Ajaran Dasar Wawasan Nusantara Landasan

suka-suka Kegiatan Berlatih 1 dan 2 kita sudah mengkaji permukaan belakang, pengertian, hakikat dan harapan Wasantara.Dalam kegiatan belajar ini Dia akan mengkaji Wasantara misal landasan Tannas dan Pembangunan Kewarganegaraan. Kenapa Wasantara sebagai galangan Tannas? Apa nan dimaksudkan dengan Tannas? Dan bagaimana hubungannya dengan pembangunan nasional? Serta bagaimana menerapkan kamil pikir Wasantara dalam sikap dan perbuatan kita? Itulah tanya-pertanyaan yang akan dijawab dan dibahas dalam kegiatan belajar ini.

  1. WASANTARA SEBAGAI Limbung TANNAS DAN PEMBANGUNAN Nasional

Pada kegiatan berlatih terdahulu, Anda telah pelajari, bagaimana bangsa Indonesia memandang diri dan lingkungannya yang kita rumuskan laksana Wasantara . Kaprikornus Wasantara merupakan Wawasan Nasional nasion Indonesia. Sebagai Wawasan Nasional maka bangsa Indonesia di dalam menyentuh tujuan dan cita-cita nasionalnya melihat diri sebagai suatu wahdah yang utuh mencakup aspek fisik geografik dan aspek sosial. Jika kita telah memandang bangsa dan ruang hidupnya sebagai satu kesatuan yang utuh maka lebih lanjut bagaimana kita memanfaatkan kondisi fisik ilmu permukaan bumi dan sosial internal mileu strategik, bakal khasiat pembangunan kewarganegaraan dalam kerangka menjejak maksud dan cita-cita nasional.

Eksploitasi itu harus sesuai dengan pemikiran atau wahi Wasantara. Oleh karena itu, Wasantara merupakan konsep geopolitik bangsa Indonesia privat menyelenggarakan vitalitas kebangsaan. Dengan demikian Wasantara adalah sumber utama dan landasan yang kuat dalam menyelenggarakan spirit kewarganegaraan. Tannas sreg hakikatnya yaitu kemampuan dan ketangguhan satu bangsa bagi menjamin kelangsungan hidupnya mendekati kejayaan bangsa dan negara (konsep geostrategik). Kemampuan dan ketangguhan bangsa perlu diwujudkan dalam berbagai aspek roh berbangsa dan bernegara (tatap astagatra) melalui pembangunan nasional. Kemampuan dan ketangguhan itu tidak barangkali bisa kita wujudkan, apabila kita tidak berpola pikir dan bertabiat yang dilandasi oleh semangat Wasantara (persatuan dan keesaan). Kita tidak pernah bisa membangun dalam suasana perpecahan. Persatuan dan kesatuan merupakan keharusan pembangunan. Dengan demikian Wasantara dapat dikatakan galangan tannas yang berfungsi menentukan arah perwujudan konsepsi tannas. Dengan kata lain, Tannas merupakan marcapada nyata yang perlu diwujudkan.

Lebih jauh privat GBHN 1993 dinyatakan bahwa “pembangunan kebangsaan yakni pembangunan di semua aspek vitalitas nasion, dengan senantiasa harus merupakan perwujudan Wasantara serta mempersempit tannas. Pembangunan kewarganegaraan diselenggarakan melalui pendekatan tannas nan mencerminkan keterpaduan antara seluruh aspek hayat bangsa secara utuh menyeluruh”.

Tannas adalah kondisi dinamis yang merupakan integrasi bersumber segenap aspek nasib bangsa. Hakikatnya adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa kerjakan menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan, nasion dan negara. Maka privat konteks pembangunan nasional, tannas menentukan lingkup, volume dan ketepatan dari pembangunan kewarganegaraan. Pembangunan nasional pada hakikatnya adalah proses kegiatan intern mewujudkan tannas. Oleh karena itu kembali, berhasilnya pembangunan kewarganegaraan akan dapat meningkatkan tannas dan tannas yang tangguh akan kian menolak pembangunan kebangsaan.

Bikin lebih jelasnya, Anda dapat melihat hubungan tahapan Wasantara, Tannas dan pembangunan nasional (Bangnas) kerumahtanggaan ringkasan di radiks ini.

Interelasi Hierarki WASANTARA, TANNAS DAN BANGNAS

WASANTARA= WAWASAN Kewarganegaraan

(Dunia ideal yang ingin dicipta)

Menentukan jihat

Perwujudan konsepsi

TANNAS

TANNAS

Dunia nyata nan perlu diwujudkan

Menentukan lingkup tagihan

dan presisi

BANGNAS
      BANGNAS

(Proses kegiatan mewujudkan Tannas)


Rancangan 2.10.

  1. PENERAPAN WASANTARA DALAM SIKAP DAN Ragam

Mutakadim Anda pelajari bahwa Wasantara merupakan mandu pandang nasion Indonesia terhadap diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Wasantara sekali lagi ialah
mata air utama dan landasan yang kuat dalam menyelenggarakan jiwa nasional. Dengan pembukaan lain, Wasantara sebagai wawasan kewarganegaraan dan merupakan pematang tannas.

Untuk mencapai tujuan nasional dan cita-cita kebangsaan maka harus dilakukan pembangunan nasional, di mana
Wasantara ialah paradigma-pikir maupun transendental-tindak kerumahtanggaan melaksanakan pembangunan nasional. Maka itu hasilnya, privat GBHN ditetapkan ibarat eksemplar asal pembangunan kewarganegaraan. Dengan demikian kerumahtanggaan konteks ini Wasantara laksana
wawasan pembangunan Nasional.

Asas Nusantara pula menargetkan
batas-batas negeri Nusantara atau perenggan negara gugusan pulau (Archipelagic state). Dengan demikian Wasantara sebagai
wawasan provinsi.

Manajemen roh berbangsa dan bernegara harus dituangkan ke dalam hukum kebangsaan di mana di negeri Nusantara adanya
satu hukum nasional yang mengayomi seluruh penduduk negara bangsa dan pemerintahan penyelenggara negara yang didasarkan pada ideal pikir Wasantara. Internal konteks ini maka Wasantara sebagai
Wawasan Hukum Nasional.

Untuk melindungi seluruh bangsa Indonesia dan petak air Indonesia maka wajib disusun
sistem pertahanan dan keamanan negara nan berpola pikir Wasantara. Kerumahtanggaan konteks ini wasantara sebagai wawasan hankam.

Uraian di atas menerimakan bayangan kepada Anda cahaya muka Wasantara yang diringkas sebagai berikut.

Durja  WASANTARA

Tulangtulangan 2.11.

Melihat bayangan tersebut maka Wasantara harus cangap menjadi galengan internal setiap perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan intern tata semangat berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

  1. Wasantara dijadikan pegangan privat menentukan sikap dan tindakan nyawa berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Tentang kejadian ini coba Dia pelajari sekali lagi Modul 1 mengenai kerangka sumber akar arwah kebangsaan.
  2. Bahwa kebulatan wilayah nasional dengan segala isi dan kekayaannya merupakan satu wahdah wilayah, panggung, ulas kehidupan dan ahadiat format seluruh bangsa yang menjadi modal dan peruntungan bersama bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan itu, masalah nan paling utama dan mendasar saat ini ini adalah bagaimana kita membina, mengatasi dan memanfaatkan kebulatan provinsi nasional sebagai suatu kesatuan yang utuh.

        Berkaitan dengan masalah tersebut beberapa hal yang teristiadat diperhatikan:

  1. Mencegah masuknya responsif atau ideologi yang dapat mempengaruhi pernalaran yang lain patut dalam semangat kita berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Meskipun kita semua telah cocok bahwa Pancasila ibarat satu-satunya asas dalam usia kita berbangsa, bernegara dan bermasyarakat bukanlah suatu jaminan bahwa ideologi tak tidak dapat ikut ke Indonesia. Karena di era globalisasi (kesejagatan) makin intensif dan cepatnya komunikasi melalui plural media maupun komunikasi refleks sejagat menerobos berbagai aktivitas kerja sama akan membawa pengaruh kepada kondisi bangsa.
  1. Mencegah apa bentuk aspirasi politik nan berkepribadian dan berorientasi kepada disintegrasi atau sparatisme bangsa. Persatuan, dan wahdah dan kepentingan nasional harus diletakkan di atas kemujaraban kelompok, golongan maupun daerah. Aspirasi area, kerubungan atau golongan boleh berkembang tetapi dalam rajah persatuan Indonesia atau Wasantara. Teoretis pikir dua arah (keadilan) antar-Pemerintah Pusat dan Daerah perlu diterapkan. Sejarah telah mengasihkan pelajaran kepada kita bahwa salah satu alasan munculnya penolakan PRRI/Permesta misalnya karena tidak ada kompromi antara aspirasi Sentral dan Kawasan. Konsep dan penerapan, pemerataan pembangunan daerah pertepatan kesempatan dan pemerataan kesempatan dalam pembangunan menunjukkan relevansinya. Di sini paradigmanya, pembangunan daerah ialah pembangunan nasional. Pembangunan kebangsaan adalah pembangunan daerah.
  1. Karena distrik Nusantara 2/3 berupa perairan (ingat transendental segara nan diseraki pulau-pulau) maka perlu ditumbuhkembangkan budaya kelautan di kalangan generasi remaja. Penduduk Indonesia orientasi kehidupannya lazimnya di darat. Hanya abnormal nan berburu sukma di laut (perairan). Sementara itu potensi hidup di darat dipastikan akan terus memendek sehingga satu ketika tak bisa menyempurnakan kebutuhan mayoritas rakyat Indonesia. Di sisi lain sumber daya laut, khasanah nabati hewani mineral, energi tak terhingga apabila bisa kita kelola dan lestarikan.
    Di sinilah relevansinya kita berekspansi budaya kelautan dan jangan sebatas lagu “Nenek moyangku orang anak kapal” tidak kita warisi dan hanya menjadi catatan rekaman.
    Selain itu sudah waktunya kita bertukar ke luar pulau Jawa. Pulau Jawa sudah penuh timpat, dan suatu saat rahasia dukungnya bagi atma akan memendek. Sedangkan pulau-pulau dengan perairannya yang tak alangkah kaya akan potensi sumber alam. Doang doang tidak ada alias kurangnya tenaga terampil yang mengelolanya.
    Di sinilah relevansinya program transmigrasi dan usia kebaharian bagi generasi muda laksana pewaris musim depan nasion. Tidak pecah itu, jangan sampai yang menimba manfaat lebih lautan dari sumber daya laut kita merupakan bangsa tak. Oleh karena itu, kita perlu menguasai butir-butir dan keterampilan teknologi kelautan.
  1. Bangsa Indonesia merupakan nasion yang majemuk yang diikat oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sifat asal masyarakat majemuk:
    1. Segmentasi ke dalam buram kelompok dengan sub. Peradaban yang berlainan.
    2. Struktur sosial yang terbagi ke n domestik lembaga-lembaga yang berwatak nonkomplementer.
    3. Kurang mengembangkan konsensus akan halnya nilai-nilai sosial yang bertabiat dasar.
    4. Cak acap terjadi konflik.
    5. Integrasi sosial tumbuh berdasarkan paksaan.
    6. Kontrol garis haluan oleh suatu kelompok atas kelompok tidak.

Kebhinnekaan itu yakni kekayaan sekaligus sumber kerawanan. Masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan/Aliran) merupakan masalah nan dahulu peka.
Oleh karena itu, perlu ditumbuhkembangkan kepada seluruh masyarakat Indonesia pemahaman kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat serta budaya “Toleransi”.

Kemana pun dan di mana pun Anda berkreasi untuk mengikat usia di distrik Nusantara yakni lahan air Kamu yang harus dicintai bersama. Sahaja demikian, teradat diingat bahwa di mana kaki dipijakkan di bumi Nusantara, di situ langit dijunjung. Ini artinya kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan budaya tempat kita bertugas. Budaya daerah (lokal) tersebut juga merupakan substansi alias kekayaan nasion kita. Di sisi bukan, tak cak semau aturan maupun hukum di wilayah tercinta ini menciptakan menjadikan warga negara nan menjadi pemukim negara kelas 1 dan kelas 2 serta seterusnya. Semua warga harus mendapat palagan singularis dalam negaranya.

  1. Negara Indonesia yakni negara hukum, lain negara otoritas.
    Oleh karena itu, tak ada seorang pula penghuni negara, majikan negara, lembaga negara berada di atas hukum kebangsaan.
    Jadi tidak cak semau orang yang ampuh hukum atau terserah warga negara papan bawah satu dan sebagainya. Syariat harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
  1. Pembangunan nasional pada hakikatnya untuk menciptakan kemakmuran (kesejahteraan) dan kesabaran (keamanan). Sendang-sumber perekonomian harus dikelola sesuai dengan pemberitahuan Pasal 33 UUD 1945. Tidak ada penguasaan/kekuasaan sumber-sendang perekonomian oleh insan atau suatu gerombolan masyarakat.
    Harus diciptakan persamaan kesempatan dan pemerataan kesempatan buat seluruh rakyat. Ekonomi dikelola dengan hidup “pertalian”. Kemiskinan dan kebodohan harus dilenyapkan. Takdirnya pengelolaan sumber-sumber perekonomian tidak diatur dengan baik (hindarkan etatisme, monopoli, oligopoli, dan persaingan netral, korupsi persekongkolan dan nepotisme) maka akan menjadi sendang konflik yang akan berkiblat kepada disintegrasi nasion
    dan dapat merugikan kita semua laksana bangsa Indonesia.
  1. Pejabat negara, pengarah pemerintah dan birokrasi harus benar-benar berfungsi mengayomi dan meladeni masyarakat (sadar mengayomi bukan main kuasa atau dilayani). Menciptakan pemerintahan dan birokrasi yang bersih dan berkarisma harus alangkah-sungguh ditangani. Konsep “Abdi Negara,
    Abdi Umum” harus mendalam ditanamkan, dihayati dan diamalkan. Abdi negara, abdi publik pada hakikatnya ialah “pelayan” negara dan publik. Pelayan yang bagaimana Anda harapkan di flat?
    Jawaban Sira itulah kira-sangkil citra pelayan negara dan mahajana. Itulah beberapa pemberitahuan nan perlu kita terapkan dalam pengamalan Wasantara kerumahtanggaan kehidupan kita bagaikan bangsa. Masih banyak granula-butir penting lainnya yang perlu Dia diskusikan dengan teman-teman, maupun tutor Anda.

Source: http://bahanajar.ut.ac.id/app/webroot/epub/original_files/extract/1175/EPUB/xhtml/raw/s7xvsm.xhtml

Posted by: and-make.com