Ajaran Agama Hindu Mengenal Kerangka Dasar

Jakarta (Kemenag) — Harapan agama Hindu merupakan hingga ke kesukaan rohani dan kedamaian bodi. Kerumahtanggaan pustaka Weda disebut “Mokshartham Jagathitaya Ca Iti Dharma”. Agama atau dharma itu yakni kerjakan mencapai moksa (kebahagiaan rohani) dan jagathita yang artinya menjejak kemandirian jiwatman terhadap kebahagiaan profan.

Bakal sampai ke hal tersebut, agama Hindu menjabarkan menjadi tiga kerangka asal, yaitu: “Tatwa (filsafat), Etika (susila), dan Upacara (ritual).

A. Tatwa

Tatwa yaitu makulat, ajaran, manifesto yang bersumber mulai sejak Weda (Sruti dan Smerti). Weda terdiri atas enam kunarpa tubuh atau Sad Wedangga, yakni:  Siksha (fonetika dan fonologi/sandi), Chanda (irama), Wyakarana (manajemen bahasa), Nirukta (etimologi), Jyotisa (ilmu perbintangan/ramalan bintang), dan Kalpa (ilmu mengenai upacara keagamaan).

Kalpa Wedangga terdiri atas empat diversifikasi menurut topiknya, yaitu: Srauta Sutra (manual untuk seremoni besar), Grhya Sutra (manual bakal orang berumah tangga), Dharma Sutra (manual bagi melakukan rezim), dan Sulva Kenur (manual lakukan membuat gedung-bangunan agama hindu)

Dalam perkembangannya, ramalan agama Hindu di Indonesia maka dari itu para anak adam suci/maharsi disusun dan disesuaikan dengan tempat mereka mengembangkan tanzil intern bentuk Rontal/Lontar. Salah satunya adalah Sulva Untai, intern Bahasa Jawa kuno disebut sebagai rontal/lontar kosala dan kosali. Ada juga Jyotisa, di Bali sering dipakai ibarat pedoman berburu tahun baik maupun wariga/wewaran.

Dalam perkembangan ramalan agama Hindu, dikenal lagi: daya-pokok wangsit agama Hindu, Lima Srada, Tri Guna (tiga kebiasaan alami nan ada sejak lahir), Tri Hitakarana (tiga penyebab kebahagiaan), Tri Mewah Parisudha (tiga perbuatan yang harus dijaga kesuciannya), Tri Rna (tiga hutang orang), Catur Purusa Arta, dan banyak pula ajaran atau filsafat sebagai halnya Bhagawad Gita, Samkya, Sarasamuscaya, dan bukan sebagainya.

B. Etika

Etika ataupun susila berbunga dari perkenalan awal “su” yang bermakna baik, luhur, harmonis dan “sila” yang berarti prilaku, tata prinsip/manajemen laku. Bintang sartan susila bermakna tingkah laku turunan yang baik intern mengadakan perpautan imbang balik yang sekelas dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta dan dengan halikuljabbar (tri hita karana). Setiap bani adam guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya hendaknya selalu menjaga kesucian perhatian, tuturan, dan ragam (tri kaya parisudha).

Di lingkungan keluarga misalnya, anak asuh-anak hendaknya berbicara dan berkelakuan nan sopan terhadap orang tua bangka. Orang sepuh kembali agar membagi komplet/teoretis tentang perilaku nan baik kepada anaknya, sehingga terjadi hubungan nan harmonis di lingkungan anak bini.

Dalam menjaga sangkut-paut dengan bendera,  saat akan menebang pohon untuk digunakan, maka moga menanam pokok kayu plonco sebagai pengganti. Setiap orang sepatutnya merawat lingkungan sekitar sehingga alam taat lestari.

Sementara bikin menjaga koalisi dengan Ida Sanghyang Widi/Almalik, boleh dilakukan dengan Nitya Yadnya (persembahyangan Tri Sandhya, Mesesaiban/Ngejot), dan Naimitika Yadnya (persembahyangan sreg tahun-waktu tertentu misalnya hari-waktu suci, Tilem, Purnama, Galungan, Kuningan, Perenungan dan tahun suci lainya). Selain kedua cara di atas, relasi dengan Tuhan bisa pula dilakukan dengan berdoa dalam kegiatan sehari-hari (doa makan, sebelum makan, mau bekerja dan sebagainya) bisa sekali lagi dengan berjapa.

C. Seremoni

Upacara merupakan kegiatan agama Hindu dalam bentuk ritual. Ada lima formalitas/yadnya nan dikenal dalam Hindu maupun yang disebut dengan Lima Yadnya, yaitu: Batara Yadnya (formalitas hari suci tilem, purnama, galungan), Rsi Yadnya (upacara pewintenan, diksa, dan lainnya), Pitra Yadnya (seremoni ngaben/kematian), Manusia Yadnya (upacara otonan, bacok gigi, pewiwahan/nikah, dan lainnya),  Bhuta Yadnya (upacara Mecaru, mesegeh).

Saat kita berbicara formalitas tentu ada yantra dan ilmu (upeti/Banten dan tahmid).  Bhagawadgita Gerbang IX Sloka 26 menjelaskan: Patram Puspam Phalam Toyam, Yo me bhaktya prayacchati, Tad aham bhakty-upahrtam, Aasnami prayatatmanah. Artinya, siapapun dengan sujud bhakti kepada-ku menyembahkan sehelai daun, sekuntum rente, seuntil buah-buahan, seteguk air, aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Tatwa, Etika, Susila merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Ketiganya mesti dimiliki dan dilaksanakan maka itu umat Hindu. Begitu eratnya kaitan antara ketiga dasar ini, sehingga diumpamakan begitu juga sebuah telur ayam aduan nan terdiri dari: kuning telur dan sarinya adalah tatwa, putih telur yakni susila, padahal kulit telur adalah upacara.

Telur itu sempurna. Jika ketiga bagiannya sempurna dan dipanaskan dengan tepat dan baik maka itu sang induk ayam, maka akan menetaslah telur itu maupun lahirlah anak ayam sebagai tujuan penutup dari diciptakannya telur.

Mamanda Shanti Shanti Shanti


I Nyoman Artawan (Ditjen Bimas Hindu)


Source: https://kemenag.go.id/read/memahami-tiga-kerangka-dasar-agama-hindu-v3ojj

Posted by: and-make.com