-ciri hewan atau tanaman 9

Eksistensial-spiritual

… saya senang meminta akan intensi hidup

… Senang bertanya tentang diri dan kehadiran saya … Suka mendiskusikan tentang hakikat segala sesuatu Setelah mencecerkan pol kecendekiaan di atas, ditemukan macam kecerdasan dari 20 siswa didik tersebut. Berikut teoretis hasil survei kecerdasan:

Grafik 2. Model Hasil Survei Kecerdasan

No Peserta didik

Keberagaman Kepintaran

1 A Verbal-linguistik, musikal, kinestetik badani 2 B Matematis-makul, musikal dan intrapersonal 3 C Ira-visual dan verbal-linguistik

4 D Ruang-visual dan interpersonal 5 E Musikal dan oral-ilmu bahasa

6 F Interpersonal, verbal-linguistik, dan kinestetik-badani 7 G Oral-linguistik, eksistensial, dan musikal

8 H Naturalistik dan interpersonal

9 I Eksistensial, verbal-linguistik, dan interpersonal 10 J Musikal dan intrapersonal

11 K Verbal-linguistik, ruang-visual, dan naturalistik 12 L Eksistensial, interpersona, dan musikal

13 M Ruang-visual dan matematis-logis

14 N Interpersonal, kinestetik-badani, dan verbal-ilmu bahasa 15 O Ruang-visual dan intrapersonal

16 P Verbal-linguistik dan intrapersonal

17 Q Naturalistik, interpersonal, dan matematis-membumi 18 R Pangsa-visual dan interpersonal

19 S Musikal, ruang-visual dan naturalistik 20 T Eksistensial dan oral-ilmu bahasa

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa dempet semua peserta ajar mempunyai bertambah dari satu jenis kepintaran. Maka, banyaknya jenis kepintaran yang ada kiranya bertambah mudah master mengategorikan peserta didik dalam keberagaman kecerdasan yang sebagaimana tujuan mengintai jenis intelek dominan, yaitu:

Tabel 3. Pengelompokkan Kecerdasan

No. Jenis Kecendekiaan Peserta Asuh

Jumlah

1 Verbal-linguistik A, C, E, F, G, I, K, Ufuk, P, dan Tepi langit 10 turunan

Pengelompokkan jenis kecerdasan di atas ditemukanlah empat jenis kepintaran dominan (hak istimewa) yaitu kecerdasan verbal-linguistik, ruang-optis, musikal, dan interpersonal. Inilah yang dimaksud dengan kejadian semula dan sekaligus menjadi titik pangkal pengembangan politik pembelajaran selanjutnya.

Berdasarkan analisis tujuan Kelongsong sekolah dan transendental keadaan tadinya siswa ajar di atas, selanjutnya mengembangkan garis haluan pembelajaran yang meliputi pemilihan pendekatan, model, materi, media, dan penilaian. Berikut diuraikan secara pendek tentang aspek-aspek tersebut.

1) Pemilahan Pendekatan Penelaahan internal Pendidikan Agama Katolik

Pendekatan yakni pendirian pandang hawa PAK dalam melaksanakan sebuah proses pembelajaran di kelas bawah. Setiap pendekatan memiliki ciri khasnya sendiri, cuma tujuan yang dicapai tetap sama yakni keberimanan. Mengenai bentuk pendekatan PAK di sekolah menurut Komkat KWI (2017: 11-15), nan purwa merupakan pendekatan keilmuan. Pendekatan saintifik yakni pendekatan pembelajaran yang dirancang pada kurikulum 2013.

Pendekatan ini menempatkan aktivitas penataran dengan cara saintifik alias ilmiah. Artinya pelajar didik dituntut secara aktif mengontruksi konsep, syariat, alias prinsip secara ilmiah yakni dengan cara mengupas, merumuskan penyakit, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data dan mengkomunikasikan hasil pengamatan yang disingkat dengan 5M (mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan).

Kedua, pendekatan kateketis. Sanggar kerja Malino menamakan bahwa maksud Cangkang ialah seyogiannya peserta asuh bernas mengambil keputusan yang

bertanggungjawab berdasar rukyat Kristiani terhadap pergumulan hidupnya (pola PAKK, 1981: 7). Berkembangnya iman peserta jaga ialah hasil keputusan dan kehendak bebasnya bukan hasil paksaan orang enggak. Hasil pemikiran lokakarya Malino ini punya konsep sama dengan pendekatan kateketis.

Pendekatan kateketis ialah warta nan menyentuh pengalaman nyawa nan berputra sebuah keputusan bersandar kehendak bebasnya dan terdorong bakal mengamalkan. Amanat tidak akan melebarkan diri murid bimbing melainkan pengambilan keputusan terhadap pengetahuan itu. Dengan demikian, pemikiran lokakarya Malino dan pendekatan kateketis tekanannya bukan puas pengetahuan atau kesadaran melainkan pengutipan keputusan secara personal.

Ketiga, pendekatan reflektif. Pendekatan reflektif adalah satu satu pendekatan nan dapat membantu murid didik bagi menyadari dan menemukan segala apa sesuatu tentang dirinya. Privat ilmu pendidikan ignasian, refleksi menjadi anasir fundamental internal pendidikan alias pembelajaran. Berkat refleksi, peserta ajar dibantu lakukan memilih dan mengukur berbagai ragam asam garam vitalitas (langsung atau tidak simultan) kurnia menemukan dirinya nan sesungguhnya dan mengambil keputusan serta berperan sesuai dengan keputusan itu. Kaprikornus, refleksi akan memberikan isi iman n domestik proses penelaahan yakni mencari dan menemukan kehendak Allah dan demi kemuliaan Allah.

Jikalau ditinjau kedua pendekatan yaitu kateketis dan refleksi secara substansi sejajar. Keduanya diawali dengan menggumuli pengalaman hidup. Pengambilan keputusan lewat refleksi dan manuver menjadi bawah inti proses penerimaan. Meskipun dalam pendekatan reflektif konteks dan evaluasi secara terperinci dimunculkan

dalam langkah pembelajaran akan tetapi kerumahtanggaan pendekatan kateketis konteks dan evaluasi diandaikan ada dengan sendirinya.

Keempat, pendekatan naratif-eksperiensial. Tiga tokoh yakni Tom Jacobs, SJ, B. Kieser, SJ, dan J.B. Banawiratma, SJ puas gagasan mereka nan tertuang dalam “Silabus Pendidikan Iman Katolik melalui Pelajaran Agama pada Tingkat Pendidikan Dasar 9 Hari” mengatakan bahwa PAK di sekolah ialah salah satu bentuk komunikasi iman atau interaksi iman (Tali kendali Jacobs, dkk, 1992: 9).

Komunikasi iman berarti ganti-menggilir pengalaman (sharing camar duka) hidup baik antar peserta jaga alias murid didik dengan suhu.

Melalui komunikasi iman, iman peserta didik semakin berkembang, diperluas dan diperkaya. Internal sebuah komunikasi iman diperlukan sebuah sarana.

Salah satunya yakni bahan. Bahan bukanlah pamrih tapi alat angkut. Bahan harus menjadi partner dialog yang bersaksi bukan korban sirep (Tom Jacobs, dkk, 1992: 10). Cak bagi itu, agar bahan menjadi partner dialog yang kehidupan, menarik dan enggak menguati diperlukan bahan dan terjamah dalam bentuk cerita. Maka, muncul-lah pendekatan naratif-ekperiensial di mana target diceritakan (naratif) sebagai partner yang bersaksi adapun pengalaman serta penghayatan iman peserta bimbing (eksperiensi).

Seluruh pendekatan Cangkang yang sudah lalu dipaparkan di atas menonjolkan bahwa subyek belajar ialah peserta didik. Internal perspektif pendidikan, pendekatan yang
demikian dikenal sebagai pendekatan yang berfokus kepada peserta pelihara (student

centred learning). Pesuluh didik lebih banyak main-main besar cak bagi mencari dan

menemukan ilmu pengetahuan (termasuk tentang dirinya dan makna kehidupan

yang dikehendaki oleh Allah). Semuanya itu tak maaf dari proses pergumulan pengalaman, refleksi dan aksi. Padahal, master berperan sebagai fasilitator.

Dalam konteks kecerdikan majemuk, pendekatan pengajian pengkajian berbasis kecerdasan peserta tuntun menjadi tutul tolak untuk mencapai pamrih Buntelan. Dengan demikian, secara mal pendekatan saintifik, kateketis, reflektif, dan naratif-eksperiensial adalah pendekatan pembelajaran nan berpusat lega murid didik.

Kalau, dilihat berpunca kecerdasan majemuk pendekatan berfokus kepada peserta didik berarti recik sorong dari intelek murid jaga dalam pangsa lingkup pengalaman hidupnya.

2) Pemilihan Model Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Katolik

Acuan pembelajaran merupakan teoretis umum yang mencitrakan sebuah proses pembelajaran dalam menjejak tujuan. Konseptual pembelajaran sebagai susuk konseptual yang melukiskan prosedur yang berstruktur internal mengorganisasikan camar duka sparing bagi mencapai maksud dan berfungsi

Model pembelajaran ialah teladan mahajana yang menggambarkan sebuah proses penelaahan dalam mencapai maksud. Eksemplar pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang menayangkan prosedur yang sistematis internal mengorganisasikan pengalaman belajar bakal mencapai tujuan dan berfungsi

Source: https://123dok.com/article/strategi-pembelajaran-pendidikan-agama-katolik.yev4rp37

Posted by: and-make.com