Ajaran Agama Islam Yg Mendasar Adalah

Islam
(bahasa Arab:
الإسلام‎,


Tentang suara ini dengarkan

) adalah salah satu agama dari kelompok agama nan diterima maka dari itu seorang utusan tuhan (agama samawi) nan mengajarkan monoteisme tanpa kompromi, iman terhadap wangsit, iman terhadap pengunci zaman, dan bagasi jawab.[1]
Islam diestimasi tahun 2020 dianut oleh kurang lebih 1,9 miliar orang di seluruh dunia sehingga menjadi agama terbesar kedua setelah Masehi.[2]

Terminologi

Selam

“Islam” dalam bahasa Arab adalah buram nomina infinitif kuadri-literal (maṣdar rubā‘ī). Bentuk kata kerja ideal aktif triliteralnya (fi‘l māḍi ṡulaṡī mabnī ma‘lūm) yakni
salima
(سلم, “selamat”). Arti semantik berusul bentuk kuadri-literalnya ini adalah tunduk dan patuh (khadha‘a wa istaslama), berserah diri, menyerahkan, mengasihkan (sallama), mengajuk (atba‘a), menunaikan, mengemukakan (addā), atau masuk privat kedamaian, keselamatan, atau kemurnian (dakhala fi al-salm au al-silm au al-salām).[3]
Semua istilah yang seakar pengenalan dengan “islām” berhubungan sanding dengan makna keselamatan, kedamaian, dan kemurnian.[4]

Secara istilah, Islam bermakna penyerahan diri; ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Tuhan serta pasrah dan menerima dengan puas terhadap bilangan dan hukum-syariat-Nya.[5]
Pengertian “berserah diri” dalam Islam kepada Tuhan bukanlah sebutan bagi paham fatalisme, melainkan andai kebalikan berpokok rasa berat lever internal mengimak ajaran agama dan lebih doyan memilih jalan mudah dalam hidup.[4]
Koteng mukminat mengikuti perintah Allah minus menentang ataupun mempertanyakannya, tetapi disertai aksi cak bagi memafhumi hikmahnya.[4]

Istilah “Islam” juga bisa diartikan sebagai agama yang diberikan oleh Yang mahakuasa kepada Nabi Muhammad misal jalan keselamatan di dunia dan alam baka yang ajarannya dilandasi oleh tauhid dan diterapkan dalam seluruh aspek jiwa hamba allah.[6]

(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserah dirilah!” Dia menjawab, “Aku
berserah diri
kepada Allah seluruh alam.”

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَAya-131.png
—Qur’an Al-Baqarah:131

Islam senyatanya juga dipakai bikin menyebut keyakinan monoteistik yang diyakini bersama oleh agama-agama samawi (saat ini Judaisme dan Kekristenan); lihat QS al-Maidah ayat 44, QS Ali Imran ayat 67 dan 52.[7]
Namun, Islam makin populer digunakan kerjakan agama nan dibawa maka dari itu Muhammad begitu juga terdapat privat sebuah ayat Al-Qur’an yang diturunkan di akhir-penutup musim kenabiannya:[8]

Pada perian ini sudah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan mutakadim Aku cukupkan eco-Ku bagimu, dan sudah Aku ridhai
Islam
bagaikan agamamu.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
—Qur’an Al-Ma’idah:3


Iman, Islam, dan Ihsan

Islam adalah agama Almalik yang diturunkan buat seluruh manusia. Di dalamnya terletak pedoman dan sifat demi kebahagiaan di manjapada dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi terdepan dalam agama Islam itu sendiri, yakni Iman, Islam, dan Ihsan.[9]
Dalam sebuah hadits, disebutkan:

“Bermula Umar kacang al-Khatthab RA, berkata: “Pada suatu hari kami berkumpul bersama Rasulullah ﷺ‎ , seketika nomplok seorang pria nan bajunya silam putih, rambutnya tinggal hitam. Tidak terpandang isyarat jika dia melakukan perjalanan jauh, dan tak seorangpun bersumber kami yang mengenalnya. Maskulin itu kemudian duduk di hadapan Nabi ﷺ‎ sambil menempelkan kedua lututnya pada lutut Nabi ﷺ‎ . sedangkan kedua tangannya diletakkan di atas pukang Utusan tuhan ﷺ‎ . Maskulin itu menyoal, “Duhai Muhammad beritahukanlah aku tentang Islam.” Rasulullah ﷺ‎ menjawab,

Islam
yaitu kamu bersaksi tiada tuhan selain Yang mahakuasa dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, puasa sreg bulan Ramadhan dan anda haji ke Baitullah sekiranya sira telah mampu melaksanakannya.”

Pria itu menjawab, “Kamu benar.” Umar berkata, “Kami heran kepada suami-suami itu menyoal lagi, “Beritahukanlah aku tentang Iman.” Utusan tuhan menjawab,

Iman
adalah engkau beriman kepada Almalik, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para nabi-Nya, masa yaumul akhir dan qadar (ketentuan) Sang pencipta) yang baik dan yang buruk.”

Lanang itu menjawab, “Kamu benar.” Lanang itu menyoal juga, “Beritahukanlah aku mengenai Ihsan.” Utusan tuhan menjawab,

Ihsan
yaitu kamu menyembah Almalik seolah-olah anda mengaram-Nya, jika beliau lain dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kemudian bani adam itu pergi. Sehabis itu aku (Umar) diam beberapa momen. Kemudian Rasulullah ﷺ‎ bertanya kepadaku, “Wahai Umar siapakah orang nan hinggap tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih memaklumi.” Dulu Nabi ﷺ‎ bersabda, “Sesungguhnya laki-laki itu adalah Malaikat Roh kudus AS. Ia hinggap kepadamu bagi mengajarkan agamamu.”

(HR. Muslim: 9)
[10]

Dari segi alamiah, awal ketiganya ialah satu kesatuan yang bukan terbagi-bagi. Namun lebih lanjut para ulama mengadakan pemecahan, sehingga menjadi bagian mantra seorang. Babak-bagian itu mereka elaborasi sehingga menjadi putaran hobatan nan berlainan. Perhatian terhadap Iman mencadangkan ilmu tauhid alias ilmu usuludin (teologi).[9]
Perhatian khusus pada aspek Islam (dalam pengertian yang sempit) menghadirkan ilmu fikih ataupun hobatan hukum Islam. Sementara itu penelitian terhadap dimensi Ihsan babaran ilmu suluk alias hobatan akhlak.[9]

Namun demikian, meskipun telah menjadi ilmu tersendiri, intern pangkat camar duka arwah beragama, tiga perkara itu harus diterapkan secara bersamaan tanpa mengerjakan pembedaan. Lain terlalu mementingkan aspek Iman dan meninggalkan matra Ihsan dan Selam, atau sebaliknya.[11]
Misalnya anak adam nan sedang shalat, dia harus megesakan Yang mahakuasa disertai keyakinan bahwa hanya Engkau yang wajib disembah (Iman), harus memenuhi syarat dan rukun shalat (Islam), dan shalat harus dilakukan dengan khusyuk dan penuh penghayatan (Ihsan).[11]

Muslim

Mukmin adalah orang nan memeluk ajaran Selam dengan cara menyatakan kesaksiannya akan halnya keesaan Allah dan kenabian Muhammad.[12]
Bentuk jamaknya adalah muslimin, muslimun, alias umat Islam.



Konsep ketuhanan

Bagi informasi kian lanjut, lihat Sang pencipta (Islam).

Konsep sumber akar mengenai ketuhanan di n domestik Islam dijelaskan kerumahtanggaan suatu surah bernama Surah Al-Nirmala yang hanya terdiri dari empat ayat. Ayat pertama berusul surah ini menyebutkan bahwa Almalik yang Maha Esa bernama Sang pencipta. Ayat kedua mengklarifikasi tentang kemampuan yang dimiliki-Nya sebagai Tuhan, adalah perumpamaan tempat meminta segala apa sesuatu. Kemudian, pada ayat ketiga disebutkan rasam-Nya ialah enggak beranak dan tidak diperanakkan. Ayat keempat lagi menamakan sifat-Nya merupakan tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya.[13]
Dalam wangsit Selam. Allah adalah satu-satunya Tuhan nan berhak disembah, n kepunyaan nama-nama terbaik, dan punya sifat dan karakter tertinggi.[14]
Wahyu monoteisme Islam disebut tauhid, nan didefinisikan sebagai pengesaan Yang mahakuasa privat keadaan-hal yang menjadi kekhususan Allah dan yang Engkau wajibkan.[15]
Pengesaan Yang mahakuasa dalam hal-kejadian kekhususan Tuhan dibagi menjadi dua bahasan:
tauhid rububiyah
dan
tauhid asma’ wash-shifat, sedangkan pengesaan Sang pencipta internal kejadian-hal yang Dia wajibkan dibahas dalam
tauhid uluhiyah.[16]



Tauhid (Monoteisme)

Intern tauhid rububiyah, Allah diakui sebagai satu-satunya
Rabb
(Yang Menguasai), sehingga semua selain Allah merupakan
‘abd
(hamba/budak/yang dikuasai).[17]
Tuhan yakni Rabb Yang Berkuasa dalam penciptaan, pengurusan, dan imperium bendera sepenuh.[18]
Allah sebagai semata Pencipta yaitu sekali lagi Nan Membagi makanan, Yang Menyemarakkan, Nan Mematikan, serta Yang Memberi manfaat dan bahaya.[19]
Allah yang menggapil segala sesuatu; semua urusan yang Dia tangani adalah kebaikan; dan Almalik Mahakuasa terhadap barang apa nan Dia kehendaki.[19]
Dalilnya yaitu ayat kerumahtanggaan Al-Qur’an, “Segala apa penciptaan dan urusan menjadi peruntungan-Nya.”[Al-A’raf:54]
[18]

Allah juga diakui mempunyai kesempurnaan nama dan atribut (atribut esensial dan atribut aksidental) selain mencipta, mengurus, dan merajai liwa semesta; hal ini dibahas dalam tauhid asma wa aturan (wahdah nama dan adat).[16]
Nama dan sifat Sang pencipta diketahui melalui dan ditetapkan dengan Al-Qur’an dan Sunnah puas makna tersuratnya dan tidak bisa ditetapkan makanya akal busuk semata.[20]
Sahaja, jenama dan adat Halikuljabbar tidak cacat; selain berpokok yang disebutkan privat Al-Qur’an dan Sunnah dirahasiakan privat ilmu gaib-Nya.[21]

Dalam tauhid uluhiyah, Halikuljabbar diakui sebagai Tuhan Nan Maha Esa dalam barang apa lembaga peribadahan berpokok seluruh basyar-Nya.[16]
Pengakuan Allah bagaikan suatu-satunya Rabb berkonsekuensi penyembahan makhluk kepada Rabb-nya satu-satunya.[22]
Ibadah atau penghambaan diri kepada Allah merupakan polah cucu adam bikin merendahkan diri kepada-Nya dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi pemali-pantangan-Nya sama tua nasib.[23]
Ibadah bukan dapat ditujukan sedikit pun kepada selain Halikuljabbar.[24]
Beribadah kepada selain Tuhan, meskipun juga menyembah Allah, yaitu dosa yang paling segara intern Islam yang disebut dengan syirik (mempersekutukan Halikuljabbar), begitu juga disebutkan dalam firman-Nya:[24]

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika kamu memberi pelajaran kepadanya, ”Aduhai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sepatutnya ada mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang segara.”
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌAya-13.png
—Qur’an Luqman:13

Asmaulhusna

Allah menguraikan tentang nama-nama dan atribut-atribut ketuhanan di Alquran.[25]

Zikir dan doa

Zikir dan doa adalah dua macam ibadah kepada Almalik nan secara umum tidak memiliki batasan periode dan panggung.[26]
Zikir secara bahasa artinya mengingat alias menamai. Secara istilah, zikir mencangam ibadah memuji Tuhan, memahfuzkan nama-nama-Nya, nikmat-Nya, keputusan dan ganjaran-Nya, ajaran agama-Nya, serta janji penangkisan pahala dan ancaman siksa-Nya.[27]
Ibadah wirid mencakup zikir lever dan ratib lisan.[28]
Ratib bermaksud bakal takhlik kesempurnaan peribadahan kepada Allah.[29]
Membaca Al-Qur’an pun termasuk zikir.[30]

Doa secara bahasa artinya memanggil maupun meminta. Secara istilah, doa mencakup panggilan pujian dan permintaan kepada Allah.[31]
Setiap muslim diperbolehkan untuk sembahyang meminta keefektifan atau mengadem berpokok keburukan.[32]
Allah memerintahkan untuk beribadat kepada-Nya dengan takbir-doa nan terdapat di Al-Qur’an dan Sunnah.[33]
Doa yang tidak terwalak di n domestik Al-Qur’an dan Sunnah diperbolehkan selain doa yang melampaui batas, seperti meminta sebaiknya memaklumi barang apa sesuatu maupun memafhumi keadaan gaib karena itu merupakan kekhususan Tuhan.[33]

Visiun Islam: Takwa

Sebuah sekolah Al-Qur’an di Jawa. Makanya: Tropenmuseum, National Museum of World Cultures.

Inti pecah petunjuk Islam kontan sebab plural khasiat ialah takwa kepada Allah.[34]
Takwa adalah perbuatan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya yang dilandasi oleh rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah.[35]
Koteng muslim menyembah Tuhan juga privat lembaga berharap ikut suralaya dan terhindar dari neraka.[36]
Istilah takwa merupakan istilah yang paling banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Adapun ayat nan minimal menjelaskan tentang kedudukan takwa yakni:[37]

Dan alangkah, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu sepatutnya bertakwa kepada Allah. وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
—Qur’an An-Nisa’:131

Seluruh ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan sunnah (perilaku vitalitas Nabi Muhammad) bisa dikelompokkan menjadi tiga judul besar berdasarkan bidang kajian keilmuannya. Pertama, wahyu yang bersambung dengan keimanan terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab suci yang diturunkan-Nya, para utusan-Nya, dan peristiwa di arwah setelah kematian. Pembahasan hal ini tercakup privat latar aji-aji
Aqidah
(ilmu agama). Kedua, petunjuk yang berhubungan dengan perbuatan hati dan hayat, nilai-nilai budi pekerti, dan adat perilaku. Visiun ini dimaksudkan untuk meluaskan sifat-aturan mulia dan tercakup intern meres hobatan
Tata susila
dan
Adab
(etika). Ketiga, petunjuk nan berbimbing dengan perbuatan bodi nan mencakup perintah, larangan, dan kebolehan. Ajaran ini timbrung internal meres ilmu
Fiqih
(hukum Islam).[38]
[39]



Aqidah: asisten

Tajali sosi intern Islam adalah hal-keadaan yang menyangkut pembantu atau keyakinan lever.

Muslim juga mempercayai Berbaik Iman yang terdiri atas 6 perkara, yakni:

  1. iman kepada Allah,
  2. iman kepada malaikat Allah,
  3. iman kepada kitab Allah (Al-Qur’an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf),
  4. iman kepada nabi dan rasul Allah,
  5. iman kepada perian kiamat, serta
  6. iman kepada ketentuan.


Fiqih: ibadah dan muamalah

Aspek hukum n domestik Islam menghampari berjenis-jenis amal perbuatan.[38]
Kebajikan-amal ragam tersebut boleh dibagi menjadi dua kategori dasar menurut sebelah hubungannya.

Ibadah
Ibadah adalah amal perbuatan khalayak berhubungan dengan Allah. Ibadah cak semau yang sejati ibadah,[a]
seperti Salat dan puasa; ada yang ibadah sosial,[b]
sebagaimana Zakat dan Haji. Keempat amal ini disebut sebagai “Rukun Islam” sehabis syahadat.
Muamalah
Muamalah merupakan polah manusia berbimbing dengan manusia tak. Syariat yang mengatur komplikasi muamalah dibagi sekali lagi menjadi catur sub-episode:

  • hukum-hukum nan memastikan keberlangsungan dakwah Selam dan mempertahankannya. Hukum-hukum ini adalah nan dimaksud dengan Jihad. Jihad dapat berupa upaya bersenjata dan upaya tidak bersenjata.
  • syariat-hukum keluarga cak bagi mereservasi dan membina keluarga. Di dalamnya termasuk hukum pernikahan, perpisahan, dan warisan.
  • hukum-hukum bazar yang mengeset transaksi bisnis, kontrak sewa-pinjam, dan lain-lain.
  • hukum-syariat perdata yang mengeset tindakan kriminal intern masyarakat.[40]


Kesusilaan dan akhlak

Enggak hanya sekadar menjalani wahi iman dan kebajikan, Islam juga mengajari kiranya semua mukminat menghiasi diri lahir dan batin dengan kesusilaan dan moral indah.[41]

Tata krama-etik kerumahtanggaan Islam:[42]
[43]

  • moral kepada Yang mahakuasa, tertulis adab n domestik niat
  • adab kepada Al-Qur’an
  • adab kepada Muhammad sebagai utusan Allah
  • adab kepada diri sendiri: taubat, muroqobah, muhasabah, dan mujahadah
  • budi pekerti kepada semua manusia
    • berbakti kepada orang tua
    • menambat hubungan komunitas (silaturahim)
    • mengerjakan baik kepada tetangga
    • berbuat baik kepada anak yatim, duafa miskin, dan anak jalanan
    • tidak mencela, berburuk sangka, memata-matai, maupun menaburkan keburukan orang lain (gosip)
  • tata krama persaudaraan, cinta, dan benci karena Halikuljabbar
  • adab majelis
  • moral makan dan minum
  • budi pekerti bertamu
  • adab bepergian
  • adab berpakaian
  • tata krama tidur

Akhlak-kesusilaan terpuji dalam Islam:[42]

  • panjang hati menghadapi cobaan
  • bertawakal kepada Allah dan tidak hanya mengandalkan diri seorang
  • memperkerap orang lain dan mencintai kurnia
  • adil dan berimbang
  • kasih sayang
  • malu
  • mengerjakan yang terbaik
  • jujur
  • dermawan
  • rendah diri, tidak sombong

Akhlak-akhlak tercela internal Islam:[42]

  • lalim
  • panas hati
  • menipu
  • riya’
  • bangga diri dan tertipu oleh dunia
  • lemah dan malas



Pengarak ajaran Islam: Muhammad

Album dan keyakinan mukmin menggambarkan Muhammad seumpama seorang manusia dan nabi yang mempunyai jasa yang lautan.[44]
Biografi mengenai umur awalnya tak banyak diketahui; nan lebih banyak merupakan catatan riwayat mengenai kehidupannya setelah menjadi nabi dan rasul pada usia empat desimal hari pada tahun 610.[44]
Al-Qur’an menjadi sumber informasi terdepan akan halnya semangat Nabi Muhammad.[45]
Di samping itu, hadis dan biram nabawi (rekaman atma kenabian) selanjutnya menggambarkan kursi dan perannya puas masa awal Islam.[46]
Muhammad dolan bak pemeroleh wangsit semenjak Tuhan dan simultan bak panutan seyogiannya semua muslim berusaha menirunya.[46]

Sebelum mendakwahkan Selam

Muhammad bin Abdullah (putra Abdullah) lahir sreg tahun 570 M di Mekkah (sekarang masuk Arab Saudi).[47]
[c]
Ayahnya yang merupakan sendiri pedagang meninggal sebelum kelahirannya.[48]
Ibunya, Aminah, meninggal saat Muhammad masih berusia enam tahun.[49]
Di mula-mula masa mudanya, Muhammad tidak n kepunyaan pekerjaan patuh di Mekkah nan yakni kota ekspor impor yang sedang berkembang; banyak nan menyebutkannya bekerja umpama penggembala kambing.[50]
Pada usia 25 tahun Muhammad dipekerjakan oleh seorang janda berkecukupan, Khadijah binti Khuwailid, cak bagi menyibuk angkutan dagangnya ke wilayah Syam (sekarang mencangam Yordania, Lebanon, Suriah, dan Palestina).[51]
Muhammad membuat Khadijah terbujuk atas hasil pekerjaannya yang mendatangkan keuntungan yang belum pernah ia dapatkan sebanyak itu–selain juga butir-butir asisten Khadijah yang menyertai pengelanaan dagang itu tentang perilaku Muhammad–sebatas Khadijah menawarkan diri kepada Muhammad kerjakan menikah.[52]
Detik menikah, Khadijah disebutkan mutakadim berusia empat desimal tahun, tetapi ijab nikah itu membuahkan dua momongan laki-suami (Al-Qasim dan Abdullah, meninggal saat kanak-kanak) dan empat anak perempuan (Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah).[53]
Fatimah, putri bungsu Muhammad, adalah yang paling dikenal, yang menikahi sepupu Muhammad, Ali bin Abi Thalib, khalifah (“penerus”; penerus Nabi Muhammad misal komandan) keempat menurut Islam sunni dan imam sah pertama menurut Syiah.[46]

Mekkah merupakan pusat kemakmuran perdagangan.[46]
Namun, masyarakatnya yakni umum kesukuan yang mudah bersinggungan.[54]
Beberapa kejadian yang menunjukkan situasi tersebut, yang pula melibatkan Muhammad, adalah Pertempuran Fujjar, Hilful Fudul, serta pembaharuan Ka’bah dan evakuasi Hajar Aswad.[55]
Peristiwa-peristiwa tersebut dan kondisi sosiologis lainnya turut mempengaruhi Muhammad, yang menjadi seorang pribadi yang sukses di tengah publik Mekkah.[46]
Anda dihormati atas sifatnya yang boleh dipercaya dan keputusan-keputusannya terhadap persengketaan; dia dikenal dengan gelarnya
al-Amīn, “yang boleh dipercaya”.[56]
Kejujuran itu lengkap dengan kesukaannya merenung nan akhirnya membentuk engkau terbiasa menyendiri di Terowongan Hira’–yang bubar hampir dua mil di utara Mekkah–saat usianya mendekati catur puluh tahun.[57]

Di sini, dalam waktu yang lama mengasingkan diri, kamu merenungkan kehidupannya dan penyakit yang menghinggapi masyarakatnya.[46]
Di sini, di usianya yang keempat desimal sreg bulan Ramadan, pada lilin batik yang disebut Lailatul Qadar, “malam kemuliaan”, Muhammad mengakuri wahyu pertama bersumber Almalik melewati perantara Malaikat Rohulkudus.[58]
Wahyu yang turun ialah lima ayat permulaan Piagam al-‘Alaq.[59]

(1) Bacalah dengan (menyebut) merek Tuhanmu yang menciptakan,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَAya-1.png
(2) Dia mutakadim menciptakan manusia dari sekelumit darah.
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍAya-2.png
(3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Keluhuran,
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُAya-3.png
(4) Yang mengajar (hamba allah) dengan pen.
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِAya-4.png
(5) Dia mengajarkan makhluk segala yang tidak diketahuinya.
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْAya-5.png
—Qur’an Al-‘Alaq:1-5

Dengan turunnya wangsit ini, Muhammad diangkat menjadi nabi seperti nabi-nabi yang dikenal dalam agama-agama samawi.[60]
Setelah wahyu nan berikutnya turun setelah pause beberapa tahun,[d]
yaitu sapta ayat permulaan Surat Al-Muddassir, Muhammad yunior diutus seumpama seorang utusan tuhan (“utusan”) yang diperintah untuk mendakwahkan tauhid (monoteisme) dan memperingatkan masyarakatnya dari kesyirikan (politeisme).[61]
Selama 22 tahun (610-632), Muhammad terus mengamini wahyu yang kemudian dikumpulkan dan ditulis menjadi Al-Qur’an (“bacaan”).[60]

(1) Duhai orang yang berkemul (berselimut)!
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُAya-1.png
(2) bangunlah, dulu berilah peringatan!
قُمْ فَأَنذِرْAya-2.png
(3) dan agungkanlah Tuhanmu,
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْAya-3.png
(4) dan bersihkanlah pakaianmu,
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْAya-4.png
(5) dan tinggalkanlah apa (ragam) yang brutal,
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْAya-5.png
(6) dan janganlah beliau (Muhammad) memberi (dengan tujuan) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُAya-6.png
(7) Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْAya-7.png
—Qur’an Al-Muddassir:1-7

Hadis bermula Aisyah, istri kedua Muhammad di kemudian tahun, menceritakan betapa Muhammad ketakutan saat ditemui malaikat Rohulkudus, yang sosoknya tidak pernah ia lihat sebelumnya.[62]
Dia juga bukan begitu berpengharapan dengan apa yang hijau saja terjadi; apakah dia tidak waras atau kesambet jin.[60]
Khadijah menenangkannya dan meyakinkannya bahwa dia tidaklah gila maupun kesurupan jin.[63]
Khadijah taajul mengajak suaminya itu merodong pelecok seorang sepupunya yang menganut Kristen, Waraqah kedelai Naufal,[e]
dan Muhammad mengobrolkan situasi nan baru sekadar menimpanya.[63]
Mendengar itu, Waraqah mengatakan,

Itu merupakan bani adam kepercayaan Sang pencipta[f]
(Jibril) nan telah Almalik utus kepada Rasul Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda momen itu! Misal saja aku masih semangat ketika kamu diusir maka itu kaummu! … tidak seorang kembali yang membawa sama dengan yang ia bawa ini melainkan akan dimusuhi, dan jika aku masih roh kapan itu niscaya aku akan membelamu dengan seberinda jiwa ragaku.[64]

Dakwah di Mekkah

Bukanlah kejadian yang mudah mendakwahkan pesan mengenai Yang mahakuasa Yang Maha Esa di Kota Mekkah karena kota ini yakni pusat agama.[65]
Muhammad mengawali dakwahnya secara diam-diam sejauh tiga tahun buat memencilkan hal nan akan memancing kemarahan penduduk Kota Mekkah.[66]
Di antara yang pertama menerima ajakannya adalah Ali polong Abi Thalib, sepupu dan menantunya nan momen itu masih kanak-kanak, dan Bubuk Bakar, mertuanya di kemudian masa dan khalifah purwa.[67]
Setelah itu, dia secara berantara berdakwah secara terang-terangan mulai dari anak bini terdekat dari Anak lelaki Hasyim sampai akhirnya kepada warga Mekkah secara awam.[68]

Kendatipun suka-suka sejumlah orang yang masuk Selam menyepakati dakwahnya, perlawanan nan dia terima selama dakwahnya sangat hebat.[69]
Bakal publik oligarki Mekkah yang kaya dan kuat, pesan tentang keesaan Sang pencipta, beserta penentangan terhadap mode hidup Mekkah yang tidak merata secara sosioekonomis, sudah memunculkan penolakan langsung tidak hanya terhadap agama tradisi yang politeistik, namun juga terhadap kekuasaan dan prerogatif yang mutakadim mereka nikmati, serta mengancam keistimewaan politik, sosial, dan ekonomi mereka.[69]
Nabi Muhammad mencaci transaksi-transaksi tak benar, riba, serta pengabaian dan eksploitasi terhadap janda dan anak yatim.[69]
Dia membela hak-properti orang-basyar miskin dan orang-orang tertindas, menekankan bahwa cucu adam-orang kaya memiliki tanggung atas anak adam-orang miskin.[69]
Sebagai bentuk komitmen atas kewajiban itu, ditetapkanlah zakat atas harta dan produk persawahan dan perladangan.[69]
Persis sebagai halnya Amos dan Yeremia sebelum dia, Muhammad merupakan seorang “pemberi peringatan” bermula Tuhan kerjakan memanggil para pendengarnya untuk bertobat dan bertakwa kepada-Nya, karena hari penghakiman sudah dempang:

(49) Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku (diutus) kepadamu sebagai pemberi peringatan yang nyata.”
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌAya-49.png
(50) Maka basyar-orang yang beriman dan mengerjakan darmabakti, mereka mem-cak dapat abolisi dan lambung yang mulia.
فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌAya-50.png
(51) Hanya orang-individu yang berusaha menumpu ayat-ayat Kami dengan intensi melemahkan (kemauan cak bagi percaya), mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka Jahim.
وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِAya-51.png
—Qur’an Al-Hajj:49-51[69]

Awalnya, warga Mekkah hanya berusaha seharusnya sosok-insan dari luar Mekkah enggak mendengar dakwah itu dan berbuat perbantahan verbal dengan argumentasi dan celaan.[70]
Mortalitas paman dan pelindungnya, Abu Thalib, dan Khadijah plong tahun 619 menambah kesedihannya.[71]
Perkelahian meningkat menjadi tindakan-tindakan persekusi sampai pemboikotan massal.[72]
Karena kondisi di Mekkah mereput, Muhammad mengizinkan para pengikutnya bagi hijrah ke luar Mekkah, seperti Habasyah (Etiopia) yang merupakan negeri Kristen, buat mujur keamanan.[71]

Dakwah di Madinah

Di Madinah, Muhammad memiliki kesempatan sangat luas untuk mewujudkan pemerintahan dan menyebarluaskan dakwah atas perintah Allah, berbahagia posisinya masa ini sebagai nabi dan pemimpin masyarakat berpokok Negara-ii kabupaten Madinah.[71]

Sendang hukum dan ajaran Islam

Komplet halaman cetakan Al-Qur’an, tampak pelataran berisi Surah Al-Fatihah. Surah tersebut ialah surah pertama privat Al-Qur’an.

Fikih (hukum) adalah amatan keilmuan primer dalam Islam.[73]
Jika dalam kekristenan teologi merupakan kajian primernya, dalam Islam, sebagaimana halnya dalam Yudaisme, syariat kian menjadi tutul berat karena
islam
penting tunduk kepada hukum Yang mahakuasa.[74]
Sungguhpun demikian, pengkhususan plong nubuat hukum nan bertabiat praktis tidaklah mengesampingkan ramalan kepercayaan.[74]
Kepercayaan (iman) dan praktek yang benar (amal shalih) saling berkaitan.[74]

Dalam tahun pembentukannya, yaitu selama masa kenabian, ramalan-ilham dan hukum-hukum Islam diambil dari dua wahyu sebagai sumber primer: Al-Qur’an dan sunnah.[75]
Al-Qur’an bertindak sebagai sumber pokok dan rencana induk bikin kehidupan Islami, sedangkan spirit sehari-masa Nabi (sunnah) dolan bagi menerangkan prinsip-pendirian kerumahtanggaan cetak dramatis tersebut serta untuk menunjukkan pendirian mengaplikasikannya.[76]
Pada masa sahabat saat mereka bersentuhan dengan sistem tadbir, budaya, dan paradigma perilaku masyarakat yang hijau yang belum pernah disinggung semasa kenabian, para khalifah dan sahabat lain harus menggunakan proses pengambilan keputusan bersendikan ijmak (“konsensus”) dan ijtihad.[77]
Kerumahtanggaan tahap perkembangannya pada waktu Kekhalifahan Abbasiyah, madzhab fikih bermunculan.[78]
Para padri mazhab, sebagai halnya Imam asy-Syafi’i, dan jamhur lainnya tetap menonjolkan pada penggunaan Al-Qur’an dan sunnah sebagai sumber primer sebelum merujuk puas pendapat sahabat, baik pendapat konsensus alias perseorangan, dan sumber ataupun metode penetapan hukum lainnya berupa
qiyās
(“kias”),
istiḥsān
(“preferensi hukum”), dan
‘urf
(“rasam kebiasaan”).[79]


Al-Qur’an

Al-Qur’an ialah taktik mulai sejak semua argumentasi dan dalil.[10]
Al-Qur’an ialah dalil yang membuktikan validitas risalah Nabi Muhammad, dalil nan membuktikan benar dan tidaknya suatu ajaran. Al-Qur’an juga merupakan kitab Yang mahakuasa bungsu yang menegaskan pesan-pesan kitab-kitab samawi sebelumnya. Halikuljabbar memerintahkan dalam Al-Qur’an kiranya kabilah Mukminat senantiasa mengembari persoalan yang diperselisihkan kepada Almalik dan Nabi-Nya:

(59) Wahai orang-sosok yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang pengaturan) di antara sira. Kemudian, jika beliau berbeda pendapat adapun sesuatu, maka kembalikanlah kepada Almalik (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriktikad kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu bertambah penting (bagimu) dan lebih baik alhasil.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًاAya-59.png
—Qur’an An-Nisa’:59[69]

Mengembalikan permasalahan kepada Allah, berarti mengembalikannya kepada Al-Qur’an.[10]
Sedangkan mengembalikan persoalan kepada Rasul berarti mengembalikannya kepada hadits/sunnah Rasul.

Meskipun Al-Qur’an menyatakan diri, “Inilah (Al-Qur’an) suatu pesiaran yang jelas cak bagi semua manusia, dan menjadi petunjuk serta kursus bikin orang-orang yang bertakwa,”[Ali Imran:138]
yang disebutkan di dalamnya bukanlah aturan hukum yang komprehensif.[80]
Babak demi adegan Al-Qur’an diturunkan secara terus-menerus sejauh rentang perian 22 perian makin bagi menuntaskan persoalan nan dihadapi maka itu Nabi Muhammad dan para sahabatnya.[81]


Titah/Sunnah

Prinsip-prinsip dan nilai-skor privat Al-Qur’an dibakukan dan diejawantahkan makanya sunnah Nabi Muhammad, perilaku normatif Nabi Muhammad nan berfungsi sebagai contoh dan transendental.[82]
Karena sama-sepadan merupakan visiun meskipun dalam wujud yang berbeda dari Al-Qur’an, sunnah juga menjadi sumber hukum; yang kebanyakannya merupakan jawaban dari soal para sahabat alias penjelasan atas peristiwa yang paruh terjadi.[83]
Kedudukan penting sunnah ini telah Al-Qur’an nyatakan dengan susuk kalimat perintah, “Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), … takdirnya kamu berbeda pendapat adapun sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),”[An-Nisa’:59]
atau dengan bentuk kalimat berita, “Sungguh, telah ada puas (diri) Rasulullah itu suri hipotetis yang baik bagimu (yaitu) untuk orang yang mengharap (pemberian) Tuhan dan (keikhlasan) hari Yaumudin dan yang banyak mengingat Allah.”[Al-Ahzab:21]
[84]
[85]

Ijmak

Ijmak adalah kesepakatan para ulama dalam mematok suatu hukum hukum n domestik agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sabda kerumahtanggaan satu perkara nan terjadi.

Analogi

Tamsil merupakan penetapan suatu hukum dan perkara yunior yang belum ada pada masa sebelumnya cuma memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai macam aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi proporsional.

Ki kenangan

Waktu pra Islam

Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Selam merupakan sebuah kewedanan perlintasan perbelanjaan dalam Jalur sutra nan mengeluh antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur.[86]
Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian nan yaitu pemuja agama-agama Kristen dan Yahudi.[87]
Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab detik itu,[88]
karena di sana terletak berhala-tagut agama mereka, tasik Zamzam, dan yang terpenting yaitu Ka’bah.[89]
Mahajana ini disebut pula jahiliyah, artinya bodoh, tak dalam peristiwa intelegensia namun privat pemikiran etik.[90]
Pemukim Quraisy adalah publik nan suka berpuisi, dan menjadikan puisi bak salah suatu hiburan di saat berkumpul di wadah-tempat ramai.[91]



609-632: masa kenabian

Islam bermula pada perian 609 ketika wahyu pertama diturunkan kepada Muhammad di Gua Hira’, 2 mil berbunga Mekah.[92]

Muhammad dilahirkan di Mekkah pada copot 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571). Momen Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan visiun yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Pasca- tiga tahun mengawurkan Islam secara mengendap-endap, ia akhirnya menyampaikan ajaran Selam secara terbuka kepada seluruh penghuni Mekah, yang mana sebagian mengakui dan sebagian lainnya menentangnya.

Sreg musim 622, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut hijrah dan menjadi asal acuan permulaan perhitungan kalender Islam, yaitu Kalender Hijriah. Di Madinah, Muhammad bisa mengesakan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga umat Islam semakin menguat. Dalam setiap resistansi yang dilakukan melawan manusia-orang dahriah, umat Islam rajin mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.

Nama diplomasi nabi Muhammad pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Selam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah nan sebelumnya menjadi oponen kemudian menganjal memeluk Islam, sehingga saat pemilikan kota Mekkah maka itu umat Selam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat di usia nan ke-61, hampir seluruh Semenanjung Arab sudah memeluk Selam.

632-661: Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin
atau Khulafaur Rasyidin memilki arti pemimpin nan diberi wangsit, diawali dengan kepemimpinan Duli Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman kacang Affan dan Ali bin Abu Thalib. Plong periode ini umat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat asal-sumber akar kenegaraan umat Islam dan memintasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Bubuk Thalib berdampak memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada rata-rata untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-kawasan tersebut, banyak harta rampasan perang dan distrik kontrol nan boleh diraih oleh umat Islam.

632-Abad ke-20: Perian kekhalifahan selanjutnya

Selepas waktu Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti bermula tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang pun disebut “khalifah”, ataupun kadang kala disebut “amirul mukminin”, “sultan”, dan sebagainya. Puas hari ini khalifah tidak sekali lagi ditentukan bersendikan orang yang terbaik di galangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun kerumahtanggaan satu dinasti (bahasa Arab:
bani) sehingga banyak nan menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Anak laki-laki Abbasiyyah, hingga Anak laki-laki Utsmaniyyah nan kesemuanya diwariskan berdasarkan keturunan.

Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kemustajaban politik nan terkuat dan terbesar di dunia lega momen itu. Timbulnya bekas-tempat pembelajaran ilmu-aji-aji agama, metafisika, sains, dan pengelolaan bahasa Arab di plural negeri dunia Islam telah membentuk satu kontinuitas kebudayaan Selam yang agung. Banyak juru-ahli ilmu embaran bermunculan berasal plural negeri-negeri Selam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sebatas abad ke-13 serani.

Luasnya wilayah pendakyahan agama Islam dan terpecahnya otoritas kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya beraneka macam otoritas-pengaturan yuridiksi terpisah nan berbentuk “kesultanan”; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki supremsi yang lestari dan terkenal di dunia. Lamun punya kekuasaan terpisah, kesultanan-sultanat tersebut secara nominal masih mengagungkan dan menganggap diri mereka bagian berpangkal kekhalifahan Selam.

Puas kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Sultanat Utsmaniyyah (Imperium Ottoman) yang secara nominal dianggap ibarat kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Bumi I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas maka dari itu suku bangsa pemuda Turki nan di pimpin oleh Mustafa Kemal Pasya atau Kemal Atatürk, sistem imperium dirombak dan diganti menjadi republik.

Masyarakat dan budaya Islam

Demografi dan Denominasi

Populasi Muslim mayapada. Maka itu: Pew Forum.

Sebuah data penekanan tahun 2015 memperkirakan 1.752.620.000 kehidupan (24,1%) berpangkal populasi dunia yaitu muslim dengan biji pertumbuhan sejak 2010 yaitu 31%.[93]
Mayoritas muslim (61%) tinggal di negara-negara Asia-Pasifik; di Timur Paruh dan Afrika Lor adalah 20%; di Sub-Gurun adalah 16%, dan 3% di Eropa.[93]
Jumlah muslim diperkirakan akan meningkat 70% pada tahun 2060 menjadi 2.987.390.000 jiwa; tentang Masehi diperkirakan mencapai 3.054.460.000 vitalitas sreg tahun yang sama.[93]

  • Sunni

Arus Sunni ataupun
Ahlu Sunnah wal Jamaah, yakni diseminasi yang dianut mayoritas (75-90 %) Muslim di dunia.[94]
Istilah “Sunni” bisa diartikan sebagai golongan yang menirukan Sunnah (adat istiadat) berpunca Nabi Muhammad.[95]

Sejumlah mazhab fiqih (hukum Selam) terdepan intern aliran Sunni adalah Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi.[96]
Akan tetapi, terdapat pemikiran Salafi privat aliran Sunni yang menunda menirukan (taqlid) kepada mazhab-mazhab tersebut.[97]

Sufisme Ilmu sufi kerumahtanggaan arus Sunni didefinisikan seumpama wahyu penajaman batin (tirakat) kepada Tuhan, semisal dalam kerangka dzikir.[98]
Terdapat pula pemikiran Wahhabisme yang dicetuskan maka dari itu Muhammad ibn Abd al-Wahhab bak perseptif ultra-konservatif yang dengan pengkhususan kepada “ramalan monoteisme murni” yang kudrati berbunga barang apa “ketidakmurnian” seperti praktik-praktik yang mereka anggap bid’ah, penyekutuan allah dan khurafat.[99]
[100]
Wahhabisme menjadi paham Sunni yang berkembang di Arab Saudi dan Qatar.

  • Syiah

Berbeda dengan aliran Sunni, sirkulasi ini memercayai bahwa penerus nabi Muhammad adalah khalifah Ali bin Abi Thalib umpama menantu dan nasab langsung Bani Hasyim, keluarga utusan tuhan Muhammad, sementara Serbuk Bakar, Umar, dan Usman enggak diakui perumpamaan khalifah umat Islam oleh pengikut Syiah.

Syiah dianut oleh mayoritas di Iran.

Periode raya dan musim besar

Perian perayaan dalam Islam secara umum dapat dibagi menjadi musim raya keagamaan dan hari besar lainnya. Waktu raya keagamaan Islam suka-suka dua, yaitu:[101]

  • Idul Fitri
  • Idul Adha

Padahal hari besar Islam lainnya, antara enggak yakni:

  • Isra Mikraj
  • Maulid Nabi Muhammad
  • Tahun Baru Hijriyah

Arena ibadah

Musala (bentuk bukan sah: mesjid) adalah rumah tempat ibadah umat Islam. Masjid artinya gelanggang sungkem, sebutan tidak yang berkaitan dengan surau di Indonesia adalah musala, sajadah, atau zawiat; istilah tersebut diperuntukkan bakal bangunan menyerupai bandarsah nan enggak digunakan untuk salat Jumat, iktikaf, dan umumnya berukuran mungil. Selain digunakan misal tempat ibadah, masjid juga merupakan pokok nyawa peguyuban muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, amatan agama, lektur dan belajar Al-Qur’an sering dilaksanakan di Masjid. Terlebih kerumahtanggaan sejarah Islam, masjid timbrung memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan sampai kemiliteran.

Wahyu

Dimenangkan atas segala apa agama

Nubuat atas kemenangan Islam atas segala agama disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 33. Ayat ini mandraguna firman Almalik bahwa Selam akan dimenangkan atas segala agama. Kemajuan Islam ini diawali makanya penugasan rasul yang mengirimkan ilham berupa Al-Qur’an. Ayat ini juga menyatakan bahwa orang-orang musyrik tidak menyukai kemenangan tersebut. Nubuat akan halnya kemenangan Selam sekali lagi disampaikan kerumahtanggaan Surah As-Saff ayat 9 dan Surah Al-Fath ayat 28 dengan redaksi yang mirip. Kemenangan yang dimaksudkan dalam ayat-ayat tersebut tak berkaitan dengan penampikan. Keberhasilan nan dimaksud adalah takrif bahwa diikutinya ajaran-ajaran Selam lamun suku bangsa musyrik tidak menyukainya. Mereka akan menirukan ajaran Islam dengan menganggapnya ibarat kebenaran dan tidak hanya sebagai bagan kepatuhan semata.[102]

Lihat kembali

  • Din
  • Ar-Rabb, Al-Malik, Ilah
  • Bersuci berusul hadas
  • Akademikus Muslim
  • Daftar topik agama Islam
  • Masa Asyura
  • Hidayatullah
  • Isra’ Mi’raj
  • Kemurtadan
  • Nabi Islam
  • Perbankan syariah
  • Puasa (Islam)
  • Rasulullah
  • Seni rupa Islam
  • Shiratal Mustaqim
  • Jamhur
  • Waktu gelap puasa
  • Salafus Shalih
  • Memori Islam di Indonesia

Referensi

Catatan tungkai


  1. ^

    Esposito 1988, hlm. 3.

  2. ^


    “Religious Composition by Country, 2010-2050”.
    Pew Research Center. 2 April 2015. Diakses tanggal
    21 Desember
    2021
    .





  3. ^

    Wasik 2016, hlm. 227.
  4. ^


    a




    b




    c



    Cornell 2007, hlm. 6.

  5. ^


    Cornell 2007, hlm. 6; Syalabi 1985, hlm. 28.

  6. ^

    Hambali 2017, hlm. 17.

  7. ^

    Syalabi 1985, hlm. 28.

  8. ^

    Syalabi 1985, hlm. 5.
  9. ^


    a




    b




    c




    1978-, Anam, Choirul,.
    Pemikiran KH. Achmad Siddiq tentang: aqidah, syari’ah dan tasawwuf, khitthah NU 1926, hubungan agama dan Pancasila, negara kesatuan RI bentuk final, watak sosial Ahlussunnah, seni dan agama. OCLC 945650142.




  10. ^


    a




    b




    c





    Risalah ahlussunnah wal-jama’ah : dari adaptasi menuju pemahaman dan pleidoi akidah-amaliah NU. Horizon.U.. Pengurus Kewedanan Jawa Timur. Tim Aswaja (edisi ke-Cet. 1). Surabaya: Khalista. 2012. ISBN 978-979-1353-36-6. OCLC 808811005.




  11. ^


    a




    b




    Abdusshomad, Muhyiddin (2008).
    Hujjah NU : akidah, amaliah, pagar adat
    (edisi ke-Cet. 1). Surabaya: Khalista. ISBN 978-979-1353-06-9. OCLC 606237527.





  12. ^

    Why Islam.

  13. ^


    Nuruddin, Muhammad (2021).
    Keadaan-Hal yang Mencemaskan Seputar Tuhan. Depok: Keira. hlm. 78. ISBN 978-623-7754-64-0.





  14. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 16.

  15. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 15.
  16. ^


    a




    b




    c



    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 17.

  17. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 15-16.
  18. ^


    a




    b



    Al-Utsaimin 2000, hlm. 21.
  19. ^


    a




    b



    Zaki 2017.

  20. ^

    Al-Utsaimin 1984, hlm. 6-8.

  21. ^

    Al-Utsaimin 1984, hlm. 8.

  22. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 18.

  23. ^

    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 21.
  24. ^


    a




    b



    At-Tuwaijiri 2010, hlm. 26.

  25. ^


    “The Names and Attributes of Halikuljabbar”.
    WhyIslam?. 25 October 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-03-09. Diakses tanggal
    18 Maret
    2021
    .





  26. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. I/697, I/703, II/7.

  27. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. I/697-8.

  28. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. I/702.

  29. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. I/697.

  30. ^

    Jawas 2005, hlm. 5.

  31. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. II/7.

  32. ^

    At-Tuwaijiri 2009, hlm. 9-10.
  33. ^


    a




    b



    At-Tuwaijiri 2009, hlm. II/10.

  34. ^

    At-Taqwa Sabab Kull Khair.

  35. ^

    Al-Asyqar 2012, hlm. 9-10.

  36. ^

    Al-Asyqar 2012, hlm. 11.

  37. ^

    Asy-Syarif 2017.
  38. ^


    a




    b



    Philips 2006, hlm. 26.

  39. ^

    Syalabi 1985, hlm. 29.

  40. ^

    Philips 2006, hlm. 26-27.

  41. ^

    Al-Asyqar 1994, hlm. 147.
  42. ^


    a




    b




    c



    Al-Jazairy 1964.

  43. ^

    Al-Asyqar 1994.
  44. ^


    a




    b



    Esposito 1988, hlm. 7.

  45. ^

    Esposito 1988, hlm. 7-8.
  46. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f



    Esposito 1988, hlm. 8.

  47. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Sinai & Watt 2020.

  48. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 63.

  49. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 69.

  50. ^


    Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 73; Esposito 1988, hlm. 8.

  51. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 74; Sinai & Watt 2020.

  52. ^


    Sinai & Watt 2020; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 74.

  53. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 75; Sinai & Watt 2020.

  54. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2017.

  55. ^

    Al-Mubarakfuri 2017.

  56. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 77-79.

  57. ^


    Esposito 1988, hlm. 8; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 81.

  58. ^

    Esposito 1988, hlm. 8-9.

  59. ^


    Esposito 1988, hlm. 9; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 84; Sinai & Watt 2020.
  60. ^


    a




    b




    c



    Esposito 1988, hlm. 9.

  61. ^


    Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 85-6; Al-Barrak 2010, hlm. 38.

  62. ^


    Esposito 1988, hlm. 9; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 83-4.
  63. ^


    a




    b




    Esposito 1988, hlm. 9; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 84.

  64. ^

    Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 84-5.

  65. ^


    Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 92; Esposito 1988, hlm. 10.

  66. ^

    Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 92.

  67. ^


    Esposito 1988, hlm. 10; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 92-3.

  68. ^

    Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 96-10.
  69. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g



    Esposito 1988, hlm. 10.

  70. ^

    Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 100-6.
  71. ^


    a




    b




    c



    Esposito 1988, hlm. 11.

  72. ^


    Esposito 1988, hlm. 11; Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 152-4.

  73. ^

    Esposito 1988, hlm. 75.
  74. ^


    a




    b




    c



    Esposito 1988, hlm. 68.

  75. ^


    Al-Asyqar 1994, hlm. 222; Philips 2006, hlm. 19.

  76. ^


    Philips 2006; Asy-Syatsri 2007, hlm. 218.

  77. ^

    Philips 2006, hlm. 55.

  78. ^

    Philips 2006, hlm. 73.

  79. ^

    Philips & 2006 82-4.

  80. ^

    Esposito 1988, hlm. 79-80.

  81. ^

    Philips 2006, hlm. 19.

  82. ^

    Esposito 1988, hlm. 80.

  83. ^

    Philips 2006, hlm. 21.

  84. ^

    Esposito 1988, hlm. 80-1.

  85. ^


    “MARKAZSUNNAH.COM | MENEBAR SUNNAH Menuai HIKMAH”.
    Markaz Sunnah
    . Diakses tanggal
    2022-06-05
    .





  86. ^

    Jerry Bentley, Old World Encounters: Cross-Cultural Contacts and Exchanges in Pre-Modern Times Diarsipkan 2016-08-07 di Wayback Machine. (New York: Oxford University Press, 1993), 32.

  87. ^

    Abdurrahman 2012, hlm. 16-20.

  88. ^

    Translated by C H Oldfather,
    Diodorus Of Sicily, Volume II, William Heinemann Ltd., London & Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, MCMXXXV, p. 217.

  89. ^


    Hawting, G. R. (1980). “The Disappearance and Rediscovery of Zamzam and the ‘Well of the Ka’ba“.
    Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London.
    43
    (1): 44–54 (44). doi:10.1017/S0041977X00110523. JSTOR 616125.





  90. ^

    Amros, Arne A. and Stephan Pocházka 2004:
    A Concise Dictionary of Koranic Arabic Diarsipkan 2016-08-07 di Wayback Machine., Reichert Verlag, Wiesbaden

  91. ^


    Nu’mani, Syekh Maulana Shilbi (2015).
    Best Stories Umar Bin Khaththab. Puspa Swara. hlm. 19. ISBN 979-1479-85-2, 9789791479851. Diarsipkan dari versi tulen tanggal 2016-08-07. Diakses copot
    2016-06-02
    .





  92. ^

    Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 82.
  93. ^


    a




    b




    c



    Hackett & Stonawski 2017.

  94. ^


    “Mapping the Menyeluruh Mukmin Population: A Report on the Size and Distribution of the World’s Mukminat Population”.
    Pew Research Center. October 7, 2009. Diarsipkan bersumber varian asli rontok 2018-12-25. Diakses sungkap
    2013-09-24
    .
    Of the jumlah Muslim population, 10–13% are Shia Muslims and 87–90% are Sunni Muslims.





  95. ^


    John L. Esposito, ed. (2014). “Sunni Islam”.
    The Oxford Dictionary of Selam. Oxford: Oxford University Press. Diarsipkan bermula versi asli tanggal 2018-10-05. Diakses tanggal
    2020-01-20
    .





  96. ^


    Rabb, Intisar A. (2009). “Fiqh”. Intern John L. Esposito.
    The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/acref/9780195305135.001.0001. ISBN 9780195305135.





  97. ^


    Al-Yaqoubi, Muhammad (2015).
    Refuting ISIS: A Rebuttal Of Its Religious And Ideological Foundations. Sacred Knowledge. hlm. xiii. ISBN 978-1908224125.





  98. ^


    A Prayer for Spiritual Elevation and Protection
    (2007) by Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Suha Taji-Farouki

  99. ^


    Commins, David (2006).
    The Wahhabi Mission and Saudi Arabia. I.B. Tauris. hlm. vi. ISBN 9781845110802.





  100. ^

    Abu Mujahid & Haneef Oliver, Virus Wahabi, Toobagus Publishing, 2010, hal. 120 – 121.

  101. ^

    Hadis Rasulullah saw, diriwayatkan dari Anas kedelai Malik, “Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua masa raya untuk bersenang-senang dan berlaku-main sreg musim jahiliyah. Maka sira berkata, “Aku hinggap kepada kalian dan kalian n kepunyaan dua hari raya pada masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah sudah menggilir keduanya dengan yang lebih baik untuk kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (musim Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Mukmin sebagai halnya introduksi Syaikh Syu’aib Al Arnauth.

  102. ^


    asy-Sya’rawi, M. Mutawalli (2007). Basyarahil, U., dan Legita, I. R., ed.
    Kamu Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan oleh al-Mansur, Abu Abdillah. Jakarta: Gema Insani. hlm. 8. ISBN 978-602-250-866-3.




Kutipan


  1. ^

    Istilah klasik:
    ‘ibādah nāqiṣah. Istilah kontemporer:
    ‘ibādah maḥḍah.

  2. ^

    Istilah klasik:
    ‘ibādah muta‘addiyyah. Istilah kontemporer:
    ‘ibādah ghairu maḥḍah.

  3. ^

    Al-Mubarakfuri (2017:64) menyebutkan skor hari kelahiran 571 M, lengkapnya 20 alias 22 April 571.

  4. ^

    Beberapa riwayat yang jasa baik menyebutkan bahwa jeda perian antara nubuat pertama dengan wahyu berikutnya adalah dua setengah atau tiga hari.(Al-Mubarakfuri 2017, hlm. 85)

  5. ^

    Atau Waraqah bin Qushay (Esposito 1988, hlm. 9).

  6. ^

    Maupun “Namus yang agung” (Esposito 1988, hlm. 9).

Daftar pustaka

Abdurrahman, Dudung (2012). Siti Maryam, ed.
Sejarah Kebudayaan Selam: Berpokok Hari Klasik setakat Modern. LESFI. hlm. 16-20. ISBN 9795670247. Diarsipkan dari varian steril tanggal 2019-04-06. Diakses tanggal
2019-04-06
.



Accad, Martin (2003).
“The Gospels in the Orang islam Discourse of the Ninth to the Fourteenth Centuries: An Exegetical Inventorial Table (Part I)”
Perlu langganan berbayar

.
Islam and Christian-Muslim Relations
(dalam bahasa Inggris).
14
(1). ISSN 0959-6410.



Objektif, Hajjah Amina (2002).
Muhammad: The Messenger of Islam
(dalam bahasa Inggris). Islamic Supreme Council of America. ISBN 978-1-930409-11-8.



Ahmed, Akbar (1999).
Islam Today: A Short Introduction to the Orang islam World
(dalam bahasa Inggris) (edisi ke-2.00). I. B. Tauris. ISBN 978-1-86064-257-9.



Al-Asyqar, Umar Sulaiman (1994).
Naḥw Ṡaqāfah Islamīyah Aṣīlah
(dalam bahasa Arab). Amman, Yordania: Darun Nafais. Diarsipkan dari versi jati tanggal 2019-05-24. Diakses terlepas
2019-04-06
.



———— (2012).
Al-Taqwā Ta‘rīfuhā Wafaḍluhā Wamaḥḋūrātuhā Waqaṣaṣ min Aḥwālihā
(dalam bahasa Arab). Amman, Yordania: Darun Nafais. Diarsipkan dari versi asli terlepas 2019-07-16. Diakses tanggal
2019-04-06
.



Al-Barrak, Abdurrahman Nashir (2010). Abdurrahman as-Sudais, ed.
Syarḥ Ṡalāṡat al-Uṣūl. Syarḥ al-Qawā‘id al-Arba‘ Wal-Uṣūl al-Ṡalāṡah Wanawāqiḍ al-Islām Wakasyf al-Syubuhāt (internal bahasa Arab). Riyadh: Darut Tadmuriyyah. Diarsipkan dari versi asli terlepas 2020-08-09. Diakses tanggal
2020-04-21
.



Al-Jazairy, Abu Bakar Jabir (1964).
Minhāj al-Muslim
(internal bahasa Arab). Kairo: Darus Salam.



Al-Julayyil, Abdulaziz bin Nashir (2017).
Walillāh al-’Asmā’ al-Ḥusnā Fad‘ūhu Bihā
(internal bahasa Arab). Iskandariyah: Al-Qisthawi. ISBN 978-977-430-226-8.



Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyurrahman (2017) [2001 (edisi revisi)].
Sirah Nabawiyah
(edisi ke-22). Jakarta: Darussalam. ISBN 978-979-3407-71-5.



Al-Utsaimin, Muhammad ash-Shalih (1984).
Syarḥ Lum‘at al-I‘tiqād al-Hādī ilā Sabīl al-Rasyād
(dalam bahasa Arab). Damaskus: Muassasatur Risalah, Maktabatur Rusyd. Diarsipkan dari varian murni tanggal 2020-08-12. Diakses sungkap
2019-10-09
.



———— (2000).
Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāṣiṭīyah
(intern bahasa Arab).
1. Riyadh: Dar Ibnul Jauzy. Diarsipkan dari varian suci tanggal 2019-09-10. Diakses tanggal
2019-04-26
.



Asy-Syarif, Isham bin Muhammad (24 October 2017). “Ahmīyah al-Taqwā fī Ḥayāh al-Muslim”.
Alukah
(internal bahasa Arab). Diarsipkan dari varian kudus sungkap 2019-04-06. Diakses rontok
6 April
2019
.



Asy-Syatsri, Sa’ad bin Nashir bin Abdul-Aziz, Dr. (2007).
Syarḥ al-Mukhtaṣar fī Uṣūl al-Fiqh
(dalam bahasa Arab). Riyadh, KSA: Daru Kunuz Eshbelia. Diarsipkan terbit varian ceria copot 2019-07-16. Diakses copot
2019-05-11
.



At-Tuwaijiri, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah (2009).
Mawsū‘at al-Fiqh al-Islāmī
(privat bahasa Arab). Amman: Baitul Afkarid Dauliyah. Diarsipkan mulai sejak versi ceria sungkap 2019-09-11. Diakses tanggal
2019-10-09
.



———— (2010).
Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān was-Sunnah
(internal bahasa Arab). Qasim, Arab Saudi: Dar Ashdaa`il Mujtama’. Diarsipkan dari versi tulus tanggal 2019-05-16. Diakses tanggal
2019-04-19
.



Brockopp, Jonathan E. (2003).
Islamic Ethics of Life: abortion, war and euthanasia
(kerumahtanggaan bahasa Inggris). University of South Carolina press. ISBN 1-57003-471-0.



Clark, Malcolm (2011).
Selam for Dummies. Indiana: Wiley Publishing Inc. Diarsipkan berpunca versi nirmala tanggal 2017-10-14. Diakses rontok
2016-06-01
.



Cohen-Mor, Dalya (2001).
A Matter of Fate: The Concept of Fate in the Arab World as Reflected in Beradab Arabic Literature
(dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 0-19-513398-6.



Cornell, Vincent J. (2007).
Voices of Islam: Voices of tradition
(dalam bahasa Inggris).
1
(edisi ke-berilustrasi). Greenwood Publishing Group. ISBN 0-275-98733-7. Diarsipkan bersumber varian masif sungkap 2016-08-07. Diakses tanggal
2016-06-01
.




id, 9780275987336
Curtis, Patricia A. (2005).
A Guide to Food Laws and Regulations
(intern bahasa Inggris). Blackwell Publishing Professional. ISBN 978-0-8138-1946-4.



Eglash, Ron (1999).
African Fractals: Modern Computing and Indigenous Design
(internal bahasa Inggris). Rutgers University Press. ISBN 0-8135-2614-0.



Ernst, Carl (2004).
Following Muhammad: Rethinking Islam in the Contemporary World
(dalam bahasa Inggris). University of North Carolina Press. ISBN 0-8078-5577-4.



Esposito, John (1988).
Islam: The Straight Path
(n domestik bahasa Inggris). New York: Oxford University Press. ISBN 9780195043990. Diarsipkan dari versi asli terlepas 2019-10-10. Diakses tanggal
2019-10-10
.



Farah, Caesar (1994).
Islam: Beliefs and Observances
(privat bahasa Inggris) (edisi ke-5th). Barron’s Educational Series. ISBN 978-0-8120-1853-0.



———— (2003).
Islam: Beliefs and Observances
(n domestik bahasa Inggris) (edisi ke-7th). Barron’s Educational Series. ISBN 978-0-7641-2226-2.



Firestone, Rueven (1999).
Jihad: The Origin of Holy War in Islam
(privat bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 0-19-512580-0.



Friedmann, Yohanan (2003).
Tolerance and Coercion in Selam: Interfaith Relations in the Muslim Tradition
(dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-02699-4.



Ghamidi, Javed (2001).
Mizan. Dar al-Ishraq. OCLC 52901690.



Goldschmidt, Jr., Arthur (2005).
A Concise History of the Middle East
(dalam bahasa Inggris) (edisi ke-8th). Westview Press. ISBN 978-0-8133-4275-7.



Griffith, Ruth Marie (2006).
Women and Religion in the African Diaspora: Knowledge, Power, and Performance
(intern bahasa Inggris). Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-8370-9.



Hackett, Conrad; McClendon, David (5 April 2017). “Christians remain world’s largest religious group, but they are declining in Europe”.
Pew Research Center
(dalam bahasa Inggris). Diarsipkan semenjak versi asli tanggal 2019-11-24. Diakses tanggal
31 Maret
2019
.



Hackett, Conrad; Stonawski, Marcin (5 April 2017). The Changing Global Religious Landscape
(PDF)
(Kenyataan). Pew Research Center. Diarsipkan
(PDF)
dari versi asli sungkap 2018-12-21. Diakses terlepas
2019-04-19
.
Babies born to Muslims will begin to outnumber Christian births by 2035; people with no religion face a birth dearth.



Hawting, G. R. (2000).
The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661–750
(dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 0-415-24073-5.



Hedayetullah, Muhammad (2006).
Dynamics of Islam: An Exposition
(intern bahasa Inggris). Trafford Publishing. ISBN 978-1-55369-842-5.



Holt, P. M.; Lewis, Bernard (1977a).
Cambridge History of Islam, Vol. 1
(dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-29136-4.



————; Lambton, Ann K. S.; Lewis, Bernard (1977b).
Cambridge History of Selam, Vol. 2
(dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-29137-2.



Hourani, Albert (2003).
A History of the Arab Peoples
(dalam bahasa Inggris). Belknap Press; Revised edition. ISBN 978-0-674-01017-8.



Humphreys, Stephen (2005).
Between Memory and Desire
(n domestik bahasa Inggris). University of California Press. ISBN 0-520-24691-8.



Ibnu Baz, Abdul Aziz kedelai Abdullah (nd). “Ta’rīf bi Dīn al-Islām”.
Al-Imam Polong Baz
(dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari versi salih tanggal 2017-11-10. Diakses tanggal
10 November
2017
.



———— (nd). “At-Taqwā Sabab Kull Khair”.
Al-Imam Bin Baz
(kerumahtanggaan bahasa Arab). Diarsipkan bersumber versi sejati copot 2020-09-22. Diakses tanggal
6 April
2019
.



“Islam Explained”.
Why Islam?
(dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi kudus tanggal 2019-11-13. Diakses copot
2019-04-06
.



Jawas, Yazid kacang Abdul Qadir (2005).
Do’a & Ratib: Mengobati Keistimewaan-guna dan Sihir Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah. Jakarta: Pustaka Pastor Asy-Syafi’i. ISBN 978-979-3536-18-7.



Kobeisy, Ahmed Nezar (2004).
Counseling American Muslims: Understanding the Faith and Helping the People
(dalam bahasa Inggris). Praeger Publishers. ISBN 978-0-313-32472-7.



Koprulu, Mehmed Fuad (1992).
The Origins of the Ottoman Empire
(n domestik bahasa Inggris). SUNY Press. ISBN 0-7914-0819-1.



Kramer, Martin (1987).
Shi’Ism, Resistance, and Revolution
(dalam bahasa Inggris). Westview Press. ISBN 978-0-8133-0453-3.



Kugle, Scott Alan (2006).
Rebel Between Kehidupan And Law: Ahmad Zarruq, Sainthood, And Authority in Islam
(dalam bahasa Inggris). Indiana University Press. ISBN 0-253-34711-4.



Lapidus, Pangsa (2002).
A History of Islamic Societies
(internal bahasa Inggris) (edisi ke-2nd). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77933-3.



Madelung, Wilferd (1996).
The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate
(dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-64696-0.



Malik, Jamal (2006).
Sufism in the West
(privat bahasa Inggris). Routledge. ISBN 0-415-27408-7.



Menski, Werner F. (2006).
Comparative Law in a Universal Context: The Resmi Systems of Asia and Africa
(privat bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-85859-3.



Mohammad, Noor (1985). “The Doctrine of Jihad: An Introduction”.
Journal of Law and Religion
(dalam bahasa Inggris).
3
(2).



Momen, Moojan (1987).
An Introduction to Shi`i Islam: The History and Doctrines of Twelver Shi`ism
(dalam bahasa Inggris). Yale University Press. ISBN 978-0-300-03531-5.



Nasr, Seyed Muhammad (1994).
Our Religions: The Seven World Religions Introduced by Preeminent Scholars from Each Tradition (Chapter 7)
(dalam bahasa Inggris). HarperCollins. ISBN 0-06-067700-7.



Nigosian, Solomon A. (2004).
Islam: Its History, Teaching, and Practices. Indiana: Indiana University Press. ISBN 0-253-21627-3. Diarsipkan dari versi asli rontok 2016-05-03. Diakses copot
2016-06-01
.



Philips, Abu Ameenah Bilal, Dr. (2006).
The Evolution of FIQH (Islamic Law and the Madh-habs)
(privat bahasa Inggris). Riyadh: International Islamic Publishing House. ISBN 9960-9533-3-5.



Sinai, Nicolai; Watt, William Montgomerry (19 March 2020). “Muhammad: Prophet of Islam”.
Encyclopædia Britannica
(dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli copot 2017-02-09. Diakses tanggal
20 April
2020
.



Syalabi, Muhammad Musthafa (1985).
Al-Madkhal fī Fiqh al-Islāmī
(privat bahasa Arab). Beirut: Addarul Jami’iyyah. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2017-06-26. Diakses tanggal
2019-04-15
.



Thalal, Wisam (1 August 2016). “Maa Huwa Ta’rīf al-Islām”.
Maudhū‘
(n domestik bahasa Arab). Diarsipkan dari versi kalis sungkap 2017-11-11. Diakses tanggal
10 November
2017
.



Wasik, Moh. Ali (2016). “Islam Agama Semua Nabi” dalam Perspektif Al-Qur’an”.
ESENSIA: Buletin Ilmu-Hobatan Ushuluddin. Yogyakarta: UIN Sinuhun Kalijaga.
17
(2). ISSN 1411-3775. Diarsipkan dari varian murni tanggal 2017-11-10. Diakses tanggal
10 November
2017
.



Zaki, Ahmad (14 January 2017). “Mā Huwa Tawḥīd al-Rubūbīyah”.
Maudhū‘
(dalam bahasa Arab). Diarsipkan terbit versi asli terlepas 2021-04-05. Diakses tanggal
26 April
2019
.



Bacaan lanjutan

  • Arberry, A. J. (1996).
    The Koran Interpreted: A Translation
    (edisi ke-1st). Touchstone. ISBN 978-0-684-82507-6.



  • Hawting, Gerald R. (2000).
    The First Dynasty of Islam: The Umayyard Caliphate AD 661–750. Routledge. ISBN 0-415-24072-7.



  • Khan, Muhammad Muhsin (1999).
    Noble Quran
    (edisi ke-1st). Dar-us-Salam Publications. ISBN 978-9960-740-79-9.



  • Kramer (ed.), Martin (1999).
    The Jewish Discovery of Islam: Studies in Honor of Bernard Lewis. Syracuse University. ISBN 978-965-224-040-8.



  • Kuban, Dogan (1974).
    Orang islam Religious Architecture. Brill Academic Publishers. ISBN 90-04-03813-2.



  • Lewis, Bernard (1984).
    The Jews of Islam. Routledge & Kegan Paul. ISBN 0-7102-0462-0.



  • ———— (1993).
    The Arabs in History. Oxford University Press. ISBN 0-19-285258-2.



  • ———— (1993).
    Islam in History: Ideas, People, and Events in the Middle East. Open Court. ISBN 978-0-8126-9217-4.



  • ———— (1994).
    Selam and the West. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-509061-1.



  • ———— (1996).
    Cultures in Conflict: Christians, Muslims, and Jews in the Age of Discovery. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-510283-3.



  • ———— (1997).
    The Middle East. Scribner. ISBN 978-0-684-83280-7.



  • ———— (2003).
    What Went Wrong?: The Clash Between Selam and Modernity in the Middle East
    (edisi ke-Reprint). Harper Perennial. ISBN 978-0-06-051605-5.



  • ———— (2004).
    The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror. Random House, Inc., New York. ISBN 978-0-8129-6785-2.



  • Najeebabadi, Akbar Shah (2001).
    History of Selam. Dar-us-Salam Publications. ISBN 978-1-59144-034-5.



  • Nigosian, S. A. (2004).
    Islam: Its History, Teaching, and Practices
    (edisi ke-New Edition). Indiana University Press. ISBN 978-0-253-21627-4.



  • Rahman, Fazlur (1979).
    Selam
    (edisi ke-2nd). University of Chicago Press. ISBN 0-226-70281-2.



  • Walker, Benjamin (1998).
    Foundations of Islam: The Making of a World Faith. Peter Owen Publishers. ISBN 978-0-7206-1038-3.





Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Islam

Posted by: and-make.com