Apa Dasarnya Gereja Katolik Mengajarkan Bunda Maria Diangkat Ke Surga

Apa sumber akar tajali Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke kayangan?

Dogma Maria diangkat ke surga berhubungan dengan ramalan Gereja Katolik lainnya adapun Bunda Maria, yaitu bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, yang telah dipersiapkan sebelumnya maka itu Allah, sehingga Maria menjadi ‘Sang Tabut Perjanjian Baru’ yang mengandung Kristus sebagai penggenapan Perjanjian Lama.  Setolok sebagaimana Kristus yang dikandungnya dimuliakan Allah dengan kenaikan-Nya ke surga, demikian sekali lagi Bunda Maria dimuliakan oleh Yang mahakuasa dengan diangkat ke surga setelah akhir hidupnya di manjapada. Pengangkatan Bunda Maria ke taman firdaus ini memberikan pengharapan bagi penggenapan ikrar Allah kepada semua umat beriman yang patuh setakat pada akhirnya.

1. Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Hijau nan selalu bernas dalam ketunggalan dengan Kristus yang dikandungnya.

Kitab Mazmur mengajarkan, “Bangunlah, ya Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Dia serta tabut kekuatan-Mu!” (Mzm 132:8). Maria sebagai Tabut Perjanjian Bau kencur nan mengandung Kristus, akan selalu bersama dengan Kristus. Jika Henokh dan utusan tuhan Elia dapat diangkat maka itu Tuhan ke keindraan (lih. Kej 5:24, Ibr 11:5. 2 Raj 1:11-12, 1 Mak 2:58) maka terlebih pun Halikuljabbar Yesus dapat melakukan hal itu terhadap Ibu-Nya sendiri.

2. Kitab Masif menggambarkan secara konotatif bahwa Bunda Maria yaitu emir, yang menerima keagungan karena kemuliaan Puteranya.

Kitab Sri paduka- raja mengisahkan bagaimana Kaisar Salomo (anak Raja Daud) menghormati ibunya, Batsyeba, dan raja menyediakan kancah untuk bundanya di jihat kanannya (lih. 1 Raj 2:19). Kristus, umpama Raja keturunan Daud dan Putera Almalik koteng, akan berbuat yang setinggi, yaitu menghormati ibu-Nya dan menyediakan ajang baginya di sisi kanan-Nya di Suraloka. Jika raja di mayapada luang menghormati ibunya, maka Kristus Sang Raja di atas segala raja, tidak akan kurang dalam menjatah sanjungan kepada ibu nan bersalin-Nya ke dunia.

Kitab Mazmur mengilustrasikan perkawinan raja, di mana raja yang digambarkan di sana merupakan Kristus: “Engkau nan terelok di antara anak asuh- anak manusia…. Takhtamu kepunyaan Allah, teguh bagi seterusnya dan selamanya…. sebab itu Allah telah mengurapi kamu… di antara mereka nan disayangi terdapat puteri-puteri kaisar, disebelah kananmu berdiri prameswari berpakaian emas dari Ofir.” (Mzm 45:3-10) Permaisuri di sebelah kanan raja adalah bunda sang raja, seperti mana aji Batsyeba di jaman Raja Salomo.

Kitab Wahyu menayangkan Tabut perjanjian sebagai seorang perempuan yang mengandung Anak asuh laki- laki, “Maka terbukalah Bait Ceria Allah nan di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di n domestik Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan gemuruh guruh dan gempa dunia dan hujan angin es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Koteng perawan berselubungkan matahari, dengan rembulan di asal kakinya dan sebuah mahkota bermula dua belas bintang di atas kepalanya…. Maka anda bersalin seorang Momongan lanang, yang akan menggembalakan semua nasion dengan gada besi…” (Why 11:19- 12:1-12). Gereja Katolik menginterpretasikan ‘perempuan’ ini secara literal sebagai Bunda Maria, ialah “nona” yang sepadan yang disebutkan pada Kej 3:15 dan Yoh 2:4; 19:26. Doang demikian, Gereja Katolik juga menerima parafrase allegoris lainnya, ialah bahwa ‘perempuan’ ini bisa diinterpretasikan sebagai Gereja, Israel alias Yerusalem sorgawi.

3. Pengangkatan Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah.

Kitab Putih mengatakan bahwa seorang perempuan (yaitu Bunda Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menyakatkan perahu Hantu penunggu dan kuasanya, yaitu maut (lih. Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (lihat Rom 5-6, 1 Kor 15:21-26) di mana kematian akan ditelan intern kemenangan (1 Kor 15:54-57).

Rasul Paulus mengajarkan bahwa “…jika kita menderita serempak dengan Beliau [Kristus]…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Sira” (Rom 8:17). Kehidupan Bunda Maria sendiri diwarnai bermacam-macam penderitaan bersama Kristus, dan nubuat Nabi Simeon bahwa satu pedang akan menembus jiwanya (Luk 2:35) tergenapi di kaki salib Kristus, saat Bunda Maria mengaram Yesus Puteranya disiksa sampai wafat di hadapan matanya sendiri. Maka itu sebab Bunda Maria adalah ibu nan babaran Kristus dan karena itu dibebaskan Allah dari noda dosa, dan sebab Bunda Maria yaitu petatar Kristus yang pertama menderita bersama-Nya dengan sempurna, maka layaklah bahwa Yang mahakuasa Yesus menunaikan janji janji dalam Rom 8:17 ini. Demi memenuhi janji inilah, Halikuljabbar sudah menggotong Bunda
Maria, jasmani dan jiwanya ke privat
kemuliaan
surga, di intiha hidupnya. Sebab dikatakan dalam Kitab Zakiah bahwa Kristus adalah biji zakar barap nan kambuh pecah lengang, dan kemudian diikuti oleh sosok- orang lain [yaitu umat beriman] menurut urutannya (lih. 1 Kor 15:23). Sepantasnyalah Maria, sebagai ibu Yesus, menempati sekaan kedua sesudah Yesus. Bunda Maria menjadi yang pertama dari umat berketentuan yang ditempatkan di arah kanan Allah, sebagaimana yang dijanjikan Tuhan kepada mereka nan beriman dan hidup sesuai dengan imannya (lih. Mat 25:33).

Akhirnya, perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ Sang pencipta ke keindraan, dan bukan ‘menanjak’ ke indraloka.  Maria ‘diangkat’, jadi enggak karena kekuatannya koteng melainkan diangkat maka itu kuasa Allah, sementara itu Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya seorang. Bagi umat Katolik, situasi Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan penyongsongan akan kebangkitan tubuh di penutup zaman. Kita sebagai orang berkeyakinan, jika hidup setia dan setia kepada Sang pencipta sampai penghabisan, akan mengalami barang apa yang dijanjikan Tuhan itu: bahwa kita akan diangkat ke taman firdaus, tubuh dan jiwa, kerjakan berganduh dengan Dia n domestik kemuliaan surgawi. Maka, dogma Maria diangkat ke surga, tak amung-mata doktrin lakukan menghormati Maria, tetapi merupakan perayaan akan penyongsongan kita perumpamaan murid- murid Kristus.

Dasar Kitab Suci

  • Kej 3:15: Seorang perempuan [Maria] dan keturunannya [Yesus] akan meremukkan kepala ular cindai [Iblis]
  • 1 Raj 2:19: Bunda raja menerima penghormatan dari raja dan ditempatkan di sisi kanan raja
  • Mzm 45:3-10: Prameswari berpakaian emas di sisi kanan raja
  • Why 11:19- 12:1-12: Bunda Maria, Sang Tabut perjanjian dan perempuan yang beranak Anak laki- laki [Kristus] nan mendahului dunia.
  • Rom 5-6:23: Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Halikuljabbar ialah semangat yang kekal. (Maka Maria yang tidak berdosa, bukan mengalami kerusakan akibat maut)
  • 1 Kor 15:21-26: Semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus, tiap- tiap orang menurut urutannya.
  • 1 Kor 15:54: Maut ditelan internal kemajuan (ini digenapi dalam diri Bunda Maria nan bukan berdosa)
  • Rom 8:17: Mereka yang menderita bersama Yesus akan dimuliakan bersama Dia.

Dasar Tradisi Suci

  • Pseudo- Melito (300):
    Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasa-Mu, adalah nampak benar buat kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan indah, maka Ia sepatutnya menyanggang tubuh Bunda-Mu dan membawanya dengan-Mu, dengan doyan cita
    ke
    dalam
    surga. Dahulu pembukaan Sang Mukhalis [Yesus]: “Jadilah seperti mana perkataanmu”. (Pseudo- Melito,
    The Passing of the Virgin
    16:2-17)
  • Timotius bermula Yerusalem (400):
    Oleh karena itu Sang Upik [Maria] bukan tenang sampai detik ini, melihat bahwa Kamu yang pernah dahulu di dalamnya memindahkannya
    ke
    tempat pengangkatannya. (St. Timothy of Jerusalem,
    Homily on Simeon dan Anna)
  • Yohanes Sang Theolog (400):
    Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dan dari Rohulkudus. Setiap arwah yang memanggil namamu enggak akan dipermalukan, saja akan menemukan belas kasihan dan kesabaran dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di mayapada yang akan datang, di kerumahtanggaan kerelaan Bapa-Ku di
    Suralaya”… Dan berpangkal saat itu semua memafhumi bahwa fisik yang lain bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan
    ke
    surga.
    (John the Theologian,
    The Dormition of Mary)
  • Gregorius berpunca Tours (575)
    Para Rasul mengambil tubuhnya  [kunarpa Maria] dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, menginginkan Tuhan [Yesus] agar cak bertengger. Dan lihatlah, Tuhan datang
    kembali di hadapan mereka; dan pasca- mengamini jasad itu, Ia memerintahkan seyogiannya tubuh itu
    diangkat
    di peledak
    ke
    taman firdaus: di mana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para tersaring Allah … (Gregory of Tours,
    Eight Books of Miracles
    1:4)
  • Theoteknos dari Livias (600)
    Yakni layak … bahwa tubuh Bunda
    Maria
    yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak kemungkus, diterangi makanya rahmat ilahi dan
    kemuliaan yang munjung …. agar spirit di dunia cak bagi sementara dan
    diangkat
    ke
    surga
    dengan
    kemuliaan, dengan jiwanya nan menyenangkan Tuhan (Theoteknos,
    Homily on the Assumption)
  • St. Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
    Sebagai Bunda Kristus yang teratas… telah menerima umur berasal Dia [Kristus], ia sudah lalu mengakui kekekalan tubuh yang bukan rusak, bersama dengan Ia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan mandu yang hanya diketahui oleh-Nya. (Modestus, Encomium in dormitionnem Sanctissimae Dominae nostrae Deiparae semperque Virginis
    Mariae)
  • St. Germanus dari Konstantinopel (683)
    Sira ialah anda, …. nan nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu nan perawan adalah semuanya asli, bersih, keseluruhannya adalah medan tinggal Almalik, sehingga karena itu dibebaskan berbunga penguraian menjadi debu. Walaupun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam jiwa
    suralayawi yang tidak dapat musnah, alangkah arwah dan mulia, tidak rusak dan mengambil penggalan kerumahtanggaan
    kehidupan yang sempurna (St. Germanus, Sermon I).
  • St. Yohanes Damaskinus (697)
    Yakni patut bahwa sira, nan taat perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya berpokok kerusakan bahkan setelah kematiannya. Ialah cukup bahwa ia, yang telah menggendong Tuhan seumpama anak di dadanya, dapat tinggal di kerumahtanggaan tabernakel ilahi. Ialah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa
    kepuas-Nya, bisa sukma intern puri ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di kayu silang dan nan sudah menyepakati di dalam hatinya lamang duka cita yang tidak dialaminya bilamana melahirkan-Nya, dapat memandang Engkau momen Dia duduk di arah Bapa. Adalah sepan bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa dia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan andai Ibu dan hamba Tuhan (John Damascene,
    Dormition of Mary)
  • Gregorian Sacramentary (795)
    Terhormat buat kami, O Yang mahakuasa, perayaan masa ini, yang memperingati Bunda Tuhan nan asli nan meninggal dunia kerjakan temporer waktu, cuma tegar tidak dapat dijerat oleh maut, yang mutakadim melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya. (Gregorian Sacramentary, Veranda, ante 795)

Bawah Magisterium

  • Paus Pius XII dalam
    Konstitusi Apostolik
    Munificentissimus Deus
    (1950) mengajarkan:

“Makanya karena itu, Bunda Tuhan yang terhormat, dari segala abadiah digabungkan secara tersembunyi dengan Yesus Kristus …. akhirnya memperoleh sebagai puncak termulia dari barang apa haknya yang istimewa, bahwa ia harus dijaga agar independen dari kerusakan kubur dan bahwa begitu juga Puteranya, sesudah mengalahkan maut, ia dapat diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga, di mana misal Paduka tuan, ia duduk di dalam kemilau di sisi kanan Putera-Nya, Sultan segala masa nan kekal (lih. 1 Tim 1:17,
Munificentissimus Deus, 40)

“…. dengan kuasa dari Yang mahakuasa kita Yesus Kristus, [kuasa] mulai sejak Utusan tuhan Petrus dan Paulus yang terberkati, dan dengan kuasa kami koteng, kami mengumumkan, menyatakan dan menentukannya bak dogma yang ilhami Roh Kudus: bahwa Bunda Maria nan tidak bercalit, Nona Maria yang tunak perawan, setelah menyelesaikan kehidupannya di bumi, diangkat jasmani dan jiwanya ke intern kemuliaan surgawi.” (Munificentissimus Deus, 44)

  • Konsili Vatikan II (1962-1965), Konstitusi tentang Gereja,
    Lumen Gentium:
    “Akhirnya Putri lain berconteng, yang tidak jalinan terkena oleh segala kotor dosa sumber akar, sesudah menyelesaikan pengelanaan hidupnya di dunia, telah diangkat melampaui jalal di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu sejagat, supaya secara makin munjung menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala pemilik (lih. Why 19:16), yang telah mengecundang dosa dan maut.” (LG
    59)
  • Katekismus Gereja Katolik 966:
    KGK 966 “Akhirnya Gadis bukan berconteng, yang bukan pernah terkena oleh barang apa cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan pengelanaan hidupnya di dunia, mutakadim diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta jasmani dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Emir alam semesta, supaya secara lebih mumbung menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala apa tuan, yang mutakadim mengalahkan dosa dan maut” (LG  59, Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke keindraan oleh Paderi Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Amoi tersuci adalah satu keikutsertaan nan istimewa lega kebangkitan Puteranya dan suatu perincian berpangkal kebangkitan pemukim-warga Serani nan tidak.
    “Pada periode persalinan beliau kukuh mempertahankan keperawananmu, puas waktu meninggal, kamu tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah pula ke perigi kehidupan, dia yang telah menerima Allah yang usia dan yang akan membebaskan sukma-kehidupan kami terbit kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

Diskusi lebih lanjut

  • https://katolisitas.org/1564/apa-dasarnya-dom-katolik-mengajarkan-bunda-maria-diangkat-ke-surga
  • https://katolisitas.org/4392/siapa-perempuan-dalam-nubuat-12
  • https://katolisitas.org/5407/di-jihat-mana-bunda-maria-duduk-di-suwargaloka

Source: https://www.katolisitas.org/apa-dasar-ajaran-gereja-katolik-bahwa-bunda-maria-diangkat-ke-surga/

Posted by: and-make.com