A Pemahaman Dasar Tentang Proses Belajar Mengajar

Privat arwah yang bertamadun ini sudah selayaknya Konsep asal sparing dan mengajar ini menjadikan prinsip dasar nan tinggal fundamental yang harus dipahami para suhu intern gambar melaksanakan proses belajar mengajar di urat kayu lingkup dunia pendidikan. Dengan didasari memahami mengenai konsep radiks membiasakan mengajar diharapkan tercapainya suatu intensi berbunga proses berlatih mengajar yang berkualitas dan lega akhirnya dapat diaplikasikan kerumahtanggaan kehidupan sehari-hari, setidaknya maka dari itu para guru bak pendidik dalam rangka pemahaman dan menciptakan peserta ajar nan berkualitas sesuai dengan karakteristik minat dan talenta serta kemampuan nan dimiliki pelajar.

Signifikansi Belajar dan Mengajar

Definisi sparing

Belajar yaitu suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman (Gagne 1984). Belajar ialah muslihat yang minimal utama pecah setiap manuver pendidikan. Jadi tanpa berlatih selayaknya tak aliansi terserah pendidikan. Sparing perumpamaan satu proses dan berlatih dekat selalu berbahagia wadah yang luas dalam beraneka macam disiplin mantra nan berbimbing dengan upaya kependidikan. Seumpama contoh psikologi pendidikan serta ilmu jiwa berlatih.Perubahan serta kemampuan kerjakan berubah yaitu batasan serta makna nan terkandung di dalam belajar. Hal ini disebabkan karena kemampuan berubah yang dikarenakan belajar. Maka, basyar boleh berkembang lebih jauh dari makhluk nan lainnya sehingga dia terpilih bak khalifah di bumi ini ataupun bisa jadi karena kemampuan berkembang melalui sparing itu pula anak adam secara bebas bisa mengeksplorasi serta mengidas dan menetapkan keputusan-keputusan yang penting di dalam hidup mereka.Konsep dasar belajar merupakan kegiatan yang berposes intern memakai partikel yang suntuk fundamental dalam penyelenggaraan setiap diversifikasi dan jenjangpendidikan.

Hal ini bermakna bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan itu amat gelimbir pada proses belajar yang dijalani siswa baik lega saat dia berkecukupan di sekolah maupun berada di lingkungan flat atau di lingkungan keluarganya sendiri.Bakal itu pemahaman yang benar tentang konsep dasar belajar dengan segala aspek serta bentuk dan manivestasinya dahulu mutlak dibutuhkan oleh para pengajar. Adanya salah tafsir maupun ketidak lengkapan persepsi mereka akan proses berlatih dan hal-kejadian yang berkaitan dengannya barangkali bisa mengakibatkan kurang bermutunya hasil sparing nan dicapai murid. Ada sebagian orang yang menyahajakan bahwa konsep dasar belajar hanya semata-mata menghapalkan atau mengumpulkan fakta-fakta yang terserah dalam bentuk embaran atau materi n domestik pelajaran. Maka khalayak yang beranggapan begitu juga itu biasanya akan buru-buru merasa bangga saat anak-anaknya telah dapat mengistilahkan kembali secara lisan sebagian lautan pemberitaan yang ada di dalam buku teks atau yang di ajarkan oleh hawa.

Selain itu, terserah kembali sebagian orang yang memandang bahwa belajar adalah tutorial biasa seperti yang tertentang pada latihan membaca serta menggambar. Persepsi semacam ini biasanya membuat mereka akan merasa cukup lega jika anak asuh-anak mereka sudah bisa memperlihatkan keterampilan secara fisik tertentu walaupun tanpa pengetahuan tentang arti dan hakikat serta tujuan kesigapan tersebut.

Definisi Mengajar

Menurut Wijaya (1991) mengajar yaitu membimbing pesuluh belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang suka-suka disekitar siswa sehingga dapat memerosokkan dan menumbuhkan pelajar untuk melakukan kegiatan berlatih. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa intern proses belajar mengajar terjadi interaksi antara guru dan pelajar, melampaui kekeluargaan komunikasi imbang balik dimana temperatur dalam hal ini bertindak andai komunikan. Kerumahtanggaan proses tersebut dimana guru menganjurkan pesan-wanti-wanti dalam tulang beragangan materi pembelajaran yang harus bisa diterima siswa sesuai dengan yang dimaksud temperatur tersebut.

Makara dalam proses sparing mengajar ini terjadi interaksi semua suku cadang alias partikel yang terdapat privat pembelajaran baik guru, murid, sarana, dan tatalaksananya nan saling berkaitan suatu sama lainnya bikin mengaras tujuan pembelajaran tersebut. Istilah mengajar (teach) juga berhubungan dengan token yang berarti tanda atau symbol. Kata token juga berpunca pecah Bahasa Jerman kuno, taiknom, merupakan siaran dari taikjan. Privat bahasa Inggris historis teacan secara berarti to teach (mengajar). Dengan demikian, token dan teach secara historis mempunyai keterkaitan. To teach (mengajar) dilihat dari asal usul katanya berarti menunjuk-nunjukkan sesuatu kepada seseorang melalui tanda atau simbol, penggunaan tanda atau simbol itu dimaksudkan untuk menggarangkan atau menumbuhkan respons mengenai peristiwa, seseorang, observasi, penemuan dan tak sebagainya.

Konsep Dasar Sparing dan mengajar

Konsep dasar belajar dan mengajar merupakan suatu mandu dasar nan sangat fundamental yang harus dipahami para guru dalam kerangka melaksanakan proses belajar mengajar di ulas lingkup bumi pendidikan. Dengan didasari memahami mengenai konsep dasar belajar mengajar diharapkan tercapainya suatu harapan berpangkal proses berlatih mengajar yang berkualitas dan pada karenanya bisa diaplikasikan dalam roh sehari-periode, setidaknya oleh para guru sebagai pendidik intern rang pemahaman dan menciptakan pelajar didik nan berkualitas sesuai dengan karakteristik minat dan bakat serta kemampuan nan dimiliki pesuluh.

Guru yakni figur yang taktik intern rangka melaksanakan manfaat dan tugas institusional dalam proses membiasakan mengajar, karena di tangan para guru terwalak peluang berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan di sekolah yang berkaitan dengan tahun depan karier para pesuluh jaga yang menjadi tumpuan harapan para orang tua. Oleh karena itu setidaknya seorang guru mempunyai tugas-tugas sendi antara lain: bernas dan elok merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan membimbing kegiatan belajar mengajar. Dengan introduksi lain para guru berharta menunaikan tugas dengan seelok-baiknya dengan memahami dengan seksama peristiwa-kejadian yang bertalian dengan proses belajar mengajar, sebagai berikut:

a) Aspek siswa, sendiri guru harus memahami segala karakteristik perbedaan yang ada pada diri peserta asuh, keefektifan menyentuh tujuannya sesuai dengan hierarki kronologi para peserta didik.

b) Aspek maksud, yakni barang apa yang kesudahannya diharapkan tercapainya setelah adanya kegiatan sparing mengajar, nan diaplikasikan ke intern kegiatan yang terencana dan dapat dievaluasi (tertaksir).

c) Aspek temperatur, perumpamaan figur pendidik seyogyanya kerumahtanggaan proses belajar mengajar cerbak mengusahakan terciptanya situasi yang mengarah puas proses pengalaman berlatih (learning experience)
puas diri siswa, dengan mengerahkann barang apa sumber (learning resources)
dan menggunakan strategi belajar mengajar (teaching-learning strategy) yang tepat (appropriate).

Dari sini keluih suatu pemahaman bahwa terjadinya perilaku belajar pada petatar dan perilaku mengajar pada guru bukan berlangsung dari suatu arah (one way
system)
melainkan terjadinya secara timbal erot (interaktif, two way traffic system) yang seyogyanya dipahami dan disepakati bersama.

Sekurang-kurangnya minimal ada tiga suku cadang yang harus dipahami oleh guru dalam rangka pencapaian dari peralihan-perubahan dari hasil proses belajar mengajar, yaitu:

a) Hakikat atau konsep dasar serta terjadinya perilaku belajar pada diri siswa.

b) Tolok dan cara memformulasikan harapan sparing mengajar (instruksional) dalam bentuk nan operasional yang dapat dipandang sebagai manifestasi hasil perilaku belajar siswa nan secara langsung boleh diamati (observasi) dan dapat dievaluasi ataupun diukur (measurable).

c) Karakteristik terdepan, tertera segi-segi faedah dan kelemahannnya, dari bilang model ketatanegaraan membiasakan mengajar yang umum, serta patokan yang bisa dipergunakan kerjakan memilihnya bagi keperluan penggunaannya.

Mengenali Perilaku Hasil Sparing

Berpunca aliansi interaksi proses belajar mengajar, diharapkan bisa mengarah pada pemaknaan yang sama atas dasar tujuan dari pembelajaran itu koteng. Maka itu karena itu pemaknaan mengidentifikasikan perilaku hasil belajar sangat terdepan dilakukan. Proses transisi perilaku atau pribadi seseorang berlandaskan praktik maupun pengalaman tertentu (Hilgard, 1948).

Asal dari tujuan interaksi dalam proses membiasakan mengajar baik dari pesuluh ataupun berasal guru merupakan tutul temu dan bersifat mengikat serta cenderung pada suatu aktivitas terbit kedua belah pihak. Dengan demikian, tolok keberhasilan dari wasilah keseluruhan proses interaksi membiasakan mengajar tersebut seyogiannya ditimbang atau dievaluasi pada tercapai tidaknya tujuan dari belajar mengajar tersebut nan dapat dilihat dari ada tidaknya pergantian-perubahan lega perilaku dan pribadi murid. Dengan kata lain siswa dapat dikatakan belajarnya berhasil kalau beliau sudah lalu mengalami perubahan-pertukaran setelah menjalani proses berlatih tersebut puas perilaku dan pribadinya.

Secara implisit mengidentifikan perilaku hasil sparing bisa dilihat berbunga adanya beberapa karakteristik sebagai berikut:

a) Pertukaran intensional, ialah dalam kebaikan pengalaman atau praktik atau latihan itu dengan sengaja dan didasari dilakukannya dan tidak secara kebetulan; dengan demikian perubahan karena kemantapan dan kematangan ataupun keletihan karena kebobrokan bukan dipandang laksana peralihan hasil berlatih.

b) Perubahan berperilaku positif, sesuai seperti nan diharapkan nan bersifat normatif maupun kriteria kemenangan baik dipandang berasal segi siswa begitu juga tingkat kemampuan dan bakat, tugas jalan, dan sebagainya. Maupun dari segi hawa yakni tuntutan masyarakat sesuai dengan tingkatan standar kulturalnya.

c) Perubahan bertabiat efektif, yaitu membawa pengaruh dan maknna tertentu bakal siswa itu sendiri yang relatif teguh dan setiap saat diperlukan boleh dipergunakann seperti internal menuntaskan ki kesulitan
(masalah solving), baik n domestik diri, dalam atma sehari-periode dan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Menjelaskan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Belajar


Belajar yaitu satu proses yang kompleks, dan ada beberapa faktor yang dapat menentukan hasil dari proses pembelajaran itu. Menurut Suryabrata (1989:142), faktor tersebut terdiri berpunca dua kelompok penting, yaitu faktor dari dalam dan faktor berpokok luar.


  • Faktor Dari Privat (Internal),

Faktor dari n domestik, adalah faktor yang mulai sejak dari diri siswa seorang. Faktor tersebut menutupi:

a. Ilmu faal, adalah hal jasmaniah secara umum ditambah keadaan pancaindranya. Anak dengan kondisi sehat, akan adv amat berbeda dengan anak nan mengalami sakit atau kehilangan gizi.

b. Keadaan Serebral (kejiwaan), yaitu keadaan psikologis pelajar nan menengah mengikuti proses pembelajaran, antara lain menyangkut keadaan semangatnya, motivasinya, kecerdasannya (kognitifnya), serta situasi emosinya.

c. Faktor Kepintaran, faktor ini sngat berpengaruh terhadap daya tangkap materi yang diajarkan antara satu makhluk siswa dengan peserta lainnya. Semakin tahapan tingkat kecerdasannya maka akan semakin mudah dia menangkap kursus, sebaiknya, semakin invalid tingkat kecerdasannya, maka akan semakin berat dia menerima materi pelajaran tersebut.

d. Bakat Individu. Setiap siswa memiliki bakat per yang berbeda satu sejajar lainnya. Seumpama teladan, misalnya siswa nan berbakat dibidang seni, akan dengan mudah menggetah materi penataran nan ada kaitanyya dengan kesenian, dibandingkan pelajar tidak yang tidak berbakat dibidang tuntunan ini.

e. Minat Petatar. Minat yaitu ketertarikan siswa terhadap varietas pelajaran maupun kegiatan pasti, semkain besar minat nan dimilikinya bikin mempelajari hal tertentu maka akan semakin baik hasil nan didapatnya.

f. Motivasi belajar. Yang dimaksud dengan cemeti disini yaitu: “sesuatu yang menyebabkan kegiatan belajar terjadi”. Motifasi ini dapat timbul sebagai akibat semenjak adanya pengaruh lingkungan, nasihat temperatur, kondisi peserta, faktor dinamis dalam membiasakan, atau bahkan cita-cita petatar tersebut.

g. Emosi Petatar. Emosi adalah kondisi psikologis makhluk untuk melakukan kegiatan, dalam kejadian ini kegiatan belajar. Kondisi psikologis siswa yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya antara lain adalah perasaan senang, sedih, murka, gembira, cemas dan lain-lain.

  • Faktor Pecah Asing (Eksternal)

Faktor luar yang berasal berpunca luar diri siswa nan boleh mempengaruhi proses dan hasil belajar murid, dapat disebabkan oleh:

a. Mileu alami, yaitu faktor yang mempengaruhi dalam proses membiasakan misalnya keadaan nur, peledak, waktu, gelanggang, ruangan, alat atau media penerimaan.

b. Musim pelaksanaan belajar, misalnya menyangkut pengalokasian waktu berlatih siswa dalam satu masa atau satu minggu. Jikalau jadwal kegiatan terlalu melelahkannya, maka hasil nan diperoleh akan kurang memuaskan dibandingkan mereka nan memiliki jadwal kegiatan nan wajar.

c. Kondisi semarak. Kondisi kilat yang suram akan terlampau berbeda dengan kondisi yang cerah, demikian kembali halnya, kondisi cuaca yang sangat panas atau dulu dingin akan berlainan dengan hasil belajar di momen kondisi semarak semenjana baik.

d. Kondisi gedung atau kelas bawah. Kondisi ruangan bangunan atau kelas bawah tinggal berpengaruh terhadap hasil akhir proses pengajian pengkajian siswa. Gedung nan dirancang dan dibangun menurut kaidah standar papan bawah, akan sangat berbeda dengan kondisi gedung yang dibangun darurat yang kurang memperhatikan faktor kenyamanan penggunannya.

e. Peralatan / kendaraan berlatih. Perlatan sparing teragendakan di dalamnya wahana pembelajaran yang memadai akan sngat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran nan disampaikan oleh guru suatu mata pelajaran. Peralatan belajar ini dapat berbentuk peranti kers dapat pun berbentuk perangkat lunak, laksana transendental misalnya berbagai program aplikasi untuk pembelajaran TIK.

f. Mileu. Yang dimaksud dengan lingkungan dalam hal ini adalah mileu pataka serta lingkungan pertalian social disekitarnya, misalnya basyar tua bangka, plasenta lebih-lebih tandingan-antagonis. Lingkungan nan gemar menimba aji-aji, akan berpengaruh juga terhadap perilakunya belajar petatar baik di sekolah maupun diluar sekolah.

Hasil Belajar dan Pengukuran Keberhasilan

Di dalam konsep dasar belajar dan mengajar suka-suka bilang peristiwa yang perlu di laksanakan diantaranya yakni :


  • Pelaksanaan Evaluasi

Salah satu tugas sosi temperatur adalah mengevaluasi taraf keberhasilan gambar dan penyelenggara kegiatan belajar mengajar. Cak bagi menimbang sejauhmana taraf keberuntungan mengajar temperatur dan berlatih siswa secara tepat
(meyakinkan)
dan dapat dipercaya
(reliable),
kita memerlukan informasi yang didukung oleh data yang independen dan memadai akan halnya penanda-parameter persilihan perilaku dan peribadi murid. Wujud perubahan perilaku dan pribadi andai hasil berlatih dapat berperangai; fungsional-struktural, material-berwujud, behavioral. Untuk memudahkan sistematikanya bisa kita gunakan pengklasifikasian perilaku menurut Bloom dalam Term area-kawasann: psikologis, afektif dan psikomotor.


  • Tujuan Evaluasi

Sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu bahwa evaluasi dilaksanakan dengan berbagai ragam pamrih. Spesial terkait dengan penerimaan, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:

1. Mendeskripsikan kemampuan sparing pesuluh.

2. Mengetahui tingkat keberhasilan PBM

3. Menentukan tindak lanjur hasil penilaian

4. Mmberikan pertanggung jawaban (accountability)


  • Fungsi Evaluasi

Sejalan dengan tujuan evaluasi di atas, evaluasi nan dilakukan juga n kepunyaan banyak manfaat, diantaranya merupakan fungsi:

1. Selektif

2. Diagnostik

3. Penempatan

4. Pengukur kemenangan

Selain keempat arti di atas Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan masih ada fungsi-kebaikan bukan bermula evaluasi penerimaan, yaitu kurnia: 1. Remedial 2. Umpan pesong 3. Memotivasi dan membimbing momongan 4. Restorasi kurikulum dan programa pendidikan 5. Peluasan mantra


  • Keefektifan Evaluasi Secara awam

Kurnia yang dapat diambil bermula kegiatan evaluasi privat pembelajaran, ialah :

a. Mengarifi sesuatu : mahasiswa (entry behavior, cambuk, dll), media dan prasarana, dan kondisi dosen

b. Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “kelainan”, dll

c. Meningkatkan kualitas KBM : komponen-komponen KBM Tentatif secara lebih khusus evaluasi akan memberi arti bagi pihak-pihak yang terkait dengan penataran, seperti pelajar, guru, dan kepala sekolah.

Bakal Pesuluh : Memaklumi tingkat pencapaian maksud penelaahan : Memuaskan atau enggak memuaskan

Untuk Guru:

a. Mendeteksi pelajar yang mutakadim dan belum menguasai harapan : menyinambungkan, remedial atau pengayaan

b. Ketelitian materi nan diberikan : keberagaman, cak cakupan, tingkat kesulitan, dll.

c. Ketepatan metode yang digunakan

Bagi Sekolah merupakan :

a. Hasil belajar cermin kualitas sekolah

b. Membuat program sekolah

c. Pemenuhan patokan


  • Varietas-varietas Evaluasi
  1. Formatif Evaluasi.

Formatif yaitu evaluasi yang dilakukan sreg setiap pengunci pembahasan suatu siasat bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk memafhumi sepanjang manakah satu proses pembelajaran sudah lalu berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa nan dimaksud dengan evaluasi formatif yaitu pendayagunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlantas, agar siswa dan guru memperoleh makrifat (feedback) tentang kemajuan nan sudah lalu dicapai. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sebatas seberapa jauh siswa telah mengendalikan materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. b. Sumatif Evaluasi. Sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap pengunci suatu satuan waktu nan didalamnya inklusif lebih bermula satu sendi bahasan, dan dimaksudkan untuk

Mengetahui sejauhmana petatar didik sudah lalu boleh berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif umpama penggunaan tes-verifikasi pada akhir suatu perian pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit latihan nan diajarkan privat satu semester, terlebih sesudah selesai pembahasan suatu bidang studi.

  1. Diagnostik Evaluasi.

Diagnostik adalah evaluasi yang digunakan buat mengerti keefektifan-kurnia dan kelemahan-kelemahan yang ada plong peserta sehingga bisa diberikan perlakuan nan tepat. Evaluasi diagnostik boleh dilakukan dalam beberapa tahapan, baik lega tahap awal, selama proses, alias akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap nomine siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan semula ataupun butir-butir keharusan yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan cak bagi mengetahui bahan-objek pelajaran mana nan masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi pertolongan secara dini semoga pelajar lain sederhana terlalu jauh. Sementara lega tahap penutup evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang mutakadim dipelajarinya.


  • Pendirian Evaluasi

Terdapat beberapa prinsip nan harus diperhatikan intern melaksanakan evaluasi, mudahmudahan berkat informasi yang akurat, diantaranya:

a. Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian dengan patokan : Kurikulum/silabi.

b. Penilaian hasil sparing menjadi episode integral intern proses sparing mengajar.

c. Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.

d. Balasannya sebaiknya diikuti tindak lanjut.

Konklusi

Proses belajar mengajar sebagai salah suatu bagian berbunga kegiatan pendidikan, merupakan proses yang melibatkan berbagai ragam onderdil yang menyangsang master andai pendidik dan siswa sebagai peserta bimbing. Pendidik dan peserta didik sendirisendiri harus memiliki ketersediaan untuk mencapai hasil proses pendidikan nan layak, maka itu sebab itu keduanya perlu dikondisikan melalui tatacara yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku internal proses belajar mengajar. Cara-mandu tersebut dirangkum dalam sebuah konsep nan kemudian disebut laksana konsep dasar berlatih mengajar, nan harus dipahami maka itu seorang tenaga pendidik sebelum melaksanakan tugasnya.

Konsep dasar dan mengajar memiliki tiga karakteristik yaitu aspek peserta, aspek intensi,  aspek suhu. Secara implisit mengidentifikan perilaku hasil belajar yaitu pertukaran intensional maupun keletihan, transisi bersifat substansial, perubahan bersifat efektif. Selain itu faktor – faktor yang mempengaruhi proses belajar merupakan faktor internal dan faktor eksternal dan untuk mrnetahui hasil dan keberhasilan harus di berikan satu evaluasi.

DAFTAR PUSTAKA

Gagne. 1984. “
Definisi belajar
“. Jakarta : Gramedia

Hilgar ahmad.1948.”
Mengidentifikasi perilaku hasil belajar”
(online) http://hasil sparing.com /pengertian-perilaku-hasil-belajar/. Diakses pada tanggal 10 Januari 2014

Masmuadi, andi. 2009.”Konsep Bawah Membiasakan dan Mengajar”.(online), http://www.andi masmuadi.net/2009/02/pemahaman-konsep-dasar-belajar-mengajar.html di akses pada terlepas 18 Januari 2014

Ruslan, Ade.2003 “Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif
“.Jakarta : Gramedi

Konsep dasar belajar mengajar” (online) http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/29/konsep-dasar-belajar-dan-mengajar -399602.html. Di akal masuk sreg terlepas 11 Januari 2014

KonsepDasarBelajar(online)http://ahmadselamet.blogspot.com/2011/05/konsepi-dasar-belajar.html. Diakses sreg tanggal 10 Januari 2014

Surya,    Puspita.     2012. ”
Konsep   dasar  Belajar dan  Mengajar
”(online)

http://suryapuspita.wordpress.com/2012/04/15/konsep-dasar-mengajar/html di akal masuk sreg terlepas 18 Januari 2014

Wijaya, Cece.1991.”Kemampuan Dasar Guru internal Proses Belajar Mengajar” Re,aja Rosda Karya : Bandung

____________

Makanya:

SRI WAHYUNI_PBI-A_TUGAS 1

STKIP PGRI PACITAN


Source: https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/01/25/konsep-dasar-belajar-mengajar/

Posted by: and-make.com