Ajaran Berdasarkan Cerita Yang Harus Dipecaya

Penstabilan Pendidikan Kepribadian Bintang sartan Pintu Masuk Pembenahan Pendidikan Nasional
17 Juli 2017
 ← Back

Penguatan karakter menjadi riuk satu acara prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Privat nawa cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan arus fiil bangsa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan pemantapan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016.

 Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan embaran. Bagi sekolah dasar sebesar 70 komisi, sedangkan untuk sekolah sedang pertama sebesar 60 persen.

 “Gerakan Penstabilan Pendidikan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan,” pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

 Tak hanya olah pikir (literasi), PPK mendorong agar pendidikan kewarganegaraan pun menuduh olah hati (etik dan spiritual) olah rasa (estetik), dan kembali olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini sebaiknya dapat dilakukan secara utuh-mendunia dan langsung.
Integrasi
proses pendedahan
intrakurikuler,
kokurikuler, dan
ekstrakurikuler
di sekolah dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melewati kolaborasi dengan komunitas-kekerabatan di luar lingkungan pendidikan.

Lima Nilai Khuluk Utama

 Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas peluasan manuver PPK; yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan. Masing-masing biji tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sebanding tak, berkembang secara dinamis dan takhlik keutuhan pribadi.

 Angka fiil
religius
mencerminkan keberimanan terhadap Allah yang Maha Esa nan diwujudkan dalam perilaku melaksanakan wangsit agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan bukan, umur rukun dan damai dengan pemeluk agama tidak. Implementasi poin karakter religius ini ditunjukkan n domestik sikap besar perut damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan ajun, teguh pendirian, percaya diri, kerja setinggi antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, perkawanan, keridaan, tidak memaksakan niat, menganakemaskan lingkungan, melindungi nan kecil dan tersepak.

 Kredit karakter
nasionalis
yakni cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan apresiasi yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan strategi bangsa, menurunkan guna bangsa dan negara di atas arti diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya nasion koteng, menjaga kekayaan budaya nasion, rela berkorban, menang, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, tegar hukum, disiplin, menghormati keberbagaian budaya, suku, dan agama.

 Adapun nilai khuluk
integritas
adalah angka yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai anak adam yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan plong angka-poin kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap kewajiban jawab sebagai penduduk negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melampaui kepadatan tindakan dan tuturan nan berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas kembali menghargai harga diri insan (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.

 Nilai karakter
mandiri
merupakan sikap dan perilaku tak bergantung pada individu lain dan mempergunakan apa tenaga, pikiran, waktu cak bagi merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri punya etos kerja yang baik, tangguh, berkekuatan juang, profesional, kaya, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang spirit.

 Nilai karakter
gotong royong
mencerminkan tindakan menghargai jiwa kerja selaras dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menangkap komunikasi dan persahabatan, memberi sambung tangan/pertolongan pada orang-orang nan membutuhkan. Diharapkan pelajar boleh menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat berkolaborasi, inklusif, berpunya berkomitmen atas keputusan bersama, ura-ura mufakat, tolong menolong, punya empati dan rasa kesetiakawanan, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

Penguatan Tri Kunci Pendidikan

 “PPK ini yakni pintu ikut cak bagi melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap pendidikan kita,” disampaikan Mendikbud kepada Tim Implementasi PPK yang terdiri dari beraneka rupa unsur pemangku pendidikan beberapa waktu yang lalu.

 Menurut Mendikbud, PPK tidak memungkirkan struktur kurikulum, sekadar memperkuat Kurikukum 2013 yang mutakadim memuat pendidikan karakter itu. Internal penerapannya, dilakukan sedikit modifikasi intrakurikuler sepatutnya bertambah memiliki muatan pendidikan karakter. Kemudian ditambahkan kegiatan dalam kokurikuler dan ekstrakurikuler. Integrasi ketiganya diharapkan dapat memaksimalkan budi pekerti dan menguatkan budi positif anak asuh ajar.

 “Prinsipnya, manajemen berbasis sekolah, habis lebih banyak melibatkan petatar pada aktivitas daripada metode ceramah, kemudian kurikulum berbasis luas atau
broad based curriculum
yang mengoptimalkan pemanfaatan sendang-sumber berlatih,” tutur Mendikbud.

 PPK menolak
sinergi tiga anak kunci pendidikan, yaitu sekolah, keluarga (orang tua), serta komunitas (masyarakat) agar dapat takhlik suatu ekosistem pendidikan. Menurut Mendikbud, selama ini ketiga seakan bepergian sendiri-sendiri, padahal jika bersinergi bisa menghasilkan sesuatu yang luar baku. Diharapkan tata berbasis sekolah semakin menguat, di mana sekolah berperan menjadi resep, dan lingkungan sekitar dapat dioptimalkan bagi menjadi sumber-sumber berlatih.

Mengembalikan Tulus Diri Guru

 “Peran guru lampau berarti dalam pendidikan dan ia harus menjadi individu yang mencerahkan, yang membuka liwa dan pikir serta spirit, memupuk angka-biji kasih sayang, nilai-nilai keteladanan, nilai-ponten perilaku, nilai-poin moralitas, nilai-ponten kebhinnekaan. Inilah sejatinya pendidikan karakter nan menjadi inti bermula pendidikan nan sesungguhnya,” disampaikan Kepala negara Joko Widodo dalam perkenalan awal Rembuk Kebangsaan Pendidikan dan Peradaban 2017 sejumlah waktu nan lalu.

 Menurut Mendikbud, pusat kesuksesan pendidikan karakter terletak pada peran guru. Seperti ajaran Gapura Hajar Dewantara,
“ing ngarso sung tuladho, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”, maka sendiri guru idealnya memiliki kedekatan dengan anak didiknya. Temperatur hendaknya dapat terpatok dengan momongan didiknya sehingga boleh mengarifi jalan anak didiknya. Tak hanya dimensi intelektualitas saja, namun juga kepribadian setiap anak didiknya.

 Tak hanya sebagai
pengajar
alat penglihatan kursus saja, namun guru makmur berperan sebagai
fasilitator
yang membantu anak tuntun mencapai alamat pembelajaran. Guru juga harus mampu dolan misal
penjaga kayu
yang membantu anak didik menyaring beraneka ragam pengaruh destruktif yang berdampak tidak baik bagi perkembangannya. Sendiri hawa juga kaya berperan sebagai
penghubung
anak ajar dengan berbagai sendang-sumber berlatih yang bukan semata-mata ada di dalam papan bawah atau sekolah. Dan misal
katalisator, guru juga congah menggali dan menumbuhkan potensi setiap anak asuh ajar.

 Saat ini, melalui revisi Statuta Pemerintah Nomor 64 Tahun 2008 menjadi PP Nomor 19 Tahun 2017, Kemendikbud mendorong persilihan abstrak para master semoga bakir melaksanakan perannya misal pendidik profesional yang tidak hanya mampu mencerdaskan anak didik, namun lagi takhlik kepribadian positif mereka kiranya menjadi generasi emas Indonesia dengan kecakapan abad ke-21.

 Berdasarkan pasal 15 PP Nomor 19 Tahun 2017, pemenuhan beban kerja guru bisa diperoleh dari kesamaan beban kerja tugas tambahan. Kegiatan lain di luar kelas yang berkaitan dengan pembelajaran juga dapat dikonversi ke jam tatap cahaya muka. “Guru bukan terlazim pula cari-cari jam tambahan mengajar di luar sekolahnya buat memenuhi beban kerja mengajar. Dia harus bertanggungjawab terhadap perkembangan siswanya.” pengenalan Mendikbud. (*)

Jakarta, 17 Juli 2017