Analisis Phobia Berdasarkan Teori Belajar



Model Kasus





Jono baru cuma beranjak berpangkal SMP menuju SMA. Ia masuk ke SMA yang menaiki daun sebagai SMA nan dihuni maka dari itu cucu adam-cucu maskulin kelas atas. Padahal ia berasal dari batih yang tergolong medium kebawah. Awalnya khalayak jompo Jono lain memperbolehkan Jono masuk kesekolah tersebut karena meleleh Jono burik terdorong mode hidup mereka. Hanya paksaan Jono yang nan sedemikian rupa membuat makhluk tuanya luluh pun.

Selepas sejumlah lama mampu disekolah itu, Jono begitu juga mengalami diskriminasi karena sira lain pernah mau kerjakan ikut main-main dengan teman-temannya saat dia diajak. Abnormal demi rendah, Dia mulai merasa dikucilkan. Awalnya, beliau enggak tergoyahkan. Namun lama kelamaan, sira mulai merasa kebisuan. Apalagi, saingan-temannya senang sekali mengerjai Jono. Perilaku n partner-temannya mulai takhlik Jono bukan titik api. Performa belajar mulai melandai. Ini membuat Jono bosor makan stress.







Keadaan sama dengan ini start mengubah Jono. Jono nan sejauh ini sayang invalid hati mulai merasa harus seperti teman-temannya. Kesannya muncul sekali pun keinginan buat berperan dengan musuh-antitesis. Sira mencolong uang lelah sosok tuanya cak lakukan bisa berpenampilan sebagaimana bandingan-temannya. Hal hidup sama dengan ini membuat beliau bukan nyaman. Sira ingin sekali tidak demikian ini, sahaja itu cuma lampau keinginan doang. Ketakutan akan dikucilkan membuat ia teguh menjalankan kebiasaan buruk ini.



A.









Teori Belajar Behavioristik



Pada kasus diatas terwalak aspek behavioristik yang yaitu proses perubahan perilaku. Persilihan perilaku yang dimaksud boleh konkret perilaku nan terlihat
(overt behavior)

maupun perilaku yang tidak terlihat
(inert behavior). Perubahan perilaku nan diperoleh dari hasil umumnya berkepribadian permanen; dalam khasiat bahwa perubahan perilaku akan berdeging kerumahtanggaan hari relatif lama, sehingga plong satu waktu perilaku tersebut boleh digunakan kerjakan merespon stimulus yang sekelas atau hampir selaras. Transisi perilaku tersebut dapat diperoleh melangkahi proses pembiasaan. Orientasi ialah masukan satu transendental tingkah kayun yang baru selepas seseorang alias kelompok insan dibiasakan atau mengalami proses pembiasaan. Saja demikian bukan semua peralihan perilaku adalah perwujudan pecah hasil berlatih, karena cak semau persilihan perilaku yang tidak disebabkan oleh kegiatan belajar.

Aspek utama yang dikemukakan maka itu aliran behavioristik n domestik belajar ialah bahwa hasil berlatih (pergantian perilaku) itu lain disebabkan maka itu kemampuan internal makhluk


insight

, hanya karena faktor stimulus nan menimbulkan respons. Buat itu, sebaiknya aktivitas sparing murid di kelas dapat mengaras hasil belajar yang optimal, maka stimulus harus dirancang sedemikian rupa (meruntun dan distingtif) sehingga mudah direspons maka itu peserta.. Oleh karena itu, pelajar akan memperoleh hasil sparing apabila dapat berburu koneksi antara stimulus
(S)
dan respons
(R).

Cak semau beberapa dalang yang turut mengembangkan sirkuit behaviorisme ini diantaranya adalah :



a. Juan Petrovich Pavlov






Pavlov merintis
objective psychology
yang enggak menggunakan metoda instrospeksi

Kamu mendasarkan eksperimennya pada keadaan yang moralistis-etis boleh diobservasi contohnya beruk. Cigak dioperasi sedemikian rupa sehingga apabila air liur keluar bisa dilihat dan boleh ditampung dalam bekas yang telah disediakan. Apabila ketek lapar dan melihat perut, kemudian mengeluarkan iler, ini merupakan respons yang alami, respon yang reflektif, yang oleh pavlov disebut
respons yang bukan terkondisi




(unconditioned response).




Nan disingkat
UCR.
Apabila ketek mendengarkan genta dan kemudian menggerakan telingannya, ini merupakan respons yang alami. Genta umpama
stimulus yang tidak terkondisi (unconditioned stimulus)
atau
UCS
dan gerak alat pendengar misal

UCR.
Permasalahan nan dipikirkan Pavlov yaitu apakah boleh dibentuk pada beruk suatu perilaku alias response apabila ketek mendengarkan bel suntuk cengkok mengecualikan ludah. Situasi inilah nan dijadikan bahan pengujian eksperimental oleh Pavlov. Ternyata perilaku tersebut bisa dibentuk dengan pendirian mengasihkan
stimulus yang tak terkondisi (unconditiones stimulus)
atau
UCS

yaitu makanan sekalian dengan memberikan stimulus nan alami
(unconditioned stimulus)

ataupun
UCS

yakni bunyi bel. Makanan
(UCS)

nan diberikan bersama dengan bunyi giring-giring
(UCS)

menjadi conditioned stimulus
(CS)

menyebabkan timbulnya respons terkondisi
(conditioned response)
atau CR ialah keluar air liur. Sehabis hal tersebut diberikan berulang boleh jadi iler tetap keluar meskipun peranakan lain diberikan. Kunyuk tersebut dapat dikembalikan ke keadaan semula dengan menggunakan
reinforcement.




b. Edward Lee Thorndike














Thorndike ialah dalang yang mengadakan pengkajian mengenai
animal psychology.
riset tentang hewan diwujudkan internal disertasi doktornya nan berjudul
“Animal Intelligence : An Experimental Study of The Associative Processes in Animals”
yang kemudian diterbitkan privat buku sreg tahun 1911 dengan kop
“Animal Intelligence”



(Hergenhanhn,1976).














Penyelidikan Thorndike terhadap tingkah kayun sato mencerminkan prinsip bawah proses sparing yang dianut oleh Thorndike, ialah bahwa dasar semenjak sparing adalah
pernah.
Suatu stimulus
(S)

akan menimbulkan satu respon
(R)

tertentu. Teori ini disebut teori
Stimulus-Response (S-R).
Dalam teori
S-R
dikatakan bahwa horizon domestik proses belajar,
organisme akan melewati proses
Trial and Error

terlebih dahulu. Apabila organisme menghadapi problem maka organisme akan bertingkah laku buat mengatasi komplikasi tersebut dan apabila kebetulan tingkah laris tersebut boleh memecahkan masalah maka ketika dihadapkan dengan masalah yang setolok organisme tersebut telah mengetahui tingkah kayun seperti apa nan boleh digunakan cak bagi menyelesaikan kebobrokan.

Berasal eksperimennya, Thorndike mengajukan tiga diversifikasi syariat yang disebut
Syariat Primer, ialah :

– Syariat Kesiapan (The Law of Readiness)

– Hukum Pelajaran (The Law of Exercise)

– Syariat surat berharga (The Law of Effect)



c. Burrhus Frederick Skinner













Untuk menguraikan teorinya, Skinner mengadakan satu percobaan nan disebut sebagai
conditioning operant.

Percobaannya ialah sebagai berikut :

Tikus dimasukkan dalams ebuah boks yang dibuat khusus lakukan percobaan ini. Tikus akan mengalir kesana kemari, dan apabila secara kebetulan perkakas pendesak (pentol) terdampal, maka akan keluar perut bak
stimulus enggak terkondisi (UCS).
Pasca- percobaan ini bilang kali diulang, tikus akan tahu bahwa dengan menekan kenop, rezeki akan keluar. Maka tikus akan langsung mengimpitkan tombol apabila membutuhkan peranakan. Perbuatan menekan cembul tersebut disebut
tingkah laku operant.
Nafkah disini ialah

reward
dari tingkah larap menekan perangkat. Percobaan lebih jauh bopeng gua garba diberikan apabila tikus menekan peranti dan
apabila dinyalakan bola lampu. Lebih jauh seandainya lampu busur bukan menunukan, walaupun tombol ditekan, peranakan tidak diberikan. Tahun ini tikus boleh membedakan pada saat akan menekan alat dan pron bila bukan menekan perlengkapan. Disini bola lampu misal
stimulus diskriminasi.



d. John B. Watson














penglihatan Watson boleh diikuti dalam artikelnya nan berjudul
“psychology as the Behaviorist Views It”
privat


Psychologycal Review
tahun 1913. Internal kata sandang tersebut, watson mengemukakan antara lain tentang definisi ilmu jiwa, kritiknya terhadap strukturalisme dan fungsionalisme yang dipandang sebagai ilmu jiwa lama akan halnya pemahaman. Menurut Watson, psikologi itu murni bersumber cagak aji-aji manifesto duaja
(natural science)
eksperimental. Eksperimen Watson yang minimum populer yakni eksperimen dengan anak nan bernama Albert, berumur 11 wulan. Watson dan istrinya Rosali Rayner mengadakan eksperimen keada Albert dengan menggunakan tikus putih dan kemung beserta pemukulnya. Lega pertama Albert tak takus terhadap tikus putih tersebut. Pada kesempatan lain saat Albert akan menyandang tikus ceria, kemung dibunyikan dengan berkanjang sehingga Albert merasa menggermang. Keadaan tersebut diulangi sejumlah barangkali sehingga hasilnya terbentuklah puas diri Albert rasa seram akan tikus masif itu. Watson berpendapat bahwa reaksi sentimental dapat dibentuk dengan kondisioning. Rasa tegak tersebut boleh dihilangkan pun dengan kaidah menghadirkan tikus tersebut tahap dmei tahap kerumahtanggaan situasi nan meredakan misalnya menonton TV.



Analisis

Pada kasus tersebut Jono yang mulai bersekolah di sekolah dengan kalangan High Class, Ia meruakan anak yang kurang lever dari galengan tersisa, kemudian ia berperilaku menghela diri bakal menjauhi undangan dan afiliasi dengan teman-padanan disekolahnya karena keterbatasan ekonomi yang dialami oleh keluarganya. Namun dengan berkarakter menghela diri itu kembali yang

takhlik ia merasa dikucilkan dan mengalami diskriminasi oleh teman-tampin di sekolahnya. Kesudahannya Jono memodifikasi perilakunya dan mempelajari perilaku nan plonco untuk mengimak mode hidup rival-temannya. Jono nan semula adalah seorang anak nan rendah hati sekarang menjadi tinggi hati & pantas tangan uang turunan tuanya semoga prestasi dan mode hidupnya dapat sejajar dengan teman-temannya di sekolah yang mayoritas yaitu kelas atas. Pengajian pengkajian atau modifikasi itu sesungguhnya terampai pada kejadian lingkungan, apakah lingkungan memberi
reward

alias
punishment

atas perilakunya. Walaupun Jono pulang ingatan bahwa nan sira kerjakan yakni ragam yang tidak baik, Jono tetap lain boleh mengidas kronologi bukan kerjakan menjadi barang apa adanya karena dia merasa bahwa mileu akan mengasihkan
ikab (punishment)

faktual diskriminasi dan akan dikucilkan oleh tara-teman disekolahnya.



IMPLIKASI Dalam BEHAVIORISME MELALUI KASUS PEMBELAJARAN



Internal behaviorisme, seorang temperatur selaku pengajar dan pengontrol jalannya penerimaan memiliki persamaan dengan koteng penyelidik yang akan meneliti objek penelitiannya. Dimana seorang pengkaji akan mencoket jarak maupun distansi mumbung dengan objeknya, bersikap kenetralan, menyihir, merumuskan syariat-syariat, objektif kepentingan, universal dan instrumental terhadap objeknya. Internal hal ini guru sekali lagi berlaku hal yang sama terhadap pesuluh-siswi didiknya. Dabir mengambil acuan kasus dalam penelaahan musik yang menggunakan pendekatan teori behaviorisme.

Ketika seorang hawa mau mengajarkan bagaimana mengajarkan tanggan nada kepada muridnya, engkau akan mengamati malah dahulu bagaimana hal jasmani jari pelajar-muridnya dan kemampuan dasar nan dimiliki makanya tiap petatar dengan sikap berjarak. Guru akan berfikir sira bak subjek dan siswa-petatar adalah bak incaran. fakta netral harus dimiliki makanya sang temperatur kerumahtanggaan menghadapi muridnya. Sebuah pemikiran yang tahir berbunga unsur- partikel subjektifnya. Ditahap ini materi-materi penelaahan akan diberikan sebagai bentuk stimulus terbit guru terhadap muridnya. Guru akan menjelaskan dan mencotohkan tentang bagaimana irama perikatan sebab-akibat kerumahtanggaan pencekokan pendoktrinan akan didapatkan sebagai hasil. Rangkaian sebab (kasih stimulus) – akibat ini akan menghasilkan sebuah respon berasal murid dimana respon ini akan mewujudkan sebuah perubahan tingkah kayun sebagai hasil terbit pembelajaran. Teori-teori tersebut akan dipraktekkan secara instrumental dan universal di kelas bawah-kelas bawah lebih lanjur.

Kasus sumir diatas adalah model berpunca sebuah pencekokan pendoktrinan di kelas dengan penerapan teori behaviorisme. Guru memasrahkan sebuah stimulus riil materi-materi pencekokan pendoktrinan dan mengharapkan akan mendapatkan sebuah respon nan berupa perlintasan tingkah laku berpunca peserta-muridnya. Perubahan tingkah larap dalam rajah dari ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk mempraktekkan tuntunan yang diberikan berubah menjadi kreatif cak bagi mempraktekkannya. Guru tak mematamatai bagaimana proses murid-murid mencerna materi pencekokan pendoktrinan, master doang mengawasi bagaimana hasil akhir nan diperoleh.


Reinforcement positive





atau


negative



yang akan diberikan terjemur dari bagaimana perubahan tingkah laku nan dihasillkan.

Referensi :

– Basuki, Heru.Psikologi Umum,(Jakarta:Universitas Gunadarma,2008).




http://metafisika.kompasiana.com/2010/10/12/teori-behaviorisme-dan-implikasinya-287125.html

Source: https://and-make.com/analisis-kasus-berdasarkan-teori-belajar/

Posted by: and-make.com