Apa Ajaran Yang Mendasar Pada Syiah

Dosen UIN Suska Riau

Setelah berdirinya pemerintahan hijau, peguyuban Syiah nan ada di Tanah Air mulai berujar, dan menunjukkan diri. Bahkan, mereka sanggup mengatakan bahwa momen ini merupakan masa lakukan mereka untuk bergerak dan berbuat.

Penulis pribadi bukan terbiasa menanggapi segala intensi mulai sejak pernyataan mereka itu. Doang, pada kesempatan ini, katib mengutarakan keyakinan akidah Syiah, seharusnya umat Islam Indonesia yang seluruhnya Ahlussunnah (Sunni) bisa mengetahui, dan tidak terkungkung dalam penipuan (taqiyah) kaum Syiah.

Akidah Mujassimah

Kaum Syiah nan muncul lega akhir Khalifah Usman bin Affan itu terpecah menjadi kerumunan nan lalu banyak. Itu bisa dilihat internal kitab Firaq al-Syiah yang ditulis orang Syiah sendiri, yaitu al-Naubakhty. Tapi, kelompok Syiah terbesar yang cak semau saat ini merupakan Syiah Imamiyah di Iran, Syiah al-Isma’iliyah, dan Syiah Zaidiyah di Yaman.

Tentang akidah Syiah, ulama Ahlussunnah (Sunni) nan menulis tentang kelompok (sekte) dalam dunia Islam itu menyatakan, bahwa akidah cerdik pandai Syiah generasi awal itu akidah Mujassimah atau tajsim (meyakini Tuhan punya jasad seperti mana orang) dan akidah musyabbihah ataupun tasybih (mengimbangkan Sang pencipta dengan basyar).

Hal ini bisa dilihat keyakinan ulama generasi awal Syiah, yaitu Hisyam bin al-Hakam, Hisyam bin Salim al-Jawaliqy, Yunus kedelai Abd al-Rahman al-Qumy, dan Muhammad bin al-Nukman atau Syaithan al-Thaq.

Dalam bukunya I’tiqadat al-Muslimin Wa al-Musyrikin, Imam al-Razy mengatakan, keyakinan mujassimah dan musyabbihah itu yaitu keyakinan Yahudi. Kemudian keagamaan ini terdapat di guri Syiah. Seperti Hisyam al-Hakam berkeyakinan bahwa Tuhan itu mempunyai jasad. Hisyam pula mengatakan Tuhan itu seperti batangan emas karat. Hisyam juga mengatakan Sang pencipta itu sebagai halnya lilin. Hisyam al-Jawaliqy lagi percaya bahwa Tuhan itu sebagai halnya manusia, n kepunyaan tangan, kaki, mata, dan anggota badannya tak terbuat berpunca daging dan pembawaan. Yunus Abd al-Rahman al-Qumy sekali lagi berkeyakinan bagian atas jasad Tuhan itu ada gua pori-porinya, dan bagian bawahnya tidak ada. Muhammad bin al-Nukman  pun memercayai bahwa Allah berdiam di Arasy, dan para malaikat jual beli Arasy-Nya.

Keyakinan sesat akidah tajsim dan tasybih ulama Syiah generasi awal itu lagi dipaparkan Pendeta Abu al-Hasan al-Asy’ary internal kitabnya Maqalat al-Isalmiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Dan Pastor Serdak al-Muzaffar al-Isfarayini dalam bukunya al-Tabshir Fi al-Din.

Ternyata dalam literatur Syiah, empat ulama Syiah generasi semula penganut akidah sesat itu merupakan murid pater Syiah yang keenam, adalah Ja’far al-Shadiq. Dan dalam kitab hadits pegangan utama kaum Syiah, Ushul al-Kafy nan ditulis oleh al-Kulainy pada bab al-Tauhid, ada riwayat menyatakan bahwa Ja’far al-Shadiq memuji Hisyam al-Hakam dan memintanya membina orang yang baru turut Islam.

Sedangkan, bila dilihat dari sisi keilmuannya, Hisyam bin al-Hakam itu gabungan tumbuh dan usia di rumah koteng atheis, yaitu Abu Syakir. Begitu pernyataan ulama Syiah, Serbuk Ja’far al-Thusy kerumahtanggaan bukunya Rijal al-Kasysyi.

Sebagian ulama Syiah memuji catur ulama Syiah itu, dan mereka membangkang riwayat keyakinan tajsim dan tasybih. Tapi, tentangan mereka itu bukan bisa diterima. Karena keyakinan sesat catur ulama Syiah itu ada terdapat dalam kitab hadis penting sekte Syiah, yaitu kitab Usul al-Kafy. Jika mereka membantah riwayat itu, signifikan mereka meragukan kitab al-Kafy yang selama ini mereka yakini lebih mulia dari kitab hadits Imam al-Bukhari.

Memang, kitab hadis kabilah Syiah Ushul al-Kafy itu diragukan kebenarannya. Sebab, mayoritas isi kitab itu riwayat terbit Serdak Abdullah Ja’far al-Shadiq. Kemudian semenjak ayahnya Muhammad al-Baqir. Kemudian berbunga anaknya Musa bin Ja’far. Kemudian berusul anaknya Ali bin Musa. Anehnya, tidak ada dalam kitab itu sabda Rasul. Dan pun tidak ada riwayat dari Ali bin Abu Thalib, Sayyidah Fatimah, al-Hasan dan al-Husein.

Malah, ulama Syiah Ayatullah al-Barqa’iy internal bukunya Naqd Kitab Ushul al-Kafy Li al-Kulayni menyatakan, mayoritas riwayat (sabda) internal kitab al-Kafy itu dhaif (litak) dan maudhu’ (palsu).

Akan halnya Imam keenam Syiah, Ja’far al-Shadiq itu adalah anak Ummu Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq. Ummu Farwah itu anak asuh Asma’ binti Abd al-Rahman kedelai Abu Bakar al-Shiddiq. Makanya, Ja’far al-Shadiq marah kepada suku bangsa Syiah yang melaknat Abu Bakar al-Shiddiq.

Buktinya, ketika Salim bin Abu Hafshah menanya Ja’far al-Shadiq tentang Abu Bakar dan Umar bin al-Khattab, lalu Ja’far al-Shadiq mewajibkan Salim mengakui kepemimpinan keduanya, dan jangan memusuhinya. Kemudian Ja’far al-Shadiq mengatakan, Abuk Bakar al-Shiddiq itu adalah kakekku. Tak mungkin aku mencaci kakekku koteng. Serupa itu yang disebut Imam al-Zahaby dalam bukunya Siyar A’lam al-Nubala’ (6/258).

Sampai-sampai, jamhur Syiah Abu Ja’far al-Thusy dalam bukunya Rijal al-Kasysyi menyebutkan riwayat penolakan Ja’far al-Shadiq terhadap orang-hamba allah Syiah. Dia menyatakan, sedikit sekali pengikutnya dari guri Syiah.

Sejara andal, ulama Ahlussunnah menyepakati dan menghormati Ja’far al-Shadiq sebagai ulama Selam. Tapi, jamhur Ahlussunnah meragukan semua riwayat yang dianggap Syiah dari Ja’far al-Shadiq yang terwalak privat kitab Ushul al-Kafi. Sebab, penyalin buku Ushul Mazhab al-Syiah, Dr. al-Qafary memaparkan berbagai riwayat ulama Syiah nan menyatakan bahwa Ja’far al-Shadiq sendiri tidak menerima riwayat Syiah yang berkaitan tentang dirinya.

Akidah Muktazilah


Jelas, keyakinan akidah utama kalangan jamhur Syiah generasi awal itu sebagian besarnya menganut akidah tajsim dan tasybih. Tapi, para ulama Syiah generasi setelahnya pula memerosokkan akidah sesat tajsim dan tasybih nan dianut sebagian besar pendahulunya. Lalu mereka memilih akidah sesat Muktazilah.

Padri Abu al-Hasan al-Asy’ari menyatakan, para generasi awal Syiah itu berkeyakinan akidah tasybih. Dan generasi belakangan suku bangsa Syiah menganut akidah Muktazilah. Begitu pun pernyataan Rohaniwan al-Syahrastany dalam kitab al-Milal Wa al-Nihal.

Akidah Muktazilah yang digagas Washil bin Atha’ al-Bashary itu unjuk pada semula abad kedua Hijriyah. Gerombolan Muktazilah menghormati akal dalam menetapkan masalah akidah. Sebagaimana Syiah, Muktazilah juga terpecah menjadi 23 kelompok.

Akidah atau rukun iman Muktazilah yakni pertama, al-Tauhid. Kedua al-Adl. Ketiga  al-Wa’d wa al-Wa’id. Keempat  al-Manzilah Baina al-Manzilatain. Dan kelima al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar.

Rukun pendeta kaum Syiah sekali lagi, mula-mula al-Tauhid. Kedua al-‘Adl. Ketiga al-Nubuwwah. Keempat al-Imamah. Dan kelima al-Ma’ad.

Di antara cerdik pandai Syiah terkemuka yang menganut akidah Muktazilah itu yaitu Anak laki-laki Babawih al-Qumy. Kemudian keyakinan Syiah kepada akidah Muktazilah itu Nampak jelas dalam kitab-kitab Syaikh al-Mufid.

Bila diteliti, nampak persamaan akidah Syiah masa ini dengan akidah Muktazilah. Seperti, rukun iman purwa Muktazilah al-Tauhid. Dalam masalah tauhid, Syiah sebagaimana Muktazilah, yaitu menafikan (meniadakan) kebiasaan Allah SWT. Contohnya, kedua kelompok ini mengatakan bahwa Yang mahakuasa SWT mengetahui dengan zat-Nya, bukan dengan sifat mantra.

Kabilah Syiah pun sama dengan Muktazilah yang berkeyakinan bahwa manusia tak bisa melihat Allah SWT di akhirat kelak.

Akur pastor kedua Muktazilah al-‘Adl. Ini pun adalah akur iman kedua bakal kabilah Syiah. Merupakan meyakini bahwa Tuhan mesti mengerjakan baik dan tidak boleh melakukan buruk. Rukun Iman ini juga memungkiri takdir Tuhan.

Berdamai iman Muktazilah nan ketiga, kelima, dan keenam cak semau dalam keyakinan kaum Syiah. Tapi bukan masuk dalam adegan akur iman. Dan damai iman Muktazilah yang keempat itu tetapi ada dalam keyakinan Muktazilah, tidak suka-suka dalam keyakinan kaum Syiah. Tapi, akidah terdepan Syiah mengenai tauhid kepada Allah SWT itu seperti mana akidah Muktazilah.

Berdamai Iman Imamah

Namun serupa itu, Syiah n kepunyaan berdamai iman yang tidak ada di halangan Muktazilah, yaitu Imamah (kepemimpinan) dengan meyakini imam 12 selepas wafatnya Rasulullah SAW. Ini merupakan rukun iman yang membuat suku bangsa Syiah tak akan wasilah damai dengan Ahlussunnah.

Sebab, atas dasar rukun iman ini, suku bangsa Syiah mengkafirkan semua umat Islam Ahlussunnah. Di antaranya, ulama Syiah penulis anak kunci Haq al-Yaqin Fi Ma’rifah Ushul al-Din, Abdullah Syibir mengutip pernyataan Syaikh al-Mufid dalam kitabnya al-Masa’il mengatakan, Syiah Imamiyah berkeyakinan bahwa orang yang mengingkari satu dari imam 12 itu adalah kufur, dan kekal dalam neraka. Maka, waspadalah.

Diposkan maka itu Skuat LIputan Suska News (Suardi, Donny, Azmi, PTIPD)

Dikutip berpunca Riau Pos Edisi Senin, 23 Januari 2017

Source: https://www.uin-suska.ac.id/2017/02/02/mewaspadai-akidah-syiah-syamsuddin-muir/

Posted by: and-make.com