Apa Dasar Kebahagiaan Keluarga Dalam Ajaran Kristen

Keluarga Kristen Yang Berbahagia

BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 05 February 2020

Anak-anak yang Sang pencipta anugerahkan di dalam hidup kita ialah kepercayaan yang harus kita pertanggungjawabkan kepadaNya. Oleh karena itu, sebagai bani adam beriman, kita memerlukan pedoman firman Tuhan untuk membuncitkan dan mendidik mereka hendaknya menjadi momongan-momongan yang berkenan di hadapanNya.
Sreg zaman suntuk, momongan-anak tumbuh kerumahtanggaan masyarakat yang dengan jelas menentukan apa yang bersusila dan segala nan keseleo, dan orang tua dipandang sebagai figur nan berwenang atas hidup mereka. Namun masa ini, akibat perubahan zaman, anak-anak kita mudah memberontak dan melakukan tindakan tidak etis, anti-batih, anti-khalayak tua, baik di sekolah dan di media. Hal ini lain perkariban terjadi lega zaman yang lalu. Pemberontakan dan ketidaktaatan yang momen ini terjadi, merupakan akibat berusul hancurnya otoritas orang sepuh. Biarpun pengaruh luar banyak mendorong momongan-anak bikin menghindari regulasi-peraturan nan ketat dan kesahihan yang alkitabiah, Almalik tetap menaruh bagasi jawab kepada orang tua untuk mengajar dan mendisiplinkan mereka.

Mengajar dan Mendisiplinkan

Puas masa Perjanjian Lama, Musa mengingatkan bangsa Israel akan tanggung jawab mereka kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka. “Belaka waspadalah dan berhati-hatilah supaya jangan engkau menghapuskan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seusia hidupmu. Beritahukanlah kepada momongan-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ulangan 4:9).

Anak-anak asuh boleh memilih dengan tepat bersendikan pelajaran yang diajarkan. Pada saat mengajar mereka, kita tidak saja memberikan daftar statuta yang harus ditaati, namun juga perlu menggunakan tindakan konkret buat melatih mereka sesuai dengan patokan Allah. Dengan sukma benar, orang tua memasrahkan kognisi kepada anak-momongan, bagaimana peraturan yang Allah berikan mutakadim membangun seluruh arwah kita. Dengan demikian, pada detik anak asuh-anak dewasa nanti, mereka telah membangun sifat untuk mengamalkan hal-situasi yang benar dan menyajikan Tuhan melalui keputusan yang mereka ambil sendiri.

Bila momongan-anak kita membiasakan semenjak kesalahan mereka dan memufakati koreksi yang ter-hormat, itu berarti bahwa kita sudah lalu mendidik mereka dengan benar. Sahaja jelas tidak ada kronologi pintas di intern mengajar anak-anak. Ilham orang sepuh merupakan perjalanan nan sulit, yang dimulai sejak anak asuh-anak lahir dan terus berlangsung selama bertahun-tahun. Anak-anak kali comar mengambil keputusan yang salah atau lebih lagi menolak wahi kita. Inilah perian-periode di mana kepatuhan sungguh-sungguh diperlukan.

Meskipun teori tentang disiplin yang benar rajin berubah-ganti, namun Alkitab tegas mengatakan bahwa anak-anak yang tidak patuh harus menerima koreksi (pembenaran), dan hal ini harus dilakukan dengan tongkat dan teguran. “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi momongan yang dibiarkan memermalukan ibunya” (Amsal 29:15). Berkali-kali orang tua bosan kerumahtanggaan mendisiplin anak-anak. Kadang-kadang ada hari-waktu tertentu nan penuh omelan dan kemarahan, sehingga orang lanjut usia bertanya-tanya apakah mereka sudah menenggelamkan hubungan anugerah dengan anak asuh-anak mereka, sampai-sampai mereka boleh jadi terpaut kerjakan tunduk.

Allah memilih dan memercayakan anak-momongan kepada ayah bunda bikin dirawat dengan sungguh-betapa. “Sebab Aku mutakadim memilih dia, cak agar diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya cak agar teguh kehidupan menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan kesamarataan…” (Kejadian 18:19). Engkau ingin Anda tahu bahwa koreksi nan tegas akan melatih anak-anak Ia bagi mematuhiNya. Koreksi yang konsisten dan mumbung kasih akan membantu anak asuh-anak Ia kerjakan berlatih legalitas yang alkitabiah, seperti disiplin diri. Abraham membesarkan anak-anaknya dengan samar muka akan Tuhan, karena itu Tuhan memberkatinya. Dengan menerapkan standar Allah, kita sekali lagi dapat menerima berbintang terang Allah bak orang tua.

Hubungan Antara Anak dan Orang tua

Di privat Alkitab, anak asuh-anak dipandang sebagai karunia Tuhan yang bisa membawa kesukaan dan kegundahan. Anak-anak asuh harus dikasihi, dihargai dan dihormati seperti orang dewasa. Mereka penting internal kerajaan Almalik dan mereka tidak untuk dimusnahkan (Maz. 127:3, Mat. 18:10, Maz 103:13, Tit. 2:4, Mat. 18:1-6). Anak-anak juga diberi tanggung jawab: menghargai dan meluhurkan orang tua, peduli terhadap mereka, mendengarkan mereka, dan setia kepada mereka (Kel. 20:12, Mar. 7:10-13, Ams. 1:8, 13:1, 23:22, Ef. 6:1). Efesus 6:1-3 mengatakan, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Yang mahakuasa, karena haruslah demikian.

Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti nan nyata bersumber janji ini: supaya kamu berbahagia dan tinggi umurmu di bumi.”
Meskipun privat tulisannya yang enggak Paulus lagi menjatah kritikan ekstrem kepada anak-anak yang tidak patuh (Rom. 1:30, 2 Tim. 3:1-5), namun itu bukan berarti bahwa momongan-anak harus selamanya patuh. Jika ayah bunda menanyakan mereka untuk melakukan hal-hal nan tidak alkitabiah, mereka harus bangun bahwa syariat Allah camar memiliki prerogatif yang lebih tinggi daripada perintah manusia (Kis. 5:29). Anak asuh-anak yang sudah dewasa dan meninggalkan manusia wreda mereka lakukan membangun keluarga baru juga bukan kontak terbebas semenjak beban jawab untuk menghormati insan tua mereka.

Sebaliknya orang tua n kepunyaan pikulan jawab bagi membagi teoretis perilaku orang Kristen dewasa, mengasihi anak-anak asuh mereka, peduli terhadap kebutuhan mereka, mengajar anak-anak asuh dan mendisiplin mereka dengan sungguh-sungguh (Tit. 2:4, Ul. 6:1-9, Ams. 22:6, 2 Kor. 12:14, Kol. 3:21). Efesus 6:4 mengatakan, “janganlah bangkitkan amarah di privat lever anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di kerumahtanggaan ramalan dan nasihat Tuhan.”

Dalam bukunya, “The Measure of a Family” (Ventura, Calif.: Regal,1976, 83-94), Gene A. Getz menyebutkan, kita menyalakan amarah anak bila kita melakukan pelecehan secara fisik alias lagi psikologis (dengan bermain kasar dan gagal memperlakukan mereka dengan khidmat), menaksirkan mereka, tidak memaklumi mereka, sesak berharap kepada mereka, tak mengasihi mereka bila mereka tidak melakukan suatu kebaikan, mengerasi mereka menerima maksud-intensi dan cita-cita kita, dan menolak untuk mengamini kesalahan kita. Sebaliknya, kita seyogiannya “membesarkan mereka” dengan menjadi contoh bagi anak-anak asuh kita dan memberi taklimat serta dorongan. Semua ini lebih mudah buat didiskusikan tinimbang dicapai. Anak-anak asuh, seperti pun orang tua, n kepunyaan perbedaan khuluk, sedangkan pengarahan yang alkitabiah dalam hal momong anak tidaklah sedetil yang diinginkan oleh banyak orang.

Namun puas zaman Perjanjian Lama, ada episode nan menyatukan semua prinsip dan merangkum ajaran Alkitab n domestik situasi mengasuh anak. Biarpun bagian ini ditulis bikin bangsa Israel sebelum mereka memasuki tanah perjanjian, alinea berikut ini dulu praktis digunakan kerumahtanggaan membesarkan momongan dan ialah bimbingan untuk para orang tua di zaman maju ini. “Inilah perintah, yakni ketetapan dan statuta, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah Sang pencipta, Allahmu, bagi dilakukan di negeri, ke mana anda pergi cak bagi mendudukinya, biar seumur hidupmu dia dan momongan cucumu tegak akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang plong segala apa ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu, dan cak agar lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai individu Israel! Lakukanlah itu dengan konstan, supaya baik keadaanmu, dan meski kamu menjadi adv amat banyak, seperti mana yang dijanjikan Almalik, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai makhluk Israel: Allah itu Allah kita, Yang mahakuasa itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu puas tahun ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam pelawatan, apabila engkau leyeh-leyeh dan apabila engkau ingat.” (Ul. 6:1-7)

Menjadi ayah bunda Kristen meliputi situasi-situasi berikut ini:

1.Mendengarkan

Ibu bapak yang baik mau mendengarkan perintah Allah dan mengerti perintah itu dengan sungguh-bukan main sehingga “tertanam intern hati” dan menjadi bagian dari diri. Pembelajaran ini diperoleh melewati keteraturan kerumahtanggaan mempelajari firman Tuhan, yaitu Bibel, dengan pertolongan Roh Asli sehingga firman Halikuljabbar itu menjadi jelas bagi kita.

2.Mematuhi

Pengetahuan sahaja tidaklah pas. Selain mendengarkan, ayah bunda harus terus mematuhi ketetapan dan perintah Allah. Bila ayah bunda bukan menunjukkan kehausan untuk mematuhi Allah, pada gilirannya anak-anak asuh mereka juga tidak akan memiliki keinginan bikin mematuhi insan tua mereka.


3.Mengasihi


Kita mengasihi Allah dan menyerahkan diri kita seutuhnya kepadaNya dengan sepenuh lever, jiwa, dan keistimewaan kita. Perhatikan bahwa penekanannya di sini adalah untuk basyar tua. Di samping kepentingan mereka, anak-anak bukan ditonjolkan internal Alkitab. Meskipun kita bisa mengaji bahwa Yesus tumbuh secara kognitif (privat hikmat bijaksana), fisik (bentuk awak), rohani (dalam hubunganNya dengan Tuhan), dan sosial (privat hubunganNya dengan orang tidak), kita sekadar mengetahui sedikit tentang masa kecilNya. Masa kecil memang terdepan, cuma keberadaan anak-anak bersama orang tuanya hanyalah sementara. Selanjutnya mereka akan meninggalkan ayah bunda mereka sebagaimana nan Sang pencipta perintahkan. Orang tua terlebih lalu cak semau sebagai bani adam yang mengasihi dan melayani Halikuljabbar. Takdirnya kita diberi anak, mengasuh mereka merupakan babak berpunca intensi roh kita, tetapi membesarkan anak bukanlah satu-satunya pamrih hidup kita.


Mengajar

Cak semau empat kaidah dalam mengajar:

  1. Dengan cangap. Meskipun mengasuh anak bukanlah satu-satunya tugas ibu bapak dalam semangat ini, bahara jawab ini penting dan tidak dapat diremehkan. Pendidikan anak asuh-momongan enggak sahaja dilakukan oleh salah satu pihak, ibu hanya atau ayah saja, belaka maka dari itu kedua belah pihak: ayah dan ibu. Ibu bapak dapat mendidik anak asuh usia balita dengan menanamkan nilai iman Serani melintasi karunia. Tentunya, orang tualah yang harus memberikan teladan bagaimana menyatakan kasih, sebab anak-anak enggak akan mengerti hidayah tanpa suka-suka teladan mulai sejak ibu bapak. Bikin anak hayat akil balig memang kian langka, doang dapat dilakukan dengan lebih banyak mengadakan pendekatan pribadi, dengan bicara adapun problem khusus atau masalah nan dihadapi di luar, dengan mengemukakan model-contoh nan baik dan nan tidak baik, yang teradat diketahuinya.
  2. Dengan berulang-ulang. Ulangan 11:19 mengatakan, “Engkau harus mengajarkannya kepada momongan-anakmu dengan membicarakannya, apabila kamu duduk di rumahmu dan apabila engkau medium dalam perjalanan, apabila engkau tergeletak dan apabila engkau bangun.” Bibel menunjukkan bahwa mengajar bukanlah usaha yang saja sekali dilakukan. Mengajar harus dilakukan orang tua dengan iteratif-ulang siang dan lilin lebah, karena peristiwa ini akan melicinkan anak asuh untuk mengerti apa yang kita ajarkan. N domestik menempa anak, mudah-mudahan sosok tua tidak hanya banyak cakap, saja lebih banyak memberikan konseptual kepada anak. Jadi, takdirnya orang tua lontok hendak mengajarkan firman Allah mereka harus terlebih dahulu menunjukkannya, memberikan contoh kepada anak. Peristiwa ini tentunya akan lebih melancarkan ayah bunda dalam mengajarkan segala sesuatu kepada anak.
  3. Secara alami. Pada saat kita duduk, berjalan, berbaring, dan bangun kita harus mencari kesempatan kerjakan mengajar. Ibadah keluarga yang kreatif dan sesuai dengan usia anak, bersifat menyenangkan tanpa menggurui, dan tidak berlarut-larut, sangat kontributif pengajaran ini selain lagi membina kebersamaan. Sreg dasarnya, sejak kecil anak-anak sudah bisa memahami alias kritis terhadap komplet yang diberikan orang tua renta, misalnya detik diajarkan berdoa. Namun, saat mereka sudah lalu mulai makin samudra, ayah bunda dapat mengajarkan kesaksian nasib, hidup yang dipimpin Almalik, hidup di dalam Tuhan, dan kembali mengajarkan bagaimana mengamalkan Firman Tuhan di n domestik hidup yang sesungguhnya.
  4. Secara pribadi.  Tindakan seseorang memiliki dampak yang lebih samudra daripada perkataannya. Peristiwa ini mengembalikan kita kepada pasal pertama kitab Ulangan. Pada saat orang tua mendengar, mematuhi, dan mengasihi, mereka memberi teladan kepada anak asuh-momongan mereka nan menguatkan apa yang dikatakan di kondominium. Perhatikan perkenalan awal “di flat”. Teman-teman sama tua dan temperatur adalah hamba allah-turunan yang penting, cuma kejadian-kejadian terpenting n domestik proses pengajaran dan mengasuh anak terjadi di rumah.

Bagaimana menjatah konseptual nan baik?

  • Cak agar anak-anak menjadi dapat dipercaya, Anda teristiadat percaya kepada diri Anda sendiri
  • Supaya momongan-momongan menjadi rendah hati, Anda perlu menunjukkan kerendahan hati dengan menyepakati kesalahan Anda, meminta izin, dan menunangi bantuan.
  • Biar anak-momongan mendengarkan Anda, luangkan waktu buat mendengarkan pandangan dan perhatian mereka dan bukan melulu membualkan rukyat Anda sendiri. (Dalam kejadian ini, yang diperlukan adalah kerinduan untuk mendengarkan hanya, tidak harus menyetujuinya).

Bagaimana mengajarkan nilai-skor yang baik?

  1. Beri sanjungan kepada anak pada saat mereka melakukan suatu tindakan kepatutan yang baik. Penghargaan ini biasanya berupa pujian atau pengakuan secara oral akan halnya perilaku positif yang sudah dilakukan anak Anda.
  2. Berikan julukan terselubung yang berupa kepada momongan Dia dengan pamrih menyerahkan rasa nyaman dan bangga dalam diri momongan sehingga anak terdorong bikin mengamalkan tindakan positif. Contoh n domestik menjatah julukan ini yakni “perlu orang yang dermawan sepertimu yang kepingin membagikan kuemu. Kamu betapa anak yang baik.”
  3. Membangun sikap peduli. Adakan kegiatan maupun diskusi tentang teman-tandingan dan tali pusar-plasenta, diskusikan hal-keadaan yang mereka sukai dan yang enggak mereka sukai. Kegiatan ini membantu anak Anda dalam mengenal insan lain dan mencatat bahwa basyar enggak menaksir dan tidak menaksir situasi yang berbeda-beda. Anda bisa meminta momongan Anda untuk membantu atau menghibur individu lain, serta menjauhi rasa tidak nyaman.
  4. Menawarkan dan menerima pertolongan. Momongan-momongan terbiasa diberi kesempatan bagi membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Hal ini bisa membantu menumbuhkan rasa bagasi jawab dalam diri mereka.
  5. Berlatih dari orang tidak. Ini merupakan metode yang paling kerap digunakan oleh para ibu bapak yang menonjolkan keadaan baik dan buruk dalam diri orang lain, dan mengklarifikasi apa yang moralistis dan nan salah. Kadang-kadang, contoh dari koran atau televisi bisa digunakan. Namun berhati-hatilah, jangan mengatakan orang tak itu baik dan anak Anda tidak baik. Peristiwa ini akan menciutkan lever momongan Anda.
  6. Bermain peran. Ini sekali lagi adalah metode nan sering digunakan. Sira bisa meminta anak Anda bakal mengibaratkan situasi tertentu, bagaimana dia meresponsnya, bagaimana beliau membuat keputusan, bagaimana perasaannya, dan apa konsekuensi dari tindakannya.
  7. Memuji dan memarahi. Dalam metode ini, katakanlah apa yang seharusnya dilakukan oleh momongan Beliau, jelaskan konsekuensinya, dan nyatakan prinsip moral yang harus diikuti. Konseptual: tanpa seizin dari kakaknya, anak Engkau mengambil buku yang dipinjam kakaknya dari perpustakaan. Dia dapat mengatakan, “Kamu tidak kiranya mengambil kunci kakakmu tanpa lamar ampunan darinya. Kakakmu terlampau sedih detik dia lain menemukan pokok itu. Takdirnya buku itu hilang, anda harus membayar ganti buku itu. Bila Ibu menjumut barangmu memikirkan manah hamba allah lain saat kamu melakukan sesuatu nan bisa memberi akibat kepada mereka.”
  8. Menunangi, tak mengatakan. Ini merupakan suatu metode alternatif kerjakan menyodorkan apa yang benar atau keseleo kepada momongan Anda. Keuntungan dari metode ini adalah supaya anak Anda memberikan alasannya koteng. Komplet: Anak Sira medium berperan dengan temannya, dan akhirnya mereka ki bentrok responsif. Anak Ia marah dan membuang mainan temannya ke jihat tembok, sehingga mainan itu tembelang. Kamu dapat menanyakan tanya-cak bertanya ini kepada anak Engkau. “Bagaimana ingatan temanmu jikalau kamu membuang mainannya?” “Bagaimana perasaanmu jika seseorang yang marah kepadamu, merusak dagangan-barangmu?” “Segala yang akan kamu lakukan jikalau kamu menjadi temanmu?” (cak bertanya buat bermain peran). “Peraturan-peraturan apa sahaja yang harus diingat jika kamu murka kepada basyar enggak?”
  9. Mengklarifikasi alasan. Anda bisa menjelaskan mengapa Anda memilih berbuat tindakan tertentu saat Anda menyampaikan tindakan-tindakan yang bermartabat. Berikut contoh nan bisa Engkau gunakan. “Dengan senang hati, saya mempersilakan ibu itu antri terlebih lampau. Cak semau banyak hal yang harus engkau kerjakan sehingga sulit baginya untuk antri lama. Saya senang menolong ibu itu menyelesaikan belanjaannya.”

Menanamkan biji-nilai spesial.

Berikut beberapa ide tentang bagaimana Anda bisa menjadi contoh privat menunjukkan angka-nilai khas kepada anak-momongan Anda.


  1. Karunia


    Menunjukkan kasih kepada anak-anak Anda, lain cukup doang dengan membelikan produk-produk untuk mereka alias belaka dengan menghabiskan waktu bersama mereka dan mengajari mereka saja. Mungkin peristiwa terpenting merupakan kemampuan memenuhi kebutuhan mereka. Kadang kala Anda tidak menyadari apa kebutuhan mereka. Berikut beberapa kebutuhan mereka.
  • Menjadi mandiri, melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.
  • Didengarkan, di mana pandangan dan perasaan mereka diperhatikan.
  • Memiliki nasib baik pribadi dan gelanggang pribadi.
  • Boleh memilih dan bersama-sebagaimana teman-teman mereka.

  1. Puja


    Hormat boleh ditunjukkan melalui mandu Kamu bercakap dengan anak-anak Anda. Apakah Kamu meremehkan mereka atau Kamu mendengarkan rukyat mereka? Apakah Anda mengkritik atau mengetahui perhatian mereka? Lega saat Anda bersama mereka, cobalah untuk mendengarkan dan mengarifi mereka meskipun Anda tidak harus sekata, tunjukkan kepada mereka bahwa mereka yaitu terdepan.

  2. Peduli, perhatian, dan mau berbagi


    Waktu cak bagi keluarga dapat digunakan oleh siapa saja bakal membagikan sesuatu. Bisa berbagi perasaan senang, situasi-peristiwa yang terjadi, situasi yang tidak menyenangkan, komedi/lelucon, maupun apa saja yang berarti. Anak asuh-anak yang lebih dewasa dapat diminta untuk melakukan sesuatu yang menunjukkan perhatian atau kepedulian mereka kepada cucu adam lain.
  3. Mengatakan nan sesungguhnya (jujur)

    Amatlah penting bagi Anda bikin menepati ikrar dan mengatakan nan benar kepada diri Engkau koteng. Kapan anak-anak berbohong, terdahulu pula memahami kok mereka perlu menghindari bikin mengatakan yang sebenarnya. Kemudian, cobalah untuk mengajarkan kepada mereka bagaimana menetapi kebutuhan mereka tanpa harus berbohong.(DO)
Sendang https://gkipi.org/keluarga-kristen-yang-bahagia/
Dikutip dari situs GKI Gubuk Sani Jakarta

Informasi Terkini selingkung sekolah kristen BPK PENABUR

Daftar Indeks Berita Terbaru pecah BPK Penabur

BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 05 February 2020

Keluarga Kristen Yang Berbahagia

BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 07 September 2020

Gempita PENABUR 9.9


BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 02 October 2020

Community Social Project (CSP) – Come, Lend A Hel…


BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 14 October 2020

Bebras Computational Thinking Challenge


BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 19 November 2020

Bintang SMA 2020

BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 14 September 2021

PENGUMUMAN Penataran SISWA Hijau – JALUR NON TEST

BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 09 September 2021

GREAT LEADER IN YOU

GREAT LEADER IN YOU


BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 16 September 2021

Kompetisi SAINS NASIONAL TINGKAT Kawasan

Sayembara SAINS NASIONAL TINGKAT Kawasan


BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 17 September 2021

RAISE A SMILE

RAISE A SMILE


BERITA BPK PENABUR JAKARTA – 24 September 2021

PENABUR BEBRAS CHALLENGE

PENABUR BEBRAS CHALLENGE

BERITA LAINNYA – 16 March 2021

S.E.M.U.Horizon

BERITA LAINNYA – 25 March 2021

PKBN2K – Perkawanan (II)

PKBN2K – PERSAHABATAN (II)


BERITA LAINNYA – 05 April 2021

MENJADI Pengarak DAMAI DALAM Anak bini

MENJADI Pemandu DAMAI Internal KELUARGA


BERITA LAINNYA – 22 April 2021

PERJUANGAN KARTINI Si Pemudi SEJATI

PERJUANGAN KARTINI SANG Upik SEJATI


BERITA LAINNYA – 16 July 2021

LUCHADORES – Alas kata Lingkungan Sekolah 2021

LUCHADORES, Pengenalan Lingkungan Sekolah 2021, S…

BERITA LAINNYA – 31 October 2021

NATIONAL FOOD OLYMPIC 2021

BERITA LAINNYA – 17 September 2020

WALK WITH PASSION


BERITA LAINNYA – 12 October 2020

Eksamen Nasional 2021 Dihapus dan Diganti Asesmen N…


BERITA LAINNYA – 15 February 2021

Makna Masa Valentine


BERITA LAINNYA – 30 July 2021

W.A.V.E. – WEEKLY AKT VERSES & QUOTES

W.A.V.E. – WEEKLY AKT VERSES & QUOTES

BERITA LAINNYA – 04 March 2022

Menjadi Pembawa Damai Sejahtera

BERITA LAINNYA – 04 March 2022

Awas, Jangan Terlukai Hoaks!!

Awas, Jangan Terlukai Hoaks!!


BERITA LAINNYA – 04 March 2022

Belajar dari Perempuan Disabilitas

Belajar bersumber Pemudi Disabilitas


BERITA LAINNYA – 04 March 2022

If It Breaks, It Breaks

If It Breaks, It Breaks


BERITA LAINNYA – 07 March 2022

LÁNG LÁILE – 狼来了

LÁNG LÁILE – 狼来了

Source: https://bpkpenabur.or.id/tangerang/smak-penabur-kota-tangerang/berita/berita-bpk-penabur-jakarta/keluarga-kristen-yang-berbahagia

Posted by: and-make.com