Apa Yang Dipelajari Bahasa Inggris Di Sekolah Dasar

Pembelajaran BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH DASAR

Melampaui SENI

Niskala

Darminah and Tetty Rachmi

            Bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang mulai diperkenalkan di Sekolah Dasar (SD). Sekolah dasar ialah jenjang pendidikan tadinya. Pada pendidikan awal ini para guru terbiasa memberikan fondasi nan kokoh cak bagi melangkah ke jenjang pendidikan seterusnya. Untuk itu master terbiasa memberikan camar duka pembelajaran bahasa Inggris yang menarik semoga anak merasa suka dan tertarik kerjakan berlatih bahasa Inggris yang ucapan-ucapan dan tulisannya masih asing buat mereka. Untuk menerimakan pengalaman pembelajaran bahasa Inggris yang menarik diperlukan kreativitas temperatur dalam memanfaatkan dan merancang perigi-sumber sparing yang ada di lingkungan sekolah dan rumah. Hasil karya seni khususnya seni nada, tari, dan seni lukis yaitu sumber belajar yang suntuk bermanfaat cak bagi digunakan bagaikan media pembelajaran bahasa Inggris kerjakan anak SD. Situasi ini disebabkan oleh karakteristik anak SD yang masih senang tarik suara, belajar sambil main-main, berpikir dalam-dalam secara holistik, dan masih menyenangi benda-benda nan konkrit. Referat ini akan membahas tentang karakteristik anak SD, karakteristik penataran bahasa Inggris di SD, seni dan pemanfaatannya dalam  pendedahan bahasa Inggris di SD.

Prolog siasat:
bahasa luar, benda-benda konkrit, sumber belajar, pengalaman berlatih.

Pendahuluan

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, sudah memasyarakatkan bahasa Inggris di tingkat Sekolah Dasar (SD) di hampir seluruh pelosok pedesaan di Indonesia. Intiha-akhir ini pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SD menjadi ingatan para ahli di bidang bahasa dan pembelajaran bahasa khususnya bahasa Inggris di Indonesia. Riuk satu alasan pemerintah Indonesia bikin memperkenalkan bahasa Inggris kepada anak SD diambil berlandaskan butir-butir bahwa bahasa Inggris digunakan di setiap aspek kehidupan masyarakat. Kejadian ini diakibatkan oleh adanya kejayaan teknologi informasi yang semacam itu pesat.

Pendidikan SD merupakan fondasi yang terdahulu buat anak-anak cak bagi menyinambungkan sampai mereka mencapai tingkatan pendidikan yang terala. Usaha-usaha nan dilakukan kerjakan meningkatkan kualitas pendidikan asal akan berpengaruh plong kualitas pendidikan berikutnya. Sebaliknya, pil yang dialami lega pendidikan awal akan sangat berpengaruh plong pencapaian hasil puas tataran pendidikan yang bertambah tinggi. Hubungan kegagalan ini akan berakibat ketika mereka menjadi dewasa. Mereka punya kemungkinan lain dapat berfungsi secara efektif di dalam masyarakat yang kompleks dengan tuntutan-permintaan kebutuhan nan diakibatkan maka itu teknologi tinggi. Buat mengatasi kebolehjadian-kemungkinan ini pemerintah Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional) telah mengembangkan kurikulum nasional, termasuk kurikulum bahasa Inggris untuk sekolah pangkal (SD) yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK ini dirancang untuk membekali anak dengan guna-guna laporan (knowledge), kemampuan (competences), kecakapan (skills), ilmu keagamaan, dan sikap yang positif nan boleh digunakan untuk bekal hidup di internal masyarakat.

KBK mempunyai beberapa karakteristik diantaranya adalah: pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, dan sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber membiasakan lainnya nan menunaikan janji unsur pendidikan. Guru diberikan kebebasan untuk memilih sumber, metode dan media penelaahan yang sesuai cak bagi diterapkan di kelasnya. Dengan kata lain guru tidak tertuju pada hanya satu varietas resep teks melainkan dapat memperalat beraneka rupa sumber dan alat angkut pembelajaran nan dapat digunakan kerjakan meningkatkan pencapaian hasil sparing anak. Oleh sebab itu hawa dapat menggunakan hasil karya seni sama dengan seni rupa/lukis, seni musik, dan seni tari sebagai salah suatu media penataran bahasa Inggris di SD untuk takhlik momongan menjadi senang, tertarik dan camar mau tahu terhadap bahasa Inggris.

Agar tujuan pendedahan bahasa Inggris di SD dapat dicapai secara maksimal, temperatur bahasa Inggris harus menuduh beberapa hal diantaranya adalah: karakteristik anak sekolah asal dan materi pengajian pengkajian nan sesuai dengan perkembangan fisik dan mental momongan, karakteristik penataran bahasa asing, dan hasil karya seni dan pemanfaatannya semaksimal kelihatannya.

Karakteristik Anak Sekolah Asal dan Materi Pembelajarannya

Setiap anak punya sifat atau karakter yang individual. Mereka memiliki kebutuhan, minat, dan tingkat kemampuan, dan pencapaian nan berbeda. Untuk memasrahkan pendidikan sumber akar nan sesuai dengan perkembangan momongan, guru teristiadat memahami urut-urutan nan terjadi pada hidup momongan, dan juga mengarifi cara belajar anak-anak usia sekolah dasar.

National Association for the Education of Young Children
(NAEYC, 1992) mengutarakan pendapatnya tentang perkembangan anak bahwa pelecok satu premis yang terpenting n domestik perkembangan hamba allah ialah bahwa seluruh hening jalan seperti mana fisik, social, emosional, dan kognitif berkembang secara terpadu. Maksudnya bahwa jalan lega satu dimensi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan dari ukuran-matra yang lainnya.

  1. Karakteristik Anak asuh Sekolah Dasar. Momongan-anak asuh adalah manusia dan kaidah sparing yang nan farik-cedera. Namun demikian mereka  kembali memiliki ekualitas karakteristik. Karakteristik yang seimbang yang dimiliki oleh anak asuh SD menurut Briggs and Potter (1990) diantaranya yakni:
  2. Mereka selalu terdorong dan mau tahu terhadap kalimantang sekitarnya;
  3. Mereka gemar berperan dan kerap dalam peristiwa gembira;
  4. Dengan rasa ingin adv pernah mereka yang tinggi, mereka selalu berusaha bikin menyedang, dan menginterogasi sesuatu;
  5. Mereka majuh merasa tergoyahkan dan termotivasi untuk mengerjakan lebih baik selepas mereka berbuat kegagalan ataupun kekecewaan;
  6. Mereka akan belajar betapa-sungguh apabila sesuai dengan minat mereka;
  7. Mereka belajar serampak bekerja, mengobservasi, dan mengajari teman lainnya.

Kaprikornus kerjakan anak SD belajar merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Keenam karakteristik tersebut  harus diperhatikan oleh guru ketika mereka memformulasikan bentuk penelaahan, berekspansi aktivitas penelaahan, mengelola kelas, dan menggelorakan semangat berlatih momongan-anak asuh. Master harus mengembangkan materi nan sesuai dengan kebutuhan anak dan nan sesuai untuk menghadapi tantangan mengajar anak asuh-momongan yang mempunyai kemampuan, sikap, dan bakat yang berbeda-beda nan berbenda dalam satu kelas bawah yang sama.

NAEYC menguraikan beberapa karakteristik momongan SD vitalitas 5 setakat 8 tahun. Karakteristik anak umur ini terlazim mendapatkan manah karena bahasa Inggris tiba diperkenalkan sejak kelas 3 SD (Ada sekolah-sekolah, khususnya di ii kabupaten-kota segara, nan memperkenalkan bahasa Inggris sejak Taman Kanak-kanak, dan ada juga yang telah memperkenalkan bahasa Inggris sejak kelas satu SD).  Karakteristik nan dimaksud diantaranya merupakan:

  1. Momongan-anak belajar secara terpadu. Mereka tidak perlu mengeluarkan subjek area atau alat penglihatan kursus yang madya dipelajari. Misalnya, mereka belajar konsep matematik ketika mereka berolah raga atau dolan irama.
  2. Anak asuh-anak SD belum matang secara fisik, dan mereka perlu kegiatan-kegiatan yang aktif. Mereka akan cepat merasa lelah duduk dengan perian yang lama, dan merasa doyan dan tidak penat bila mereka berlari-lari, berlompat-lompat, atau bersepeda.
  3. Gerakan-kampanye raga pula lewat diperlukan untuk perkembangan serebral anak sehingga anak-anak harus pelalah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang aktif.
  4. Antara usia 6 sampai 9 tahun anak-anak mulai memecahkan kemampuan mental untuk berfikir, dan membereskan penyakit. Namun demikian mereka masih memerlukan benda-benda konkrit bikin kondusif membereskan kelainan.
  5. Kemampuan berkomunikasi anak semakin meningkat. Mereka telah boleh berkomunikasi secara interaktif dengan makhluk dewasa, dan dengan teman sebayanya.
  6. Perkembangan social emosional dan kronologi tata krama lagi mulai meningkat. Anak-anak mulai tertarik sreg persahabatan. Menciptakan hubungan social dan hubungan kerja yang positif dan subur dengan anak-anak asuh sebayanya dapat melebarkan kompetensi social.

Apabila sudah lalu memafhumi karakteristik momongan, hawa lalu mencari materi penerimaan nan sesuai. Berikut ini yaitu karakteristik materi penerimaan yang sesuai dengan karakteristik momongan.

Karakteristik Materi Pendedahan. Materi pembelajaran untuk anak SD mempunyai karakteristik spesifik seperti nan dijelaskan maka dari itu Clements and Hawkes (1985), diantaranya yaitu:

  1. Gandeng dengan dirinya dan lingkungannya.
  2. Simple dan konkrit.
  3. Menghirup (seperti buram-gambar nan lucu dan berwarna warni).
  4. Mengundang rasa ingin tahu.
  5. Ringan.
  6. Berhubungan dengan aktivitas main-main.

Guru yang berlambak, aktif dan inovatif tidak akan menjumpai kesulitan untuk menyiapkan materi penataran yang memiliki karakteristik yang sesuai dengan perkembangan jiwa dan mental anak. Untuk menyiagakan materi pembelajaran ini, master bisa membentuk
team teaching
dengan guru seni musik, seni lukis atau guru kelas lainnya. Hasil karya  seni lukis nan dibuat sendiri oleh anak, berlandaskan rekonsiliasi dengan temperatur seni lukis, dapat dijadikan media penelaahan nan tinggal bermanfaat bagi anak dan pun bakal guru itu sendiri.

Agar anak-momongan SD merasa senang, termotivasi, dan percaya diri untuk berlatih bahasa Inggris, master harus dapat menciptakan situasi yang kontributif nan bisa menciptakan menjadikan anak merasa aman. Bakal itu para temperatur bahasa Inggris mesti mengetahui karakteristik penataran bahasa luar khususnya bahasa Inggris agar mereka memahami bagaimana anak menguasai bahasa purwa dan bahasa sasaran yang sedang dipelajari. Berikut ini adalah pembahasan akan halnya karakteristik pembelajaran bahasa asing dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Inggris di SD.

Karakteristik Penerimaan Bahasa Asing

Mempelajari bahasa luar tidak sama dengan mempelajari bahasa sendiri atau bahasa pertama yang kita gunakan sehari-tahun sejak kita lahir. Ada perbedaan-perbedaan yang mendasar antara bagaimana mempelajari bahasa asing dan bagaimana mempelajari bahasa mula-mula. Perbedaan yang terdepan ialah bahwa bahasa luar enggak digunakan bagi berkomunikasi sehari-hari sehingga kita selalu merasa tidak termotivasi kerjakan mempelajari bahasa tersebut. Lingkungan di sekitar kita juga tidak selalu mendukung cak bagi menunggangi bahasa luar yang semenjana kita pelajari. Perbedaan nan terdepan lainnya adalah sumber input seperti hawa, ataupun instruktur bukan pencerita bersih (native speakers), yang belalah tergerak oleh logat maupun dialek bahasa pertamanya. Misalnya, munsyi Inggris nan bermula berpangkal distrik Jawa ucapan-ucapannya sering dipengaruhi maka itu logat bahasa Jawa. Yang terakhir adalah sumber input lewat sedikit, dan kebanyakan yang mempelajari bahasa luar adalah bani adam dewasa.

Dari perbedaan-perbedaan yang telah disebutkan kita boleh menyimpulkan bahwa bahasa Inggris sebagai bahasa asing tidak dapat dikuasi dengan mudah seperti mana halnya menuntaskan bahasa purwa. Bahasa asing harus diajarkan dan dipelajari secara sah alias secara khusus. Momongan secara pulang ingatan harus kecam tulangtulangan-bentuk bahasa dan makna bahasa yang muncul internal setiap komunikasi. Lain halnya dengan penguasaan bahasa pertama. Akses bikin memperoleh input bahasa pertama tidak terbatas. Mileu keluarga, kerabat, dan masyarakat di selingkung tempat lampau semua memperalat bahasa yang sepadan. Terbit dalam kandungan sebatas anak tersebut boleh berkomunikasi, dia menggunakan bahasa purwa. Jadi bahasa purwa dikuasai oleh momongan minus bangun atau secara alamiah. Pendapat ini didukung maka itu Terrel dan Krashen (1983) yang mengatakan bahwa penguasaan bahasa pertama dilakukan secara alami tanpa siuman, sementara itu penaklukan bahasa kedua terjadi melalui kegiatan formal yang dilakukan secara siuman.

Pembelajaran Bahasa Asing. Sebelum membahas akan halnya penerimaan bahasa asing, di sini perlu dijelaskan perbedaan antara istilah
bahasa asing
dan
bahasa kedua.
Littlewood (1984) secara singkat membedakan kedua istilah ini bak berikut:

A “second” language has social functions within the community where it is learnt (e.g., as a lingua franca or as the language of another social group), whereas a “foreign” language is learnt primarily for contact outside one’s own community.
(p. 2)

Padahal Quirk intern Richards  memberikan definisi tentang bahasa kedua seumpama: “a language necessary for certain official, social, commercial or educational activities within their own country” (1985: 4), sedangkan bahasa asing adalah: “a language used by persons for communication across frontier or with others who are not from their country” (1985: 5). Perbedaan ini sangat bermanfaat bagi kita khususnya apabila kita mendiskusikan pembelajaran bahasa Inggris, dan perbedaan ini akan digunakan dalam konteks diskusi pada makalah ini.

Masalah-masalah Pembelajaran Bahasa Asing. Dalam setiap subjek ataupun disiplin ilmu tentu dijumpai komplikasi-komplikasi pembelajaran seperti internal tutorial matematika atau IPA. Masalah-penyakit nan dijumpai lega pengajian pengkajian bahasa asing bukan jauh berbeda dengan masalah-komplikasi yang timbul dalam disiplin ilmu yang lainnya. Cuma demikian masalah-keburukan ini akan tertumbuk pandangan bertambah betul-betul n domestik penelaahan bahasa luar karena tujuan pembelajaran bahasa luar adalah untuk berkomunikasi dan bagaikan instrumen buat memperoleh guna-guna wara-wara. Konsep-konsep umum dalam pembelajaran seperti mana motivasi
(motivation), bakat (aptitude), kesempatan (opportunity), dan resan (personality) merupakan konsep umum yang bisa mempengaruhi pencapaian intensi pengajian pengkajian setiap subjek.

Keburukan-masalah penerimaan yang akan dijelaskan pada makalah ini ialah masalah pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang bersambung dengan prinsip-prinsip yang baku digunakan n domestik penerimaan bahasa asing dan bahasa kedua. Littlewood (1984) menjelaskan beberapa factor utama yang mempengaruhi pembelajaran bahasa luar yaitu motivasi, kesempatan belajar, dan kemampuan belajar.

Motivasi. Cambuk dalam pembelajaran bahasa asing yaitu dorongan yang sangat penting yang dapat meningkatkan aksi pebelajar intern  sampai ke tujuan pengajian pengkajian. Motivasi merupakan fenomena yang sangat kegandrungan nan mencakup dorongan individu, kebutuhan kerjakan mencapai kesuksesan, rasa ingin adv pernah, dan keinginan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman hijau. Krashen (1983) menganggap bahwa dengan motivasi nan tinggi dan
self-image
yang baik biasanya seseorang dapat menguasai bahasa kedua dengan baik.

Anak SD memiliki karakteristik seperti serba ingin adv pernah, dan comar ingin memperoleh asam garam-pengalaman mentah. Dengan demikian anak SD pula memiliki motivasi yang hierarki. Motivasi untuk belajar bahasa Inggris momongan SD akan kian meningkat lagi apabila guru bahasa Inggris dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menjujut dan menentramkan. Cak bagi menciptakan suasana belajar yang menyentak dan meredakan tentunya guru harus pakar memilih kendaraan, metode, dan strategi pembelajaran.

Littlewood (1984) menonjolkan kepada dua aspek tembung yang signifikan yang mempengaruhi pembelajaran bahasa asing merupakan kebutuhan berkomunikasi intern bahasa asing, dan sikap terhadap komunitas bahasa asing. Anak-momongan Indonesia sreg umumnya cak hendak bisa berbahasa Inggris karena pada dasarnya momongan-anak gemar terhadap kejadian-hal nan hijau. Mereka juga pada kebanyakan menyenangi turunan-manusia asing yang berbahasa Inggris. Jadi momongan-anak pada umumnya mempunyai cemeti untuk membiasakan bahasa Inggris. Masalahnya di sini adalah bagaimana para guru bahasa Inggris SD dapat memupuk dan mengincar motivasi momongan-anak cak agar motivasi mereka lebih pangkat cak bagi berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Kesempatan Belajar. Masalah pembelajaran bahasa asing yang kedua yang mempengaruhi kefasihan berbahasa Inggris merupakan masalah kesempatan belajar. Kualitas dan kuantitas kesempatan belajar yang diperoleh berpokok lingkungan sama dengan sekolah, rumah, alias umum adv amat berkarisma bakal anak ataupun pebelajar bagi menjadi fasih berbahasa Inggris. Littlewood (1984) mengklarifikasi beberapa aspek kesempatan belajar seperti kesempatan untuk mempergunakan bahasa Inggris bakal berkomunikasi substansial, suasana emosi n domestik peristiwa belajar, jenis bahasa yang diperkenalkan kepada anak asuh, dan surat berharga pendedahan formal, semua besar pengaruhnya terhadap penguasaan bahasa anak asuh.

Anak-anak SD yang produktif di pelosok pedesaan di Indonesia tentunya tidak mempunyai banyak kesempatan bikin menggunakan bahasa Inggris bakal berkomunikasi. Mereka siapa mempunyai kesempatan kerjakan mengintai, dan mendengarkan gambar hidup nan bertata cara Inggris melangkaui TV. Hanya mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris privat situasi yang positif. Sebaliknya momongan-anak di perkotaan lebih banyak mendapatkan kesempatan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris lakukan berkomunikasi dalam situasi nan berupa. Lingkungan, ayah bunda alias kerabat bisa kondusif mereka cak bagi berlatih berkomunikasi dengan baik dan bersusila. Anak-anak asuh perkotaan kembali mudah untuk memperoleh akal masuk dalam bahasa Inggris begitu juga para turis luar, program-acara bahasa Inggris dalam TV atau VCD, internet, dan sasaran-bahan cetak seperti majalah, koran, dan pokok-buku bahasa Inggris untuk anak asuh-anak asuh.

Faktor bermanfaat enggak yang mempengaruhi kesempatan sparing bahasa asing adalah suasana emosi internal situasi belajar. Situasi sparing harus mengurangi rasa agak gelap, cemas, atau khawatir anak. Anak akan merasa seram apabila hawa cangap menyalahkan anak apabila dia enggak bisa menyabdakan dengan intonasi atau ucapan yang benar, ataupun temperatur memberikan koreksi yang jebah terhadap setiap kesalahan anak. Kesempatan belajar bisa diciptakan dengan mengasihkan kesempatan belajar yang patut kepada anak, dan memberikan input nan sesuai dengan minat mereka. Anak asuh diberikan kesempatan lakukan berlatih memperalat bahasa Inggris dan suhu memasrahkan
feedback
atau umpan putar terhadap kinerja anak.

Kemampuan Sparing. Littlewood (1984) menjelaskan kemampuan belajar kerumahtanggaan signifikasi nan luas nan mencakup faktor-faktor kognitif, sifat (personality), dan kehidupan (age). Aspek-aspek kognitif kemampuan membiasakan anak mengacu kepada inteligensi dan bakat  bahasa. Para pakar bahasa berpendapat bahwa ada hubungan yang erat antara inteligensi dengan kemampuan belajar bahasa kedua. Anak-anak SD mempunyai kemampuan yang berbeda-beda; ada yang pintar, sedang, dan ada pun yang memiliki kemampuan nan rendah. Selain itu anak-anak lagi memiliki kelebihan dan kekurangan dalam memahfuzkan/memahami melalui berpikir oral namun di satu sisi mungkin anak ada yang memiliki kelebihan intern kejadian kognisi secara visual. Oleh sebab itu guru SD harus menganggap anak misal individu nan solo yang memiliki perbedaan-perbedaan sebagaimana kemampuan, talenta, inteligensi, dan bakat.

Kejayaan dalam belajar bahasa asing lain hanya berdasarkan pada kemampuan kognitif melainkan cak semau kaitannya juga dengan pembawaan bahasa. Nan disebut dengan bakat bahasa menurut Littlewood (1984) yaitu:

  1. 1.

    The ability to identify and remember sounds;
  2. 2.

    The ability to memorize words;
  3. 3.

    The ability to recognize how words function grammatically in sentences;
  4. 4.

    The ability to induce grammatical rules from language examples. (pp. 62-63)

Faktor lain yang terjadwal n domestik kemampuan belajar adalah sifat (personality). Seseorang nan memiliki sifat nan ekstrovert rata-rata berbuah kerumahtanggaan membiasakan bahasa asing. Sedangkan seseorang yang mempunyai sifat toleransi terhadap sesuatu yang membingungkan diyakini mempunyai pemahaman menyimak nan bagus. Tidak mudah bagi master untuk mengidentifikasi sifat-sifat semua anak n domestik satu kelas. Tugas guru adalah kobar rasa percaya diri dan semangat setiap anak lakukan berkomunikasi secara terbuka dengan menunggangi bahasa Inggris.

Faktor penting anak bungsu yang bersambung dengan kemampuan belajar adalah usia. Banyak manusia beranggapan bahwa anak-anak bisa belajar bahasa asing kian cepat bermula lega orang dewasa. Anggapan ini beralaskan adanya masa-masa suara minor sepanjang otak masih berfungsi secara variabel sehingga pencaplokan bahasa dapat terjadi dengan mudah dan alami (Littlewood, 1984). Para pengkaji di satah bahasa nan mendukung adanya alat penguasaan bahasa (Language Acquisition Device) pada anak-anak begitu juga (Brown, 1987; Littlewood, 1984; dan Titoni and Danesi, 1985) menjelaskan bahwa kapasitas stereotip makhluk untuk menuntaskan bahasa terjadi mulai bayi hingga usia sebelas tahun. Anggapan ini sudah lalu mendasari pergerakan lakukan memasrahkan pembelajaran bahasa Inggris kepada momongan-anak asuh sedini mungkin. Itulah sebabnya pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan bahasa Inggris kepada anak asuh SD.

Selepas mempelajari dan memahami karakteristik momongan SD dan materi penelaahan yang sesuai dengan kronologi raga dan mental anak asuh, dan karakteristik pembelajaran bahasa asing, guru kemudian memilih sarana, metode dan  pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak asuh. Di selingkung kita terdapat banyak hasil karya seni yang dapat dimanfatkan untuk meningkatkan pencapaian hasil pembelajaran bahasa Inggris. Bahasan berikut ini akan menjelaskan tentang hasil karya seni dan pemanfaatannya dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk anak SD.

Seni dan Pemanfaatannya internal Penerimaan Bahasa Inggris

Seni cangap hadir ditengah-tengah masyarakat dan menyertai pertualangan hidup manusia karena seni memiliki fungsi singularis dan sosial. Seni dalam kaitannya dengan fungsi spesial dipahami sebagai kata majemuk pikiran dan pengalaman jiwa terdalam nan diekspresikan dan dikomunikasikan melangkaui media tertentu nan di dalamya pun pek­cerek­dung angka estetis, sopan, dan manusiawi. Selain itu seni tidak hanya dilakukan kerjakan memenuhi kebutuhan spiritual atau ekspresi tetapi juga bikin memenuhi kebutuhan komersial, politik, sosial, pendidikan, dan sebagainya.

Dalam pendidikan, seni boleh didekati bagaikan mempelajari seni itu sendiri (e­du­cation about arts) maupun dengan pendekatan laksana “media” bikin mengerti permukaan ilmu tak (educa­tion with arts
dan
education through arts). Ketiga pendekatan ini boleh dimanfaatkan di kelas. Pada
educa­tion with arts, seni dimungkinkan digunakan umpama sebuah cara ataupun teknik untuk mempelajari materi les tidak. Pemanfaatan seni di­mung­kinkan melibatkan bentuk-bentuk artistik yang beragam. Seni kembali boleh menjadi sebuah metode yang efektif lakukan mengajarkan mengenai
civil-rights
di inferior nan kian tinggi (SMP/SMA). Sementara itu
education through arts, dapat dipandang umpama sebuah metode yang mendorong momongan cak bagi menggeluti dan mengekspos pema­ham­an me­reka atas materi les menerobos tulang beragangan seni (karya seni). Pendekatan ini dapat di­gu­na­kan disemua tingkat pendidikan.

Pemanfaatan seni di kelas menjadi layak karena seni mam­pu memfungsikan diri­nya sebagai kendaraan ekspresi, komunikasi, dolan, dan pena­di­dikan. Dilain jihat seni me­miliki budi yang multilingual, multikultural, dan mul­tidi­men­sional. Secara multi­lingual, seni mengembangkan kemampuan ekspresi diri dalam bahasa kinestetik, visual, audio, dan ruang. Secara multikultural, berarti mengem­bang­kan kemampuan dan ke­sadaran berapresiasi terhadap pluralitas budaya (nasional ingin­pun manca). Seni mam­pu membuat sikap menghargai, ketenangan, dan demokratis dalam nyawa berma­sya­rakat dan budaya yang majemuk. Secara multidi­men­sional, seni ber­po­tensi melebarkan ke­mam­puan persepsi, informasi, kesadaran, kajian, peni­lai­an, pujian, dan dagangan­tivitas. Fungsi ini sreg akhirnya akan menyeimbangkan fungsi psikologis, sosial, dan kebaikan kedua sisi otak dengan cara memadukan secara harmonis atom-unsur logika, kinestetika, etika, dan estetika.

Pada pengajian pengkajian bahasa Inggris ibarat bahasa asing, berkali-kali momongan me­nga­lami kesulitan kerjakan menyeberang dari bahasa nan telah dikenal­nya sejak lahir kepada bahasa asing yang memiliki sintaksis, kosa kata, dan tuturan yang sangat farik. Buat menjembataninya seni merupakan keseleo suatu cara lakukan mendukung anak asuh mema­hami bahasa asing tersebut.
The arts enable freedom of expresion for second language learn
(Goldberg, 1997: 14). Ketika anak belum dapat mengklarifikasi dengan kalimat tentang rantau mereka dapat “meminjam” gerak maupun pelukisan/gambar cak bagi menggantikan pema­haman mereka tentang pesisir. Disini guru menawarkan “bilingual” dan keterbatasan anak terhadap bahasa Inggris melalui kebebasan anak mengembangkan gagasan dan ekspresi kognisi mereka.

Seterusnya Goldberg mengatakan bahwa
the arts expand expressive outlets and provide a range of learning style available to children.
Menurutnya integrasi seni laksana sebuah media untuk berekspresi akan mengapalkan anak lega kejadian belajar yang cen­derung memberikan kebebasan kepada anak bagi berkomunikasi tentang pemahaman mereka se­ca­ra holistik melewati gerak, audio, visual, dan ruang. Menyatakan kerangka
cyrcle
tidak semata-mata dapat dipahami sebagai konsep ‘dok’ saja, tetapi anak dapat mengungkapkan
cyrcle
dalam bentuk gerak tubuhnya atau bersama dengan padanan-temannya. Aktivitas ini dapat dikembangkan ketika guru segera menanyakan anak membuat rang
semi­circular, bulat telur, rectangular, square,
dan seterusnya. Melalui seni rupa anak dimungkinkan untuk meluaskan ke­mam­puannya merumuskan aksara dalam sebuah rancangan nan menggelandang, sebagaimana kaligrafi atau
picto-spelling.

Beberapa Contoh Pemanfaatan Seni internal Penerimaan Bahasa Inggris. Pendayagunaan sebuah karya seni tidak melekat untuk satu variasi kemampuan bertata cara. Misalnya alunan anak-anak dapat digunakan bakal mengembangkan kemampuan
speaking, khazanah kata, atau
listening. Sebuah lagu nan sudah jadi dapat digunakan bagi menaik perbendaharaan kata dengan cara mengganti teks atau pengenalan tertentu intern nyanyian tersebut. Buaian dapat digunakan sebagai permainan yang menarik seperti menghilangkan sebuah kata dulu momongan diminta bikin mengisinya dengan kata yang ekuivalen, misalnya rona
red
diganti dengan
blue, alias kata
the floor
diganti dengan introduksi
the door. Nyanyian ’dialog’ dapat digunakan untuk membantu momongan menemukan dengan cepat introduksi tertentu untuk melengkapi episode lagu nan harus mereka nyanyikan. Bila momongan belum mengenal buaian baru, hawa boleh menyanyikan lagu tersebut dengan menghilangkan beberapa kata dan anak diminta untuk merenungkan kata yang dihilangkan (bagian yang harus diisi oleh anak asuh dinyanyikan dengan bergamat). Alat nada yang digunakan dapat membantu momongan mengembangkan kemampuan bandingkan: misalnya kendang yang dipukul lebih keras tinimbang sebelumnya, atau lebih cepat dari mentrum yang sebelumnya.  Masih banyak lagi yang dapat dikembangkan master bermula pendayagunaan materi nada.

Begitu pula nan terjadi pada pemanfaatan seni rupa. Melalui rang
picto-spelling
anak bebas menuangkan pemahaman konsep dengan gagasan-gagasan visualnya. Misalnya konsep pembukaan
turtle
divisualisasikan dengan bagan labi-labi yang dibangun dari huruf-abc
t, u, r, l,
dan
e. Membedakan bentuk
cyrcle

(landasan) dengan
globe
(bulat) akan bertambah mudah dipahami bila anak bersentuhan dengan karya rupa tiga ukuran. Serupa itu pula dengan membawa materi ”alam” ke dalam inferior intern bentuk gambar lebih dapat dipahami dan lebih lama terekam dalam manah anak. Misalnya guru hendak menguraikan tentang hari:
morning, afternoon, evening,
dan
night.

Kerjakan kelas yang kelas lebih tinggi, guru dapat memperoleh tingkat kognisi anak yang kian tinggi, misalnya dengan sebuah gambar anak diminta guru bakal menceritakan dengan kalimat-kalimat baik secara lisan maupun terjadwal intern bahasa Inggris. Ini dimaksudkan bikin mengembangkan keterampilan berbicara (speaking) dan menulis (writing) anak.

Pengusahaan drama dengan tema keseharian nan dikemas kerumahtanggaan pentas singkat dapat digunakan untuk memaksimalkan keberanian dan mengembangkan kemampuan percakapan. Lain terbatas hanya lega bermain peran tetapi pun penggunaan properti yang bervariasi akan memperkaya kosa kata, gagasan, tata bahasa pada dialog nan dibangunnya.

Introduksi langsung pada objek akan kian membantu momongan memahami konsep-konsep yang diajarkan. Selain itu pembelajaran bahasa Inggris menjadi lebih menarik dan bermakna.

Deduksi dan Saran

Bahasa Inggris merupakan bahasa asing pertama yang sudah berangkat diperkenalkan di tingkat SD mulai kelas 3 hingga dengan kelas 6 di rapat persaudaraan seluruh pelosok tanah air di Indonesia. Anak-anak SD khususnya kelas 3 baru saja belajar mengaji dan menulis privat bahasa Indonesia. Mempelajari bahasa Inggris tentunya bukanlah suatu hal yang mudah buat mereka. Tak tetapi anak tetapi juga linguis Inggris menghadapi kesulitan – kesulitan dalam proses belajar dan mengajar. Kesulitan ini disebabkan karena banyak perbedaan yang dijumpai dalam bahasa Inggris. Perbedaan-perbedaan ini diantaranya adalah banyak bunyi dan perkataan fokal alias konsonan berasal bahasa Inggris tidak dijumpai plong gabungan bunyi dan tuturan fokal dan konsonan dalam bahasa pertama (bahasa ibu) dan dalam bahasa Indonesia (bahasa kedua). Cara penulisan dan cara membaca suatu introduksi intern bahasa Inggris tidak selalu setimpal seperti mana halnya kerumahtanggaan bahasa Indonesia. Misalnya, gubahan
“one”
dalam bahasa Inggris dibaca “wan.”

Kesulitan cara pengucapan dan penulisan dapat menimbulkan stres, takut melakukan kesalahan, tidak beriman diri, dan menempatkan motivasi kerjakan belajar. Kesulitan-kesulitan ini juga bisa yaitu rintangan bagi anak bikin menguasai kompetensi komunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik dan bermartabat. Namun demikian, kesulitan-kesulitan ini boleh diatasi apabila guru bahasa Inggris melakukan hal-kejadian seperti: mengenali karakteristik anak nasib sekolah dasar, memperlakukan momongan-anak asuh sesuai dengan karakteristiknya, menciptakan suasana belajar nan menyenangkan, memilih dan menggunakan ki alat, metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan urut-urutan fisik, mental, dan sentimental anak, dan memperlakukan momongan sebagai individu yang farik-tikai, dan yang mempunyai minat, kemampuan, pembawaan, dan resan yang tidak sekelas. Di samping itu suhu juga perlu mengimplementasikan teknik-teknik penataran bahasa asing nan sesuai dengan karakteristiknya.

Dalam mengidas dan menggunakan media/metode pengajian pengkajian, temperatur dapat memanfatkan  hasil atau mewujudkan karya seni sebagaimana seni lukis, irama, dan drama yang terdapat di lingkungannya. Karya seni ini dapat berupa gambar-gambar hasil kreatifitas anak nan dilakukan di apartemen maupun di sekolah. Karya musik begitu juga lagu-lagu privat bahasa Inggris yang tercecer juga dahulu tepat bagi dimanfaatkan sebagai ki alat pendedahan bahasa Inggris. Eksploitasi seni ini dapat membangkitkan minat dan motifasi sparing anak. Apabila momongan-anak sudah mempunyai minat dan motivasi sparing nan tinggi, mereka akan merasa gemar dan nyenyat belajar tanpa terserah tekanan-impitan nan mempengaruhi mental dan emosionalnya. Dengan demikian anak-anak akan melakukan tugas sesulit apapun yang diberikan oleh guru dengan senang lever dan tanpa beban. Puas gilirannya tujuan pembelajaran bahasa Inggris di SD, dapat berkomunikasi intern bahasa Inggris dengan tepat dan akurat, diyakini bisa dicapai dengan baik, dan kualitas pendidikan SD dapat ditingkatkan.

Saran

Guru bahasa Inggris bisa mengerjakan
team teaching
dengan guru seni rupa, musik, atau sandiwara. Guru bahasa Inggris menginformasikan kepada guru seni rupa sebaiknya anak-anak asuh menggambar benda atau objek yang suka-suka hubungannya dengan materi bahasa Inggris yang akan diajarkan, dan kompetensi yang akan dicapai. Kita mengetahui bahwa tak semua hawa bisa dan menyukai bernyanyi. Bagi memanfaatkan irama, seperti lagu-lagu bahasa Inggris untuk anak, munsyi Inggris dapat berkomplot dengan guru irama, maupun memperkenalkan lagu-lagu tersebut dengan menggunakan
tape recorder
atau
video cassette.

Daftar Pustaka.

Briggs, F. And Potter, G. K. (1990)
Teaching Children in the First Three Years of school.

Hongkong: Longman Cheshire.

Brown, H. D. (1987)
Principles of Language Learning and Teaching.
New Jersey:

Prentice-Hall, Inc.

Clements, Z. J., and Hawkes, R. R. (1985)
Mastermind. Exercises in Critical Thinking,

 Grades 4-6.
Illinois: Scott, Foresman and Company.

Goldberg, M. (1997)
Arts and Learning: An Integrated Approach to Teaching and

            Learning in Multicultural and Multilingual Setting.
New York: Longman Ltd.

Krashen, S. D. (1982)
Principles and Practice in Second Language Acquisition.
New

York: Pergamon Press.

Krashen, S. D. and Terrell, T. D. (1983)
The Natural Approach: Language Acquisition in

 the Classroom. San Francisco: Perganon and Alemary Press.

Littlewood, W. (1984)
Foreign and Second Language Learning: Language Acquisition

 Research and Its Applications for the Classroom.
Cambridge: Cambridg University Press.

Mulyasa, E. (2002)
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik, dan

            Implementasi.
Bandung: PT Muda Rosdakarya.

National Association for the Education of Young Children (1992)
Developmentally

 Appropriate Practice in Early Childhood Programs. Serving Children from Birththrough Age 8.
Washington,

DC: NAEYC

Richards, J. C. (1985)
The Context of Language Teaching. Cambridge: Cambridge

University Press.

Titone, R. and Danesi, M. (1985)
Applied Psycholinguistics: An Introduction to thePsychology of Language



Learning and Teaching.

Toronto: University of Toront  Press.

(Sumber: Makalah Seminar Kewarganegaraan TP 2005)

Source: https://sdislamradenpatah.wordpress.com/2013/10/15/pembelajaran-bahasa-inggris-di-sekolah-dasar/

Posted by: and-make.com