Ajaran 5 Dasar Kebenaran Dalam Mahabharata

Kisah mahabarata adalah
salah suatu kisahan adapun umur dan kebenaran yang sudah lama dikenal semenjak generasi ke generasi. Kisah Mahabarata merupakan paparan tentang peperangan antara kebenaran yang diwakili oleh para pandawa dan ketidakbenaran yang diwakili oleh para kurawa. Tidak belaka menunjukkan nilai-kredit kebenaran tetapi juga mengajarkan tentang nilai-poin manusiawi kerumahtanggaan hal ini pelecok satu contohnya adalah bagaimana kiranya kaum lelaki memperlakukan wanita, karena pada dasarnya wanita tersebut merupakan seseorang yang seharusnya mendapatkan penghargaan, derajat nan sederajat dengan kabilah lelaki dan bahkan terlazim untuk dihormati.

            Ajaran-tajali kebenaran nan diberikan oleh Basudewa Khrisna dalam kisahan Mahabarata yakni pelecok satu adegan terpenting dalam avontur narasi Mahabarata iu sendiri. Tanzil-tajali kebenaran Khrisna telah membukakan mata bagi sejumlah tokoh seperti Bisma, Guru Dhrona, dan Karna untuk mencatat bahwa apa yang selama ini mereka anggap benar ternyata yakni suatu kesalahan.

                Simbol-huruf angka internal kisah Mahabarata bagi saya pribadi masih sangatlah relevan n domestik spirit momen ini meskipun kisah itu sendiri telah ditulis ribuan hari yang lalu. Komplet-pola kehidupan hamba allah pron bila ini masih ada yang hampir sekelas dengan kisah di Mahabarata meskipun sudah banyak perbaikan nan sudah diupayakan oleh manusia. Salah satu hal nan masih bisa kita lihat, kita dengar detik ini merupakan bagaimana kaum upik sering mendapatkan kebiadaban ditengah habis-habisan-gencarnya perjuangan dalam mewujudkan kesetaraan gender. Hal tersebut juga telah digambarkan ribuan tahun yang sangat dalam kitab Mahabarata.

                   Seandainya kita mengimak tayangan Mahabarata di pelecok satu TV Nasional, suka-suka salah suatu adegan nan menarik, yaitu pada saat Khrisna berbicara dengan Sengkuni. Momen itu dalam pelecok satu dialognya Khrisna mengatakan bahwa ketika ini ada turunan nan menggunakan pendirian-prinsip kebenaran cak bagi melakukan satu ketidakbenaran. Untuk saya hal itu sangat relevan dengan kondisi saat ini seperti yang akhir-akhir ini comar kita baca, dengar dan melihat dari berbagai rupa media yang ada. Momen ini banyak turunan menunggangi pendirian-prinsip etis cak bagi melakukan satu perbuatan yang tidak sopan. Banyak anak adam yang mengatasnamakan regulasi, hukum, dan kekuasaan bakal melakukan tindakan-tindakan yang enggak benar.

                         Perang antara legalitas dan ketidak-real akan terus berlangsung pecah musim ke masa, akan unjuk sengkuni dan kurawa modern, tetapi jangan pula lupa bahwa akan ada pandawa-pandawa baru yang akan terus berjuang buat mengakkan kesahihan, dan terutama cak semau “Sira” Yang Maha Luang yang akan selalu ada dan mendampingi pejuang-pejuang Kebenaran.

Source: https://wafa-sharing.blogspot.com/2015/02/kisah-mahabarata-dan-relavansinya.html

Posted by: and-make.com