Ajaran Dasar Mu’tajillah Yufid

tirto.id – Salah satu peredaran doktrin Islam yang mengagungkan akal di atas apa peristiwa ialah Mu’tazilah. Dalil-dalil nas Al-Quran dan sabda yakni penopang berpokok daya produksi akal busuk nan sudah dianugerahkan Yang mahakuasa SWT kepada khalayak, demikian kesimpulan umum berbunga ilmu agama ajaran Mu’tazilah. Penganut revolusi Mu’tazilah memercayai bahwa akal bisa mengantarkan lega keimanan dan ketaatan pada Sang pencipta SWT.

Aliran Mu’tazilah dipelopori tokoh sarjana muslim bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi lega hari 700-an masehi di Irak. Dia dianggap misal biang keladi pemula yang membangun sirkulasi ini.

Mengutip ulasan karya Analiansyah bertajuk “Peran Akal dan Independensi Bertindak dalam Filsafat Ketuhanan Mu’tazilah” nan dimuat
Kronik Substantia
(Vol. 15, No 1, 2013), Washil polong Atha’ lahir di Madinah lega masa pemerintahan salah satu khalifah Bani Umayyah, Abdul Malik kedelai Marwan (65-86 H/684-705 M).

Washil bin Atha’ mulai belajar dan mendalami agama Islam di Madinah. Ketika engkau tumbuh dewasa, pengaruh Islam di bawah pemerintahan Khalifah al-Walid I (86-96 H/705-715 M) sedang merebak setakat mencapai Andalusia.

Momen dewasa, ia bermukim di Bashrah. Di kota tersebut, Washil berhubungan dan menimba ilmu dari banyak tokoh ilmuwan muslim, terutama Hasan al-Basri.

Sejauh hidupnya, Washil kedelai Atha’ memperoleh julukan
al-Gazzal
(penenun). Sebab, dia senang sekali berkeliling intern pasar tenun dan memberikan sumbangan kepada buruh-buruh melarat di rahat-kilang tenun.



Bilang kitab berpengaruh juga lahir dari pemikiran Washil kacang Atha’. Misalnya, kitab
Tabaqat al-Murji’ah,
Tabaqat al-‘Ulama wa al-Juhala,
Kitab al-Taubah,
Kitab Manzilah bain al-Manzilatain, dan
Khutbah al-Tauhid wa al-Adl.

Washil bin Atha’ meninggal bumi pada perian pemerintahan Marwan II (127-132 H/744-750 M), sekali lagi khalifah pecah Anak lelaki Umayyah. Sosoknya juga dikenang andai jauhari mukminat yang zahid (asketis).

Riuk satu sahabatnya, ‘Amr polong Ubaid memvisualkan Washil polong Atha’ sebagai seorang muslim zahid yang mendirikan salat di sejauh malamnya. Washil pula termaktub tiba haji dengan urut-urutan kaki sebanyak empat kali.


Pemikiran Washil kedelai Atha’

Pada mulanya, Washil kacang Atha’ ialah murid jamhur terkenal, Hasan Al-Bashri. Sahaja, Washil bin Atha’ kemudian melebarkan paham teologi tersendiri sehingga menjurus pendapat gurunya tersebut.

Alkisah, suatu kali Hasan Al-Bashri menjelaskan pusat-pokok ramalan Khawarij yang memfatwakan bahwa pekerja dosa osean dihukum dahriah. Hasan Al-Bashri mengomentari bahwa pelaku dosa besar tidak bisa digolongkan sebagai sosok kufur, semata-mata payau berstatus mukmin selama sira berkepastian.

Lantas, Washil kedelai Atha’ berkomentar atas pendapat Hasan Al-Bashri dengan menyatakan bahwa praktisi dosa besar tidak boleh dikategorikan orang islam, tak bisa pun dianggap kafir. Singgasana pegiat dosa ki akbar, menurut Washil bin Atha’, di antara 2 posisi (al-manzilatu baina manzilatain).

Dalam bahasa Arab, “mu’tazilah” artinya (keadaan) meleraikan diri. Pada kasus ini, penyematan etiket Mu’tazilah berbunga dari hal ketika Washil bin Atha’ memisahkan diri berpangkal golongan Hasan Al-Bahsri.

Lambat laun, Washil bin Atha’ mengajarkan pemikirannya hingga menjadi arus yang berwibawa luas dan populer pada masa Dinasti Abbasiyah.

Saking tenar dan kuatnya pengaruh Mu’tazilah, ia menjadi mazhab dan persebaran protokoler negara pada masa pemerintahan 4 khalifah Abbasiyah, yakni Al-Makmun (198-218 H), Al-Mu’tashim (218-227 H), Al-Watsiq (227-232 H), dan berakhir plong masa Al-Mutawakil (234 H).

Doktrin Ajaran Mu’tazilah

Doktrin Mu’tazilah terkonsentrasi pada 5 sumber akar ajaran (ushulul khamsah) yaitu, (1)
At-Tauhīd
(Ketunggalan Allah), (2)
Al-‘Adlu
(Kesamarataan Allah), (3)
Al-Wa’du wa Al-Wa’id
(taki dan ancaman), (4)
Al-Manzilah baina Al-Manzilatain
(posisi di antara 2 posisi), dan (5) Amar perbuatan baik nahi munkar (mensyariatkan nan baik dan mencegah nan mungkar).

Berikut penjelasan adapun 5 ajaran Mu’tazilah sama dengan dikutip berpangkal buku
Akidah & Akhlak
(2020) nan ditulis Sihabul Milahudin.

1. Memusatkan Tuhan (At-Tauhid)

Untuk mengesakan Sang pencipta SWT, ajaran Mu’tazilah menafikan dan memungkiri sifat-resan Allah yang tertuang dalam Asmaul Husna. Menurut Mu’tazilah, ada kesalahpahaman umat Islam memahami tauhid Allah.

Penganut Mu’tazilah mengimani bahwa yang disebut aturan dan nama-tanda-Nya nan Indah (Asmaul Husna) adalah satu kesatuan dengan Zat Allah SWT, bukan terpisah berusul-Nya.

Selain itu, Mu’tazilah memandang bahwasanya Al-Quran adalah “individu baru”. N domestik kasus ini, “insan” merujuk ke pengusahaan bahasa Arab, nan artinya sesuatu nan diciptakan. Artinya, Halikuljabbar menciptakan Al-Quran, serta terlepas berusul sifat firman-Nya.

Rasam Allah juga Maha Agung dan di asing kemujaraban lima indera manusia. Karena itu juga, ketika orang turut surga, mereka tidak bisa mematamatai Allah SWT.

2. Keadilan Tuhan SWT (Al-‘Adlu)

Mu’tazilah memandang bahwasanya manusia memiliki kehendak nonblok (free will). Karena itu, sira adil melakukan perbuatan apa sekali lagi di luar intervensi Halikuljabbar SWT.

Menurut Mu’tazilah, Allah SWT tidak mungkin menciptakan ki kesulitan, tidak sekali lagi menghendaki bencana, atau perbuatan dosa. Takdirnya demikian, maka semua ulah buruk pasti dilakukan oleh makhluk dengan kehendak objektif mereka sendiri.

Seandainya Allah memiliki intervensi terhadap perbuatan sosok maka keadilan tidak bisa ditegakkan. Bagaimana mungkin Allah memasukkan pendosa ke neraka atas kelakuan buruk yang sudah diatur oleh-Nya, demikian juga menjatah pahala atas suratan baik yang sudah ditetapkan di Lauh Al-Mahfuz, sebagaimana pandangan arus Jabariyah.

Apabila demikian keadaannya maka Allah SWT tidak adil. Karena itu, keseimbangan Allah terdapat pada niat bebas nan Dia anugerahkan kepada hamba allah. Berbekal akalnya, individu menentukan sendiri ragam mereka dan tidak jatuh cinta setolok sekali dengan takdir.

3.
Al-Manzilah baina Al-Manzilatain

Doktrin paling tenar dari Mu’tazilah yaitu derajat para pelaku dosa besar. Jika arus Khawarij memandang bahwa orang nan berbuat dosa samudra telah murtad dan keluar berusul Islam, sementara Murjiah memandangnya tetap mukmin, maka Mu’tazilah berpandangan bahwa pelaku dosa ki akbar tidak bisa dianggap muslim, bukan dapat juga dibilang kafir.

Posisi pelaku dosa besar bakir di antara dua posisi tersebut, yaitu fasik. Orang fasik memiliki derajat tunggal, yakni berada di bawah mukmin, namun di atas posisi kafir. Menurut Mu’tazilah, pekerja dosa besar nan tidak bertobat dan meninggal dalam kefasikan akan dimasukkan ke neraka selama-lamanya, namun hukumannya diringankan. Nerakanya enggak sepanas neraka yang dihuni oleh orang-anak adam ateis.

Sedangkan merujuk penjelasan Analiansyah kerumahtanggaan
Jurnal Subtantia, Washil polong Atha’ berpendapat bahwa bani adam yang melakukan dosa besar dan tidak bertaubat hingga meninggal, di hari akhirat nanti akan berharta di antara dua medan (antara surga dan neraka). Panggung itu diistilahkan dengan
Al-Manzilah Baina Al-Manzilatain. Konsep tersebut kemudian menjadi salah satu doktrin Mu’tazilah yang paling fundamental.

4. Amar Makruf, Nahi Munkar

Setiap muslim berkewajiban lakukan mengajak kepada peristiwa yang baik (amar jasa baik) dan melarang ulah buruk (nahi mukar). Sahaja, detik aliran Mu’tazilah menjadi mazhab resmi rezim beberapa khalifah Dinasti Abbasiyah, penerapan pendirian menjadi lampau mencolok.

Akibatnya, sejumlah cerdik pandai nan pendapatnya berseberangan dengan visiun Mu’tazilah dipenjara dan disiksa agar menyetujui paham aliran Mu’tazilah.

Salah seorang ulama kesohor nan terjangkit dampak siksaan dan kerangkeng penjara itu adalah Rohaniwan Ahmad kedelai Hanbal yang menolak mengakuri Al-Quran yaitu insan seperti keimanan Mu’tazilah.

5. Janji dan Ancaman (Al-Wa’du wa Al-Wa’id)

Sang pencipta SWT lain akan pernah mengingkari janji dan ketentuannya. Jika seorang muslim berbuat baik, maka balasannya yakni pahala dan keindraan. Sebaliknya, kelakuan buruk diganjar dengan dosa dan perlagaan neraka.

Melampaui akal geladak, manusia diberi kemampuan untuk mengasingkan peristiwa-hal baik dan buruk. Dengan daya produksi akal, cucu adam bisa mencerna perintah Sang pencipta SWT walaupun belum sampai kepadanya pengetahuan agama.

(tirto.id –
Film)

Kontributor: Abdul Hadi

Penyadur: Abdul Hadi

Editor: Addi M Idhom



Source: https://tirto.id/sejarah-mutazilah-tokoh-aliran-pemikiran-dan-doktrin-ajarannya-gixq

Posted by: and-make.com