Asas Yang Paling Mendasar Dalam Pembelajaran Bahasa Arab

PENILAIAN Pendedahan BAHASA ARAB

Oleh : Dra. Neneng LM, M. Pd*


Maya :





Any?educators?who?carry out the?learning?required to perform assessments?/?tests on?students?learning outcomes?of participants. For?assessing the?learning outcomes?of students?became?an terkonsolidasi part?of the?assignment?of teachers?/?educators.?The ways?the assessment?can include?assessment of?oral,?written,?performance assessment,?product assessment,?and?portfolio assessment.?And test instruments?can be a?multiple choice?test,?an objective description,?description of?non-objective, short answer,?and?match.




I


Sudah bisa dipastikan bahwa setiap pendidik nan melaksanakan pembelajaran berbuat penilaian terhadap hasil sparing petatar didiknya. Sebab menilai hasil sparing peserta didik menjadi bagian integral mulai sejak tugas pendidik. Peraturan pemerintah nomor 19 periode 2005 menyatakan bahwa penilaian pendidikan plong jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil berlatih maka dari itu eceran pendidikan; dan penilaian hasil sparing oleh Pemerintah. Oleh karena itu setiap pendidik wajib berbuat penilaian hasil belajar para peserta didik nya


Penilaian yang dilaksanakan oleh pendidik lewat berbagai rupa pelaksanaannya. Ada pendidik yang sengaja mempersiapkannya dengan baik ada juga nan melaksanakan penilaian itu sekedar menepati kelengkapan mengajarnya. Bagi pendidik yang profesional yang memandang tugasnya sebagai kepiawaian spesial yang tidak dimiliki maka itu profesi tak, hasil penilaian nan dilaksanakan bahkan menjadi batu uji buat kejayaan dirinya sebagai pengajar dan pendidik sehingga senantiasa dimanfaatkan untuk perombakan dan penyempuranaan tugas-tugas profesinya. Ia selalu berusaha mempersiapkan, melaksanakan, dan mengkaji hasil penilaian dengan selengkapnya. Kondisi inilah nan diduga masih belum selengkapnya dihayati oleh para pendidik di sekolah sehingga tidak mengganjilkan tugas mengajar menumpu berkepribadian rutin.


Pada referat ini akan dibahas tentang penilaian kelas dengan cara-cara dan bentuknya.


 I


I. PENILAIAN Kelas bawah


A.Denotasi Penilaian Kelas


Penilaian Inferior yaitu salah satu pilar n domestik kurikulum tingkat runcitruncit pendidikan. Penilaian Inferior ialah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh pendidik bagi belas kasih angka terhadap hasil belajar peserta ajar bersendikan tahapan keberhasilan belajarnya sehingga didapatkan potret/profil kemampuan siswa asuh sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan intern kurikulum. Penilaian Kelas bawah dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Penilaian boleh dilakukan baik dalam suasana formal ataupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar-mengajar atau dilakukan pada tahun yang distingtif.


Penilaian Inferior dilaksanakan menerobos bineka cara, seperti pembuktian tercatat (paper and pencil test), penilaian hasil kerja petatar didik melintasi kumpulan hasil kerja/karya peserta jaga (portofolio), penilaian produk 3 ukuran, dan penilaian muncul kerja (performance) peserta didik. Penilaian Kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penimbunan informasi menerobos sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil berlatih peserta didik, pelaporan, dan pendayagunaan siaran mengenai hasil belajar pesuluh pelihara.


Penyempurnaan kurikulum adalah riuk satu upaya peningkatan mutu pendidikan. Upaya itu berhasil takdirnya suka-suka perubahan pola kegiatan pendedahan, dari yang berpusat pada pendidik dan yang berpusat pada peserta jaga, serta aklimatisasi penilaian bermula nan menghadap diskriminasi petatar didik kepada yang cenderung diferensiasi pelajar didik .


Keseluruhan perubahan itu akan menentukan hasil pendidikan. Presisi penilaian yang dilakukan sekolah, terutama yang berkaitan dengan penilaian kelas bawah, memperlihatkan pencapaian hasil belajar pesuluh didik. Penilaian tersebut mempengaruhi pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang diterapkan pendidik privat proses pembelajaran.


Penilaian dan kegiatan pengajian pengkajian bermuara pada pendudukan kompetensi yang diharapkan. Selama ini pelaksanaan penilaian di kelas invalid berlambak menggambarkan kemampuan pesuluh bimbing nan berbagai rupa karena cara dan alat yang digunakan kurang sesuai dan tekor bervariasi.


Karena keterbatasan kemampuan dan waktu, penilaian menjurus dilakukan dengan menggunakan prinsip dan perabot yang lebih menyederhanakan petisi pemerolehan peserta didik. Hasil evaluasi pelaksanaan Kurikulum 1994 menunjukkan bahwa penilaian nan dilakukan di kelas bawah kurang mampu memperlihatkan permohonan hasil membiasakan murid tuntun , yaitu:


a. kuak pemahamannya dengan kalimat sendiri secara oral dan termasuk;


b. mengekspresi gagasan, khususnya dalam rang gambar, grafik, grafik, ataupun simbol lainnya;


c. mengembangkan keterampilan fungsional sebagai hasil interaksi dengan mileu awak, sosial, dan budaya;


d. menggunakan lingkungan (fisik, sosial, dan budaya) sebagai sumber dan wahana membiasakan;


B. Cara-cara Penilaian


1. Tes Lisan


Cak bertanya lisan dapat digunakan lakukan mengetahui taraf serap pelajar ajar kerjakan masalah yang berkaitan dengan psikologis. Pertanyaan oral yang diajukan kepada pesuluh didik di kelas bawah harus jelas, dan semua peserta bimbing harus diberi kesempatan yang setinggi. Internal melakukan pertanyaan di kelas prinsipnya adalah: mengajukan pertanyaan, memberi waktu cak bagi berpikir, kemudian menunjuk peserta kerjakan menjawab pertanyaan. Baik benar atau riuk jawaban pelajar didik, jawaban tersebut ditawarkan lagi kepada pesuluh pelihara enggak untuk mengaktifkan kelas. Tingkat berpikir bagi pertanyaan verbal di kelas menentang rendah, begitu juga pengetahuan dan pemahaman.


 2. Penilaian Termuat


Penilaian terjadwal kebanyakan diadakan untuk musim yang cacat dan internal kondisi tertentu. Dari berbagai alat penilaian tertulis, alat penilaian jawaban moralistis-riuk, isian pendek, dan memperumahkan merupakan alat yang tetapi menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan menghafaz (laporan). Organ pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan mencerna. Saringan ganda n kepunyaan kelemahan, yaitu petatar tuntun tidak mengembangkan sendiri jawabannya doang cenderung hanya menerka jawaban yang etis. Situasi ini menimbulkan kecenderungan pelajar pelihara enggak belajar untuk memaklumi kursus tetapi menghafalkan tanya dan jawabannya. Alat penilaian ini terbatas dianjurkan pemakaiannya karena lain menggambarkan kemampuan peserta tuntun nan sesungguhnya.Esai


yaitu alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, mengarifi, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal nan telah dipelajari, dengan cara menyodorkan maupun mengekspresikan gagasan tersebut n domestik bentuk jabaran tertulis dengan menggunakan alas kata-katanya sendiri. Alat ini boleh membiji berbagai jenis kemampuan, misalnya membentangkan pendapat, berpikir dalam-dalam makul, dan menyimpulkan. Kelemahan perangkat ini antara tak cakupan materi yang ditanyakan terbatas.


Dalam berbuat pemeriksaan tanya esai teradat diperhatikan hal-hal berikut:


• Siapkan pedoman penilaian atau penskoran segera setelah batik pertanyaan untuk mengusut jawaban petatar didik kelak.


• Bacalah jawaban pelajar pelihara lalu bandingkan dengan jawaban yang ada puas pedoman.


• Berikan skor sesuai dengan tingkat kecukupan dan kesempurnaan jawaban peserta bimbing . Semakin lengkap jawabannya semakin tinggi skornya dan sebaliknya semakin kurang lengkap jawabannya semakin kecil skornya.


• Periksalah seluruh lembar jawaban peserta didik pada nomor nan sepadan, baru kemudian dilanjutkan menanyai jawaban nomor berikutnya. Hal ini perlu dilakukan bagi menjaga konsistensi dan objektivitas rahmat skor.


• Hindarkan faktor-faktor yang tidak relevan dalam pemberian skor, sebagai halnya bagus tidaknya garitan, kedekatan hubungan pendidik dengan siswa bimbing , dan perilaku peserta didik nan menghilangkan atau mengecewakan.


 3. Penilaian Unjuk Kerja (Performance)


Puas dokumen kurikulum termaktub banyak hasil membiasakan nan memvisualkan proses, kegiatan, maupun unjuk kerja. Bikin memonten hasil membiasakan tersebut dibutuhkan pengamatan terhadap peserta bimbing saat melakukannya. Penilaian muncul kerja ialah penilaian beralaskan hasil pengamatan penguji terhadap aktivitas peserta jaga sebagaimana yang terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah laris, ataupun interaksi pesuluh didik. Cara penilaian ini lebih otentik dari lega pembenaran termaktub karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta jaga nan sesungguhnya.


Semakin demap pendidik mencacat unjuk kerja pesuluh asuh, semakin terpercaya hasil penilaian kemampuan pelajar didik. Penilaian dengan mandu ini lebih tepat digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik dalam berpidato, pembacaan puisi, dan diskusi, pemecahan keburukan dalam satu gerombolan, partisipasi peserta didik dalam diskusi kelompok katai, ibing, memainkan gawai nada, dan mengamalkan aktivitas beragam cabang olahraga, menggunakan peralatan laboratorium, dan mengoperasikan satu radas.


Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai ragam konteks sebelum menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Contoh; untuk membiji kemampuan berkata murid bimbing, perlu dilakukan pengamatan berbicara yang beragam, seperti: wawancara, diskusi internal kerubungan kecil, bersyarah, mengarang, dan melakukan soal jawab. Dengan demikian, cerminan kemampuan siswa didik akan lebih utuh.


Langkah-persiapan yang wajib dilakukan kerumahtanggaan mewujudkan penilaian muncul kerja adalah sebagai berikut:


• Identifikasi semua langkah penting atau aspek nan diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil penutup.


• Tuliskan kemampuan-kemampuan khas yang diperlukan bakal menyelesaikan tugas.


• Usahakan kemampuan yang akan dinilai tidak plus banyak, sehingga semua dapat diamati.


• Urutkan kemampuan yang akan dinilai berdasarkan sekaan yang akan diamati


• Bila memperalat perimbangan uluran, perlu disediakan barometer untuk setiap pilihan ( kompeten bila peserta didik …….., kira kompeten bila pelajar didik …….. dst. ).


Hal enggak yang perlu mendapat habuan perhatian adalah cara memaki dan membagi nilai terhadap unjuk kerja peserta asuh. Penilaian sebaiknya dilakukan makanya lebih berbunga suatu orang kiranya faktor subjektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menunggangi daftar cek (ya – tidak) atau nisbah juluran (sangat kompeten –kompeten – sepan kompeten – lain kompeten).


Pada penilaian unjuk kerja yang menunggangi daftar cek, peserta didik berbahagia biji apabila kriteria aneksasi kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Kalau tak dapat diamati, pesuluh didik tidak memperoleh poin. Kelemahan pendirian ini ialah penilai hanya mempunyai dua seleksian mutlak, misalnya benar-keseleo, boleh diamati-tidak boleh diamati. Dengan demikian nilai perdua tak terserah. Penilaian unjuk kerja nan menggunakan skala uluran memungkinkan penilai menjatah nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu.


 4. Penilaian Barang


Penilaian hasil kerja meliputi pula penilaian terhadap kemampuan peserta didik mewujudkan dagangan-komoditas teknologi dan seni, sebagai halnya: tembolok, pakaian, hasil karya seni (patung), barang komoditas terbuat dari gawang, keramik, plastik, dan logam.


Penilaian komoditas ini tak hanya meluluk hasil akhirnya saja tetapi pula proses pembuatannya. Paradigma, kemampuan pelajar pelihara menunggangi berbagai teknik menggambar, menunggangi peralatan dengan aman, menggelorakan kue dengan hasil baik, bercita rasa enak, dan berpenampilan menarik.


Penilaian internal pembelajaran Bahasa Arab yg bisa dilakukan melalui penilaian produk yaitu kemampuan menulis (maharah al-kitabah/insya’).


Peluasan produk meliputi tiga tahap.


•Tahap awalan, menghampari: menilai kemampuan peserta asuh merencanakan, menggali, dan meluaskan gagasan, dan mendesain produk.


• Tahap pembuatan (produk), membentangi: memonten kemampuan peserta didik menyeleksi dan memperalat alamat, peranti, dan teknik.


• Tahap penilaian (appraisal), menutupi: menilai kemampuan peserta didik membuat komoditas sesuai kegunaannya dan memenuhi patokan keindahan.


Kerjakan dagangan penilaian biasanya menggunakan cara holistik atau


analitik. Cara holistik yang berdasarkan kesan keseluruhan berpangkal produk, rata-rata dilakukan sreg tahapappraisal. Prinsip analitik terhadap aspek-aspek komoditas yang berbeda, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria nan terdapat pada semua tahap proses pengembangan. Model penilaian untuk produk teknologi lega tahap perencanaan termasuk patokan yang berkaitan dengan desain dan penyortiran bahan sreg tahap produksi termasuk kriteria yang berkaitan dengan petisi proses dan kemampuan menggunakan alat dan pada tahapappraisaltermaktub kriteria berkaitan dengan pencapaian tujuan nan diinginkan.


 5. Penilaian Portofolio


Portofolio adalah koleksi karya (hasil kerja) seorang peserta didik dalam satu periode. Kumpulan karya ini memvisualkan taraf kemampuan/kompetensi yang telah dicapai koteng peserta didik .


Hal berfaedah nan menjadi ciri portofolio adalah karya tersebut boleh diperbaiki jika peserta didik menghendakinya. Dengan demikian, portofolio bisa ogok perkembangan kemajuan membiasakan peserta didik. Kronologi tersebut tidak dapat terlihat berbunga hasil pengujian. Antologi karya peserta didik itu merupakan refleksi perkembangan bermacam-macam kompetensi. Di samping itu, kompilasi karya yang membenang lebih memperkuat hubungan pembelajaran dan penilaian.


Penimbunan dan penilaian karya peserta didik nan terus-menerus sebaiknya dijadikan noktah sentral program pencekokan pendoktrinan, karena penilaian merupakan babak dari proses pembelajaran. Karya tersebut harus gegares diberi tanggal sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas berpunca waktu ke waktu. Yang menjadi pertimbangan utama yakni pendidik seyogianya menggunakan penilaian portofolio sebagai bagian integral berpangkal proses pembelajaran karena angka diagnostik portofolio sangat berarti bagi pendidik .


Portofolio boleh digunakan kerjakan membiji perkembangan siswa didik kerumahtanggaan mantra-ilmu sosial, sama dengan menganalisis masalah-masalah sosial, bahasa, seperti mana menulis karangan, dan matematika, sebagaimana pemecahan masalah ilmu hitung. Temperatur bahasa asing (Arab) dapat memperalat portofolio audio untuk membantu peserta ajar berekspansi kesigapan berbicara. Memori contoh-contoh berbicara peserta didik nan dikumpulkan secara terus- menerus dalam waktu tertentu dapat dimasukkan n domestik portofolio berbicara.


Untuk melihat dan mendiagnosis kesulitan peserta didik dalam bercerita, pendidik dapat mengumpulkan tulisan-gubahan peserta didik. Untuk mendapatkan hasil terbaik lega pertunjukan mendatang, seorang pelatih drama dapat menggunakan “videotape” untuk merekam pelajaran-latihan.


Berikut ini dikemukakan peristiwa-hal pokok nan teristiadat diperhatikan dalam membuat portofolio di dalam kelas bawah.


• Pastikan bahwa tiap peserta jaga merasa memiliki portofolio. Dalam hal ini peserta didik teradat diberi penjelasan tujuan eksploitasi portofolio, yaitu tidak semata-mata yakni pusparagam hasil kerja sementara pelajar ajar yang digunakan semata-mata oleh pendidik bakal penilaian, cuma digunakan juga oleh peserta didik itu koteng. Dengan melihat portofolionya pelajar pelihara dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara kontan, tetapi membutuhkan masa kerjakan petatar asuh lakukan belajar mengimani hasil penilaian mereka seorang.


• Tentukan bersama murid didik spesimen-sampel karya apa saja yang akan dikumpulkan. Kemungkinan karya yang dikumpulkan tidak sama antara siswa didik yang satu dan yang tak. Misalnya, untuk kemampuan menulis tulisan karya yang dikumpulkan adalah tulisan-gubahan peserta didik . Untuk kemampuan batik, karya yang dikumpulkan adalah gambar-buram buatan peserta ajar .


• Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map maupun folder.


• Tentukan barometer penilaian sampel-sampel karya petatar didik beserta pembobotannya bersama para murid ajar seyogiannya dicapai kesepakatan. Diskusikan dengan para peserta ajar bagaimana menilai kualitas karya mereka. Contoh; untuk kemampuan menggambar gubahan, kriteria penilaiannya misalnya: penggunaan tata bahasa, pemilihan kosa-prolog, kepadaan gagasan, dan sistematika penulisan. Sebaiknya standar penilaian suatu karya dibahas dan disepakati bersama pelajar tuntun sebelum siswa didik membuat karya tersebut. Dengan demikian, peserta didik mengarifi maksud (standar) pendidik dan berusaha mencapai maksud ataupun patokan itu.


• Mintalah peserta didik memonten karyanya secara per-sisten. Pendidik boleh membimbing peserta pelihara tentang bagaimana cara menilai dengan menjatah pemberitaan tentang kelebihan atau kekurangan karya tersebut dan bagaimana cara memperbaikinya. Keadaan ini dapat dilakukan pada saat membincangkan portofolio.


• Setelah satu karya dinilai dan ternyata nilainya jelek atau belum memuaskan peserta asuh , kepada peserta pelihara boleh diberi kesempatan bagi memperbaiki lagi. Namun, antara peserta didik dan pendidik perlu dibuat “kontrak” maupun perjanjian adapun paser perian perbaikan, misalnya setelah 2 minggu karya nan telah diperbaiki harus diserahkan kepada pendidik .


• Bila terlazim, jadwalkan pertemuan buat membahas portofolio. Jika dianggap terlazim, undanglah ayah bunda peserta asuh . Ibu bapak teradat diberi penjelasan tentang maksud dan tujuan portofolio sehingga mereka dapat kontributif dan memotivasi anaknya.


Perlu dicatat bahwa bukan ada satu juga radas penilaian yang boleh mengumpulkan informasi performa dan kemajuan belajar peserta didik secara abstrak. Penilaian spesial tidak memadai kerjakan memasrahkan gambaran/pemberitaan tentang kemampuan, kesigapan, makrifat dan sikap seseorang. Lagi pula, interpretasi hasil tes tidak mutlak dan kuat karena anak asuh terus berkembang sesuai dengan camar duka sparing yang dialaminya.


Alat penilaian tertulis seperti saringan ganda yang mendekati kepada sekadar satu jawaban nan bersusila (convergent thinking), tidak rani menilai keterampilan/kemampuan enggak yang dimiliki peserta didik. Hal ini amat menghambat penguasaan beragam kompetensi nan tercantum sreg kurikulum secara utuh. Alat penilaian sortiran ganda kurang produktif menerimakan siaran yang patut bikin dijadikan umpan-balik kemustajaban mendiagnosis atau memodifikasi asam garam belajar.


Karena itu, pendidik mudahmudahan berekspansi perkakas-alat penilaian yang membedakan antara varietas-spesies kompetensi yang berbeda dari tiap tingkat pencapaian. Hasil penilaian dapat menjadi rujukan terhadap pencapaian pesuluh tuntun dalam domain psikologis, afektif, dan psikomotor, sehingga hasil tersebut boleh menayangkan profil siswa didik secara lengkap.


Penilaian kemajuan belajar petatar didik pada KTSP/kurikulum berbasis kompetensi memaksudkan ciri-ciri berikut ini :



?



Tujuan penilaian mengesot dari keperluan kerjakan klasifikasi peserta bimbing (diskriminasi) ke peladenan individual peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya (diferensiasi).



?



Lebih cenderung menggunakan penilaian acuan patokan/patokan (criterion referenced assessment) daripada penilaian arketipe norma (norm-referenced assessment).



?



Tujuan-tujuan pendidikan yang tercatat dalam kurikulum lebih terjamin dicapai karena kompetensi dasar yang dirumuskan dalam kurikulum menjadi acuan terdahulu.



?



Tidak sekedar menerapkan penilaian tertulis dan lisan tetapi juga penilaian unjuk kerja, produk, portofolio dan tingkah laku buat menjamin validitas penilaian, objektivitas penilaian, dan keberbagaian kompetensi yang dinilai moga kemampuan peserta asuh bertambah rinci terpapar dan tergambarkan.



?



Biografi kompetensi pesuluh asuh ibarat hasil belajar memberikan permakluman yang bertambah lengkap dan mudah dipahami baik oleh siswa didik , anak adam tua, pendidik lain maupun pengguna lulusan, sehingga prinsip akuntabilitas masyarakat lebih terjamin.



?


Pemanfaatan beragam mandu dan alat penilaian mendorong penerapan pendekatan berlatih aktif sehingga mengoptimalkan pengembangan budi serta kemampuan berpikir logis dan main-main peserta didik . Pengumpulan informasi hasil belajar peserta didik bisa dilakukan dalam suasana formal dan informal, dengan berbagai ragam cara penilaian.

1.Setiap tenaga pendidik yang melaksanakan pembelajaran terlazim berbuat penilaian/tes terhadap hasil berlatih peserta didiknya. Sebab membiji hasil belajar peserta tuntun menjadi bagian integral dari tugas hawa/pendidik.

2.Cara-cara penilaian bisa berupa penilaian lisan, tertulis, penilaian unjuk kerja, penilaian produk, dan penilaian portofolio.

3.Bentuk instrumen pengecekan antara lain adalah pembuktian pilihan ganda, jabaran obyektif, jabaran non obyektif, jawaban ringkas, dan mendudukkan.

?

Daftar bacaan

?

Djaali.( 2007),Assesment Berbasis Kelas, Diktat Perkuliahan PPS UHAMKA program PEP.

Ebel, R. L. (1979).Essentials of education measurement. New Jersey: Prentice Hall.

Jahja Umar. 2002,Incaran penelaahan Pengujuan Pendidikan, Departemen Pemdidikan Nasional Awak Penelitian dan Pengembangan Pusat Penilain Pendidikan

Masna, Muh. 2004.Teknik Penilaian Netra Pelajaran Bahasa Arab, Makalah. Jakarta : Pusdiklat Tenaga Teknis Keimanan.

Mardjanim. 2002,Pengukuran Hasil Belajar Makalah Diklat Kewidyaiswaraan Bersusun Tingkat Pertama, Lembaga Administrasi Negara RI.

Nana Sudjana. 1989,Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, PT Remaja Rosdakarya Bandung.

Wahab, Muhbib, Abdul. 2006.Teknik Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab, Makalah. Jakarta : Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan.

Safari. 2008.Penulisan Butir Tanya Berlandaskan Kurikulum Tingkat Ketengan Pendidikan (KTSP).Jakarta : APSI Pusat.

?

?

?

?

?

?


Sumber :

Penulis :

Pengedit :

Source: https://balitbangdiklat.kemenag.go.id/berita/penilaian-pembelajaran-bahasa-arab

Posted by: and-make.com