4 Dasar Aktivitas Ilmiah Dalam Mempelajari Ilmu Kimia Yaitu



Filsafat Mantra





BAHAN Didik PERTEMUAN KE-9


(Prof. Dr. A. Watloly, S.Sampul, M.Hum)

A. POKOK BAHASAN : Butir-butir DAN ILMU B. SUB Buku BAHASAN: Kenyataan ILMIAH ATAU ILMU C. STANDAR KOMPETENSI :


Mahasiswa memahami hakikat pengetahuan dan ilmu sebagai bagian berusul fenomena makhluk.


D. KOMPETENSI DASAR:
Sesudah mengimak proses pembelajaran mengenai topik ilmu ini diharapkan, Anda dapat:

  • menjelaskan pengertian ilmu secara filisofis;
  • menunjukkan berbedaaan antara pengetahuan dan ilmua;
  • menjelaskan jalinan antara maklumat dan ilmu
  • mejelaskan arti fungsi konsep hobatan dalam kegiatan alamiah;
  • melepaskan antara ciri ilmu dan matra guna-guna;
  • mendiskripsikan bentuk-tulangtulangan prasaran ilmiah dalam kegiatan keilmuan.


I.Signifikansi Ilmu.

Publikasi ilmuah atau ilmu (bah. Inggris Science dan Latin Scientia yang diturunkan dari alas kata scire), memiliki makna ganda, yaitu; mengetahui (to know), dan sparing (to learn). Sisi mula-mula to know menunjuk pada aspek statis ilmu, yaitu ibarat hasil, nyata maklumat sistematis. Sisi kedua menunjuk sreg hakikat dinamis ilmu, sebagai sebuah proses (aktivitas-metodis). Sisi kedua tersebut hendak menunjukkan bahwa aji-aji sebagai aktifitas pembelajaran, bukanlah sebuah aktifitas menunggu secara pasif, melainkan merupakan sebuah usaha secara aktif cak bagi melubangi, mencari, mengejar, atau menyelidiki sampai pesiaran itu diperoleh secara utuh, obyektif, jujur, dan sistematis.

Tegasnya, konotasi ilmu, internal kejadian ini, menunjuk pada tiga situasi, yaitu; mula-mula; ilmu sebagai proses maujud aktifitas kognitif-intelektuali (aktivitas penggalian), kedua; ilmu sebagai prosedur substansial metode ilmiah, dan ketiga;. Ilmu sebagai hasil atau barang kasatmata kabar berstruktur. Penjelasannya demikian:

Ilmu seumpama aktifitas, melukiskan hakikat ilmu sebagai sebuah kontak aktivitas pemikiran rasional, psikologis, dan teleologis (tujuan). Rasional artinya, proses aktifitas yang menunggangi kemampuan pemikiran untuk menalar dengan tunak berpegang pada mandu-cara logika, psikologis artinya; aktivitas pemikiran nan bertalian dengan; alas kata, pencerapan, pengkonsepsian, privat membangun pemahaman pemahaman secara terstruktur guna memperoleh pengetahuan, dan teleologis artinya; proses pemikiran dan penelitian yang mengarah puas pencapaian tujuan-tujuan tertentu, misalnya; legalitas pengetahuan, serta menjatah pemahaman, penjelasan, peramalan, pengendalian, dan aplikasi atau penerapan. Semua itu dilakukan setiap ilmuwan dalam bentuk penelitian, pengkajian, atau dalam rangka peluasan guna-guna.

Ilmu sebagai prosedur menunjuk pada arketipe prosedural, tata langkah, teknik alias cara, serta alat atau media. Hipotetis prosedural, misalnya; pengamatan, percobaan, pengukuran, survei, konklusi, induksi, analisis, dan lainnya. Tata langkah, misalnya; penentuan masalah, perumusan hipotesis (bila diperlukan), pengumpulan data, penarikan kesimpulan, dan pengujian hasil. Teknik atau cara, misalnya; penyusunan daftar pertanyaan, wawancara, perhitungan, dan lainnya. Perabot dan sarana, timbangan, meteran, perapian, komputer, dan lainnya.

Aji-aji sebagai hasil atau komoditas substansial permakluman sistematis, ilmu dipahami sebagai seluruh kesendirian ide yang mengacu ke obyek (dunia obyek) nan sama dan saling berkaitan secara logis. Ilmu, karena itu, dipandang misal sebuah koherensi sistematik, dengan prosedur, aksioma, dan lambang–lambang nan dapat dilihat dengan jelas melalui pembuktian-validasi ilmiah. Ilmu memuat di dalam dirinya hipotesis-hipotesis (jawaban-jawaban sementara) dan teori-teori (hipotesis-hipotesis bonafide) yang belum mantap sepenuhnya. Ilmu sering disebut lagi sebagai konsep kabar ilmiah karena ilmu harus mendelongop bagi pengujian ilmiah (pengujian saintifik).

Bintang sartan, ilmu berorientasi dipahami sebagai maklumat nan diilmiahkan alias pemberitaan nan diilmukan, sebab tidak semua siaran itu bersifat guna-guna atau harus diilmiahkan. Sebagai hasil kegiatan ilmiah, ilmu merupakan keropok pengetahuan (konsep-konsep) akan halnya sesuatu kejadian (sosi soal) yang menjadi titik minat untuk permasalahan tertentu. Sebuah pengetahuan ilmiah memiliki 5 (lima) ciri pusat, yaitu; empiris, sistematis, obyektif, analitis, dan verifikatif. Ilmu, dalam hal ini, menuju dilihat dalam gabungan dengan obyek keilmuan (obyek material dan formal) dan metode alamiah tertentu. Ketunggalan ilmu berpunca di internal keesaan obyeknya. Manusia, misalnya kaum peneliti, membatasi hobatan sebatas metodologi alamiah. Alasannya, pengait-penggait logis yang dicari di kerumahtanggaan ilmu enggak dicapai dengan pemberkasan ide-ide yang terpisah, namun pada pengamatan dan berpikir metodis, yang tertata rapih. Alat bantu metodologis alamiah ialah “teknologi ilmiah” dalam menguji-coba maupun mengeksperimentasi konsep-konsep mantra.

Ketiga unsur dimaksud menggambarkan sebuah denotasi nan lengkap dan utuh mengenai ilmu itu koteng. Ketiganya, sesungguhnya bukan ganti bentrok, namun merupakan sebuah kesatuan, di mana basyar lah nan menjadi pelaku (subyek) ilmu itu sendiri. Alasannya, hanya manusia sajalah nan mempunyai kemampuan rasional, melakukan aktivitas serebral (menyangkut pengetehuan), dan memimpikan berbagai tujuan yang berkaitan dengan aji-aji. Suatu aktivitas, hanya dapat mencapai maksud bila mana dilaksanakan dengan metode yang tepat.

Pengertian ilmu sebagaimana di atas, dapat ditinjau dari tiga tesmak, yakni; ilmu laksana aktivitas, aji-aji sebagai pengetahuan sistematis, ilmu sebagai metode (The Liang Gie 1996:130). Ilmu sebagai aktivitas kognitif harus mematuhi berbagai mandu pemikiran logis, sementara, disebut pengetahuan sistematis karena ilmu merupakan hasil dari pelaksanaan proses-proses kognitif yang terpercaya, dan sistematis, Ilmu disebut metodik karena aji-aji perumpamaan aktivitas kognitif (ilmuwan) sampai perwujudannya sebagai pengetahuan sistematis, terjalin dalam sebuah awalan ataupun prosedur aji-aji yang disebut metode. Rukyat tersebut mengantarkan plong sebuah rumusan yang bersifat tentatif akan halnya mantra umpama berikut;

Hobatan adalah kekeluargaan aktivitas basyar nan rasional kognitif, dengan berbagai metode berupa anek prosedur dan penyelenggaraan ancang, sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan nan sitematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, dan keorangan bikin tujuan mencapai kesahihan, memperoleh pemahaman, menyerahkan penjelasan, atau penerapan.


II. Obyek Pengetahuan ilmiah atau Guna-guna.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, secara filsafati, sebuah kenyataan ilmiah atau mantra, memiliki perbedaan dengan buram pengumuman yang umum (common sense). Alasannya, bila sebuah macam pengetahuan umum tidak memiliki obyek, susuk pernyataan, serta dimensi dan cirri yang tersendiri maka sebaliknya, sebuah pemberitaan ilmiah atau pengetahuan keilmuan (ilmu) cak acap mengendaikan adanya; obyek keilmuan, tulangtulangan pernyataan, serta dimensi dan ciri yang idiosinkratis.

Obyek pengetahhaun ilmiah atau obyek keilmuan, intern hal ini, mencengam segala sesuatu (yang tampak secara fisik maupun non fisik aktual fenomena ataupun gejala rohaniah, kejiwaan, atau sosial), nan sejauh dapat dijangkau makanya manah atau indera basyar. Para filsuf, karenanya, membagi obyek keilmuan itu dalam dua golongan ki akbar, adalah; obyek material dan obyek formal saintifik. Obyek material meliputi: ide eksemplar, benda-benda fisik, jasmani atma, gejala rohani, gejala sosial, gejala kejiwaan, gejala alam, proses jenama, dan sejenisnya. Obyek formal, meliputi; tesmak pandang, minat akademis, atau kaidah kerja yang digunakan bagi melubangi, menggarap, menguji, menganalisis, dan mengekspresikan beragam pemikiran yang tersimpan dalam khasanah kekayaan obyek material di atas dan menyuguhkannya dalam bentuk mantra.


III. Asosiasi Embaran dan Aji-aji

Pengetahuan pada dasarnya ialah keseluruhan keterangan dan ide yang terkandung di dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat tentang sesuatu gejala atau peristiwa, baik nan berperilaku alamiah, keorangan, atau kemasyarakat. Pengetahuan boleh dibagi atas dua rang, yaitu pengetahuan sahih dan pengetahuan ilmiah. Proklamasi biasa adalah bentuk warta nan biasa ditemui dalam perhatian alias pandangan masyarakat (common sense) dalam hayat koran, tentatif pengetahuan ilmiah merupakan keberagaman embaran nan sudah lalu terjamah secara paham menurut kaidah-prinsip keilmuan untuk menjadi guna-guna. Pengetahuan ilmiah (Scientific knowledge) ialah pengetahuan nan disusun bersdasarkan azas-azas nan cocok dengan buku soal dan boleh membuktikan kesimpulan-kesimpulannya. Pengetahuan ilmiah melukiskan suatu obyek spesial akan halnya jenis pengetahuan yang khas mengenai obyek dimaksud.

Ilmu merupakan pengetahuan yang tersusun secara sitematis. Kaprikornus, pengetahuan yaitu isi kata benda yang terkandung dalam ilmu. Publikasi, hasilnya, ialah bawah bangunan sebuah mantra. Tanpa pengetahuan, langka disadari, ditemukan, atau dikembangkan sebuah ilmu kerumahtanggaan susuk apa pun. Pengetahuan yang yaitu isi substatif ilmu, n domestik dunia keilmuan disebut fakta (fact), kebenaran, azas, poin, dan kenyataan) nan diperoleh sosok. Guna-guna tidak sekedar fakta, tetapi mantra kecam, menganalisis, menalar, membuktikan, dan menyimpulkan peristiwa-hal yang berwatak faktawi (faktual) yang dihimpun dan dicatat bak data (datum).

Ilmu, dalam kejadian ini, didasarkan pada sesuatu hal pokok sebagai fakta (laporan) yang sentral soal partikular di n domestik ilmu. Muslihat soal itu bisa berupa ide niskala, misalnya; aturan Tuhan, sifat kodrat, atau fakta empiris, misalnya; sifat tanah, ciri selerang, buram materi, musykil badan, gambar rasam, pemerintah, dan sebagainya, nan mendorong minat (focus of interest) atau sikap pikiran padanya. Jadi, bila aji-aji berbeda dari makulat berdasarkan ciri empiris ilmu maka ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena ciri bersistem berasal guna-guna itu sendiri. Hal-peristiwa berupa resep soal dimaksud, di dalam makulat disebut obyek material ilmu, sementara fokus minat atau sikap terhadap situasi pokok dimaksud disebut obyek seremonial guna-guna, yang menunjuk plong sudut pendekatan atau tata prinsip khusus yang dilakukan dalam menghadapi obyek materi ilmu dimaksud.

Aji-aji, begitu juga informasi, memiliki format sosial kemasyarakatan, kembali matra tamadun, dan dimensi permainan. Matra kemasyarakatan laksana sebuah pranata sosial (Social institution), karena ilmu, sebagaimana pengetahuan, merupakan pelecok satu partikel yang berhubungan dengan kehidupan kemasyarakatan. Dimensi peradaban seumpama “kekuatan kebudayaan” (cultural force), kerena ilmu, seperti pengetahuan, merupakan salah satu wujud kebudayaan nan sekaligus berkembang privat rencana kebudayaan, serta memasrahkan sumbangan untuk keberhasilan kebudayaan itu sendiri. Dimensi permainan, (game), karena ilmu, dalam perkembangannya, menunjukkan ciri –ciri yang mirip dengan sifat-kebiasaan suatu permainan, misalnya; keingintahuan, sayembara, dan penerimaan hadiah. Ketiga keadaan dimaksud, bukan merupakan keefektifan sesungguhnya dari ilmu, melainkan dianggap laksana dimensi umum berpunca ilmu.


IV. Konsep Hobatan

Sasaran ilmu merupakan pembentukan konsep (pengertian), baik cak bagi kemujaraban peluasan ilmu secara murni (misalnya; bakal menyusun teori dan dan menghasilkan dalil-dalil, maupun azas), atau kerjakan kepentingan praktis bagi tindakan penerapan berwujud. Konsep yaitu ide umum nan mengaplus sesuatu antologi peristiwa yang lazimnya dibedakan mulai sejak pencerapan atau persepsi tentang satu hal khusus. Konsep merupakan instrumen terdahulu buat pemikiran terutama kerumahtanggaan hal penelitian ilmiah atau penelitian saintifik.

Konsep mantra adalah bentuk, rencana, atau konotasi, baik yang bersifat teladan maupun operasional, nan yakni alat terdepan bagi kemustajaban pemikiran dalam hobatan maupun laporan ilmiah. Setiap mantra harus memiliki satu maupun beberapa konsep taktik atau konsep pelengkap yang bertalian. Beberapa contoh konsep ilmiah, misalnya; konsep bilangan di dalam matematika, konsep gaya di internal fisika, konsep evolusi di internal biologi, stimulus di intern psikologi, dominasi atau strata sosial di n domestik ilmu-ilmu sosial, simbol di dalam linguistik, keadilan dalam ilmu hukum, keselamatan n domestik ilmu teologi, atau lingkungan di internal ilmu-hobatan interdisipliner.

Konsep-konsep hobatan maupun konsep ilmiah tersebut sangat dibutuhkan seyogiannya suatu ilmu boleh memformulasikan berbagai azas, teori, sebatas dalil-dalil. Sesuatu konsep ilmiah boleh merupakan semacam sarana lakukan ilmuwan mengamalkan pemikiran dalam berekspansi kabar ilmiah. Misalnya; dengan konsep evolusi, Charles Darwin terlampau dapat menyusun dan mengembangkan suatu teori adapun asal–usul turunan, nan mulai dari tahap jalan binatang meneteki yangcerdas kemudian makin berkembangan menjadi manusia. Inti konsep evolusi yang membentuk teori evolusi itu demikian: bahwa bentuk-bentuk organisme yang kian jarang bermula berpangkal bilang kerdil rang-bentuk yang bertambah sederhana dan primitif dalam perkembangannya secara berangsur-angsur selama zaman.

Konsep evolusi, kemudian diterapkan sekali lagi intern mengetahui perkembangan mantra dengan menunjukkan bahwa ceranggah ilmu khusus terlahir dalam aliansi publik mulai sejak pemikiran reflektif filsafat dan setelah itu berkembangan mencapai suatu taraf kematangan sehingga dipandang berbeda dan kemudian dipisahkan berpokok filsafat. Hal demikian berlaku pula terhadap upaya penelaan terhadap gejala-gejala alam dan umur maupun gajala-gejala mental dan kemasyarakatan, yang dewasa ini, semuanya secara pasti telah berkembang menjadi ilmu-hobatan zahir, biologi, ilmu jiwa, dan ilmu-ilmu sosial nan berdiri sendiri-sendiri. Ciri mahajana daripada ilmu-ilmu tersebut yang membuatnya farik berusul filsafat merupakan ciri empirisnya. Jelasnya, bila makulat masih tetap yakni pemikiran reflektif yang coraknya sangat awam, kebalikannya ilmu-hobatan fisis, biologis, psikologis, dan hobatan-hobatan sosial telah merupakan sangkutan aktivitas cendekiawan nan bersifat empiris. Resan tersebut lah yang pelahap adalah ciri umum dari aji-aji.

Jelasnya, konsep ilmu, agar dapat bermakna secara ilmiah maka ia harus punya dua sifat pangkal, adalah sifat operasional lakukan kurnia pengamatan (observasi), dan aturan paradigma untuk kepentingan penyimpulan dan generalisasi. Bersifat operasional, maksudnya, setiap konsep hobatan mengandung signifikansi-pengertian yang berkesesuaian dengan fakta atau peristiwa yang dapat diamati secara empiris. Ciri empiris dari mantra mengandung denotasi bahwa pesiaran yang diperoleh tersebut merupakan berdasarkan pengamatan (observation) atau eksperimentasi (experimentation). Konsep ilmu, di sisi lain, bersifat niskala untuk kepentingan melakukan penyimpulan atau membentuk kabar-keterangan ilmiah yang berlaku secara umum. Konsep-konsep aji-aji tersebut sewaktu-waktu begitu model sehingga hampir konkret khayalan. Misalnya; konsep ketakterhinggaan ilmu hitung (mathematical infinity), manusia ekonomis (the economic man), atau negara kamil (the komplet state).

Konsep ilmu sebagai sasaran guna-guna, bukan dapat dikacaukan, seolah-olah ekuivalen atau menyerupai inti maupun pokok pertanyaan pengetahuan. Alasannya, sentral soal proklamasi tersebut belum bisa mengembangakan suatu guna-guna ke taraf yang bertambah tinggi seperti konsep ilmu dimaksud. Ilmu yang telah cukup berkembang harus memiliki satu atau beberapa konsep kunci, lagi beberapa konsep suplemen yang bertalian dengannya.


V. Ciri Muslihat Ilmu

Ilmu ibarat pengetahuan ilmiah, berbeda dengan warta biasa, memiliki bilang ciri muslihat, yaitu:

  1. bersistem; para filsuf dan ilmwan sealiran bahwa mantra adalah pengetahuan atau kumpulan pengetahuan yang tersusun secara bersistem. Ciri sistematis guna-guna menunjukkan bahwa guna-guna merupakan bermacam rupa keterangan dan data yang tersusun perumpamaan kumpulan butir-butir tersebut mempunyai hubungan-afiliasi saling ketergantungan yang teratur (pertalian tertib). Pertalian tertib dimaksud disebabkan, adanya satu azas tata tertib tertentu di antara bagian-bagian yang adalah pokok soalnya.
  2. empiris; bahwa ilmu mengandung pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengamatan serta percobaan-percobaan secara koheren di dalam gambar camar duka-pengalaman, baik secara langsung alias tidak simultan. Ilmu mencamkan, menganalisis, menalar, membuktikan, dan menyimpulkan kejadian-keadaan empiris yang bertabiat faktawi (positif), baik berupa gejala ataupun kebathinan, gejala-gejala standard, gejala rohaniah, gejala kemasyarakatan, dan sebagainya. Semua hal faktai dimaksud dihimpun serta dicatat bak data (datum) sebagai bulan-bulanan persediaan bagi aji-aji. Ilmu, dalam hal ini, bukan sekedar fakta, tetapi fakta-fakta yang diamati dalam sebuah aktivitas ilmiah melalui pengamalaman. Fakta lain pun data, farik dengan fakta, data lebih merupakan berbagai pemberitaan mengenai sesuatu hal yang diperoleh melangkaui hasil pencerapan atau persepsi inderawi.

  3. obyektif; bahwa hobatan menunjuk pada rancangan pengatahuan nan nonblok berbunga prasangka perorangan (personal penyimpangan), dan pikiran-perasaan subyektif berupa kebahagiaan atau kebencian pribadi. Ilmu haruslah semata-mata mengandung pernyataan serta data nan menggambarkan secara terus terang atau mencerminkan secara tepat gejala-gejala yang ditelaahnya. Obyektifitas ilmu mensyaratkan bahwa kompilasi pemberitaan itu haruslah sesuai dengan obyeknya (baik obyek material alias obyek stereotip-nya), sonder diserongkan makanya keinginan dan kecondongan subyektif dari penelaahnya.

  4. analitis; bahwa hobatan berusaha mencermati, mendalami, dan memperbedakan pokok soalnya ke dalam bagian-bagian yang terpecinci untuk mencerna berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian tersebut. Upaya pemilahan ataupun penguraian sesuatu kebulatan sendi pertanyaan ke dalam bagian-bagian, membuat suatu bidang keilmuan senantiasa tersekat-sekat dalam cabang-cabang yang kian sempit sasarannya. Melewati itu, masing-masing cagak aji-aji tersebut membentuk aliran pemikiran keilmuan baru yang berupa ranting-ranting keilmuan nan terus dikembangkan secara khusus menunju spesialisasi ilmu.

  5. verifikatif; bahwa mantra mengandung validitas-kesahihan yang terbuka untuk diperiksa atau diuji (diverifikasi) guna dapat dinyatakan lazim (valid) dan disampaikan kepada orang lain. Peluang diperiksa kebenaran (verifikasi) dimaksud lah yang menjadi ciri pokok ilmu yang terakhir. Pengetahuan, agar bisa diakui kebenarannya sebagai mantra, harus terbuka bagi diuji atau diverifikasi berbunga berbagai kacamata telaah yang berlainan dan akhirnya diakui benar. Ciri verifikasif ilmu sekaligus mengandung pengertian bahwa hobatan senantiasa mengarah plong tercapainya kebenaran. Mantra dikembangkan maka itu manusia untuk menemukan suatu nilai indah internal spirit manusia nan disebut validitas ilmiah. Kebenaran tersebut bisa positif azas-azas atau cara-kaidah yang main-main mahajana atau menyeluruh akan halnya pokok saintifik yang bersangkutan. Melalui itu, manusia berharap boleh membuat ilham tentang hal mendatang dan menerangkan atau memintasi alam sekelilingnya. Contohnya, sebelum terserah ilmu maka orang sulit mencerna dan meramalkan, serta membereskan gejala atau hal-peristiwa alam, seperti; hujan angin, air ampuh, gunung meletus, dan sebagainya. Makhluk, karena itu, lari kepada tahyul atau mite nan pupus. Belaka, demikian, setelah adanya hobatan, seperti; vulkanologi, ilmu permukaan bumi, zahir, dan ilmu pisah maka bisa menjelaskan secara tepat dan cermat bermacam-jenis situasi tersebut serta menilik keadaan-hal yang akan terjadi kemudian, dan dengan demikian boleh menguasainya buat kemanfaatan diri atau lingkungannya. Berdasarkan kenyataan itu lah, orang cenderung mengartikan ilmu sebagai sesetel pengetahuan yang terkonsolidasi dan mutakadim disahkan secara baik, nan dirumuskan cak bagi maksud menemukan kebenaran-kebenaran umum, serta pamrih penguasaan, internal fungsi menyelesaikan kebenaran-keabsahan aji-aji demi keistimewaan pribadi alias masyarakat, dan tunggul lingkungan.

Selain, kelima ciri ilmu di atas, masih terwalak beberapa ciri tambahan lainnya, misalnya; ciri instrumental dan ciri faktual. Ciri instrumental, dimaksudkan bahwa ilmu yaitu alat atau alat angkut tindakan bagi melakukan sesuatu hal. Ilmu, dalam peristiwa ini rumpil sekadar, juga amat muda dalam kelebihan, senantiasa yakni sarana tindakan bakal melakukan banyak hal nan mengagumkan dan membanjiri dunia dengan ide-ide baru. Aji-aji berciri berwujud, kerumahtanggaan kepentingan, ilmu tidak memberikan penilaian, baik alias buruk terhadap barang apa yang ditelaannya, tetapi hanya menyediakan fakta atau data bagi sepengguna. Pandangan anak bungsu ini, oleh filsuf kritis mutakadim ditolah karena, menurut mereka ilmu sebagai sebuah hasil budaya insan, cak acap bertautan maupun berbimbing dengan nilai. Ilmu, risikonya, bukan dapat membebaskan ataupun mengancaikan diri bersumber skor dan selalu harus bertanggungjawab atasnya.


VI. Dimensi khusus Ilmu

Ilmu, dalam perkembangannya yang luas dan bertumbuh beraneka ragam, telah menampilkan pula heterogen dimensi alamiah yang pas luas dan plural, serta berkepribadian khas atau khusus. Ukuran ilmu menunjuk pada karakterisasi, peranan, serta kepentingan yang kiranya yang dianggap termasuk dalam mantra. Bermacam ragam penglihatan teoretikus, sebagaimana ditunjukkan oleh The Terowongan Gie (1996: 131-133), menunjukkan bilang dimensi hobatan yang secara spesifik atau spesifik boleh dijumpai dari ilmu-guna-guna nan bersangkutan, merupakan:

  1. dimensi ekonomi, aji-aji memiliki ukuran ekonomis, dalam arti, ilmu dilihat sebagai salah satu faktor terdahulu internal mempertahankan dan mengembangkan produksi.

  2. matra linguistik, bahwa ilmu dipahami perumpamaan suatu bahasa buatan. Ilmu, kerumahtanggaan hal ini, dilihat sebagai suatu bangunan kebahasaan (a construction of language), dengan seperangkat tanda dan hubungan-perpautan spesifik tertentu serta antara obyek-obyek, dan dengan prakterk.

  3. dimensi matematis, ilmu bertakaran matematis privat hal menekankan segi-segi kuantitatif dan proses-proses kuantifikasi dalam ilmu. Ilmu, dalam hal ini, mencengap penalaran matematis dan analisis data atas fenomena keilmuan.

  4. dimensi politik, bahwa ilmu memiliki dimensi kekuasaan (power) sebagaimana ditunjukkan oleh Francis Bacon: knowledge is power. Ilmu, dalam hal ini cenderung dipahami ibarat kekuatan n domestik hal membangun dan menyelenggarakan pemerintahan atau kekuasaan serta mempertahankannya.

  5. ukuran psikologis; bahwa guna-guna bukanlah kumpulan keajaiban, melainkan suatu sikap terhadap manjapada dengan kreativitas kejiwaan yang munjung resep seni serta keayuan yang hierarki.

  6. dimensi sosiologis, bahwa ilmu, dalam hal ini, menjurus dipahami sebagai sebuah lembaga sosial (social institution), menjorokkan aktivitas sosial (social aktivity), serta membangun jaringan-jaringan yang menghimpun, menguji, serta camur pengetahuan, dan menciptakan sebuah awam ilmuwan.

  7. dimensi nilai, bahwa ilmu bukan sekedar bagi menjejerkan ide-ide atau gagasan-gagasan, hanya kian daripada itu merupakan sebuah kredit (value) sreg dirinya, dan kesannya, guna-guna tidak dapat mengeluarkan diri dari skor-nilai yang diembannya sejak awal proses pembentukan maupun penerapannya.

  8. matra ki kenangan, ilmu, n domestik hal ini, dipahami sebagai bagian berusul perkembangan sejarah orang dan kebudayaan. Mantra, karenanya, merupakan sebuah faedah sejarah yang dahulu ki akbar peranannya bagi setiap generasi manusia di kerumahtanggaan periodenya masing-masing. Hobatan sebagai kekuatan sejarah, selalu membangun eksistensi sosial basyar dalam arahnya yang bosor makan mentah.

  9. dimensi peradaban, bahwa ilmu sebagai produk budaya manusia yang serta merta ditempatkan menjadi kepentingan budaya (cultural force) dalam membangun kultur cucu adam dan dunia bagaikan pribadi dan manjapada yang berbudaya.

  10. Format manusiawi; aji-aji adalah produk sentral cipta, rasa, dan karsa basyar nan bertautan langsung dengan nilai rasa (cita rasa) manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Manusia yakni obyek bersama-sama subyek bagi guna-guna itu sendiri, dan ilmu selalu mendekati plong manusia ibarat kausa ontologis (penyebab ada) bagi ilmu itu seorang. Manusia lah yang mengembangkan ilmu, tetapi spontan mendapatkan keuntungan (benefit) terbit ilmu itu sendiri.

  11. format rekreatif, bahwa ilmu memiliki matra permaianan yang dilombahkan dan dilakukan dengan kegembiraan. Mantra, internal hal ini, dilihat ibarat suatu permainan yang ditimbulkan oleh keingintahuan untuk menemukan sejagat dan dirinya sendiri, serta memperluas atau memperbesar kesadaran manusia akan manjapada ajang beliau kehidupan dan berkarya.

  12. format sistem; ilmu, n domestik kejadian ini, merupakan satu kebulatan sistem yang terdiri dari molekul-unsur yang berada internal keadaan nan ubah berinteraksi. Kaprikornus, mantra dipahami perumpamaan amanat sistematis yang mempunyai ciri sistematis, sistim penjelasan (a system of explanation), dan terpola atau terintegrasi, serta menjadi suatu sistim keyakinan mengenai kalimantang, kaidah-kaidah alam, prinsip-pendirian penghitungan, serta hubungannya dengan manusia.

  13. dimensi logic, bahwa hobatan konsistensi ajuan-proposisi ilmu intern membangun sebuah penalaran nan afiat dan lurus guna mencapai kesimpulan-inferensi keilmuan yang bersifat kredibel dan obyektif. Melampaui itu, ilmu, secara formal, dapat diterima umpama sebuah ilmu yang formal, meyakinkan, dan obyektif.

Pembahasan mengenai dimensi khusus keilmuan di atas, memperlihatkan bahwa, sesungguhnya masih terdapat kembali banyak matra saintifik nan lain yang bersifat khas, semata-mata, semua dimensi tersebut tukar terkait secara komplementar (saling melengkapi) bikin meberikan khasiat ataupun kegunaan secara utuh dan komplet bakal kesuksesan ilmu atau kerjakan manusia dan alam kehidupannya. Konsekuensinya, penonjolan secara sepihak pada pelecok suatu dimensi yang paling disukai saja, misalnya; matra ekonomi ilmu karena mengirimkan keuntungan langsung, akan lampau mengganggu kemajuan ilmu secara utuh serta menuju merapuhkan vitalitas mantra itu koteng. Alasannya, kerena kemenangan lega dimesi ekonomi akan sangat ditunjang oleh dimensi lain, provisional permasalahan-persoalan nan dimunculkan oleh faktor ekonomi itu sendiri tidak kelihatannya cuma boleh dipecahkan secara ekonomi pula.


VII. Bentuk Pernyataan dan Perbuatan Proposisi Ilmiah (Keilmuan)

  1. Deskripsi, merupakan bentuk pernyataan ilmiah (pernyataan keilmuan) berupa jabaran terpeinci, baik mengenai bentuk, susunan, peranan, serta hal-hal terperinci lainnya dari fenomena atau obyek keilmuan yang berkepentingan. Bagan pernyataan deskriptif ini, biasanya terdapat sreg ceranggah ilmu khusus nan bertabiat deskriptif, misalnya; ilmu ilmu urai, biologi, astronomi, dan sebagainya.

  2. Perskripsi, adalah bentuk pernyataan ilmiah yang berupa petunjuk-petunjuk alias ketentuan-kodrat tentang apa yang teradat berlangsung atau sebaliknya dilakukan dalam asosiasi dengan suatu obyek keilmuan. Bentuk pernyataan perskripsi dimaksud, banyak dijumpai dalam cabang-silang ilmu sosial. Misalnya; aji-aji-ilmu pendidikan yang memuat petunjuk-petuntuj tentang prinsip-cara mengajar yang baik di kerumahtanggaan kelas. Peristiwa demikian pun dapat dijumpai di internal ilmu administrasi negara yang berupaya memaparkan berbagai azas atau matra-ukuran, dan bermacam ragam peraturan lainnya tentang bagaimana menjalankan sebuah organisasi pemerintahan nan baik, membangun menajemen nan efektif, atau prosedur kerja yang efisien.

  3. Eksposisi Pola; merupakan rencana pernyataan ilmiah yang memaparkan cermin-pola privat sekumpulan aturan, ciri, kecenderungan, alias proses lainnya berpunca fenomena atau obyek keilmuan yang ditelaah. Misalnya, internal Antropologi, dipaparkan abstrak-pola kebudayaan berbagai kabilah, atau dalam Sosiologi, diungkapkan pola-lengkap perlintasan umum dari tahap jiwa pedesaan menjadi masyarakat perkotaan.

  4. Rekonstruksi historis; merupakan rangka pernyataan ilmiah nan berusaha melukiskan atau menceriterakan sesuatu peristiwa pada masa dulu dengan beruasah memasrahkan penjelasan atau menunjukkan alasan yang diperlukan kerjakan pertumbuhan peristiwa dimaksud, baik secara alamiah alias secara budaya melalui campur tangan bani adam, dengannya orang akan berusaha memberikan petunjuk-ramalan maupun penyiasatan hidup ke depan. Bentuk pernyataan ilmiah ini dapat dijumpai dalam ilmu-ilmu khusus, seperti; Historiografi atau Ilmu purbakala.

  5. Azas ilmiah (azas keilmuan); yakni perbuatan proposisi ilmiah yang mengandung pendirian-kaidah kesahihan umum berdasarkan fakta-fakta yang mutakadim diamati. Azas ilmiah, internal guna-guna-ilmu sosial, cak acap dipahami sebagai prinsip nan pas lakukan dijadikan pedoman di dalam mengamalkan tindakan-tindakan. Misalnya; azas revolusi planet berdasarkan pengamatan astronomi, yang menyatakan; makin dekat sesuatu planet kepada syamsu, makin sumir tahun putarannya.

  6. Kaidah ilmiah (kaidah keilmuan); merupakan ragam usulan yang kuak keajegan (kehangatan) ataupun nikah tertib yang bisa diperiksa kebenarannya di antara fenomena-fenomena. Melalui itu, anda digeneralisasikan sebagai kejadian nan secara mahajana bertindak lakukan fenomena nan sejenis. Misalnya; Hukum gaya berat dari Ishak Newton atau Mandu Boyle di dalam ilmu-aji-aji kimiah bahwa volume suatu gas berubah secara terbalik dengan tekanan bila temperatur yang sama patuh dipertahankan. Pendirian, ilmiah, karenanya, seringkali diartikan perumpamaan suatu pernyataan prediktif dan mendunia.


VII. Struktur pengumuman ilmiah (Hobatan).

Guna mendukung Anda mengerjakan pemetaan pemikiran secara utuh terhadap hakikat ilmu maka Anda diminta untuk mempelajari bagan di bawah:

Gambar No 5. Struktur Pengetahuan Ilmiah


E. Sumber:

1. Aji-aji n domestik Perspektif, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. 2. The Liang Gie, 1985, Kamus Ilmu mantik, Nurcahya, Yokyakarta.

3 The Liang Gie, 1985, Kamus Logika, Nurcahya, Yokyakarta.


F. Evaluasi:

  • jelaskan pengertian ilmu secara filisofis;
  • tunnjukkan perbedaan antara pengetahuan dan mantra;
  • jelaskan aliansi antara pengetahuan dan mantra
  • jelaskan keefektifan arti konsep ilmu intern kegiatan keilmuan;
  • tunjukkan perbedaan antara ciri mantra dan dimensi ilmu;
  • uraikanlah bentuk-lembaga proposisi ilmiah internal kegiatan alamiah.

Bontot diperbaharui: Monday, 30 March 2020, 11:42

Abaikan Navigasi


Page 2

Abaikan Cari forumAbaikan Berita terbaru

Abaikan Acara akan nomplok

Tidak ada agenda mendatang

Abaikan Aktifitas lalu

Source: https://termasyhur.com/empat-dasar-aktivitas-ilmiah-dalam-mempelajari-ilmu-kimia-yaitu

Posted by: and-make.com