Ajaran Astangga Yoga Sebagai Dasar Pembentukan Budhi Pekerti Luhur

Terjemahan:
Dan, yang akan mempelajari percakapan suci kami berdua, oleh dialah

Aku dipuja dengan yajna pengetahuan, itulah keyakinan-Ku’ (Bhagawagita
XVIII.70).

Lebih jauh Bhagawadgita XVII.71 menjelaskan bahwa; mereka yang
mempelajari percakapan asli kami empat mata, walaupun hanya sekedar mendengar,
ia mengaras manjapada kesukaan. Demikian dinyatakan bahwa jika umat manusia
mengaplikasikan srawanam plong kehidupannya saat ini dengan disadari maupun
tak disadari mereka akan sampai ke dunia kebahagian lahir bhatin. Kebahagiaan
di sini artinya dengan hanya mendengarkan saja tentang narasi dan ramalan suci
tentang Tuhan kita akan memperoleh perasaan nan berlainan, entah itu tenang,
lega maupun manah indah lainnya. Kekawin Ràmàyana menjelaskan sebagai
berikut;

Mwang satya ta sira mojar,
Ring anakkébi towi tan mresawàda,
Nguni-nguni yan ri para jana,
Priyahita sojar niràtiúaya.

Terjemahannya:
Dan lagi jujur syah merenjeng lidah, kepada orang perempuan sekalipun kanjeng sultan

tidak berbohong, malah kepada orang tak, tinggal menawan hati semua sabda
baginda luar lumrah (Kw. R m yana Sargah I.6).

Pendidikan Agama Hindu dan Tata susila 245

Itulah yang dimaksud dengan kepelesiran menerobos “Srawanam.” Contoh
penerapannya yang umum telah berjalan kita bisa lihat adalah sama dengan
misalnya, Dharmawacana Religiositas, Kelas-kelas di asram-asram setelah
persembahyangan dan yang lainnya.

b. Berterima kasih (mensyukhuri atas anugrah-Nya) “Vedanam”.
Dalam ajaran ini Vedanam berarti bagaimana cara kita bersyukur terhadap

keberadaan diri kita. Maksudnya di sini, kita hidup di dunia ini ialah umpama
ciptaan Sang pencipta yang lahir karena karma nan kita buat terdahulu. Umat Hindu
mutakadim meyakini hal tersebut. Jadi, bagaimanapun keadaan kita dilahirkan di
bumi ini, kita harus tegar bersyukur dan bhakti kepada-Nya. Kita anggap apa
saja yang kita miliki, kita memiliki, nikmati dan bukan-lain, itu semua ialah atas
karunianya. Sehingga jika semua umat mengingat-ingat hal ini yaitu ajaran Vedanam,
niscaya kehidupannya yang dijalani akan terasa indah dan tanpa beban. Kekawin
R m yana menjelaskan bagaikan berikut:

Ndan kita pi sarabhàran ràkûang sakala jagat,
Ksatriyawinaya yékà ràkûan katuturakén,
úàsana ya gégén tang úàstra d-wulati lanà,
Sojaring aji lengkung langit tén yékà mawa kasukan.

Terjemahannya:
Engkau, kakanda serahi menjaga seluruh Negara, kebijaksanaan sebagai

seorang kosen hendaknya pegang taat, ingatkan! Peraturan, hukum harus

246 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

diikuti ramalan kitab-kitab agama diperhatikan selalu, segala apa nan diajarkan oleh
ilmu pengetahuan cak agar diikuti karena semuanya itu membawa kebahagiaan
(Kw. R m yana Sargah III.53).

Sadar kita terlahir menjadi manusia adalah terdahulu, yang artinya kita dapat
memperbaiki dan memakamkan diri kita koteng dari persebaran kelahiran
kembali/punarbhawa.
c. Menembangkan, Melafalkan, Menyanyikan Gita/Kidung

“Kirtanam”.

Rencana 4.5 Geguntangan
Mata air ; Dok. Pribadi (11-7-2013)

Kirtanam, adalah bhakti dengan perkembangan menyanyikan Gita (nyayian maupun
kidung suci memuja dan memuji logo suci dan kemuliaan Tuhan), bhakti ini
lagi di arahkan menjadi dua arah gerak vertikal ataupun jihat gerak horizontal.
Arah gerak vertical melakukan bhakti kirtanam bikin menumbuhkan dan

Pendidikan Agama Hindu dan Fiil Pekerti 247

membangkitkan nilai-nilai spiritual yang ada dalam hayat setiap turunan
manusia, dengan bangkitnya spiritual dalam setiap turunan akan boleh meredam
melakukan pengendalian diri dengan baik, umur lebih tenang, tenteram dan
tercerahi, sistuasi dan kondisi ini akan bisa membantu keluar bermula kompleksitas
mental dan kegelapan semangat. Sehingga dapat dijadikan modal utama bakal
menciptakan kesalehan dan keharmonisan individual yang berbaik dan bahagia.

Demikianlah bahagia perasaan hati Úri R ma menikmati ketampanan
lingkungan gunung Swela yang ditumbuhi oleh berbagai macam kembang dan
celaan kidung/gambelan nan merdu mengantarkan pendengarnya semakin dekat
dengan para dewata.

Arah gerak mengufuk publik cucu adam berusaha selalu untuk
menyanyikan bhakti kirtanam yang dapat menyejukan perasaan hati turunan lain
dan lingkungannya. Kepada sesama atau anggota masyarakat nan lainnya tidak
hanya melantunkan alias melontarkan sangkaan dan cemohan tetapi selalu berlatih
untuk melatih diri untuk memberikan saran, solusi yang terbaik bagi kepentingan
bersama dalam keberagamaan, kehidupan sehari-hari tentang kemanusiaan,
solidaritas, persatuan dan perdamaian, serta memberikan persaksian dan
penghargaan atau penghargaan akan kesuksesan dan performa yang telah dicapai
terhadap sesama atau anggota masyarakat manusia yang tak. Iklim tukar bhakti
Kirthanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang penanaman
ponten-nilai bhakti Kirthanam diawali di lingkungan batih perumpamaan modal bawah
guna membuat kesalehan dan keharmonisan sosial kerumahtanggaan kehidupan sosial
kemasyarakatannya.

248 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

Jika kita artikan alas kata Kirtanam itu adalah “mendendangkan/melantunkan”.
Ini maksudnya, menembang/melantunkan kidung zakiah yang sarat dengan
segel-jenama Allah. Di jaman saat ini ini jarang kader remaja khususnya kader
muda Hindu yang mau melaksanakan ajaran kedua dari Nawa Wida Bakti ini,
jangankan menyuarakan/mengidungkan, mendengarkan saja pun para muda-mudi
waktu ini pelik mau untuk mengikutinya.

d. Selalu Mengingat Nama Yang mahakuasa “Smaranam”
Smaranam, adalah bhakti dengan perkembangan mengingat. Sisi gerak vertikal

mulai sejak bhakti ini adalah dalam menjalani dan menata semangat ini masyarakat
orang sepatutnya buruk perut melatih diri untuk mengingat, mengingat logo-nama
suci Halikuljabbar dengan segala Kemahakuasaan-Nya, dan selalu untuk melatih diri
untuk mengingat adapun intruksi dan pesan maupun butir-butir dari sabda suci Almalik
kepada umat manusia yang dapat dijadikan sebagai pedoman atau karier
hidup dalam hidup di mayapada dan di alam sunya (akhirat) besok.

Sebelah gerak secara horizontal berpokok bhakti ini apabila dikaitkan dengan
isu-isu pluralisme, manusiawi, perdamaian, demokrasi dan gender maka
seyogiannya masyarakat manusia selalu berusaha bakal memahfuzkan lagi
tragedi dan penderitaan kemanusiaan, petaka dan bencana alam, dan lain-lain,
yang diakibatkan oleh konflik-konflik atau pertikaian, kesewenang-wenangan,
diskriminasi, dan tindakan kekerasan yang lainnya antara individu nan satu
dengan insan yang lain maupun antara keramaian yang suatu dengan keramaian
nan tidak yang bukan atau kurang memaklumi dan menghargai indahnya sebuah
kebhinekaan dan pluralisme.

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 249

Harapannya dengan memahfuzkan tragedi, penderitaan, bencana alam dan godaan
nan diakibatkan itu umum manusia cinta mewartakan dan mengingatnya
seumpama bekal cak bagi mengevaluasi dan merefleksi diri akan indahnya
kebhinekaan dan pluralisme apabila masyarakat manusia mewah mengemasnya
kerumahtanggaan satu bingkai yaitu bingkai kebersamaan, persatuan dan kesejahteraan. Iklim
saling bhakti Smaranam ini adv amat dibutuhkan maka itu masyarakat manusia yang
ditanamkan diawali di lingkungan keluarga sehingga tumbuh budi Ketuhanan
dalam setiap anggota keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan
dan keakuran sosial intern vitalitas sosial kemasyarakatannya. Kekawin
R m yana menjelaskan sebagai berikut:

Hàh natha t hér kami pinaka hulun,
Tonén tàtah pranata mami kabéh,
Làwam pamrih mami ya wulatana,
Panglingganté lever mami malilang.

Terjemahannya:
Oh, Sri Sunan! Nantikanlah kami abdi Sri Baginda, Sri Baginda silakan

lihat sujud kami, pula pula lihatlah ketekunan usaha kami, sahaja Sri Yamtuan
yang kami semayamkan kerumahtanggaan relung hati nan tulus (Kw. R m yana Sargah
XXI.114).

Demikian Si Sugriwa sebagai hamba Úri R ma berikrar dengan tahir
untuk menghabisi musuh-musuhnya yang gegares membuat rayuan dalam

250 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

mewujudkan kesejahteraan dan kepelesiran hidup ini. Sang Sugriwa selalu
mengingat janjinya itu sampai kemudian hari kepada jungjungannya. Sang Sugriwa yakin
hidupnya minus makna bila tidak dapat menghamba atau sebagai abdi setia Úri
R ma.

Smaranam artinya “menghafaz nama Yang mahakuasa”. Kalau kita kaji secara kian
jelasnya Smaranam ini ialah visiun ikhlas yang perlu bikin umat beragama
yang meyakini akan adanya halikuljabbar “Tuhan”, di mana dalam ajaran ini
kita di harapkan hendaknya biasa terhubung, dekat dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa,
dan menghafaz nama-Nya, menghafaz mahamulia-Nya, dan kemulian-Nya. Ini
bisa kita aplikasikan intern sukma sehari-hari adalah dengan cara berbhakti
kepada-Nya. Banyak jalan bagi melaksanakan bhakti kita kepada Sang pencipta,
komplet kecil saja saja dengan mengingat-Nya setiap saat, itu sudah permintaan
berpunca bhakti kita kehadapan-Nya.

e. Menyembah, Sujud, Hormat di Kaki Lotus “Pada sevanam”
Pada sevanam artinya “menyervis”. Dalam artian bagaimana cara kita

melayani mahkluk enggak. Puas sevanam meyakini bahwa mahkluk bukan nan ada
ini adalah sebagai perwujudan Sang pencipta. Misalkan tetapi jika kita dapat melayani
orang tak baik itu orang yang pula sakit, tertimpa murka alam, dan orang yang lagi
membutuhkan sebuah sambung tangan, itu sudah disebut dengan Pada sevanam.
Kerumahtanggaan spirit ini masih ada orang yang belum dapat dan belum dapat
mengaplikasikan tajali Nawa Wida Bakti yang di sebut dengan Pada sevanam
ini. Kekawin R m yana menjelaskan sebagai berikut:

Pendidikan Agama Hindu dan Kesopansantunan 251

Nà ling si wànarapati sumahur,
Wét ni satyé hati aren malilang,
Tàtan linggàr ikanang angén angén,
Tan tréûóéng jìwita satiru-tirun.

Terjemahannya:
Demikian jawaban Sang Sugriwa, didorong maka itu perasaan nan tulus setia,

imannya sangat kukuh lain berubah, tidak sayang kepada semangat, pas dipakai
cermin (Kw. R m yana Sargah XXI.121).

Lega sevanam, merupakan bhakti dengan jalan menyembah, sujud, hormat di
Suku Padma. Arah gerak vertikal dalam bhakti ini masyarakat insan dalam
menjalani dan menata kehidupannya sebaiknya cerbak sungkem dan hormat kepada
Tuhan, khidmat dan sungkem terhadap intruksi dan pesan/mualamat dari hukum Sang pencipta
(rtam). Arah gerak horizontal masyarakat manusia untuk selalu berlatih dan
menumbuhkan kesadaran bakal memuliakan para pahlawan dan pendahulunya,
pemerintah dan ordinansi perundang-undangan nan telah dijadikan dan
disepakati misal sumber syariat, para pembesar, para ayah bunda dan nan
tidak kalah penting lagi hormat/sujud kepada tanah tumpah. Dengan adanya
kognisi untuk ganti menghormati inilah kita akan dapat usia berdampingan
intern kebhinekaan dan pluralisme, sehingga terwujud kesetiakawanan, persatuan,
kesalehan dan kemesraan sosial. Iklim saling bhakti Plong sevanam ini sangat
dibutuhkan oleh masyarakat kita sehingga sejak dini semestinya ditanamkan
untuk menumbuhkan fiil Ketuhanan di lingkungan keluarga seumpama modal

252 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial internal kehidupan
sosial kemasyarakatannya.

f. Bersekutu dengan Tuhan “Sakhyanam”

Sakhyanam, adalah tahapan atau bagian ke-8 internal wangsit Nawa

Widha Bhakti yang artinya itu adalah,

memperlakukan pujaannya/Tuhan bagaikan

sahabat dan anak bini. Di sini jika kita cari

intinya sekali bahwa jika kita menganggap

Tuhan itu yaitu teman maupun keluarga, karuan

rasa hormat dan bhakti yang kita miliki

menjadi bertambah besar. Ini mengoptimalkan rasa

senang dan rasa memiliki yang terlampau samudra

terhadap-Nya. Dengan rasa senang dan rasa Gambar : 4.6 Mengatur Lalulintas
memiliki Almalik, kita akan terus menerus Sumber : http://unikahidha.
setiap saat akan memuja keagungan dan ub.ac.id/2012/07/11/

kemurahan sira.

Kita akan merasa lebih dempang dengan-Nya, jadi jika situasi ini kita aplikasikan,

Allah itu akan disadari selalu ada didalam kegiatan keseharian kita. Penerapan

semua jalan Nawa Wida Bhakti ini bisa menjadi proses penyatuan maupun proses

kembalinya kita ke asal semula yaitu Tuhan.

Sakhyanam, adalah bhakti dengan jalan kasih persahabatan, mentaati

syariat dan enggak merusak sistim syariat. Baik arah gerak vertikal dan melintang,

baik dalam kehidupan matrial dan spiritual (jasmani dan rohani) masyarakat

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 253

manusia semoga camar berusaha melatih diri untuk tidak negatif sistem hukum,
dan cerbak dijalan pemberian persahabatan. Iklim saling bhakti Sukhanyam ini sangat
dibutuhkan makanya umum kita untuk mengintensifkan kepribadian Ketuhanan
menginjak dari lingkungan keluarga dan lebih lanjut dapat dijadikan misal matra
dan sebagai modal pangkal guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial
dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.

g. Berpasrah Diri Memuja Para Bhatara-Bhatari dan Para Dewa
ibarat Penampakan Tuhan “Dahsyam”
Berpasrah diri di hadapan para bhatara-bhatari sebagai penaung dan para

dewa sebagai sinar suci Yang mahakuasa untuk memohon keselamatan dan sinarnya di
setiap saat adalah sifat dan sikap yang sangat baik. Dahsyam, adalah bhakti
dengan kronologi bertuankan, pelayanan, dan cak acap pemberian cangap dengan tulus kalis
terhadap Yang mahakuasa.

Arah gerak vertikal berpunca bahkti ini masyarakat manusia dalam menjalani dan
menata kehidupannya, lakukan cinta melatih diri dan secara ceria ikhlas cak bagi
menghaturkan mengabdikan, pelayanan kepada Almalik, karena namun kepada
Beliaulah umat manusia dan seluruh sekalian pataka beserta isinya berpasrah diri
memohon segalanya apa yang diharapkan untuk hingga ke kebahagian di dunia
dan di akhirat.

Jihat gerak horizontal masyarakat sosok kepada sesama dan mileu
hidupnya untuk selalu mengabdi, menerimakan peladenan dan cinta kasih sayang
dengan tulus polos untuk kepentingan bersama mengenai kemanusiaan, kelestarian
lingkungan spirit dan kesejahteraan di tengah-perdua spirit masyarakat,

254 Papan bawah XI SMA/SMK Kurikulum“13

berbangsa dan bernegara. Iklim saling bhakti Dasyam ini sangat dibutuhkan maka itu
mahajana manusia baik di lingkungan keluarga kian-bertambah di kehidupan sosial
kemasyarakatannya. Kekawin R m yana menjelaskan ibarat berikut:

Hé Madhus danàmriha bhaþàra haywa malupa,
Wiûóu awakta jàti puruûottamottama kita,
Binatang ya satya nitya ri [y] awakta tan dadi hilang,
Moha karih hanà tuwi rajah tamah pwa kawaúa.

Terjemahannya:
Oh, Betara Wisnu sadarlah Engkau jangan lupa! Kamu yaitu perwujudan

Dewa Wisnu manifestasi Dewa Purusottama, Dharma dan kesetiaan itu awet
yang suka-suka pada jasmani-Mu lain dapat hilang, biar boleh jadi terserah pikiran
yang khawatir demikian sekali lagi sifat angkara murka semua mutakadim dikuasai (Kw.
R m yana Sargah XXI.126).

Dahsyam artinya menganggap pujaannya sebagai peziarah, bos dan kita
sebagai pelayan. Dahsyam memercayai bahwa tamu yang hadir di hadapannya maupun
yang ada ini adalah sebagai perwujudan Tuhan. Di n domestik menempuh kehidupan
yang tentunya sangat utama ini, jika kita tidak menyadari “Dahsyam”, sepertinya
rasa bhakti yang kita miliki terhadap-Nya itu sangat mungil dan hanya seberapa
saja. Mestinya jika kita yakin bahwa kita adalah ciptaan-Nya, kita juga harus
dapat menyadari Tuhan itulah yang harus kita layani dan sembah. Peladenan polos
iklas dengan perasaan tunduk hati kepada Halikuljabbar pahalanya sangat besar. Berangkat
saat ini kita harus berpengharapan bahwa apapun yang kita bikin dan apapun yang

Pendidikan Agama Hindu dan Kepatutan 255

kita miliki itu semua adalah atas kuasa Tuhan itu sendiri. Makara, dengan jalan
bhakti terhadap-Nya kita bisa melakukan Pelayanan nan berperangai rohani. Seperti
misalnya transendental awam kita lihat pada asram-asram pemujaan Tuhan itu sendiri
dalam wujud insanan yang diyakini sebagai personalitas termulia Tuhan,
yang di dalamnya terdapat makhluk-turunan yang sedang melakukan Peladenan dan
mempelajari Kitab Sucinya. Takdirnya bisa kita telusuri Peladenan bhaktinya dulu
tinggi terhadap Reca, Guru Kerohanian, Penyembah Halikuljabbar dan lain-lain. Itulah
perlu kita tingkatkan pada periode usia di Zaman Kaliyuga ini.

h. Memuja Tuhan dengan Sarana Patung “Arcanam”.
Arcanam, merupakan bhakti dengan jalan penghormatan terhadap simbol-simbol

alias nyasa Tuhan seperti mewujudkan Pura, Patung, Pratima, Pelinggih, dan tidak-tidak,
bhakti penstabilan iman dan taqwa, menghaturkan dan pemberian persembahan
terhadap Tuhan.

Arah gerak vertikal masyarakat basyar privat menjalani dan menata
kehidupannya untuk selalu menghaturkan dan menunjukan rasa sembah, sungkem,
gelojoh rahmat sayang, pelayanan, pengabdian kepada Halikuljabbar dengan iman dan
taqwa lestari dan teguh dengan jalan menghaturkan sebuah persembahan sebagai
bentuk perkataan terima kasih atas tuntunan, bimbingan, perlindungan, guna,
kesehatan dan setiap anugrah yang diberikan Yang mahakuasa kepada seluruh sekalian
liwa.

Arah gerak mendatar publik manusia terutama kepada sesama dan
lingkungannya dalam kehidupannya untuk cinta belajar untuk memberikan
pelayanan, pengabdian, cinta anugerah burung laut, penguatan dan hadiah

256 Kelas bawah XI SMA/SMK Kurikulum“13

penghargaan kepada orang lain. Teoretis, Pemerintah, pembesar dan atau
anggota publik hendaknya memberikan pengabdian, pelayanan, cinta hidayah
sayang dan penghargaan kepada pemerintah dan pemimpinnya demikian pula
sebaliknya kepada dan maka itu rakyatnya nan telah menunjukan dedikasinya
tinggi terhadap barang apa aspek nasib demi kemajuan dan perbaikan situasi dan
kondisi bersama dan sekaligus alam adapun kemanusiaan, kelestarian lingkungan
dan perdamaian. Karena pengarah yang baik menghargai rakyatnya, demikian
lagi sebaliknya. Iklim saling bhakti Arcanam ini lampau dibutuhkan oleh
masyarakat makhluk di lingkungan keluarga dan di kehidupan mahajana umum.
Hal ini akan boleh mengoptimalkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan
keluarga dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra dan sebagai modal
asal guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam nyawa
sosial kemasyarakatannya. Tentang perwujudan Tuhan, kekawin R m yana
menjelaskan andai berikut:

Gelang-gelang nakûatra kabéh kitékana wulan ring [ng] aúwa Uccaiúrawa,
Ring sénàpati Sang Kumara rikanang widyà kitàdhyàtmikà,
Ring gandharwwa kitàta Citraratha len Prahlàda ring détyawàn,
Ring strì Úri Úmréti Kìrtti Úànti Dhreti Dhih Médhà Kûamà Wàk kita.

Terjemahannya:
Sreg keramaian fauna, engkau berwujud wulan; plong rumpun kuda, ia

Ucesrawa, pada anak adam yang menjadi panglima perang, engkau merupakan Dewa
Kumara, sreg pengetahuan batin, engkau berwujud pengetahuan kerohanian

Pendidikan Agama Hindu dan Kepribadian Pekerti 257

nan strata, pada keramaian gandarwa, engkau faktual Citrarata dan berwujud
Si Prahelada pada kelompok pemimpin detia, Dewi Sri plong kerubungan wanita,
pada Smerti berwujud kemasyuran, privat hal dharma positif ketenangan
pikiran, dalam pikiran berwujud kebijaksanaan dan engkau substansial pemaaf
agung (Kw. R m yana Sargah XXI.140).

Selanjutnya akan halnya perwujudan Úri R ma, kekawin R m yana XXI. 130
s.d. 139, menjelaskan sebagai berikut: Sosok pribadi Úri R ma; Pada segala
yang menyinar yaitu rawi yang selalu berderang, pada keempat kelompok
Veda adalah Ksama Veda, lega gerombolan Dewa ialah Dewa Cingur, lega
keberagaman kesenangan merupakan adalah perhatian yang utama, pada kelompok Rudra
adalah Dewa Sangkara yang menciptakan kesenangan. Pada penjelmaan Yaksa
dan Raksasa adalah Danawa, pada penjelmaan ibarat manusia dalam situasi
mewujudkan jasa merupakan maharaja, dalam peristiwa ketinggian yaitu Bukit Sumeru,
n domestik hal kekokohan adalah Gunung Himawan, pada hal kedalaman yakni
raksasa, dan dalam hal kayu adalah kayu Fisik. Puas golongan ternak yakni
Lembu (yang mengabulkan segala kehendak), pada gerombolan yang terbang
adalah Garuda, intern rumpun dabat yaitu Raja rimba, pada kerubungan ikan mungil
adalah Udang, pada kelompok iwak besar merupakan Dewa Baruna (rajanya iwak).
Pada semua ular besar adalah Anantabhoga (yang terkenal), pada rumpun ular belang yakni
Ular besar Basuki (yang masyur), pada sungai yang besar, bersih, dan suci yakni
kali besar Gangga, dalam kecepatan yang sayang bergerak adalah Kilangangin kincir. Pada semua
tumbuh-tanaman merupakan periode hujan, pada kedua belas musim adalah bulan
November, pada siklus enam waktu yaitu wulan Maret (sahabat Betara Asmara),

258 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

privat menciptakan mayapada adalah Dewa Brahma (nan menciptakannya). Pada
gerombolan roh adalah Aryama umur terdepan, n domestik lima jenis yadnya, yaitu japa
146 harma (yang silam penting), sreg bagian puja 146 harma adalah UNG Kara,
pada aksara adalah A Kara, plong keempat kerumunan asrama adalah Grahasta
Tumpangan. Pada dharma terdahulu yang bermanfaat tidak adv minim amal, demikian
perwujudan-MU, merupakan usaha nan benar yang menyebabkan memperoleh
dana demikianlah Engkau, Karma nan mematuhi sastra agama dan kesejahteraan
marcapada demekianlah Engkau, demikian pula dalam segala apa nan mematuhi
kebenaran perwujudan-Mu. Privat hal kunci adalah “Mona” (membisu), plong
orang yang suka bertelingkah adalah yaitu sumur perdebatan, pada orang
yang cerdik internal hal upaya adalah merupakan darmabakti perbuatan baik, pada terang
yang penting yaitu konkret sinar, bagi orang yang menang atas medan perang
adalah perwujudan kemenangan, pada bani adam yang berisi adalah kesaktian, buat
orang yang bijaksana ialah merupakan sunrber pikiran. Plong pendeta yang
utama adalah Bagawan Jamak, pada pujangga besar ialah Bagawan Sukra, pada
keramaian Sida Resi adalah Resi Kapila, pada gerombolan Dewa Tanda terima yakni Resi
Narada (yang doyan menonton perang), sreg Brahma Resi ialah Resi Bregu
(yang bertelur segala apa ucapannya). Privat kepandaian berupaya adalah Bagawan
Wrehaspati (yang masyur), dalam keadaan memongahi hukuman nan runyam ialah
Dewa Yama, dalam segala senjata adalah berwujud senjata Bajera utama (yang
tidak ada bandingannya), dalam hal kemahiran menggunakan senjata adalah
nyata Ràma (yang gagah perkasa tidak ada yang menimpali) (Tim, 1987 :
401-403).

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 259

Arcanam ini artinya “bhakti dengan memuja Arca”. Maksudnya di sini yakni
bhakti dengan cara memuja pratima sebagai media penghubung dan penghayatan
kepada Yang mahakuasa. Kita ketahui bersama bahwa Tuhan itu bersifat mujarad/nirguna,
susah kita menebak dan menghayalkan perwujudan Yang mahakuasa/Ida Sang Hyang
Widhi karena sepantasnya Almalik/Ida Si Hyang Widhi itu tak berwujud. Kaprikornus
kerjakan menguatkan keyakinan kita ke hadapannya, kita diberi jalan memuja-Nya
dengan membentuk ia ataupun manifestasi engkau dengan Arca. Dengan
jalan ini, jika rasa bhakti yang kita miliki bakal-Nya sangatlah lautan tidak
dipungkiri lagi kita menghidangkan dan menyembah Tuhan melalui perwujudan suci
yang disebut dengan Reca akan menjadi lebih berupa dan memberikan pikiran
rohani yang sangat dalam.

i. Berpasrah Total kepada Halikuljabbar “Sevanam atau Atmanividanam”
Sevanam atau Atmanividanam yaitu bhakti dengan urut-urutan berlindung dan

penyerahan diri secara sejati ikhlas kepada Allah. Arah gerak vertikal dan
mengufuk mulai sejak bhakti ini masyarakat kita selalu berpasrah diri dengan kesadaran
dan keimanan yang mantap bakal selalu berjalan di jalan Tuhan, bernaung
dan penyerahan diri secara tulus kudrati kepada Tuhan, sesama dan mileu
hidupnya ataupun kepada ibu pertiwi, baik privat nyawa keduniaan (nyata)
maupun kehidupan sunya (niskala). Iklim ganti bhakti Atmanivedanam ini
terlampau dibutuhkan oleh masyarakat makhluk baik dalam nyawa sosial dan
kehidupan spiritualnya. Kekawin R m yana mengklarifikasi misal berikut:

260 Inferior XI SMA/SMK Kurikulum“13

Tuûþa manah nira Sang Trijaþasih,
Sémbahakén démakan ri naréndra,
Harûa mulat mawékas nrépa putri,
Lwir nira ng ni rikang jala-jala Léòkà.

Terjemahannya:
Si Trijata lampau gembira dengan hati tulus bhakti, memufakati anugrah

baginda raja, Peri Úità senang memandangnya lalu berpesan, perihal sira
ketika tinggal di kastil Lengka dahulu (Kw. R m yana Sargah XXVI.39).

Ndah Trijaþàri nihan [falak] ujarang kwa,
Tàt alupà ri laranta ta ng ni,
Kàla nikàt para cincin talagàr m,
Ring watu ring wulakan kita tanghyang.

Terjemahannya:
“Duhai, adinda Trijata! Kini ada yang kusampaikan, aku tidak akan

melupakan penderitaanmu pada tahun silam detik adinda menuju telaga yang
asri di atas batu, di siring sumber mata air itu adinda memuja Hyang Widhi (Kw.
R m yana Sargah XXVI.40).

Yan hanékana kunéng ta unéngta,
Ring [ng] Asoka ta kitan doyan citta,
Tulya tàku ya hanà hidépénta,
Satya nàmbéka ta nitya kitàntén.

Pendidikan Agama Hindu dan Moral 261

Terjemahannya:
Jika plong satu saat adinda merasa rindu, di taman Asokalah tempatmu untuk

menghibur diri, bayangkanlah olehmu seakan-akan aku ada di sana, hendaklah
pikiranmu selalau taat dan kukuh (Kw. R m yana Sargah XXVI.46).

Demikianlah Trijata berserah diri secara total kepada junjungannya
internal pengabdian hidupnya untuk menciptakan menjadikan spirit sejahtera dan bahagia
berdasarkan ajaran bhakti sejati sesuai ajaran atmanividanam.

Atmanividanam yang artinya bhakti dengan kepasrahan total kepada Tuhan.
Hierarki ini adalah tahapan terakhir dalam ajaran jati Nawa Wida Bhakti. N domestik
pertualangan roh manusia pada zaman Kali Yuga ini, kronologi Atmanividanam
yang dianggap elusif buat diaplikasikan karena kuatnya relasi material yang
merintih dirinya. Mulailah kita melakukan pelayanan dan mempersembahkan
apapun yang kita miliki, kita cak dapat, nikmati dan tak-lain itu hanya cak bagi-Nya.
Karena cuma beliaulah yang puas akhirnya sebagai penikmat segalanya. Baik
itu adalah kepelesiran dan penderitaan kita harus dapat mempersembahkannya
kerjakan-Nya.

Demikian ajaran Nawa widha bhakti sebagai bentuk ajaran bhakti tulen
privat roh umat sedharma bisa mengantarkan untuk mewujudkan
kesejahteraan dan kebahagiaan privat hidup ini. Berikut ini adalah paparan
ajaran nawa widha bhakti sebagai wujud bhakti asli dalam bentuk ceritra;

262 Papan bawah XI SMA/SMK Kurikulum“13

MISI ANGADA
Úri R ma telah siap bakal memulai perang. Namun kamu tegar mengemudiankan
untuk mengikuti aturan perang dengan eklektik” Seorang utusan harus dikirim
guna mengusahakan perdamaian bagi terakhir kalinya dan jika boleh jadi,
untuk menghindari terjadinya perang. Maka sesudah memutuskan dengan teman-
temannya, Úri R ma memutuskan lakukan mengirim Angada pada Ràvana”. Ràma
kemudian memanggil pangeran muda itu dan berujar. “Nak, kau yaitu pemberani
dan 148har mentaati perintahku, dan memunculkan pesanku dengan bijaksana.
Jadi, aku memutuskan bakal mengirimmu plong Ràvana. Pergilah ke dalam
Kota dan menghadap Ràvana. Sampaikan pesan ini padanya. “Kemashyuranmu
akan segera sirna bersama kerajaanmu. Kematianmu segera mengundang karena
kurangnya kebijaksanaanmu. Kau seorang penyambar. Dosa-dosanya pada para åûi,
para batara dan semua hamba Sang pencipta hasilnya akan mendapat buahnya”. Kau
mendapat pahala dari semua perbuatanmu. Tidak bisa dihindari lagi bahwa kau
harus menderita karena dosa-dosamu”. Aku datang untuk menghukummu. Karena
cempala mencuri istriku. Anugrah yang kau dapatkan berasal Brahmà, sekarang
tidak suka-suka gunanya juga. Kesombonganmu lekas ditundukkan. Kau tampaknya
habis berani detik memisahkan aku dengan istriku dan menculiknya saat aku
lain ada di palagan. Sekarang waktunya kau menunjukkan kekuatanmu padaku
dan seyogiannya aku bisa melihat keberanianmu berhadapan denganku di medan perang.
“Akan sahaja jika kau cak hendak mengembalikan Úità padaku dan menanyakan
maaf padaku, maka aku bersedia mengakhiri penampikan ini. Ataupun jikalau
bukan, maka kau harus bertarung melawanku. Aku jamin kau, bahwa bumi ini
jemah bersih dari bangsa raksasa sepertimu, oleh tajamnya panah-panahku dan

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 263

kemarahanku. Vibhisana adalah orang baik dan ia sekali lagi berlindung padaku. Aku
nanti menjadikannya raja Laòkà setelah membunuhmu. Kau sungguh bernasib
kurang asian karena di antara para menterimu tidak ada yang memberikan
ular-ular yang etis, maka jadinya kau tidak dapat berumur panjang, karena kau
dikejar oleh akibat perbuatan dosamu. Bersiaplah untuk kutat. Dan takdirnya kau
mendapatkan mortalitas di tanganku, maka semua dosamu akan datang dibersihkan dan
kau bisa mendapatkan sebuah panggung di kedewaan. Pandanglah Kota Laòkàmu lakukan
nan terakhir kalinya dan datanglah ke medan perang? Angada, sampaikanlah
pesanku ini.”

Angada segera nocat ke angkasa, dan segera saja Angada tiba di
ruangan besar di mana Ràvana bersama para menterinya berkumpul. Angada
dengan gelang emas yang berkilau dalam nur mentari kemudian pergi
kehadapan Ràvana dan Angada terpandang seperti nyala-api. Kemudian Angada
memopulerkan diri dan berkata, “Aku adalah utusan Úri R ma. Aku adalah
putra Valì, namaku Angada. Aku membawa sebuah wanti-wanti dari Úri R ma” Angada
kemudian mengulangi wanti-wanti Úri R ma dan menunggu Ràvana berbicara.

Mendengar prolog-kata utusan itu, omelan Ràvana start melimpah. Ràvana
memerintahkan para menterinya, “Sambar kera nan edan ini. Siksa dia atas
kelancangannya”. Catur makhluk lautan kemudian menyirat Angada nan
sengaja membiarkan dirinya ditangkap. Ketika mereka mengikatnya, maka ia lagi
melompat ke udara dengan mengangkut keempat osean itu dan Angada mendarat
di atas teras istananya. Berpokok atas teras Angada kemudian melemparkan mereka
dan menyibuk keempat raksasa itu jatuh di ubin. Ia kemudian menghancukan

264 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

menara kastil hingga berkeping-keping dan dengan teriakan kemenangan ia
lagi ke aribaan Úri R ma.

“Ràvana yang melihat situasi itu terjadi amat marah atas semua nan sudah lalu
dilakukan oleh para besar itu namun samudra yang bersangkutan tidak melakukan
segala-barang apa. Sementara itu di palagan lain, Úri R ma merasa sudah lalu memasrahkan semua
kesempatan pada Ràvana untuk berdamai namun karena Ràvana tak cak hendak
menerima kata-katanya, maka perangpun tidak dihindari. Perang pasti harus
terjadi.

Di panggung lain, para raksasa yang menjaga portal berangkat melihat pasukan
vanara telah mendekat. Kebanyakan dari mereka mulai keajaiban dan ada yang
sedikit resah. Per siap lakukan memulai peperangan. Para vanara
khususnya, ki berbahagia dan para samudra di lain pihak merasa tak panjang usus.”
Mereka sama-sebabat berkepastian diri dan yakin dapat mengalahkan musuhnya.
Kemudian datanglah berita plong Ràvana adapun perkernbangan lebih lanjut
yaitu bahwa Úri R ma telah memulai barisan pasukannya merentang keempat
pintu. Ràvana kemudian tergesa-gesa cak bagi memastikan keamanan Kotanya
dan dengan amarah yang sudah meluap, maka Ràvana kemudian menuju ke
atas teras istananya. Mulai sejak itu Ràvana memandangi lautan kunyuk yang sedang
mengelilingi kotanya. Cak bagi beberapa saat Ràvana merasa khawatir bagaimana
caranya mendamparkan angkatan itu. Namun aturan angkuhnya menguasai
pikirannya dan Ravana memandang tekor Úri R ma dan bala yang sudah lalu
dibawanya.

Sedangakan Ràma koteng merasa terlampau senang karena Ràvana mutakadim
mengemudiankan untuk berperang. Úri R ma juga menyibuk Laòkà yang dipenuhi oleh

Pendidikan Agama Hindu dan Karakter Pekerti 265

para tentara raksasa yang ditugaskan lakukan menjaga Kotanya. Pada saat itulah
pikiran Úri R ma bertele-tele plong Sìtà dan iapun nanang. “Apakah di sana ada
kekasihku Úità yang dipenjarakan. Sita sudah tersia-siakan oleh kesedihannya dan
duduk di petak lapang. Engkau sedang meratapi kesedihannya atas perpisahan dengan
diriku.” Dengan hanya memikirkan Úità saja sudah lalu patut untuk membangkitkan
arwah perangnya. Úri R ma kemudian mewajibkan pasukannya bagi
memulai parusakan Laòkà. Dan sedemikian itu mendengar perintah itu, para vanara
berpandangan dan menginjak berkejaran berorientasi bab dan memulai peperangan.
Suara teriakan mereka mendengung ke mana-mana dan lalu menakutkan bagi
mereka nan bernyali kecil. Para venara telah mempersenjatai diri mereka
dengan bencana-batu segara dan batang pohon yang telah dicabut berusul pegunungan
terdekat (Sanjaya, I Gede. 2004: 719-722).

-selesai-

Menirukan alur ceritera di atas, maka boleh dipahami bahwa dengan
ajaran “bhakti nirmala” mengantarkan Tuanku Angada boleh melaksanakan
kewajibannya dengan baik. Svami Satya Narayana mengatakan: Ketiga jalan
tersebut (bhakti, karma, jnana) bagaikan sakarosa bujukan; gambar, berat, dan penampilan
gula tersebut sangatlah berbeda, namun memiliki kesatuan nan utuh dan
sulit untuk dibeda-bedakan. Kalau Jnanam itu tidak diwujudkan n domestik kerangka
Bhakti, maka semata-mata tinggal didalam hati belaka, Karma tanpa dilandasi dengan
Jnanam, maka karma akan ngawur tanpa arah, Jnanam dan karma tanpa bakti,
akan bisa menimbulkan arogansi dan tandus, Bhakti tanpa Jnanam dan karma
kembali akan tidak menentu. Karena itu Bhakti sejati kepada Tuhan merupakan

266 Papan bawah XI SMA/SMK Kurikulum“13

ujung dari Jnanam dan karma. Sangat diharapkan penerapan ajaran bhakti sejati
yang tersurat dan tersirat dalam pustaka R m yana dapat dijadikan landasan
pembentukan khuluk pekerti luhur dalam perilaku keseharian ini. Sebelumnya
kerjakanlah soal-soal uji kompetensi berikut dengan baik!

Uji Kompetensi:
1. Setelah membaca teks tentang buram penerapan ajaran bhakti kudus
dalam vitalitas beragama Hindu, apakah yang anda ketahui tentang
agama Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah!
2. Buatlah ringkasan yang bersambung dengan bentuk penerapan
tanzil bhakti lugu dalam semangat beragama Hindu, berusul beraneka rupa
sendang sarana pendidikan dan sosial yang anda ketahui! Tuliskan
dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk berusul bapak/ibu guru nan
mengajar di kelas!
3. Apakah nan mutakadim Kamu ketahui terkait dengan bentuk penerapan
ajaran bhakti sejati kerumahtanggaan vitalitas sehari-hari? Jelaskanlah!
4. Bagaimana cara Anda buat dapat mengetahui bentuk penerapan
ajaran bhakti sejati dalam kehidupan beragama Hindu? Jelaskan dan
tuliskanlah pengalamannya!
5. Manfaat apakah nan bisa dirasakan secara sambil berasal operasi
dan upaya penerapan tanzil bhakti steril dalam kehidupan beragama
Hindu? Tuliskanlah pengalaman Engkau!
6. Amatilah lingkungan sekitar Anda terkait dengan adanya tulang beragangan
penerapan wahyu bhakti sejati dalam jiwa sehari-hari guna

Pendidikan Agama Hindu dan Moral 267

takhlik tujuan hidup manusia dan pamrih agama Hindu, buatlah
tulisan seperlunya dan diskusikanlah dengan hamba allah tuanya! Apakah
yang terjadi? Buatlah narasinya 1-3 halaman diketik dengan huruf
Times New Roman-12, spasi 1,5 cm, ukuran daluang kwarto; 4-3-3-4!

268 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

E. Ajaran Bhakti Sejati andai Radiks Pembentukan Budi
Pekerti yang Sani dalam Zaman Global

Ada banyak nilai dan norma jiwa nan luhur hilang karena terjadinya
pengikisan adab, ketegangan budaya, dan sebagainya. Masyarakat Indonesia mulai
menanggalkan tradisi-tradisi nan sesuai dengan local wisdom kita, seperti
cium tangan sreg ibu bapak, penggunaan tangan kanan, senyum dan sapa,
musyawarah, gotong-royong, dan lain-enggak. Di sini terlihat jelas bahwa budi
pekerti indah lampau berperan terdahulu di masyarakat. Secara mahajana, fiil pekerti
mulia berarti memiliki tata susila dan perilaku yang baik dalam menjalani hidup ini.

Khuluk pekerti memiliki pengertian yang habis sederhana, merupakan perilaku
(pekerti) yang dilandasi oleh pemikiran yang baik dan jernih (budi) dan sesuai
dengan local wisdom kita (luhur). Tata krama mulia bertujuan bikin mewujudkan
perilaku pribadi nan cukup, baik, dan bersusila. Jika, kita beristiadat pekerti luhur, minimum
tidak jaminan yang kita dapat adalah pencahanan kita teratur, sehingga dapat
mengantar kita berkiprah ke keberhasilan vitalitas, kerukunan antar bermasyarakat,
dan dan berada intern koridor perilaku yang terpuji dan bermanfaat. Sebaliknya,
kalau kita menubruk kaidah-prinsip akhlak luhur, maka kita dapat mengalami
banyak hal yang enggak menguntungkan. Mulai berpunca situasi kerdil seperti tidak
disenangi/dihormati bani adam tidak, sebatas hal musykil seperti mengerjakan pelanggaran
hukum nan membuat kita berparak dengan tindak pidana.

Ekstrak karakter pekerti luhur secara tradisional menginjak ditanamkan sejak
masa kecil, baik di dalam lingkungan keluarga atau sekolah, dan berlanjut ke
lingkungan publik. Di lingkungan keluarga, orang tua menanamkan karakter

Pendidikan Agama Hindu dan Fiil Pekerti 269

pekerti sani lewat bermacam-macam cara; membacakan takhayul, mengajarkan permainan
tradisional, dan lainnya. Berperangai yang baik kerumahtanggaan sebuah keluarga sangat
mempengaruhi sikap anak nantinya. Pendidikan formal sekali lagi memiliki peran
penting. Kita dididik mudah-mudahan memiliki ilmu, wawasan, dan budi pekerti mulia. Kita
juga diajarkan bersosialisasi, membangun rasa kebersamaan, rasa cinta petak
air, rasa peduli lingkungan, yang nantinya terlampau bermanfaat dalam kehidupan
bermasyarakat. Kepatutan luhur mendatangkan banyak keuntungan n domestik
nasib bermasyarakat. Dengan menerapkannya, maka kita terjaga menjadi
pribadi yang beretika baik, beradat baik, privat meningkatkan taraf kerohanian
dan keberhasilan batiniah kita bak manusia.

Perenungan:

“Asmanvati riyate sam rabhadhvam
uttisthata pra tarata sakhàyah,
atra jahàma ye asan asevah
sivan vayam uttaremàbhi vàjàn.

Terjemahan:
‘Wahai teman-teman, manjapada yang mumbung dosa dan penuh duka ini berlalu

seumpama sebuah wai yang alirannya dirintangi maka itu godaan raksasa (nan dimakan
oleh sirkuit air) nan runyam, tekunlah, bangkitlah dan seberangilah sira, tinggalkan
persahabatan dengan cucu adam-khalayak tercela, sebrangilah bengawan usia bagi
pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran’ (Rgveda X.53.8).

270 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

Kedamaian dan ketentraman (Kerta Langu), adalah dambaan seluruh
serempak kalimantang baik secara komunal maupun secara individual (personal).
Maksudnya adalah dambaan akan kesejahteraan itu tidak hanya untuk umat
cucu adam, tetapi bersemi-tumbuhan dan sato pun memerlukan kedamaian
itu. Kemudian wajib dipahami juga bahwa kesejahteraan itu bukan dibutuhkan saat
ini sahaja, tetapi kedamaian itu dibutuhkan makanya seluruh refleks pan-ji-panji baik untuk
masa lalu, masa masa ini, dan perian yang tulat. Demikianlah sabda, intruksi
dan pesan mulai sejak Kitab Jati Veda yang harus kita ditindaklanjuti dengan sraddha
dan rasa bhakti (iman dan taqwa) nan mantap. Apabila internal kehidupan ini
setiap umat manusia kebanyakan dan khususnya umat Hindu mampu mewujudkan
kedamaian itu, maka impian umat manusia cak bagi menciptakan suasana sorga di
mayapada ini bisa diwujudkan.

Semata-mata kenyataannya masih banyak umat cucu adam yang keliru memaknai
hidupnya khususnya adapun suasana bendera sorgawi nan mereka dambakan
di saat pataka kematian, mereka berharap masuk sorga atau menikmati suasana
standard sorgawi di saat kematian tetapi melupakan suasana alam sorgawi intern
nyawa nyata ialah semangat ketika di bumi fana ini. Padahal proses kematian
nan baik yaitu “Hidup nan baik dulu, yunior mati nan baik”, karena dengan
jiwa yang baik disaat spirit bisa dijadikan modal pokok dan atau matra
kerjakan pencapaian kehidupan yang lebih baik disaat ini dan ketika di alam akhirat.

Tetapi fenomena dewasa ini, ternyata ketenteraman, kesalehan,
harmoni dan kedamaian semakin mahal kerjakan sebagian besar basyar atau
kelompok umat basyar dalam kehidupannya. Padahal dalam sebuah persaksian,
hampir setiap orang di mayapada ini mengakui dan diakui dirinya sebagai manusia yang

Pendidikan Agama Hindu dan Kepatutan 271

beragama. Dengan harga diri orang beragama itu mestinya secara kontinyu bosor makan
berupaya untuk mewujudkan kesalehan dan keharmonisan serta kedamaian
(santih) di dunia ini. Orang-orang beragama semestinya kreatif menerimakan
penyembuhan (konseling) terhadap dirinya dan orang bukan di ketika-saat mengalami
goncangan kejiwaan di mana manusia-orang ilmu jiwa menyebutnya dengan
‘kekusutan mental’ akibat pecah suatu masalah yang dihadapinya yaitu dengan
menggunakan ayat-ayat kitab suci dan sastra-sastra agamanya sebagai pedoman
dan tablet/kapsul yang harus diramu dan lebih jauh dikonsumsi bak obat
lakukan menerapi psikis dirinya. Renungkanlah sloka berikut ini;

“Mogham annaý vindate aprcetaá
satyam bravimi vadha it sa satya,
nàryamanaý pusyati no sakhàyaý
kevalàgho bhavati kevalàdi.

Terjemahan:
‘Orang yang bego memperoleh kekayaan dengan sia-sia, Aku mengatakan

kebenaran bahwa diversifikasi kekayaan ini yakni ter-hormat-benar mortalitas bikin dia, Beliau
yang tidak menolong oponen-temannya dan sahabat-sahabat karibnya, beliau yang
makan sendirian, menderita sendirian’ (Rgveda X.117.6)

‘Na và u devàá ksubham id vad am daduá
utàúitam upa gacchanti måtyavaá,

272 Papan bawah XI SMA/SMK Kurikulum“13

uto rayiá pånato nopa dasyati
utàpånan marditàraý na vindate.

Interpretasi:
‘Para Deva telah memberikan rasa lapar kepada umat anak adam dalam

lembaga kematian, kematian itu bahkan terjadi kepada bani adam yang makanan
baik (makmur), kekayaan tidak kontak menciut oleh karena kemurahan hati
(didermakan), turunan nan pangur lain korespondensi menemukan orang nan punya
rasa magfirah’ (Rgveda X.17.1)

Tetapi kenyataannya enggak minus orang-orang beragama di belahan dunia ini
jasmani dan rohaninya enggak harmonis. Tak sedikit kembali orang-orang beragama
menciptakan suasana disharmoni, jiwanya mengalami kesimpangsiuran mental dan
minimum ironis sikap dan tindakannya justru tidak mencerminkan sosok-orang
beragama.

Era kesejagatan masa sekarang menghadapkan umat manusia atau mahajana
kepada serangkaian baru yang tidak bersisa berlainan dengan apa nan gabungan
dialami sebelumnya dan terlebih kecenderungannya akan semakin berat
permasalahan vitalitas yang akan dihadapinya. Pluralisme agama, tungkai, ras, etnis,
golongan, berbagai kepentingan, dan yang lainnya yakni fenomena substansial.
Di masa-waktu lampau kehidupan umat sosok relatif bertambah tentEram karena
kehidupan umat bani adam bagai interniran-kamp yang terisolisasi dari tantangan-
tantangan manjapada luar. Sebaliknya kontemporer kemenangan zaman menyebabkan
persaingan roh semakin selektif, persaudaraan lintas etnis tidak bisa pun dihindari,

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 273

multi fungsi semakin beragam, dan lain lain, menyebabkan umat manusia
Dewasa ini harus tukang-juru dan arif dalam menghadapi dan tanggulang
persoalan kerumahtanggaan hidupnya.

Di manapun awam manusia itu bakir di negara-negara di mayapada ini
termasuk di Indonesia memiliki sederetan perbedaan, di luar perbedaan yang
mereka miliki bersumber sejak lahir. Seperti perbedaan rasial, kebudayaan, sifat-
istiadat, agama, ajudan, strategi, dan enggak lain. Fenomena ini bukanlah
perkara mudah untuk menciptakan keakuran, ketertiban dan ketenteraman di
marcapada untuk usia sebagai masyarakat manusia dengan sederatan perbedaan-
perbedaan itu, sekalipun manusia diyakini ibarat mahluk ciptaan Sang pencipta yang
paling sempurna, apabila manusia itu seorang lain memiliki kepandaian, kearifan
dan kebijaksanaan kerumahtanggaan mengapresiasi sederatan perbedaan-perbedaan yang
suka-suka. Kurang pandainya, ketidak arifan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh
masyarakat kita mengapresiasi perbedaan itu merupakan beberapa faktor nan
menyebabkan di era globalisasi ini timbul berbagai rupa konflik baik konflik hamba allah
(personal) maupun konflik komunal (kelompok).

Konflik sosok misalnya; masih banyak orang stress alias mengalami
gonjangan kejiwaan (kekusutan mental) dan kasus binasakan diri akibat enggak
mampu memintasi permasalahan-persoalan dan tantangan semangat dan kehidupan yang
dialami, dan lain sebagainya. Konflik komunal (kelompok) misalnya; timbulnya
konflik mengufuk antara masyarakat manusia yang satu dengan masyarakat
manusia lainnya nan terjadi di belahan dunia nan mana saban hari pelahap
mewarnai dan mendandani pemberitaan meda cetak dan elektronik seperti mana di
antaranya konflik antara anak asuh dan orang tua, antara istri dengan suami, antara

274 Papan bawah XI SMA/SMK Kurikulum“13

turunan manusia yang satu dengan manusia nan lainnya, keramaian cucu adam
satu dengan kelompok anak adam nan lainnya mengenai diskriminasi, kekerasan,
pelecehan, ketidak-adilan, dan sebagainya tetang berbagai macam hal.

Selanjutnya konflik nan disebabkan maka itu penghijauan ajaran-ajaran dan
dogma-doktrin yang ekskulisivisme dan sempit, sehingga tidak terbatas masyarakat
manusia sama dengan itu badannya dipasung, terbelenggu, dan mengabaikan
kesahihan serta mengerudungi diri bakal menerima perbedaan dan kesahihan cucu adam
bukan baik itu perihal etnis, kebudayaan, resan-istiadat, agama, asisten,
ketatanegaraan, dan sebagainya kembali semakin mercu terjadi dewasa ini. Kemudian faktor
yang lain sekali lagi disebabkan pula maka dari itu karena dewasa ini kecenderungan bagi tidak
invalid orang bertambah mencari dunia matrial atau keglamoran duniawi ketimbang
dunia spiritual. Ketidak seimbangan itu menyebabkan deteriorasi moral semakin
meningkat, sikap dan karakter-budi Ketuhanan pada setiap makhluk dan
kelompok di perdua-tengah kehidupan awam sama dengan cinta kasih gelojoh,
peladenan, dan tidak enggak, semakin memprihatinkan. Renungkanlah sloka suci ini;

“Na sa sakhà yo na dadàti sakhye

Terjemahan:
‘Dia bukanlah seorang sahabat nan sejati nan tidak menolong seorang

teman yang memerlukan pertolongan’ (Rgveda X.117.4).

Situasi dan kondisi konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat
manusia itu menandakan bahwa arah gerak manah, perkataan dan polah bagi

Pendidikan Agama Hindu dan Fiil Pekerti 275

setiap manusia atau kelompok orang sebagaimana itu dulu mencuaikan pendirian-
prinsip asal tetang skor-skor kejujuran, darmabakti, kepatuhan dan kepatuhan
terhadap resan keimanan, aturan kebajikan (hukum), properti asasi manusia,
kehormatan, pengendalian diri, kesetiakawanan, persatuan, pengorbanan yang tulus
steril, pelayanan, sering kasih bosor makan, kerukunan, ketentraman dan kedamaian,
abolisi, pemujaan, dan lain lain.

Oleh karena itu, peristiwa dan kondisi konflik itu baik personal ataupun
komunal yang terjadi di perdua-tengah publik kita lampau dibutuhkan upaya
bersama secara sadar, sabar, dan tulus ikhlas bakal mengatasi dan mencarikan
solusi pemecahannya agar situasi dan kondisi arwah dan nasib masyarakat
insan masa kini dan di masa yang akan cak bertengger tak semakin kusut dan
rumit, tragedi sosial, kemanusiaan dan rusaknya lingkungan vitalitas, dan lain enggak,
dapat diminimalisir. Fiil-khuluk Ketuhanan dalam setiap atma individual
masyarakat manusia perlu ditananamkan sejak dini, sehingga apabila karakter
Ketuhanan itu telah terpatri dan tumbuh dalam setiap sukma individual publik
bisa dijadikan modal sosial untuk menciptakan kesalehan dan keserasian
sosial di tengah-tengah vitalitas mahajana manusia.

Khuluk Ketuhanan privat setiap jiwa individual mahajana manusia
akan dapat ki terpaku, bertaruk dan berkembang dengan kesadaran, iman dan
taqwa yang mantap bahwa kelahirannya menjadi manusia yakni kesempatan
bagi berbuat baik berdasarkan atas kepercayaan terhadap Sang pencipta Yang Maha
Esa. Kitab suci dari agama atau kepercayaan apapun nan ada di mayapada ini,
termasuk yang teragendakan dan tersirat dalam kitab suci Agama Hindu yaitu dalam
kitab Sarasamuccaya menyatakan bahwa menjelma, menjadi bani adam alangkah-

276 Kelas bawah XI SMA/SMK Kurikulum“13

bukan main utama sebabnya demikian karena ia boleh menolong dirinya berpangkal
peristiwa sengsara (lahir dan sepi berulang-ulang) dengan jalan mengamalkan baik,
demikianlah keuntungannya menjelma menjadi individu. Oleh karena itu, setiap
jiwa individual manusia tidak semestinya bersedih lever sekalipun kehidupan
manusia itu tidak makmur, dilahirkan menjadi basyar itu hendaklah menjadikan
kamu berbesar hati, sebab amat elusif bakal dapat dilahirkan menjadi manusia,
meskipun kelahiran hina sekalipun.

Sebagai penjelmaan manusia yang punya keutamaan tersebut, maka
upaya nan boleh dilakukan maka dari itu masyarakat kita buat meredam peristiwa dan
kondisi konflik yang semakin marak terjadi di selingkung lingkungan hidupnya
internal dan eksternal baik konflik individual mapun konflik kumanal. Camkanlah
nubuat kitab suci ini;

“ ruti-vipratipann te yad sth syati ni cal ,
sam dh v acal buddhis tad yogam av psyasi.

Terjemahan:
Bila pikiranmu yang dibingungkan oleh apa yang didengar tak tergoyahkan

lagi dan tetap intern Samadhi, kemudian sira akan menyentuh yoga (realisasi
diri) (Bhagavadgita.II.53).

Agar dapat keluar dan tidak memperburuk sistuasi dan kondisi konflik
itu masyarakat manusia semoga selalu menyadarkan kesadarannya dan
menyalahkan pelita atau binar ke-Ilahian di internal dirinya dengan rajin

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 277

berdoa dalam setiap tindakan sehingga sinar ke-Ilahian dapat bersinar dalam
setiap jasad dan semangat cucu adam sehingga masyarakt manusia bisa membimbing
dirinya dan orang lain dari ketidak benaran menuju kesahihan yang tahir,
dapat membimbing masyarakat manusia terbit kegelapan menjurus jalan yang
terang benderang, dan boleh membimbing dirinya dari mortalitas Rohani merentang
nyawa yang kekal kuat.

Upaya mudah-mudahan di berangkat berbunga diri sendiri individu individu itu seorang,
kemudian dalam lingkungan tanggungan, dan lebih jauh dalam roh
bermasyarkat yang lebih luas yaitu sesuai dengan tema yang dikemukakan internal
garitan ini pelecok satunya dengan ‘Ki memasukkan Ilham Nawa Wida Bhakti bikin
Mengoptimalkan Khuluk Ketuhanan di Mileu Batih Sebagai Modal
Dasar Kemujaraban Mewujudkan Kepentingan dan Keharmonisan Sosial’.

Pentingnya menanamkan ajaran Nawa Wida Bhakti sejati kerjakan
menumbuhkan karakter Ketuhanan di Lingkungan Keluarga ini dikarenakan
bilang kejadian di antaranya sama dengan berikut.

Pertama, Arwah di lingkungan keluarga dewasa ini lagi seolah-olah
semakin digiring untuk meninggalkan suci dirinya sebagai anggota masyarakat
yang religius dengan berbagai aktivitas ritual keagamaannya, sehingga kualitas
iman dan taqwa (sradha bhakti) yang selama ini dijunjung tahapan semakin lama
semakin tergeser oleh lengkap kehidupan yang mengglobal dan bertamadun. Budaya
global nan diakibatkan maka dari itu modernisasi dalam berbagai bagan penundukan ilmu
pengetahuan dan teknologi (Iptek) terus menerus menirukan urut-urutan sosial
masyarakat menusia, sehingga kadangkala akibat bermula supremsi marcapada global dan
modernisasi ini bisa mengirimkan manfaat yang positif dan destruktif bagi kehidupan

278 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

spiritual individu turunan. Dari segi positif pemodernan bisa menguntungkan
roh, baik jasmani dan rohani, semata-mata di jihat merusak pemodernan bisa
mengakibatkan semakin tergesernya kancing-sendi semangat tercatat semakin
terkikisnya nilai-nilai religiusitas plong sebagian anggota masyarakat bani adam.
Kekuasaan negatif yang dimaksud terhadap anggota awam dewasa ini sering
terjadi silang sengketa, kekerasan, diskriminasi, kebrutalan, dan sebagainya yang
mendekati pada bentuk prilaku nan dapat mudarat dirinya, keluarganya, dan
kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat atau sosialnya. Hal ini tentunya
dahulu mengkhawatirkan, karena kalau keadaan tersebut dibiarkan, maka kualitas
kebersamaan, persatuan dalam bermasyarakat akan semakin menipis. Pada
akhirnya nanti esensi sebagai publik hamba allah yang n kepunyaan keutamaan
dibandingkan dengan makhluk lainnya melangkahi jalan angan-angan, berkata dan
berperilaku semakin lama akan mengkhawatirkan.

Kedua, lingkungan batih yaitu arena berlangsungnya proses
pendedahan, dan pembekalan proklamasi yang secepat-cepatnya. Oleh karenanya,
maka setiap anggota keluarga terutama orang tua, dituntut untuk senantiasa
bersikap dan mengamalkan sesuai dengan dharma-nya, dengan intensi setiap anggota
keluarga akan memiliki iman dan taqwa (sradha bhakti), sifat dan kepribadian pekerti
yang luhur, serta berkepribadian luhur nan sangat diperlukan dalam hidup
batih dan masyarakat. Dalam kitab suci Veda dan susastra kudus Veda yang
lainnya banyak menjelaskan tentang pentingnya ajaran bhakti, dan swadharma
orang tua terhadap anaknya, demikian lagi bhakti dan swadharma dari anak asuh
kepada bani adam tuanya. Internal kitab suci Manavadharmasastra dijelaskan bahwa
secara nonfisik laki-cem-ceman sendirisendiri mengupayakan agar nikah cinta dan

Pendidikan Agama Hindu dan Fiil Pekerti 279

karunia cerbak, kesetiaan, mencari lambung, menjaga kesegaran, dan seterusnya
agar kombinasi perkawinan dapat berlanjut abadi. Kemudian terhadap anak-anak asuh
yang lahir, ayah bunda berkewajiban membesarkannya, memberikan perlindungan,
pendidikan dan menyelenggarakan perkawinannya (Vivaha Samkara).
Seterusnya dalam Sarasamuscaya juga diajarkan tentang tiga tanggung manusia
tua yang harus dilaksanakan dengan rasa bhakti yang asli kepada anaknya
yaitu sebagai berikut: Pertama, Sarirakrta, yaitu tanggung orang tua cak bagi
memaksimalkan jasmani anak dengan baik. Kedua, Prannadatta, artinya orang
tua terbiasa membangun ataupun memberikan pendidikan batiniah kepada anak.
Ketiga, Annadatta, ialah beban orang tua bakal menyerahkan pendidikan
kepada anaknya bikin mendapatkan lambung (anna) salah satunya kebutuhan
hidupnya nan paling esensial.

Demikian kembali dalam Kekawin Niti Sastra ada disebutkan syarat-syarat orang
yang dapat disebut orang tua yakni apabila telah berbuat lima bagasi nan
disebut Panca Wida yaitu: Pertama, Si ametuaken, artinya yang menyebabkan
kita lahir. Ayahlah yang pertama-tama menyebabkan kita lahir terbit rahim ibu.
Awal mula dari sikap ayah dan ibu saat-saat menanam benih dalam rahimnya
pula amat menentukan kesanggupan kita. Kedua, Sang anyangaskara, artinya
orang tua n kepunyaan kewajiban jawab menyucikan anak melangkahi upacara sarira
samskara. Ketiga, Sang mangupadyaya, artinya seseorang boleh disebut ayah
apabila ia dapat berkewajiban sreg pendidikan anak-anaknya. Pendidikan
momongan tak dapat begitu sahaja diserahkan kepada guru-suhu di sekolah. Ayah di
apartemen pula disebut guru rupaka. Keempat, Sang maweh bijojana, artinya orang
yang boleh disebut ayah adalah makhluk yang memberikan anggota keluarganya

280 Inferior XI SMA/SMK Kurikulum“13

makan dan kebutuhan-kebutuhan material lainnya. Secara umum sendiri ayah
memiliki bagasi jawab menjamin kebutuhan ekonomi keluarga. Kelima, Si
matulung urip rikalaning baya, artinya tanggung koteng ayah melindungi
umur si anak dari ancaman bahaya. Penjagaan tersebut tidaklah semata-ain
berguna fisik doang juga perlindungan yang bersifat rohaniah. Sedangkan bhakti
dan swadharma anak kepada insan tuanya, sesuai dengan perintah dan pesan berpangkal
sastra suci Veda, sendiri anak dikatakan suputra apabila momongan itu memiliki sradha,
bhakti, serta merecup menjadi anak nan berlimpah menyelematkan dirinya, orang
tuanya, dan seluruh keluarganya dari drum penderitaan menuju kehormatan
dan kebahagiaan. Dan yang kian raksasa lagi berguna untuk masyarakat, bangsa
dan negaranya.

Ajaran bhakti kudrati bisa menumbuhkan karakter Ketuhanan di lingkungan
keluarga andai modal dasar maslahat mewujudkan kesalehan dan keharmonisan
sosial, yang dimaksud adalah seumpama berikut:

Bhakti kalis adalah salah satu tajali agama Hindu yang dapat dipedomani
untuk meningkatkan keagamaan dan ketaqwaan manusia terhadap aturan
keimanan, rasam dedikasi dan aturan upacara keimanan yang pecah dari
ramalan agama yang dianutnya serta dapat dipedomani dalam upaya melakukan
penyembuhan (konseling) di saat-saat mengalami goncangan rohaniah maka itu
manusia di mileu keluarga. Hayat di lingkungan keluarga dewasa ini
semakin digiring untuk meninggalkan kudus dirinya sebagai anggota masyarakat
yang religius dengan berbagai aktivitas ritual keagamaannya. Perihal terdepan
lainnya adalah bikin mengeliminasi potensi-potensi konflik akibat terbatas
pandainya dan kurangnya kearifan serta kebijaksanaan berpokok individu terhadap

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 281

sederetan perbedaan, di luar perbedaan yang mereka miliki sejak lahir. Nawa
Wida Bhakti yaitu salah satu ajaran agama Hindu yang bersumber pecah kitab
Bhagavata Purana, VII.5.23, nan menyebutkan bahwa ada 9 (sembilan) cara
ber-bhakti (hormat, sujud, pengabdian, cinta anugerah sayang, pelayanan, dan
spiritual) yang disebut Nawa Wida Bhakti yaitu rasa bhakti zakiah manusia
terhadap Tuhan-nya.

Konsep Bhakti sejati ini dapat dimaknai dalam kontek usia sosial alias
arah gerak putarannya secara horizontal merupakan rasa sujud, hormat-memuliakan,
pengabdian, cerbak kasih belalah, spiritual, dan menerimakan pelayanan antara
manusia dengan sesamanya dan lingkungannya. Harapannya dengan nilai-skor
dari Bhakti lugu (hormat, sujud, pengabdian, cinta kasih sayang, pelayanan,
dan spiritual) akan tercipta karakter Rabani di lingkungan keluarga. Pada
saatnya nanti dapat dijadikan sebagai modal dasar guna menciptakan menjadikan kesalehan
dan keharmonisan sosial karena di lingkungan masyarakat umum yang lebih
luas sudah dihuni oleh cucu adam-individu nan telah ditanami poin-kredit Nawa
Wida Bhakti, manusia yang bermoralitas, serta punya akhlak yang luhur
melangkaui proses pembinaan, pendidikan dan pendalaman ataupun penghayatan sejak
awal di mileu keluarga. Seperti uraian berikut ini;

a. Sravanam
Sravanam, yaitu bhakti ceria dengan jalan mendengar. Arah gerak vertikal

berbunga bhakti mendengar ini adalah dalam peristiwa meyakini dan mendengarkan sabda-
sabda ikhlas berusul Yang mahakuasa baik yang tersurat maupun tersirat kerumahtanggaan kitab suci

282 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

atau aturan-rasam keimanan, aturan kebajikan dan adat upacara. Fenomena
arah gerak vertikal dari bhkati mendengar nan kita jumpai di perdua-tengah
semangat kita, tersurat di lingkungan keluarga dan masyarakat tidak cacat
khalayak individu yang bukan mau mendengarkan perbuatan nabi nabi muhammad-sabda murni atau aturan-
kebiasaan religiositas, aturan amal dan aturan upacara keberagamaan.

Kenyataan ini diperkuat apabila suka-suka orang yang mewartakan visiun akan halnya
amal, kebenaran, kesucian, dan lain sebagainya tentang hadis asli Halikuljabbar
justru nan terjadi malah ketidakpedulian, pelecehan, atau menunjukan kekurang
tertarikan akan pewartaan itu. Contoh kecil belaka di sebagian banyak anak adam lain
cak hendak mendengar atau bahkan merebeh apabila ada ceramah-orasi agama
baik itu di palagan-wadah suci atau berita melalui media cetak dan eletronik yang
lain.

Namun kalau ada berita/tayangan sinetron tentang gosip, fitnah, kekerasan,
diskriminasi, dan lain-lain bahkan menjadi konsumsi yang kayun. Selanjutnya
arah gerak horizontal, bhakti mendengar ini seyogiannya masyarakat khalayak
dalam nasib dan kehidupannya menanamkan rasa bhakti lakukan selalu belajar
mendengarkan nasihat dan menghormati pendapat sosok lain serta selalu
belajar untuk menyimak atau mendengarkan pewartaan tentang sesamanya dan
lingkungannya.

Fenomena yang sering terjadi tidak sedikit manusia yang tak peduli dan
enggak belajar serta meluhurkan nasihat dan pendapat orang lain, serta tak peduli
dan tidak sparing untuk menyimak berita-berita tentang teragedi kemanusiaan
dan kerusakan lingkungan. Sedangkan dalam umur ini untuk mewujudkan cita-cita
atau visi-misi hidup hendaknya dimulai dengan adanya kedahagaan dan kesadaran

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 283

bagi mendengar. Siaran, kesadaran dan pendalaman tentang beraneka macam
hal hasil dari mendengar dapat dijadikan konsep sumber akar untuk menata nyawa dan
semangat di dunia ini nan kemudian ditindaklanjuti dengan berupaya buat
berbuat atau mencari solusi nan terbaik dalam menjumut sebuah tindakan
kemanusiaan/sesama dan lingkungan. Hipotetis; di mileu anak bini antara
anggota batih semestinya selalu ki memasukkan sifat dan rasa bhakti untuk
selalu mendengar baik antara laki dan istri, antara orang tua dan anak, bakal
selalu membangun komunikasi aktif sehingga dapat mengurangi terjadinya
miskomunikasi di antara anggota keluarga.

Sifat dan sikap ini akan bisa menumbuhkan karakter Ketuhanan di
lingkungan keluarga itu, sebagai halnya; sifat, sikap dan karakter hormat-menghormati,
sujud, cinta kasih sering, pengabdian, pelayanan, berfikir nan baik dan suci,
berkata yang baik dan suci, mengamalkan yang baik dan suci serta teguh kerumahtanggaan
melaksanakan kepatuhan spiritual. Resan dan sikap individu serupa itu akan dapat
dijadikan bagaikan modal sosial untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan
sosial antara keluarga, antar sesama anggota masyarakat.

Resan, sikap dan karakter sosok nan selalu sparing bakal membuka diri
mendengar nasihat, pendapat basyar tidak maupun apa nan diwacanakan orang tak
adalah sebuah sifat, sikap dan khuluk insklusif ialah sebuah sifat, sikap dan
karakter membuka diri secara asli ikhlas untuk cak hendak mendengarkan kebenaran
dari basyar lain, karena kerumahtanggaan diri ada legalitas cuma di asing diri juga masih
banyak kebenaran yang belum diketahui.

Bagi itu pesan yang ingin disampaikan melalui bhakti dengan jalan
mendengar ini adalah n domestik hidup ini masyarakat kita cak bagi camar berupaya

284 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

memasyarakatkan lakukan mendengar, baik mendengar secara vertikal antara
manusia dengan Sang pencipta-nya melangkaui sabda-sabda sucinya, maupun secara
horizontal antarsesamanya dan lingkungannya. Karena baik mendengar ataupun
menjatah pendengaran/pewartaan apabila sekufu-setinggi dilandasi dengan rasa
bhakti, maka semua akan beruntung hasil (pahala) yang baik atau minimum tidak
dapat kebaikan dari bhakti mendegar ini. Iklim saling bhakti mendengar ini tinggal
dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang diawali ditananamkan di lingkungan
anak bini selanjutnya ditumbuhkembangkan secara harmonis dan dinamis n domestik
kehidupan sosial awam di mileu yang kian luas.

b. Wandanam
Wandanam merupakan bhakti polos dengan jalan membaca, menyimak dan

mempelajari, mendalami serta menjiwai dan memaknai petunjuk yang berusul
semenjak adat keyakinan, aturan kebajikan, dan sifat nan lainnya yang pecah
dari sabda-titah suci Tuhan dan susastra suci yang lainnya.

Sisi gerak vertikal publik manusia internal menjalani dan menata
kehidupannya selalu meluangkan musim untuk membaca, menyimak dan
mempelajari, mendalami serta menghayati dan memaknai kitab kalis dan susastra
kudus serta ilmu pengetahuan yang lainnya tentang Yang mahakuasa laksana pedoman
hidup, sehingga gagasan dan sisi pilihan urut-urutan kehidupan publik makhluk sesuai
dengan sabda tahir Tuhan yang tertuang privat kitab tahir alias sumber hukum
agama yang diyakini dan dianut, tentunya dengan selalu tidak menudungi diri atau
mengabaikan kejadian-situasi yang ada di luar dirinya.

Pendidikan Agama Hindu dan Fiil Pekerti 285

Sisi gerak horizontal berbunga bhakti ini, masyarakat manusia kepada sesama
dan lingkungan hidupnya cak bagi rajin mendaras, menyimak dan mempelajari,
mendalami serta menyelami dan memaknai kejadian, cak bagi menuju arah gerak yang
lebih baik. Karena apabila salah internal mengaji, menyimak dan mempelajari,
mendalami serta menghayati dan memaknai hal maka pelecok juga dalam
pemungutan keputusan. Iklim ganti bhakti Wandanam ini sangat dibutuhkan
maka dari itu masyarakat manusia lakukan menciptakan kesalehan dan keselarasan di
lingkungan keluarga dan sosial kemasyarakatannya.

c. Kirtanam
Kirtanam, merupakan bhakti sejati dengan perkembangan melantunkan Gita/zikir

(nyayian atau kidung tahir memuja dan memuji nama suci dan kebesaran
Tuhan), bhakti ini juga diarahkan menjadi dua arah gerak vertikal atau
arah gerak mengufuk. Arah gerak vertical mengamalkan bhakti Kirtanam kerjakan
mengoptimalkan dan membangkitkan angka-angka spiritual yang cak semau dalam jiwa
setiap orang individu. Dengan bangkitnya spiritual dalam setiap individu akan
dapat meredam berbuat pengendalian diri dengan baik, jiwa makin sunyi,
tentram dan tercerahi, sistuasi dan kondisi ini akan dapat membantu keluar semenjak
kekusutan mental dan ketaksaan atma, sehingga boleh dijadikan modal pokok
lakukan menciptakan kesalehan dan keharmonisan individual yang berdamai dan
bahagia.

Arah gerak mendatar mahajana manusia berusaha buruk perut untuk
menyanyikan bhakti Kirtanam nan dapat menyejukan perasaan hati hamba allah lain
dan lingkungannya. Kepada sesama atau anggota masyarakat yang lainnya tak

286 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

hanya melantunkan ataupun melontarkan kritikan dan cemohan tetapi sayang belajar
buat melatih diri kerjakan memberikan saran, solusi yang terbaik bagi keefektifan
bersama dalam keberagamaan, umur sehari-hari akan halnya manusiawi,
solidaritas, persatuan dan perdamaian, serta memberikan pengakuan dan
penghargaan atau pujian akan keberhasilan dan penampakan yang sudah lalu dicapai
terhadap sesama atau anggota masyarakat turunan nan lain.

Iklim saling bhakti Kirthanam ini sebagai wujud ilham bhakti sejati
sangat dibutuhkan oleh masyarakat turunan yang penanaman nilai-nilai bhakti
Kirthanam diawali di lingkungan keluarga laksana modal utama guna mewujudkan
kesalehan dan harmoni sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.

d. Smaranam
Smaranam, yaitu bhakti sejati dengan jalan mengingat. Jihat gerak vertikal

mulai sejak bhakti ini adalah n domestik menjalani dan menata kehidupan ini awam
manusia sepatutnya burung laut melatih diri untuk mengingat, mengingat segel-nama
suci Almalik dengan segala Kemahakuasaaannya, dan selalu untuk melatih diri
cak bagi mengingat tentang intruksi dan pesan ataupun kenyataan dari sabda sejati Halikuljabbar
kepada umat orang yang dapat dijadikan sebagai pedoman alias karier
hidup privat hidup di dunia dan di alam sunya (akhirat) belakang hari.

Arah gerak secara horizontal berpunca bhakti ini apabila dikaitkan dengan isu-isu
pluralisme, kemanusiaan, perdamaian, demokrasi dan gender, maka seyogiannya
masyarakat individu cak acap berusaha untuk menghafal lagi tragedi dan
kesengsaraan kemanusiaan, musibah dan bencana alam, dan lain sebagainya,
yang diakibatkan oleh konflik-konflik maupun pertikaian, kesewenang-wenangan,

Pendidikan Agama Hindu dan Karakter Pekerti 287

diskriminasi, dan tindakan kekerasan nan lainnya antara individu yang suatu
dengan individu yang enggak ataupun antara kerubungan nan satu dengan kelompok
yang tak nan tidak maupun terbatas memahami dan menghargai indahnya sebuah
kebhinekaan dan pluralisme.

Harapannya dengan menghafaz tragedi, kesengsaraan, musibah dan batu
yang diakibatkan itu awam kita selalu mewartakan dan mengingatnya
andai bekal cak bagi mengevaluasi dan merefleksi diri akan indahnya kebhinekaan
dan pluralisme apabila masyarakat manusia mampu mengkemasnya dalam satu
birai yaitu bingkai kebersamaan, persatuan dan ketenteraman. Iklim saling bhakti
Smaranam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat cucu adam yang ditanamkan
diawali di mileu anak bini sehingga tumbuh karakter Ketuhanan privat
setiap anggota keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan
keharmonisan sosial dalam vitalitas sosial kemasyarakatannya.

e. Plong Sevanam
Sreg sevanam, adalah bhakti sejati dengan jalan menyembah, sujud, puja

di Tungkai Padma. Arah gerak vertikal dalam bhakti ini masyarakat kita privat
menjalani dan mengatak kehidupannya sepatutnya selalu sujud dan hormat kepada
Tuhan, puja dan sujud terhadap intruksi dan pesan/amanat dari hukum Tuhan
(rtam). Arah gerak horizontal masyarakat turunan untuk comar belajar dan
mengintensifkan kesadaran untuk mengagungkan para pahlawan dan pendahulunya,
pemerintah dan peraturan perundang-invitasi yang telah dijadikan dan
disepakati umpama mata air hukum, para pemimpin, para orang tua dan yang bukan
kalah berfaedah lagi hormat/sujud kepada tanah tumpah.

288 Kelas bawah XI SMA/SMK Kurikulum“13

Karena dengan adanya pemahaman bikin saling menghormati inilah kita akan

bisa hidup berapit dalam kebhinekaan

dan pluralisme, sehingga terwujud

kebersamaan, perastuan, kesalehan dan

keharmonisan sosial. Iklim saling bhakti

Pada sevanam ini lalu dibutuhkan maka itu

mahajana makhluk sehingga sejak prematur

semestinya ditanamkan cak bagi menumbuhkan

khuluk Rabani di mileu keluarga

laksana modal dasar guna membentuk

kesalehan dan kehangatan sosial dalam Gambar : 4.7 Sang Dwijati
kehidupan sosial kemasyarakatannya. Perigi ; http://unikahidha.

ub.ac.id/2012/07/11/

f. Sakhynam Rancangan : 4.8 Mempersiapkan Upakara
Sakhynam, adalah bhakti tulen dengan Sumber ; http://unikahidha.
ub.ac.id/2012/07/11/
jalan kasih perkawanan, mentaati hukum
dan tidak merusak sistem hukum. Baik arah
gerak vertikal dan horizontal, baik dalam
kehidupan matrial dan spiritual (bodi
dan rohani) masyarakat manusia agar besar perut
berusaha melatih diri untuk lain subversif
sistim hukum, dan buruk perut di perkembangan pemberian
persahabatan.

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 289

Iklim tukar bhakti Sakyam ini sangat dibutuhkan makanya masyarakat kita
untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan start mulai sejak lingkungan keluarga
dan lebih lanjut dapat dijadikan sebagai dimensi dan sebagai modal sumber akar khasiat
mewujudkan kesalehan dan kehangatan sosial dalam jiwa sosial
kemasyarakatannya.

g. Dahsyam
Dahsyam, adalah bhakti ceria dengan urut-urutan mengabdi, pelayanan, dan cinta

kasih bosor makan dengan ikhlas nirmala terhadap Tuhan. Arah gerak vertikal dari bahkti
ini individu kerumahtanggaan menjalani dan mengeset kehidupannya, untuk selalu melatih diri
dan secara tulus ikhlas mengahturkan mengabdikan, pelayanan kepada Almalik,
karena hanya kepada Beliaulah umat manusia dan seluruh sekalian alam beserta
isinya berpasrah diri memohon segalanya apa nan harapkan kerjakan mencapai
kebahagian di dunia dan di akhirat.

Arah gerak melintang anak adam kepada sesama dan lingkungan hidupnya
untuk majuh mengabdi, memberikan pelayanan dan cinta kasih sayang dengan
tulus ikhlas bikin arti bersama tentang kemanusiaan, ketetapan
lingkungan hidup dan ketenteraman di tengah-tengah nyawa umum,
berbangsa dan bernegara. Iklim saling bhakti Dasyam ini dahulu dibutuhkan
makanya sosok baik di mileu keluarga lebih-lebih di jiwa sosial
kemasyarakatannya

290 Inferior XI SMA/SMK Kurikulum“13

h. Arcanam
Arcanam, adalah bhakti sejati dengan jalan perhormatan terhadap huruf angka-

fon ataupun nyasa Tuhan seperti membuat Arca, Pratima, Pelinggih, dan bukan-lain,
bhakti pengukuhan iman dan taqwa, menghaturkan dan belas kasih persembahan
terhadap Almalik.

Jihat gerak vertikal publik hamba allah intern menjalani dan menata
kehidupannya untuk selalu menghaturkan dan menunjukan rasa puja, sujud,
cinta kasih majuh, pelayanan, pengabdian kepada Allah dengan iman dan
taqwa kuat dan teguh dengan jalan menghaturkan sebuah persembahan sebagai
rancangan ucapan terima kasih atas tuntunan, pimpinan, pelestarian, kepentingan,
kesehatan dan setiap anugrah yang diberikan Allah kepada seluruh sekalian
alam.

Arah gerak horizontal masyarakat manusia terutama kepada sesama dan
lingkungannya intern kehidupannya bikin caruk belajar untuk memberikan
pelayanan, pengabdian, comar hidayah sayang, penstabilan dan pemberian
penghargaan kepada orang tidak. Model, Pemerintah, pemimpin dan atau
anggota masyarakat mudahmudahan memasrahkan pengabdian, pelayanan, cak acap anugerah
cerbak dan penghargaan kepada pemerintah dan pemimpinnya demikian pula
sebaliknya kepada dan oleh rakyatnya yang mutakadim menunjukan dedikasinya
tinggi terhadap segala aspek kehidupan demi keberuntungan dan perbaikan situasi dan
kondisi bersama dan sekalian alam tentang kemanusiaan, abadiah lingkungan
dan perdamaian.

Karena superior nan baik menghargai rakyatnya, demikian juga
sebaliknya. Iklim saling bhakti Arcanam ini sangat dibutuhkan oleh publik

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 291

manusia di mileu keluarga dan di arwah masyarakat umum. Hal ini
akan dapat mengintensifkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan anak bini
dan lebih lanjut bisa dijadikan sebagai matra dan sebagai modal utama guna
mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial kerumahtanggaan nasib sosial
kemasyarakatannya.

i. Sevanam
Sevanam atau Atmanivedanam yakni bhakti sejati dengan perkembangan berlindung

dan penyerahan diri secara tulus lugu kepada Tuhan. Arah gerak vertikal dan
horizontal dari bhakti ini awam manusia sering berpasrah diri dengan
kesadaran dan keyakinan yang mantap untuk belalah berjalan di kronologi Tuhan,
berteduh dan pemasukan diri secara tulus ceria kepada Almalik, sesama dan
lingkungan hidupnya atau kepada ibu pertiwi, baik dalam atma duniawi
(positif) atau kehidupan sunya (niskala). Iklim saling bhakti Atmanivedanam
ini suntuk dibutuhkan oleh umum manusia baik dalam kehidupan sosial dan
semangat spiritualnya.

292 Inferior XI SMA/SMK Kurikulum“13

Uji Kompetensi:
1. Setelah membaca referensi tentang petunjuk bhakti tahir sebagai dasar
pembentukan akhlak nan luhur n domestik zaman global menurut
ajaran Hindu, apakah yang Dia ketahui tentang agama Hindu?
Jelaskan dan tuliskanlah!
2. Buatlah ikhtisar yang berhubungan dengan ajaran bhakti sejati
perumpamaan sumber akar pembentukan akhlak yang luhur dalam zaman
universal menurut wangsit Hindu, berbunga berjenis-jenis sendang wahana pendidikan
dan sosial yang Kamu ketahui! Tuliskan dan laksanakanlah sesuai
dengan petunjuk dari kiai/ibu temperatur nan mengajar di kelas!
3. Apakah yang anda ketahui tersapu dengan cara-mandu mempraktikkan
ajaran bhakti sejati sebagai asal pembentukan karakter pekerti yang luhur
kerumahtanggaan zaman global menurut visiun Hindu? Jelaskanlah!
4. Bagaimana cara untuk mengetahui tajali bhakti salih sebagai dasar
pembentukan budi pekerti yang luhur dalam zaman universal menurut
ajaran Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
5. Fungsi apakah yang dapat dirasakan secara simultan pecah usaha
dan upaya untuk memengetahui ajaran bhakti ceria sebagai dasar
pembentukan karakter pekerti yang luhur dalam zaman global menurut
ajaran Hindu? Tuliskanlah asam garam Dia!
6. Amatilah lingkungan sekeliling Beliau terkait dengan adanya penerapan
visiun bhakti sejati umpama radiks pembentukan budi pekerti yang mulia
n domestik zaman global menurut ajaran Hindu guna membuat maksud
hidup basyar dantujuan agama Hindu, buatlah catatan seperlunya

Pendidikan Agama Hindu dan Karakter Pekerti 293

dan diskusikanlah dengan turunan empunya! Apakah nan terjadi? Buatlah
narasinya 1 -3 halaman diketik dengan lambang bunyi Times New Tampang-12,
spasi 1,5 cm, dimensi jeluang kwarto; 4-3-3-4!
7. Amatilah bagan berikut ini, diskusikanlah dengan orang tua di flat,
selanjutnya buatlah mualamat berusul hasil diskusi-mu dengan orang tua.

Gambar 4.9 Suputra
Mata air ; http://unikahidha.

ub.ac.id/2012/07/11/

294 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13

Source: https://anyflip.com/rgnrt/qjkk/basic/251-300

Posted by: and-make.com