Ajaran Syiah Dibangun Berdasarkan Keyakinan Bahwa

Halaman yang dilindungi semi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Syiah
(bahasa Arab:
شيعة,

translit.



syīʿah

‎, dari kata
Syīʿatu ʿAlī, “pengikut Ali”) adalah salah satu ajaran agama ataupun sekte kerumahtanggaan agama Islam. Internal religiositas Syiah dikatakan bahwa rasul intern agama Islam, Muhammad, menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya dan Padri (pemimpin) setelahnya,
[penis rujukan]

terutama puas acara Ghadir Khum, sekadar gagal menjadi khalifah sebagai akibat berpunca insiden di Saqifah. Dengan demikan mereka mengingkari kepemimpinan Abu Bakar, Umar polong Khattab, dan Utsman kacang Affan. Temporer itu, kaum Islam Sunni memercayai bahwa Muhammad lain menunjuk seorang penerus secara sedarun dan menganggap Abu Bakar yang ditunjuk sebagai khalifah melalui syura (merupakan konsensus komunitas di Saqifah) kerjakan menjadi khalifah seremonial permulaan setelah Rasul Muhammad.[1]

Berbeda dengan tiga khalifah Rasyidin pertama, Ali berpangkal dari klan yang selevel dengan Muhammad, Bani Hasyim, pula menjadi sepupu utusan tuhan dan menjadi laki-junjungan mula-mula yang menjadi Mukmin.[2]

Penganut Syiah biasa dipanggil
Syiah Ali,
Syiah;
Syiya’an (شِيَعًا)
(jamak);
Syi’i (شيعي)
alias
Syi’ite
(solo).[3]
Plong pengunci 2000-an, Syi’i mencangkup 10-15% berasal semua Muslim.[4]
Syiah 12 Imam (Ithnā’ashariyyah) adalah simpang terbesar dalam Syiah.[5]
Menurut perkiraan 2012, 85% Syi’i merupakan pengikut Syiah 12 Pendeta.[6]

Pada lazimnya, Syiah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah pertama. Madzhab Syiah Zaidiyyah termasuk Syiah yang tidak menjorokkan kepemimpinan tiga Khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib.

Etimologi

Kaligrafi nama Ali ibn Abi Talib.

Istilah
Syiah
semenjak berusul Bahasa Arab (شيعة) “Syī`ah”. Lafadz ini adalah rangka tunggal, sedangkan bentuk jamaknya merupakan “Syiya’an”. Pengikut Syiah disebut “Syī`ī” (شيعي).
[butuh rujukan]

“Syiah” ialah bentuk sumir dari kalimat kuno “Syi`ah `Ali” (شيعة علي) yang berarti “pengikut Ali”, yang berkenaan dengan turunnya Q.S. Al-Bayyinah ayat “khair al-bariyyah”, saat turunnya ayat itu Utusan tuhan Muhammad berucap, “Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah hamba allah-orang yang mendapat habuan – ya ‘Ali anta wa syi’atuka hum al-faizun”.[7]

Kata “Syiah” menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Kaum nan berkumpul atas suatu perkara.[8]

Akan halnya menurut terminologi Selam, kata ini berharga: Mereka yang menyatakan bahwa Ali kacang Abi Thalib adalah nan paling utama di antara para sahabat dan yang berwenang untuk memegang tampuk kepemimpinan atas suku bangsa Muslim, demikian pula anak asuh cucunya.[9]

Ikhtisar

Syiah percaya bahwa Keluarga Muhammad (merupakan para Imam Syiah) adalah sendang pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik akan halnya Selam pasca- Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tali peranti Sunnah.

Secara tersendiri, Syi’i berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, ialah sepupu dan menantu Muhammad dan kepala batih Ahlul Bait, yakni penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, nan berlainan dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Sunni. Menurut keyakinan Syiah, Ali berkedudukan andai khalifah dan imam melalui washiat Nabi Muhammad.

Perbedaan antara pemuja Ahlul Stanza dan Ahlus Sunnah menjadikan perbedaan rukyah yang tajam antara Syiah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-peristiwa lainnya. Bak contoh perawi Hadits dari Syi’i berfokus pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Debu Hurairah tidak dipergunakan.

Sonder memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syiah mengakui otoritas Imam Syiah (juga dikenal dengan
Khalifah Ilahi) bak pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syiah farik dalam siapa pengganti para Pastor dan Pastor waktu ini.

Dogma

Dalam Syiah, ada
Ushulud-din
(perkara buku dalam agama) dan
Furu’ud-din
(perkara cabang dalam agama). Syiah memiliki lima perkara pokok alias rukun Islam, yaitu:

  1. Tauhid, bahwa Tuhan adalah Maha Esa.
  2. Al-‘Adl, bahwa Tuhan merupakan Mahaadil.
  3. An-Nubuwwah, bahwa pengapit Syiah meyakini kedatangan para utusan tuhan sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat khalayak.
  4. Al-Imamah, bahwa Syiah memercayai adanya pater nan senantiasa memimpin umat bak penerus risalah kenabian.
  5. Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya Hari Kebangkitan.9

Dalam perkara ke-nabi-an, Syiah berkeyakinan bahwa:

  1. Besaran utusan tuhan dan rasul Tuhan adalah 124.000.
  2. Rasul dan rasul terakhir ialah Rasul Muhammad.
  3. Nabi Muhammad adalah suci dari segala aib dan tanpa cacat sedikitpun. Ia ialah nabi yang paling terdepan dari seluruh nabi yang aliansi diutus Almalik.
  4. Ahlul-Kuplet Rasul Muhammad, yaitu Padri Ali, Sayyidah Fatimah, Imam Hasan, Imam Husain dan 9 Imam dari anak cucu Imam Husain adalah manusia-manusia suci seperti mana Utusan tuhan Muhammad.
  5. Al-Qur’an merupakan mukjizat kekal Nabi Muhammad.

Sekte-sekte

Sejenang persebaran Syiah dan simpang-cabangnya.

Aliran Syiah dalam sejarahnya terpecah-berusul dalam masalah Imamiyyah. Sekte terbesar adalah Dua Belas Pastor, diikuti oleh Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Ketiga kelompok terbesar itu mengimak garis nan berlainan Imamiyyah, yakni:

Dua Belas Imam

Disebut pula Imamiyyah alias Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam) karena mereka percaya bahwa nan berwenang mendahului kaum Mukmin hanyalah para Imam dari Ahlul-Kuplet, dan mereka meyakini adanya dua belas Imam. Aliran ini adalah nan terbesar di dalam Syiah. Urutan Imamnya ialah:

  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan
    Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan
    Hasan al-Mujtaba
  3. Husain polong Ali (626–680), pula dikenal dengan
    Husain asy-Syahid
  4. Ali kedelai Husain (658–713), sekali lagi dikenal dengan
    Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan
    Muhammad al-Baqir
  6. Jafar bin Muhammad (703–765), sekali lagi dikenal dengan
    Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Ja’far (745–799), kembali dikenal dengan
    Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan
    Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan
    Muhammad al-Jawad
    maupun Muhammad at Taqi
  10. Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan
    Ali al-Hadi
  11. Hasan kacang Ali (846–874), juga dikenal dengan
    Hasan al-Askari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan
    Muhammad al-Mahdi

Zaidiyyah

Disebut kembali Syiah Lima Imam karena adalah pengikut Zaid bin ‘Ali bin Husain kedelai ‘Ali kacang Abi Thalib. Mereka dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum ‘Ali tidak sah. Urutan Imamnya adalah:

  1. Ali kacang Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan
    Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan
    Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), kembali dikenal dengan
    Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan
    Ali Zainal Abidin
  5. Zaid kedelai Ali (658–740), juga dikenal dengan
    Zaid bin Ali asy-Saksi, adalah anak Ali kedelai Husain dan saudara kualon Muhammad al-Baqir.

Ismailiyyah

Disebut juga Syiah Tujuh Imam karena mereka meyakini tujuh Imam, dan mereka percaya bahwa Padri ketujuh ialah Isma’il. Urutan Imamnya yakni:

  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan
    Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), kembali dikenal dengan
    Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), lagi dikenal dengan
    Husain asy-Syahid
  4. Ali kedelai Husain (658–713), juga dikenal dengan
    Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad kacang Ali (676–743), kembali dikenal dengan
    Muhammad al-Baqir
  6. Ja’far bin Muhammad kedelai Ali (703–765), juga dikenal dengan
    Ja’far ash-Shadiq
  7. Ismail kacang Ja’far (721 – 755), merupakan anak pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.

Status

Indonesia

Di Indonesia, Suryadharma Ali selaku menteri agama, di konstruksi DPR pada 25 Januari 2012 menyatakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama menyatakan Syiah bukan Islam, “Selain itu, Pengurus Lautan Nadhlatul Ulama (PBNU) pernah mengeluarkan inskripsi legal No.724/A.II.03/101997, tertanggal 14 Oktober 1997, ditandatangani Rais Am M Ilyas Ruchiyat dan Pencatat KH. Drs. Dawam Anwar, nan mengingatkan kepada bangsa Indonesia kiranya tak terkecoh oleh propaganda Syiah dan perlunya umat Islam Indonesia memafhumi perbedaan kaidah ajaran Syiah dengan Islam. “Menag sekali lagi mengatakan Kemenag mengasingkan manuskrip brosur no. D/BA.01/4865/1983 sungkap 5 Desember 1983 tentang hal ihwal mengenai golongan Syiah, menyatakan Syiah lain sesuai dan lebih lagi bertentangan dengan ajaran Islam.”
[butuh rujukan]

Majelis Ulama Indonesia sejak lama telah mengeluarkan fatwa digresi Syiah dan terus mengingatkan umat muslim seperti sreg Rakernas MUI 7 Maret 1984[10]
Selain itu, MUI Muslihat telah menerbitkan anak kunci panduan adapun paham Syiah pada bulan September 2013 lalu berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Distorsi Syiah di Indonesia”.[11]
[12]

Berbeda dengan pendapat di atas, Pengurus Ki akbar Nahdlatul Cerdik pandai (PBNU) menilai peredaran Islam Syiah secara masyarakat bukan merupakan aliran sesat. “Tidak sesat, hanya berbeda dengan kita,” alas kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, di kantor kepresidenan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.[13]

Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyatakan tidak koalisi melarang ajaran Syiah di Indonesia kecuali menghimbau umat Islam agar meningkatkan kesiagaan mengenai peluang beredarnya kelompok Syiah yang ekstrim.
[penis rujukan]

Hal ini ditegaskan Superior MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi, untuk menanggapi pertinggal edaran Pengasuh Kota Bogor pada 22 Oktober lalu yang melarang perayaan
Asyura
oleh penyanjung Syiah di wilayahnya.
[butuh rujukan]

“Dikeluarkannya surat MUI puas tahun 2004 bahwa sesungguhnya kita tidak punya posisi untuk mengatakan bahwa Syiah itu sesat,” pengenalan Muhyiddin Junaidi kepada pewarta BBC Indonesia, Heyder Affan, Minggu (25/10) lilin lebah.[14]

Padahal, kata Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof Nanat Fatah Natsir, hubungan kelompok Islam Sunni dan Syiah di tingkat jagat rat waktu ini sudah lalu “mencair” dan semakin membaik.
[butuh rujukan]

“Hubungan Sunni-Syiah internasional sudah ’mencair’. Sekolah tinggi Al-Azhar, Kairo, Mesir juga sudah lalu mengakui Syiah perumpamaan fragmen dari Selam, karena itu saya yakin konflik di Sampang itu bukan konflik agama atau kepercayaan, tapi cak semau faktor lain,” katanya di Jakarta (28/8).[15]

Malaysia

Pemerintah Malaysia menyatakan bahwa Syiah merupakan sekte yang berhanyut-hanyut dari Hukum Hukum dan Undang–Undang Islam yang berperan di Malaysia, dan melarang penyebaran ajaran mereka di Malaysia.[16]
[17]
Selain itu, Syi’i pun dimasukkan ke dalam kelompok non-Muslim.

Yordania

Pada Juli tahun 2005, Raja Abdullah II semenjak Yordania mengadakan sebuah Konferensi Islam Internasional yang ulem 200 jamhur dari 50 negara, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya internal Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.) Di Amman, cerdik pandai-ulama tersebut membedakan sebuah pernyataan yang dikenal dengan sebutan Risalah Amman, yang menyerukan toleransi dan persatuan antar umat Islam dari berbagai golongan dan mazhab yang berbeda-beda.[18]

Risalah Amman

Templat:Akan dikembangkan

Perkariban Sunni-Syiah

Aliansi antara Sunni dan Syiah telah mengalami kontroversi sejak masa awal terpecahnya secara politis dan ideologis antara para penganut Ibnu Umayyah dan para penganut Ali bin Abi Thalib. Sebagian kabilah Sunni menyebut suku bangsa Syiah dengan tera
Rafidhah, nan menurut etimologi bahasa Arab berjasa
meninggalkan.[19]

Sebagian sosok Islam menganggap
firqah
(golongan) ini bersemi tatkala koteng Yahudi bernama Abdullah kacang Saba’ nan menyatakan dirinya masuk Islam, mendakwakan kecintaan terhadap Ahlul Bait, terlalu memuja-muji Ali kedelai Abi Thalib, dan menyatakan bahwa Ali mempunyai wasiat untuk mendapatkan kekhalifahan.[20]
Syiah menolak keras hal ini. Menurut Syiah, Abdullah kedelai Saba’ ialah biang kerok fiktif. Salah suatu ulama besar Syi’ah menulis Kitab Khusus mengenai kefiktifan sosok Abdullah kacang Saba’ ini. Namun demikian, An-Naubakhti menganggap Abdullah bin Saba’ bermartabat ada, dan menuliskan sampai belasan riwayat teladan dengan sanad yang mutawatir bahwa Abdullah bin Saba’ suka-suka.
[butuh rujukan]

Cuma terletak pun kaum Syiah yang enggak menyungguhkan anggapan Sunni tersebut. Golongan Zaidiyyah Batriyah misalnya, tetap menghormati sahabat Utusan tuhan nan menjadi khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Mereka juga menyatakan bahwa terdapat riwayat-riwayat Sunni yang mengobrolkan perdurhakaan di antara para sahabat adapun masalah imamah Duli Bakar dan Umar.[21]

Istilah Rafidhah

Sebutan rafidhah erat kaitannya dengan sebutan Pendeta Zaid bin Ali yaitu anak berbunga Imam Ali Zainal Abidin, yang bersama para pengikutnya memberontak kepada Khalifah Bani Umayyah Hisyam polong Abdul-Malik kedelai Marwan sreg tahun 121 H.[22]

  • Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berbicara: “Zaid bin Ali adalah seorang yang melebihkan Ali kacang Serbuk Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakar dan Umar, dan memandang bolehnya memberontak terhadap para pemimpin yang jahat. Maka saat sira muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, dia mendengar berpokok sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakar dan Umar. Sira pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: “Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan
    Rafidhah
    dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii“.[23]
  • Pendapat Ibnu Taimiyyah yaitu bahwa Rafidhah pasti Syiah, padahal Syiah belum tentu Rafidhah; karena tak semua Syiah menyorong Serdak Bakar dan Umar begitu juga peristiwa Syiah Zaidiyyah.[24]
  • Abdullah polong Ahmad kacang Hanbal bersabda: “Aku telah bertanya kepada ayahku, barangkali Rafidhah itu? Maka dia (Imam Ahmad) menjawab: ‘Mereka adalah orang-bani adam yang memperhatikan Abu Bakar dan Umar’.”[25]
  • Pendapat pula diutarakan oleh Imam Syafi’i. Beliau sangkut-paut menganjurkan pendapatnya adapun Syiah intern
    diwan asy-Syafi’i
    melewati penggalan syairnya: “Jika Rafidhah itu merupakan menganakemaskan batih Muhammad, Maka moga dua makhluk (jin dan bani adam) bersaksi bahwa aku merupakan seorang Rafidhi.”, Dia juga berkata, “Mereka mengatakan, ‘Kalau seperti itu Anda telah menjadi Rafidhi?’ Saya katakan, ‘Sekali-kali tidak… tidaklah al-Rafdh (menolak Khalifah Abu Bakar dan Umar) itu agamaku, tidak juga keyakinanku.” Imam Asy-Syafi’i berkata: “Saya belum mengaram seorang pun yang minimum banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syiah Rafidhah.”[26]

Pendapat ulama

  • Pastor al-Auza’i berkata: “Barangsiapa yang melaknat Abuk Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, maka engkau sudah lalu murtad mulai sejak agamanya dan dihalalkan darahnya bakal dibunuh.”[27]
  • Abdullah polong Jibrin saat ditanya tentang hukum memakan daging yang disembelih oleh kaum Syi’ah, ia menjawab: “Tak halal menyembelih daging hak Rafidhah atau memakannya, karena sebagian samudra kabilah Rafidhah adalah musyrik, sebagaimana mereka gelojoh berdoa kepada Ali kacang Abi Thalib detik mereka sedang mengalami kesusahan dan kemakmuran, malah saat di Arafah, saat thawaf, dan detik sa’i, dan mereka menyuruh anak-anaknya untuk menyeru imam imam mereka, seperti nan telah kami tangkap suara tautologis kali, dan ini yakni penyekutuan allah besar dan perjuangan terhadap Islam yang karenanya mereka pantas dibunuh.”[28]
  • Abdul Aziz bin Baz berkata: “Syiah itu memiliki banyak sekte, dan masing-masing sekte memiliki jenis bid’ah yang farik, yang paling berbahaya merupakan sekte Rafidhah Khomeini Dua Belas, karena banyaknya pemujanya, dan karena kemusyrikan besar di dalamnya, seperti istighatsah kepada Ahlul Kuplet dan mempunyai keyakinan bahwa mereka (Ahlul Bait) memaklumi yang ghaib, terutama dua belas imam – menurut klaim mereka – dan karena mereka kafir dan mereka juga mencela mayoritas sahabat seperti Abu Bakar dan Umar -radhiyallahu’anhuma -.”

Distribusi geografi

Syiah merupakan agama mayoritas di Iran (90-95%), Azerbaijan (65-75%) dan Irak (65-70%)[29]

Populasi Syiah menurut negara
Negara Populasi Syiah[30]

Afghanistan
3.000.000-4.000.000

Azerbaijan
5.000.000-7.000.000

Bahrain
400.000-500.000

Bulgaria
100.000

India
16.000.000-24.000.000

Irak
19.000.000-22.000.000

Iran
66.000.000-70.000.000

Jerman
400.000-600.000

Kuwait
500.000-700.000

Lebanon
1.000.000-2.000.000

Nigeria
<4.000.000

Oman
100.000-300.000

Pakistan
17.000.000-26.000.000

Qatar
100.000

Saudi Arabia
2.000.000-4.000.000

Suriah
3.000.000-4.000.000

Tajikistan
400.000

Tanzania
<2.000.000

Turki
7.000.000-11.000.000

Mbok Emirat Arab
300.000-400.000

Amerika Serikat
200.000-400.000

Yaman
8.000.000-10.000.000

Bacaan lanjutan


  • Encyclopædia Britannica Online. Encyclopædia Britannica, Inc.




  • Encyclopædia Iranica. Center for Iranian Studies, Columbia University. ISBN 1-56859-050-4.



  • Martin, Richard C.
    Encyclopaedia of Islam and the Muslim world; vol.1. MacMillan. ISBN 0-02-865604-0.



  • Corbin, Henry (1993 (original French 1964)).
    History of Islamic Philosophy, Translated by Liadain Sherrard, Philip Sherrard. London; Kegan Paul International in association with Islamic Publications for The Institute of Ismaili Studies. ISBN 0-7103-0416-1.



  • Dakake, Maria Massi (2008).
    The Charismatic Community: Shi’ite Identity in Early Islam. SUNY Press. ISBN 0-7914-7033-4.



  • Holt, P. M. (1977a).
    Cambridge History of Islam, Vol. 1. Cambridge University Press. ISBN 0-521-29136-4.



  • Lapidus, Ira (2002).
    A History of Islamic Societies
    (edisi ke-2nd). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77933-3.



  • Momen, Moojan (1985).
    An Introduction to Shi’i Selam: The History and Doctrines of Twelve. Yale University Press. ISBN 0-300-03531-4.



  • Sachedina, Abdulaziz Abdulhussein (1988).
    The Just Ruler (al-sultān Al-ʻādil) in Shīʻite Selam: The Comprehensive Authority of the Jurist in Imamite Jurisprudence. Oxford University Press US. ISBN 0-19-511915-0.



  • Tabatabaei, Sayyid Mohammad Hosayn (1979).
    Shi’ite Islam. Suny press. ISBN 0-87395-272-3.



  • Peter J. Chelkowski (ed.),
    Eternal Performance: Taziyah and Other Shiite Rituals
    (Salt lake City (UT), Seagull Books, 2010) (Seagull Books – Enactments).
  • Corbin, Henry (1993).
    History of Islamic Philosophy, translated by Liadain Sherrard and Philip Sherrard. Kegan Paul International in association with Islamic Publications for The Institute of Ismaili Studies. ISBN 0-7103-0416-1.



  • Dabashi, Hamid (2011).
    Shi’ism: A Religion of Protest. Harvard University Press. ISBN 978-0674-06428-7.



  • Halm, Heinz (2004).
    Shi’ism. Edinburgh University Press. ISBN 0-7486-1888-0.



  • Halm, Heinz (2007).
    The Shi’ites: A Short History. Markus Wiener Pub. ISBN 1-55876-437-2.



  • Lalani, Arzina R. (2000).
    Early Shi’i Thought: The Teachings of Imam Muhammad Al-Baqir. I.B.Tauris. ISBN 1-86064-434-1.



  • Momen, Moojan (1985).
    An Introduction to Shi’i Selam: The History and Doctrines of Twelver Shi’ism. Yale University Press. ISBN 0-300-03499-7.



  • Shirazi, Sultanu’l-Wa’amnesti.
    Peshawar Nights, A Transcript of a Dialogue between Shia and Sunni scholars. Ansariyan Publications. ISBN 978-964-438-320-5.



  • Nasr, Seyyed Hossein (1989).
    Expectation of the Millennium: Shiʻism in History. SUNY Press. ISBN 0-88706-843-X.



  • Rogerson, Barnaby (2007).
    The Heirs of Muhammad: Islam’s First Century and the Origins of the Sunni Shia split. Overlook Press. ISBN 1-58567-896-1.



  • Wollaston, Arthur N. (2005).
    The Sunnis and Shias. Kessinger Publishing. ISBN 1-4254-7916-2.



  • Moosa, Matti (1988).
    Extremist Shiites: The Ghulat Sects. Syracuse University Press. ISBN 0-8156-2411-5.



Lihat pula

  • Imam Syiah
  • Ayatullah
  • Penoreh Syiah

Pranala luar

  • (Inggris)
    Islam: Sunnis and Shiites
    (CRS Report for Congress), oleh Christopher M. Blanchard
  • (Indonesia)
    Buku Panduan MUI Mengenai Syiah
    oleh MUI Pusat.

Situs Syiah

  • Amatan Khusus Tentang Rohaniwan Mahdi Diarsipkan 2019-07-28 di Wayback Machine.
  • Islamic Cultural Center Jakarta
  • Download Resep, Kitab, Mazhab Syiah
  • Abatasya Islamic Website
  • Al-Shia (Pekarangan Indonesia) Diarsipkan 2019-05-21 di Wayback Machine.
  • Kata sandang di Yayasan Fatimah tentang beraneka macam kajian tentang Syiah Diarsipkan 2015-10-26 di Wayback Machine.
  • Fatwa-fatwa fikih Mazhab Ahlulbait dari Yayasan al-Jawad
  • (Melayu)
    Rumah Syiah Melayu Diarsipkan 2015-06-30 di Wayback Machine.

Situs Non Syiah

  • Kronik Ash-Showaiq mulai sejak al-Bayyinat
  • Artikel Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah tentang Syiah
  • Aqidah Syiah Mengaibkan Sahabat = Mencela Qur’an = Mencela Hadits = Mencela Tuhan = Mengecap Nabi = Mencacat Ahlul Bait
  • Bagaimana itu syiah? Ustadz DR Khalid Basalamah, MA
  • Annas Indonesia

Garitan kaki dan pustaka


  1. ^


    “The Shura Principle in Islam – by Sadek Sulaiman”.
    www.alhewar.com. Diarsipkan dari versi bersih tanggal 27 July 2016. Diakses tanggal
    18 June
    2016
    .





  2. ^


    Triana, María (2017).
    Managing Diversity in Organizations: A Global Perspective
    (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 159. ISBN 978-1-317-42368-3. Diarsipkan dari versi masif tanggal 8 September 2017.





  3. ^


    Shi’a
    is an alternative spelling of
    Shia, and
    Shi’ite
    of
    Shiite. In subsequent sections, the spellings
    Shia
    and
    Shiite
    are adopted for consistency, except where the alternative spelling is in the title of a reference.

  4. ^


    “Mapping the Global Mukminat Population”. 7 October 2009. Diarsipkan bermula versi ikhlas tanggal 14 December 2015. Diakses copot
    10 December
    2014
    .
    The Pew Forum’s estimate of the Shia population (10-13%) is in keeping with previous estimates, which generally have been in the range of 10-15%.





  5. ^


    Newman, Andrew J. (2013). “Introduction”.
    Twelver Shiism: Unity and Diversity in the Life of Islam, 632 to 1722. Edinburgh University Press. hlm. 2. ISBN 978-0-7486-7833-4.





  6. ^


    Guidère, Mathieu (2012).
    Historical Dictionary of Islamic Fundamentalism. Scarecrow Press. hlm. 319. ISBN 978-0-8108-7965-2.





  7. ^

    Riwayat di Durul Mansur hoki Jalaluddin As-Suyuti

  8. ^

    Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji

  9. ^

    Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Anak laki-laki Hazm

  10. ^

    http://www.beritasatu.com/nasional/27980-menag-syiah-bukan-islam.html

  11. ^

    http://www.scribd.com/doc/183188603/Siasat-PANDUAN-MUI-MENGENAL-MEWASPADAI-PENYIMPANGAN-SYI-AH-DI-INDONESIA#download

  12. ^

    http://www.tribunnews.com/regional/2014/02/03/mui-mohon-umat-selam-mewaspadai-revolusi-syiah

  13. ^


    Kustiani, Rini (2012-08-29). “NU: Syiah Tidak Sesat, Saja Berbeda”.
    Tempo
    . Diakses rontok
    2019-09-13
    .





  14. ^


    “Ajaran Syiah, menurut MUI, tidak dilarang di Indonesia”.
    BBC News Indonesia
    . Diakses tanggal
    2019-09-13
    .





  15. ^


    Sarana, Kompas Cyber. “Syiah (Tidak) Sesat”.
    KOMPAS.com
    . Diakses tanggal
    2019-09-13
    .





  16. ^


    Andreas Gerry Tuwo (10 September 2013). “Malaysia Akan Tindak Tegas Penceramah Syiah”.
    Okezone.com
    . Diakses terlepas
    22 September
    2013
    .





  17. ^


    “Syiah Di Malaysia”.
    e-fatwa.gov.my. Bahagian Pengurusan Fatwa, Jabatan Kejayaan Islam Malaysia (JAKIM). Diarsipkan dari versi tahir tanggal 2016-01-16. Diakses tanggal
    22 September
    2013
    .





  18. ^

    “Jordan’s 9/11: Dealing With Jihadi Islamism Diarsipkan 2013-03-07 di Wayback Machine.”, Crisis Group Middle East Report N°47, 23 November 2005

  19. ^

    Al-Qamus Al-Muhith, situasi. 829

  20. ^

    Riwayat Ibnu ‘Asakir internal “Tarikh Dimasyq” [Sejarah Damaskus], dan Anak laki-laki Abu Khaitsamah dalam “Bilangan tahun”-nya, dengan sanad sahih, berikut beberapa penguat. Ini mematahkan klaim penyembah agama Syiah untuk menganggap bahwa Abdullah kedelai Saba’ itu tokoh fiktif.

  21. ^

    Baca al-Ghadir, al-Muroja’ah, Akhirnya Kutemukan Kebenaran, dll

  22. ^

    Badzlul Majhud, 1/86

  23. ^

    Maqalatul Islamiyyin, 1/137

  24. ^

    Majmu’ Fatawa (13/36)

  25. ^

    Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul keadaan. 567, karya Anak laki-laki Taimiyyah

  26. ^

    Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Pendeta asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486.

  27. ^


    “الموسوعة العقدية – الدرر السنية – مجموعة من المؤلفين – مکتبة مدرسة الفقاهة”.
    ar.lib.efatwa.ir
    (dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari varian tulen tanggal 2021-02-11. Diakses terlepas
    2021-02-11
    .





  28. ^

    الإسلام سؤال وجواب. Diarsipkan 2019-04-12 di Wayback Machine.

  29. ^


    “Shia (Shi’a) Muslim Countries”.
    WorldAtlas
    (dalam bahasa Inggris). Diakses rontok
    2021-07-20
    .





  30. ^


    “Countries Compared by Religion > Shia Islam population > Number of Shia muslims. International Statistics at NationMaster.com”.
    www.nationmaster.com
    . Diakses tanggal
    2021-07-20
    .




Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Syiah

Posted by: and-make.com