Aliran Syiah Dasar Ajaran Tokoh

A.      Pendahuluan

Pada dewasa ini rotasi syiah yaitu salah stu aliran nan actual di bicarakan privat berbagai wahana, baik media elektronik maupun cetak. Aliran syiah telah dikecam sebagai aliran nan sesat dan menyesatkan karena ajarnnya nan dianggap telah menarung kaidah internal agama islam.

Telah nampak berjenis-jenis demonstrasi terhadap ajaran mereka keseleo satunya adalah yang telah terjadi di Bandung Senin, 23 April 2012. Hasil intiha dari Perundingan ‘Ulama dan Ummat Islam Indonesia ke-2 yang diprakarsai Forum Jamhur Ummat Indonesia (FUUI) nan berlangsung di Zawiat Al Fajr Daerah tingkat Bandung,  menghasilkan keputusan: Merekomendasikan kepada MUI Daya seyogiannya mengecualikan fatwa tentang kesesatan faham Syi’ah,Menunangi kepada Menkumham, Menag, dan Kejagung agar mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, atau buram yang berada dibawah naungan syi’ah dan atau yang berfaham Syi’ah, Merekomendasikan kepada pemerintah melalui Mendikbud agar menutup segala kegiatan Iranian Corner di seluruh perguruan tataran di Indonesia. Kemudian berkembang berit juga Bandung Rabu, 02/05/2012 18:07 WIB – Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar Rafani Achyar mengakui pihaknya sulit memfatwakan aliran Syiah laksana distribusi sesat. Hingga kini MUI terus mengkaji bermacam-macam hal nan cak semau dalam tanggap Syiah tersebut.Kemuan karena tiadak adanya keputusan pemerintah yang terbatas tegas di Pasuruan Rabu, 09/05/2012 19:28 WIB  – 3 Spanduk sosialisasi Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 Tentang Kesesatan Wahi Syiah, dipasang di wilayah Bangil, Spanduk bertuliskan ‘Alhamdulillah Fatwa MUI Jatim 2012 Menyatakan Syiah Sesat dan Melecun’ dipasang makanya Jamaah Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja).

Terlepas berpunca insiden tersebut nan kerap kali lain harmonis, Syi’ah sebagai sebuah mazhab teologi menarik untuk dibahas. Diskursus mengenai Syi’ah telah banyak dituangkan dalam berbagai kesempatan dan sarana. Tak terkecuali dalam makalah mana tahu ini. Internal makalah ini kami akan membahas pengertian, sejarah, tokoh, wangsit, sekte Syi’ah, dan pengaruhnya pada musim 2012. Seyogiannya karya sederhana ini boleh memberikan gambaran yang utuh, obyektif, dan andal mengenai Syi’ah, yang pada gilirannya boleh memperkaya wawasan kita sebagai seorang orang islam, serta terhindar berpangkal perputaran yang sesat.

B.       PEMBAHASAN

1.       Pengertian Syi’ah

Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran alias mazhab dalam Islam. Syi’ah menyorong kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni permulaan seperti sekali lagi Sunni menolak Pater dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal terbit Syi’ah yakni Syi’i (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut terbit Ahlul Kuplet dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.

Istilah Syi’ah berasal mulai sejak kata Bahasa Arab شيعة  Syī`ah. Rang idiosinkratis dari kata ini adalah Syī`ī  شيعي.

“Syi’ah” adalah bentuk singkat berbunga kalimat kuno Syi`ah `Ali شيعة علي artinya “penganut Ali”, nan berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW mengomong: “Duhai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-manusia yang bernasib baik” (ya Ali anta wa syi’atuka humulfaaizun)[1]

Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab berharga: advokat dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermanfaat: Setiap kabilah nan berkumpul di atas suatu perkara.Adapun menurut terminologi hukum bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib dahulu utama di antara para sahabat dan makin berwenang lakukan memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucunya sepeninggal beliau.[2] Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya perian, Syi’ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni pun mengalami perceraian mazhab.

Muslim Syi’ah percaya bahwa Anak bini Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumur siaran terbaik tentang Qur’an dan Selam, guru terbaik akan halnya Islam setelah Nabi Muhammad SAW, dan pembawa serta penjaga tepercaya berpangkal tradisi Sunnah.

Secara partikular, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali polong Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW dan majikan tanggungan Ahlul Kuplet, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad SAW, nan berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Orang islam Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melampaui perintah langsung oleh Nabi Muhammad SAW, dan perintah Nabi signifikan wahyu dari Allah.[3]

Perbedaan antara penyanjung Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan penglihatan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan peristiwa-hal lainnya. Umpama abstrak pendongeng Hadits mulai sejak Mukminat Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Kuplet, tentatif nan lainnya seperti Duli Hurairah enggak dipergunakan.

Tanpa mencacat perbedaan mengenai khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, sungguhpun sekte-sekte n domestik Syi’ah berbeda internal siapa pengganti para Pater dan Pastor saat ini.[4]

2.       Sejarah munculnya Syi’ah

Mengenai kemunculan syi’ah dalam rekaman terdapat perbedaan dikalangan pakar. Menurut Abu Zahrah, syi’ah mulai muncul pasda perian akhir pemerintahan Usman bin Affaan kemudian tumbuh dan berkembang pada tahun pewmerintahan Ali bin Abi Thalib, adapun menurut Watt, syi’ah mentah betul-betul. Muncul ketika berlangsung penolakan antara Ali dan Mu’awiyah yang dikenal dengan perang Shiffin. Dalam persabungan ini, sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbritase yang ditawarkan Mu’awiyah. Pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua. Satu gerombolan membantu sikap Ali (Syi’ah) dan kelompok mendak sikap Ali (Khawarij).[5]

Kalangan syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan syi’ah berkaitan dengn masalah penganti (Khilafah) Rasul SAW. Mereka menlak kekhalifahan Abu Bakar, Umar polong Khathtab, dan Usman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali kedelai Abi Thalib  nan  berhak mengantikan Nabi SAW. Kepemimpinan Ali privat pandangan syi’ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat nan diberikan Nabi SAW, sreg masa hidupnya. Plong awal kenabian ketika Muhammad SAW diperintahkan menya,paikan dakwah ke kerabatnya, nan pertama mengakui adalah Ali polong Abi Thalib. Diceritakan bahwa Nabi pada saat itu mengatakan bahwa khalayak yang permulaan menemui ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya. Selain itu, sepanjang kenabian Muhammad, Ali yakni orang yang asing biasa samudra.[6]

Bukti utama akan halnya sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah situasi Ghadir Khumm.[7] Diceritakan bahwa ketika kembali mulai sejak haji terakhir, intern penjelajahan dari Mekkah ke Madinah di suatu padang pasir yang bernama Ghadir Khumm. Utusan tuhan memilih Ali sebagai pengantinya dihadapan agregat yang menyertai beliau. Sreg peristiwa itu, Nabi tidak hanya menetapkan Ali sebagai pembesar umum umat (walyat-i ‘ammali), doang lagi menjadikna Ali seperti mana Nabi seorang, misal pelindung (wali) mereka. Doang realitasnya bersabda lain.[8]

Berlawanan dengan harpan mereka, ketika nabi wafata dan jasadnya belum dikuburkan, ada keramaian lain yang pergi ke masjid bagi menentukan pemimpin yang baru karena hilangnya majikan yang secara tahu-tahu, sedangkan anggota batih nabi dan  bilang sahabat masih sibuk dengan  persiapan upacara pekuburan Nabi. Kelompok inilah nan kemudian menjadai mayoritas bertindak seterusnya dan dengan dulu tergesa-gesa melembarkan pemimpin yang baru dengan alasan kesejahteraan umat dann memcahkan masalah mereka ketika itu. Mereka melakukan itu minus tawar-menawar dahulu dengan ahlul kuplet, kerabat, atau pula sahabat yang pada ketika itu masih mengurusi pemakaman. Mereka tidak membagi tahu sedikitpun. Dengan demikian, kawan-serikat dagang Ali dihdapkan pada suatu hal yang sudah tak bias berubah pun (faith accomply).[9]

Karena siaran itulah muncul suatu sikap dari gudi kaum  muslimin yang menentanga kekhalifahan dan kaum mayoritas privat keburukan-masalah ajun tertentu. Mereka tetap berpendapat bahwa pengganti nabi dan penguasa religiositas yang sah yaitu Ali. Mereka yakin bahwa semua masalah kerohanian dan agama harus merujuk kepadanya dan mengajak mahajana mengikutinya.[10] Kaum inilah yang disebut dengan kaum Syi’ah. Namun lebih terbit pada itu, seperti yang dikatakan Nasr, sebab terdahulu munculnya Syi’ah terletak puas pengumuman bahwa kemungkinan ini ada dalam nubuat selam sendiri, sehingga mesti diwujudkan.[11]

Perbedaan pendapat dikalangan para ahli mengenai kalangan Syi’ah yakni sesuatu nan wajar. Para juru berpegang tetap pada fakta album “perpecahan” dalam Islam yang memang mulai radikal pada masa rezim Usman kacang Affan dan memperoleh momentumnya nan paling kuat sreg masa rezim Ali polong Abi Thalib, tepatnya selepas Perang Siffin. Akan halnya kabilah Syi’ah, berdasarkan hadits-hadits yang mereka peroleh berpunca ahl al-kuplet, berpendapat bahwa perpecahan itu sudah start momen Utusan tuhan SAW. Wafat dan kekhalifahan merosot ke tangan Abu Bakar. Segera setelah itu terbentuklah Syi’ah. Bagi mereka, pada masa kepemimpinan Al-Khulafa Ar-rasyidin sekalipun, kerubungan Syi’ah sudah suka-suka. Mereka bersirkulasi di bawah meres untuk mengajarkan dan menyebarkan doktrin-doktrin syi’ah kepada masyarakat.

Syi’ah mendapatkan penyanjung yang osean terutama sreg masa dinasti Amawiyah. Keadaan ini menurut Abu Zahrah adalah akibat berpangkal perlakuan kasar dan kejam dinasti ini terdapat ahl al-Kuplet. Diantara bentuk kekerasan itu adalah yang dilakukan pemanufaktur bani Umayyah. Yazid bin Muawiyah, umpamanya, pernah memerintahkan pasukannya yang dipimpin maka dari itu Ibn Ziyad untuk memenggal kepala Husein polong Ali di Karbala.[12] Diceritakan bahwa setelah dipenggal, kepala Husein dibawa ke pangkuan Yazid dan dengan tonkatnya Yazid memukul kepala cucu Nabi SAW. Yang pada waktu kecilnya cerbak dicium Nabi.[13] Kekejaman sama dengan ini menyebabkan kebagian kaum muslimin tertarik dan mengikuti mazhab Syi’ah, maupun paling bukan menaruh simpati mendalam terhadap tragedy yang menimpa ahl al-stanza.

Intern perkembangan selain memperjuangkan kepunyaan kekhalifahan ahl-al bait dihadapan dinasti Ammawiyah dan Abbasiyah, syi’ah lagi mengembangkan dogma-doktrinnya koteng. Berkitan dengan teologi, mereka punya lima akur iman, yakni tauhid (kepercayaan kepada kenabian), Nubuwwah (Berkepastian kepada kenabian), Ma’ad (kepercyaan akan adanya sukma diakhirat), imamah (pembantu terhadap adanya imamah yang adalah ahl-al bait), dan adl (keadaan ilahi). Internal Ensiklopedi Islam Indonesia ditulis bahwa perbedaan antara sunni dan syi’ah terwalak sreg doktrin imamah.[14] Meskipun n kepunyaan landasan keimanan yang sederajat, syi’ah enggak dapat mempertahankan kesatuannya. Internal avontur sejrah, gerombolan ini akhirnya tepecah menjadi bilang sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin imamah. Diantara sekte-sekte syi’ah itu adalah Itsna Asy’ariyah, Sab’iyah. Zaidiyah, dan Ghullat.

3.      Pokok-buku Petunjuk  Syi’ah

Kaum Syi’ah memiliki 5 pokok pikiran utama nan harus dianut maka itu para pengikutnya diantaranya merupakan at tauhid, al ‘adl, an nubuwah, al imamah dan al ma’ad.

a.        At tauhid

Kaun Syi’ah pula meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, tempat bergantung semua makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan juga tidak serupa dengan makhluk yang cak semau di bumi ini. Tetapi, menurut mereka Allah memiliki 2 kebiasaan yaitu al-tsubutiyah yang merupakan resan yang harus dan tunak ada pada Yang mahakuasa SWT. Sifat ini mencakup ‘alim (mengetahui), qadir (berkuasa), hayy (nyawa), petatar (berkehendak), mudrik (cerdik, berakal), qadim azaliy baq (tidak berpemulaan, azali dan kekal), mutakallim (berfirman-kata) dan shaddiq (benar). Sedangkan sifat kedua yang dimiliki oleh Tuhan SWT yakni al-salbiyah yang yakni sifat yang bukan mungkin cak semau pada Allah SWT. Sifat ini menghampari antara tersusun dari beberapa adegan, berjisim, bisa dilihat, bertempat, bersahabat, berhajat kepada sesuatu dan merupakan komplemen dari Dzat nan telah dimilikiNya.[15]

b.        Al ‘adl

Kaum Syi’ah memiliki keyakinan bahwa Allah memiliki resan Maha Bebas. Allah tidak perpautan melakukan perbuatan zalim ataupun perbuatan buruk yang lainnya. Allah bukan melakukan sesuatu kecuali atas dasar kemaslahatan dan kurnia umat cucu adam. Menurut kaum Syi’ah semua perbuatan nan dilakukan Allah pasti cak semau tujuan dan pamrih tertentu nan akan dicapai, sehingga apa perbuatan yang dilakukan Almalik Swt adalah baik. Makara pecah uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep keadilan Allah yakni Yang mahakuasa selalu melakukan ulah nan baik dan lain mengamalkan apapun yang buruk.Yang mahakuasa juga bukan memencilkan sesuatu nan wajib dikerjakanNya.[16]

c.         An nubuwwah

Pembantu kaum Syi’ah terhadap keberadaan Nabi juga tidak berbeda halnya dengan kaum muslimin yang lain. Menurut mereka Allah mengutus nabi dan rasul untuk membimbing umat manusia. Rasul-rasul itu memberikan kabar gembira bagi mereka-mereka yang melakukan amal shaleh dan mengasihkan kabar azab ataupun ancaman bagi mereka-mereka nan durhaka dan mengingkari Allah SWT. Intern hal kenabian, Syi’ah berpendapat bahwa total Rasul dan Utusan tuhan seluruhnya yaitu 124 orang, Utusan tuhan bungsu yaitu utusan tuhan Muhammad SAW yang merupakan Utusan tuhan paling kecil utama bersumber seluruh Nabi yang ada, ampean-istri Nabi yaitu orang yang tahir berpunca segala keburukan, para Rasul terpelihara pecah segala rencana kesalahan baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Rasul, Al Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad yang kekal, dan ceceh Sang pencipta adalah hadis (baru), makhluk (diciptakan) hukian qadim dikarenakan kalam Allah tersusun atas abc-huruf dan suara-suara yang boleh di dengar, sedangkan Allah berbicara-kata tidak dengan huruf dan suara.[17]

d.        Al-Imamah

Buat kaun Syi’ah imamah berarti kepemimpinan n domestik urusan agama bertepatan dalam dunia.Dia ialah pengalih Nabi n domestik menernakkan syari’at, melaksanakan hudud (had maupun aniaya terhadap pelanggar syariat Tuhan), dan mewujudkan manfaat serta ketentraman umat. Bagi kaum Syi’ah yang berhak menjadi bos umat hanyalah koteng padri dan menganggap pemimpin-pemimpin selain imam adlah pemimpin yang ilegal dan tidak terbiasa ditaati. Karena itu tadbir Islam sejak wafatnya Rasul (kecuali rezim Ali Bin Abi Thalib) ialah tadbir nan tidak sah. Di samping itu padri dianggap ma’sum, terpelihara mulai sejak dosa sehingga iamam tidak berdosa serta perintah, larangan tindakan maupun perbuatannya tidak boleh diganggu gugat ataupun dikritik.[18]

e.         Al-Ma’ad

Secara verbatim al ma’dan adalah kancah pun, nan dimaksud disini adalah akhirat. Kaum Syi’ah beriman sepenuhnya bahwahari akhirat itu karuan terjadi. Menurut keimanan mereka manusia tulat akan dibangkitkan, jasadnya secara keseluruhannya akan dikembalikan ke asalnya baik daging, benak ataupun ruhnya. Dan pada hari hari pembalasan itu pula manusia harus memepertanggungjawabkan apa polah yang telah dilakukan sejauh semangat di dunia di hadapan Halikuljabbar SWT. Pada saaat itu pun Tuhan akan memberikan pahala bagi cucu adam yang beramal shaleh dan menyiksa insan-manusia yang telah mengerjakan kemaksiatan.[19]

4.      Perkembangan Syi’ah

          Semua sekte dalam Syi’ah sepakat bahwa imam yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan kedelai Ali, suntuk Husein kedelai Ali. Namun selepas itu muncul pergesekan adapun barangkali pengganti imam Husein bin Ali. Dalam situasi ini muncul dua pendapat. Pendapat kelompok  permulaan ialah imamah beralih kepada Ali kedelai Husein, putera Husein bin Ali, sementara itu kerumunan lainnya mengimani bahwa imamah beralih kepada Muhammad kacang Hanafiyah, putera Ali kacang Abi Thalib berpokok isteri bukan Fatimah.

Akibat perbedaan antara dua keramaian ini maka muncul beberapa sekte dalam Syi’ah. Para penulis klasik bergesekan tajam mengenai pembagian sekte dalam Syi’ah ini. Akan semata-mata, para juru umumnya membagi sekte Syi’ah kerumahtanggaan empat golongan segara, merupakan Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah dan Suku bangsa Gulat.

a.        Al-Kaisaniyah

Kaisaniyah yakni tanda sekte Syiah yang meyakini bahwa kepemimpinan sehabis Ali polong Abi Thalib beralih ke anaknya Muhammad bin Hanafiyah. Para pandai berselisih pendapat mengenai pendiri Syiah Kaisaniyah ini, ada nan bertutur ia adalah Kaisan panggung budak Ali bin Abi Thalib r.a. Ada juga nan berfirman bahwa ia merupakan Almukhtar bin Abi Ubaid yang memiliki nama lain Kaisan.[20]

Diantara petunjuk dari Syiah Kaisaniyah ini ialah, mengkafirkan khalifah yang mendahului Pastor Ali r.a dan mengkafirkan mereka nan terlibat perang Sifin dan Perang Jamal (Unta), dan Kaisan mengira bahwa Jibril a.s condong Almukhtar dan mengabarkan kepadanya bahwa Allah Swt menyembunyikan Muhammad bin Hanafiyah.[21]

Sekte Kaisaniyah ini terbagi menjadi bilang kelompok, tetapi kesemuanya kembali kepada dua peka yang berbeda yaitu: 1. Meyakini bahwa  Muhammad bin Hanafiyah masih arwah. 2. Memercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah telah tiada, dan jabatan kepemimpinan beralih kepada yang enggak.[22]

Pokok-pokok ajaran Syi’ah al-Kaisaniyah anatara tidak:

(1)   Mereka tidak berkepastian adanya jiwa Tuhan menitis ke intern tubuh Ali ibn Abi Thalib, sebagai halnya kepercayaan manusia-basyar Saba’iyah.

(2)   Mereka mempercayai kembalinya pastor (raj’ah) setelah meninggalnya. Tambahan pula rata-rata penyanjung al-Kaisaniyah percaya bahwa Muhammad Ibn Hanafiyah itu tak meninggal, tetapi masih jiwa bertempat di argo Radlwa.

(3)   Mereka menganggap bahwa Allah Swt. itu menidakkan kehendak-Nya menurut perubahan ilmu-Nya. Allah Swt. Memerintah sesuatu, kemudian memerintah sekali lagi kebalikannya.

(4)   Mereka mempercayai adanya penitisan (tanasukh al-semangat).

(5)   Mereka mempercayai adanya kehidupan.[23]

b.        Az-Zaidiyah

Zaidiyah adalah sekte privat Syi’ah yang mempercayai kepemimpinan Zaid bin Ali bin Husein Zainal Abidin sehabis kepemimpinan Husein bin Ali. Mereka tidak mengakui kepemimpinan Ali kacang Husein Zainal Abidin sebagai halnya yang diakui sekte imamiyah, karena menurut mereka Ali bin Husein Zainal Abidin dianggap tidak memenuhi syarat bagaikan pembesar. Kerumahtanggaan Zaidiyah, seseorang dianggap umpama pater apabila menetapi lima kriteria, adalah:  baka Fatimah binti Muhammad  SAW, berpengetahuan luas tentang agama, zahid (hidup hanya dengan beribadah), berjihad dihadapan Tuhan SWT dengan menyanggang senjata dan dakar.

      Sekte Zaidiyah mengakui keabsahan khalifah atau imamah Tepung Bakar As-Sidiq dan Umar bin Khattab. N domestik hal ini, Ali bn Abi Thalib dinilai lebih tingkatan dari pada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Oleh karena itu sekte Zaidiyah ini dianggap sekte Syi’ah nan paling kecil dekat dengan sunnah.[24] Disebut sekali lagi Lima Imam dinamakan demikian sebab mereka yakni pengikut Zaid bin ‘Ali bin Husain kacang ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum ‘Ali tidak legal. Urutan pater mereka yaitu:

1.      Ali kedelai Abi Thalib (600–661), lagi dikenal dengan Amirul Mukminin

2.      Hasan bin Ali (625–669), sekali lagi dikenal dengan Hasan al-Mujtaba

3.      Husain kedelai Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Saksi

4.      Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin

5.      Zaid bin Ali (658–740), pun dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Martir, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.

Buku-pokok ajaran Syi’ah Zaidiyah, terdiri dari beberapa keadaan. Diantaranya:

(1)   Meyakini seseorang berbunga nasab Fathimah (puteri Nabi) nan melampiaskan pertentangan dalam membela kebenaran, dapat diakui sebagai pater, takdirnya ia memiliki pengetahuan keyakinan, berakhlak indah, berani, dan murah hati. Selanjutnya mereka mengatakan bahwa siapapun berpunca nasab Ali bin Abi Thalib dapat menjadi pater, dapat makin dari seorang dan lebih lagi tidak ada sama sekali. Jabatan imam dapat dikukuhkan berdasarkan kemampuan intern memelopori dan bisa kembali berdasarkan latar pinggul pendidikan.

(2)   Ajaran Syi’ah Zaidiyah mengenai kepemimpinan Khulafa al-Rasyidin, mengakui kekhalifahan Serdak Bakr, Umar dan Utsman plong mulanya tahun pemerintahannya, meskipun Ali bin Abi thalib dinilainya sebagai sahabat yang paling luhur. Internal kaitan ini, terdapat konsep Syi’ah Zaidiyah yang berbunyi : جواز امامة المفضول مع وجود الأفضل . Yang dimaksud dengan المفضول adalah Debu Bakr, ‘Umar dan ‘Usman. Sedangkan yang dimaksud dengan الأفضل ialah Ali kedelai Abi Thalib.

(3)   N domestik petunjuk Syi’ah Zaidiyah, enggak mengakui paham ishmah, merupakan religiositas bahwa para rohaniwan dijamin maka dari itu Allah dari perbuatan pelecok, tengung-tenging dan dosa. Mereka lagi menolak paham rajaah (sendiri padri akan muncul sesudah bersembunyi atau mati), reseptif mahdiyah (seorang imam nan bergelar al-Mahdi akan muncul kerjakan mengambangkan keadilan dan memberantas kebatilan), dan reseptif taqiyah (sikap kehati-hatian dengan ondok identitas di depan lawan).

(4)   Berpunca segi ushul alias pendirian-kaidah umum Islam, ajaran Syi’ah Zaidiyah mengimak kronologi yang dekat dengan peka Mu’tazilah ataupun tanggap rasionalis. Akan halnya dari segi furu’ atau komplikasi syariat dan bentuk-lembaganya, mereka menerapkan fikih Hanafi (salah satu mazhab fikih mulai sejak golongan Sunni). Risikonya, dalam hal nikah mut’ah mereka mengharamkannya, meskipun lega tadinya Islam ikatan itu jalinan dibolehkan cuma mutakadim dibatalkan. Dewasa ini, fikih Syi’ah Zaidiyah terdaftar fikih yang diajarkan di Universitas al-Azhar.[25]

a.        Al-Imamiyah

Imamiyah adalah golongan yang memercayai bahwa rasul Muhammad SAW sudah lalu menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pater pengganti dengan penunjukan nan jelas dan tegas. Oleh karena itu, mereka bukan mengakui keabsahan kepemimpinan Debu Bakar, Umar, maupun Utsman. Bikin mereka persoalan imamah yaitu salah suatu permasalahan pokok kerumahtanggaan agama atau ushuludin.

Sekte imamah pecah menjadi sejumlah golongan. Golongan yang raksasa yaitu golongan Isna’ Asyariyah atau Syi’ah dua belas. Golongan terbesar kedua adalah golongan Isma’iliyah. Golongan Isma’iliyah berkuasa di Mesir dan Baghadad.[26] Disebut juga Sapta Imam. Dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa imam tetapi tujuh makhluk bermula ‘Ali bin Abi Thalib, dan mereka percaya bahwa padri ketujuh adalah Isma’il. Sekaan imam mereka yakni:

1.      Ali bin Abi Thalib (600–661), kembali dikenal dengan Amirul Mukminin

2.      Hasan kacang Ali (625–669), kembali dikenal dengan Hasan Al-Mujtaba

3.      Husain bin Ali (626–680), pula dikenal dengan Husain Asy-Syahid

4.      Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin

5.      Muhammad kedelai Ali (676–743), lagi dikenal dengan Muhammad Al-Baqir

6.      Ja’far polong Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja’far  Ash Shadiq

7.      Ismail bin Ja’far  (721 – 755), adalah anak  mula-mula Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.

Pokok-pokok ajaran Syi’ah Zaidiyah, terdiri dari beberapa hal. Diantaranya

(1)   Ilmu al-Faidh al-Ilahi, yang Almalik melimpahkannya plong padri. Maka dengan itu imam-padri, n kepunyaan kedudukan di atas manusia pada rata-rata dan beilmu belebihi manusia lainnya. Mereka secara khusus memiliki ilmu yang tidak dimiliki sosok bukan. Baginya mengetahui ilmu Syari’at melebihi segala apa yang diketahui.

(2)   Selayaknya iman itu tak harus tampak dan di kenal publik, tetapi siapa samar bersembunyi. Namun demikian konstan harus ditaati. Dialah al-Mahdi yang member tanzil kepada manusia, sekalipun anda tidak tampak pada sejumlah musim. Dia karuan muncul, dan hari hari akhir tak akan dating sampai al-Mahdi itu muncul, memenuhi dunia ini dengan keadilan, sebagaimana ki kebusukan dan kezaliman sudah lalu bercabul.

(3)   Sesungguhnya imam itu tidak bertanggungjawab di hadirat siapa-siapa. Seorang pun tak boleh menyalahkannya, segala apa pun yang diperbuatnya. Mahajana harus membenarkan bahwa barang apa yang diperbuatnya adalah baik, tidak ada kejelekan sedikitpun. Sebab padri mempunyai ilmu yang tidak dapat dicapai insan lain. Karena itulah mereka menjadwalkan bahwa imam itu ma’shum.[27]

  b.        Al-Ghaliyah

Istilah ghulat berasal semenjak kata ghala-yaghlu-ghuluw yang artinya bertambah dan naik. Ghala bi ad-din yang artinya memperkuat dan menjadi ekstrim sehingga melampaui batas. Syi’ah ghulat adalah kerubungan pendukung Ali yang memiliki sikap terlalu-lebihan atau ekstrim. Lebih jauh Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syi’ah mencolok (ghulat) yaitu kerubungan yang menempatkan Ali plong derajat rabani, dan ada yang mengangkat lega derajat kenabian, bahkan bertambah hierarki daripada Nabi Muhammad.[28]

Gelar ektrem  (ghuluw) yang diberikan kepada kerubungan ini berkaitan dengan pendapatnya yang janggal, yakni ada beberapa hamba allah yang secara idiosinkratis dianggap Tuhan dan ada juga beberapa orang yang dianggap perumpamaan Utusan tuhan setelah Nabi Muhammad. Selain itu mereka pula mengembangkan teologi-doktrin ekstrem lainnya tanasukh, hulul, tasbih dan ibaha.[29]

Sekte-sekte yang tenar di internal Syi’ah Ghulat ini yakni Sabahiyah, Kamaliyah, Albaiyah, Mughriyah, Mansuriyah, Khattabiyah, Kayaliyah, Hisamiyah, Nu’miyah, Yunusiyah dan Nasyisiyahwa Ishaqiyah. Nama-cap sekte tersebut menggunakan tanda tokoh nan membawa atau memimpinnya. Sekte-sekte ini awalnya hanya suka-suka suatu, yakni faham yang dibawa oleh Abdullah Bin Saba’ yang mengajarkan bahwa Ali adalah Tuhan. Kemudian karena perbedaan prinsip dan tanzil, Syi’ah ghulat terpecah menjadi beberapa sekte. Meskipun demikian seluruh sekte ini pada prinsipnya memufakati tentang hulul dan tanasukh. Faham ini dipengaruhi oleh sistem agama Babilonia Kuno yang ada di Irak seperti Zoroaster, Ibrani, Manikam dan Mazdakisme.

Adapun ilmu agama Ghulat menurut Syahrastani suka-suka enam yang  membuat mereka ektrem yakni:

(1)     Tanasukh nan merupakan keluarrnya semangat dari satu jasad dan mencuil tempat pada jasad yang lain. Faham ini diambil pecah falsafah Hindu. Penganut agama Hindu percaya bahwa spirit disiksa dengan cara berpindah ke tubuh hewan yang lebih rendah dan diberi pahala dengan mandu berpindah berbunga satu kehidupan kepada hidup yang makin hierarki.[30] Syi’ah Ghulat menerapkan faham ini dalam konsep imamahnya, sehingga ada yang menyatakan seperti Abdullah Bin Muawiyah Bin Abdullah Bin Ja’far bahwa hidup Allah berpindah kepada Lelaki seterusnya kepada imam-imam secara turun-temurun.

(2)     Bada’ nan merupakan religiositas bahwa Allah memungkirkan kehendakNya sejalan dengan perubahan ilmuNya, serta boleh mewajibkan dan juga sebaliknya.[31] Syahrastani menjelaskan lebih lanjut bahwa bada’ dalam rukyah Syi’ah Ghulat  memiliki bebrapa arti. Bila berkaitan dengan mantra, maka artinya menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan nan diketahui Allah. Bila berkaitan dengan karsa maka artinya memperlihatkan yang moralistis dengan menyalahi yang dikehendaki dan syariat nan diterapkanNya. Bila berkaitan dengan perintah maka artinya yaitumemerintahkan hal lain yang bertentangan dengan perintah yang sebelumnya.[32] Faham ini dipilih makanya Mukhtar ketika mendakwakan dirinya dengan memafhumi hal-hal yang akan terjadi, baik melalui visiun yang diturunkan kepadanya atau melintasi surat berpangkal pendeta. Sekiranya ia menjanjikan kepada pengikutnya akan terjadi sesuatu, habis hal itu benar-etis terjadi begitu juga yang diucapkan, maka itu dijustifikasikan andai bukti kebenaran ucapannya. Namun jika terjadi sebaliknya, engkau mengatakan bahwa Tuhan menghendaki bada’

(3)     Raj’ah yang masih ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayai bahwa Pater Mahdi Al-Muntazhar akan datang ke bumi. Faham raj’ah dan mahdiyah ini ialah tanzil seluruh sekte dalam Syi’ah. Tetapi mereka berlainan pendapat adapun siapa yang akan kembali. Sebagian mengatakan bahwa yang akan sekali lagi itu adalah Ali dan sebagian lagi megatakan bahwa yang akan juga adalah Ja’far As-Shaddiq, Muhammad kedelai Al-Hanafiyah malah ada yang mengatakan Mukhtar ats-Tsaqafi.[33]

(4)     Tasbih artinya  menyerupakan, mempersamakan. Syi’ah Ghulat menyimulasikan salah seorang imam mereka dengan Allah atau menyerupakan Tuhan dengan manusia. Tasbih ini diambil dari faham hululiyah dan tanasukh dengan khaliq.

(5)     Hulul artinya Yang mahakuasa berada sreg setiap tempat, berfirman dengan semua bahasa dan cak semau pada setiap individu manusia. Hulul bagi Syi’ah ghulat berjasa Tuhan menjelma dalam diri pendeta sehingga imam harus disembah.

(6)     Ghayba yang artinya meredakan Imam Mahdi. Ghayba merupakan kepercayaan Syi’ah bahwa Imam Mahdi itu cak semau di internal kewedanan ini dan enggak dapat dilihat oleh mata biasa. Konssep ghayba purwa kali diperkenalkan oleh Mukhtar Ats-Tsaqafi pada perian 66 H/686 M di Kufa ketika mempropagandakan Muhammad Bin Hanafiyah andai Pendeta Mahdi.[34]

C.      Kesimpulam

Ajaran dalam Syi’ah amatlah banyak dan berlainan-beda, sehingga kita harus mencari dan mengetahui nubuat-tanzil, doktrin-doktrin, dan pengambil inisiatif-dedengkot nan berhasil raksasa dalam golongan ini. Selain itu, di privat aliran Syi’ah ini terdapat banyak  bagian-bagian dan perbedaan pendapat dalam bertahuid. Yang ditandai dengan munculnya beberapa sekte seperti mana Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaum Gulat.

Hal ini memaui kita kerjakan cak acap berhati-lever serta mengantisipasi atas adanya ilmu agama persisten yang mungkin berkembang, atau bahkan telah sejenis itu pesat dalam penyebarluasan ajarannya ke negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sama dengan di Indonesia. Salah satunya adalah menyatakan bahwa Ali bin Serdak Thalib sangat terdahulu di antara para sahabat dan lebih berhak bikin memegang tampuk kepemimpinan suku bangsa muslimin. Sampai-sampai yang lebih parah adalah nan memuja dan menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib tak manusia biasa, melainkan jelmaan Halikuljabbar atau bahkan Tuhan itu sendiri.

Maka itu karena itu, sebagai umat Selam kita harus besar perut cermat serta berhati-hati dalam memercayai dan mempelajari suatu arus baik itu Syi’ah ataupun aliran pemikiran yang lain. Selain itu, jangan sampai terlalu fanatik, karena tradisionalisme akan berakibat plong keburukan. Halikuljabbar lain menaksir sesuatu yang bersisa-lebihan.

DAFTAR Teks

Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Perputaran, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq  Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji

Al-khotib, Sayyid Muhibudin, Mengenal Sosi-pokok Petunjuk Syi’ah Al-Imamiyah, Surabaya:PT.bina ilmu, 1984

Asy-Syahrastani, Muhammad bin Abd Al-Karim, Al-Milal wa An-Nihal, Beirut-Libanon: Dar al-Kurub al-‘Ilmiyah, 1951

Abu Zahrah, Muhammad,  Perputaran Strategi Dan Aqidah Dalam Islam, Jakarta : Logos Publishing House, 1996

A. Nasir, Sahilun,  Pemikiran Zakar (Teologi Islam) Memori, Ajaran, dan Perkembangannya, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010

Nasution, Harun,  Dogma Islam: Rotasi-arus Ki kenangan Analisa Perbandingan, Jakarta: UI-Press, 1986

Razak, Abdur dan Anwar, Rosihan, Ilmu tauhid, Bandung: Puskata Taat, 2006

Syak’ah, Musthafa Muhammad, Selam Minus Mazhab, Terj. Debu Zaidan Al-Yamani & Tepung Zahrah Al-Jawi Eksklusif: Tiga Seikat, 2008

Thabathaba’i, Muhammad Husai,  Shi’a,terj. Husain Nasr, Anshariah, Qum, 1981

[1]Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq    Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji

[2] Abdur Razak dan Rosihan Anwar , Ilmu usuludin, (Bandung: Puskata Loyal, 2006), cet ke-2, h. 89

[3]Riwayat di Durul Mansur milik Jalaluddin As-Suyuti

[4]Sayyid Muhibudin al-khotib, Mengenal Pokok-pokok Petunjuk Syi’ah Al-Imamiyah,( Surabaya:PT.bina ilmu, 1984), hal.25

[5] Muhammad Abuk Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah Islam. Terj. Abd. Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, (Jakarta: Logos, 1996), keadaan. 34

[6] Abdur Razak dan Rosihan Anwar , Ilmu kalam, (Bandung: Puskata Ki ajek, 2006), cet ke-2, hal.90

[7] Hadits tentang Ghadir Khum ini terdapat dalam varian Sunni maupun Syi’ah dan semuanya yaitu hadits shahih. Lebih dari seratus sahabat telah meriwayatkan hadits ini dalam berbagai sanad dan ungkapan. Lihat Muhammad Husai Thabathaba’i, Shi’a,terj. Husain Nasr, (Anshariah, Qum, 1981)

[8] Ibid, kejadian. 38

[9] Ibid, 39-40

[10] Abdur Razak dan Rosihan Anwar , Ilmu kalam…hal. 91

[11] Ibid

[12] Sahilun A. Nasir, Pemikiran Titit (Teologi Islam) Sejarah, Ajaran, dan Perkembangannya, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010), peristiwa. 82

[13] Abdur Razak dan Rosihan Anwar , Ilmu usuludin…hal. 92

[14] Harun Nasution, Dogma Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI-Press, 1986), cet ke-5, h. 135-136

[15] Abdur Razak dan Rosihan Anwar , Ilmu Kalam…keadaan. 94

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Ibid

[19] Ibid

[20] Solah Abu Su’ud, As’ Syiah An Nasyaah As Syiasiyah wal Aqidah Ad’ Diniyah, (Giza: Maktabah Nafidah, 2004), kejadian. 158

[21] Ibid

[22] Sahilun A. Nasir, Pemikiran Burung…, keadaan. 108

[23] Ibid, peristiwa. 108-109

[24]Muhammad Abu Zahrah, Aliran Kebijakan Dan Aqidah Dalam Islam, (Jakarta : Logos Publishing House, 1996) , cet.1 peristiwa.25

[25] Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam…, hal. 111-114

[26]Ibid 27-28

[27] Ibid, peristiwa. 117

[28] Abu Zahrah, Arus Garis haluan…hal. 39

[29] Abdur Razak dan Rosihan Anwar , Ilmu tauhid…kejadian. 105

[30] Abu Zahrah, Aliran Garis haluan…hal. 106

[31] Ibid

[32] Abdur Razak dan Rosihan Anwar , Ilmu usuludin…keadaan. 107

[33] Ibid

[34] Ibid

Source: http://syafieh.blogspot.com/2013/04/ilmu-kalam-syiah-tokoh-dan-ajarannya.html

Posted by: and-make.com