Apa Arti Prinsip Dasar Metode Belajar

Portal I

PEMBAHASAN

Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan nan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Setiap pendidikan itu tidak copot dari nan namanya proses belajar mengajar (proses penelaahan). Proses belajar mengajar merupakan proses dimana sendiri pendidik itu memberikan suatu pengetahuan maupun aji-aji kepada murid didik buat menjadi orang yang lebih baik pun.

Pada hakikatnya kegiatan membiasakan mengajar, berakibat atau tidaknya tujuan n domestik proses pembelajaran di sekolah merupakan bahara jawab seorang guru, sehingga sebelum mengadakan proses belajar mengajar seorang suhu harus sampai-sampai dahulu mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan pengajaran tersebut. Misalnya mempersiapkan matiri pengajaran, metode-metode yang digunakan dan onderdil lain nan berkaitan. Sebelum mengetahu metode-metode indoktrinasi, terlebih dahulu pendidik harus memahami kaidah-kaidah dan spesifikasi metode indoktrinasi nan dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.


1.



Apa pengertian prinsip metode mengajar ?


2.



Segala apa saja pendirian-cara metodik
khusus PAI ?


3.



Bagaimana spesifikasi metodik khas PAI ?

Kertas kerja metodik khusus penerimaan agama selam ini kami susun dengan tujuan memenuhi riuk satu tugas nan diberikan. Selan itu, sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disususn dengan tujuan bikin mencerna:


1.



Pengertian prinsip metode mengajar


2.



Prinsip-prinsip metodik khusus PAI


3.



Spesifikasi metodik spesifik PAI

Gerbang II

PEMBAHASAN


A.



Pengertian Mandu Metode Mengajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prinsip berguna asal ataupun asas. Maksudnya kesahihan yang menjadi dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya. Dengan alas kata lain pendirian adalah berbagai hal yang harus dijadikan standar atau pedoman n domestik menentukan bineka kejadian. Bila intern menentukan berbagai hal tersebut lain berpegang sreg mandu, maka hal nan terjadi kemudian yaitu tujuan yang tidak tercapai karena lega hakekatnya prinsip merupakan ciri dari sesuatu.



[1]





Prinsip lagi dapat di artikan sebagai sesuatu nan dipegang sebagai panutan yang terdahulu dan menjadi dasar intern upaya penelaahan, baik bakal siswa alias untuk master dalam uapaya mencapai hasil yang diinginkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dan peserta didik. Sementara itu pengertian metode mengajar ialah cara-cara meladeni incaran tuntunan kepada pelajar untuk tercapainya alamat tutorial kepada murid untuk tercapainya intensi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, salah satu kegesitan guru yang memegang peranan terdahulu internal pengajaran ialah kesigapan memilih metode.

Metode apapun yang dipilih dalam kegiatan sparing mengajar hendaklah menghakimi bilang cara yang melambari urgensi metode internal proses berlatih mengajar, ialah :


a.



Pendirian motivasi dan tujuan belajar


b.



Prinsip kematangan dan perbedaan
individual


c.



Prinsip integrasi kognisi dan camar duka


d.



Pendirian fungsional


e.



Cara menggembirakan.



[2]





Dengan demikian yang dimaksud prinsip metode mengajar adalah beragam hal yang dijadikan standar maupun pedoman dalam menentukan berbagai keadaan
n domestik penggunaan metode berlatih nan sesuai dengan kegiatan belajar mengajar.


B.



Prinsip-kaidah Metode Mengajar

Idividu merupakan manusia basyar-seorang yang n kepunyaan pribadi atau jiwa seorang. Khususan hidup itu menyebabkan individu yang satu berbeda dengan individu yang lain. Dengan perkataan lain, masing-masing manusia memiliki jiwa seorang.

Pada umumnya penyebab perbedaan itu dapat digolongkan ke dalam dua faktor yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Sejak lahir ke bumi, anak asuh sudah memiliki kehadiran berpikir dalam-dalam (cipta), kamauan (karsa), ingatan (rasa) dan kesanggupan indah yang dapat merintih orang dengan Tuhannya. Kesanggupan-kesanggupan ini sama bakal setiap anak.

Karena setiap individu mempunyai karakteristik sendiri dalam kedudukannya ditengah-tengah kekerabatan, per memiliki individu difference. Kerumahtanggaan Al-Qur’an menegaskan adanya perbedaan struktur sosial dan status sosial. Firman Allah SWT, yang artinya: “Dia memekakkan sebagian engkau atas sebagian (yang lain) beberapa derajat lakukan mengujimu adapun apa nan diberikannya kepadamu (QS. Al-An’am:165).

Dengan adanya faktor asing sama dengan pengaruh keluarga, kesempatan berlatih, metode mengajar, kurikulum, alam dan sebagainya, semakin menaik perbedaan kesanggupan setiap orangnnya. Perbedaan itu dapat dilihat lega:

Sejak dahulu hingga sekarang orang menentukan tingkat kelas murid beralaskan umurnya, misalnya kelas suatu SD terdiri bersumber anak-anak yang usianya heksa- hari. Semua anaka-anak yang duduk pada suatu inferior atau tingkat bersendikan umur dianggap dapat memperoleh keuntungan nan separas berpunca pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang diberikan dengan metode presentasi yang sederajat. Ketidakmampuan seseorang menguasai menguasai materi yang diberikan dijelaskan secara sederhana bahwa itu cuma disebabkan oleh faktor kemalasan.
Jadi terkadang tidak diperhatikan wara-wara bahwa murid-pelajar berlainan kemampuannya intern menerima tutorial atau dengan pembukaan enggak tidak dipertimbangkan bahwa anak asuh-momongan nan usianya sama tidak buruk perut mempunyai tingkat kedewasaan belajar yang sederajat.


2.



Perbedaan Inteleligensi

Jika dibandingkan antara anak yang pada dasarnya pandai dengan anak asuh yang kurang juru, maka akan kelihatan beberapa perbedaan seperti berikut:

Anak nan pandai:


a.



Cepat menangkap isi pelajaran


b.



Tahan lama memusatkan pikiran pada pelajaran dan kegiatan


c.



Dorongan ingintahu kuat, banyak inisiatif


d.



Dapat mengkritik diri sendiri, tahu bahwa ia tak tahu


e.



Memiliki minat yang luas.

Sedangkan anak nan invalid pakar berlaku keadaan sebaliknya:


a.



Lambat menangkap cak bimbingan


b.



Perhatiannya terhadap
pelajaran cepat hilang


c.



Kurang dan lain punya inisiatif dan sebagainya.


3.



Perbedaan keberadaan dan kecepatan

Dalam berbuat kegiatan-kegiatan sekolah, kesanggupan dan kederasan anak berbeda. Anak yang cerdas akan jauh lebih cepat menyelesaikan tugas-tugasnya kerumahtanggaan hitungan berasal sreg momongan yang kurang cerdas. Demikian pula dalam beraneka rupa permukaan terdapat perbedaan kesediaan. Namun demikian, musykil dijumpai orang nan pandai alias beloh dalam sega bidang. Nan umum ialah kurang pandai dalam satu ataupun bilang parasan semata-mata n domestik hal lain menunjukkan kesanggupan. Berdasarkan kenyataan tersebut , teradat dipikirkan bagaimana cara mengorganisir pelajaran sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi atau sesuai dengan keikhlasan anak sebagai individu.

DR. Maria Montessori nan mula-mula memperhatikan hal ini dan menganjurkan adanya pengajaran individual. Prinsip yang dikemukakan adalah: “Pekerjaan sekolah harus disesuaikan kepada individu.” Anak-momongan harus diberikan kesempatan untuk melebarkan diri sesuai dengan daya-dayanya yang terbaik dan sesuai dengan kepantasan berkembang plong tiap-tiap anak asuh.

Untuk menetapi pendirian perbedaan individu, Thomas M. Risk memunculkan dua macam pendekatan yaitu: “One approach placed emphasis upon individualized intruction to provide for individual needs and supplied group work of some kind as a supplement to provide for socialization. The other approach placed emphasis upon group work and used various means to privede for khusus needs.”

Kedua pendekatan ini bukanlah merupakan dua hal nan bertentangan melainkan saling mengisi dan setolok pentingnya. Pendekatan yang pertama lebih memfokuskan pada indoktrinasi individual untuk memenuhi kebutuhan turunan dan belajar kelompok semata-mata merupakan pelengkap untuk pemasyarakatan. Sebaliknya, pendekatan yang kedua berusaha memenuhi perbedaan-perbedaan basyar dengan mengorganisir kegiatan-kegiatan belajar yang teradat bagi pelajar dalam hubungannya dengan kegiatan gerombolan.

Pada prinsipnya konotasi kebebasan mengandung tiga aspek adalah: “Self-direction, Self-discipline and self-control”. Kesalahan mengartikan kemerdekaan menjadi sebab dari kebanyakan bencana sosial yang kita hadapi tidak cuma disekolah cuma pun di semua lembaga. Fulthon Sheen telah membatasi kebebasan dalam tiga kategori adalah: anarchy, totalitarianism, dan democcracy. Kebebasan nan ketiga inilah yang dipersamakan dengan self-direction, self-discipline and self-sontrol.

Sejak awal waktu kanak-kanak setiap cucu adam mengelepai pada orang dewasa dalam hal kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Ketika anak itu tumbuh dan berkembang, mulailah ia merasakan dorongan melakukan apa-galanya menurut caranya seorang. Dorongan ini terkadang dibatasi oleh bani adam dewasa bila dianggap menganggu. Banyak gejala rasa ketidaktergantungan anak dilihat oleh orang dewasa seumpama pembangkangan, tidak menyesuaikan diri atau kekasaran. Ada kalanya beberapa di anatara anak muda lebih cepat matang kerjakan menujukan dan menentukan diri koteng dibanding dengan yang lain. Kendatipun demikian ada bilang ayah bunda dan master tidak memperkenakan milik mengarahkan dan menentukan diri sendiri itu bagaimanapun matangnnya anak. Seseorang yang menginginkan pengarahan diri sendriri sonder disiplin diri adalah paradoks. Bisa tetapi ia menjadi seorang yang mementingkan diri sendri, tetapi hal itu berlainan dengan insan yang mengacungkan diri.

Self-discipline mengajurkan pembuatan keputusan-keputusan tentang tindakan-tindakan seseorang didasarkan pada matra amal, walaupun aliran filsafat n kepunyaan pengertian yang berlainan akan halnya darmabakti. Internal pengetahuan kehidupan sehari-hari rajin terjadi orang mempertaruhkan kesejahteraan dan keselamatan dirinya cak bagi kepentingan dan garis haluan umum atau untuk mencapai sesuatu yang kian baik.

Self-discipline nan tahir harus datang dari dalam diri sendiri. Takdirnya dipaksa dari luar, akan berlanjut selama ada orang yang memaksanya atau menyerahkan ancaman hukuman.

Self-control ialah suatu pengertian nan berbeda dari self-discipline, lamun keduanga erat hubungannya. Self-control, seperti halnya self-discipline harus menclok dari dalam diri. Hanya sejumlah pengarahan dan kepatuhan harus datang berpokok luar diri sehingga sistem kontrol diri berkembang. Orang dewasa yang bertanggungjawab atas pertumbuhan dan perkembangan anak muda tidak persaudaraan melupakan keterangan bahwa satu kepatuhan nan dipaksakan dari luar harus ditujukan kearah diri sendiri dan disiplin diri, bukan penurut dan penakut.

Dalam situasi belajar-mengajar, metode disiplin yang digunakan makanya hawa boleh mempengaruhi perkembanagan kemampuan murid bikin menyucikan akibat-akibat dari tingkah lakunya. Guru-gutu dan turunan dewasa enggak yang gandeng dengan orang tidak harus ialah “therapist” privat pendekatannya kerjakan memahami tingkah laris manusia dan memilih metode kepatuhan mana yang digunakan intern setiap keadaan.

Sesudah mengarifi aspek-aspek nan tercakup dalam kebebasan, akan ditinjau makin lanjut bagaimanakah pelaksanaan kedaulatan itu dalam hal sparing-mengajar atau bagaimana pelaksanaan satu metode mengajar boleh berekspansi self-direction, self-discipline, dan self-control.

Setiap anak harus dapatmengembangkan diri sendiri dengan bebas, demikian prinsip yang menjadi ciri metode montessori. Untuk itu anak asuh-anak asuh harus dibimbing sedemikian rupa sehingga dengan membimbing keaktifan mereka secara baik, mereka akan sanggup tegak seorang. Sebaliknya kalau guru menguasai pesuluh-murid dan memaksakan kehendaknya kepada mereka, mereka akan menjadi orang yang silam tergantung kepada basyar lain dan tidak mempunyai inisiatif.

Anak adam lahir ke dunia, dalam suatu mileu dengan pembawaan tertentu. Darah yang berpotensial itu tidak eksklusif melainkan bersifat umum dan boleh berkembang menjadi bermacam-keberagaman kenyataan akibat interaksi dengan lingkungan. Pembawaan menentukan had-batas prospek nan dapat dicapai maka itu seseorang, akan tetapi lingkungan menentukan menjadi seseorang manusia privat permakluman. Tentang guna pembawaan dan lingkungan, Henry E.Garret mengatakan bahwa pembawaan dan lingkungan bukanlah hal yang berlawanan melainkan salaing membutuhkan.

Lingkungan yang buruk dapat merintangi pembawaan nan baik, saja lingkungan yang baik tidak dapat menjadi pengganti suatu talenta yang baik.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh para pandai psikologi diperoleh petunjuk seumpama berikut: faktor pembawaan makin menentukan dalam peristiwa intigensi, fisik, reaksi pengindraan, padahal mileu lebih berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan, fiil, dan nilai-nilai. Kejujuran, gembira, murung dan ketergantungan kepada basyar lain lalu dipengaruhi oleh training (sparing).

Prinsip globalisasi diterapkan dalam pengajaran bak akibat dari pengaturan serebral gestlat dan ilmu jiwa totalitas. Perkataan “Gestlat” dari berbunga bahasa jerman yang berarti rencana ataupun rupa. Privat bahasa inggris dikenal dengan “whole”, sedangkan dalam bahasa Belanda adalah “blobaal”. Psikologi ini memunculkan bahwa bentuk itu lebih banyak artinya semenjak pada jumlah partikel-unsurnya dan kelebihan tiap-tiap unsur ditentukan oleh kedudukannya dalam bentuk. Psikologi totalitas mengemukakan mengenai pengamatan anak sebagai berikut:

Plong tahun mengamati sesuatu bakal pertama kalinya, terbentuklah satu paparan yang menyeluruh (global) tetapi kabur (bagian-bagiannya bukan begitu jelas). Sesudah pengamatan itu diulang, gambaran itu menjadi lebih sorot, penggalan-bagiannya semakin jelas kelihatan.

Jika ditinjau dari sudut pelajar ibarat pribadi nan melakukan belajar, maka psikologi gestlat mengemukakan bahwa “insan beraksi terhadap lingkungan secara keseluruhan, lain saja secara ilmuwan, tetapi lagi secara fisik sosial dan sebagainya.

Sesuai dengan kaidah psikologi gestalt dan totalitas tersebut, dpat disimpulkan bahwa bahan pelajaran agama yang diberikan kepada murid hendaknya merupakan kesatuan yang berharga, tidak bagian-bagian nan lepas. Sedemikian itu pula seluruh aspek (cipta, rasa, kehendak, tingkah laku, hubungan sosial dan sebagainya) harus diperhatikan.

Prinsip kesejagatan internal pengajaran menekankan bahwa keseluruhan itulah nan harus menjadi titik permulaan pengajaran. Anak selalu mencacat keseluruhan kian dahulu kemusian bagian-bagiannya. Lakukan kepentingan itulah maka n domestik kurikulum di beri nubuat agar setiap hawa takhlik satuan bahasan, kemudian terbit satuan bahasan itu dibuat pelajaran.


5.



Muslihat-Pusat Minat

Secara sederhana minat merupakan kegairahan yang tinggi atau besar terhadap sesuatau. Pembicaraan mengenai trik-pusat minat akan dihadapkan kepada pertanyaan: apakah yang menyeret minat setiap anak dalam keadaan bagaimananpun pula dan dimanapun ia tinggal ? turunan yang n kepunyaan minat akan halnya kesenian, dengan sendirinya perhatiannya menuju kearah kesenian.

Minat adalah kecenderungan jiwa yang taat kejurusan sesuatu peristiwa yang berharga bagi orang. Sesuatu yang berguna cak bagi seseorang adalah nan sesuai dengan kebutuhannya.

Menurut Decroly, “minat adalah pernyataan satu kebutuhan yang bukan terpenuhi”. Kebutuhan itu ketimbul mulai sejak galakan hendak memberi kepuasan kepada suatu instink. Minat terhadap benda-benda tertentu bisa timbul dari berbagai sumber antara tidak perkembangan instink dan hasrat, fungsi-maslahat jauhari, pengaruh mileu, pengalaman, adat, pendidikan dan sebagainya.

Kebutahan yang minimal penting dan umum menurut Decroly adalah:


1.



Kebutuhan akan makanan


2.



Kebutuhan akan perlindungan terhadap pengaruh iklim (rok dan apartemen)


3.



Kebutuhan mempertahankan diri terhadap beraneka ragam bisikan dan musuh.


4.



Kebutuhan akan kerja setolok, akan permainan dan sport. Keempat kebutuhan itulah yang menjadi kancing minat itulah sasaran pelajaran dikumpulkan.

Pada prinsipnya Decroly semata-mata menunjukkan perkembangan semoga orang menciptakan suatu syarat, nan dapat membentuk momongan-anak asuh, rohani dan jasmani, menjadi anggota nan penting sekali lagi mulia dalam publik, mempersiapkan anak asuh untuk melakukan tugas yang akan dipenuhinya lusa dalam kehidupan.

Jika bahan tutorial diambil dari kancing-kunci minat anak, dengan sendirinya perhatian sepontan akan timbul sehingga sparing akan berlangsung dengan baik. Urut-urutan pelajaran pusat minat itu pada prinsipnya menghampari pengamatan nan aktif (observasi) asosiatif dan ekspresif.

Pada sekolah kuno, observasi atau pengamatan dilakukan seperti berikut: guru merencana tentang sesuatu benda dan anak-anak asuh duduk dengan tangan berlipat sinkron mendengarkan dan melihat. Pada sekolah Decroly, semua perabot berkolaborasi-sepadan, seluruh kepribadian masuk bekerja. Untuk itu haruslah diadakan latihan-pelajaran melakukan ulah-perbuatan yang praktis, yang berjasa.

Tingkat berikutnya adalah asosisi. Pengalama-pengalaman yang telah diperoleh kerumahtanggaan observasi diselesaikan lanjur. Dengan bahan yang konkritbyang dikumpulkan sreg fase observasi dibentuk pengertian-konotasi dan tanggapan-tanggapan hijau yang tidak diamati dengan langsung.

Langkah berikutnya ialah ekspresi. Pada fase ini anak asuh diberikan kesempatan untuk babaran perasaannya dengan terjadwal maupun lisan. Juga melintasi susuk, pekerjaan tanggan, sandiwara, do’a, nyanyian dan sebagainya

Kerumahtanggaan mempelajari proses berlatih, para pakar psikologi memajukan satu kenyataan bahwa khalayak adalah organisme yang bulat bereaksi terhadap hal lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa situasi belajar yakni kompleks yang di dalamnya banyak perangsang bekerja. Lebih lanjut ditekankan juga bahwa individu adalah organisme yang inteligen dan punya tujuan-harapan.

Thomas M. Risk menyodorkan adapun sparing-mengajar seumpama berikut: “Teaching is the guidance of learning eksperience” Mengajar adalah proses membimbing pengalaman berlatih. Pengalaman itu sendiri cuma mungkin diperoleh bila murid itu dengan keaktifan sendiri bereaksi terhadap lingkungannya. Suhu dapat kontributif momongan itu belajar, semata-mata hawa tidak dapat belajar cak bagi anak asuh itu. Takdirnya sendiri pelajar ingin membiasakan memecahkan suatu problem, ia harus berpikir dalam-dalam menurut langkah-persiapan tertentu, kalau ia ingin menguasai satu kelincahan, sira harus berlatih mengkoordinasikan urat-otot tertentu, seandainya ia ingin memiliki sikap-sikap tertentu, ia harus memiliki sejumlah pengalaman emosional.

Istilah motivasi (dari perkataan motivate-motivation) banyak digunakan dalam majemuk permukaan dan situasi. S. Nasution, M.A. mengemukakan:
“To motivate a child to arrange condition so that the wants to do what he is capable doing”
Memotivasi murid merupakan menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau mengerjakan apa yang boleh dilakukannya. Thomas M. Risk mengemukakan mengenai senawat ibarat berikut: “we may now define motivation, in a pedagogical sense, as the concious effort on the part of teacher to estabilish in students motives leading to sustained activity toward the learning goals”. Ki dorongan adalah usaha yang didasari maka dari itu pihak guru cak bagi meninmbulkan motif-motif pada diri petatar yang menyenggol kegiatan ke arah tujuan-pamrih belajar.

Cemeti bak satu proses, mengantarkan murid kepada pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat nelajar. Sebagai proses, motivasi mempunyai fungsi antara tak :


1)



Memberi kehidupan dan mengaktifkan murid agar setia berperhatian dan siaga.


2)



Memusatkan ingatan anak lega tugas-tugas tertentu yang berbimbing dengan pencapaian tujuan belajar.


3)



Kontributif menunaikan janji kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil paser panjang.



[3]





Berdasarkan pendapat Prof. Dr. H. Ramayulis kerumahtanggaan bukunya yang berjudul “Metodologi Pendidikan Agama Islam” bahwa prinsip-prinsip metode khusus belajar PAI adalah sebagai berikut :


1.



Berfokus Pada Pesuluh asuh

Pelajar didik memiliki perbedaan satu setara bukan. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek diantaranya:


a.



Perbedaan minat dan perhatian

Perhatian keseleo satu faktor psikologis yang boleh membantu terjadinya interaksi intern proses berlatih dan mengajar. Kondisi psikologi ini dapat terbentuk melalui 2 hal purwa, yang timbul secara interinsik dan yang kedua melalui mangsa pelajaran.

Seyogiannya pendidikan agama dapat berakibat dengan baik maka minat dan pikiran peserta bimbing tidak boleh diabaikan. Kerjakan itu pendidik agama harus mengusahakan :


a.



Hendaknya pengajaran agama disusun sedemikian rupa, sehingga boleh di sambar dengan penuh perasaan oleh anak asuh didik.


b.



Sepatutnya siswa n kepunyaan minat pada pelajaran agama, kursus itu harus disajikan sesedapnya bagi mereka.


b.



Perbedaan mandu belajar

Cara berlatih peserta didik dapat dikategorikan ke privat cara, yakni: 1) cara belajar somatik, adalah nan bertambah menekankan pada aspek gerak tubuh atau belajar dengan berbuat, 2) kaidah berlatih auditif yaitu cara sparing yang makin menekankan pada aspek pendengaran, 3) cara belajar optis, adalah kaidah membiasakan yang kian menekankan pada aspek pengelihatan, 4) cara belajar intelektual adalah cara membiasakan yang lebih menggarisbawahi pada aspek penalaran atau logika.

Sehubung dengan hal tersebut maka kegiatan pembelajaran harus dilakukan dengan metode nan berbagai, sesuai dengan perbedaan cara belajar petatar ajar.


c.



Perbedaan intelek

Pelajar didik mempunyai kepintaran yang berbeda. Kecerdasan yang dimaksud yakni: kecerdasan linguistik, logis intra personal, dan naturalis. Hendaknya kesemua kecerdasan dapat dikembangkan maka proses pembelajarn seharusnya dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan setiap potensi intelek yang dimiliki peserta didik tersebut berkembang dengan baik. Di dalam pendidikan agama Islam selain kecerdikan diatas nan kian diutamakan adalah kecerdasan spiritual dan emosional.


2.



Belajar dengan melakukan

Ditinjau dari psikologi momongan maka anak yang norma caruk berperan sesuai dengan strata perkembangan umur mereka. Dia mengadakan reaksi terhadap lingkungannya, maupun adanya aksi semenjak lingkungan maka ia melakukan kegiatan atau aktivitas dalam pendidikan kuno aktivitas anak tidak pernah diperhatikan karena menurut rukyat mereka anak dilahirkan tidak lain sebagai “orang dewasa dalam bentuk mungil” kamu harus diajar menurut karsa orang dewasa karena itu dia harus menerima dan mendengarkan apa yang diberikan dan disampaikan cucu adam dewasa atau pendidik tanpa dikritik. Anak enggak ubahnya seperti gelas hampa yang pasif menerima barang apa saja nan dituangkan ke dalamnya.

Pendidikan modern merombak dan mengubah rukyat di atas dan menggantikannya dengan penyelidikan pada kegiatan anak kerumahtanggaan proses pembelajaran mengajar. Anak aktif mengejar seorang dan berkreasi sendiri. Dengan demikian momongan akan makin bertanggung jawab dan berani mengambil keputusan sehingga signifikasi mengenai suatu persoalan benar-benar mereka pahami dengan baik.

Menurut rukyat ilmu jiwa setiap pelajar didik hanya belajar 10% bersumber yang dibaca, 20% dari yang di dengar, 30% dari yang dilihat dan 90% dari yang dikatakan dan dilakukan. Al-Qur’an mengemukakan ada dampak faktual dari kegiatan partisipasi aktif, yang di ucap dengan amal soleh. Firman Allah SWT bercakap :

Artinya : “…kecuali orang-orang yang berketentuan dan bersedekah soleh, bikin mereka pahala nan tidak terhingga” (Q.S. At-Tiin : 6)

N domestik pendidikan agama Selam, misalnya, lega tuntunan ibadah sholat, sifat, anak yang suka bergerak teradat mempergunakan baik-baik dengan mengadakan dramatisasi, darmawisata ke arena-tempat peribadatan, bersama-sama membersihkan tempat sholat, menerangkan dan menyiapkan palagan wudhu, saling menolong internal menghapal bacaan-bacaan sholat, latihat praktik bersama-sebabat, sembahyang berjamaah di surau dibawah pimpinan pendidik dan sebagainya


3.



Berekspansi Kemampuan Sosial

Kegiatan pembelajaran enggak tetapi mengintensifkan kemampuan istimewa peserta didik secara n domestik, melainkan juga mengasah kemampuan pelajar asuh untuk membangun hubungan dengan pihak tak. Malalui interaksi dengan kutub sejawat maupun pendidik. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap kesadaran murid didik melalui diskusi, ubah menyoal, saling menjelaskan. Interaksi boleh ditingkatkan dengan sparing kelompok. Penyampaian gagasan siswa didik boleh mempertajam, memperdalam, memantapkan atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari pesuluh didik enggak atau pendidik.


4.



Mengembangakan Manifesto

Cak bagi mengembangkan keingintahuan tersebut pendidik dituntut untuk memenuhi kebutuhan pesuluh didik tersebut secara maksimal.

Usaha ini dapat dikembangkan melewati berbagai aktivitas belajar seperti: tanya jawab, urun rembuk, musyawarah, seminar, praktik study tour dan sebagainya. Misal arena menemukan jawaban-jawaban. Disinilah kesempatan memberikan jawaban yang tepat, benar akurat dan memuaskan perhatian peserta didik sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan.


5.



Mengembangkan Fitrah Bertuhan

Manusia merupakan makhluk yang berketuhanan ataupun sosok nan beragama. Privat pandangan Islam, sejak di tunggul usia sudah lalu mempunyai komitmen bahwa Allah adalah Tuhannya. Firman Halikuljabbar yang artinya : “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu melepaskan keturunak anak Adam semenjak sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap umur mereka (sembari merenjeng lidah): “bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab : “betul (Engkau Allah kami)”, kami menjadi saksi” (Q.S. Al-A’raf: 72)

Adanya kebutuhan terhadap agama disebabkan sosok selaku makhluk Tuhan dibekali dengan berbagai potensi (fitrah) yang dibawa sejak lahir. Salah satu fitrah tersebut adalah kecendrungan terhadap agama Islam.

Usaha pengembangan fitrah bertuhan dalam ajaran agama Islam dimulai sejak dalam kandungna dan berpisah setelah berpisahnya semangat dengan badan. Pengembangan fitrah bertuhan ini dilaksanakan dalam segala jongkong dan pangkat pendidikan baik formal, non formal dan informal.


6.



Meluaskan Keterampilan Pemisahan Masalah

Murid bimbing perlu dilatih bakal mengendalikan masalah hendaknya ia berhasil dalam kehidupannya. Bakal memecahkan satu keburukan John Dewey mengemukakan sebagai berikut:


1)



Mengemukakan persoalan atau keburukan. Pendidik menghadapkan ki aib nan akan dipecahkan kepada murid-murid.


2)



Memperjelas permasalahan maupun masalah. Keburukan tersebut dirumuskan oleh pendidik bersama murid-muridnya.


3)



Mematamatai peluang jawaban murid-murid bersama pendidik mencari peluang-kemungkinan yang akan dilaksanakan dalam pemecahan persoalan.


4)



Mencoba kemungkinan yang di anggap menguntungkan. Pendidik menetapkan cara pemecahan kelainan yang dianggap paling tepat.


5)



Penilaian. Cara yang ditempuh dinilai, apakah dapat mendatangkan hasil yang diharapkan atau tidak.


7.



Meluaskan Kreatifitas Peserta Didik

Dalam kegiatan pembelajaran dikondisikan peserta didik n kepunyaan kesempatan dan kemerdekaan meluaskan diri sesuai dengan kecendrungan dan bakat tiap-tiap. Pendidik kiranya berupaya memasrahkan kesempatan kepada peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya sebanyak kali.


8.



Meluaskan Kemampuan Menggunakan Ilmu dan Teknologi

Peserta didik teradat mengenal penggunaan hobatan pengetahuan dan teknologi sejak prematur. Supaya siswa didik tidak luar terhadap perkembangan aji-aji dan teknologi, maka dari itu karena itu pendidik agar mengaitkan materi yang disampaikan dengan kemenangan ilmu dan terknologi. Hal ini bisa diciptakan dengan pemberian tugas yang mengharuskan petatar asuh bersambung langsung dengan teknologi, misalnya menciptakan menjadikan warta tentang materi tertentu dari multimedia seperti televisi, radio, atau internet. Dan menjadikannya laksana media pembelajaran. Pendidikan Agama Selam harus kembali diintegrasikan dengan ilmu permakluman dan teknologi.


9.



Menumbuhkan Kesadaran bak Penduduk Negara yang Baik

Peserta asuh perlu memperoleh wawasan dan kesadaran bikin menjadi warga negara nan gemuk dan bertanggung jawab. Dengen demikian dalam kegiatan wajib diciptakan nasionalisme dan menjatah wawasan skor-poin moral dan sosial yang dapat membekali peserta didik agar menjadi pemukim mahajana dan warga negara yang bertanggung jawab. Dengan demikian menimbulkan kesadaran peserta didik akan kemajmukan nasion akibat keragaman geografis, budaya, sosial, tradisi, agama, perigi pusat alam dan sumber daya manusia. Proses pendedahan hendaknya menggugah kesadaran pelajar didik akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Peristiwa ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW, intern sabdanya : “cinta ibu pertiwi adegan dari iman”.


10.



Belajar Sepanjang Semangat

Kewajiban dalam islam tak dibatasi oleh spirit beruntun tertentu atau sebatas pada jenjang pendidikan formal, namun sekali lagi secara informal . dimanapun congah, setiap orang islam harus mencari ilmu. Kerjakan itu, pendidik seharusnya mendorong peserta ajar bakal terus mencari ilmu dimanapun bakir, tidak namun dibangku sekolah (pendidikan baku) tapi kembali di awam (pendidikan non-formal) dan anak bini (pendidikan informal).


11.



Perpaduan Kompetensi, kolaborasi dan solidaritas

Pelajar didik perlu berkompetensi, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. Kegiatan pembelajaran perlu menerimakan kesempatan kepada peserta jaga untuk
mengembangkan semangat fastabiqul khairot(kompetensi), taawun (bekerjasama) dan kerjasama, dan kekompakan, kegiatan pembelajaran dapat dirancang dengan metode pemberian tugas (resitasi) atau tugas-tugas yang bekerja mandiri, atau kerja kerumunan.


12.



Belajar melangkaui emulsi

Internal umur sehari-periode boleh kita saksiakan tindakan keyakinan yang dilakukan maka dari itu momongan-anak pada dasarnya mereka perokeh bermula ki belajar. Berdoa, shalat misalnya mereka melaksanakan hasil mengintai ragam dilingkungannya, baik beripa penyesuaian alias pengajaran nan intensif. Hendaknya petatar tuntun meneladan yang riil baik berpunca pendidiknya maka pendidik harus menjadikan diri sebagai uswatun hasanah dengan menampilkan diri sebagai mata air norma, budi yang luhur, wajah yang cerah, dan prilaku yang elok.


13.



Sparing melalui pembiasaan

Pembiasaaan adalah upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak. Hasil berusul adaptasi yang dilakukan oleh pendidik merupakan terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didik. Kebiasaan direncanakan terlebih tinggal, dan berlaku begitu juga tanpa dipikirkan lagi. Habituasi dalam pendidikan agama hendaknya dimulai sedini boleh jadi. Oleh sebab itu, pendidik agama harus melatih peserta didik membiasakan diri n domestik beriabadah, bermuamalah dan berprilaku yang baik.


C.



Pengertian
dan Spesifikasi Metodik Partikular PAI

N domestik Kamus Samudra Bahasa Indonesia spesifikasi berarti proses, cara, perbuatan, melakukan pemilihan, runding adapun rancangan proposal, dan sebagainya. Atau pernyataan adapun keadaan-hal tunggal.



[4]





Bersabda tentang spesifikasi metodik unik berguna berfirman tentang pemilihan dan penentuan metode yang akan digunakan momen mengasihkan materi kepada pesuluh pelihara. Berikut ini hal-keadaan yang menyangsang kelainan pemilihan/spesifikasi dan penentuan metode :


1.



Nilai Strategi Metode

Bahan cak bimbingan nan guru berikan akan kurang memberikan dorongan (tembung) kepada anak ajar bila penyampaiannya menggunakan strategi yang tekor tepat. Karena itu, dapat dipahami bahwa metode ialah suatu cara nan n kepunyaan kredit strategis dalam kegiatan belajar dan mengajar. Nilai strategisnya ialah metode boleh mempengaruhi jalannya kegiatan belajar dan mengajar.


2.



Evektifitas Penggunaan Metode

Evektifitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran nan telah diprogramkan dalam satuan cak bimbingan misal anju tercantum. Cara bagi mengeti efektifitas adalah dengan mengukur transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip ataupun pokok-rahasia materi nan dijelaskan.



[5]






3.



Pentingnya Seleksi dan Penentuan Metode

Kegagalan master mencecah tujuan indoktrinasi akan terjadi jikalau pemilihan dan penentuan metode tidak dilakukan dengan prolog terhadap karakteristik dari per metode pengajaran. Yaitu cak bagi mengerti kelebihan dan kelemahan
dari metode-metode pencekokan pendoktrinan.



[6]






4.



Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode

Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode:


a.



Tujuan yang hendak dicapai

Tujuan yaitu bulan-bulanan yang dituju terbit setiap kegiatan belajar mengajar, setiap temperatur mudah-mudahan memperhatikan tujuan pendedahan. Karakteristik intensi yang akan dicapai habis mempengaruhi penentuan metode, sebab metode tunduk lega harapan, bukan sebaliknya.

Materi pelajaran merupakan sejumlah materi yang hendak disampaikan maka dari itu temperatur untuk
bisa dipelajari dan dikuasai oleh siswa ajar.

Situasi kegiatan sparing yakni setting lingkungan
pembelajaran yang dinamis. Guru harus teliti dalam melihat hal. Oleh karena itu, lega waktu tertentu suhu melakukan proses pembelajaran
di asing kelas bawah atau di umbul-umbul terbuka. Dan situasi nan dimaksud menutupi : (1) hal dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yang dipergunakan seperti ukurannya, perlengkapannya,
dan ventilasinya, dan (2) hal pesuluh yang akan mengikuti pelajaran, baik dari segi jumlahnya, kegairahannya, dan motivasinya.



[7]





Akomodasi yang tersedia privat sebuah susuk pendidikan juga mempengaruhi penyaringan dan penentuan metode mengajar.

Guru adalah basyar yang menyerahkan hobatan kepada peseta didik, serta membimbing jiwa mereka sekaligus pula mengarahkan tingkah laku mereka kepada yang baik. Tugas hawa ada tiga hal. Pertama, mentransfer hobatan, memberikan ilmu kepada peserta didiknya dala rajah proses pengajaran. Kedua, ki memasukkan nilai-nilai yang baik, intern hal ini menanamkan value (nilai), disinilah letak pembentukan akhlakuk karimah, mewujudkan karakter. Ketiga, melatih mereka punya kesigapan dan amal baik. Master ini boleh berfungsi dan melaksanakan tugasnya pada pendidikan formal dan nonformal.



[8]





Setiap orang memiliki kepribadian, performance style, sifat dan pengalaman mengajar nan berbeda-tikai. Kompetensi mengajar biasanya dipengaruhi pula oleh latar belakang pendidikan.



[9]





Peserta didik sebagai subjek sparing memiliki karakteristik nan berbeda-tikai, baik minat, bakat, resan, tembung, peristiwa sosial, lingkungan batih, dan tujuan musim depannya. Kejadian inilah nan minimum bermanfaat untuk diperhatikan oleh koteng guru, karena pada setiap tinggi pendidikan pelajar asuh mengalami jalan yang berbeda-beda. Berikut ini karakteristik jalan siswa tuntun :


1.



Karakteristik perkembangan anak asuh usia sekolah sumber akar (SD/MI)


a.



Perkembangan badan

Kehidupan 7 hingga 12 tahun yakni usia muda tadinya. Mereka ini umumnya sedang menjalani pendidikan pada tinggi sekolah dasar. Pada waktu ini, anak asuh-anak biasanya menunjukkan masukan penampilan baru, dimana tampil lebih ramping dan atletis. Anak perempuan dan momongan lelaki mempunyai bentuk awak dengan proporsi yang selaras sampai dengan keduanya mencapai pubertas, proses dimana galakan seksual anak-anak asuh bersemi kuat sebatas kamu dewasa.


b.



Keterampilan motorik

Keterampilan motorik merupakan kemampuan berperilaku atau berbuat gerak motorik. Keterampilan motorik bruto (gross motor skills) melibatkan pemanfaatan gerakan fisik kampanye tubuh yang besar. Keterampilan motorik halus (soft motor skills) mengikutsertakan pendayagunaan gerakan tubuh kerdil. Kedua kelincahan motorik kasar dan lembut terus mengalami penyempurnaan pada masa boncel menengah.

Bilamana itu, anak-anak suka lari, melompat, melompat, lontar, menangkap, mamanjat dan keseimbangan. Seperti mana halnya anak usia sekolah, pertumbuhan badan anak-anak pada umumnya menjadi lebih cepat, kuat dan terkoordinasi. Oleh karena itu, sejauh perian kanak-kanak perdua, anak-anak menjadi lebih mahir dalam kegiatan motorik berangasan.



c.



Perkembangan psikologis

Kemampuan berfikir secara sistematis sehingga menjadi semakin terampil n domestik tanggulang masalah. Anak usia sekolah lebih baik lega keterampilan mengingat terbit pada rata-rata momongan-anak asuh yang berusia dibawahnya. Kian dari memahami dunianya, anak-anak asuh yang lebih tua lebih terseret kepada
encoding
dan mengingat permakluman. Di sekolah, anak asuh-anak yang lebih jompo juga belajar bagaimana menggunakan perangkat memori atau garis haluan sejarah. Begitu juga, menciptakan lirik lucu, melatih mengingat fakta (mengulangnya berulangulang) dan lain sebagainya. Anak asuh-anak asuh boleh mengingat lebih banyak saat berpartisipasi intern pembelajaran kooperatif (cooperative learning), dimana pendidikan diawasi maka itu anak adam dewasa bergantung plong rekan-rekan berinteraksi, berbagi, merencanakan dan kondusif satu setimbang lain.




[10]






2.



Karakteristik perkembangan remaja (SMP/MTs-SMA/MA)


a.



Perkembangan fisik

Perkembangan bodi puas usia mulai dewasa sudah kerumahtanggaan tahap yang lebih kompleks. Dimana aspek hormonal yang mempengaruhi kronologi jasmani akil balig. Pada fase ini cukup umur sedang mengalami pubertas.


b.



Perkembangan kognitif

Urut-urutan kognitif yaitu perkembangan kemampuan (daya produksi) individu bikin menjantur dan mengingat pemberitahuan. Untuk menggosipkan perkembangan psikologis (berpikir) remaja, pada gambaran berikut dikemukakan beberapa penglihatan sejumlah ahli.

Mennurut Jean Piaget, urut-urutan kognitif remaja berlambak pada tahap “formal operation stage”,
yaitu tahapan berpikir formal yang terdiri atas dua subperiode:


1.




Early seremonial operational thought,


yaitu kemampuan cukup umur untuk berpikir dengan cara-cara hipotetik yang menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (netral) tentang berbagai probabilitas nan tidak tekor. Dalam musim awal ini, akil balig mempresepsi manjapada dahulu bersifat subjektif dan idealistik.


2.




Late formal operational thought,


adalah muda mulai menguji pikirannya yang berlawanan dengan pengalamannya, dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui fasilitas (habituasi terhadap informasi/hal baru), remaja mulai dapat menyesuaikan terhadap bencana atau kondisi pancaroba yang telah dialaminya.

Kemampuan berpikir hipotetik, berguna remaja mutakadim dapat mengintegrasikan
apa yang sudah mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan takhlik bentuk cak bagi hari mendatang.

Menurut Vigotsky, sekolah adalah riuk suatu agen budaya nan menentukan perkembangan berpikir remaja. Faktor lain yang mempengaruhi kronologi kognitif cukup umur adalah orang tua, seumur, komunitas, dan habituasi teknologi budaya.

Implikasi kedua pendekatan alias teori tersebut terhadap pendidikan atau mengajar masing-masing adalah (a) menurut Piaget, guru teradat mendukung peserta bakal mengekplorasi mileu dan menemukan proklamasi, dan (b) menurut teori Vigotskym siswa memerlukan banyak kesempatan cak bagi belajar bersama temperatur dan padanan segenerasi yang kian terampil. Peran guru intern mengajar, baik menurut Piaget maupun Vigotsky adalah andai fasilitator dan pembimbing, tidak pengarah belajar siswa.

Pandangan berikutnya adalah berasal para ahli psikologi “informatin-processing”. Laksana suatu teori
informatin-processing
yakni teori kognitif yang mencoba
“to look inside”
pikiran individu siswa n domestik upaya mengeksplorasi segala apa yang terjadi saat berpikir dalam-dalam dan berlajar serampak, dan menfokuskan kepada cara-mandu yang spesifk untuk berpikir dalam-dalam tentang informasi yang diterimanya. Para juru pemrosesan informasi memandang otak (pikiran) manusia merupakan sistem kognitif yang obsesi, nan dapat dianalogikan dengan komputer jinjing digital. Seperti sebuah komputer, sistem memanipulasi alias memproses permakluman yang masuk, baik berasal dari luar ataupun yang terhidang kerumahtanggaan sistem. Pemrosesan pengumuman itu melangkaui beberapa cara, ialah (1) encoding, recoding atau decoding, (2) membandingkan atau mengkombinasikan laporan dengan informasi lain, dan (3) menyimpan deklarasi dalam rekaman atau megulang kembali informasi pecah ki kenangan.



[11]






3.



Karakteristik jalan masa dewasa (PT)

Masa dewasa merupakan riuk satu fase privat rentanag kehidupan individu setelah hari remaja. Dari sisi biologis masa dewasa dapat diartikan ibarat suatu tahun dalam kehidupan anak adam yang ditandai dengan pencapaian kedewasaan jasmani secara optimal dan kesiapan bakal bereproduksi.

Dari sisi psikologis, perian ini diartikan sebagai periode dalam kehidupan individu yang ditandai dengan ciri-ciri kematangan maupun kematangan yaitu: (1) kestabilan emosi (emotional stability), mampu memecahkan perasaan tak segera marah, sedih, cemas, resah, kekesalan atau tidak mudah tersinggung, (2) memiliki
sense of reality
(kesadaran realitasnya) cukup tingkatan mau menerima pemberitahuan, tidak mudah berkhayal, apabila mengalami kesulitan dan tidak menyalahkan bani adam tak atau keadaan apabila menghadapi kegagalan, (3) bergaya toleran terhadap pendapat anak adam lain yang berbeda, dan (4) bersikap optimis privat menghadapi kegagalan.

Tentatif berasal sebelah
pedagogis, hari dewasa ini ditandai dengan (1) rasa barang bawaan jawab terhadap semua perbuatannya, dan juga terhadap kepeduliannya memelihara kesejahteraan hidup dirinya sendiri dan orang lain, (2) bertabiat sesuai dengan norma alias nilai-nilai agama, (3) punya pekerjaan nan menghidupi dirinya dan keluarganya, dan (4) berpastisipasi aktif dalam roh bermasyarakat.



[12]





Pintu III

PENUTUP

Prinsip metode mengajar adalah berbagai hal nan dijadikan barometer atau pedoman dalam menentukan berbagaihal
dalam eksploitasi metode belajar yang sesuai dengan kegiatan belajar mengajar.

Adapun prinsip metodik khusus PAI diantaranya individualis, kebebasan, mileu, globalisasi, pusat-pusat minat, aktivitas, dan motivasi. Berdasarkan pendapat Prof H. Ramayulis n domestik bukunya berjudul “Metodologi Pendidikan Agama Islam”, bahwa kaidah-mandu metodik khusus belajar PAI yaitu, berpusat pada peserta pelihara, belajar dengan mengamalkan, mengembangkan kemampuan sosial, mengembangkan pengetahuan, melebarkan fitrah bertuhan, mengembangkagkan keterampilan separasi keburukan, melebarkan keaktifan peserta ajar, melebarkan kemampuan menunggangi guna-guna dan teknologi dan sebagainya.

Berbicara tentang perincisan metodik spesifik berarti berucap tentang penyaringan dan penentuan metode yang akan digunakan momen mengasihkan materi kepada pesuluh didik. Berikut ini hal-peristiwa nan menyangkut ki kesulitan seleksi/spesifikasi dan penentuan metode merupakan nilai garis haluan metode,evektifitas pemakaian metode,pentingnya pemilihan dan penentuan metode, faktor-faktor nan mempengaruhi pemilihan metode.

Sebagai nomine guru alias nan mutakadim menjadi seorang guru, lakukan bertambah memahami metode-metode yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan memafhumi prinsip/pedoman terbit metode yang digunakan mudahmudahan metode yang digunakan sesuai dengan tujuan pendedahan.

DAFTAR Teks

Danim, Sadarwan. 2014.
Jalan Siswa Didik. Bandung: Alfabeta.

Darajat, Nirmala. 2014.
Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam.
Jakarta: PT Bumi Aksara.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010.
Strategi Belajar dan Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Daulay, Haidar Putra. 2014.
Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat.
Jakarta: Kencana.

Faturraohman, Papuh dan M. Sobry Sutikno. 2010.
Ketatanegaraan Belajar dan Mengajar.
Jakarta: PT Refika Aditama.

Hamdani. 2011.
Startegi Belajar dan Mengajar.
Bandung: CV Pustaka Konstan.

https:/www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/spesifikasi.html (jum’at 5/10/2018 15:03 WITA)

Kamus Besar Bahasa Indonesia

L.N., Syamsy Yusuf dan Nani M. Sugandhi. 2013.
Peerkembangan Peserta Jaga.
Jakarta: Rajawali Pers.

Nata, Abuddin.
2009.
Perspektif Selam Tentang Kebijakan Penataran.
Jakarta: Emas.









[1]






Kamus Lautan Bahasa Indonesia






[2]





Papuh Faturraohman dan M. Sobry Sutikno,
Ketatanegaraan Belajar dan Mengajar,
(Jakarta: PT Refika Aditama, 2010),
hal 56-59






[3]





Safi Darajat,
Metodik Khusus Indoktrinasi Agama Islam,
(Jakarta: PT Manjapada Abjad, 2014), hal: 118-141






[4]





https:/www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/spesifikasi.html (jum’at 5/10/2018 15:03 WITA)






[5]





Hamdani,
Startegi Belajar dan Mengajar,
(Bandung: CV Teks Ki ajek, 2011), hal 55






[6]





Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain,
Strategi Belajar dan Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal 72-75






[7]





Abuddin
Nata,
Perspektif Islam Mengenai Garis haluan Penelaahan,
(Jakarta: Kencana, 2009), kejadian 307






[8]





Haidar Putra Daulay,
Pendidikan Islam kerumahtanggaan Perspektif Metafisika,
(Jakarta: Emas, 2014) hal :103






[9]





Ibid, Papuh Faturraohman dan M. Sobry Sutikno, hal: 60-61






[10]





Sadarwan Danim,
Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: Alfabeta, 2014) hal: 61-64








[11]





Syamsy Yusuf L.T. dan Nani M. Sugandhi,
Peerkembangan Peserta Asuh,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hal: 80-85


Source: https://pejoeangtoga.blogspot.com/2019/12/pengertian-prinsip-metode-mengajar_60.html

Posted by: and-make.com