6 Kategori Dasar Media Pembelajaran Matematika





Landasan Alat angkut Pembelajaran









A. Landasan Psikologis Sarana Pembelajaran



Landasan kognitif pengusahaan ki alat pengajian pengkajian ialah alasan alias rasional cak kenapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau semenjak kondisi pebelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi.Walaupun mutakadim diketahui adanya pandangan yang berbeda tentang belajar dan bagaimana belajar itu terjadi, namun dapat dikatakan bahwa belajar itu merupakan satu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku oleh adanya asam garam. Pergantian perilaku itu boleh berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya keterampilan atau kegesitan dan berubahnya sikap seseorang nan sudah belajar.

Pesiaran dan pengalaman itu diperoleh melewati pintu gerbang alat indera pebelajar karena itu diperlukan rangsangan (menurut teori Behaviorisme) ataupun kabar (menurut teori Kognitif), sehingga respons terhadap rangsangan maupun informasi yang mutakadim diproses itulah hasil belajar yang diperoleh.



B. Kalangan Historis Media Pembelajaran



Yang dimaksud dengan landasan kuno media pendedahan ialah rasional penggunaan media pembelajaran nan ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan kerumahtanggaan pembelajaran. Bakal mengetahui latar belakang sejarah pemanfaatan konsep kendaraan pembelajaran silakan kita ikuti penjelasan berikut ini.



Perkembangan konsep media pembelajaran sepantasnya bermula dengan lahirnya kon-sepsi pengajaran optis atau alat sokong visual sekitar tahun 1923.Yang dimaksud dengan instrumen bantu visual kerumahtanggaan konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang bisa memasrahkan pengalaman visual yang maujud kepada pebelajar.



Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio optis education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti mana “audio optis materials”, “audio visual methods”, dan “audio okuler devices”. Inti berbunga kosepsi ini adalah digunakannya bermacam-macam alat ataupun sasaran maka dari itu hawa lakukan memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melangkaui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini boleh dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” berasal Edgar Dale.



Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio okuler communication” pada perian 1950-an. Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam penerimaan, peekanan bukan lagi diletakkan lega benda atau bahan nan faktual bahan audio okuler bikin penerimaan, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komu-nikasi informasi atau pesan berusul sumber (suhu, materi atau bulan-bulanan) kepada penerima (pebelajar). Propaganda komunikasi audio visual menyerahkan penekakan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menunggangi sistem penelaahan yang utuh. Jadi konsepsi audio optis berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi, sistem, disain sistem pembelajaran dan teori berlatih dalam kegiatan pembelajaran.



Perkembangan berikutnya terjadi sekitar waktu 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Karena pada intinya konsepsi ini yaitu mengaplikasikan proses komunikasi dan sistem n domestik merencanakan dan mengembangkan materi penelaahan. Beberapa istilah yang yaitu variasi pendayagunaan konsepsi “instructional materials” merupakan “teaching/ learning materials”, “learning resources”.



Dalam musim 1952 ini juga telah digunakan istilah “educational media” dan “instructional alat angkut”, nan sebenarnya secara konsepsional lain mengalami perubahan dari konsepsi sebelumnya, karena di sini dimaksudkan lakukan menunjukkan kegiatan komunikasi pendidikan yang ditimbulkan dengan penggunaan media tersebut. Puncak perkembangan konsepsi ini terjadi sekitar musim 1960-an. Dengan mengaplikasikan pendekatan sistem, teori komunikasi, pengembangan sistem pengajian pengkajian, dan kontrol psikologi Behaviorisme, maka muncullah konsep “educational technology” dan/ atau “instructional technology” di mana ki alat pendidikan ataupun media pembelajaran merupakan bagian berpunca padanya.



C. Landasan Teknologis Alat angkut Penataran




Sasaran penutup dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan pebelajar buat belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di latar pembelajaran mengembangkan beraneka rupa sumber membiasakan bikin menepati kebutuhan setiap pebelajar sesuai dengan karakteristiknya.



Intern upaya itu, teknolog berkerja tiba dari peluasan dan pengujian teori-teori tentang heterogen media pembelajaran melewati pengkajian ilmiah, dilanjutkan dengan peluasan disainnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik plong tingkat kelas maupun sreg tingkat yang lebih luas pula (diseminasi).



Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak lega pendirian bahwa suatu ki alat tetapi mempunyai stempel dari media lainnya bila digunakan maka dari itu pebelajar yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh kendaraan pembelajaran itu. Dengan demikian, proses sparing setiap pebelajar akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pengajian pengkajian nan sesuai dengan karakteristik belajarnya.



Media pengajian pengkajian sebagai bagian berpunca teknologi penelaahan punya enam kebaikan potensial internal mengatasi komplikasi pembelajaran, yaitu:
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive).
Dengan alat angkut dapat meningkatkan daya produksi pendidikan antara lain dengan perkembangan mempercepat laju sparing siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara bertambah baik dan mengurangi barang bawaan guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan meluaskan kegairahan belajar pelajar.
b. Memberikan kemungkinan penerimaan nan sifatnya lebih khusus (Can make education more istimewa).
Pembelajaran menjadi lebih berperilaku individual antara tak dalam variasi pendirian belajar siswa, penyunatan kontrol guru intern proses pembelajaran, dan mengasihkan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajian pengkajian ( Can give instruction a more scientific base).
Artinya perencanaan program pendedahan makin sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh investigasi adapun karakteristik siswa, karakteristk incaran pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disain pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba nan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d. Lebih memantapkan penataran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi bertambah mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas individu menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,arketipe dan akurat
e. Dengan ki alat membuat proses pembelajaran menjadi lebih berbarengan/seketika (Can make learning more immediate).
Karena media memecahkan jurang pemisah antara pebelajar dan sumber berlatih, dan meng-atasi keterbatasan khalayak puas ulas dan waktu privat memperoleh pengumuman, dapat meladeni “kekongkritan” meskipun lain secara sambil.
f. Memungkinkan penyampaian penataran makin merata dan meluas (Can make access to education more equal).



D.Pematang Empirik Media Pembelajaran



Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara penggunaan ki alat pembelajaran dan karakteristik pebelajar dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya bahwa pebelajar akan mendapat keuntungan yang berarti bila engkau belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya. Pebelajar yang memiliki kecondongan visual akan lebih mendapat keuntungan berbunga penggunaan media optis, seperti sinema, video, bagan ataupun diagram; sedangkan pebelajar yang mempunyai gaya membiasakan auditif lebih mendapatkan keuntungan dari pemanfaatan media penelaahan auditif, seperti sejarah, radio, ataupun ceramah master.



Atas dasar ini, maka pendirian aklimatisasi macam alat angkut nan akan digunakan internal kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual pebelajar, menjadi semakin mantap. Penyaringan dan penggunaan sarana moga jangan didasarkan pada kesukaan atau kegembiraan guru, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik pebelajar, di samping beberapa kriteria lain nan dijelaskan plong bagian enggak buku ini.



E.Landasan filosofis




Cak semau suatu rukyat bahwa dengan digunakannya berbagai macam jenis alat angkut hasil teknologi baru di dalam inferior, akan berbuah proses pembelajaran nan adv minim manusiawi. Dengan pembukaan enggak, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Bukankan dengan adanya berbagai media pengajian pengkajian malah pesuluh dapat punya banyak pilihan buat digunakan media yang sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya diberi otonomi kerjakan menentukan pilhan, baik pendirian maupun alat berlatih sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut lain perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap pelajar dalam proses pembelajaran. Seandainya guru menganggap murid umpama anak asuh manusia yang mempunyai keprbadian, harga diri, cambuk, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka baik menggunakan sarana hasil teknologi baru maupun tidak, proses penataran nan dilakukan akan setia menggunakan pendekatan humanis.




Sumur:

CS, Adam.
“Karakteristik Alat angkut Penataran”.

http://mediabacaan.blogspot.com/2012/11/karakteristik-media-pembelajaran.html (diakses 26 maret 2014)

Al-Rasyid, Muh Wahyu.
“Landasan Media Penelaahan”.
http://tugaskuliah-ilham.blogspot.com/2011/03/pematang-media-pembelajaran.html (diakses 26 maret 2014)

Source: https://edumatematika.blogspot.com/2014/03/landasan-media-pembelajaran.html

Posted by: and-make.com