Anggapan Dasar Tentang Proses Pembelajaran Agama Islam



Pendedahan PENDIDIKAN AGAMA Selam



BERBASIS KECERDASAN BERAGAM (MULTIPLEINTELLIGENCES)


(Pendiri Banjir Embun)


Topik lain:


PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA Islam Bertamadun NIR-KEKERASAN: PERSPEKTIF INTERDISIPLINER



GAGASAN THOMAS S. KUHN Tentang Diseminasi Kronologi ILMU PENGETAHUAN




Ilustrasi Multiple Intelligences (Sumur rangka identifor)










Sebelum kalian melihat isi dari halaman ini. Alangkah bertambah baik baca dulu amanat berharga berikut ini:





Kertas kerja ini telah diedit menjadi resep berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPERTASI BERBASang INTERDISIPLINER. Diterbitkan maka itu LKiS.




BAB I


Pendahuluan




1.





Latar Bokong Masalah

Kajian adapun “kecerdasan beragam”


[1]



ataupun yang sering disebut dengan
multiple intelegences



[2]





tidak akan pernah lepas dari pencetusnya, merupakan Howard Earl Garnder.


[3]



Berkat teori tersebut pola baru pada rataan pendidikan dan psikologi mengenai kecerdasan sudah bersemi (mendapat pengakuan). Lega akibatnya revolusi konseptual tentang
teori kecerdasan
sudah terjadi. Teori ini ciri utamanya adalah mendudukan semua pelajar tuntun berlandaskan macam kecerdasan yang dikuasainya adalah sama derajatnya satu sekufu lain. Asumsinya, setiap siswa punya bidang kecerdikan sendirisendiri dan guru tidak bisa mengarahkan siswa hanya lega satu bidang kecendekiaan sekadar. Makanya karena itu, klasifikasi pelajar berdasarkan pembuktian kecerdasan IQ umpama satu-satunya patokan ukur tidaklah tepat.

Anggapan yang selama ini terjadi adalah manusia (peserta didik) dikatakan hanya memiliki satu jenis “kepintaran” dan yang dapat diukur melalui tes standar saja. Namun, Howard memperkirakan puas manusia punya 7 hingga 10 kecerdasan penting yang berlainan antara suatu individu satu dengan yang bukan.


[4]



Ini artinya, tidak suka-suka internal mileu manapun bahwa peserta pelihara nan satu makin cerdas dari petatar ajar lainnya. Semata-mata, yang ada adalah peserta didik mana yang mutakadim menemukan bidang kecerdasannya serta mana nan belum menemukan. Sampai-sampai dimungkinkan suka-suka peserta didik yang menemukan alias memfokus punya lebih berusul satu latar kecerdasan yang ia kuasai.

















Masalahnya, seperti yang telah masyarakat diketahui intern sejumlah dasawarsa

para pakar “kepintaran”

utamanya

dalam mayapada pendidikan hanya memperalat

tes


inteligence quotient


(IQ) laksana pijakan amung dalam “menilai” kemampuan

(kecerdikan)

anak asuh. Malah sekali lagi digunakan sebagai bahan terdepan dan rujukan satu-satunya kerumahtanggaan mempredik
s
i futur anak. Sementara itu,

utamanya

bakal zaman yang serba mania waktu ini

ini

, faktor-faktor (kecerdesan) lain sebenarnya juga bisa menjadi andil bagi

penentu

dasar masa depan anak kelak. Dengan kata lain, di zaman yang serba butuh aspek “keruwetan” ini, IQ saja lain akan perhubungan dapat menjadi solusi


kelainan kehidupan


bagi pribadi atau kehidupan awam.



Dunia saat ini ini utamanya pada negara miskin dan berkembang dilanda ledakan jumlah penduduk. Hal tersebut berbuntut puas m
inimanya alun-alun kerja,

bertambahnya pencemaran udara, rawan ki kesulitan menular, dan perkembangan IPTEK yang tak terkontrol menyebabkan masyarakat tak hanya membutuhkan atau diharuskan berekspansi satu jenis intelek hanya
.

Artinya, semakin beragamnya potensi kecerdikan yang dimiliki lingkungan masyarakat maka kemungkinan samudra segala apa aspek jiwa awam tersebut akan terpenuhi. Asumsinya, apapun nan dibutuhkan maka itu masyarakat maka generasi-generasi yang punya kecerdasan berjenis-jenis mampu untuk memenuhi dan mengatasinya sesuai dengan bidang kecendekiaan masing-masing. Misalkan, dengan kecendekiaan naturalnya seseorang akan berpunya mengatasi pencemaran undara dengan mengadakn acara penghutanan dan bisa sekali lagi menciptakan vaksin bagi penyakit tertentu untuk mencega penularan.

Dapat dikatakan bahwa teori eigendom Gardner telah merangsang bumi pendidikan di bervariasi negara untuk melakukan inovasi. Baik yang dilakukan secara utuh (totalitas) maupun diadakan pengayak dan pengembangan-peluasan yang disesuikan dengan biji di negera sendirisendiri (invention). Inovasi dilakukan biasanya bikin menetapi “kemauan” masyarakat untuk merasakan sesuatu yang baru sehingga dapat pergi hipotetis (acuan) lama. Namun demikian internal setiap inovasi tentu akan mendapat respon berbeda-tikai dari masyarakat. Ada nan menjorokkan secara mutlak, ada yang mendukung secara mutlak, ada yang memfilter dengan ketat, dan ada nan menanggapinya secara biasa-normal sekadar.

Privat konteks PAI, selama ini pembelajarannya pada umumnya masih didasarkan pada satu keberagaman kecendekiaan hanya yaitu linguistik-lisan. Yakni, pelajar asuh diasumsikan “tentu” semuanya menguasai bidang kecerdasan linguistik-lisan. Sungguhpun acap kali –utamanya puas kelas bawah yang total peserta didiknya banyak– lega kenyataannya lain demikian. Di kerumahtanggaan kelas terdapat kecendekiaan heterogen yang masing-masing dimiliki mereka. Akibatnya peserta didik yang tidak n kepunyaan keberagaman kecerdasan tersebut akan merasa tertekan. Hal tersebut bisa jadi karena dia tak rani menghafal dan mengaji al Qur’an, kurang terbetot dengan praktik ibadah, dan materi pembelajaran yang terlalu preskriptif.


Dari semua pemaparan di atas maka penulis mengasumsikan bahwa teori Gardner masih mesti dikritisi.

Penulis mencermati bahwa sebagian dari gagasan teori
multiple intelligence
lain selengkapnya harus diserap oleh “teori” pembelajaran PAI. Ada sebagaian gagasan Gardner yang perlu digunakan dan ada nan tidak semupakat untuk diterapkan karena lain sesuai dengan karakter PAI.


Oleh karena itu, perekam melakukan analisis perseptif terhadap teori Gardner bagi memaklumi faktor-faktor apa yang membuat teori ini tidak sepenuhnya boleh diterapkan kerumahtanggaan pendedahan PAI. Yakni, menganalisis ketepatakan teori tersebut untuk digunakan dalam pembelajaran PAI. Kemudian penulis memformulasikan sebuah gagasan yang merupakan konklusi dari beberapa gagasan yang ditemukan.





Dapat dikatakan dalam inovasi pembelajaran PAI berbasis
multiple intelligences
ini penulis lain membuat gagasan baru (discovery) tetapi berbuat pengembangan dari teori Gardner (invention).







2.





Batasan Masalah dan Topik Pembahasan

Agar pembahasan kertas kerja ini konsisten pada titik api persoalannya, maka diperlukan suatu batasan kelainan. Maka dari itu karena itu dabir merumuskan batasan topik pembahasan yang dikerucutkan perumpamaan berikut:



a.



Konsep bawah adapun teori kecendekiaan bermacam-macam (multiple
intelligences)



b.



Konseptual baru pembelajaran Pendidikan Agama Islam



c.



Pembelajaran PAI berbasis kepintaran beragam yang ideal.




3.





Tujuan Pembahasan

Bertolak pada pembahasan di latar bokong serta adanya pembatasan komplikasi maka dapat dirumuskan tujuan penulisan referat sebagai berikut:



a.



Menguraikan konsep sumber akar akan halnya teori kecerdasan beragam (multiple intelligences)



b.



Menguraikan model baru pembelajaran Pendidikan Agama Islam



c.



Menguraikan pendedahan PAI berbasi intelek beragam yang ideal




4.





Introduksi Kiat

Dari semua pemaparan di atas maka carik dapat mengekspresikan kata kiat (keyword) semenjak makalah ini. Maanfaat kata kunci yakni ibarat dasar untuk pengembangan keburukan nan diulas di portal selanjutnya. Maka dari itu karena itu, alas kata sosi makalah ini adalah:



Perubahan Paradigma, Pendidikan Agama Islam, Howard Gardner, dan Kecerdasan Beragam.




d.





Gapura II


PEMBELAJARAN PAI BERBASIS KECERDASAN Beraneka rupa




A.





Konsep Dasar




1.





Pengertian Kepintaran beragam

Pengenalan polah keseleo satu diantaranya memiliki kemustajaban
pertama
“tingkah; laku; ragam”
kedua
“macam; tipe” dan
ketiga
“rona; warna;.” Padahal kepintaran bermula semenjak kata pangkal “cerdas” nan artinya “contoh urut-urutan akal budinya (kerjakan berpikir, memaklumi, dsb); ekstrem perasaan;” alias bisa pun berguna “sempurna pertumbungan tubuhnya (segar, kuat).” Secara terpisah kecerdasan spiritual n kepunyaan arti tersendiri merupakan “kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama
turunan, makhluk tidak, dan alam sekitar beralaskan keyakinan akan adanya Tuhan Nan Maha Esa.”


[5]





Umpama penggagas teori
multiple intelligences

,

Garnder mendifinisikan kepintaran dengan singkat dan fungsional, yaitu



kemampuan bikin tanggulang atau menciptakan sesuatu yang bernilai buat budaya tertentu.” Adapaun Alfred Binet dan Theodore Simon, membagi kecendekiaan menjadi tiga komponen:
pertama
“kemampuan mengarahkan perhatian dan maupun tindakan,”
kedua “kemampuan menafsirkan arah tindakan jika tindakan tersebut sudah dilakukan,” dan
ketiga
“kemampuan mengkriti diri koteng.”


[6]







Garder juga mengatakan bahwa kecerdasan yang “utama” itu berdasarkan faktor baka (gen) sehingga tidak dapat dilatih. Misalkan kecerdasan musikal, menurutnya ada pengaruh gen yang menyebabkan seseorang pintar memainkan musik.


Bahkan, menurutnya



perbedaan privat


lingkungan



seseorang



tidak menerimakan kontribusi


material
terhadap perbedaan
privat daya produksi
kerjakan membebaskan
irama



maupun melodi

.


[7]






Lebih spesifik Widayati dan Widijati membeberkan bahwa

kecerdikan itu tidak bisa diamati secara serta merta. Diperlukan kesimpulan berbunga pengamatan berberapa perilaku aktual yang yakni perwujudan berpunca proses berpikir rasional.


[8]




Dengan demikian, penilain terhadap kecerdikan tidak harus dilakukan dengan testimoni catat. Hal ini utamanya untuk menilai kecerdikan anak kecil

(balita)


yang belum bisa baca tulis

.


Dari

pembahasan

di atas maka dapat disimpulkan bah

wa keistimewaan kecerdasan beragam merupakan beberapa varietas kemampuan dasar yang pelecok satunya alias beberapa diantaranya bisa menjadi ciri partikular (dimiliki) masing-masing manusia bagi berbudaya dan menjalankan sukma bersama.
Selain itu, Widayati dan Widijati
mengklasifikasikan s

ifat-sifat dari kepintaran

sebagai berikut
:



1.



Adaptif; adanya respon nan fle
k
sibel bila ada stimulus privat berbagai situasi dan kebobrokan, sehingga senggang pemecahannya dan tidak merasa pelik sekejap-sekejap menghadapi

permasalahan.




2.



Kemampuan membiasakan; kemampuan belajar pada sesuatu yang bau kencur, terjemur plong setiap anak sejauh mana ia mampu menyerap dan menyimpan sesuatu nan yunior itu.



3.



Belajar berusul pengalaman luar dan internal dirinya; menunggangi pengetahuan sebelumnya misal analisis dan kognisi situasi

yang

baru, sehingga senantiasa menunjukkan daya kreasi.


[9]






Penggunaaan istilah “kecerdikan beragam”


[10]



kerumahtanggaan garitan ini dimaksudkan oleh pencatat sebagai penukar istilah
multiple intelligences. Alasannya, kata ragam secara kelebihan (makna) lebih semupakat digunakan terbit plong kata lainnya. Misalkan, alas kata heterogen memiliki dua arti yang satupun tidak semupakat sebagai pengganti istilah teori Gardner tersebut yaitu “terdiri atas beberapa bagian nan merupakan kesatuan” dan “tentang penambahan bunga kepada pokok bersendikan waktu dengan pamrih mendapatkan sumber akar baru untuk menghitung rente berikutnya:.”


[11]



Padahal menurut teori Gardner, satu spesies kepintaran itu bisa agak gelap seorang dan bukan terdiri atas bilang adegan nan silih mengesakan, biarpun kadang rasi antara jenis intelek satu dengan nan lain saling mendukung (tersapu).

Bilapun menunggangi istilah kecerdasan ganda, maka kata “ganda” n kepunyaan tiga arti yaitu
permulaan
“(akan halnya hitungan) kali; lipat,”
kedua
“berbayang (seakan-akan suka-suka dua),”
ketiga
“berpasangan (terdiri atas dua); berpasangan dua-dua (dalam badminton, tenis, dsb).”


[12]



dari kacamata pandang teori Gardner penggunaan istilah “ganda” kurang sekata karena jenis kecerdasan menurut garder itu tak terbatas (tidak terhitung).




2.





Perubahan Lengkap Kepintaran

Sepanjang ini dalam sistem pendidikan, puas praktek di alun-alun galibnya masih memaknai kecerdasan pelajar didik secara terbatas. Yaitu, mereka yang dikatakan cerdas adalah punya ciri-ciri penurut, hafalannya kuat, skor ain pelajaran matematikan serta IPA tinggi, hasil tes IQ-nya tinggi, ranking nilai kognitif terala, dan pendiam. Ini artinya anak yang bisa membenahi kerusakan motor, bernas berlepau gorengan, mampu membentuk celana privat anti pemerkosaan, dan semacamnya tidak didevinisikan sebagai anak nan tergolong cerdas, tapi anak yang kreatif. Dengan menggunakan paradigma ini maka anak asuh yang kreatif bukanlah anak nan cerdas, tapi semata-mata sekedera kreatif. Dampaknya, berbagai anak yang berbenda tadi (yang memiliki intelek di parasan per) merasa tidak mendapatkan penghargaan dibandingkan dengan anak yang mendapat ranking


[13]



(nilai kognitif) 10 besar.

Pesiaran tersebut lampau memprihatinkan bikin kondisi serebral anak-anak. Bisa jadi anak akan berlomba-lomba sparing maupun sampai-sampai dileskan (lembaga les alias secara internal) agar mendapatkan nilai bagus pada bidang matematika, bahasa inggris, IPA, dsb. Padahal belum pasti “intelek” anak itu di latar tersebut. Kesudahannya energi anak akan terkuras bakal situasi-hal yang diluar rataan kecerdasannya. Meskipun hasilnya bagus (terjadi pertambahan), akan tetapi probabilitas dapat menjadi kian bagus dan lebih bermanfaat bila ia memperdalam kecendekiaan yang keberadaannya dominan lega dirinya. Selain itu anak pula akan menikmati penelitian materi (melewati kursus alias privat) yang sesuai dengan bidang kecerdasannya.


Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Gardner sebagai halnya yang dikutip makanya Efendi bahwa konsep kecerdasan itu bukan belaka bersangkut paut pada


the result of paper and pencil tests


(hasil tes dengan kertas dan pensil),


tapi juga tercalit dengan pengetahuan tentang otak manusia dan kepekaannya terhadap ragam budaya (sensitivity to the diversity of human cultures)

.


[14]



Bagaimanapun tes IQ hasilnya hanya berupa biji untuk memetakan kemampuan berpikir seseorang. Dengan pengenalan lain IQ bukanlah validasi kinerja berwujud, sehingga dimungkinkan antara perkiraan hasil tes dengan pelaksanaan di lapangan akan berbeda. Misalkan anak asuh yang ber-IQ tinggi belum tentu ia mempunyai kecendekiaan emosional


[15]



dan kecendekiaan spiritual


[16]



yang bagus privat spirit.


Selain itu selama ini yang dinamakan kecerdasan adalah peristiwa-hal yang terkait dengan keseriusan, tidak dapat terserah kesalahan, dan harus membiasakan dengan pustaka bukan konteks. Keadaan ini menurut Agus Efendi tak ter-hormat, karena kecerdasan merupakan kemampuan buat belajar pecah asam garam dan kemampuan beradapatasi dengan peradaban seputar. Oleh karena itu,

insan cerdas itu bukan berarti tidak boleh (tida
k

kawin) berbuat salah. Kenyataannya, orang cerdas adalah mereka yang pernah berbuat riuk, akan tetapi mereka dapat sparing berpokok kesalahan dan enggak melakukan kembali.


[17]







Sedangkan mulai sejak segi sumber akar-asul terpelajar dan perkembangannya, tingkat kecendekiaan itu tidak hanya ditentukan makanya faktor gentetis tapi juga faktor mileu. Sebagaiman menurut Zohar dan Marshall mengatakan bahwa:


Kecerdasan manusia terekam di n domestik kode genetis dan seluruh sejarah evolusi arwah di bumi. Di samping itu, kecerdikan insan juga dipengaruhi oleh pengalaman sehari-perian, kesehatan fisik dan mental, porsi latihan yang dikabulkan, polah perantaraan nan dijalin, dan berjenis-jenis faktor lain. ditinjau pecah ilmu saraf, semua kebiasaan kecerdasan itu bekerja melalui, atau dikendalikan oleh, pelopor berserta jaringan sarafnya yang tersebar di seluruh jasmani.


[18]






Secara

terperinci menurut Thomas Amstrong, s

yarat individual yang ditetapkan oleh Gardner hendaknya sebuah kecendekiaan dapat dimasukkan ke dalam teorinya, diantaranya:



1.



Setiap kepintaran dapat dilambangkan;
misalnya lambang tulisan (huruf) plong kecerdasan linguistik, lambang angka pada kecerdasan matematis, lambang nada lakukan kecerdasan musikal, dan lambang gerak-gerik ataupun mimik wajah sebagai lambang kinestetik.



2.



Setiap kecerdasan memiliki riwayat perkembangan; kecerdasan itu dinamis (tidak bertempat) dan setiap kecerdasan mempunyai pola jalan yang berlainan-cedera



3.



Setiap kecerdasan rawan terhadap adv minim akibat kerusakan atau cedera pada provinsi otak tertentu; menurut garder teori kecerdasan dapat main-main bila didasarkan pada biologi (struktur otak). Kecerdasan linguistik berfungsi dibelahan dedengkot kiri, kecerdasan musikal, spasila, dan antarpribadi cenderung pada belahan penggagas kanan. Kecerdasan kinestetik menyangkut korteks motor, ganglia pembesaran, dan serebelum (gembong kecil).



4.



Setiap kecerdasan mempunyai keadaan penghabisan berpedoman nilai budaya; perilaku cerdas bisa dilhat dari performa teratas dalam peradaban, bukan dinilai dari hasil pemeriksaan ulang patokan.


[19]





Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa spesies kecerdikan itu bukan tunggal tapi plural. Selain itu kecerdasan itu relatif, artinya makna atau bergunanya sebuah kecerdasan terampai sreg model kecerdasan masyarakat tersebut. Misalnya dalam satu awam seseorang nan cerdas internal musikal bisa saja dianggap “bodoh” maka itu masyarakat yang lain menyukai musik. Selain itu perkembangan kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh gen belaka atau oleh mileu belaka, akan tetapi oleh kedua-duanya. Dengan adanya paradigma baru kecerdasan ini maka semua posisi kecerdasan peserta didik adalah setimpal. Semuanya adalah manusia cerdas, cerdas n domestik bidang masing-masing yang mereka kuasai.

Lebih detail bakal menggambarkan adanya paradigma baru kecerdasan maka penulis dapat menyantirkan tentang kecerdasan bak berikut:






Gambar 2.1: Identifikasi paradigma baru kecerdasan




3.





Otak sebagai Muslihat Penting Kecerdasan


Sudah lalu menjadi

permakluman

awam bahwa tokoh merupakan gawai terpenting utama dan pertama lakukan tatanan biologis suatu organisme. Baru pasca- itu instrumen jantung dan alat pernapasan menempati urutan berikutnya. Alasannya, otak mutakadim menjadi pengontrol kinerja seluruh organ-gawai bodi tak terkecuali satupun. Baik organ yang bekerja secara tidak disadari seperti instrumen dalaman, usus, lambung, peparu dll, maupun perkakas yang bekerja dengan sadar yakni tangan, kaki, dan leher dll. Dengan demikian, khalayak tanpa otak tidak mempunyai arti apa-apa, karena seluruh organ dan lima indera tidak akan berfungsi, dan inilah yang disebut dengan mortalitas (meninggal dunia).


Laksana organ eigendom orang, ozon
tak

merupakan sesuatu yang terlampau luar biasa. –Hal ini karuan akan berlainan dengan otak hewan


[20]


–. Terlebih otak


manusia jauh lebih kompkes


(canggih)


bersumber puas komputer manapun


di bumi
ini

.

Pernyataan tersebut begitu juga menurut Zohar dan Marshall:


Pencetus bekerja dengan sistem pemikiran yang melintas. Artinya, otak tidak terdiri atas beberapa modul kecendekiaan nan terpisah. Pemrakarsa kembali tidak sistem pemrosesan kurat ataupun sistem figuratif yang terisolasi. Dua sistem ini berinteraksi dan saling menguatkan sehingga memberi manusia bentuk kepintaran yang lebih tinggi daripada masing-masing kecerdasan tersebut jika berdiri koteng. IQ dan EQ ganti membantu (sinergis).


[21]






Boleh dikatakan bahwa kejadian dalang memiliki peranan yang habis terdahulu bakal perkembangan kecerdasan seseorang. Bahkan sebatas sekarangpun rahasia dari faedah otak belum terpecahkan secara ilmiah. Sebagaimana penjelasan Agus Efendi,

tentang rahasia otak beserta kecerdasaannya sebatas sekarang masih belum terungkap secara memuaskan, apalagi dirasa masih habis jauh dari urut-urutan semarak. Meskipun secara ilmiah di dala
m

otak terbukti cak semau tiga jenis


utama


yaitu penggagas rasional, otak emosional, dan otak spiritual.


[22]







Selain itu suka-suka beberapa teori mengenai jalan kecerdikan induk bala, riuk satunya teori

f
aktor-faktor yang turut mempengaruhi perkembangannya
, yaitu
:



1.



Genetika, tersapu dengan bentuk (struktur) pemrakarsa yang diturunkan dari gen orang tua



2.



Tembolok segar, kronologi biang keladi pada masa keemasan koteng anak tambahan pula di dalam tembolok ditentukan suplai nutrisi.



3.



Perawatan, diperlukan latihan dan lingkungan yang mendukung untuk menemukan dan mengembangkan berbagai rupa kecerdasan yang mungkin dimiliki anak.



4.



Mileu, peran ibu bapak sangat vital (sebagai pendidik) dalam mendidik anak sepatutnya perkembangan kecerdasannya terjadi secara benar, serta bagaiman lingkungan disekitarnya mendukung perkembangan tersebut.



5.



Mental, keadaan jiwa momongan yang bahagia dengan yang murung dapat mempengaruhi perkembangan intelek anak.


[23]






Dapat disimpulkan

bahwa

inisiator memiliki peranan berguna privat perkembangan kecerdasan setiap manusia. Otak adalah radas nan menunjukkan “jati diri” seseorang. Maka dari itu karena itu, intern pembelajara PAI guru dituntut memahami dan mempedulikan bagaimana siswa didik
“bekerja” dengan otaknya. Master harus sadar bahwa kesulitan dan kegagalan pembelajaran harus dicari bagaimana cara kerja otak sendirisendiri anak asuh dalam memahami sesuatu. Dengan demikian bila ditinjau dari konteks globalisasi, maka pendidikan Islam sudah waktunya menerapkan paradigma baru n domestik pembelajaran nan didasarkan puas bagaimana kaidah penggagas berkreasi.


[24]




Karenanya, dapat dikatakan pentolan sangatlah luar legal kemampuan dan kekuatannya n domestik beranak hobatan pengetahuan dan teknologi. Sedangkan dari tinjauan biologis (bentuknya), otak dapat diwariskan secara ambruk temurun (foktor genetis). Namun, bila diadakan pelatihan secara terus menerus dan dengan kaidah yang tepat maka “manfaat” otak bisa dioptimalkan sesuai dengan kehausan manusia. Dengan introduksi lain, interferensi lingkungan juga memiliki peran bermakna dalam perkembangan kecerdasan


[25]



makhluk. Implikasi berbunga pernyataan tersebut, manusia bisa “menuhankan” pemrakarsa, bahwa otak adalah segala-galanya bakal spirit ini. Bila ditinjau dari segi pendidikan Islam maka pernyataan tersebut tentu tidak sehaluan dengan nilai-nilai kemanusiaan


[26]



dan poin Selam yang meluhurkan Allah SWT.



4.



Dasar Hukum pelaksanaan Pembelajaran berbasis ulah jenis kecerdasan peserta ajar


Internal Undang-undang 1945 Amandemen Pasal 28C ayat 1 mengamanatkan“
Setiap makhluk berwajib mengembangkan diri melampaui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berwenang mendapat pendidikan dan memperoleh kemujaraban berbunga mantra pemberitahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesentosaan umat orang.



[27]





Semenjak pernyataan tersebut dalam konteks referat ini, nan menjadi bintik utama adalah pernyataan
berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya

dan pernyataan
demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kedamaian umat manusia. Sepatutnya ada nan dimaksud kebutuhan dasar siswa tidak belaka pendidikan secara umum semata-mata saja juga kebutuhan cak bagi mendapatkan pengakuan (penghargaan) dan juga pengembangan diri atas kecerdasan (kemampuan) yang sesuai dengan bidangnya. Diharapkan, dengan meluaskan latar kecerdasan yang dikuasainya, maka peserta bimbing tidak akan terbebani dengan “tugas-tugas” secara mendalam nan tidak sesuai dengan bidang kecerdasannya.


Asal hukum lainnya adalah Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 1 nomer 1 bahwa yang dimaksud “pendidikan yaitu

usaha ingat dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta bimbing secara aktif

mengembangkan potensi

dirinya untuk n kepunyaan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, fiil,

kecerdasan
, akhlak sani, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

” Serta kata
berkembangnya potensi siswa didik
pun terdapat pada tujuan pendidikan kebangsaan di Pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003.


[28]







Hal tersebut secara detail lebih diperkuat pada pasal 5 ayat 4 menjelaskan “

Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan darah istimewa berkuasa memperoleh pendidikan tersendiri.



[29]



Dilanjutkan sreg

Pasal 12 ayat 1 poin b menyatakan “setiap peserta didik pada setiap runcitruncit pendidikan berhak:… b. mendapatkan peladenan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.” Serta pasal 36 ayat 3 poin c bahwa “Kurikulum disusun sesuai dengan tangga pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:… c. peningkatan potensi, kecendekiaan, dan minat peserta didik…” Kemudian diakhiri dengan pasal 45 ayat 1 menyatakan “
Setiap eceran pendidikan halal dan nonformal menyenggangkan alat angkut dan prasarana nan menetapi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecendekiaan jauhari, sosial, sentimental, dan kejiwaan murid didik.



[30]




Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa secara hukum pelaksanaan pengajian pengkajian pendidikan berbasis kepintaran beragam sudah lalu diatur dalam undang-undang. Peristiwa ini tentunya lagi bisa menjadi dasar aturan lakukan semua mata les alias lembagai pendidikan yang ingin berinovasi melaksanakan pendidikan serta pembelajaran yang berbasis kepintaran bervariasi. Oleh karena itu, siapapun tidak dibolehkan memaksa pesuluh jaga untuk menekuni atau mendalami bidang kecerdasan tertentu yang enggak sesuai dengan bidang kemampuannya. Biarpun pada kenyataan dan pelaksanaannya terserah beberapa kendala nan ditemui. Lebih detail mengenai peristiwa ini akan penulis uraikan dalam pembahasan berikutnya.




B.





Teoretis Baru Pembelajaran PAI


Paradigma nan dituru
tepi langit
teko dari Cartesian (
D
escartes) dan Newtonian

menjadi penyebab munculnya p
aradigma tunggal (enggak utuh) di bumi Barat. Dengan paradigma khas itu mereka terpuruk ke lembah ketegangan dan penuh paradoks, yang menurut Capra disebabkan oleh
kekeliruan pemikiran. Ahmad

T
afsir menjelaskan bah
w
a nan dimaksud
kekeliruan
pemikiran



menurut Capra

adalah lain digunakannya arketipe yang tepat dalam penyus
u
nan kebu
d
ayaan barat. Di mana menurutnya budaya barat hanya disusun berdasarkan satu paradigma, yaitu komplet sains (scientific paradigm).
Sedangkan sempurna

tersebut

tidak

sepenuhnya bisa

melihat pataka dan hidup ini secara utuh

dan

mondial (wholeness), kecuali h
a
nya mematamatai alam ini pada bagian yang empiris saja.


[31]





Bila “kebudayaan” barat tersebut dikaitkan dalam dunia pendidikan, secara tunggal M. Zainuddin memaparkan perbedaannya dengan pendidikan Islam sama dengan berikut:


[32]




Katagori


Pendidikan Islam


Pendidikan Barat


Landasan Filosifis

Paradigmanya bertolak berusul sumber atau landasan (doktrin) Islam nan bercorak
teo-antroposentris.

Paradigmanya dilandaskan metafisika Yunani yang
antroposentris-sekuler
sehingga terlepas berpunca ukuran moral dan spiritual.


Struktur Konsep Pendidikan

Terjadinya perbedaan: tujuan, konsep tentang manusia (peserta asuh), nilai, serta tanggung jawab yang diembannya.


Ontologi

Terjadi perbedaan privat aspek cara memandang dan menempatkan para pserta didik dalam proses pembelajaran.


Sumber dan Metode Epistomologi

Berpunca bermula Allah SWT, yang diperoleh melalui panca indera, akal bulus sehat, berita nan benar, dan intuisi.

Semua objek (benda/zat/materi) yang bisa diserap oleh panca indera.


Sistem Etika

Bercorak teo-antroposentris yang memangkalkan manusia sebagai pelaku sejarah langsung andai makhluk (khalifah dan hamba) Allah.

Menurut Syamsul Nizar: bercorak antroposentris yang menempatkan insan sebagai daya dari apa-galanyanya, individu merdeka tanpa bata.

Tabel 2.1: Perbedaan Sistem Pendidikan Islam dengan Sistem Pendidikan Barat (Tabel diadaptasi dari pemaparan M. Zainuddin dalam gambar paragaraf)

Berbunga tabel tersebut dengan jelas tergambar bahwa sistem pendidikan barat adakalanya bukan sepenuhnya cocok apabila diterapkan dalam sistem pendidkan Islam. Maka dari itu karena itu setiap teori bersumber barat, utamanya teori pendidikan enggak serta merta harus diserap sepenuhnya kerjakan digunaan kerumahtanggaan sistem pendidikan Islam. Bagaimanapun paradigma yang diungakan oleh umat islam dengan teoretis orang barat berlainan, sehingga mempengaruhi dalam takhlik konsep sistem pendidikan Islam.


Lebih jauh, bila dikaitkan dengan pembelajaran secara langsung, maka p
aradigma lama mengajar

tentang mengasihkan
reward and punishment
atau memasrahkan rangsangan lain


[33]



sudah tidak berlaku lagi. Ataupun paradigma pengajian pengkajian

yang belaka sebatas mengutarakan guna-guna pengetahuan

(sains)


dianggap sudah tidak

relevan dengan kekinian
. Diperlukan paradigma bar
u,


bahwa

mengajar laksana proses mengatur lingkungan


(kebudayaan)

. Sejumlah alasannya adalah:



1.



S
iswa bukanla
h

orang dewas

a

internal bentuk


anak boncel atau remaja

, tetapi cucu adam yang medium berkembang sehingga masih kalam proses pendidikan. Dengan demikian, guru (sebagai sosok dewasa) bukanlah cak satu demi satu sumber belajar. Asumsinya, kebutuhan orang dewasa dengan anak-anak berlainan, maka guru bertugas sebagai pengelola sendang membiasakan nan sesuai dengan tingkat nyawa siswanya.



2.



Adanya salakan ilmu pesiaran berhasil puas ketidak mungkinan bagi setiap orang mampu menguasai

seluruh

cabang keilmuan. Dengan demikian, berlatih tidak sekedar mengingat informasi, mengingat rumus-rumus, tapi

belajar ialah

bagaimana

siswa gemuk

memperalat

tokoh

nya untuk mengasah kemampuan berfikir.



3.



Penemuan-reka cipta hijau n domestik latar psikologi

(
menurut pencatat sekali lagi bidang ilmu hayat
)
, berakibat pemahaman mentah terhadap konsep

(teori)


perubahan perilaku bani adam. Di mana bani adam umpama makluk biologis

(
organism
e)

memilik potensi oleh-oleh yang menentukan perilaku manusia.

I
mplikasinya, proses pendidikan bukan juga memasrahkan stimulus

buat cerdas pada latar tertentu

, tetapi meluaskan potensi

(kecerdasan)

yang

telah ada dan sudah lalu

dimiliki siswa.


[34]





Penjelasan tersebut dempang seperti pendapat Thomas R. Hoerr, bahwa:


N
eori kecerdasan majemuk (KM) menerimakan pendekatan realistis pada bagaimana kita mendefinisikan kecerdasan dan mengajari kita memanfaatkan kelebihan siswa untuk membantu mereka membiasakan…. Menjadi cerdas tidak lagi ditentukan oleh poin ulangan; menjadi cerdas ditentukan oleh seberapa baik murid belajar dengan
cara yang beraneka rupa.”


[35]






Makin

detail
,

Muhaimin
, dkk. mengklarifikasi bahwa b
elajar puas hakikatnya terjadi secara distingtif, sehingga setiap orang dalam belajar n kepunyaan karakteristik istimewa. Dari situ, idealnya pendidikan agama

I
slam seharusnya diacukan pada pesuluh didik secara perseorangan. Dengan hipotesis, tindakan (perilaku) belajar memang bisa ditata

(dikelola)


dan dipengaruhi


(diintervensi)

, akan cuma perilaku sparing manusia akan konstan melanglang sesuai dengan karakteristik peserta didik secara orang seorang. Misalnya, pesuluh pelihara yang nan cara belajarnya lambat

n domestik bidang tertentu


lain boleh dip

a
ksa

untuk


belajar c

e
pat. Oleh karena itu, rancangan penerimaan PAI harus diupayakan sesuai dengan karakteristik perseorangan petatar didik, sehingga terjadi perkembangan dalam pemahaman, pengalaman, dan pengamalan beragamanya sesuai dengan sendi tampung dan kemampuannya (rahasia raih).


[36]






Sedangkan apabila dikaitkan dengan pesuluh didik secara langsung, maka paradigma lama adapun petatar ajar telah mengalami pergeseran. Di mana sekarang ini s
etiap peserta didik

di pandang

mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda dalam ranah psikologis, afektif, dan psikomotorik.


[37]



Selain perbedaan tersebut, pes

e
rta bimbing juga berlainan pada kemampuan
fitrah. Asumsinya ada anak yang n kepunyaan kemampuan
fitrah
dalam bidang melukis akan tetapi lemah dalam kemampuan meronggeng dan olah raga. Suka-suka pun

peserta ajar

yang n kepunyaan kemampuan mendaras al Quran nan lewat baik. Implikasinya, perbedaan pada aspek kejiwaan dan
fitrah
merupakan keadaan yang sangat mendasar kerjakan diketahui dan dipetakan secara pasti oleh hawa. Di mana peta tersebut dijadikan modal awal privat merancang kegiatan penerimaan.


[38]






Tentang apabila d
ilihat dari kepentingannya, pendidikan dibagi menjadi dua,



pertama


pendidikan dari segi kepentingan individu

al

peserta jaga

.


M
enurut

H
asan

L
anggulung

nan dikutip oleh Abuddin Nata

, selain memperhatikan peserta didik dari segi perbedaan bakat, kemampuan, kecenderungan, dan sebagainya, guru pula harus membantu individu dalam memformulasikan dan mengaktualisasikan

“kecerdasan”


dirinya

.


D
ari itu

diharapkan peserta asuh


dapat membereskan masalah di kehidupannya lusa

.


[39]






Kedua,


dari segi kebaikan publik
.


P
elaksaanan pendidik dilakukan semata-mata buat memenuhi kebutuhan awam sehingga setiap gagasan, pemikiran, nilai, budaya, agama, aji-aji pengetahuan yang disalurkan ke pelajar asuh harus mendapat persaksian mahajana dan negara.

D
engan introduksi lain masyarakat dan negara sangat berperan internal mengintervensi kegiatan pendidikan. Yakni, lakukan menciptakan generasi yang siap untuk memuati ruang-ruang kosong bidang pengetahuan yang sangat dibutuhkan masyarakat.


[40]






Konsep pendidikan yang memadukan antara kemustajaban tunggal denga keistimewaan umum didasarkan pada hipotesis bahwa anak adam selain punya kemandirian berkreativitas juga dibatasi maka dari itu kebebasan sosial. Maka dari itu karena itu setiap peserta didik selain bisa menentukan pilihan-pilihannya, mereka juga harus tunduk kepada pili
han

yang diakui dan dibutuhkan bersama.

Dengan alas kata enggak I
slam memandang ba
h
wa kedua maslahat tersebut harus berjalan berdampingan dan sekelas. Selain juga memperalat nilai-nilia yang berpangkal dari Tuhan nan diyakini bersusila diban
ding
kan skor-nilia nan diciptakan manusia. oleh karena itu, dalam menyikapai apa-apa yang berasal dari sosok adalah dimulia dengan sikap meragukan terlebih dahulu kemudian menguasai keraguanya itu dengan bukti ilmiah. Sedangkan menyikapi yang berpangkal dari Tuhan dimulai dari menyakinnya, kemudian memperkuatnya dengan kognisi manusia akan halnya
ayat-ayat kauniyah.


[41]









C.






Penelaahan PAI Berbasis Kecerdikan Beragam yang Ideal



Pembelajaran PAI merupakan kegiatan untuk mencerdaskan peserta didik. Oleh karena itu, dalam konteks makalah ini hal-keadaan penting yang perlu diperhatikan sebelum diadakan penerimaan adalah sama dengan apa kondisi (latar belakang) peserta asuh, sejauh mana kemampuan hawa internal mengakomodasi varietas siswa bimbing, dan bagaimana kaidah ki memasukkan skor-biji Islam kepada siswa tuntun sesuai dengan kondisi “variasi” siswa bimbing. Lakukan lebih jelasnya maka penulis gambarkan skema di bawah ini:


















Oval: PAI
















Mazhab
Kecerdasan
Ras/kulit
Ekonomi
Kultur





















(Organisasi)


























Flowchart: Preparation: Pendidikan yang tidak diskriminatif dan tidak terjadi penyeragaman. Semuanya terbingkai pada nilai-nilai agama Islam.

Tulangtulangan 2.2: Posisi peserta jaga internal bingkai Pendidikan Agama Islam



Mulai sejak tulangtulangan tersebut dapat dipahami bahwa pembelajaran PAI bukanlah materi ceramah, materi kursus, dan materi diskusi saja. Namun, penerimaan PAI merupakan seni guru dalam mendoktrin peserta didik hendaknya fanatik dan setia setakat pengunci semangat terhadap agama Islam. Dengan perkenalan awal tidak, dalam pembelajaran PAI enggak terserah upaya mencegah peserta didik dalam meluaskan pembawaan, potensi, kecerdasan, dan minat petatar didik kerjakan menjadi manusia yang ahli di bidang-bidang tertentu (senyampang enggak bertentangan dengan nilai-nilai Islam).





[42]









Lebih lanjut, menurut Thomas R. Hoerr bila direnungkan sesungguhnya teori pembelajaran berbasis kecerdasan beraneka macam (multiple intelligences) bisa menjadikan dunia pendidikan menghargai variabilitas (kecerdikan) pesuluh. Justru dimungkinan bisa mengidentifikasi keunikan yang berbeda-beda pada setiap anak adam.





[43]






Kendatipun pada kenyataannya penerapan teori kecerdasan majemuk




membutuhkan biaya yang tidak adv minim (perlu dana tambahan), diantaranya diperlukan bikin membeli kamera vid
eo (CCTV)

di setia

p

ira kelas dan mengundang artis aneka permukaan


dan kebutuhan-kebutuhan penunjang lainnya

.


[44]






Masih menurut Thomas R. Hoerr, t
idak suka-suka cara tunggal dan yang benar (harus sama) bakal penerapan

teori kecerdasan bervariasi

(ini merupakan sebelah idiosinkratis, sek
a
ligus k
e
lemahannya) plong sekolah-sekolah. Setiap pr
a
ktisi pendidikan dalam menunggangi teori

tersebut


harus dapat membidas keunikan konteks dan kultur sekolah mereka


masing-masing

.


[45]




Berlandaskan analisis penulis keadaan tersebut bisa dicontohkan pada kasus

di sekolah ataupun ruang inferior tertentu menyetel irama serta merta belajar

bisa


menjadi

centung

siswa berkembang kecerdasaan matematisnya. Doang disekolah lain itu akan bisa menyebabkan kompleksitas


luar sah

.

A
rtinya, titik tekan

teori kecerdasan beragam


sebenarnya harus

didasakran pada keadaan tiap-tiap sekolah dan publik selingkung
,

sehingga setiap sekolah mempunyai kaidah sendiri dalam mener

a
pkan
nya
.


Dapat dikatakan dalam penerapan teori kecerdikan beragam, alangkah bukanlah perkara mudah dan remeh temeh. Baik dari segi pemahaman teorinya maupun dari segi penerepannya. Sebaiknya guru harus memperhatikan secara tekun akan halnya hakikat dari teori tersebut.
Oleh karena itu pencatat akan memaparkan saran Howard Garner kepada para guru sebagai bahan kajian yang layak berjasa. Peristiwa tersebut sebagaimana yang dikutip oleh Valerie Strauss, ada tiga peristiwa utama yang harus diperhatikan merupakan:






1.



Mengadakan penerimaan secara spesifik sebanyak boleh jadi. Dengan mempelajari sebanyak mungkin dan bila teradat secara detail terhadap setiap peserta didik. Mengajar setiap peserta asuh dengan cara nan menurut mereka nyaman dan bisa membiasakan dengan efektif. Tentu hal ini akan lebih mudah bila dilakukan dengan papan bawah yang makin kecil.



2.



Berbuat metode indoktrinasi yang beragam. Mengajarkan materi terdahulu dalam berbagai cara dan menggunakan berjenis-jenis alamat misalnya melalui cerita, karya seni, diagram, role play dan sebagainya. Dengan prinsip itu diharapkan siswa didik dapat belajar dengan cara yang farik.



3.



Tinggalkan atau kesampingkan istilah “gaya membiasakan,” karena ini akan mencemaskan makhluk bukan dan tak akan membantu guru ataupun pelajar asuh.




[46]






Bila penggalan terpenting (pokoknya) atau justru seluruh mulai sejak teori tersebut boleh dilakukan maka bisa dikatakan inovasi


[47]



terhadap pembelajaran PAI telah berakibat. Dengan itu maka diharapkan keefektifan intelektual Selam


[48]



bisa beruntung masukan yang berarti. Tetapi bila belum kiranya perlu diadakan pembaharuan di bidang lain yang mempengaruhi secara serta merta ataupun tidak langsung agar penerapannya boleh optimal. Sebagaimana menurut Agus Efendi bahwa d

alam dunia pendidikan

lakukan

membangun tradisi dan budaya berfikir filosofis dan ilmiah tentu tidak mudah. Diperlukan sistem pendidikan dan pembelajaran yang demokratis, sistem kurikulum yang inovatif-bernas serta transformatif-responsif terhadap pertukaran

masyarakat

, sistem pelatihan berpikir dalam-dalam yang sistematis, trik ajar yang komunikatif-presuasif serta efektif-inovatif, pagar adat ilmuwan serta sistem sosial garis haluan yang demokratis, dan sistem budaya nan mendukung label

serta

menghormati HAM-spritualistik-religius.


[49]





Pernyataan tersebut bisa dipahami bahwa, bila pembelajaran PAI secara mutlak (tanpa pengayak) menerapkan teori kecerdasan beragam maka dampaknya adalah harus terserah peralihan (peluasan) materi, metode pembelajaran, sarana-infrastruktur, adanya
team
teaching, dan perubahan lainnya nan relevan dengan teori tersebut. Peralihan tersebut tak berlaku buat tujuan unik PAI, yakni untuk menamkan nilai-nilai Islam kepada peserta didik. Namun demikian, intern kondisi ini prakteknya masih sangat jarang bikin ki memasukkan kredit-ponten Islam sreg materi, gaya sparing, dan korban ajar pembelajaran PAI nan dipadukan dengan teori kecerdasan berjenis-jenis.

Lebih konkrit bila ditinjau terbit pembelajaran PAI, di dalam materi PAI terdapat beberapa bidang kecerdikan yang bisa diperdalami oleh masing-masing jenis intelek petatar didik. Misalnya materi dakwah, mahfuz, dan seni membaca al Quran ditekankan secara sungguh-sungguh pada peserta didik yang hanya punya kecerdasan linguistik-verbal. Materi hobatan waris, ilmu zakat, dan ilmu falak diberikan secara khusus bagi peserta didik yang memiliki kecendekiaan makul-matematis. Bagi lebih rincinya penyadur mewujudkan tabel sebagai berikut:


No.


Diversifikasi Kecerdasan Peserta bimbing


Pembelajaran PAI


Materi


Metode


Bahan ajar

1.


Linguistik-verbal

Mahfuz serta membaca Alquran dan Hadith, pidato bahasa arab

Latihan dan mahfuz

Referensi al Quran, Hadith, dan bahasa arab

2.


Membumi-matematis-numerikal

Guna-guna waris, ilmu zakat, ilmu falak (hisab)

Kursus, menganalisis, menghitung, menyusun

Soal-soal (cak bertanya) tentang zakat, ilmu perbintangan, ilmu waris. pengadilan agama, lembaga zakat, dan laboratorium astronomi.

3.


Spasial-visual

Kaligrafi, menggambar peta rekaman perkembangan agama Selam di dunia, takhlik grafik pertambahan jumlah muslim di bumi

Latihan, menulis, takhlik grafik, mewujudkan denah

Data-data tentang jalan agama islam di manjapada berasal zaman lampau hingga sekarang dan pergi ke seniman kaligrafi

4.


Musikal

Barzanji, seni baca al Alquran, sholawat, nasyid,

Latihan, praktek langsung di dunia nyata

Perlengkapan musik, sound,

5.


Kinestetik

Konservasi jenazah, materi sunnah nabi: berkuda, berenang, berlari

Les, ikut perlombaan

Perlengkapan buntang, aswa, kolam renang, lapangan olah jasmani

6.


Interpersonal

Praktek dakwah, pemimpin, menari, drama,

Latihan, role play, ikut organisasi, praktek di marcapada nyata

Organisasi, mushola

7.


Intrapersonal

Renungan malam (tahajud), cerita mengenai spirit sufi, cerita tentang pertentangan masuk selam, narasi adapun

Pendekatan personal,

Buku cerita adapun sufi, siasat muhasabah, cerita menyentuh hati

8.


Naturalistik

Merawat taman sekolah, menjaga keayuan

Pengutusan: menjaga taman

Taman, hewan,

Tabulasi 2.2: Penerapan teori kecerdasan bermacam rupa dalam suatu cak cakupan kurikulum PAI

Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa siswa nan dikatagorikan cerdas menurut PAI enggak hanya yang bisa hafal al Quran-hadith, hafal sejarah Islam, yang mempunyai biji ulangan bagus. Namun semuai siswa dikatakan cerdas, utamanya “bila” sudah menemukan varietas kecerdasan apa nan ia miliki (kuasai). Kemudian diterapkan pada pembelajaran PAI buat dipahami, dihayati, diamalkan, dan dijadikan pedoman dalam semangat sehari-hari. Dengan demikian kurikulum PAI bisa menjadi fungsional dan penting langung cak bagi kebutuhan hidup (awak dan rohani) pesrta didik. Serta bisa bermakna bagi masyarakat karena jenis kecerdasan yang beragam tersebut bisa mencetak generasi Selam nan berprofesi di bidang berbagai ragam (tidak homogen).

Peristiwa tersebut tentu akan berlainan dengan penerapan teori KB (kecendekiaan heterogen) di lingkup materi (tema) pembelajaran. Misalkan materi tentang zakat. Dari materi tersebut dapat disimulasikan (metode bermain peran/role play), bentuk penugasan mengarang


[50]


, atau dipraktekan secara nyata dengan pembentukan lembaga (organisasi) zakat yang berlokasi di sekolah. Kian detailnya maka penulis membuat pengalokasian tugas di lembaga tersebut berdasarkan jenis kecerdasan per peserta didik sebagai berikut:


NO.


Diversifikasi Kepintaran UTAMA (DOMINAN)


JABATAN



Falak

UGAS


ALAT



N

EMPAT KERJA

1.


L

inguistik-verbal

(dibutuhakn kecerdasan spasial untuk mendesain tulang beragangan iklan)

Skuat manajer pemasaran

Membuat proposal, selebaran/pamflet (iklan) bakal masyarakat

Komputer

Rubrik

2.


Matematis-logis-numerikal

(dibutuhkan intelek spasial bikin memetakan masyarakat berdasarkan tingkat ekonominya)

Cak regu manajer keuangan

Membuat daftar prioritas penerima zakat serta prioritas pemukim paling murah hati dan menghitung pengeluaran dan pemasukan)

Komputer jinjing

Ruangan

3.


Spasial-visual

(dibutuhkan kecerdasan interpersonal cak bagi mengadakan pendekatan dengan pembesar terkait)

Skuat manajer perencanaan

Memetakan warga mana saja di sekitar sekolah yang berstatus mustahiq dan penduduk karim

Kertas gambar, pensil, dan spidol berwarna

Lapangan dan ruangan

4.


Kinestetik-jasmaniah

(dibutuhkan kecerdasan matematis-masuk akal untuk menganalisis data stastitik)

Skuat manajer pengelolaan barang atau perlengkapan

Mengambil zakat dari warga dermawan (muzakki) disetorkan ke “panitia zakat” lewat didistribusikan kemustahiq.

Kendaraan, timbangan,

Pelan

5.


Musikal

(dibutuhkan kecerdikan interpersonal lakukan mempengaruhi teman-temannya agar kepingin mengikuti komando lirik lagu yang dibuatnya)

Skuat manajer kesegaran spirit/mental (SDM)

Menggubah lirik lagu-lagu terkini dengan lirik lagu
Islami
tentang zakat
,
kemudian dia disuruh memimpin dagi-temannya agar bersemangat dalam menjalankan misi panitia zakat.

Sound, kertas, kaset,

Ruangan

6.


Interpersonal

(dibutuhkan kecerdasan ilmu bahasa-verbal bikin mengenalkan zakat kepada unggulan muzakki)

Tim manajer
humas

Menjadi pimpinan panitia zakat maupun ditugaskan untuk mengadakan pendekatan dengan warga karim (muzakki) dan para mustahiq.

Media, data statistik, materi zakat,

Lapangan dan ruangan

7.


Intrapersonal

(kontol kepintaran interpersonal lakukan mempengaruhi n antipoda-temannya)

Tim manajer kebugaran hayat/mental (SDM)

Memotivator teman-temannya, melempengkan karsa, dan menentukan (menyusun) hukum dan besaran zakat dari semua jenis zakat

Plano

Ruangan dan lapangan

8.


Natural

(butuh kecerdasan spasial untuk menyeting ruangan)

Tim manajer kebugaran kehidupan/mental (SDM)

Menata keindahan dan kenyamanan ruangan rapat/kelas bawah kerjakan konsolidasi “panitia zakat” menggunakan tanaman.

Pot, tumbuhan, poster dunia tumbuhan atau dabat,

Ruangan


Diagram 2.3:

Penerapan teori kepintaran beragam dalam

jangkauan suatu tema (materi), yakni

materi zaka
t lega penataran PAI.

Pecah dua tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila temperatur hendak menerapkan pembelajaran PAI berbasis KB internal arti gaya belajarnya, maka hawa harus memiliki kemampuan delapan jenis kecerdasan bikin mengajar peserta didik. Cuma, bila hendak menerapkannya dalam kebaikan esensinya, maka guru harus mengakomodasi perbedaan dan mengakui adanya kecerdikan beraneka ragam yang dimiliki saban pesuluh didik. Konsekuensinya, guru memberikan kesempatan plong murid didik bakal merumuskan kewajiban PAI sesuai dengan rataan kecerdasannya. Misalnya dalam satu tema/materi les PAI, satu petatar ditugaskan bakal mempertunjukkan materi yang sesuai dengan latar kecerdasannya (kinestetik). Sedangkan siswa lainnya ditugaskan untuk membuat gambar terkait materi sesui dengan meres kecerdasannya (spasial-visual).

Dengan demikian, karena tersalurkannya


[51]



potensi masing-masing kecerdasan siswa secara layak serta semuanya didasarkan pada nilai-ponten Islam, maka diharapkan petatar akan bermartabat-bermoral menjadi manusia sukses. Yakni, kesuksesan yang hakiki lain kesuksesan yang semu. Lebih detail Tufiq Pasiak menggambarkan kejayaan sebagai berikut:






Rencana 2.3: Dua jenis kesuksesan

(Diadapatasi berasal tabel Taufiq Pasiak)


Dari

lembaga

tersebut

bersendikan penjelasan Taufiq Pasiak

dapat di
gambarkan

bahwa tipe kemajuan kolom paling kanan makin mementingkan ponten vitalitas. Misalnya kesetiakawanan, kejujuran, integritas, komitmen, koneksi sosial, kerja sama, dan keseimbangan. Lebih konkritnya, seseorang merasa sukses bila kamu makmur memberikan orang bukan sesuatu yang membuatnya dapat menikmati hidup secara bermakna.


[52]



Dengan kata lain, kemustajaban sukses senyatanya bukan sukses tetapi buat mementingkan diri sendiri.


Sekadar, nan dapat merubah situasi menjadi lebih baik sehingga bisa memberikan makna dan nilai hidupan.


Lebih konkrit,
laksana upaya penyaring terhadap proses dan hasil dari ilmu pengetahuan barat maka perlu adanya upaya kritis terhadap teori Gardner. Di mana, ternyata teori kecerdasannya tidak tetapi mencakup manusia, tapi pun spesies tidak. Dengan ini berarti ada anggapan bahwa hewan juga memiliki kecerdasan karena juga n kepunyaan otak walupun tak secerdas manuisa. M

enurut

G
ardner kecendekiaan itu sudah dimiliki oleh manusia sejak zaman prasejarah, detik peradaban manu
sia

modern belum dimulai. Apalagi menurutnya intelek juga dimiliki maka dari itu macam lain (hewan). Berikut yakni indikasi yang menentukan bagaimana sebuah kecendekiaan antara manusia pu

r
ba dengan binatang

dapat


saling terkait:


[53]






No.


Jenis Kecerdasan


Manusia Purba


Macam lain

1.

Ilmu bahasa-Oral

Ditemukan lambang tertulis manjur telah diapakai sejak 30.000 musim

Kera lautan memiliki kemampuan dasar bikin menamai benda

2.

Mantiki-matematis-numerikal

Sistem angka dan penanggalan telah ditemukan intern lingkungan prasejarah

Tabuhan menghitung jarak melalui perilaku terbang mereka

3.

Spasial-okuler

Lukisan terowongan yang tersohor di Prancis dan Spanyol

Naluri mempertahankan provinsi sreg berbagai rupa jenis mamalia

4.

Kinestetik-jasmani

Penggunaan radas pada zaman prasejarah (penemuan artifak)

Pemanfaatan alat tercecer telah ditemukan pada primata, dabat pemakan semut, dan diversifikasi tak

5.

Interpersonal-antar pribadi

Petunjuk adanya keramaian kedupan komunal awal

Wasilah dengan emak pada primata dan psesies tak

6.

Intrapersonal-intra pribadi

Kognisi diri yang dibuktikan dengan lukisan lubang, keterampilan memburu (butuh perencanaan dan firasat)

Simpanse dapat melihat pantulan diri dari cermin dengan mendedahkan serta menyimbolkan pikiran pangkal.

7.

Naturalis

Kemampuan membedakan binatang dan flora bikin kelangsunga hidup

Sistem jarang cak bagi memangsang tetangganya dan cak bagi lain menjadi sasaran

8.

Eksistensial

Adanya upacara keagamaan prasejarah, sebelum berburu dan ketika penguburan.

Gajah dan variasi lain menunjukkan ritual tertentu pasca- kematian salah satu anggotanya.

Diagram 2.4: Kecerdikan pada manusia purbad dan tipe selain cucu adam

(Tabel dibuat oleh panitera, diadaptasi dari penjelasan Gardner)

Berpunca tabel tersebut dapat dipahami bahwa antara khalayak purba dengan jenis lain (hewan) sama-selaras n kepunyaan kecerdasan yang berjenis-jenis. Lamun cak bagi makhluk kecerdasan beragama bisa didominasi maka dari itu diversifikasi manusia cuma pada masing-masing individunya. Belaka untuk hewan enggak bisa didominasi oleh satu jenis saja, artinya tiap manusia dalam satu macam memiliki tipe kecerdikan nan sederajat. Misalnya kecendekiaan satu ekor kumbang satu dengan nan lain tidak bisa memiliki jenis kecendekiaan farik. Dengan kata lain, tipe ecerdasan antara satu ekor madukara dengan yang enggak adalah sama, merupakan kecerdikan dalam menghitung jarak melalui perilaku terbang.















































Situasi tersebut tentu akan berlainan dengan rukyat Selam mengenai satwa. Bagaimanapun, menurut Selam maksud diciptakannya antara manusia dan hewan itu farik. Dengan demikian, fungsi pentolan misal penghasil kecerdasan antara hamba allah dan hewan juga berbeda. Kepintaran hewan hanya digunakan untuk mematuhi perintah Allah yaitu “mendandani” marcapada dan hewan tak dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Sedangkan kurnia kecerdasan (penggerak) sreg manusia sebagai modalitas untuk menjalankan kehidupan, mudah-mudahan bisa memilih segala apa sesuatu sesuai dengan apa yang bisa mereka pilih.

Dari semua fenomena dan masalah di atas tersebut yang terjadi pada pendidikan Selam, Anshori mutakadim memasrahkan rekomendasi bagaikan jalan keluar, salah satu di antaranya yaitu:



1.



Lembaga pendidikan

I
slam lega setiap pelajarannya harus mempunyai aktivitas yang terkait dengan
multiple
intelligences

.



2.



Lembaga pendidikan tidak harus menyepakati siswa yang memiliki kebutuhan khusus kecuali diperlengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan mereka.



3.



Mengambil gagasan inovatif nan sesuai denga wahi

I
slam.


[54]





Mengacu sreg rekomendasi tersebut serta didasarkan pada pembahasan sebelumnya. Satu perihal lagi yang menjadi alasan mengapa sempurna ilmu Islam dengan Ilmu barat semakin merenggang. Di mana adanya perkembangan “teori” tokoh menciptakan menjadikan posisi antara manusia dengan hewan “hampir” sama. Adalah, setimpal-sejajar memiliki pengambil inisiatif dan sama-seimbang memiliki kecerdikan meskipun bersendikan pengkhususan tingkat kecendekiaan sato sangat jauh dibandingkan manusia. Implikasinya bila diruntut ke zaman masa prasejarah bahkan hingga ke zaman “penciptaan” semua makhluk arwah menghasilkan gagasan bahwa hewan dan manusia diciptakan dari “hal” yang sama. Medium yang membedakan antara manusia dengan fauna adalah kemampuan evolusi manusia nan amat pesat sehingga mampu meninggalkan tingkat kecendekiaan “hewan” lainnya.


Lebih detail Muhaimin mengklarifikasi tentang tipologi pemikiran (filsafat) pendidikan Selam, yang menurut pandangan penulis boleh menjadi bawah filosofis Pendidikan Selam pada zaman sekarang ini. Konsep tersebut secara arketipe dapat dilihat internal gambar diagram sebagai berikut:




[55]






Corak Pemikiran Pendidikan Islam


Kriteria ukur


Ciri-ciri


Kelebihan Pendidikan Islam


Pemulihan sosial beralaskan Tauhid



1.



Sumber al Quran dan Hadith



2.



Progresif dan dinamis



3.



Rekonstruksi sosial berkelanjutan yang dibangun secara
bottom up,
bermula
grass toot, dan bersendikan pluralistis



4.



Pendidikan selam yang proaktif, mengarah masa depan, dan antisipatif dalam mengatasi suatu komplikasi karena disebabkan perlintasan yang tak terduga (adanya teori baru dll) dan perkembangan IPTEK.



1.



Bukan konstruk yang
closes-ended, tapi nan dikembangkan secara konsultatif antara kenyataan (fenomena) dengan teori (konsep)



2.



Pemulihan sosialnya berlandaskan plong pengembangan eksemplar secara terus menerus



3.



Komitmen terhadap ekspansi daya kreasi secara berkesinambungan



4.



Menghargai heterogenitas budaya, dengan tetap menjunjung penyelenggaraan skor



1.



menumbuhkan kreativitas peserta ajar secara terus-menerus



2.



memberikan kekayaan wawasan budaya, nilai-nilia insani, dan ilahiah



3.



menggembleng bani adam agar siap tampil (berkarya dll) untuk menghadapi vitalitas



4.



melebarkan manusia menjadi cakap alias subur buat selanjutnya mampu berkewajiban terhadap pengembangan masyarakatnya.

Tabulasi 2.5: Tipologi pemikiran pendidikan Islam dengan kerangka diagram


(
Diadaptasi berpangkal tabel Muhaimin
)


Berbunga tabel tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam meberikan independensi peserta didik bakal menj
adi politisi, akuntan, arsitek, pemain sepak bola, zoolog, pembesar LSM, dan ahli apapun itu sumber akar tetap bernilaikan agama islam.

D
engan demikian PAI tidak hanya menekankan pada aspek kemampuan kognitif dan IQ-nya saja tapi juga menekankan pada aspek fungsional di umum. PAI lain saja berorientasi sreg doktrin-do
gm
a menjalankan ibadah buat akhirat saja, tapi lagi doktrin-dogma mengenai perintah mengembangkan intelek di bidang masing-masing bikin kepentingan agama dan bangsa.

Dengan demikian tugas PAI tidak sahaja mampu mengakomodasi keberagaman kecerdasan pesuluh, akan tetapi juga subur memanfaatkan potensi tersebut cak bagi mencetak generasi-generasi selam yang memuati seluruh sektor bidang kemasyarakatan. Asumsinya,
outcome
pembelajaran PAI tak hanya menjadikan siswa beriman dan bertaqwa dalam kekuatan seremoni (ibadah). Namun dengan PAI petatar congah mengingat-ingat, menemukan, dan melebarkan kecerdasan-kecerdasan yang suka-suka plong dirinya.

Bila hal tersebut dikaitkan dengan teori Gardner maka salah satu keadaan terdepan yang dapat diambil oleh pendidikan Islam adalah bahwa setiap pesrta didik n kepunyaan jenis kecerdasan beraneka ragam antara satu sama lain. Dengan demikian suhu bukan bisa menyetimbangkan (menyeragamkan) posisi kecerdasan seluruh siswa. Namun, akan halnya teori lain yang berasa berasal barat misalnya mengenai kemampuan tokoh yang seakan “tak rendah,” kecerdasan itu bersifat genetis atau tidak, dabat kembali memiliki “ekualitas” dengan makhluk, dan teori lain sebagainya masih belum mengalami kedewasaan teori. Dengan demikian pendidikan islam tidak harus mengambil seluruh teori mulai sejak gardner apalagi teori nan masih belum masak.

Pecah semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hakekat dari penelaahan Pendidikan Agama Islam berbasis kecerdikan bermacam rupa (multiple intelligences) yakni dapat meningkatkan atau mengembangkan kecerdasan nan minimum dominan (nampak) nan dimiliki setiap basyar siswa. Di sisi lain, temperatur PAI pun harus memberikan materi tidak yang tentunya terkait langsung dengan dogma-dogma dan nilai-angka ajaran Islam.Oleh karena itu, peran PAI adalah memberikan motivasi dan mengacungkan siswa asuh bakal mengembangkan kecerdasannya disertai dengan penanaman skor-nilai selam dengan cara dan materi pokok yang disesuikan dengan kecerdasan mereka. Misalkan, anak asuh yang memiliki intelek spasial didorong bakal menekuni kecerdasannya sehingga dapat menjadi pelukis, pemahat, arsitek, juru ilmu permukaan bumi, dan lain sebagainya. Namun disisi lain guru pun harus menanamkan skor-nilai selam, yaitu agar menjadi pelukis, pemahat, arsitek, ahli geografi yang menjunjung nilai-nilai Selam.



BAB III


Simpulan

Plong prinsipnya, Islam mengamini terdapatnya kepintaran berbagai rupa pada setiap siswa didik (bani adam). Dalam sejarahnya kembali, turunnya wahyu mengenai pemali minum khamr tidak sekaligus refleks secara “mendadak.” Namun dilakukan secara berangsur-angsur. Ini artinya, Selam memaui peralihan manusia orientasinya tak pada kesudahannya saja, tetapi kembali proses nan berkualitas. Di mana kondisi psikologis serta fisik para peminum khamr terlampau diperhatikan.

Penjelasan tersebut bila dikaitkan dengan teori
Multiple Intellegences, maka sendiri pendidik tidak serta merta harus tertuju pada hasil apa yang diinginkan. Namun, juga memperhatikan prinsip alias proses segala nan paling bagus hendaknya kondisi jasad dan psikologis siwa tidak mengalami salah orientasi, sehingga dalam jangka tingkatan bisa teraih hasil/harapan nan makin bagus. Misalnya, suhu PAI ingin menjalankan tujuan pendidikan PAI merupakan kendati peserta didiknya menjadi manusia nan percaya pada Halikuljabbar. Master lain akan bersama-sama mendoktrin murid supaya bisa beriman pada Allah, saja juga dilakukan pendekatan tak. Yakni, yang sesuai dengan kemampuan (kecerdasan) petatar jaga kerumahtanggaan mencerna “bagaimana kaidah beriman kepada Sang pencipta?.”

Lebih jauh, kerjakan bertambah terarahnya makalah ini, maka penulis akan menyadur bebarapa kejadian penting bersumber penjelasan sebelumnya, di antaranya adalah:



1.



Konsep dasar tentang teori kecerdikan beragam (multiple
intelligences).

Telah terjadi perubahan arketipe kecerdikan, yang berimplikasi adanya perubahan “posisi” peserta tuntun di dunia pendidikan. Di mana awalnya peserta pelihara sekadar sebagai bahan untuk “proyek” peningkatan kepintaran, menjadi subjek “proyek” pengembangan kecerdasan. Asumsinya, peserta didiklah yang harus aktif kerumahtanggaan mecari dan mengembangkan kecerdasan sesuai dengan bidangnya masing-masing.



2.



Transendental baru pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Pembelajaran PAI dilakukan tidak hanya bagi menepati permintaan moralitas dan ritualitas. Namun
lebih berusul itu, penerimaan PAI merupakan penghutanan poin-nilai PAI secara universal, sehingga tujuan PAI enggak semata-mata lakukan mencerdaskan murid didik secara IQ saja namun juga mencerdaskan siswa didik sesuai dengan parasan kepintaran masing-masing. Implikasinya, pembelajaran PAI secara praktik pula mengalami perubahan-perubahan. Tidak hanya tertuju pada hasilnya doang tapi juga mementingkan proses nan tepat. Semata-mata demikian, pada penelaahan PAI privat perubahan maupun inovasi berasal sudut manapun itu maka identitas dan nilai-angka keislaman tidak dapat ditinggalkan.



3.



Pengajian pengkajian PAI berbasis kecendekiaan beraneka ragam yang ideal.

Pembelajaran berbasis
multiple intelligences
dalam jangkauan satu rencana (institusi) secara umum tidaklah mudah. Banyak hambatan yang ditemui, misalnya pelir dana nan cukup banyak, butuh tenaga pendidik nan pakar (spesialis) di permukaan-bidang tertentu, butuh waktu cak bagi pengidentifikasian diversifikasi kecerdasan peserta didik serta adanya upaya rakitan spesies intelek lain yang menjadi pendukung bersumber kecerdasan penting intern suatu individu, belum adanya kesendirian visi, potensi guru yang masih minim, dan sebagainya, Maka dari itu karena itu, dalam idealya pendedahan PAI tidak serta merta harus mempraktekan secara buta (mentah) teori apapun itu. Pembelajaran PAI harus ki ajek melihat konteks mahajana sekitar, kondisi (parasan belakang) pesert asuh, dan tentunya kemampuan (potensi) kerangka pendidikan.

Bagaiamanapun sejauh ini Pendidikan Islam sebagai sebuah mata latihan maupun institusi punya manfaat spesifik. Ialah, kemampuan dan ketulusan bakal menampung siswa didik yang berasal dari mahajana papan bawah. Tentu ini tidaklah adil bila sebuah rancangan Pendidikan Islam atau mata pelajaran PAI dipaksa cak bagi menggunakan teori-teori tertentu nan beradab tapi pendapatan (uang) dan kualitas lembaga Pendidikan Selam dan temperatur PAI tidak ikut “dimodernkan.”


Daftar Rujukan


Amstrong,

Thomas.


“Seven Kinds of Smart: Menemukan dan Meningkatkan Kecerdasan Beliau Berdasarkan Teori Multiple Intelligence,” dalam
Seven Kinds of Smart: Identifying anda Developing Your Multiple Intelligence

, terj.

T. Hermaya

.

Jakarta: Gramedia, 2005

.


Efendi,

Agus.



Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik Kwetiau, EI, SQ, AQ & Successful Intelligence Atas IQ


.

Bandung: Alfabeta, 2005
.


Gardner, Howard. “Practice Does Titinada Make Perfect,”



http://multipleintelligencesoasis.org/practice-does-not-make-perfect/


, diakses tanggal 23 Oktober 2014.


Goleman,

Daniel.


“Kecerdasan Emosional,” dalam
Emotional Intelligence

, terj.

T. Hermaya

.

Jakarta: Gramedia Bacaan Utama, 1999

.


Hoerr,

Thomas R.



“B
uku

K
erja

M
ultiple

I
ntelligences:

P
engalaman

Horizon
ew

C
ity

S
chool di

S
t. Louis,

AS


dalam

Menghargai Aneka Intelek Momongan,

” kerumahtanggaan


Becoming




a



Multiple Intelligences School


, terj.

Ary Nilandari

.

Bandung: Kaifa, 2007

.

Ma’arif, Syamsul.
Revitalisasi Pendidikan Selam.
Yogyakarta: Graha Guna-guna, 2007.


Muhaimin, dkk.


Lengkap Pendidikan Selam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah

.
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.


——–.


Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Selam



d


i Sekolah, Madrasah,



d


an Perguruan Tingkatan

.

Jakarta: Rajawali Pers, 2009

.


Nata,

Abuddin.



Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran


.

Jakarta: Kencana, 2009

.


Pasiak,

Taufiq.



Manajemen Kecerdasan: Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ cak bagi Kesuksesan Sukma


.




Bandung: Mizan
.


Sanjaya,

Wina.



Politik Pembelajaran Memusat Barometer Proses Pendidikan


.




Jakarta: Kencana, 2007
.

Undang-undang Pangkal Negara Republik Indonesia Periode 1945 Amandemen ke-4.



Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2003 Beserta Penjelasannya

. Jakarta: Cemerlang, 2003.


Widayati
, Sri

dan Widijati,


Utami.



Menumbuhkan 9 Zona Kecerdikan Majemuk Anak



.



Yogyakarta: Luna, 2008
.


Zainuddin,

M.



Paradigma Pendidikan Terpadu: Menyiapkan Generasi Ulul Albab


.

Malang: Uin Malang, 2010

.


Zohar
, Danah

dan Marshall,


Ian.




SQ: Kecerdasan Spiritual,” dalam
SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence,

terj
. Rahmani dkk
.

Bandung: Mizan, 2007

.






Bakal Mengetahui Footnote marilah beli muslihat “Peluasan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner”

Source: https://www.banjirembun.com/2017/03/pembelajaran-pendidikan-agama-islam.html

Posted by: and-make.com