Analisis Materi Dalam Buku Pelajaran Pai Sekolah Dasar Kurikulum 2013

Pendidikan Agama Selam (PAI) adalah pendidikan yang terencana bikin menyiapkan peserta didik n domestik mengimani, mencerna, manghayati, dan mengamalkan ajaran Islam melewati kegiatan bimbingan, indoktrinasi dan maupun pelajaran. Rataan studi Pendidikan Agama Islam (PAI) meliputi:
Akidah-Akhlaq, Qur’an-Hadis, Fiqh,
dan
Ki kenangan Kebudayaan Selam

(SKI). Materi
Aqidah
adalah bagian dari indra penglihatan kursus PAI nan memasrahkan penggalian pada pembinaan keyakinan bahwa Halikuljabbar yaitu asal-usul dan tujuan spirit manusia. Materi Aqidah menitikberatkan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keyakinan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam nama-nama Tuhan Swt. (al-asma’ al-husna). Pada materi Aqidah, mempelajari aturan 20 Almalik (Aqidat al-Awwam) atau mengenalkan rasam-kebiasaan Tuhan yang 99 begitu juga yang disebutkan intern al-Qur’an yang dikenal dengan
al-asma’ al-husna
mesti diarahkan puas dimensi empirik — dengan misalnya– kita menguraikan kepada mereka bahwa Halikuljabbar itu punya rasam
Rahman
(Maha penyayang), jadi manusia harus optimis internal menjalani hidup di dunia ini. Sifat
Rahman
maupun kasih comar Tuhan itu diberikan kepada semua hamba-Nya, tanpa pandang rambut, minus diskriminiatif, baik hamba yang mukmin ataupun nan bukan, namun Allah Swt. tetapi memasrahkan karunia sayang (Kas dapur-Nya) di alam baka jemah singularis kepada yang Mukmin saja. Makanya sebab itu, sekiranya di dunia ini insan non-Mukmin berlatih kedokteran, maka mereka akan menjadi Medikus. Namun jika orang Orang islam sendiri tidak belajar kedokteran, tetapi berlatih ilmu klenik, maka mereka akan menjadi Dukun. Demikian lagi, jika orang non-Mukmin memeras tenaga mengikuti hukum ekonomi, maka mereka akan menjadi kaya, ini hukum yang berlaku di dunia. Begitu lagi sebaliknya, jika orang Mukmin malas-malasan bekerja, maka mereka menjadi miskin. Teladan lain misalnya, Yang mahakuasa itu memiliki resan
Ghafur, Maha Pengampun, karena itu kita bukan teristiadat putus asa, walau sudah berbuat dosa kita bisa minta ampun kepada-Nya, cak agar begitu kita tidak boleh terus menerus berbuat dosa kemudian harap ampun. Sang pencipta itu memiliki sifat
Wadud
(santun), karena itu Dia tidak bakal menerlantarkan kita. Demikian pula dengan resan Tuhan nan menggermang-ngeri, sama dengan Yang mahakuasa itu Maha Perkasa (Jabbar) dan Pendendam
(Dzun Tiqam), hal ini agar khalayak tidak memperlakukan beban-kewajiban Tuhan semaunya ataupun sesedap hati cuma. Sifat-sifat Tuhan yang terkandung intern
al-asma’ al-husna
itulah yang seharusnya memberikan dampak kognitif bagi anak asuh-anak kita. Ketika menjelaskan kebiasaan mahamengetahuinya Almalik (al-‘alim) dan kemahabijaksanaan-Nya (al-hakim) boleh dijelaskan melalui fenomena empirik di sekitar kita. Misalnya diungkapkan sebuah cerita sendiri Musafir yang semenjana berlabuh di bawah tanaman beringin besar pun rindang nan buahnya kecil-kecil, sementatara itu di hadapannya merecup buah semangka besar nan batangnya kecil merambat di petak. Momen seorang Pelimbang itu terbersit di hatinya cak bagi menganggap deklarasi ini janggal, maka serta merta ia kejatuhan buah mendira itu. Seketika itu juga ia sadar, bahwa segala apa yang diciptakan Yang mahakuasa itu benar adanya (Rabbana ma Khalaqta Hadzha Bathila…).  Karena itu, kita perlu memperkaya ain cak bimbingan Aqidah dengan pengembangan-pengembangan demikian ini, bahwa untuk menunjukkan kemahakuasaan Almalik Swt. cukup ditunjukkan pada penciptaan (turunan)-Nya yang terhampar di jagat raya ini (tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fi dzatihi). Masih banyak arketipe lain yang boleh dikembangkan terkait dengan ini, sehingga aspek afektif dan psikomotor dapat dicapai sesuai dengan intensi pembelajaran. Sementara itu materi
Qur’an-Hadis
menegaskan puas kemampuan baca tulis yang baik dan benar, mengerti makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya n domestik usia sehari-hari. Al-Qur’an merupakan wahyu Almalik yang kebenarannya berkepribadian absolut. Jika dilihat dari aspek serebral –dalam konteks mempelajari al-Qur’an– belajar membaca dengan sopan dan baik, serta menghafal ayat-ayat al-Qur’an –terutama manuskrip-surat pendek–  akan kian melekat dan bertahan lama jika dimulai puas usia SD/Mihun (6 – 12 tahun). Sparing membaca dan menulis serta menghafaz al-Qur’an tersebut perlu dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan dari waktu ke perian atau hari ke hari (sustainable). Jika dilakukan pada hari tertentu (hari senin jam mula-mula dan kedua misalnya, karena PAI doang 2 jam pelajaran) kemudian disusul lega waktu senin berikutnya dan selanjutnya sampai beberapa semester, maka katai kemungkinannya buat dapat melekat dan tahan lama dalam ingatannya, terutama jika lain didukung oleh pendidikan agama intern keluarga dan umum (seperti pendidikan agama pada TPQ/TPA/TKA dan sebagainya). Dilihat dari aspek ilmu jiwa agama, bahwa siswa Bihun/SD yang telah
aqil baligh, bertanggung jawab kerjakan menjalankan ibadah shalat (mukallaf). Lega periode ini mereka membutuhkan pemahaman al-Qur’an baik dari segi keefektifan
lafdhiyah
(tekstual) maupun kandungan makna dan mengaitkannya dengan fenomena alam, sosial, budaya, politik, ekonomi dan tidak-lainnya (kontekstual), sehingga dapat menaik ke-khusyu’an dalam beribadah dan mampu membangun kognisi beragama (religious conciousness) momongan. Al-Quran dengan demikian khusyuk menjadi
hudan
(ramalan dalam kehidupan),
furqan
(pembeda antara yang haq dan bathil, antara yang bermartabat dan salah, dan antara yang baik dan buruk), penawar serebral cak bagi manusia beriman
(syifa’ ma fi a
l
-s
h
udur).
Harapan ekspansi materi ini adalah laksana upaya mengejar alternatif untuk meningkatkan hasil belajar dan transfer membiasakan, memberi dan meningkatkan wawasan hawa terhadap materi penelaahan agar dicapai hasil belajar yang maksimal.
Al-Qur’an-Hadis
merupakan sumber utama petunjuk Islam, dan sekali lagi adalah perigi Aqidah-Moral, Syari’ah/Fiqh (ibadah,
muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Aqidah (ushuluddin) maupun keimanan merupakan akar susu atau pokok agama. Syariah/Fiqh (ibadah, muamalah) dan Akhlak terkeluar tolak mulai sejak Aqidah, yaitu sebagai pengejawantahan dan konsekuensi mulai sejak Aqidah (keimanan dan keagamaan usia). Syari’ah/Fiqh merupakan sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia dengan Halikuljabbar, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlaq merupakan aspek sikap hayat atau fiil arwah basyar, dalam arti bagaimana sistem norma nan mengatur pergaulan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti eksklusif) dan perkariban orang dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap umur dan khuluk hidup orang dalam menjalankan sistem kehidupannya (ketatanegaraan, ekonomi, sosial, pendidikan, koneksi, kebudayaan/seni, iptek, olahraga/kesegaran, dan lain-lain) yang dilandasi makanya Aqidah yang kokoh. Padahal tarikh (sejarah) Peradaban Islam merupakan perkembangan avontur hidup hamba allah mukminat dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidu­pannya yang juga dilandasi maka dari itu Aqidah. Padahal materi
Tata krama
adalah adegan berpangkal indra penglihatan pelajaran PAI nan diarahkan buat menyiapkan siswa tuntun semoga memiliki adab dan etika Selam umpama keseluruan pribadi Mukmin dan dimalkan privat jiwa sehari-musim. Materi
Akhlaq
menegaskan plong pembiasaan bakal menerapkan tata susila terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) dan meninggalkan tata krama ternoda (al-akhlaq al-mazmumah) internal kehidupan sehari-hari. Akhlaq mempelajari perantaraan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan orang, dan orang dengan alam seberinda (Ihsan). Kombinasi atau susunan ketiganya ini harus harmonis sebagaimana yang ditunjukkan intern al-Qur’an surat al-Qashash: 77. Bahwa hamba allah harus mentaati perintah Allah dan menjauhi segala apa larangan-Nya, melakukan baik kepada sesama manusia dan kembali makhluk enggak, tertera subur menjaga dan merawat kelestraian alam sebagai karunia Allah Swt. ini. Materi
Fiqh
yakni bagian mata pelajaran PAI yang diarahkan kerjakan menyiagakan peserta didik agar dapat mengenal, memahami, menjiwai, dan mengerjakan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar rukyah hidupnya (way of life) menerobos kegiatan bimbingan, pencekokan pendoktrinan, latihan, serta pengalaman. Materi Fiqh menekankan pada kemampuan pendirian melaksanakan ibadah dan muamalah nan benar dan baik, berperangai fleksibel dan kontekstual. Oleh sebab itu, hal-situasi yang tersapu dengan ibadah mahdhah seboleh-bolehnya dijelaskan sesuai dengan perkembangan ilmu pengumuman berbudaya, misalnya tanya makna wudhu’ dan shalat ditinjau berpokok aspek kebugaran, kognitif dan sosial. Demikian juga adapun najis dan haram yang harus dijauhi maka dari itu umat Islam. Semua itu perlu dijelaskan kerumahtanggaan konteks kehidupan kontemporer. Padahal materi
Tarikh
atau
Sejarah Tamadun Islam
(SKI) adalah fragmen dari mata pelajaran PAI yang diarahkan bakal menyiapkan pelajar didik agar memiliki pemahaman terhadap barang apa yang telah diperbuat maka itu Islam dan suku bangsa Muslimin seumpama katalisator proses pergantian sesuai dengan tahapan arwah mereka pada sendirisendiri waktu, tempat dan masa, untuk dijadikan sebagai pedoman hidup ke depan bakal umat Islam. Materi Selancar pun menekankan pada kemampuan mengambil hikmah dan tutorial (’ibrah) dari hal-kejadian bersejarah lega zaman dulu yang menyangkut berbagai aspek: sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seterusnya, serta meneladani aturan dan sikap para inisiator berprestasi, berpunca Nabi Muhammad Saw., para sahabat sebatas para pentolan sesudahnya cak bagi pengembangan tamadun dan peradaban Islam kontemporer. Prinsip nan digunakan dalam meluluk sejarah musim tinggal yaitu: ”Meneladani hal-hal yang baik dan pergi situasi-peristiwa nan buruk serta mencoket hikmah dan
’ibrah
dari kejadian masa lampau tersebut untuk pelajaran masa sekarang dan mendatang”,
History is mirror of past and lesson for present. Pelajaran SKI juga harus berwawasan transformatif-inovatif dan dinamis.
Kompetensi Dasar dan Indeks
Kompetensi Dasar yakni kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam indra penglihatan les tertentu (sebagai rujukan penyusunan indeks kompetensi). Padahal Indikator Kompetensi merupakan perilaku yang bisa diukur dan/alias diobservasi bagi menunjukkan ketercapaian kompetensi pangkal tertentu yang menjadi acuan penilaian indra penglihatan pelajaran. Indikator merupakan penjabaran berbunga kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-logo, perbuatan dan respon yang dilakukan maupun ditampilkan makanya peserta bimbing. Indikator dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang dapat diukur dan dapat diobservasi, sehingga boleh digunakan sebagai radiks kerumahtanggaan menyusun gawai penilaian.
Pendekatan kerumahtanggaan Materi PAI

Paling kecil tidak dalam pengajian pengkajian kita harus memahami dua pendekatan: pertama, pendekatan
Content Treatment Interactions
(CTI) yang berasumsi bahwa suatu penataran enggak akan sering cocok bikin setiap jenis isi materi pembelajaran yang diajarkan. Kedua, pendekatan
Attitude Treatment Interaction
(ATI) nan berasumsi bahwa satu perlakuan pengajian pengkajian tidak akan selalu cocok bakal setiap keunikan karakteristik insan peserta ajar (siswa). Dalam pembelajaran PAI idealnya kita dapat menerimakan secara terpadu dan menyeluruh. Lihat bentuk berikut:

Aspek Holistik Pendidikan

Agama Islam[1]

Aspek

H
olistik

Konseptual

Tujuan

Penerimaan segolongan semangat, berkepribadian komprehensif, menjadikan siswa asuh sebagai
khaira ummah.

Rukyah Terhadap

Peserta Ajar

Pemahaman anak asuh secara utuh; perhatian, bodi, jiwa, multi intelegensi, dan juga gaya belajar.

Barang apa Yang Harus Diajarkan

Gagasan yang
powerful
dan pertanyaan-tanya brillian terhadap dunia secara utuh (multikultural).

Bagaimana Mengorganisir

Kurikulum terpadu, penataran
integrated.

Bagaimana Mengajarkannya

Sesuai dengan kemampuan peserta didik, indoktrinasi nan majemuk, pemanfaatan lingkungan.

Intensi Alat penglihatan Tutorial P
AI d
i Sekolah
/ Madrasah

:


1. Menumbuhkembangkan akidah melangkahi pengetahuan, penghayatan,  pengamalan, orientasi, serta pengala- man petatar didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT; 2. Membuat manuasia Indonesia nan konstan beragama  dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, berkecukupan, jujur, adil, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan kehidupan secara personal dan sosial serta meluaskan budaya religius internal komunitas sekolah/ madrasah.
Mengetahui Karakteristik Materi dan Peserta Didik

Memahami karakteristik materi dan kompetensi yang hendak dicapai meliputi tiga aspek: psikologis, afektif, dan psikomotor. Sementara kita juga harus memperhatikan kondisi sosial masyarakat, dan kondisi pesuluh didik. Privat ilmu jiwa urut-urutan anak, dikenal jalan bagaikan berikut: Umur 0 – 3 tahun: periode perkembangan jasad, yaitu mesti zat makanan, imunisasi, kesehatan lingkungan, serta perlu pikiran dan kasih sayang. Usia 3 – 6 tahun: masa kronologi bahasa, waktu peka untuk mengajari bahasa yang baik, santun dan benar. Periode 1 dan 2 tersebut memerlukan perhatian orang tua karena waktu di rumah lebih banyak. Usia 6 – 9 tahun: masa
social imitation, diperlukan figur yang dapat memberi model dan paradigma yang baik dari hamba allah-turunan sekitarnya: keluarga, guru dan padanan-teman sepermainan. Usia 9 – 12 tahun: disebut sebagai
star of individualization, cak hendak berbahagia pikiran, bersikap selalu ingin dimanja dan diperhatikan maka itu lingkungannya, dan start menunjukkan sikap memberontak. Hayat 12 – 15 tahun: masa
social adjustment,
menginjak timbrung proses pematangan, mulai menyadari adanya lawan variasi, muncul sikap humanistik, terbiasa bimbingan dan internalisasi (penanaman) angka-nilai islami dan nilai-nilai nan luhur. Usia 15 – 18 masa: muda, menginginkan independensi, lain suka sering diatur dan dikendalikan, mereka sudah kepingin terlibat dalam realitas jiwa. Dengan memahami perkembangan psikologi anak asuh di atas, maka diharapkan apa yang hendak disampaikan maka dari itu master kepada peserta didik akan tergapai sesuai dengan kondisi semangat anak tersebut dan relevan dengan materi yang diberikan. Sehingga dengan demikian, antara teknik penyajian dan materi yang diberikan akan selalu relevan dan kontekstual. Demikian hendaknya bermanfaat.
Wallahu A’lam bi al-Shawab.


[1]Makin detail baca, M. Zainuddin,
Eksemplar Pendidikan  Terpadu: Menuju Pembentukan Generasi Ulul Albab
Malang, UIN Press, 2008.

Source: https://uin-malang.ac.id/blog/post/read/131101/analisis-pengembangan-materi-pendidikan-agama-islam-pai.html

Posted by: and-make.com