Ajaran 5 Dasar Kebenaran Dalam Mahabaratha

Kresna
कृष्ण
Dewa Hindu
Awatara Wisnu sebagai putra kedelapan Basudewa dari Dinasti Yadu.
Sang pencipta Yang Mahakuasa dalam perguruan Gaudiya Waisnawa.
Ejaan Dewanagari कृष्ण
Ejaan IAST kṛṣṇa
Tera lain Acyuta; Basudewa; Bagawan; Gopala; Gowinda; Hari; Kesawa; Madawa; Narayana; Wisnu; dan enggak-lain.
Golongan Dewa,
Awatara Wisnu
Senjata Cakra Sudarsana
Ki alat Garuda
Pasangan Radha, Rukmini,

Satyabama, Jambawati,

dan 16.104 istri lainnya
Mantra ॐ नमो भगवते वासुदेवाय
Om Namo Bhagavate Vāsudevāya

Kresna
atau
Krishna

(Dewanagari:
कृष्ण;,IAST:
kṛṣṇa

,; dibaca
[ˈkr̩ʂɳə]
)

adalah salah suatu dewa yang dipuja oleh umat Hindu, berwujud pria berjangat gelap maupun biru tua, mengaryakan dhoti kuning dan mahkota yang dihiasi surai merak. Dalam seni lukis dan arca, umumnya engkau digambarkan semenjana bermain bangsi sambil berdiri dengan kaki yang ditekuk ke samping. Legenda Hindu dalam kitab
Purana
dan
Mahabharata
menyatakan bahwa beliau merupakan putra kedelapan Basudewa dan Dewaki, bangsawan dari kerajaan Surasena, kerajaan mitologis di India Utara. Secara umum, ia dipuja misal awatara (inkarnasi) Dewa Wisnu kedelapan di antara sepuluh awatara Wisnu. Dalam beberapa tali peranti perguruan Hindu, misalnya Gaudiya Waisnawa, ia dianggap misal manifestasi dari legalitas mutlak, alias perwujudan Halikuljabbar itu sendiri,[1]
dan dalam tafsiran kitab-kitab yang mengatasnamakan Wisnu maupun Kresna, misalnya
Bhagawatapurana, ia dimuliakan perumpamaan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.[2]
Dalam
Bhagawatapurana, ia digambarkan sebagai sosok penggembala muda yang mahir bermain seruling, sedangkan dalam wiracarita
Mahabharata
dia dikenal sebagai cucu adam kepala yang bijaksana, kebal, dan berwibawa. Selain itu engkau dikenal pula sebagai otak yang memasrahkan ajaran filosofis, dan umat Hindu meyakini
Bhagawadgita
sebagai kitab nan memuat kotbah Kresna kepada Arjuna adapun ilmu rohani.

Kisah-kisah akan halnya Kresna muncul secara luas di berbagai ruang lingkup agama Hindu, baik internal tradisi filosofis maupun teologis.[3]
Berbagai pagar adat menggambarkannya intern berbagai rupa sudut pandang: bagaikan dewa kanak-kanak, tukang canda, pahlawan mandraguna, dan Yang Mahakuasa.[4]
Spirit Kresna dibahas dalam beberapa susastra Hindu, yaitu
Mahabharata,
Hariwangsa,
Bhagawatapurana, dan
Wisnupurana.

Pemujaan terhadap betara maupun pahlawan yang disebut Kresna—internal wujud Basudewa, Balakresna maupun Gopala—dapat ditelusuri sebatas semula abad ke-4 SM. Deifikasi Kresna seumpama
Swayam Bhagawan, alias Halikuljabbar Sang pencipta, yang dikenal ibarat Kresnaisme, muncul lega Abad Pertengahan dalam situasi Gerakan Bhakti. Bermula abad ke-10 M, Kresna menjadi subjek favorit dalam seni pergelaran. Tradisi pemujaan di masing-masing daerah mengembangkan berbagai ragam wujud/aspek Kresna seperti Jagadnata di Orissa, Witoba di Maharashtra dan Shrinathji di Rajasthan. Sekte Gaudiya Waisnawa yang terpusat pada deifikasi kepada Kresna didirikan pada abad ke-16, dan sejak tahun 1960-an sekali lagi telah menyebar di Dunia Barat, sebagian besar disebabkan makanya organisasi Awam Internasional Kognisi Kresna (International Society for Krishna Consciousness
– ISKCON).[5]

Segel dan gelar

[sunting
|
sunting sumber]

Ejaan Kresna
Dewanagari:
कृष्ण
Jawa:

Kresna-aksara Jawa.png

Bali:

Kresna - aksara Bali.png

IAST (Latin):

kṛṣṇa

IPA:
[ˈkr̩ʂɳə]

Intern aksara Dewanagari,

Kṛṣṇa

ditulis

कृष्ण

(dibaca
[ˈkr̩ʂɳə]
), dengan bunyi konsonan silabis
, atau disebut juga vokal

(dalam aksara Dewanagari disimbolkan dengan
, sedangkan dalam alfabet Fonetis Internasional disimbolkan dengan huruf
[r̩ ]
). Dalam abc Jawa, huruf vokal



tersebut dialihaksarakan sebagai huruf
Pa cerek
(huruf
Ra repa
n domestik abc Bali) yang menandakan bunyi
/rə/
daripada
/r̩/
(ditulis dengan lambang bunyi Latin “Re”), karena obstulen konsonan silabis

seperti mana dalam bahasa Sanskerta lain terdapat dalam bahasa Jawa dan Bali. Makanya kata

कृष्ण

dialihaksarakan menjadi “Kresna” (dibaca
[ˈkrəsna]
).

Arca Kresna di Mayapur, India. Lega arca ini, Kresna digambarkan berjangat hitam.

Pembukaan

kṛṣṇa

dalam bahasa Sanskerta lega dasarnya merupakan kata keadaan yang bermanfaat “hitam”, “gelap” ataupun “spektakuler tua”. Alas kata tersebut berhubungan dengan prolog čьrnъ (
crn
, ‘hitam’) dalam rumpun bahasa Slavia. Sebagai kata benda feminin, alas kata

kṛṣṇā

digunakan dengan makna “malam, hitam, kegelapan” internal kitab ceria
Regweda, dan sebagai hantu puaka atau jiwa kegelapan kerumahtanggaan mandala (bab) IV
Regweda. Untuk nama diri, kata

Kṛṣṇa

muncul internal mandala VIII sebagai nama koteng penyair. Sebagai salah satu jenama Wisnu, kata “Kṛṣṇa” terdaftar bagaikan nama ke-57 dalam kitab
Wisnu Sahasranama
(Sewu Nama Wisnu). Berdasarkan nama tersebut, Kresna sering kali digambarkan kerumahtanggaan patung dengan kulit hitam alias sensasional.

Kresna kembali dikenal dengan berbagai macam nama, julukan, dan gelar, nan mencerminkan beraneka ragam atribut dan keadaan-hal yang berkaitan dengannya. Kerumahtanggaan kitab
Mahabarata
dan
Bhagawadgita, Kresna disebut dengan berbagai nama, sesuai karakteristiknya. Beberapa nama tersebut di antaranya:
Acyuta
(yang kekal; teguh);
Arisudana
(penghancur teman);
Bagawan
(Yang Jabar);
Gopala
(pelindung sapi);
Gowinda
(pengangon sapi);
Hresikesa
(penguasa indria);
Janardana
(mukhalis umat manusia);
Kesawa
(nan berambut indah);
Kesinisudana
(pembunuh raksasa Kesi);
Madawa
(suami dewi keberuntungan);
Madusudana
(pembunuh raksasa Madhu);
Mahabahu
(nan berlengan perkasa);
Mahayogi
(rohaniwan agung);
Purusottama
(turunan penting, nan bersifat paling baik);
Warsneya
(keturunan Wresni);
Basudewa;
Wisnu;
Yadawa
(pertalian keluarga Yadu);
Yogeswara
(penguasa segala keefektifan batin).

Di antara berbagai namanya, yang terkenal adalah
Gowinda, “pengangon sapi”, atau
Gopala, “pelindung para sapi”, merujuk kepada pengalaman musim mungil Kresna di Braj.[6]
[7]
Beberapa nama lainnya dianggap terdahulu bagi wilayah tertentu; misalnya,
Jagatnata
(penguasa alam semesta), naik daun di Puri, India Timur.[8]

Pelukisan

[sunting
|
sunting mata air]

Reca Kresna di Singapura yang mengilustrasikan episode dalam
Mahabharata, ketika ia menunjukkan wujud aslinya kepada Arjuna, sesaat sebelum perang di Kurukshetra dimulai.

Patung Balakresna yang tersimpan di Museum Kewarganegaraan, New Delhi, India.

Kresna dapat dikenali secara mudah dengan mengamati atribut-atributnya. Privat wujud reca, Kresna digambarkan bersisik hitam alias gelap, alias bahkan ikhlas. N domestik budaya pewayangan Jawa, Kresna digambarkan bersisik hitam, sedangkan di Bali, ia digambarkan berkulit bau kencur. Dalam penggambaran masyarakat misalnya lukisan modern, Kresna umumnya digambarkan sebagai pemuda bersisik dramatis. Warna hitam merupakan rona Betara Wisnu menurut konsep Nawa Dewata, padahal biru melambangkan kependekaran, kebulatan tekad, manah yang mantap dalam menghadapi keadaan rumit, serta kesadaran yang komplet.[9]
[10]
Warna spektakuler sekali lagi merepresentasi langit dan laut, masing-masing berharga luas dan internal yang takhlik suatu ketidakterbatasan, selaras halnya seperti Wisnu.[11]

Sira sering bisa jadi tampil dengan dhoti (semacam kemben) berbahan sutra bercelup kuning, melambangkan cahaya nan mengancaikan ketaksaan.[11]
Kepalanya dihiasi mahkota dengan bulu merak, melambangkan tata surya berwarna-warni dalam kegelapan,[11]
maupun pokok energi di atas indria.[12]
Visualisasi umum kebanyakan menampilkannya sebagai anak asuh katai, maupun seorang adam n domestik gaya santai, sedang memainkan seruling.[13]
[14]
Dalam wujud ini, ia biasanya ditampilkan berdiri dengan kaki yang ditekuk ke samping. Kadang kala ditemani para sapi, memfokuskan posisinya sebagai penggembala ilahi (Govinda). Dalam agama Hindu, sapi dianggap suci karena melambangkan Ibu Pertiwi.[9]

Peran Kresna sebagai sais kereta Arjuna di tempat perang Kurukshetra, begitu juga nan tergambar dalam wiracarita
Mahabharata, adalah subjek umum lain intern penggambaran Kresna. Internal kejadian ini, anda ditampilkan perumpamaan manusia pria, acap kali dengan karakteristik dewa-dewi dalam kesenian Hindu, misalnya banyak lengan maupun atasan, dan dengan atribut Wisnu, misalnya cakra. Bagaikan koteng sais formal, ia ditampilkan dengan dua lengan. Lukisan gua berusul masa 800 SM di Mirzapur, Uttar Pradesh, India Utara, yang memunculkan pertempuran sais-sais delman, salah satu di antaranya tampak akan melemparkan cakram yang probabilitas besar boleh dikenali sebagai Kresna.[15]

Penggambaran dalam kuil sering mungkin mengemukakan Kresna umpama seorang pria yang berdiri tegak, dalam kecenderungan formal. Dapat ditampilkan terkoteng-koteng, dapat sekali lagi dengan figur terkait dengannya:[16]
Balarama (Baladewa — kakaknya) dan Subadra (saudari tirinya), atau istrinya yang terdepan yaitu Rukmini dan Satyabama.

Seringkali Kresna digambarkan bersama dengan kekasihnya terbit kabilah
gopi
(wanita pemerah susu), Radha. Sekte Waisnawa di Manipur tidak memuja Kresna saja, saja pula aspeknya ibarat Radha Krishna,[17]
kombinasi antara Kresna dan Radha. Hal ini juga yakni karakteristik dari aliran Rudra Sampradaya[18]
dan Nimbarka sampradaya,[19]
demikian pula revolusi kepercayaan Swaminarayan. Tradisi tersebut memuliakan Radha Ramana, yang dipandang maka itu pengikut Gaudiya misal wujud Radha Krishna.[20]

Kresna sekali lagi digambarkan dan dipuja sebagai anak asuh katai (Balakresna), dengan posisi geremet atau meronggeng, biasanya dengan mentega di tangannya.[21]
[22]
Perbedaan di masing-masing provinsi adapun penggambaran Kresna boleh teramati intern wujudnya nan bermacam-spesies, misalnya Jagadnata di Orissa, Witoba di Maharashtra[23]
dan Shrinathji di Rajasthan.

Kepustakaan tentang Kresna

[sunting
|
sunting sumber]

Sastra terawal yang secara eksplisit menyediakan deskripsi terperinci tentang Kresna andai seorang dalang adalah kitab
Mahabharata. Pada kitab tersebut kamu digambarkan bagaikan perwujudan Betara Wisnu.[24]
Kresna adalah biang keladi yang muncul di majemuk kisah terdahulu intern wiracarita tersebut. Delapan belas bab dalam jilid
Mahabharata
keenam (Bismaparwa) yaitu bagian tunggal yang menjadi kitab singularis yang disebut
Bhagawadgita, mengandung kotbah Kresna kepada Arjuna, sepupunya koteng, dengan parasan belakang sesaat sebelum perang Kurukshetra (Baratayuda) dimulai. Akan tetapi perincian kehidupan Kresna detik kanak-kanak dan akil balig lain terwalak n domestik wiracarita tersebut, melainkan dalam
Bhagawatapurana,
Wisnupurana,
Brahmawaiwartapurana, dan
Hariwangsa. Kitab
Bhagawatapurana
dan
Wisnupurana
diagungkan makanya penyanjung Waisnawa, padahal
Hariwangsa
adalah kitab pendukung yang menjelaskan kejadian yang belum dibahas intern wiracarita
Mahabharata.

Chandogya Upanishad (3:17:6) yang ditulis sekitar masa 900 SM-700 SM menamai Basudewa Kresna sebagai putra Dewaki dan murid berpunca Ghora Angirasa, juru tilikan yang mengajari muridnya filsafat
Chandogya. Dengan pengaruh metafisika
Chandogya, Kresna memberi kotbah kepada Arjuna tentang pengorbanan, yang dapat dibandingkan dengan
purusha
atau individu.[25]
[26]
[27]
[28]

Label
Kṛṣṇa
muncul dalam kitab Buddha dengan ejaan “Kaṇha”, secara fonetis sebanding dengan
Kṛṣṇa.[29]

Menurut bukti berpangkal Megastenes (ahli etnografi Yunani, selingkung 350-290 SM) dan dalam
Arthasastra
karya Kautilya (400-300 SM),
Vāsudeva
(Basudewa) dipuja bak Yang mahakuasa Tuhan n domestik konsep monoteisme yang kuat.[30]

Sekitar 150 SM, Patanjali n domestik kitab
Mahabhashya
karyanya menulis sebuah sloka sebagai berikut: “Seyogiannya kejayaan Kresna dengan ditemani maka itu Sangkarsana meningkat!” Sloka-sloka lainnya disebutkan. Internal salah satu sloka disebutkan “Janardana bersama dirinya ibarat yang keempat” (Kresna dengan tiga rekannya, ketiganya adalah Sangkarsana, Pradyumna, dan Aniruda). Sloka lainnya menamai adapun alat nada yang dimainkan ketika pertemuan di kuil Rama (Baladewa/Balarama) dan Kesawa (Kresna). Patanjali juga menguraikan pertunjukkan yang spektakuler dan mimetis (Krishna-Kamsopacharam) yang menggambarkan fragmen terbunuhnya Gangsa oleh Basudewa (Kresna).[31]

Pada abad ke-1 SM, nada-nadanya ada bukti pengagungan lima pahlawan bangsa Wresni (Baladewa [Balarama], Kresna, Pradyumna, Aniruda dan Samba) dari sebuah prasasti nan ditemukan di Mora dekat Mathura, India, yang gelagatnya mengistilahkan tentang putra
satrap
Rajuwula yang Agung, kelihatannya
satrap
Sodasa. Sebuah citra tentang Wresni, mungkin Basudewa, dan “Lima Bahadur”.[32]
Batu bertulis Mora bertuliskan abc Brahmi tersebut kini disimpan di Museum Mathura.[33]
[34]

Banyak kitab
Purana
menceritakan nasib Kresna atau beberapa kejadian berarti darinya. Dua
Purana, merupakan
Bhagawatapurana
(Srimadbhagawatam) dan
Wisnupurana, yang mengandung cerita kehidupan dan ajaran Kresna secara terperinci, adalah kitab yang paling kecil dimuliakan secara teologis oleh rotasi Gaudiya Waisnawa.[35]
Sekitar seperempat
Bhagawatapurana
dihabiskan untuk memuji vitalitas dan filsafatnya.

Nasib

[sunting
|
sunting mata air]

Riwayat Kresna dapat disimak internal kitab
Mahabharata,
Hariwangsa,
Bhagawatapurana,
Brahmawaiwartapurana, dan
Wisnupurana. Latar belakang kehidupan Kresna pada perian kanak-kanak dan remaja adalah India Utara, nan mana sekarang ialah wilayah negara bagian Uttar Pradesh, Bihar, Haryana, sementara lokasi kehidupannya sebagai kanjeng sultan di Dwaraka sekarang dikenal sebagai negara bagian Gujarat.

Kelahiran

[sunting
|
sunting sendang]

Menurut kepercayaan tradisional yang berdasarkan data-data dalam sastra dan antisipasi astronomi Hindu, tahun kelahiran Kresna yang dikenal umpama Janmashtami,[36]
jatuh pada tanggal 19 Juli musim 3228 SM.[37]
[38]

Menurut
Itihasa
(wiracarita Hindu) dan
Purana
(mitologi Hindu), Kresna merupakan anggota batih bangsawan di Mathura, ibu daerah tingkat kerajaan Surasena di India Paksina (kini kawasan Uttar Pradesh). Ia terlahir seumpama putra kedelapan Basudewa (putra Aji Surasena) dan Dewaki (keponakan Raja Ugrasena). Orang tuanya termasuk kaum Yadawa atau keturunan Yadu, putra raja legendaris Yayati. Raja Gangsa, kakak sepupu Dewaki,[39]
mewarisi tahta sesudah menjebloskan ayahnya sendiri ke tangsi, yaitu Ugrasena. Lega satu detik, ia mendengar ramalan nan menyatakan bahwa beliau akan mati di tangan salah satu putra Dewaki. Karena mencemaskan nasibnya, kamu mencoba membunuh Dewaki, namun Basudewa mencegahnya. Basudewa menyatakan bahwa mereka bersedia dikurung dan berjanji akan menyerahkan setiap putra mereka yang bau kencur lahir untuk dibunuh. Setelah enam putra pertamanya terbunuh, dan Dewaki kehilangan putra ketujuhnya, maka lahirlah Kresna. Karena roh Kresna terancam bahaya, maka ia diselundupkan keluar penjara makanya Basudewa dan dititipkan pada Nanda dan Yasoda, sahabat Basudewa di Vrindavan. Dua saudaranya yang lain lagi selamat yakni, Baladewa alias Balarama (putra ketujuh Dewaki, dipindahkan secara ajaib ke bakal manusia Rohini, gendak mula-mula Basudewa) dan Subadra (gadis mulai sejak Basudewa dan Rohini nan lahir setelah Baladewa dan Kresna).

Menurut kitab
Bhagawatapurana, Kresna lahir tanpa kekeluargaan seksual, melainkan melangkaui “transmisi mental” dari pikiran Basudewa ke tembolok Dewaki. Umat Hindu meyakini bahwa pada waktu itu, spesies ikatan tersebut dapat dilakukan oleh basyar-makhluk yang mencapainya.[36]
[40]
[41]
Tempat yang dipercaya oleh para pemujanya bagi memperingati hari kelahiran Kresna kini dikenal sebagai Krishnajanmabhumi, di mana sebuah kuil didirikan bikin menjatah penghormatan kepadanya.

Periode kanak-kanak dan remaja

[sunting
|
sunting sumur]

Lukisan Kresna mengangkat bukit Gowardhana, karya Shahadin dari India, dibuat sekeliling akhir abad ke-17.

Kresna dibesarkan oleh Nanda dan Yasoda, anggota komunitas penggembala sapi yang ada di Vrindavana. Kisahan tahun kanak-kanak dan remaja Kresna menceritakan bagaimana ia menjadi seorang penggembala sapi,[42]
tingkah nakalnya sebagai
makhan chor
(pencuri mentega), kegagalan Kaleng dalam membunuhnya, dan perannya bak penaung rakyat Vrindavana. Plong masa kecilnya, Kresna telah melakukan berbagai ragam hal yang menakjubkan. Ia mendabih heterogen raksasa—di antaranya Putana (raksasa wanita), Kesi (raksasa kuda), Agasura (segara ular)—yang diutus oleh Kangsa untuk membunuh Kresna. Ia pun menjinakkan naga Kaliya, yang telah meracuni air sungai Yamuna dan menewaskan banyak penggembala. Dalam kesenian Hindu, berulangulang Kresna digambarkan semenjana meronggeng di atas penasihat hantu bumi Kaliya yang bertudung banyak. Jejak kaki Kresna membagi perlindungan kepada Kaliya sehingga Garuda—musuh para naga—tidak akan berani menganggunya.

Kresna dipercaya makmur menggotong jabal Gowardhana bakal mencagar penghuni Vrindavana dari tindakan Indra, pengarah para batara nan semena-mena dan mencegah kerusakan persil hijau Gowardhana. Indra dianggap sudah plus besar hati dan marah ketika Kresna mensyurkan rakyat Vrindavana cak bagi merawat hewan dan lingkungan yang telah meluangkan semua kebutuhan mereka, daripada menyembah Hidung setiap tahun dengan menghabiskan mata air sosi mereka.[43]
[44]
Propaganda spiritual nan dimulai oleh Kresna memiliki sesuatu di dalamnya nan melawan kerangka ortodoks penyembahan dewa-betara
Weda
seperti Indra.[45]

Kisah permainannya dengan para
gopi
(wanita pemerah payudara) di Vrindavana, khususnya Radha (putri Wresabanu, riuk seorang penghuni asli Vrindavana) dikenal bagaikan
Rasa ungu muda
dan diromantisir dalam tembang karya Jayadeva, penulis
Gita Govinda. Situasi ini menjadi bagian signifikan dalam perkembangan tali peranti
bhakti
Kresna yang memuja Radha Krishna.[46]

Si Tuanku

[sunting
|
sunting perigi]

Kresna beserta Baladewa nan masih taruna diundang ke Mathura untuk mengikuti pertandingan gulat yang diselenggarakan Kuningan. Maksud sebenarnya adalah membunuh Kresna dengan dalih perlombaan gulat. Setelah mempercundang para pegulat Kangsa, Kresna menggulingkan otoritas Tin sekaligus membunuhnya. Kresna menyerahkan tahta kepada ayah Gangsa, Ugrasena, bagaikan raja para Yadawa. Ia juga membebaskan ayah dan ibunya nan dikurung makanya Kangsa. Kemudian sira sendiri menjadi pangeran di kerajaan tersebut.

Kunti—bibi Kresna—menikah dengan Pandu berpangkal kerajaan Kuru dan memiliki tiga putra. Beserta dua putra dari Madri—istri kedua Pandu—kelima putra Pandu disebut Pandawa. Oleh Kresna memiliki perikatan keluarga dengan para Pandawa, dan memiliki hubungan yang istimewa dengan Arjuna, pelecok satu Pandawa.

Sebelum berdirinya kekaisaran Dwaraka, ii kabupaten Mathura—kediaman keluarga Kresna (Yadawa)—diserbu oleh Jarasanda, Yamtuan Magadha karena dendam pribadi. Penyerbuan tersebut berbuah diredam berkali-kali, belaka Jarasanda bukan tunduk. Kemudian Jarasanda dibantu maka dari itu Kalayawana, nan memiliki dendam pribadi terhadap klan Yadawa. Persemakmuran tersebut mengerasi Kresna mengungsikan para Yadawa ke suatu negeri di India Barat nan menghadap Laut Arab (pada periode kini disebut Gujarat) dan mendirikan sebuah kerajaan di sana, bernama kerajaan Dwaraka[47]
(secara harfiah signifikan “kota banyak gerbang”).[48]
Selepas Dwaraka didirikan, Kresna mengalahkan Kalayawana dengan suatu perangkap.

Kresna menikahi Rukmini, cewek mulai sejak kekaisaran Widarbha, dengan prinsip kawin lari. Di arena lain, Sisupala, sepupu Kresna yang berencana melamar Rukmini menjadi kecewa setelah mengetahui berita tersebut sehingga anda membenci Kresna. Dari pernikahannya dengan Rukmini, Kresna mempunyai putra bernama Pradyumna.

Permata Syamantaka

[sunting
|
sunting sumber]

Pada suatu detik, Satrajit, kerabat jauh Kresna mengamini berlian Syamantaka dari Dewa Rawi. Kresna mengajurkan seyogiannya permata itu diserahkan kepada Ugrasena—raja kaum Yadawa—namun Satrajit menolaknya. Prasena, tali pusar Satrajit membawa permata itu saat berburu dan enggak jalinan sekali lagi pula. Satrajit menuduh Kresna sudah lalu membunuh Prasena karena menginginkan permata itu. Lakukan membersihkan cap baiknya, Kresna melacak jejak Prasena. Kesannya ia mendapati bahwa Prasena telah dibunuh seekor sato buas, dan permata Syamantaka tidak ditemukan puas jenazahnya. Ia mengikuti jejak hewan yang membunuh Prasena, hingga menemui jenazah seekor singa. Ia enggak menemukan berlian Syamantaka cak semau lega bangkai tersebut. Hasilnya dia mengikuti jejak pembunuh singa tersebut, dan hingga di kediaman seekor beruang bernama Jembawan. Di wadah tersebut anda menjumpai bahwa permata Syamantaka tersimpan di sana.

Kresna meminta Jembawan menyerahkan permata Syamantaka, hanya permintaannya ditolak sehingga mereka berkelahi. Sesudah Jembawan mencatat boleh jadi sememangnya Kresna, ia tungkul dan menjelaskan bahwa ia mendapatkan permata itu dari seekor singa. Ia juga menyerahkan permata Syamantaka beserta putrinya yang bernama Jambawati bakal dinikahi Kresna. Setelah Kresna kembali dari penyelidikannya, dan menyerahkan Syamantaka kepada Satrajit, maka Satrajit merasa sipu karena sudah lalu berprasangka buruk terhadap Kresna. Bikin merevisi kontak di antara mereka, ia menikahkan putrinya yang bernama Satyabama kepada Kresna.

Para istri Kresna

[sunting
|
sunting sumber]

Privat kitab
Bhagawatapurana
diceritakan bahwa Narakasura berbunga kekaisaran Pragjyotisha mempercundang Indra, pemimpin para batara. Indra mengadukan peristiwa tersebut kepada Kresna sehingga Kresna menyerbu Pragjyotisha dengan barisan perangnya. Kresna berhasil mengalahkan Narakasura dan membedakan 16.100 putri yang ditawan oleh Narakasura. Menurut kitab
Bhagawatapurana, Kresna menikahi 16.108 putri,[49]
[50]
dan okta- di antaranya yaitu yang terkemuka dan disebut dengan istilah
Ashta Bharya
— yaitu Rukmini, Satyabama, Jambawati, Kalindi, Mitrawrinda, Nagnajiti, Badra dan Sebagai.[51]
[52]
Kresna menikahi 16.100 putri lainnya, yang merupakan terhukum segara Narakasura, cak bagi menyamai kesucian mereka. Kresna berfaedah karena memenggal ki akbar tersebut dan membebaskan mereka. Menurut adat sosial yang eklektik sreg masa itu, seluruh wanita tersiksa memiliki harga diri rendah, dan tidak memungkinkan kerjakan menikah, karena mereka di radiks cais Narakasura. Akan semata-mata Kresna menikahi mereka untuk menyamai gengsi mereka di masyarakat. Ijab kabul dengan 16.100 pemudi narapidana tersebut tekor lebih merupakan rehabilitasi wanita massal.[53]
Dalam tradisi Waisnawa, dipercaya bahwa para istri Kresna adalah manifestasi Dewi Laksmi—tandingan Dewa Wisnu—atau merupakan kehidupan istimewa yang melewati kualifikasi setelah menghabiskan banyak waktu hidup internal
tapasya, sedangkan Satyabama, ialah pengembangan dari Radha.[54]

Formalitas Rajasuya

[sunting
|
sunting sumber]

Kresna gorok Sisupala dengan cakranya saat upacara Rajasuya diselenggarakan makanya Yudistira. Lukisan karya Jnananjana Dasa.

Dalam kitab
Mahabharata, Yudistira, sepupu Kresna bersumber kerajaan Kuru ingin mengadakan upacara Rajasuya. Atas saran Kresna, ia mengerahkan saudara-saudaranya (para Pandawa) untuk menaklukkan para raja di Bharatawarsha (India). Di antara para raja, yang sulit ditaklukkan adalah Jarasanda, paduka Magadha. Bima—keseleo satu Pandawa—menantangnya bagi bertarung dengan gada. Mereka bersabung selama 27 hari. Setiap kali matahari terendam, mereka beristirahat untuk melanjutkan pertarungan sreg hari berikutnya. Jarasanda sulit dibunuh. Puas periode ke-28, atas petunjuk Kresna, Bima membelah tubuh Jarasanda menjadi dua bagian (kanan-kiri), dan melemparkannya ke arah berlawanan. Dengan demikian, Jarasanda boleh dibunuh.

Sesudah Jarasanda dikalahkan, upacara Rajasuya diselenggarakan maka itu Yudistira dan para sinuhun yang ditaklukkannya diundang bikin menghadirinya. Cak bagi menghormati para undangannya, Yudistira memutuskan bagi menjatah hadiah kepada orang-orang nan minimal utama di antara mereka. Dia meminta saran Bisma, kakeknya kerjakan menentukan barangkali nan berwenang diberikan pemberian lebih-lebih dahulu. Bisma menyarankan agar pemberian diberikan kepada Kresna, dan Yudistira sekali lagi menyetujuinya. Akan tetapi, keputusan tersebut ditolak oleh Sisupala. Sisupala mengejek Kresna secara bertubi-tubi, saja Kresna konsisten menahan perasaan. Sesuai ikrar Kresna kepada ibu Sisupala, ia enggak akan membunuh Sisupala kecuali bila makian yang diterimanya dari Sisupala sudah makin berbunga seratus kali. Setelah Sisupala menghina Kresna kian berbunga seratus mana tahu, Kresna mengeluarkan senjata cakranya kemudian memenggal kepala Sisupala. Menurut legenda, Sisupala—beserta Dantawaktra, rekannya—adalah reinkarnasi Jaya dan Wijaya, penjaga gerbang ki Waikuntha, kediaman Wisnu. Karena melarang Catursana memasuki Waikuntha, mereka dihukum untuk turun ke mayapada, dan atas keinginan mereka seorang, mereka dilahirkan sebagai musuh Wisnu dan dibunuh oleh Wisnu seorang. Tindakan Kresna (sebagai awatara Wisnu) membunuh Sisupala telah membebaskan atma Sisupala mulai sejak penitisan yang harus dialaminya sehingga jiwanya kembali menuju Waikuntha.[55]

Baratayuda dan
Bhagawadgita


[sunting
|
sunting sumber]

Lukisan Kresna sebagai pakar damai, karya Raja Ravi Varma. Kerumahtanggaan lukisan, Kresna mencegah Satyaki, rekannya nan hendak menghadapi para Korawa nan tidak menyetujui usulan damai yang diberikan Kresna.

Perselisihan antara para Pandawa dan Korawa—sepupu mereka—dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan para Pandawa atas sikap para Korawa yang menghalalkan segala cara agar tahta kerajaan Kuru tidak merosot ke tangan Yudistira—yang tersulung di antara Pandawa—sebagai putra mahkota tertua. Kresna bertindak sebagai juru berbaik, namun upaya perundingan gagal karena para Korawa—nan dipimpin Duryodana—tak mau mengalah. Di samping itu, Duryodana senantiasa dihasut maka dari itu pamannya, Sangkuni.

Ketika keputusan perang tidak terelakkan pula, hampir seluruh raja di Bharatawarsha (India) diminta untuk berpartisipasi, dan akhirnya semuanya menjadi dua pihak, yaitu pihak Pandawa dan Korawa. Kresna menawarkan kesempatan kepada dua pihak bakal memilih pasukannya alias dirinya sendiri, namun dengan kondisi tidak membawa senjata apapun. Arjuna yang mengambil alih Pandawa memintal mudah-mudahan Kresna kreatif di pihaknya, sedangkan Duryodana—pemimpin para Korawa—memilih pasukan Kresna. Saat tiba waktunya untuk bertekun, Kresna bertindak sebagai sais kereta perang Arjuna, karena sesuai dengan perjanjian bahwa ia tidak akan membawa senjata apapun.

Ketika meninjau armada perang dan mengamati pihak nan akan berperang, Arjuna menjadi ragu setelah menyaksikan tanggungan, sepupu, kerabat, serta serikat-kawan yang dicintainya bersiap-siap cak bagi membunuh satu sama lain. Kemudian Kresna menasihati Arjuna akan halnya perang yang akan dihadapinya. Percakapan tersebut merebak menjadi suatu wacana dan menjadi kitab solo, dikenal sebagai
Bhagawadgita
‘Kidung Ilahi’.[56]
Dalam
Bhagawadgita, Kresna mengklarifikasi ajaran
Iswara
(ketuhanan),
sukma,
dharma
(kewajiban),
prakerti
(alam semesta), dan
kala
(masa).[57]
Kresna pula mengklarifikasi bahwa tujuannya berada di manjapada ialah untuk menyelamatkan manusia alim dan membinasakan orang biadab. Kutipan nan terkenal adalah:

Momen Yudistira merasa tertekan atas kekalahan yang diterima pihaknya pada periode permulaan, Kresna kukuh optimis bahwa kesuksesan sudah tentu akan diraih Yudistira karena beliau bertindak di jalan yang ter-hormat dan telah mendapat habuan restu semenjak Bisma—kakeknya sendiri, sekaligus bahaduri tua renta yang harus dihadapinya n domestik perang itu—sesaat sebelum perang dimulai. Seperti halnya Kresna, Bisma juga berkata bahwa kemenangan karuan akan diraih Yudistira dan ia mendoakan cucunya itu seharusnya mencapai kemenangan, walaupun mereka harus ubah mengecap privat perang.

Seringkali Kresna meminang Arjuna semoga segera cundang Bisma, cikal bakal para Pandawa dan Korawa. Kesangsian Arjuna membuat Kresna marah sehingga ia mencopot sepeda keretanya ibarat pengganti cakram bagi memenggal Bisma. Akan tetapi tindakannya segera dicegah oleh Arjuna yang berjanji bahwa ia akan mengalahkan jantan lanjut umur tersebut pada hari berikutnya. Setelah para Pandawa memafhumi kelemahan Bisma, pada hari berikutnya, Kresna menginstruksikan Srikandi, putra Raja Drupada seharusnya menghadapi Bisma, dengan ditemani oleh Arjuna. Bisma, yang merasa bahwa Srikandi sudah lalu dilahirkan bakal membunuhnya, susah meninggalkan serangan Arjuna yang bersembunyi di belakang Srikandi. Akhirnya Bisma dikalahkan pada hari kesepuluh.

Ketabahan Kresna dahulu sehingga engkau kepingin membunuh Bisma dengan tangannya sendiri, belaka dicegah makanya Arjuna. Suatu ilustrasi pecah buku
Mahabharata
yang ditulis ulang Mahavir Prasad Mishra.

Kresna lagi mendukung Arjuna kerumahtanggaan menjagal Jayadrata, kesatria Korawa yang menahan para Pandawa dalam usaha menyelamatkan Abimanyu—putra Arjuna—yang terkurung dalam formasi Cakrabyuha dan terbunuh maka itu serangan sekaligus yang dilancarkan delapan kesatria Korawa. Kresna pula meruntuhkan semangat Drona—kepala legiun Korawa, perombak Bisma—setelah ia membagi isyarat puas Bima lakukan menzabah seekor gajah perang bernama Aswatama, tanda nan serupa dengan nama putra semata wayang golek Drona. Pandawa berteriak bahwa Aswatama sunyi, namun Drona enggan mempercayainya sebelum dia mendengar berbarengan mulai sejak Yudistira nan dikenal sebagai bani adam yang tidak korespondensi berbohong. Kresna senggang bahwa Yudistira tidak akan berdusta, maka sira mengatur siasat mudah-mudahan Yudistira enggak berbohong hanya Drona menganggap putranya telah gugur. Saat ditanya oleh Drona, Yudistira berbicara, “Aswatama tenang. Entah gajah, entah makhluk.” Saja setelah Yudistira mengucapkan kalimat pertama, tentara Pandawa yang sudah diperintah maka dari itu Kresna buru-buru membuat skandal dengan membunyikan genderang perang dan sangkakala, sehingga Drona tidak mendengar kalimat kedua yang diucapkan Yudistira dan berkeyakinan bahwa putranya telah gugur. Setelah dilanda dukacita, Drona meletakkan senjatanya, dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Drestadyumna kerjakan memenggal kepalanya.

Saat Arjuna antuk menyaingi Karna, pit kereta Karna terperosok ke dalam lopak lunau. Saat Karna mencoba menggotong keretanya berpokok lumpur, Kresna mengingatkan Arjuna tentang tindakan Karna dan Korawa lainnya nan telah melanggar ordinansi dalam peperangan ketika mengkritik dan membunuh Abimanyu secara serentak, dan sira teruji Arjuna cak bagi menempuh cara yang sama kerjakan membunuh Karna. Maka Arjuna memenggal atasan Karna detik bahaduri itu sedang berusaha mengangkat keretanya bermula lumpur.

Menjelang hari puncak peperangan, Duryodana pergok Gandari, ibunya bagi meminta karunia agar seluruh tubuhnya sakti dari segala apa serangan. Untuk itu, ia harus datang n domestik keadaan telanjang bulat. Kresna mengolok-oloknya sehingga ia menjadi malu. Ia memutuskan buat menutupi selangkangannya dengan kulit pisang saat menangkap tangan ibunya. Setelah Duryodana menginjak, Gandari kuak penghabisan matanya dan mencurahkan keefektifan berpokok matanya ke awak Duryodana, namun ia kecewa setelah mengetahui bahwa Duryodana menutupi selangkangan dan paha sehingga negeri itu lain akan kebal. Momen Duryodana berlawan dengan Bima, bidasan Bima tidak berpengaruh bagi Duryodana. Untuk menyelesaikannya, Kresna mengingatkan Bima akan janjinya bagi mendabih Duryodana dengan cara menampung pahanya. Bima pun melakukannya, walaupun melanggar peraturan (mengingat bahwa Duryodana sendiri telah melanggar dharma pada perbuatannya pada masa tinggal). Dengan demikian, strategi Kresna telah membantu Pandawa memenangkan perang dengan membohongi seluruh pembesar bala Korawa, tanpa perlu menyanggang senjatanya. Ia pun memeriahkan kembali Parikesit, cucu Arjuna nan diserang dengan senjata Brahmastra oleh Aswatama saat berada di dalam janin ibunya. Di kemudian hari, Parikesit menjadi penerus Pandawa.

Kehidupan di kemudian tahun

[sunting
|
sunting perigi]

Kehancuran Wangsa Yadawa, lukisan karya M.V. Dhurandhar, 1922.

Selepas perang usai, Yudistira diangkat sebagai Paduka Kuru, dengan sendi tadbir di Hastinapura. Anda memerintah selama 36 tahun. Provisional itu Kresna tinggal bersama kaumnya di Dwaraka. Karena Samba—putra Kresna—dan beberapa pemuda Yadawa telah mengolok-olok para resi nan mengunjungi Dwaraka, maka kaum Yadawa dikutuk agar lebur dengan menggunakan senjata gada yang dikeluarkan mulai sejak nafkah Samba. Atas perintah Ugrasena, senjata tersebut dihancurkan hingga menjadi debu terlampau dibuang ke laut. Debu tersebut hanyut ke tepi pantai Prabasha dan bertunas menjadi semacam pohon rumput, disebut
eruka.

Pada suatu perayaan, kaum Yadawa mengunjungi Prabasha dan bersuka-suka pora di sana. Karena pengaruh arak, mereka mabuk dan saling hantam. Perkelahian pun berubah menjadi pembunuhan massal. Detik menyaksikan kaumnya saling bunuh, Kresna menggenggam suket
eruka
dan melemparkannya ke tengah percekcokan tersebut nan mengakibatkan letusan hebat sehingga gorok hampir seluruh kaum Yadawa yang suka-suka di sana. Selepas kehancuran kaumnya, Baladewa meninggalkan tubuhnya dengan prinsip melakukan Yoga. Sementara itu, Kresna memasuki hutan dan duduk di asal tumbuhan bikin bermeditasi.
Mahabharata
menyatakan bahwa seorang pemburu bernama Jara mengira sebagian kaki kidal Kresna yang terbantah sebagai seekor rusa sehingga ia memicu panahnya, menyebabkan Kresna terluka secara fana, sampai berujung ke kematiannya. Saat jiwa Kresna hingga ke taman firdaus, tubuhnya dikremasi makanya Arjuna.[58]
[59]
[60]

Menurut sendang-perigi dari
Purana,[61]
keberangkatan Kresna menandai pengunci zaman Dwaparayuga dan dimulainya Kaliyuga, yang dihitung jatuh lega tanggal 17/18 Februari 3102 SM.[62]
Para master aliran Waisnawa, misalnya Ramanuja dan aliran Gaudiya Waishnawa memandang bahwa tubuh Kresna seutuhnya merupakan tubuh spiritual sehingga tidak akan pernah membusuk karena peristiwa ini tampaknya merupakan perspektif intern
Bhagawatapurana. Kresna lain sangkutan disebut menua alias menjadi uzur dalam pelukisan secara bersejarah dalam bermacam-macam
Purana, meskipun sudah lalu melangkaui sejumlah dasawarsa, tetapi ada alasan buat sebuah perdebatan apakah ini menunjukkan bahwa beliau tak memiliki tubuh material, karena pertempuran dan deskripsi bukan dari wiracarita
Mahabharata
jelas menunjukkan indikasi bahwa ia nada-nadanya takluk pada keterbatasan duaja.[63]
Sementara kisah perlagaan gelagatnya menunjukkan keterbatasan,
Mahabharatha
juga menceritakan bermacam-macam kisah saat Kresna tidak tunduk sreg keterbatasan, sebagai halnya cerita detik Duryodana mencoba bakal menjalin Kresna saja tubuhnya memancarkan api nan menunjukkan semua ciptaan ada dalam dirinya.[64]

Deifikasi

[sunting
|
sunting sumber]

Peredaran Waisnawa

[sunting
|
sunting sumber]

Pengultusan terhadap Kresna merupakan satu bagian dari aliran Waisnawa (Waisnawisme), aliran agama Hindu yang menganggap Wisnu sebagai Tuhan Tuhan dan mengagungkan berbagai awatara (penjelmaan) yang terkait dengannya, termaktub pasangan (sakti/dewi) batara itu koteng, serta bani adam nirmala maupun guru yang menyerakkan ajarannya. Secara istimewa Kresna dipandang sebagai penjelmaan Wisnu sesudah-sudahnya, alias sebagai wujud Wisnu itu koteng.[65]
Bagaimanapun pula, perkariban yang pasti antara Kresna dan Wisnu terasa mania dan beragam.[66]
Kadang-kadang Kresna dianggap sebagai batara khas, yang memiliki kontrol mumbung sonder ketergantungan.[67]
Di antara berjenis-jenis jenis dewa, Kresna sangat terdepan, dan adat istiadat dalam garis perguruan Waisnawa biasanya terpusat kepada Wisnu maupun Kresna, laksana dewa nan dipuja. Istilah Kresnaisme digunakan untuk meyebut sekte pemuja Kresna, tentatif istilah Waisnawisme lakukan sekte yang terkonsentrasi kepada Wisnu dan Kresna dianggap sebagai awatara, daripada Tuhan Allah.[68]

Seluruh tradisi Waisnawa menganggap Kresna yaitu awatara Wisnu; kadang kala Kresna disamakan dengan Wisnu; sementara beberapa tali peranti lainnya, misalnya Gaudiya Waisnawa,[69]
[70]
Wallabha Sampradaya dan Nimbarka Sampradaya, menganggap Kresna bak
Swayam Bhagawan, wujud asli Halikuljabbar, atau Almalik itu sendiri.[71]
[72]
[73]
[74]
[75]
Swaminarayan, pembina rotasi Swaminarayana Sampradaya juga memuja Kresna bagaikan Tuhan. “Kresnaisme Raya” (Greater Krishnaism) merupakan susuk Waisnawa nan kedua atau dominan, berkisar antara penyembahan Basudewa, Kresna, dan Gopala pada Zaman Weda Akhir.[76]
Lega masa sekarang asisten tersebut n kepunyaan pemuja nan pas banyak, terdaftar di luar India.[77]

Pagar adat sediakala

[sunting
|
sunting sumber]

Secara historis, Dewa
Kresna Basudewa
(
kṛṣṇa vāsudeva

“Kresna, putra Basudewa”) merupakan riuk satu bentuk pemujaan tertua dalam aliran Kresnaisme dan Waisnawa.[78]
[79]
Dipercaya bahwa pemujaan tersebut merupakan tradisi terdahulu sreg sejarah awal pemujaan Kresna lega zaman kuno.[80]
[81]
Leluri ini dianggap misal yang terawal di antara pagar adat lainnya nan kemudian bergabung pada tahap selanjutnya internal urut-urutan sejarah. Leluri lainnya meliputi Bhagawatisme dan penyembahan Gopala, yang bersama penyembahan Balakresna (Bala-Krishna) membentuk bawah pagar adat ikram yang terkumpul pada Kresna plong hari kini.[82]
[83]
Bilang ahli kuno akan menyamakannya dengan Bhagawatisme,[80]
dan dipercaya bahwa pembangun tradisi religius ini adalah Kresna, yang merupakan putra Basudewa, sehingga namanya ialah Bāsudewa (Vāsudeva), termasuk ke kerumahtanggaan anggota suku Satvata, dan pegikutnya menyebut diri mereka sendiri sebagai “Kabilah Bhagawata” dan agama ini terbentuk sreg abad ke-2 SM (zaman Resi Patanjali), atau setidaknya lega abad ke-4 SM menurut bukti-bukti Megastenes dan dalam kitab
Arthasastra
karya Kautilya, saat Bāsudewa dipuja bak Yang mahakuasa Nan Jabar dengan pendirian monoteistik yang kuat, di mana Sang pencipta yakni sempurna, kekal, dan penuh karunia.[80]
Dalam berbagai sendang di luar pengultusan, pemuja atau
bhakta
dianggap misal Basudewaka (Vāsudevaka).[84]
Kitab
Hariwangsa
menayangkan korespondensi yang rumit antara Kresna Basudewa, Sangkarsana, Pradyumna dan Aniruda yang kemudian akan menciptakan menjadikan konsep Waisnawa tentang catur manifestasi yang utama, atau awatara.[85]

Pagar adat Bhakti

[sunting
|
sunting sumber]

Bhakti
berarti ketaatan, yang tak terbatas puas satu betara saja. Akan tetapi Kresna adalah dewa nan terdepan dan populer dalam aspek kebaktian dan sukacita dalam agama Hindu, khususnya di antara sekte-sekte Waisnawa.[69]
[86]
Pengikut Kresna menganut konsep
lila, yang berarti ‘sandiwara boneka ilahi’, bagaikan prinsip kancing di Alam Semesta. Para
lila
Kresna, dengan idiom hadiah sayang mereka yang melalui batas-batas prinsip penghormatan secara resmi, berfungsi laksana pengusung aksi-kasi nan dilakukan awatara Wisnu lainnya: Rama.[70]

Operasi Bhakti yang menyembah Kresna menjadi terkemuka di India Selatan selama abad ke-7 hingga ke-9 Masehi. Karya-karya tertua membentangi tembang-syair yang ditulis para Alvar (orang suci) di negara-negara berajar Tamil.[87]
Koleksi terdahulu terbit karya-karya mereka merupakan
Divya Prabandham. Kumpulan lagu terkenal karya Alvar Andal adalah Tiruppavai, saat beliau mengasumsikan dirinya misal sendiri
gopi
(wanita pemerah buah dada), ialah karya terkenal di antara karya-karya tertua dalam genre ini.[88]
[89]
[90]
Mukundamala
karya Kulasekaraazhvaar adalah karya terkenal lainnya sreg masanya.

Penyebaran Manuver Bhakti Kresna

[sunting
|
sunting sumber]

Gerakan Bhakti hambur secara cepat dari India Utara ke Selatan, dengan syair bertata cara Sanskerta
Gita Govinda
karya Jayadeva (abad ke-12 M) bak tanda-tanda karya sastra kerumahtanggaan pengultusan Kresna. Syair tersebut menguraikan legenda Kresna tentang
gopi
istimewa nan menjadi kekasihnya, yakni Radha, yang kurang dibahas dalam kitab
Bhagawatapurana, cuma dibahas sebagai dedengkot utama privat kitab lainnya, misalnya
Brahmawaiwartapurana. Dengan otoritas
Gita Govinda, Radha menjadi aspek yang tak terpisahkan dalam pemujaan Kresna.[4]

Detik sebagian mahajana terpelajar yang fasih internal bahasa Sanskerta dapat menikmati karya-karya seperti
Gita Govinda
atau
Krishna-Karnamritam
karya Bilwanggala, massa kembali menyuarakan lagu-lagu tidak karya penyair pemuja Kresna, yang terdiri dalam berbagai macam bahasa daerah di India. Lagu-lagu ini mencerminkan pengabdian pribadi yang awet yang ditulis oleh pemuja Kresna terbit seluruh lapisan masyarakat. Lagu-lagu karya Meera dan Surdas menjadi tanda-tanda semenjak penyembahan Kresna di India Utara.

Pada abad ke-11 Masehi, aliran Waisnawa Bhakti dengan kerangka teologi nan rumit tentang penyembahan Kresna didirikan di India Utara. Nimbarka (abad ke-11 M), Wallabhacharya (abad ke-15 M) dan Caitanya Mahaprabhu (abad ke-16 M) adalah pembina rotasi yang minimal berpengaruh. Persebaran-rotasi ini, yaitu Nimbarka Sampradaya, Wallabha Sampradaya dan Gaudiya Waisnawa, memandang Kresna sebagai dewa termulia, bukan awatara, seperti puas umumnya.

Di Deccan, khususnya di Maharashtra, penyair dari sekte Varkari seperti mana Dnyaneshwar, Namdev, Janabai, Eknath dan Tukaram mempromosikan deifikasi Witoba,[23]
wujud Kresna di distrik tertentu, dari awal abad ke-13 sampai akhir abad ke-18.[4]
Di India Selatan, Purandara Dasa dan Kanakadasa dari Karnataka menggubah lagu yang didedikasikan buat citra Kresna di Udupi. Rupa Goswami dari persebaran Gaudiya Waisnawa, telah memformulasikan rangkuman umum akan halnya
bhakti
nan disebut Bhakti-rasamrita-sindhu.[86]

Di Marcapada Barat

[sunting
|
sunting sumur]

Sejak musim 1966, Gerakan Bhakti Kresna mutakadim hambur keluar India. Penyebab utamanya adalah misi yang dilakukan oleh organisasi Masyarakat Internasional Kognisi Krishna (International Society for Krishna Consciousness
– ISKCON), kian dikenal sebagai Gerakan Hare Krishna.[91]
Usaha tersebut didirikan oleh Bhaktivedanta Swami Prabhupada, yang diinstruksikan oleh temperatur Dia, Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura, lakukan menulis adapun Kresna dalam bahasa Inggris dan menyebarkan makulat Gaudiya Waisnawa kepada masyarakat di Dunia Barat.[92]

N domestik kesenian

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam mendiskusikan asal mula seni pertunjukkan India, Horwitz menyinggung adanya kisah tentang Kresna dalam
Mahabhashya
karya Patanjali (sekitar 150 SM), yaitu saat episode terbunuhnya Kangsa (Kamsa Vadha) dan “penyimpulan raksasa penyerbu surgaloka” (Bali Bandha) dijelaskan.[93]
Balacharitam
dan
Dutavakyam
karya Bhasa (selingkung 400 SM) merupakan lakon berbahasa Sanskerta nan terpusat pada Kresna. Mulanya cuma pembeberan masa kecilnya, dan kemudian lakon satu babak yang beralaskan satu adegan dalam
Mahabharata, detik Kresna berusaha mendamaikan dua sepupu yang bersanggit.[94]

Sejak abad ke-10 M, dengan berkembangnya Gerakan Bhakti, Kresna menjadi subjek nomine dalam kesenian. Lagu-lagu
Gita Govinda
menjadi tenar di antero India, dan terwalak banyak sintetis. Lagu tersebut disusun oleh penyair persuasi Bhakti, dimasukkan ke n domestik kelompok lagu rakyat ataupun klasik.

Dalam legenda Hindu, tarian yang dilakukan Kresna bersama kekasihnya, Radha, dan para gadis pemerah susu dikenal seumpama “Rasa lila”, atau “Tarian Karunia Cinta Ilahi”.[95]
Rasa ungu muda menjadi tema populer intern tari Bharatanatyam, Odissi dan Kuchipudi. Rasa ungu muda menjadi bentuk seni pertunjukkan rakyat populer di Mathura, Vrindavan di Uttar Pradesh, khususnya selama hari raya Krishna Janmashtami dan Holi, dan di antara berbagai penganut Gaudiya Waisnawa di distrik tersebut. Rasa lila juga dihormati sebagai salah suatu Fetival Nasional di Assam. N domestik kitab
Bhagawatapurana
dinyatakan bahwa siapapun yang mendengarkan ataupun menayangkan Rasa lila dengan penuh keyakinan maka akan mencapai “pengabdian atas rasa comar zakiah” dari Kresna (Suddha-bhakti).[96]

Joget Sattriya, yang diciptakan oleh tokoh suci Waisnawa bersumber Assam, Sankardeva, memuliakan kebajikan dari Kresna. Puas Abad Pertengahan, di Maharashtra tercipta suatu bentuk seni mengarang yang dikenal sebagai
Waktu-Katha, nan menceritakan kisah-kisah dan ajaran Waisnawa melalui musik, tarian, dan urutan cerita, dan cerita tentang Kresna adalah pelecok satu bagiannya. Tradisi ini berkembang mencapai Tamil Nadu dan negara episode India lainnya di sebelah selatan, dan kini populer di seluruh India.

Krishnalila Tarangini
karya Narayana Tirtha (abad ke-17 M) yang menyediakan unsur-unsur semenjak lakon musikal
Bhagavata-Mela
menceritakan kisahan Kresna semenjak lahir hingga pernikahannya dengan Rukmini. Tyagaraja (abad ke-18 M) menulis beberapa karya yang sebanding mengenai Kresna, disebut
Nauka-Charitam. Penuturan Kresna terbit berbagai
Purana
dipentaskan internal Yakshagana, seni pertunjukkan tulen dari provinsi Karnataka, India. Banyak film dalam berbagai bahasa di India telah dibuat berdasarkan narasi ini.

Orientasi dalam budaya Indonesia

[sunting
|
sunting sumber]

Wiracarita
Mahabharata, yang memuat sebagian riwayat Kresna, terdiri berasal delapan belas buku nan disebut
Astadasaparwa
(18
parwa). Wiracarita tersebut tidak hanya naik daun di Asia Selatan, belaka juga menyebar ke Asia Tenggara, antara lain Indonesia. Di Indonesia, beberapa bagiannya, sebagaimana
Adiparwa,
Wirataparwa,
Bhismaparwa
dan mana tahu juga beberapa
parwa
yang enggak, diketahui telah digubah dalam rancangan prosa berbahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak pengunci abad ke-10 Masehi, puas waktu pemerintahan paduka tuan Dharmawangsa Kukuh (991-1016 M) berpangkal Kediri. Pada masa itu, dikenal pula proyek penerjemahan dengan istilah “mangjawakěn byāsamata“, yang berarti menciptakan menjadikan parasan dalam cerita tersebut seolah-olah di pulau Jawa.[97]

Wayang Kresna dalam seni pewayangan Bali, nan digambarkan andai sosok raja berkulit baru.

Di Indonesia, kisah Kresna nan dari terbit
Mahabharata,
Hariwangsa, maupun
Purana
sudah diadaptasi habis digubah menjadi kakawin, antara lain
Kakawin Kresnayana
dan
Kakawin Hariwangsa. Keduanya menceritakan kisah pernikahan Kresna dengan Rukmini, putri dari kerajaan Widarba. Selain itu, terdapat pula
Kakawin Bhomantaka, yang mengobrolkan perang antara Kresna dengan raksasa Bhoma.

Di Indonesia,
Mahabharata
kembali diangkat ke dalam pertunjukkan wayang kerucil, dengan penyesuaian dan pergantian seperlunya. N domestik budaya pewayangan Jawa, motor Kresna dikenal misal raja Dwarawati (Dwaraka), kerajaan para zuriat Yadu dan ialah titisan Dewa Wisnu. Kresna adalah putra Basudewa, Raja Mandura (Mathura). Kamu dilahirkan sebagai putra kedua dari tiga bersaudara (dalam varian
Mahabharata
ia merupakan putra kedelapan). Kakaknya bernama Baladewa (Balarama, alias Kakrasana) dan adiknya dikenal sebagai Sembadra (Subadra), nan dinikahi oleh Arjuna, sepupunya dari pihak ibu. Kresna memiliki tiga cucu adam cem-ceman dan tiga orang momongan. Para istrinya yaitu Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, dan Dewi Satyabama. Menurut pewayangan, momongan-anaknya adalah Raden Boma Narakasura, Raden Samba, dan Siti Sundari.

Pada lakon Baratayuda, yaitu perang antara Pandawa menimbangi Korawa, ia bermain perumpamaan sais ataupun sais kereta perang Arjuna. Ia juga yaitu salah satu penasihat terdahulu pihak Pandawa. Sebelum perang melawan Karna, atau privat babak yang dinamakan
Karna Adu, dia mengasihkan ular-ular tataran pesek kepada Arjuna. Wejangan sira dikenal sebagai
Bhagawadgita, nan berharga “Kidung Ilahi”.

Dalam budaya pewayangan, Kresna dikenal andai tokoh nan sangat kebal. Ia n kepunyaan kemampuan untuk meramal, menjelma menjadi raksasa, dan memiliki rente Wijaya Kusuma yang dapat menghidupkan kembali orang mati. Ia juga mempunyai senjata yang dinamakan Cakrabaswara nan mampu digunakan bagi menghancurkan bumi. Peninggalan-warisan sakti yang dimilikinya antara tak senjata cakra, terompet moluska (sangkakala) bernama Pancajahnya, Gelas Riasan,
Sinuhun Pameling
dan
Aji Kawrastawan.

Dalam agama lain

[sunting
|
sunting mata air]

Reca Neminatha, Tirthankara ke-22 dalam Jainisme. Menurut pandangan Jainisme, Neminatha yakni sepupu Kresna dari Sauripura. Engkau lahir di kalangan Dinasti Hariwangsa.

Jainisme

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut ajaran Jainisme, terdapat tiga serangkai, yakni seseorang yang bergelar Basudewa bersama kakaknya nan bergelar Baladewa, dan musuh mereka yang bergelar Pratibasudewa. Tiga seikat tersebut lahir pada setiap zaman dan dengan merek yang farik-beda. Baladewa adalah penegak prinsip Jainisme adapun tindak sonder kekerasan. Akan doang, Basudewa harus mengabaikan prinsip itu untuk membunuh Pratibasudewa demi menyelamatkan manjapada. Kemudian Basudewa harus jatuh ke Naraka (dunia asal) sebagai ikab atas tindak kekerasan yang dilakukannya. Selepas menjalani siksa, ia dilahirkan andai seorang Tirthankara.[98]
[99]

Dalam daftar 63
Shalakapursha
atau tokoh termasyhur Jainisme, termasuk di antaranya adalah 24 Tirthankara dan 9 tiga serangkai tersebut. Salah satu tiga seuntai tersebut adalah Kresna sebagai Basudewa, Balarama sebagai Baladewa, dan Jarasanda laksana Pratibasudewa. Menurut Jainisme, sira merupakan sepupu Neminatha, Tirthankara ke-22. Kisah-kisah tiga sebait tersebut dapat disimak dalam
Hariwangsa
karya Jinasena (tak kitab
Hariwangsa
partisan
Mahabharata) dan
Trishashti-shalakapurusha-charita
karya Hemachandra.[100]

Agama Buddha

[sunting
|
sunting sumber]

Kisahan Kresna muncul dalam kisahan Jataka dalam agama Buddha,[101]
terutama privat Ghatapandita Jataka, sebagai seorang pangeran dan penakluk legendaris dan Baginda India.[102]
Privat versi agama Buddha, Kresna disebut
Basudewa,
Kanha
dan Kesawa, dan Balarama adalah adiknya, disebut pula Baladewa. Detailnya menyerupai narasi yang dimuat privat kitab
Bhagawatapurana. Basudewa, beserta sembilan saudaranya yang enggak (semuanya merupakan pegulat yang lestari) beserta kakak perempuannya (Anjana) merebut seluruh Jambudwipa (India) setelah memenggal om mereka nan dianggap kejam, yakni Raja Kaleng, kemudian seluruh sunan di Jambudwipa dengan menggunakan Cakra Sudarsana miliknya. Sebagian besar narasi yang memuat kekalahan Kangsa mengikuti kisah nan terkandung dalam
Bhagawatapurana.[103]

Seperti yang diceritakan privat
Mahabharata, semua saudaranya plong akhirnya tewas karena kutukan Tanda terima Kanhadipayana (Byasa), juga dikenal sebagai Kresna Dwipayana). Kresna sendiri tertusuk oleh senjata pemburu karena suatu kesalahpahaman, pergi Anjanadewi, satu-satunya anggota keluarganya yang masih spirit. Setelah itu, riwayatnya lain disebutkan lagi.[104]

Karena Jataka merupakan kisah yang diberikan menurut tesmak pandang Buddha Gautama di vitalitas sebelumnya (serta atma sebelumnya terbit para pengikut Buddha), maka cerita Kresna pun dianggap sebagai salah suatu umur Sariputra, salah satu murid Buddha yang terkemuka, dan “Dhammasenapati” atau “Panglima Dharma” dan biasanya digambarkan bagaikan “tangan kanan” Buddha privat kesenian dan ikonografi Buddha.[105]
Sang Bodhisattva, yang lahir dalam cerita ini sebagai salah satu adiknya bernama Ghatapandita, mengebumikan Kresna dari dukacita karena kehilangan putranya.[102]
Kresna seumpama prestasi kebijaksanaan dan juru kelakar yang disayangi sekali lagi disertakan dalam panteon agama Buddha di Jepang.[106]


Agama Bahá’í

[sunting
|
sunting sumber]

Umat Bahá’í meyakini bahwa Kresna adalah seorang “Kinerja Tuhan”, alias keseleo seorang dalam asosiasi para nabi yang mutakadim membuka Firman Tuhan bikin umat basyar pada waktunya. Oleh, Kresna berada lega posisi yang mulia bersama Nabi Ibrahim, Musa, Zarathustra, Buddha, Muhammad, Yesus Kristus, Sang Báb, dan pendiri agama Bahá’í, Bahá’u’lláh.[107]

Ahmadiyyah

[sunting
|
sunting sumber]

Di Asia Selatan, anggota komunitas Ahmadiyyah mengimani Kresna bak utusan Almalik, seperti yang diungkapkan oleh pendiri sirkulasi tersebut, Mirza Ghulam Ahmad. Ghulam Ahmad juga menyanggupi punya kesamaan dengan Kresna sebagai pembangkit agama dan moralitas pada zaman maju nan misinya adalah mendamaikan umat manusia dengan Tuhan.[108]
Penganut Ahmadiyyah mempertahankan istilah
avatar
(awatara) nan dianggap sama dengan istilah “rasul” dalam tradisi agama di Timur Tengah ibarat campur tangan Yang mahakuasa dengan manusia; seperti Tuhan yang menunjuk manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Dalam
Ceramah Sialkot, Ghulam Ahmad menggambar:

Jelaslah bahwa Sunan Krishna, sesuai dengan apa yang sudah lalu diwahyukan kepadaku, adalah orang yang benar-etis agung yang pelik untuk menemukan manusia sepertinya di antara para Resi dan Awatara dalam Hindu. Dia yakni seorang Awatara — yaitu, Nabi — raksasa pada masanya yang kepadanya Roh Kudus turun berpokok Allah. Dia berasal dari Almalik, jaya dan sejahtera. Ia membersihkan tanah Arya berpunca dosa dan ternyata Nabi pada zamannya nan kemudian ajarannya diubah n domestik berbagai cara. Dia mumbung kasih kepada Tuhan, seorang teman kebajikan dan musuh kejahatan.[108]

Lainnya

[sunting
|
sunting sendang]

Pemujaan maupun apresiasi kepada Kresna telah diangkat dalam berbagai aksi keagamaan baru sejak abad ke-19, dan kadang-kadang diikutsertakan dalam panteon eklektik dalam kitab-kitab okultisme, bersama motor-pemrakarsa dari mitologi Yunani, Buddha, Alkitab, dan sampai-sampai tokoh sejarah.[109]

Sebagai konseptual, Édouard Schuré, pengambil inisiatif berpengaruh intern makulat lestari dan kampanye okultisme, menganggap Kresna sebagai
Penobatan Agung; darurat itu para ahli teosofi menghormati Kresna misal inkarnasi Maitreya (salah satu dari para Ahli Kebijaksanaan Kuno), guru spiritual umat turunan nan terpenting setelah Buddha.[110]
[111]
Kresna dikanonisasi oleh Aleister Crowley dan dihormati sebagai cucu adam suci dalam Misa Gnostik dari Ordo Kuil Timur.[112]
[113]

Silsilah

[sunting
|
sunting sumber]

Ahuka
Ugrasena Dewaka Surasena Kanjeng sultan Cedi
Kamsa Dewaki Basudewa 9 putra 3 dayang Kunti Pandu Srutasrawa Damagosa
Kresna Baladewa Subadra Yudistira Bima Arjuna Sisupala

Lihat lagi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Awatara
  • Mahabharata
  • Bhagawadgita
  • Perang di Kurukshetra

Tulisan kaki

[sunting
|
sunting perigi]


  1. ^

    Who is Krishna?

  2. ^

    Bhag-P 1.3.28 Diarsipkan 2013-01-23 di Wayback Machine. “All of the above-mentioned incarnations are either plenary portions or portions of the plenary portions of the Lord, but Lord Sri Krishna is the original Personality of Godhead.”

  3. ^


    Richard Thompson, Ph. D. (Desember 1994). “Reflections on the Relation Between Religion and Berbudaya Rationalism”. Diarsipkan dari versi ceria tanggal 2011-01-04. Diakses tanggal
    2008-04-12
    .




  4. ^


    a




    b




    c




    Mahony, W.K. (1987). “Perspectives on Krsna’s Various Personalities”.
    History of Religions. American Oriental Society.
    26
    (3): 333–335. doi:10.2307/599733. JSTOR 10.2307/599733.





  5. ^


    Selengut, Charles (1996). “Charisma and Religious Innovation:Prabhupada and the Founding of ISKCON”.
    ISKCON Communications Journal.
    4
    (2). Diarsipkan dari versi zakiah tanggal 2012-07-10. Diakses tanggal
    2010-12-06
    .





  6. ^

    Bryant 2007, hlm. 17

  7. ^


    Hiltebeitel, Alf (2001).
    Rethinking the Mahābhārata: a reader’s guide to the education of the dharma king. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 251–53, 256, 259. ISBN 0-226-34054-6.





  8. ^


    B.M.Misra.
    Orissa: Shri Krishna Jagannatha: the Mushali parva from Sarala’s Mahabharata. Oxford University Press, USA. ISBN 0-19-514891-6.




    in Bryant 2007, hlm. 139
  9. ^


    a




    b




    Indian Divinity.com. “Artikel, fakta, dan mitologi Hindu”.




  10. ^


    Gyandev, Nayaswami. “Why Is Krishna Blue?”. Ananda.org.



  11. ^


    a




    b




    c




    Jain, P.C. (September 2004). “Iconographic Perception of Krishna’s Image”. Exotic India.com.




  12. ^


    “Sri Krishna: The One with the Attributes of God”. Diarsipkan berbunga versi tahir rontok 2010-06-19. Diakses tanggal
    2010-12-15
    .





  13. ^



    The Encyclopedia Americana. [s.l.]: Grolier. 1988. hlm. 589. ISBN 0-7172-0119-8.





  14. ^


    Benton, William (1974).
    The New [[Encyclopaedia Britannica]]. Encyclopaedia Britannica. hlm. 885. ISBN 0852292902, 9780852292907.





  15. ^

    D. D. Kosambi (1962), Myth and Reality: Studies in the Formation of Indian Culture, New Delhi, CHAPTER I: SOCIAL AND ECONOMIC ASPECTS OF THE BHAGAVAD-GITA, paragraf 1.16

  16. ^


    Harle, J. C. (1994).
    The art and architecture of the Indian Subcontinent. New Haven, Conn: Yale University Press. hlm. 410. ISBN 0-300-06217-6.
    figure 327. Manaku, Radha’s messenger describing Krishna standing with the cow-girls, from Basohli.





  17. ^


    Datta, Amaresh (1994).
    Encyclopaedia of Indian Literature. Sahitya Akademi. hlm. 4290.





  18. ^

    The penny cyclopædia [ed. by G. Long]. 1843, hal. 390 [1]

  19. ^

    Ramesh M. Dave, K. K. A. Venkatachari,
    The Bhakta-bhagawan Relationship: Paramabhakta Parmeshwara Sambandha. Sya. Go Mudgala, Bochasanvasi Shri Aksharpurushottama Sanstha, 1988. kejadian. 74

  20. ^

    Valpey 2006, hlm. 52

  21. ^


    Hoiberg, Dale (2000).
    Students’ Britannica India. Popular Prakashan. hlm. 251. ISBN 0852297602, 9780852297605.





  22. ^


    Satsvarupa dasa Goswami (1998). “The Qualities of Sri Krsna”. GNPress: 152 pages. ISBN 0911233644.



  23. ^


    a




    b



    Witoba tidak tetapi dipandang sebagai perwujudan Kresna. Beliau kembali dianggap sebagai awatara Wisnu, Siwa dan Gautama Buddha tergantung tali peranti. Lihat:
    Kelkar, Ashok R. (2001) [1992]. “Sri-Vitthal: Ek Mahasamanvay (Marathi)
    maka itu R.C. Dhere”.
    Encyclopaedia of Indian literature.
    5. Sahitya Akademi. hlm. 4179. Diakses tanggal
    2008-09-20
    .




    dan
    Mokashi, Digambar Balkrishna (1987).
    Palkhi: a pilgrimage to Pandharpur — translated from the Marathi book Pālakhī by Philip C. Engblom. Albany: State University of New York Press. hlm. 35. ISBN 0887064612.





  24. ^


    Wendy Doniger (2008). “Britannica: Mahabharata”.
    encyclopedia. Encyclopædia Britannica Online. Diakses sungkap
    2008-10-13
    .





  25. ^

    Matapariksha: An examination of religions, Piutang 1 By John Muir

  26. ^

    The Religions of India Volume 1, Volume 1 By Edward Washburn Hopkins

  27. ^

    Indian Hist (Opt) By Reddy

  28. ^

    http://kurukshetra.nic.in/museum-website/archeologicaltreasure.html

  29. ^

    III. i. 23, Ulâro so Kaṇho isi ahosi.

  30. ^

    Hastings 2003, hlm. 540–42

  31. ^

    Bryant 2007, hlm. 5

  32. ^


    Barnett, Lionel David (1922).
    Hindu Gods and Heroes: Studies in the History of the Religion of India. J. Murray. hlm. 93.





  33. ^


    Keraton, B.N. (1968).
    India in the Time of Patanjali. Bhartiya Vidya Bhavan.



    Page 51: The coins of Raj uvula have been recovered from the Sultanpur District.. the Brahmi inscription on the Mora stone slab, now in the Mathura Museum,

  34. ^


    Barnett, Lionel David (1922).
    Hindu Gods and Heroes: Studies in the History of the Religion of India. J. Murray. hlm. 92.





  35. ^


    Elkman, S.M. (1986).
    Jiva Gosvamin’s Tattvasandarbha: A Study on the Philosophical and Sectarian Development of the Gaudiya Vaisnava Movement. Motilal Banarsidass Pub.




  36. ^


    a




    b



    Knott 2000, hlm. 61

  37. ^

    Astrology Notes Diarsipkan 2007-07-04 di Wayback Machine.; Sri Krishna: His Birth and Activities. N.S. Rajaram menetapkan tanggal-copot tersebut sebesar skor nominal detik ia berpendapat bahwa “Kami n kepunyaan bukti yang luar biasa yang menunjukkan bahwa Kresna adalah biang kerok album yang pernah ada plong abad di kedua arah berpokok sungkap tersebut, adalah pada periode 3200-3000 SM”. (‘Search for the Historical Krishna’ 1999)

  38. ^

    Lihat horoskop nomor 1 dalam
    Dr. B.V. Raman (1991).
    Notable Horoscopes. Delhi, India: Motilal Banarsidass. ISBN 8120809017.





  39. ^

    Menurut kitab
    Bhagawatapurana
    dan
    Wisnupurana, Kangsa adalah kakak kandung Dewaki atau paman dari Krishna. Pernyataan ini juga boleh ditemukan privat
    Purana
    lainnya, seperti
    Dewibhagawatapurana. Baca
    Wisnupurana
    Buku V Bab 1, diterjemahkan oleh H. H. Wilson, (1840); kitab
    Srimad Bhagavatam, diterjemahkan oleh A.C. Bhaktivedanta Swamiprabhupada, (1988) nasib baik cipta Bhaktivedanta Book Trust

  40. ^

    Bryant 2004, hlm. 425 (Note. 4)

  41. ^

    Bryant 2004, hlm. 16 (Bh.P. X Ch 2.18)[2]

  42. ^

    Tripurari, Swami,
    Gopastami Diarsipkan 2011-07-18 di Wayback Machine.,
    Sanga Diarsipkan 2009-12-10 di Wayback Machine., 1999.

  43. ^


    Lynne Gibson (1844).
    Calcutta Review. India: University of Calcutta Dept. of English. hlm. 119.





  44. ^


    Lynne Gibson (1999).
    Merriam-Webster’s Encyclopedia of World Religions. Merriam-Webster. hlm. 503.





  45. ^


    The English Writings of Rabindranath Tagore (ed. Sisir Kumar Das) (1996).
    A Vision of Indias History. Sahitya Akademi: Sahitya Akademi. hlm. 444. ISBN 8126000945.





  46. ^


    Schweig, G.M. (2005).
    Dance of divine love: The Rasa Lila of Krishna from the Bhagavata Purana, India’s classic sacred love story. Princeton University Press, Princeton, NJ; Oxford. ISBN 0691114463.





  47. ^

    Bryant 2007, hlm. 28–29

  48. ^


    Mythfolklore.net. “Dwaraka”. Diakses tanggal
    2010-12-14
    .





  49. ^

    Carudewa Sastri, Suniti Kumar Chatterji (1974) Charudeva Shastri Felicitation Volume, hlm. 449

  50. ^

    David L. Haberman, (2003) Motilal Banarsidass, The Bhaktirasamrtasindhu of Rupa Gosvamin, hlm. 155, ISBN 81-208-1861-X

  51. ^

    Bryant 2007, hlm. 152

  52. ^


    Aparna Chatterjee (10 Desember 2007). “The Ashta-Bharyas”.
    American Chronicle. Diarsipkan bermula versi kudrati tanggal 2012-12-06. Diakses sungkap
    21 April
    2010
    .





  53. ^

    Bryant 2007, hlm. 130–133

  54. ^

    Rosen 2006, hlm. 136

  55. ^


    “Deities: Krishna & Shishupal”.




  56. ^

    Kresna dalam
    Bhagawadgita, maka itu Robert N. Minor dalam Bryant 2007, hlm. 77–79

  57. ^


    A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. “Bhagavad-gita Menurut Aslinya, Pendahuluan”. Bhaktivedanta VedaBase Network (ISKCON). Diarsipkan dari versi zakiah rontok 2009-01-22. Diakses terlepas
    2008-01-14
    .




    “Subjek Bhagavad-gita mengangkut pemahaman lima kebenaran dasar”.

  58. ^

    Bryant 2007, hlm. 148

  59. ^


    Kisari Mohan Ganguli (2006 – digitalisasi). “Mahabharata (aslinya diterbitkan antara tahun 1883 dan 1896)”.
    book. Sacred Texts. Diakses copot
    2008-10-13
    .





  60. ^


    Semen, Vettam (1975).
    Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary With Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 429. ISBN 0842-60822-2.





  61. ^


    Bhagawatapurana
    (1.18.6),
    Wisnupurana
    (5.38.8), dan
    Brahmapurana
    (212.8) menyatakan bahwa tahun ketika Kresna meninggal adalah saat Dwaparayuga berjarak dan Kaliyuga dimulai.

  62. ^

    Baca: Matchett, Freda,
    “The Puranas”, hlm. 139 dan Yano, Michio,
    “Calendar, astrology and astronomy”
    intern
    Flood, Gavin (Ed) (2003).
    Blackwell companion to Hinduism. Blackwell Publishing. ISBN 0-631-21535-2.





  63. ^

    Sutton (2000) hlm.174-175

  64. ^


    Kisari Mohan Ganguli (2006 – digitalisasi). “Mahabharata, Resep 5: Udyoga Parwa: Bhagawata Yana Parwa: episode CXXXI (aslinya diterbitkan antara hari 1883 dan 1896)”.
    book. Sacred Texts. Diakses tanggal
    2008-10-13
    .





  65. ^


    John Dowson (2003).
    Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion, Geography, History and Literature. Kessinger Publishing. hlm. 361. ISBN 0-7661-7589-8.





  66. ^

    See Beck, Guy,
    “Introduction”
    in Beck 2005, hlm. 1–18

  67. ^

    Knott 2000, hlm. 55

  68. ^

    Flood (1996) hal. 117
  69. ^


    a




    b



    McDaniel, June,
    “Folk Vaishnavism and
    Ṭhākur Pañcāyat: Life and gengsi among village Krishna statues”

    dalam Beck 2005, hlm. 39
  70. ^


    a




    b




    Kennedy, M.T. (1925).
    The Chaitanya Movement: A Study of the Vaishnavism of Pengang. H. Milford, Oxford university press.





  71. ^


    K. Klostermaier (1997).
    The Charles Strong Trust Lectures, 1972-1984. Crotty, Robert B. Brill Academic Pub. hlm. 109. ISBN 90-04-07863-0.
    Lakukan pemujanya Dia bukanlah awatara privat pengertian biasa, belaka perumpamaan
    swayam bhagawan, Yang mahakuasa itu sendiri.






  72. ^


    Philosophy, Vrindāvan (India) Institute of Oriental; (vrindāvan, Institute of Oriental Philosophy; India),; Institute, Vaishnava Research (1975).
    Indian Philosophy & Culture. Vrindāvan (India): Institute of Oriental Philosophy. hlm. 148.




    “On the touch-stone of this definition of the final and positive characteristic of Sri Krsna as the Highest Divinity as Svayam-rupa Bhagavan.”

  73. ^

    Delmonico, Horizon.,
    The History Of Indic Monotheism And Modern Chaitanya Vaishnavism
    dalam Ekstrand 2004

  74. ^


    De, S.K. (1960).
    Bengal’s contribution to Sanskrit literature & studies in Bengal Vaisnavism. KL Mukhopadhyaya.




    situasi. 113: “The Bengal School identifies the Bhagavat with Krishna depicted in the Shrimad-Bhagavata and presents him as its highest personal god.”

  75. ^

    Bryant 2007, hlm. 381

  76. ^


    “Vaishnava”.
    encyclopedia. Division of Religion and Philosophy University of Cumbria. Diarsipkan dari versi nirmala copot 2012-02-05. Diakses tanggal
    2008-10-13
    .





  77. ^


    Graham M. Schweig (2005).
    Dance of Divine Love: The Rڄasa Lڄilڄa of Krishna from the Bhڄagavata Purڄa. na, India’s classic sacred love story. Princeton, Ufuk.J: Princeton University Press. Front Matter. ISBN 0-691-11446-3.





  78. ^

    Bryant 2007, hlm. 4

  79. ^


    Hein, Norvin. “A Revolution in
    Kṛṣṇaism: The Cult of Gopāla: History of Religions, Vol. 25, No. 4 (May, 1986 ), kejadian. 296-317″. www.jstor.org. Diakses tanggal
    2008-05-24
    .




  80. ^


    a




    b




    c




    Hastings, James Rodney (2nd edition 1925-1940, reprint 1955, 2003) [1908-26].
    Encyclopedia of Religion and Ethics. John A Selbie (edisi ke-Volume 4 of 24 ( Behistun (continued) to Bunyan.)). Edinburgh: Kessinger Publishing, LLC. hlm. 476. ISBN 0-7661-3673-6. Diakses terlepas
    2008-05-03
    .
    The encyclopedia will contain articles on all the religions of the world and on all the great systems of ethics. It will aim at containing articles on every religious belief or custom, and on every ethical movement, every philosophical idea, every moral practice.




    hal. 540-42

  81. ^

    Bhattacharya, Gouriswar:
    Vanamala of Vasudeva-Krsna-Visnu and Sankarsana-Balarama. In: Vanamala. Festschrift A.J. Gail. Serta Adalberto Joanni Gail LXV. diem natalem celebranti ab amicis collegis discipulis dedicata.

  82. ^


    Klostermaier, Klaus K. (2005).
    A Survey of Hinduism. State University of New York Press; 3 edition. hlm. 206. ISBN 0791470814.
    Present day Krishna worship is an amalgam of various elements. According to historical testimonies Krishna-Vasudeva worship already flourished in and around Mathura several centuries before Christ. A second important element is the cult of Krishna Govinda. Still later is the worship of Pasukan-Krishna, the Child Krishna—a quite prominent feature of beradab Krishnaism. The last element seems to have been Krishna Gopijanavallabha, Krishna the lover of the Gopis, among whom Radha occupies a special position. In some books Krishna is presented as the founder and first teacher of the Bhagavata religion.





  83. ^


    Basham, A. L. “Review:Krishna: Myths, Rites, and Attitudes.
    by Milton Singer; Daniel H. H. Ingalls, The Journal of Berkat Studies, Vol. 27, No. 3 (May, 1968 ), hal. 667-670″. www.jstor.org. Diakses terlepas
    2008-05-24
    .





  84. ^


    Singh, R.R. (2007).
    Bhakti And Philosophy. Lexington Books. ISBN 0739114247.



    hal. 10: “[Panini’s] term Vāsudevaka, explained by the second century B.C commentator Patanjali, as referring to “the follower of Vasudeva, God of gods.”


  85. ^


    Couture, André (2006). “The emergence of a group of four characters (Vasudeva, Samkarsana, Pradyumna, and Aniruddha) in the Harivamsa: points for consideration”.
    Journal of Indian Philosophy.
    34
    (6): 571–585. doi:10.1007/s10781-006-9009-x.




  86. ^


    a




    b




    Klostermaier, K. (1974). “The Bhaktirasamrtasindhubindu of Visvanatha Cakravartin”.
    Journal of the American Oriental Society. American Oriental Society.
    94
    (1): 96–107. doi:10.2307/599733. JSTOR 10.2307/599733. Diakses terlepas
    2008-04-12
    .





  87. ^


    Vaudeville, C. (1962). “Evolution of Love-Symbolism in Bhagavatism”.
    Journal of the American Oriental Society. American Oriental Society.
    82
    (1): 31–40. doi:10.2307/595976. JSTOR 10.2307/595976. Diakses copot
    2008-06-20
    .





  88. ^


    Bowen, Paul (1998).
    Themes and issues in Hinduism. London: Cassell. hlm. 64–65. ISBN 0-304-33851-6.





  89. ^


    Radhakrisnasarma, C. (1975).
    Landmarks in Telugu Literature: A Short Survey of Telugu Literature. Lakshminarayana Granthamala.





  90. ^


    Sisir Kumar Das (2005).
    A History of Indian Literature, 500-1399: From Courtly to the Popular. Sahitya Akademi. hlm. 49. ISBN 8126021713.





  91. ^


    Selengut, Charles (1996). “Charisma and Religious Innovation:Prabhupada and the Founding of ISKCON”.
    ISKCON Communications Journal.
    4
    (2). Diarsipkan bersumber versi ceria tanggal 2012-07-10. Diakses sungkap
    2010-12-06
    .





  92. ^


    Srila Prabhupada – He Built a House in which the whole world can live, Satsvarupa dasa Goswami, Bhaktivedanta Book Trust, 1983, ISBN 0-89213-133-0
    page xv

  93. ^

    Varadpande hlm.231

  94. ^

    Varadpande hlm.232-3

  95. ^


    Schweig, G.M. (2005).
    Dance of divine love: The Rasa Lila of Krishna from the Bhagavata Purana, India’s classic sacred love story. Princeton University Press, Princeton, NJ; Oxford. ISBN 0691114463.





  96. ^


    “Bhag-P 10.33.39”. Diarsipkan dari versi kudus rontok 2008-06-18. Diakses tanggal
    2010-12-10
    .





  97. ^



    Alegori n domestik Budaya Jawa-Hindu
    (edisi ke-451), Maklumat Hindu Dharma





    [
    pranala purnajabatan permanen
    ]



  98. ^


    Jaini, P.S. (1993). “Jaina Puranas: A Puranic Counter Tradition”.
    Journal of the American Oriental Society.
    94: 96. doi:10.2307/599733.





  99. ^


    Cort, J.E. (1993). “An Overview of the Jaina Puranas”.
    Journal of the American Oriental Society.
    94: 96. doi:10.2307/599733.





  100. ^

    Baca: Jerome H. Bauer
    “”Hero of Wonders, Hero in Deeds:
    Vasudeva
    Krishna dalam Sejarah Jainisme

    dalam Beck 2005, hlm. 167–169

  101. ^


    “Andhakavenhu Puttaa”. www.vipassana.info. Diakses tanggal
    2008-06-15
    .




  102. ^


    a




    b




    Law, B.C. (1941).
    India as Described in Early Texts of Buddhism and Jainism. Luzac.





  103. ^


    Jaiswal, S. (1974). “Historical Evolution of the Ram Legend“.
    Social Scientist.
    94: 96. doi:10.2307/599733.





  104. ^


    Hiltebeitel, A. (1990).
    The Ritual of Battle: Krishna in the Mahabharata. State University of New York Press.





  105. ^


    The Turner of the Wheel. Hidup Sariputta, disusun dan diterjemahkan terbit bahasa Pali oleh Nyanaponika Thera

  106. ^


    Guth, C.M.E. “Monumenta Nipponica, Vol. 42, No. 1 (Spring, 1987 ), hal. 1-23”. www.jstor.org. Diakses tanggal
    2008-07-02
    .





  107. ^


    Esslemont, J.E. (1980).
    Bahá’u’lláh and the New Era
    (edisi ke-5th). Wilmette, Illinois, USA: Bahá’í Publishing Trust. hlm. 2. ISBN 0-87743-160-4.




  108. ^


    a




    b




    Ahmad, Mirza Ghulam (2007).
    Lecture Sialkot
    (PDF). Tilford: Islam International Publications Ltd. ISBN 1-85372-917-5.





  109. ^


    Harvey, D. A. (2003). “Beyond Enlightenment: Occultism, Politics, and Culture in France from the Old Regime to the
    Fin-de-Siècle“.
    The Historian. Blackwell Publishing.
    65
    (3): 665–694. doi:10.1111/1540-6563.00035.





  110. ^


    Schure, Edouard (1992).
    Great Initiates: A Study of the Secret History of Religions. Garber Communications. ISBN 0893452289.





  111. ^

    Lihat model sreg:
    Hanegraaff, Wouter J. (1996).
    New Age Religion and Western Culture: Esotericism in the Mirror of Secular Thought. Penerbit Brill. hlm. 390. ISBN 9004106960.



    ,
    Hammer, Olav (2004).
    Claiming Knowledge: Strategies of Epistemology from Theosophy to the New Age. Penerbit Brill. hlm. 62, 174. ISBN 900413638X.



    , dan
    Ellwood, Robert S. (1986).
    Theosophy: A Modern Expression of the Wisdom of the Ages. Quest Books. hlm. 139. ISBN 0835606074.





  112. ^

    Crowley menghubungkan Kresna dengan betara Romawi Dionisos dan Magickal formulae IAO, AUM dan INRI. Baca
    Crowley, Aleister (1991).
    Liber Aleph. Weiser Books. hlm. 71. ISBN 0877287295.




    dan
    Crowley, Aleister (1980).
    The Book of Lies. Red Wheels. hlm. 24–25. ISBN 0877285160.





  113. ^


    Apiryon, Tau (1995).
    Mystery of Mystery: A Primer of Thelemic Ecclesiastical Gnosticism. Berkeley, CA: Red Flame. ISBN 0971237611.




Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumur]

  • Beck, Guy L. (1993).
    Sonic theology: Hinduism and sacred sound. Columbia, S.C: University of South Carolina Press. ISBN 0-87249-855-7.



  • Bryant, Edwin H. (2004).
    Krishna: the beautiful legend of God;. Penguin. ISBN 0-14-044799-7.



  • Bryant, Edwin H. (2007).
    Krishna: A Sourcebook. Oxford University Press, AS. ISBN 0-19-514891-6.



  • The Mahabharata
    of Krishna-Dwaipayana Vyasa, diterjemahkan maka dari itu Kisari Mohan Ganguli, diterbitkan antara tahun 1883 dan 1896
  • The Vishnu-Purana, diterjemahkan oleh H. H. Wilson, (1840)
  • The Srimad Bhagavatam, diterjemahkan maka itu A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, (1988) hak cipta Bhaktivedanta Book Trust
  • Knott, Kim (2000).
    Hinduism: A Very Short Introduction. Oxford University Press, USA. hlm. 160. ISBN 0192853872.



  • The Jataka or Stories of the Buddha’s Former Births, disunting oleh E. B. Cowell, (1895)
  • Ekstrand, Maria (2004). Bryant, Edwin H., ed.
    The Hare Krishna movement: the postcharismatic fate of a religious transplant. New York: Columbia University Press. ISBN 0-231-12256-X.



  • Goswami, S.D (1998). “The Qualities of Sri Krsna”
    (PDF). GNPress. ISBN 0911233644.





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

  • Garuda Pillar of Besnagar, Archaeological Survei of India, Annual Report (1908–1909). Calcutta: Superintendent of Government Printing, 1912, 129.
  • Flood, G.D. (1996).
    An Introduction to Hinduism. Cambridge University Press. ISBN 0521438780.



  • Beck, Guy L. (Ed.) (2005).
    Alternative Krishnas: Regional and Vernacular Variations on a Hindu Deity. SUNY Press. ISBN 0791464156.



  • Rosen, Steven (2006).
    Essential Hinduism. New York: Praeger. ISBN 0-275-99006-0.



  • Valpey, Kenneth R. (2006).
    Attending
    Kṛṣṇa‘s image:
    Caitanya Vaiṣṇava mūrti-sevā
    as devotional truth
    . New York: Routledge. ISBN 0-415-38394-3.



  • Sutton, Nicholas (2000).
    Religious doctrines in the Mahābhārata. Motilal Banarsidass Publ.,. hlm. 477. ISBN 8120817001.



  • History of Indian Theatre
    Oleh M. L. Varadpande. Bab
    Theatre of Krishna, hlm. 231–94. Terbit tahun 1991, Abhinav Publications, ISBN 81-7017-278-0.

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumur]

  • (Inggris)
    Segala apa hal tentang Kresna di situs krishna.com
  • (Inggris)
    Mencari Kresna seumpama tokoh sejarah, oleh Prof. Horizon.S. Rajaram
  • (Inggris)
    Artikel Sri Krishna, oleh Stephen Knapp
  • (Inggris)
    Riwayat Sri Kresna dalam
    Bhagawatapurana
    (Srimad-Bhagavatam) Diarsipkan 2013-01-23 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Kehidupan Kresna Diarsipkan 2016-05-19 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Jalan spirit Kresna
  • (Inggris)
    Kisah kepahlawanan Sri Kresna
Kresna
Sebelumnya:
Rama
Awatara Wisnu
ke-8
Berikutnya:
Buddha Gautama1

atau
Baladewa2
Coretan
1 versi India Utara
2 versi India Daksina



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kresna

Posted by: and-make.com